بسم
الله الرحمن الرحيم
Mukadimah
ِإنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} .
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً
كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} .
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً}
أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ .
Tidak
ada kalimat yang pantas saya ucapkan selain Alhamdulillahilladziy
bini'matihi tatimmush shaalihaat (segala puji bagi Allah yang dengan
nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna) karena berkat pertolongan-Nya,
taufiq-Nya, dan kemudahan-Nya apa yang saya rencanakan untuk menulisnya
ternyata terlaksana setelah memakan beberapa tahun[1], falillahil
hamdu wal minnah.
Tafsir
yang saya tulis ini, di awal penulisan saya beri nama “Hidayatul Insan bi
tafsiril Qur’an” yang artinya “Petunjuk bagi manusia dengan tafsir Al
Qur’an,” karena memang Al Qur’an merupakan hudallinnaas (petunjuk
bagi manusia) secara umum, dan hudall lil muttaqiin (petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa) secara khusus. Oleh karena itu, sudah
sepatutnya kita memahami lebih lanjut kandungannya dan mentadabburi isinya
karena dengan begitu akan semakin jelas jalan yang harus kita tempuh dalam meniti
hidup di dunia yang fana’ ini menuju akhirat yang kekal abadi.
Kita
sudah mengetahui, bahwa hidup kita di dunia ini bukanlah hanya untuk
bersenang-senang; untuk makan, minum dan memuaskan keinginan diri kita seperti
halnya hewan. Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan kita untuk
beribadah hanya kepada-Nya dan agar kita mengisi hidup kita di dunia ini dengan
ibadah –tanpa melupakan kesenangan dunia-, sehingga nantinya Dia akan
memberikan kepada kita pahala-Nya yang besar, yaitu surga yang seluas langit
dan bumi yang merupakan tempat yang penuh dengan kenikmatan –semoga Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memasukkan kita semua ke dalam surga-Nya dan menjauhkan
kita dari neraka-.
Untuk mengingatkan
manusia kepada tujuan mereka diciptakan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala
mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan menurunkan kitab-Nya agar Beliau
menerangkan kepada manusia isi kitab itu serta memberikan gambaran yang jelas
(baca: As Sunnah) kepada manusia terhadap jalan yang harus mereka tempuh di
dunia ini.
Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menjamin, bahwa barang siapa yang ketika di dunia
mengikuti kitab-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan
tidak akan celaka. Dia berfirman,
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
“Maka barang siapa yang mengikut
petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Qs.
Thaahaa: 123) [2]
Sebaliknya,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً
ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
“Dan barang siapa berpaling dari
peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Qs.
Thaaha: 124)
Untuk
itulah kami menyempatkan diri menulis tafsir Al Qur’an ini agar pedoman hidup
ini semakin jelas bagi kami dan bagi saudara-saudara kami kaum muslimin.
Dalam
menulis tafsir ini, kami banyak merujuk kepada kitab Tafsir Al
Qur’anil ‘Azhiim (yang ditahdzib/ditata oleh beberapa ulama dengan nama “Al
Mishbahul Munir fii Tahdzib Tafsir Ibni Katsir”) karya Al Hafizh Ibnu
Katsir, Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannaan karya
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy seorang Ahli Fiqih yang menjadi guru
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, serta terjemah Al Qur’an yang
diterbitkan oleh DEPAG[3]
Republik Indonesia[4].
Demikian pula kami banyak merujuk
kepada tafsir dua imam Jalal, yaitu Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al
Mahalliy karena ringkas dan padatnya tafsir tersebut dan kitab-kitab tafsir
lainnya. Namun karena dalam tafsir Al Jalaalain tersebut ada sedikit kekurangan
dalam hal Akidah, maka untuk menutupinya kami merujuk kepada kitab Anwaarul
Hilaalain fit Ta’aqqubaat ‘alal Jalaalain karya Dr. Muhammad bin
Abdurrahman Al Khumais agar sesuai dengan ‘Aqidah As Salafush Shaalih atau
‘Aqidah Ahluss Sunnah wal Jamaa’ah. Sedangkan untuk Asbaabunnuzulnya,
maka kami merujuk kepada kitab Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzul karya
Al Muhaddits Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i.
Di
dalam tafsir ini, kami juga mencantumkan judul pada ayat-ayatnya agar lebih
dapat dipahami maksudnya secara umum.
Untuk
hadits-hadits di dalamnya, kami berusaha memilih hadits-hadits yang shahih atau
yang hasan saja dengan banyak merujuk kepada takhrij para muhaddits, baik yang
dahulu maupun yang sekarang yang kami ambil dari beberapa software yang kami
miliki, seperti Al Mausuu’ah Al Hadiitsiyyah Al Mushagghgharah
(Memuat Shahihul Jaami’, Dha’iful Jaami’ dan Faidhul Qadir),
Al Maktabatusy Syaamilah (beberapa versi), Mausuu’atu
Ruwaathil Hadits, dan lainnya.
Untuk
selanjutnya, kami beri nama kitab Tafsir ini dengan nama ‘Minnatur Rahman
fii Tafsiril Qur’an Takmilan Likitab Hidayatil Insan bitafsiril Qur’an’
yang artinya ‘Karunia Allah Ar Rahman Untuk Menafsirkan Al Qur’an Sebagai
Pelengkap Kitab Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an’ sebagai bentuk syukur
kami kepada Allah Ar Rahman Al Mannan.
Kami
berharap kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan seluruh nama-nama-Nya yang
indah dan semua sifat-sifat-Nya yang tinggi, dan karena Dialah yang
satu-satunya dapat memenuhi harapan; tidak selain-Nya, kepada-Nya kami
bertawakkal dan kepada-Nya kami kembali, agar kitab tafsir yang kami tulis ini
dijadikan-Nya ikhlas karena mengharapkan keridhaan-Nya, menjadi amal saleh kami
yang memberatkan timbangan kami dan istri kami di akhirat, dan bermanfaat bagi
saudara kami kaum muslimin, aamiin.
Rabbanaa
taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim wa tub ‘alainaa innaka antat Tawwabur
Rahiim.
Bekasi,[5]
Abu Yahya Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I
Blog: http://wawasankeislaman.blogspot.com/
Telegram: http://t.me/wawasan_muslim
Email: hadidimarwan@gmail.com
Mengenal Kitab Tafsir Ini
Secara singkat kitab tafsir ini:
üv Rujukan
utamanya adalah Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As Sa’diy, Tafsir
Al Jalalain, dll.
üv Mengikuti
Akidah As Salaf Shalih (Ahlussunnah wal Jama’ah)
üv Asbabun
Nuzul yang shahih dari kitab Ash Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul karya
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy
üv Berusaha
membatasi dengan hadits yang shahih atau hasan menurut Ahli Hadits menggunakan
software Maktabah Syamilah, dll.
üv Dilengkapi
Ushul dan Kaidah Tafsir di bagian mukadimah
üv Dilengkapi
tema ayat
üv Dilengkapi
pengantar setiap surat dan munasabah (hubungan) antara surah (merujuk kepada
kitab 114 Bithaaqah Ta’rif bi Suwaril Qur’an karya Dr. Yasir
bin Ismail Radhiy)
üv Dilengkapi
kandungan ayat (dari kitab Aisarut Tafasir dan Mukhtashar fit Tafsir)
üv Dilengkapi fawaid, pesan dan nasihat ulama.
Dll.[1]
Kira-kira memakan waktu enam tahun (2 tahun selama tinggal di Bekasi dan 4
tahun selama tinggal di Jakarta) ditambah penambahan dari kitab-kitab yang lain
sehingga memakan waktu belasan tahun.
[2]
Ibnul Jauziy rahimahullah berkata, “Engkau akan temukan kebenarannya,
yaitu siapa saja yang mengikuti Al Quran dan As Sunnah, serta mengamalkan
keduanya, maka dirinya akan selamat dari kesesatan dan terhindar dari
kesengsaraan di akhirat jika ia meninggal dunia di atasnya tanpa perlu
diragukan lagi, demikian pula dirinya akan selamat dari kesengsaraan di dunia.
Hal ini diterangkan dalam firman Allah Ta'ala, "Barang siapa bertakwa
kepada Allah, maka Allah akan berikan jalan keluar baginya," (Qs. Ath
Thalaq: 179) (Shaidul Khathir karya Ibnul Jauzi hal. 179).
[3]
Untuk terjemah Al Qur’an sudah disesuaikan dengan terjemah Al Qur’an DEPAG yang
sudah direvisi. Dalam hal ini penulis dibantu oleh istri yang tercinta Nurlaila
rahimahallah yang telah dipanggil menghadap Allah Azza wa Jalla lebih
dulu daripada penulis. Istriku membacakan kepadaku terjemah Al Qur’an DEPAG
yang sudah direvisi, sedangkan penulis mengetiknya, semoga Allah
mengampuninya, merahmatinya, menjaganya, memaafkannya, melindunginya dari azab
kubur dan azab neraka, Allahumma amin.
[4]
Kami juga menambahkan lagi tafsirnya dari Mukhtashar Fii Tafsiril Qur’anil
Karim (oleh Tim Ahli Tafsir) dan Aisarut Tafasir (karya Syaikh Abu
Bakar Al Jaza’iriy), serta dari media telegram berbahasa Arab dengan
nama Majalis Tadabbur dan lain-lain, semoga Allah memudahkan
penyelesaiannya, aamin.
[5]
Selesai penulisan tafsir 30 juz tahap pertama pada tanggal 17
Ramadhan 1431 H/27 Agustus 2010 M (memakan waktu kurang lebih dua tahun),
kemudian pelengkapnya atas karunia Allah
dan rahmat-Nya pada hari Senin tanggal 29 Rabi’ul Awwal 1447 H bertepatan
dengan tanggal 22 Septemmber 2025 M wal hamudulillahi Rabbil ‘aalamin sehingga
penulisan kitab tafsir ini memakan waktu kurang lebih 17 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar