Senin, 12 Januari 2026

Mukadimah Minnaturrahman (1)

بسم الله الرحمن الرحيم




Mukadimah

 

ِإنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

 {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} .

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} .

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً}

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ  .

            Tidak ada kalimat yang pantas saya ucapkan selain Alhamdulillahilladziy bini'matihi tatimmush shaalihaat (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna) karena berkat pertolongan-Nya, taufiq-Nya, dan kemudahan-Nya apa yang saya rencanakan untuk menulisnya ternyata terlaksana setelah memakan beberapa tahun[1], falillahil hamdu wal minnah.

            Tafsir yang saya tulis ini, di awal penulisan saya beri nama “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an” yang artinya “Petunjuk bagi manusia dengan tafsir Al Qur’an,” karena memang Al Qur’an merupakan hudallinnaas (petunjuk bagi manusia) secara umum, dan hudall lil muttaqiin (petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa) secara khusus. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memahami lebih lanjut kandungannya dan mentadabburi isinya karena dengan begitu akan semakin jelas jalan yang harus kita tempuh dalam meniti hidup di dunia yang fana’ ini menuju akhirat yang kekal abadi.

            Kita sudah mengetahui, bahwa hidup kita di dunia ini bukanlah hanya untuk bersenang-senang; untuk makan, minum dan memuaskan keinginan diri kita seperti halnya hewan. Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya dan agar kita mengisi hidup kita di dunia ini dengan ibadah –tanpa melupakan kesenangan dunia-, sehingga nantinya Dia akan memberikan kepada kita pahala-Nya yang besar, yaitu surga yang seluas langit dan bumi yang merupakan tempat yang penuh dengan kenikmatan –semoga Allah Subhaanahu wa Ta'aala memasukkan kita semua ke dalam surga-Nya dan menjauhkan kita dari neraka-.

Untuk mengingatkan manusia kepada tujuan mereka diciptakan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam  dan menurunkan kitab-Nya agar Beliau menerangkan kepada manusia isi kitab itu serta memberikan gambaran yang jelas (baca: As Sunnah) kepada manusia terhadap jalan yang harus mereka tempuh di dunia ini.

            Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjamin, bahwa barang siapa yang ketika di dunia mengikuti kitab-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dia berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى 

“Maka barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Qs. Thaahaa: 123) [2]

Sebaliknya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Qs. Thaaha: 124)

            Untuk itulah kami menyempatkan diri menulis tafsir Al Qur’an ini agar pedoman hidup ini semakin jelas bagi kami dan bagi saudara-saudara kami kaum muslimin.

            Dalam menulis tafsir ini, kami banyak merujuk kepada kitab Tafsir Al Qur’anil ‘Azhiim (yang ditahdzib/ditata oleh beberapa ulama dengan nama “Al Mishbahul Munir fii Tahdzib Tafsir Ibni Katsir”) karya Al Hafizh Ibnu Katsir, Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannaan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy seorang Ahli Fiqih yang menjadi guru Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, serta terjemah Al Qur’an yang diterbitkan oleh DEPAG[3] Republik Indonesia[4].

Demikian pula kami banyak merujuk kepada tafsir dua imam Jalal, yaitu Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalliy karena ringkas dan padatnya tafsir tersebut dan kitab-kitab tafsir lainnya. Namun karena dalam tafsir Al Jalaalain tersebut ada sedikit kekurangan dalam hal Akidah, maka untuk menutupinya kami merujuk kepada kitab Anwaarul Hilaalain fit Ta’aqqubaat ‘alal Jalaalain karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais agar sesuai dengan ‘Aqidah As Salafush Shaalih atau ‘Aqidah Ahluss Sunnah wal Jamaa’ah. Sedangkan untuk Asbaabunnuzulnya, maka kami merujuk kepada kitab Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzul karya Al Muhaddits Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i.

            Di dalam tafsir ini, kami juga mencantumkan judul pada ayat-ayatnya agar lebih dapat dipahami maksudnya secara umum.

            Untuk hadits-hadits di dalamnya, kami berusaha memilih hadits-hadits yang shahih atau yang hasan saja dengan banyak merujuk kepada takhrij para muhaddits, baik yang dahulu maupun yang sekarang yang kami ambil dari beberapa software yang kami miliki, seperti Al Mausuu’ah Al Hadiitsiyyah Al Mushagghgharah (Memuat Shahihul Jaami’, Dha’iful Jaami’ dan Faidhul Qadir), Al Maktabatusy Syaamilah (beberapa versi), Mausuu’atu Ruwaathil Hadits, dan lainnya.

            Untuk selanjutnya, kami beri nama kitab Tafsir ini dengan nama ‘Minnatur Rahman fii Tafsiril Qur’an Takmilan Likitab Hidayatil Insan bitafsiril Qur’an’ yang artinya ‘Karunia Allah Ar Rahman Untuk Menafsirkan Al Qur’an Sebagai Pelengkap Kitab Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an’ sebagai bentuk syukur kami kepada Allah Ar Rahman Al Mannan.

            Kami berharap kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan seluruh nama-nama-Nya yang indah dan semua sifat-sifat-Nya yang tinggi, dan karena Dialah yang satu-satunya dapat memenuhi harapan; tidak selain-Nya, kepada-Nya kami bertawakkal dan kepada-Nya kami kembali, agar kitab tafsir yang kami tulis ini dijadikan-Nya ikhlas karena mengharapkan keridhaan-Nya, menjadi amal saleh kami yang memberatkan timbangan kami dan istri kami di akhirat, dan bermanfaat bagi saudara kami kaum muslimin, aamiin.

            Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim wa tub ‘alainaa innaka antat Tawwabur Rahiim.           

 

Bekasi,[5]

Abu Yahya Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Blog: http://wawasankeislaman.blogspot.com/

Telegram: http://t.me/wawasan_muslim

Email: hadidimarwan@gmail.com

 

 


 

Mengenal Kitab Tafsir Ini

Secara singkat kitab tafsir ini:

üv  Rujukan utamanya adalah Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As Sa’diy, Tafsir Al Jalalain, dll.

üv  Mengikuti Akidah As Salaf Shalih (Ahlussunnah wal Jama’ah)

üv  Asbabun Nuzul yang shahih dari kitab Ash Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy

üv  Berusaha membatasi dengan hadits yang shahih atau hasan menurut Ahli Hadits menggunakan software Maktabah Syamilah, dll.

üv  Dilengkapi Ushul dan Kaidah Tafsir di bagian mukadimah

üv  Dilengkapi tema ayat

üv  Dilengkapi pengantar setiap surat dan munasabah (hubungan) antara surah (merujuk kepada kitab 114 Bithaaqah Ta’rif bi Suwaril Qur’an karya Dr. Yasir bin Ismail Radhiy)

üv  Dilengkapi kandungan ayat (dari kitab Aisarut Tafasir dan Mukhtashar fit Tafsir)

üv  Dilengkapi fawaid, pesan dan nasihat ulama.

 Dll.


[1] Kira-kira memakan waktu enam tahun (2 tahun selama tinggal di Bekasi dan 4 tahun selama tinggal di Jakarta) ditambah penambahan dari kitab-kitab yang lain sehingga memakan waktu belasan tahun.

[2] Ibnul Jauziy rahimahullah berkata, “Engkau akan temukan kebenarannya, yaitu siapa saja yang mengikuti Al Quran dan As Sunnah, serta mengamalkan keduanya, maka dirinya akan selamat dari kesesatan dan terhindar dari kesengsaraan di akhirat jika ia meninggal dunia di atasnya tanpa perlu diragukan lagi, demikian pula dirinya akan selamat dari kesengsaraan di dunia. Hal ini diterangkan dalam firman Allah Ta'ala, "Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan berikan jalan keluar baginya," (Qs. Ath Thalaq: 179) (Shaidul Khathir karya Ibnul Jauzi hal. 179).

[3] Untuk terjemah Al Qur’an sudah disesuaikan dengan terjemah Al Qur’an DEPAG yang sudah direvisi. Dalam hal ini penulis dibantu oleh istri yang tercinta Nurlaila rahimahallah yang telah dipanggil menghadap Allah Azza wa Jalla lebih dulu daripada penulis. Istriku membacakan kepadaku terjemah Al Qur’an DEPAG yang sudah direvisi, sedangkan penulis mengetiknya, semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, menjaganya, memaafkannya, melindunginya dari azab kubur dan azab neraka, Allahumma amin.

[4] Kami juga menambahkan lagi tafsirnya dari Mukhtashar Fii Tafsiril Qur’anil Karim (oleh Tim Ahli Tafsir) dan Aisarut Tafasir (karya Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iriy), serta dari media telegram berbahasa Arab dengan nama Majalis Tadabbur dan lain-lain, semoga Allah memudahkan penyelesaiannya, aamin

[5] Selesai penulisan tafsir 30 juz tahap pertama pada tanggal 17 Ramadhan 1431 H/27 Agustus 2010 M (memakan waktu kurang lebih dua tahun), kemudian pelengkapnya atas karunia Allah dan rahmat-Nya pada hari Senin tanggal 29 Rabi’ul Awwal 1447 H bertepatan dengan tanggal 22 Septemmber 2025 M wal hamudulillahi Rabbil ‘aalamin sehingga penulisan kitab tafsir ini memakan waktu kurang lebih 17 tahun


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (6) Pengantar Tafsir Al Qur'an

Pengantar Tafsir Al Qur’an [1] Mengenal Al Qur’an 1.       Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan) dan jam’/jami (yang ...