Pengantar Tafsir Al Qur’an
Mengenal Manhaj (Metodologi) Sebagian
Mufassir
41. Berikut manhaj sebagian mufassir:
a.
Mereka yang bersandar kepada
hadits dan atsar (riwayat dari para sahabat), seperti Abdurrazzaq bin Hammam
(w. 211 H), Abd bin Humaid (w. 249 H), Abu Ja’far Ath Thabari (w. 310 H), Abu
Bakar bin Al Mundzir (w. 318 H), Abu Muhammad bin Abi Hatim (w. 327 H), Abu
Bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih (w. 410 H), Abdurrahman bin Ali bin Al
Jauziy (w. 597 H), dan Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi (w. 774 H).
b.
Mereka yang bersandar kepada
hadits, atsar, berita orang-orang terdahulu, dan kisah-kisah Israiliyyat (dari
Bani Israil), seperti Ahmad bin Muhammad Ats Tsa’labi (w. 427 H)[1]
dan muridnya Ali bin Ahmad Al Wahidiy dalam tafsirnya Al Basith yang
belum dicetak, sedangkan yang telah dicetak adalah Al Wasith yang isinya
lebih ringkas, dan Husain bin Mas’ud Al Baghawi (w. 516 H) [2].
c.
Mereka yang bersandar kepada
fiqih, hadits, dan ilmu syar’i lainnya, seperti Muhammad bin Ahmad Al Qurthubiy
Al Maliki (w. 671 H) dalam kitabnya Al Jami Li Ahkamil Qur’an.
d.
Mereka yang bersandar kepada
bahasa dan Nahwu, seperti Mahmud bin Umar Az Zamakhsyari (w. 538 H) dalam
kitabnya Al Kasysyaf, demikian pula Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Al
Andalusiy (w. 745 H) dalam kitabnya Al Bahrul Muhith.
e.
Mereka yang bersandar kepada
munasabah (hubungan) ayat dan surat, seperti Burhanuddin Ibrahim bin Umar Al
Baqa’iy (w. 885 H) dalam kitabnya Nazhmud Durar.
f.
Mereka yang memadukan antara
riwayat dan dirayah (ra’yu), seperti Muhammad bin Ali Asy Syaukani (w. 1250 H).
g.
Mereka yang bersandar kepada
mantiq, filsafat, menghadirkan syubhat dan pandangan ulama dari kalangan
Ahlussunnah maupun Ahli Bid’ah, seperti Fakhruddin Muhammad bin Abu Bakar Ar
Raziy (w. 666 H) dalam kitabnya Mafatihul Ghaib.
h.
Mereka yang bersandar kepada pokok madzhabnya,
seperti madzhab Mu’tazilah. Misalnya adalah tafsir Abdurrahman bin Kaisan Al
Asham, Abu Ali Al Jubba’iy, At Tafsir Al Kabir karya Al Qadhiy Abdul
Jabbar bin Ahmad Al Hamdzani, Al Jami Li Ilmil Qur’an karya Ali bin Isa
Ar Rummani, dan Al Kasysyaf karya Az Zamakhsyari.
Catatan:
Prinsip kaum Mu’tazilah ada lima yaitu: Tauhid, adil, manzilah bainal
manzilatain, memberlakukan wa’id (ancaman), dan amar ma’ruf nahi munkar.
Akan tetapi ini semua mengikuti tafsiran mereka.
Tauhid kaum
Mu’tazilah adalah tauhid kaum Jahmiyyah yang menafikan sifat Allah. Ini adalah
batil.
Adil menurut mereka
adalah bahwa Allah tidak berkehendak terhadap semua makhluk, tidak
menciptakannya, dan tidak berkuasa terhadapnya. Bahkan menurut mereka, bahwa
perbuatan hamba tidak diciptakan Allah yang baik maupun yang buruk, dan Dia
tidak berkehendak selain yang diperintahkan-Nya secara syara. Selain itu
berarti bukan kehendak-Nya.
Pernyataan ini sama saja mencacatkan Allah Al Khaliq, yakni ketika terjadi
dalam kekuasaan-Nya apa yang tidak dikehendaki-Nya, atau sama saja menyatakan
ada makhluk yang bukan ciptaan-Nya. Demikian juga sama saja menyatakan bahwa
manusia berbuat di luar kehendak-Nya. Pernyataan ini juga batil.
Manzilah bainal manzilatain maksudnya adalah jika seseorang selalu melakukan ketaatan dan menjauhi
maksiat, sedangkan yang lain selalu melakukan dosa-dosa besar padahal dia orang
beriman, sedangkan yang lain lagi kafir. Maka apakah ketiga-tiganya sama. Jika
kita katakan ‘tidak sama’, maka mereka akan mengatakan ‘jika demikian, berarti
orang beriman yang melakukan dosa-dosa besar tadi berada di manzilah bainal
manzilatain, kita tidak menyebutnya mukmin dan kafir. Ini juga pernyataan
yang batil dan menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Memberlakukan wa’id (ancaman) maksudnya bahwa Allah mengancam terhadap perbuatan maksiat yang tidak
mengeluarkan dari Islam bahwa ancaman-ancaman itu pasti Dia berlakukan. Mereka
menolak adanya syafaat terhadap pelaku dosa besar.
Sedangkan amar ma’ruf dan nahi munkar, maka maksudnya menurut mereka
adalah melawan pemerintah. Ini juga tidak sejalan dengan manhaj Ahlissunnah wal
Jama’ah, wallahu a’lam.
42.
Harun Ar Rasyid rahimahullah berkata,
"Aku mencari empat hal dan menemukannya pada empat hal. Aku mencari kekufuran,
maka aku temukan pada kaum Jahmiyyah.
aku mencari banyak pembicaraan dan keributan, maka aku temukan pada kaum
Mu'tazilah. aku mencari kedustaan, maka aku temukan pada kaum Syiah Rafidhah,
dan aku mencari kebenaran, maka aku temukan pada As-habul Hadits." (Al
Mukhtar Fii Ushulid Dunya hal. 84-85)
43.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Secara garis besar, bahwa barang siapa yang menyimpang dari madzhab
para sahabat dan tabiin dan tafsir mereka kepada yang menyalahinya, maka dia
telah keliru dalam hal itu, bahkan sebagai pelaku bid’ah. Meskipun jika sebagai
mujtahid maka akan diampuni kekeliruannya.”
44.
Uslub (metode penulisan) tafsir ada beberapa
macamnya, di antaranya: tafsir Tahlili (menganalisa kata-perkata), tafsir
Ijmali (secara garis besar), tafsir Muqaran (membandingkan antara pendapat para
mufassir kemudian mencari yang lebih rajih/kuat), dan tafsir Maudhu’i
(tematik).
Syarat Mufassir Agar Mencapai Tingkatan Tinggi
Dalam Tafsir
45. Sebagian ulama
mensyaratkan bagi seorang mufassir agar mencapai tingkatan tinggi dalam tafsir,
yaitu menguasai bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ushul Fiqh, Ilmu Tauhid
(Aqidah Shahihah), mengetahui Asbabunnuzul, mengetahui pendapat para
mufassir, kisah-kisah,
nasikh-mansukh, hadits-hadits yang menerangkan kemujmalan dan kemubhaman suatu
nash, dan ilmu mauhibah syar’iyyah, yakni ilmu yang Allah berikan bagi
mereka yang mengamalkan ilmunya; yang dalam hatinya tidak terkena penyakit hati
berupa bid’ah, kesombongan, cinta dunia, atau kecenderungan kepada maksiat, memperturutkan hawa
nafsu, dsb. karena Allah Ta’ala berfirman,
سَأَصْرِفُ
عَنْ آياتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
“Aku akan memalingkan orang-orang
yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari
tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (Qs. Al A’raaf: 146)
46. Adab seorang mufasir adalah ikhlas, mencari yang hak (benar),
mengamalkan ilmunya, berakhlak mulia, dan memiliki kewibawaan.
Al Qur’an dan As Sunnah merupakan kitab
tarbawi (pendidikan) terbaik secara mutlak
47. Al Qur’an dan As Sunnah merupakan kitab tarbawi (pendidikan)
terbaik secara mutlak. Hal ini dapat diketahui dari hasil didikan Al Qur’an dan
As Sunnah seperti para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadi khairu
ummah (sebaik-baik umat). Di samping itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
pernah menyampaikan bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Beliau.
Selain itu, juga Al Qur’an dan As
Sunnah memuat berbagai metode pendidikan, seperti metode kisah, tanya-jawab,
perumpamaan, nasihat, mengajak berfikir dan lain-lain yang diungkapkan dengan
gaya bahasa yang indah.
Nama Allah Menunjukkan Dzat dan Sifat
48. Setiap nama Allah menunjukkan dzat yang dinamai dan sifat yang
dikandung dari nama itu. Contoh: Al 'Aliim menunjukkan dzat dan sifat
ilmu (mengetahui), Al Qadir menunjukkan dzat dan sifat qudrah
(menguasai), Ar Rahiim menunjukkan dzat dan sifat rahmah (sayang).
Perbedaan antara sifat dzaat dengan
sifat fi'il (perbuatan) adalah:
a.
Sifat dzat adalah sifat
yang mesti (lazim), dimana dzat Allah tidak akan lepas darinya, bahkan Dia disifati
dengannya. Sifat tersebut ada padanya di setiap waktu dan setiap keadaan, dan
tidak terkait dengan kekuasaan dan kehendak-Nya. Contoh: sifat ilmu
(mengetahui), qudrah (kuasa), sam' (mendengar), bashar (melihat), 'azhamah
(agung), 'Uluw (tinggi), dsb.
b.
Sifat perbuatan adalah
setiap sifat yang terkait dengan kekuasaan dan kehendak-Nya. Sifat tersebut
adalah sifat yang jika Dia menghendaki, maka Dia lakukan, dan jika tidak Dia
kehendaki, maka tidak Dia lakukan. Contohnya sifat kalam (berbicara); Dia disifati
dengan sifat kalam yang tidak akan habis, dan kalam-Nya terkait dengan kehendak
dan kekuasaan-Nya. Jika Dia menghendaki berbicara, maka Dia berbicara, tetapi
jika Dia tidak menghendaki bicara, maka Dia tidak berbicara. Contoh lainnya
adalah sifat-Nya turun ke langit dunia. Demikian juga sifat-Nya mencipta,
memberi rezeki dan mengatur alam semesta; Dia disifati bahwa Dia adalah Al
Khallaq (Maha Pencipta), Ar Razzaq (maha Pemberi rezeki), dan Yang mengatur
alam semesta. (lihat kitab Al Ajwibah
As Sa'diyyah 'anil Masaa'il Al Kuwaitiyyah hal. 119).
[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam
Muqaddimah Tafsir mengomentari Ats Tsa’labi dengan mengatakan, “Ats Tsa’labi
pada dirinya terdapat kebaikan dan agama, akan tetapi beliau seperti pencari
kayu bakar (tidak bisa memilah dan memilih), ia menukil apa yang ada dalam
kitab-kitab tafsir baik yang shahih, dha’if, bahkan yang maudhu (palsu).”
[2] Tentang Al Wahidiy dan Al Baghawiy
Ibnu Taimiyah mengomentari keduanya dengan mengatakan, “Al Wahidiy lebih
mengerti bahasa Arab daripada Ats Tsa’labiy. Sedangkan tafsir Al Baghawiy
adalah ringkasan dari Ats Tsa’labiy, akan tetapi beliau menjaga tafsirnya dari
hadits-hadits palsu dan pendapat-pendapat bid’ah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar