Minggu, 15 Februari 2026

Mukadimah (10)

 

Pengantar Tafsir Al Qur’an

 


Mengenal Manhaj (Metodologi) Sebagian Mufassir

41.  Berikut manhaj sebagian mufassir:

a.         Mereka yang bersandar kepada hadits dan atsar (riwayat dari para sahabat), seperti Abdurrazzaq bin Hammam (w. 211 H), Abd bin Humaid (w. 249 H), Abu Ja’far Ath Thabari (w. 310 H), Abu Bakar bin Al Mundzir (w. 318 H), Abu Muhammad bin Abi Hatim (w. 327 H), Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih (w. 410 H), Abdurrahman bin Ali bin Al Jauziy (w. 597 H), dan Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi (w. 774 H).

b.         Mereka yang bersandar kepada hadits, atsar, berita orang-orang terdahulu, dan kisah-kisah Israiliyyat (dari Bani Israil), seperti Ahmad bin Muhammad Ats Tsa’labi (w. 427 H)[1] dan muridnya Ali bin Ahmad Al Wahidiy dalam tafsirnya Al Basith yang belum dicetak, sedangkan yang telah dicetak adalah Al Wasith yang isinya lebih ringkas, dan Husain bin Mas’ud Al Baghawi (w. 516 H) [2].

c.         Mereka yang bersandar kepada fiqih, hadits, dan ilmu syar’i lainnya, seperti Muhammad bin Ahmad Al Qurthubiy Al Maliki (w. 671 H) dalam kitabnya Al Jami Li Ahkamil Qur’an.

d.        Mereka yang bersandar kepada bahasa dan Nahwu, seperti Mahmud bin Umar Az Zamakhsyari (w. 538 H) dalam kitabnya Al Kasysyaf, demikian pula Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf Al Andalusiy (w. 745 H) dalam kitabnya Al Bahrul Muhith.

e.         Mereka yang bersandar kepada munasabah (hubungan) ayat dan surat, seperti Burhanuddin Ibrahim bin Umar Al Baqa’iy (w. 885 H) dalam kitabnya Nazhmud Durar.

f.          Mereka yang memadukan antara riwayat dan dirayah (ra’yu), seperti Muhammad bin Ali Asy Syaukani (w. 1250 H).

g.         Mereka yang bersandar kepada mantiq, filsafat, menghadirkan syubhat dan pandangan ulama dari kalangan Ahlussunnah maupun Ahli Bid’ah, seperti Fakhruddin Muhammad bin Abu Bakar Ar Raziy (w. 666 H) dalam kitabnya Mafatihul Ghaib.

h.         Mereka yang bersandar kepada pokok madzhabnya, seperti madzhab Mu’tazilah. Misalnya adalah tafsir Abdurrahman bin Kaisan Al Asham, Abu Ali Al Jubba’iy, At Tafsir Al Kabir karya Al Qadhiy Abdul Jabbar bin Ahmad Al Hamdzani, Al Jami Li Ilmil Qur’an karya Ali bin Isa Ar Rummani, dan Al Kasysyaf karya Az Zamakhsyari.

Catatan:

Prinsip kaum Mu’tazilah ada lima yaitu: Tauhid, adil, manzilah bainal manzilatain, memberlakukan wa’id (ancaman), dan amar ma’ruf nahi munkar. Akan tetapi ini semua mengikuti tafsiran mereka.

Tauhid kaum Mu’tazilah adalah tauhid kaum Jahmiyyah yang menafikan sifat Allah. Ini adalah batil.

Adil menurut mereka adalah bahwa Allah tidak berkehendak terhadap semua makhluk, tidak menciptakannya, dan tidak berkuasa terhadapnya. Bahkan menurut mereka, bahwa perbuatan hamba tidak diciptakan Allah yang baik maupun yang buruk, dan Dia tidak berkehendak selain yang diperintahkan-Nya secara syara. Selain itu berarti bukan kehendak-Nya.

Pernyataan ini sama saja mencacatkan Allah Al Khaliq, yakni ketika terjadi dalam kekuasaan-Nya apa yang tidak dikehendaki-Nya, atau sama saja menyatakan ada makhluk yang bukan ciptaan-Nya. Demikian juga sama saja menyatakan bahwa manusia berbuat di luar kehendak-Nya. Pernyataan ini juga batil.

Manzilah bainal manzilatain maksudnya adalah jika seseorang selalu melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat, sedangkan yang lain selalu melakukan dosa-dosa besar padahal dia orang beriman, sedangkan yang lain lagi kafir. Maka apakah ketiga-tiganya sama. Jika kita katakan ‘tidak sama’, maka mereka akan mengatakan ‘jika demikian, berarti orang beriman yang melakukan dosa-dosa besar tadi berada di manzilah bainal manzilatain, kita tidak menyebutnya mukmin dan kafir. Ini juga pernyataan yang batil dan menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Memberlakukan wa’id (ancaman) maksudnya bahwa Allah mengancam terhadap perbuatan maksiat yang tidak mengeluarkan dari Islam bahwa ancaman-ancaman itu pasti Dia berlakukan. Mereka menolak adanya syafaat terhadap pelaku dosa besar.

Sedangkan amar ma’ruf dan nahi munkar, maka maksudnya menurut mereka adalah melawan pemerintah. Ini juga tidak sejalan dengan manhaj Ahlissunnah wal Jama’ah, wallahu a’lam.

42.  Harun Ar Rasyid rahimahullah berkata, "Aku mencari empat hal dan menemukannya pada empat hal. Aku mencari kekufuran, maka aku temukan pada kaum Jahmiyyah.  aku mencari banyak pembicaraan dan keributan, maka aku temukan pada kaum Mu'tazilah. aku mencari kedustaan, maka aku temukan pada kaum Syiah Rafidhah, dan aku mencari kebenaran, maka aku temukan pada As-habul Hadits." (Al Mukhtar Fii Ushulid Dunya hal. 84-85)

43.  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Secara garis besar, bahwa barang siapa yang menyimpang dari madzhab para sahabat dan tabiin dan tafsir mereka kepada yang menyalahinya, maka dia telah keliru dalam hal itu, bahkan sebagai pelaku bid’ah. Meskipun jika sebagai mujtahid maka akan diampuni kekeliruannya.”

44.  Uslub (metode penulisan) tafsir ada beberapa macamnya, di antaranya: tafsir Tahlili (menganalisa kata-perkata), tafsir Ijmali (secara garis besar), tafsir Muqaran (membandingkan antara pendapat para mufassir kemudian mencari yang lebih rajih/kuat), dan tafsir Maudhu’i (tematik).

Syarat Mufassir Agar Mencapai Tingkatan Tinggi Dalam Tafsir

45.  Sebagian ulama mensyaratkan bagi seorang mufassir agar mencapai tingkatan tinggi dalam tafsir, yaitu menguasai bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Ushul Fiqh, Ilmu Tauhid (Aqidah Shahihah), mengetahui Asbabunnuzul, mengetahui pendapat para mufassir, kisah-kisah, nasikh-mansukh, hadits-hadits yang menerangkan kemujmalan dan kemubhaman suatu nash, dan ilmu mauhibah syar’iyyah, yakni ilmu yang Allah berikan bagi mereka yang mengamalkan ilmunya; yang dalam hatinya tidak terkena penyakit hati berupa bid’ah, kesombongan, cinta dunia, atau kecenderungan kepada maksiat, memperturutkan hawa nafsu, dsb. karena Allah Ta’ala berfirman,

سَأَصْرِفُ عَنْ آياتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (Qs. Al A’raaf: 146)

46.  Adab seorang mufasir adalah ikhlas, mencari yang hak (benar), mengamalkan ilmunya, berakhlak mulia, dan memiliki kewibawaan.

Al Qur’an dan As Sunnah merupakan kitab tarbawi (pendidikan) terbaik secara mutlak

47.  Al Qur’an dan As Sunnah merupakan kitab tarbawi (pendidikan) terbaik secara mutlak. Hal ini dapat diketahui dari hasil didikan Al Qur’an dan As Sunnah seperti para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadi khairu ummah (sebaik-baik umat). Di samping itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah menyampaikan bahwa sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Beliau.

Selain itu, juga Al Qur’an dan As Sunnah memuat berbagai metode pendidikan, seperti metode kisah, tanya-jawab, perumpamaan, nasihat, mengajak berfikir dan lain-lain yang diungkapkan dengan gaya bahasa yang indah.

Nama Allah Menunjukkan Dzat dan Sifat

48.  Setiap nama Allah menunjukkan dzat yang dinamai dan sifat yang dikandung dari nama itu. Contoh: Al 'Aliim menunjukkan dzat dan sifat ilmu (mengetahui), Al Qadir menunjukkan dzat dan sifat qudrah (menguasai), Ar Rahiim menunjukkan dzat dan sifat rahmah (sayang).

Perbedaan antara sifat dzaat dengan sifat fi'il (perbuatan) adalah:

a.         Sifat dzat adalah sifat yang mesti (lazim), dimana dzat Allah tidak akan lepas darinya, bahkan Dia disifati dengannya. Sifat tersebut ada padanya di setiap waktu dan setiap keadaan, dan tidak terkait dengan kekuasaan dan kehendak-Nya. Contoh: sifat ilmu (mengetahui), qudrah (kuasa), sam' (mendengar), bashar (melihat), 'azhamah (agung), 'Uluw (tinggi), dsb.

b.         Sifat perbuatan adalah setiap sifat yang terkait dengan kekuasaan dan kehendak-Nya. Sifat tersebut adalah sifat yang jika Dia menghendaki, maka Dia lakukan, dan jika tidak Dia kehendaki, maka tidak Dia lakukan. Contohnya sifat kalam (berbicara); Dia disifati dengan sifat kalam yang tidak akan habis, dan kalam-Nya terkait dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Jika Dia menghendaki berbicara, maka Dia berbicara, tetapi jika Dia tidak menghendaki bicara, maka Dia tidak berbicara. Contoh lainnya adalah sifat-Nya turun ke langit dunia. Demikian juga sifat-Nya mencipta, memberi rezeki dan mengatur alam semesta; Dia disifati bahwa Dia adalah Al Khallaq (Maha Pencipta), Ar Razzaq (maha Pemberi rezeki), dan Yang mengatur alam semesta.  (lihat kitab Al Ajwibah As Sa'diyyah 'anil Masaa'il Al Kuwaitiyyah hal. 119).

Perlu diketahui, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala disifati dengan sifat-sifat itu dan berhak memilikinya,  Dia senantiasa disifati dengan sifat sempurna, baik sifat pada dzat maupun perbuatan-Nya, dan tidak boleh diyakini bahwa Allah disifati dengan sifat itu yang sebelumnya tidak disifati dengannya.


[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqaddimah Tafsir mengomentari Ats Tsa’labi dengan mengatakan, “Ats Tsa’labi pada dirinya terdapat kebaikan dan agama, akan tetapi beliau seperti pencari kayu bakar (tidak bisa memilah dan memilih), ia menukil apa yang ada dalam kitab-kitab tafsir baik yang shahih, dha’if, bahkan yang maudhu (palsu).”

[2] Tentang Al Wahidiy dan Al Baghawiy Ibnu Taimiyah mengomentari keduanya dengan mengatakan, “Al Wahidiy lebih mengerti bahasa Arab daripada Ats Tsa’labiy. Sedangkan tafsir Al Baghawiy adalah ringkasan dari Ats Tsa’labiy, akan tetapi beliau menjaga tafsirnya dari hadits-hadits palsu dan pendapat-pendapat bid’ah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (14)

  Pengantar Tafsir Al Qur’an   Muhkamat dan Mutasyabihat 110. Al Qur'an dilihat dari sisi muhkamat dan mutasyabihat terbagi menjad...