Pengantar Tafsir Al Qur’an
Huruf Alif dan Lam Yang Masuk Ke Dalam
Sifat dan Isim Jenis
119. Termasuk ushul (dasar-dasar) dalam tafsir Al
Qur’an adalah bahwa huruf Alif dan Lam yang masuk ke dalam sifat-sifat dan isim
jenis berarti mencakup semua makna yang dikandungnya.
Contoh yang masuk ke dalam sifat:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ
وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ
وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ
وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ
لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap
dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan
yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al
Ahzaab: 35)
Contoh yang masuk ke dalam isim jenis:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2)
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian,”
(Qs. Al ‘Ashr: 3)
Di Antara Isi Al Qur'an Yang Paling Banyak
Disebutkan
120.Termasuk kulliyyat (keumuman)
Al Qur’an, bahwa ia mengajak untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah dan
mengenalkan kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya
serta perbuatan-Nya yang menunjukkan sendirinya Dia dengan keesaan dan sifat-sifat
sempurna, dan untuk memberitahukan bahwa Dialah yang hak (benar), beribadah
kepada-Nya itulah yang hak, dan bahwa beribadah kepada selain-Nya adalah batil.
Demikian pula, Al Qur’an menerangkan kekurangan atau cacatnya sesembahan yang
disembah selain-Nya dari berbagai sisi.
Faedah Disebutkan Asma'ul Husna di Akhir
Ayat
121.Allah Subhaanahu wa Ta'aala
mengakhiri ayat-ayat-Nya dengan nama-nama-Nya yang indah (Asmaa’ul Husna) untuk
menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan itu ada kaitannya dengan nama-Nya yang
mulia yang disebutkan.
Ilmu dan Tingkatan Mengetahui
122.Ilmu artinya mengetahui sesuatu sesuai dengan
keadaannya dengan pengetahuan yang pasti, seperti api itu panas.
Di bawah ilmu ada tingkatan dalam mengetahui, yaitu:
a.
Jahl basith artinya
tidak mengetahui secara keseluruhan, seperti tidak mengetahui bahwa api itu
panas.
b.
Jahl murakkab artinya mengetahui sesuatu tetapi tidak sesuai
dengan keadaannya, seperti mengetahui bahwa api itu dingin.
c.
Wahm (keliru) artinya mengetahui sesuatu, namun yang berlawanan dengannya lebih
kuat.
d.
Syakk (ragu-ragu) artinya mengetahui sesuatu, namun yang berlawanan dengannya
sama-sama kuat.
e.
Zhann (kira-kira) artinya mengetahui sesuatu, namun yang berlawanan dengannya
kurang kuat.
Ilmu terbagi dua:
Dharuri dan Nazhari. Dharuri adalah mengetahui sesuatu tanpa perlu
pengkajian secara mendalam, seperti mengetahui bahwa api itu panas, es itu
dingin, dsb. Sedangkan nazhari adalah mengetahui sesuatu setelah
pengkajian, seperti mengetahui wajibnya niat dalam berwudhu.
Penguatan Tentang Kebenaran Al Qur'an
123.Al Qur’an juga menerangkan
kebenaran apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan
menerangkan kerapihan Al Qur’an dan kesempurnaannya, kebenaran beritanya dan
indahnya hukum-hukumnya. Demikian pula menerangkan keadaaan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam berupa sifat manusia yang sempurna yang tidak dimiliki oleh
seorang pun juga dari zaman dahulu, sekarang dan yang akan datang. Ia (Al
Qur’an) juga menantang mereka untuk mendatangkan yang semisal dengan Al Qur’an
jika mereka orang-orang yang benar. Kebenaran Al Qur’an diperkuat dengan
kesaksian Allah Subhaanahu wa Ta'aala; dengan firman-Nya, perbuatan-Nya dan
iqrar-Nya terhadapnya, serta dengan pembenaran-Nya dengan hujjah dan bukti,
dengan pertolongan dan kemenangan, dan dengan kesaksian Ahli Ilmu yang adil.
Demikian pula dengan membandingkan antara isinya yang benar, baik pada berita
maupun hukum-hukumnya dengan apa yang dipegang oleh musuh-musuh Beliau yang
mendustakannya berupa kedustaan pada berita mereka dan batilnya hukum-hukum
mereka. Demikian pula Al Qur’an diperkuat dengan berbagai mukjizat.
Penguatan Terhadap Adanya Kebangkitan
124.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memperkuat adanya kebangkitan dan akhirat dengan
menyebutkan sempurnanya kekuasaan-Nya, penciptaan-Nya terhadap langit dan bumi
dimana keduanya lebih besar daripada manusia, dan bahwa yang mengadakan makhluk
pertama kali tentu berkuasa mengembalikan seperti semua ketika makhluk itu
telah mati. Demikian pula Yang menghidupkan tanah yang mati berkuasa untuk
mengidupkan orang-orang yang telah mati karena tidak ada bedanya. Untuk
menguatkan kebangkitan juga, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan hari-hari
azab-Nya kepada umat-umat terdahulu, contoh-contoh yang terjadi yang dapat
disaksikan manusia, dan bahwa yang demikian merupakan contoh pembalasan di
akhirat.
125.Al Qur’an
mengajak orang-orang yang berada di atas kebatilan seperti orang-orang kafir,
orang-orang musyrik, dan orang-orang anti agama dengan menyebutkan keindahan
agama Allah (Islam), dimana pada agama Allah terdapat petunjuk kepada jalan
yang lebih lurus, baik dalam keyakinan, akhlak maupun amal, serta dengan
menerangkan keagungan Allah dan rububiyyah(pengaturan)-Nya serta
nikmat-nikmat-Nya yang besar dan banyak, dan bahwa yang sendiri dengan
kesempurnaan yang mutlak serta yang memberikan semua nikmat, Dialah yang berhak
ditujukan berbagai macam ibadah, dan bahwa apa yang dipegang orang-orang yang
batil jika diperhatikan secara matang tampak terlihat keburukan dan
kebatilannya serta akibat yang buruk.
Contoh Kaedah-Kaedah dari Al Qur’an
126.Berikut contoh-contoh kaedah
yang ditetapkan Al Qur’an:
a.
Masing-masing memikul tanggung
jawab terhadap tindakannya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Setiap
manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Qs. Ath Thuur: 21)
b.
Hasil yang diperoleh tergantung
amal yang dilakukan. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan
bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” (Qs. An Najm: 39)
c.
Sangat telitinya neraca Ilahi.
Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ (53)
“Dan
segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Qs. Al Qamar: 53)
d.
Nilai manusia tergantung
keikhlasan amalnya karena Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)
“Semua
yang ada di bumi itu akan binasa.--Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai
kebesaran dan kemuliaan.”
(Qs. Ar Rahmaan: 26-27)
e.
Keadilan mutlak bagi Allah Azza wa
Jalla dan bahwa balasan tergantung jenis amalan. Allah Ta’ala berfirman,
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
(60)
“Tidak
ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Qs. Ar Rahman: 60)
f.
Semangat dan berlomba-lomba dalam
kebaikan adalah kunci keberhasilan dan tanda diterima. Allah Ta’ala berfirman,
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ
وَرُسُلِهِ
“Berlomba-lombalah kamu kepada
(mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan
bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya.” (Qs. Al
Hadiid: 21)
Rahasia tidak digunakan huruf nidaa’ “Yaa”
pada kata Rabb
127.Di antara rahasia tidak
digunakan huruf nidaa’ “Yaa” (artinya: wahai) pada kata Rabb adalah untuk menunjukkan
kedekatan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya di tengah
ketinggian-Nya, sehingga mereka tidak perlu mengadakan perantara antara Dia dengan
mereka dalam berdoa.
Pembagian dilalah (yang ditunjukkan oleh
suatu kalimat)
128.Termasuk Ushulut
(dasar-dasar) Tafsir adalah, bahwa apabila kita memahami apa yang ditunjukkan
oleh ayat-ayat yang mulia berupa makna-makna baik yang muthabaqah
(penyamarataan) maupun yang tadhammun (terkandung), maka lawazim (yang menyatu)
dengan makna-makna itu serta pelengkapnya, syarat-syarat dan pengikutnya ikut
pula ke dalam makna itu. Oleh karena itu, apabila suatu berita tidak bisa
sempurna kecuali dengannya, maka penyempurna itu mengikuti berita itu, dan
apabila suatu hukum tidak sempurna kecuali dengannya, maka penyempurna itu ikut
ke dalam hukum. Dan bahwa ayat-ayat yang dipahami tampak ada pertentangan, maka
maksudnya bukan berarti bertentangan, bahkan semua itu wajib dibawa kepada
keadaan yang sesuai dengannya.
129.Dilalah (kandungan
suatu kalimat) dalam Al Qur’an dan As Sunnah ada tiga macam:
a.
Dilalah
Muthabaqah, yakni jika kita ratakan lafaz
untuk semua makna[1].
b.
Dilalah
Tadhammun, yakni jika kita berdalih dengan
suatu lafaz yang menunjukkan sebagian makna yang dikandungnya[2].