Kamis, 12 Maret 2026

Mukadimah (14)

 Pengantar Tafsir Al Qur’an

 


Muhkamat dan Mutasyabihat

110.Al Qur'an dilihat dari sisi muhkamat dan mutasyabihat terbagi menjadi tiga bagian:

a.        Muhkam yang umum yang Allah sifati Al Qur'an seluruhnya dengannya. Contohnya:

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ (1) 

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (Terj. Qs. Huud: 1)

          Maksud muhkamat (lihat lafaz "uhkimat") di sini adalah tersusun rapi, bagus lafaznya dan maknanya bahkan menempati kefasihan yang paling tinggi, beritanya semua benar dan bermanfaat, tidak dusta, dan tidak ada pertentangan, tidak main-main yang kosong dari kebaikan, hukum-hukumnya semuanya adil; tidak ada kezaliman, tidak ada pertentangan, dan tidak ada ketidaktepatan.

          Hal ini disebut muhkam seluruhnya baik lafaz maupun maknanya.

    1. Mutasyabih yang umum yang Allah sifati Al Qur'an seluruhnya dengannya. Contohnya:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ4

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.(Terj. Qs. Az Zumar: 23)

Maksud mutasyabih (lihat lafaz "mutasyaabihaa") adalah bahwa ayat-ayat Al Qur'an satu dengan yang lain serupa dalam hal keempurnaan, bagusnya dan tujuannya yang mulia. Allah Ta'ala berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (82)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau sekiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Qs. An Nisaa': 82)

Ini disebut mutasyabih seluruhnya dalam hal kesempurnaan dan keindahan.

    1. Muhkam yang khusus pada sebagiannya, dan mutasyabih pada sebagian lagi. Contohnya:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (7) 

"Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal." (Qs. Ali Imran: 7)

Maksud muhkamat di sini adalah jelas dan gamblang tanpa tersembunyi, misalnya firman Allah Ta'ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, " (Qs. Al Maa'idah: 3)

Ayat ini begitu jelas dan langsung dipahami.

Sedangkan maksud mutasyabihat adalah makna ayat tersebut tersembunyi, dimana orang yang keliru dapat menyangka yang tidak layak bagi Allah Ta'ala, atau bagi kitab-Nya, atau Rasul-Nya, tetapi orang yang dalam ilmunya memahaminya tidak demikian.

Contoh yang pertama, yang terkait dengan Allah Subhaanahu wa Ta'ala adalah ketika membaca firman Allah Ta'ala:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

"Tetapi kedua tangan Allah terbuka;" (Qs. Al Maa'idah: 64)

Mungkin ada yang salah paham sehingga menganggap bahwa kedua Tangan Allah serupa dengan tangan makhluk; padahal Tangan Allah tidak serupa dengan tangan makhluk-Nya.

Contoh yang kedua, yang terkait dengan Kitab Allah adalah ketika membaca firman Allah Ta'ala:

وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

"Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, "Ini adalah dari sisi Allah," dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan, "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Katakanlah, "Semuanya (datang) dari sisi Allah." (Qs. Al Maa'idah: 78)

dengan firman Allah Ta'ala:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (79) 

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu sebagai rasul bagi manusia, dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Qs. An Nisaa': 79)

Mungkin ada yang salah paham sehingga menganggap bahwa ayat ini dengan ayat sebelumnya bertentangan.

Contoh yang ketiga, yang terkait dengan Rasulullah adalah ketika membaca firman Allah Ta'ala:

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (94) 

"Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu." (Qs. Yunus: 94)

Mungkin ada yang salah paham sehingga menganggap bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ragu-ragu terhadap kitab yang diturunkan kepadanya.

Perbandingan sikap antara orang-orang yang dalam ilmunya dengan orang-orang yang menyimpang terhadap ayat-ayat mutasyabihat

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (7)   

"Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal." (Qs. Ali Imran: 7)

Dari ayat di atas kita mengetahui perbedaan sikap antara orang-orang yang menyimpang dengan orang-orang yang dalam ilmunya terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Orang-orang yang menyimpang menjadikan ayat-ayat mutasyabihat sebagai sarana untuk mencacatkan kitabullah dan menimbulkan fitnah di tengah-tengah manusia, serta mentakwilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan orang lain. Adapun orang-orang yang dalam ilmunya, maka mereka mengimani bahwa apa yang disebutkan dalam kitab Allah adalah hak (benar), tidak ada pertentangan sama sekali karena berasal dari sisi Allah, bahkan ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain saling membenarkan. Oleh karena itu, mereka yang dalam ilmunya mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabihat kepada yang muhkamat sehingga semuanya menjadi muhkamat.

Terhadap contoh yang pertama, maka orang-orang yang dalam ilmunya berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki kedua Tangan yang hakiki sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, dan kedua Tangan-Nya itu tidak serupa dengan Tangan makhluk, sebagaimana Dia punya Dzat, dan Dzat-Nya tidak sama dengan Dzat makhluk. Hal itu, karena Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (Qs. Asy Syuuraa: 11)

Terhadap contoh yang kedua, maka orang-orang yang dalam ilmunya berkata, "Sesungguhnya kebaikan dan keburukan kedua-duanya dengan taqdir Allah Subhaanahu wa Ta'ala, akan tetapi kebaikan sebabnya adalah karunia dari Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya, sedangkan keburukan sebabnya adalah perbuatan hamba sebagaimana firman Allah Ta'ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30) 

"Apa saja musibah yang menimpa kamu, maka yang demikian disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Qs. Asy Syuuraa: 30)

Oleh karena itu, penyandaran keburukan kepada hamba adalah penyandaran sesuatu kepada sebabnya, tidak kepada yang menaqdirkannya. Adapun penyandaran kebaikan dan keburukan kepada Allah Ta'ala, maka termasuk ke dalam penyandaran seuatu kepada yang menaqdirkannya. Dengan demikian, hilanglah kesalahpahaman sebelumnya.

Adapun terhadap contoh yang ketiga, maka orang-orang yang dalam ilmunya berkata, "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah ragu terhadap kitab Al Qur'an yang diturunkan kepadanya, bahkan Beliau adalah orang yang paling tahu tentangnya dan paling yakin. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي شَكٍّ مِنْ دِينِي فَلَا أَعْبُدُ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ô

Katakanlah, "Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah," (Qs. Yunus: 104)

Maksud ayat ini adalah jika kamu ragu-ragu terhadapnya, maka saya berada di atas keyakinan kepadanya. Oleh karenanya saya tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, bahkan hanya Allah saja yang saya sembah. Oleh karena itu, kalimat "Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu," tidaklah berarti bahwa Nabi shallallahhu 'alaihi wa sallam        merasa ragu-ragu. Perhatikanlah firman Allah Ta'ala:

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ (81) 

Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka Akulah (Muhammad) orang yang pertama memuliakan (anak itu). (Qs. Az Zukhruf: 81)

Kalimat ini tidaklah berarti bisa saja Allah punya anak, bahkan sekali-kali tidak, Dia tidaklah mempunyai anak. Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

"Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (      mempunyai) anak." (Qs. Maryam: 92)

Singkatnya, orang-orang yang dalam ilmunya mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabihat kepada ayat-ayat yang muhkamat.

(Lihat kitab Ushul fit Tafsir karya Syaikh Ibnu 'Utsaimin pada pembahasan Muhkam & Mutasyabih).

111.Mutasyabihat yang terjadi dalam Al Qur'an ada dua:

a.       Hakiki, yaitu yang tidak mungkin diketahui oleh manusia, seperti hakikat sifat Allah 'Azza wa Jalla. Kita hanya mengetahui makna sifat-sifat tersebut, tetapi hakikatnya tidak kita ketahui. Oleh karena itu, ketika Imam Malik ditanya tentang firman Allah Ta'ala:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5) 

"Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas 'Arsy." (Qs. Thaaha: 5)

Yakni ditanya "Bagaimana bersemayamnya Allah?" Imam Malik menjawab, "Bersemayam itu tidaklah majhul – yakni diketahui maknanya-, bagaimana hakikatnya tidaklah dimengerti, beriman kepadanya wajib, bertanya tentangnya adalah bid'ah."  

Dengan demikian, untuk hal itu tidak boleh ditanyakan karena tidak bisa dicapai. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ (103)  

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha mengetahui." (Qs. Al An'aam: 103)

b.      Nisbiy (relatif), yaitu yang bagi sebagian manusia samar, tetapi bagi yang lain tidak; yakni bagi para ulama. Untuk hal ini, maka perlu ditanyakan kepada para ulama, karena tidak ada satu pun dalam Al Qur'an yang tidak jelas maknanya. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا (174)   

"Wahai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)." (Qs. An Nisaa': 174)

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138)

"(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Qs. Ali Imran: 138)

112.Hikmah adanya muhkamat dan mutasyabihat adalah karena jika Al Qur'an hanya muhkamat saja, maka hilanglah hikmah menjadikannya sebagai ujian bagi manusia agar jelas siapa yang benar imannya dan siapa yang dalam hatinya ada penyimpangan, dan jika Al Qur'an hanya mutasyabihat saja, maka hilanglah tujuan dari diturunkannya, yaitu untuk memberikan penjelasan kepada manusia, petunjuk bagi mereka, dan tentu tidak bisa diamalkan. Akan tetapi, Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan hikmah-Nya menjadikan sebagian besarnya muhkamat yang akan dijadikan rujukan ketika menghadapi ayat-ayat mutasyabihat.

113.Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam risalahnya Aqidah Ahlissunnah wal Jamaah berkata, “Kita mengetahui secara yakin, bahwa semua yang disebutkan dalam Kitabullah atau Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam adalah kebenaran, dimana satu sama lainnya tidak akan terjadi pertentangan, karena Allah berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau sekiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(Qs. An Nisaa’: 82)

Di samping itu, adanya pertentangan dalam berita menghendaki terjadinya saling mendustakan satu dengan lainnya, dan hal ini mustahil terjadi dalam berita yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sampaikan.

Barang siapa yang menyatakan, bahwa dalam kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam atau di antara keduanya terdapat pertentangan, maka hal ini diakibatkan oleh niatnya yang buruk dan hatinya yang menyimpang. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaubat kepada Allah Ta’ala dan berhenti dari kesesatannya. Demikian pula barang siapa yang mengangap adanya pertentangan dalam kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, atau di antara keduanya, maka hal ini diakibatkan oleh kedangkalan ilmunya, kurangnya dalam memahami, atau kurangnya mentadabburi ayat, maka hendaknya ia belajar lagi, lebih serius dalam mentadabburi agar semakin jelas kebenaran baginya. Jika belum jelas juga, maka serahkanlah masalah itu kepada yang mengetahuinya, hentikanlah anggapannya ini, dan hendaknya ia mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang dalam ilmunya, “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari Rabb kami.” (Terj. Qs. Ali Imran: 7). Demikian pula hendaknya ia mengetahui, bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidak ada pertentangan di dalamnya, dan tidak ada perselisihan.”

114.Takwil memiliki beberapa arti, di antaranya: (1) mengamalkan nash, (2) terjadinya berita, (3) tafsir, dan (4) memalingkan lafaz dari zhahirnya.

115.Takwil terbagi dua:

a.  Ta’wil Mahmud (Takwil Terpuji), yaitu takwil atau tafsir yang sesuai dengan dalil yang shahih.

b. Ta’wil Madzmum (Takwil Tercela), yaitu yaitu takwil atau tafsir yang tidak sesuai dengan dalil yang shahih. Misalnya mengartikan istawa’ (bersemayam) dalam firrman Allah Ta’ala,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5) 

(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy. (Qs. Thaahaa: 5)

Dengan mengartikan ‘istawlaa’ (menguasai) padahal yang benar, arti ‘istawa’ adalah Al ‘Uluw wal Istiqrar (tinggi dan berada di atas) tanpa takyif (menanyakan bagaimana hakikatnya) dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan sifat makhluk).

 

Penerjemahan dan Penafsiran Al Qur'an

116.Penerjemahan terbagi dua:

a.    Tarjamah harfiyyah, yaitu dengan menerjemahkan setiap huruf atau kata dengan arti di bawahnya.

b.    Tarjamah ma'nawiyyah atau tafsiriyyah, yaitu dengan menerjemahkan makna kalimat ke dalam bahasa lain dengan tanpa memperhatikan satuan katanya (mufradat) dan urutannya, yang diperhatikan adalah kandungannya.

Tarjamah harfiyyah menurut kebanyakan para ulama adalah tidak bisa, karena tidak menyampaikan kandungan secara sempurna, tidak membekas di jiwa, dan tidak diperlukan karena sudah cukup dengan tarjamah ma'nawiyyah.  Adapun tarjamah ma'nawiyyah, maka jelas boleh, bahkan menjadi wajib agar Al Qur'an dan Islam sampai ke orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab. Akan tetapi disyaratkan beberapa syarat berikut:

1)      Jangan sampai terjemahan terebut menjadi ganti Al Qur'an. Oleh karena itu, lafaz Al Qur'an dengan bahasa Arab harus ditulis juga, kemudian disebutkan terjemahnya sehingga seperti tafsir.

2)      Penerjemah harus mengerti apa yang ditunjukkan oleh lafaznya terhadap dua bahasa; bahasa asalnya (bahasa Arab) dan bahasa yang dia terjemahkan kepadanya. Demikian juga mengetahui ke arah mana susunannya.

3)      Penerjemah harus mengetahui lafaz-lafaz syar'i dalam Al Qur'an, dan penerjemah tersebut harus orang yang dipercaya, yakni muslim dan lurus agamanya.

117.Penerjemahan Al Qur'an sesungguhnya hanyalah menyebutkan sebagian dari makna ayat Al Qur'an; tidak seluruhnya.

118. Penafsiran lafaz-lafaz Al Qur'an perkata dengan maknanya tidaklah menyebutkan keseluruhan makna yang terkandung di suatu ayat, tetapi hanya mendekatkan makna saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (14)

  Pengantar Tafsir Al Qur’an   Muhkamat dan Mutasyabihat 110. Al Qur'an dilihat dari sisi muhkamat dan mutasyabihat terbagi menjad...