Seri (12)
Ayat
28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan,
bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi, dan
bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا
فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
(28)
28. [1]Bagaimana
kamu ingkar kepada Allah[2], padahal
kamu dahulunya mati[3],
lalu Dia menghidupkan kamu[4],
kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali[5],
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?[6]
u هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى
إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
(29)
[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalil-dalil
terhadap keesaan-Nya, kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan
adanya kebangkitan, maka pada ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan
nikmat-nikmat-Nya yang mengena kepada segenap makhluk-Nya yang menghendaki
untuk disyukuri dengan beriman kepada-Nya, beriman kepada Rasul-Nya Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam, dan beriman kepada adanya hari pembalasan.
[2] Yakni bagaimana kamu mengingkari keberadaan Allah atau
bagaimana kamu sampai menyembah kepada selain Allah padahal bukti-bukti akan
keberadaan Allah dan keberhakan-Nya untuk diibadahi cukup banyak dan sangat
jelas?
Bukti
adanya Allah Azza wa Jalla sangat banyak, seperti adanya firman-Nya atau Al
Qur’an yang diturunkan-Nya; tidak mungkin ada firman tanpa ada yang berfirman
atau yang menurunkannya. Demikian pula adanya makhluk, tidak mungkin ada
makhluk tanpa adanya Khaliq. Akankah ada tulisan tanpa ada yang menulis?! Tidak
bisa dijadikan alasan hanya karena kita tidak melihat proses penciptaan langit
dan bumi, lalu kita katakan bahwa itu semua ada dengan sendirinya, sebagaimana
tidak bisa dibenarkan ada barang-barang di sekitar kita seperti bangunan,
kendaraan, barang-barang, bahwa itu semua ada dengan sendirinya tanpa ada yang
membuat hanya karena kita tidak melihat proses pembuatannya. Bahkan kalau ada
seorang datang kepada kita menyatakan, bahwa dirinya melihat ada sebuah mobil
atau motor ada dengan sendirinya, tentu kita menolaknya, bahkan kalau dia tetap
menyatakan demikian, maka kita katakan bahwa orang ini sudah gila.
Demikian
pula bukti keberhakan Allah Azza wa Jalla untuk disembah; tidak selain-Nya
adalah karena Dialah Yang menciptakan kita dan menciptakan alam semesta, Dia
yang mengatur alam semesta, Dia Mahakuasa lagi Mahakaya, dan memang harus
demikian sifat Tuhan. Tidak boleh dituhankan jika keadaannya dicipta, jika
lemah, jika miskin, apalagi tidak dapat berbuat apa-apa seperti patung dan
berhala.
[3] Tidak ada sama sekali. Apakah kamu muncul secara
tiba-tiba tanpa ada yang menciptakannya? Apakah kamu merasa demikian? Ataukah
kamu yang menciptakan dirimu sendiri? Padahal sesuatu yang tidak ada tidak
mungkin menciptakan sesuatu.
[4] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala di
dan seperti dalam
[5] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala di
[6] Pertanyaan di sini maksudnya adalah ta'ajjub
(menunjukkan keanehan), taubikh (mencela) dan mengingkari. Yakni bagaimana kamu
wahai orang-orang musyrik bisa ingkar kepada keesaan Allah, kamu
menyekutukan-Nya dengan sesuatu padahal ada bukti yang nyata terhadap
keesaan-Nya pada diri kamu. Bukankah kamu dahulu mati, lalu Allah menghidupkan
kamu, lalu Dia mematikan kamu setelah tiba ajalmu dan akan membangkitkan kamu
lagi dan kepada-Nya kamu dikembalikan untuk dihisab dan diberikan balasan
terhadap amalmu selama di dunia. Di samping itu, kamu semua berada di bawah
kekuasaan-Nya, lalu apakah pantas kamu ingkar kepada-Nya, bukankah yang
demikian merupakan kebodohan yang sangat, bahkan yang sepatutnya kamu lakukan
adalah beriman kepada-Nya, bertakwa dan bersyukur, takut terhadap azab-Nya dan
berharap pahala-Nya.
[7] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan dalil
terhadap keberadaan-Nya, keesaan-Nya, dan kekuasaan-Nya dari
penciptaan mereka dan apa yang mereka saksikan pada diri mereka, maka Dia
menyebutkan dalil lain terhadap keberadaan, keesaan, dan kekuasaan-Nya dari apa yang mereka saksikan,
berupa langit dan bumi.
[8] Untuk kamu manfaatkan, untuk dipakai bersenang-senang,
dan untuk diambil pelajaran. Dalam ayat ini diambil sebuah kaedah fiqih bahwa Al
Ashlu fil asyaaa'il ibaahah wath thahaarah (hukum asal pada segala sesuatu itu boleh dan suci), karena ayat di atas
menerangkan bahwa itu semua merupakan pemberian Allah kepada kita, tidak
termasuk ke dalamnya hal-hal yang kotor. Dia menciptakan semua yang ada di bumi
untuk kita manfaatkan. Oleh karena itu, jika ada bahaya di
Dalam ayat di
atas juga kita mengetahui betapa besar dan banyaknya nikmat Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang dikaruniakan-Nya kepada kita, dimana semua yang ada di bumi untuk
kita, sehingga sudah sepatutnya kita mensyukurinya dengan beriman kepada Allah,
kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
[9] Dengan keadaannya yang sempurna dan kuat tanpa
ada retak dan celah.
[10] Sering sekali disebutkan Allah Maha Mengetahui setelah
menerangkan penciptaan-Nya, karena penciptaan-Nya menunjukkan ilmu-Nya, hikmah-Nya,
dan kekuasaan-Nya. Ilmu-Nya meliputi semua makhluk yang diciptakan-Nya.
Faedah/catatan:
Di
dalam
Tentang
firman Allah Ta’ala, “Dia-lah (Allah) yang menjadikan
segala apa yang ada di bumi untukmu,”
Mujahid berkata, “Allah menciptakan bumi sebelum langit. Setelah Dia
menciptakan bumi, maka naiklah asap daripadanya, itulah firman-Nya ketika Dia
berfirman, “Kemudian
Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap…dst.”(Terj. Qs. Fushshilat: 11) dan
firman-Nya, “Lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh
langit.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 29), ia (Mujahid)
berkata, “Sebagiannya di atas sebagian yang lain, sedangkan tujuh bumi
maksudnya sebagiannya di bawah yang lain.”
Adapun penghamparan bumi, dengan dipancarkan mata
airnya, dan ditumbuhkan tumbuh-tumbuhannya serta dipancangkan dengan teguh
gunung-gunungnya, maka hal itu dilakukan Allah Subhaanahu wa Ta'aala setelah
penciptaan langit sebagaimana disebutkan di
Dari ayat 28-29 kita dapat
menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) pengingkaran terhadap sikap kufur manusia kepada Allah, (2) bukti akan adanya Allah, bukti
terhadap keesaan-Nya, kekuasaan-Nya,
dan rahmat-Nya, (3) halalnya semua yang ada di bumi, baik berupa makanan,
minuman, pakaian, kendaraan dan lain-lain kecuali ada dalil khusus yang
menerangkan keharamannya baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah.