Sabtu, 28 Maret 2026

Mukadimah (15)

 

Pengantar Tafsir Al Qur’an

 


Huruf Alif dan Lam Yang Masuk Ke Dalam Sifat dan Isim Jenis

119.     Termasuk ushul (dasar-dasar) dalam tafsir Al Qur’an adalah bahwa huruf Alif dan Lam yang masuk ke dalam sifat-sifat dan isim jenis berarti mencakup semua makna yang dikandungnya.

Contoh yang masuk ke dalam sifat:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al Ahzaab: 35)

Contoh yang masuk ke dalam isim jenis:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) 

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,” (Qs. Al ‘Ashr: 3)

 

Di Antara Isi Al Qur'an Yang Paling Banyak Disebutkan

120.Termasuk kulliyyat (keumuman) Al Qur’an, bahwa ia mengajak untuk mentauhidkan (mengesakan) Allah dan mengenalkan kepada-Nya dengan menyebutkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta perbuatan-Nya yang menunjukkan sendirinya Dia dengan keesaan dan sifat-sifat sempurna, dan untuk memberitahukan bahwa Dialah yang hak (benar), beribadah kepada-Nya itulah yang hak, dan bahwa beribadah kepada selain-Nya adalah batil. Demikian pula, Al Qur’an menerangkan kekurangan atau cacatnya sesembahan yang disembah selain-Nya dari berbagai sisi.

Faedah Disebutkan Asma'ul Husna di Akhir Ayat

121.Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengakhiri ayat-ayat-Nya dengan nama-nama-Nya yang indah (Asmaa’ul Husna) untuk menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan itu ada kaitannya dengan nama-Nya yang mulia yang disebutkan.

Ilmu dan Tingkatan Mengetahui

122.Ilmu artinya mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaannya dengan pengetahuan yang pasti, seperti api itu panas.

Di bawah ilmu ada tingkatan dalam mengetahui, yaitu:

a.         Jahl basith artinya tidak mengetahui secara keseluruhan, seperti tidak mengetahui bahwa api itu panas.

b.        Jahl murakkab artinya mengetahui sesuatu tetapi tidak sesuai dengan keadaannya, seperti mengetahui bahwa api itu dingin.

c.         Wahm (keliru) artinya mengetahui sesuatu, namun yang berlawanan dengannya lebih kuat.

d.        Syakk (ragu-ragu) artinya mengetahui sesuatu, namun yang berlawanan dengannya sama-sama kuat.

e.         Zhann (kira-kira) artinya mengetahui sesuatu, namun yang berlawanan dengannya kurang kuat.

Ilmu terbagi dua:

Dharuri dan Nazhari. Dharuri adalah mengetahui sesuatu tanpa perlu pengkajian secara mendalam, seperti mengetahui bahwa api itu panas, es itu dingin, dsb. Sedangkan nazhari adalah mengetahui sesuatu setelah pengkajian, seperti mengetahui wajibnya niat dalam berwudhu.

 

Penguatan Tentang Kebenaran Al Qur'an

123.Al Qur’an juga menerangkan kebenaran apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menerangkan kerapihan Al Qur’an dan kesempurnaannya, kebenaran beritanya dan indahnya hukum-hukumnya. Demikian pula menerangkan keadaaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berupa sifat manusia yang sempurna yang tidak dimiliki oleh seorang pun juga dari zaman dahulu, sekarang dan yang akan datang. Ia (Al Qur’an) juga menantang mereka untuk mendatangkan yang semisal dengan Al Qur’an jika mereka orang-orang yang benar. Kebenaran Al Qur’an diperkuat dengan kesaksian Allah Subhaanahu wa Ta'aala; dengan firman-Nya, perbuatan-Nya dan iqrar-Nya terhadapnya, serta dengan pembenaran-Nya dengan hujjah dan bukti, dengan pertolongan dan kemenangan, dan dengan kesaksian Ahli Ilmu yang adil. Demikian pula dengan membandingkan antara isinya yang benar, baik pada berita maupun hukum-hukumnya dengan apa yang dipegang oleh musuh-musuh Beliau yang mendustakannya berupa kedustaan pada berita mereka dan batilnya hukum-hukum mereka. Demikian pula Al Qur’an diperkuat dengan berbagai mukjizat.

Penguatan Terhadap Adanya Kebangkitan

124.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperkuat adanya kebangkitan dan akhirat dengan menyebutkan sempurnanya kekuasaan-Nya, penciptaan-Nya terhadap langit dan bumi dimana keduanya lebih besar daripada manusia, dan bahwa yang mengadakan makhluk pertama kali tentu berkuasa mengembalikan seperti semua ketika makhluk itu telah mati. Demikian pula Yang menghidupkan tanah yang mati berkuasa untuk mengidupkan orang-orang yang telah mati karena tidak ada bedanya. Untuk menguatkan kebangkitan juga, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan hari-hari azab-Nya kepada umat-umat terdahulu, contoh-contoh yang terjadi yang dapat disaksikan manusia, dan bahwa yang demikian merupakan contoh pembalasan di akhirat.

125.Al Qur’an mengajak orang-orang yang berada di atas kebatilan seperti orang-orang kafir, orang-orang musyrik, dan orang-orang anti agama dengan menyebutkan keindahan agama Allah (Islam), dimana pada agama Allah terdapat petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, baik dalam keyakinan, akhlak maupun amal, serta dengan menerangkan keagungan Allah dan rububiyyah(pengaturan)-Nya serta nikmat-nikmat-Nya yang besar dan banyak, dan bahwa yang sendiri dengan kesempurnaan yang mutlak serta yang memberikan semua nikmat, Dialah yang berhak ditujukan berbagai macam ibadah, dan bahwa apa yang dipegang orang-orang yang batil jika diperhatikan secara matang tampak terlihat keburukan dan kebatilannya serta akibat yang buruk.

Contoh Kaedah-Kaedah dari Al Qur’an

126.Berikut contoh-contoh kaedah yang ditetapkan Al Qur’an:

a.       Masing-masing memikul tanggung jawab terhadap tindakannya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ 

“Setiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Qs. Ath Thuur: 21)

b.      Hasil yang diperoleh tergantung amal yang dilakukan. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى  

“Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” (Qs. An Najm: 39)

c.       Sangat telitinya neraca Ilahi. Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ (53)  

“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Qs. Al Qamar: 53)

d.      Nilai manusia tergantung keikhlasan amalnya karena Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)  

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.--Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Qs. Ar Rahmaan: 26-27)

e.       Keadilan mutlak bagi Allah Azza wa Jalla dan bahwa balasan tergantung jenis amalan. Allah Ta’ala berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ (60) 

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Qs. Ar Rahman: 60)

f.       Semangat dan berlomba-lomba dalam kebaikan adalah kunci keberhasilan dan tanda diterima. Allah Ta’ala berfirman,

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ

 

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.” (Qs. Al Hadiid: 21)

Rahasia tidak digunakan huruf nidaa’ “Yaa” pada kata Rabb

127.Di antara rahasia tidak digunakan huruf nidaa’ “Yaa” (artinya: wahai)  pada kata Rabb adalah untuk menunjukkan kedekatan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya di tengah ketinggian-Nya, sehingga mereka tidak perlu mengadakan perantara antara Dia dengan mereka dalam berdoa.

Pembagian dilalah (yang ditunjukkan oleh suatu kalimat)

128.Termasuk Ushulut (dasar-dasar) Tafsir adalah, bahwa apabila kita memahami apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang mulia berupa makna-makna baik yang muthabaqah (penyamarataan) maupun yang tadhammun (terkandung), maka lawazim (yang menyatu) dengan makna-makna itu serta pelengkapnya, syarat-syarat dan pengikutnya ikut pula ke dalam makna itu. Oleh karena itu, apabila suatu berita tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka penyempurna itu mengikuti berita itu, dan apabila suatu hukum tidak sempurna kecuali dengannya, maka penyempurna itu ikut ke dalam hukum. Dan bahwa ayat-ayat yang dipahami tampak ada pertentangan, maka maksudnya bukan berarti bertentangan, bahkan semua itu wajib dibawa kepada keadaan yang sesuai dengannya.

129.Dilalah (kandungan suatu kalimat) dalam Al Qur’an dan As Sunnah ada tiga macam:

a.    Dilalah Muthabaqah, yakni jika kita ratakan lafaz untuk semua makna[1].

b.    Dilalah Tadhammun, yakni jika kita berdalih dengan suatu lafaz yang menunjukkan sebagian makna yang dikandungnya[2].

c. Dilalah Iltizam[3], yakni jika kita berdalih dengan lafaz Al Qur’an dan As Sunnah, sedangkan maknanya mengikutinya, menyempurnakannya dan ada syarat-syaratnya.


[1] Misalnya menyamaratakan manusia dengan makhluk hidup yang berbicara.

[2] Misalnya makhluk hidup, maka termasuk di dalamnya manusia, hewan, dsb.

[3] Contoh Dilalah iltizam adalah pada kata-kata “manusia” yang menunjukkan kesiapannya menerima pengetahuan, kesiapan berbicara, dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (20)

  Mukadimah (20) Pengantar Tafsir Al Qur’an Pembukuan Tafsir Al Qur’an 266. Pembukuan kitab tafsir telah dimulai di akhir-akhir pemeri...