Minggu, 25 Januari 2026

Mukadimah (6) Pengantar Tafsir Al Qur'an



Pengantar Tafsir Al Qur’an[1]

Mengenal Al Qur’an

1.      Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan) dan jam’/jami (yang menghimpun berita dan hukum-hukum).

2.      Al Qur’an secara istilah adalah firman Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dengan lafaznya yang berbahasa Arab[2], menjadi ibadah dengan membacanya, dinukil secara mutawatir, dan dicatat dalam mushaf-mushaf.

3.      Al Qur’an adalah kitab samawi (turun dari langit) yang paling agung. Di dalamnya mengandung berbagai ilmu dan hikmah, nasihat, kisah-kisah, targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman), menerangkan peristiwa-peristiwa di masa lalu dan berita-berita tentang hal yang akan terjadi seperti kebangkitan manusia, surga, neraka, dan lain-lain yang tidak dikandung oleh kitab sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata, “Kalau seandainya kitab (Al Qur’an) ini ditemukan tertulis dalam sebuah mushaf di padang pasir dan tidak diketahui siapa yang menyusunnya di sana, tentu semua akal yang sehat akan bersaksi, bahwa kitab itu turun dari sisi Allah, karena manusia tidak sanggup menyusunnya, lalu bagaimana jika ternyata Al Qur’an itu datang melalui tangan manusia yang paling jujur, paling baik, dan paling takwa (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dimana Beliau menyatakan, bahwa ini adalah firman Allah, serta menantang semua makhluk untuk membuat satu surat yang semisalnya, namun ternyata mereka tidak sanggup membuatnya, maka masih adakah keraguan setelah ini?” [3]

4.      Allah menamai Al Qur’an dalam kitab-Nya dengan beberapa nama, yaitu: Al Qur’an (lihat QS. Yusuf: 3), Al Furqan (lihat QS. A Furqan: 1), Al Kitab (lihat QS. Al Kahf: 1), dan Adz Dzikr (lihat QS. Al Hijr: 9). Al Qur’an artinya penjelasan[4] atau kumpulan ayat-ayat[5]. Al Furqan artinya pembeda antara yang hak (benar) dan yang batil. Kitab artinya tulisan. Adz Dzikr artinya peringatan atau kebanggaan.

5.      Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada di kolong langit kitab yang memuat bukti dan ayat yang menerangkan tuntutan tertinggi seperti tauhid, menetapkan sifat Allah, menetapkan hari kebangkitan, menetapkan kenabian, serta membantah kepercayaan yang batil dan pandangan yang rusak seperti halnya Al Qur’an, karena Al Qur’an memuat itu semuanya dan mencakupnya secara sempurna dan indah, paling mudah difahami oleh akal dan paling fasih penjelasannya.” (Ighatsatul Lahfan 1/44)

6.      Al Qur’an terdiri dari 114 surat. Masing-masing memiliki nama yang mencerminkan isi atau kandungannya, tetapi ada juga surat yang memiliki lebih dari satu nama, di antaranya: Al Fatihah (Ummul Qur’an dan As Sab’ul Matasani), At Taubah (Al Bara’ah), Al Israa’ (Bani Israil), Fathir (Al Malaikah), Ghaafir (Al Mu’min), Fushshilat (Haa Miim As Sajdah), Al Insan (Ad Dahr), Al Muthaffifin (At Tathfif), dan Al Lahab (Al Masad).

7.      Menurut Ibnu Abbas, Al Qur’an turun sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadr, lalu turun kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara berangsur-angsur sesuai situasi dan kondisi selama 23 tahun[6]. Ayat yang pertama turun adalah Iqra’ bismi Rabbikalladzii khalaq (Surah Al ‘Alaq: 1-5), sedangkan ayat yang terakhir turun adalah Wattaquu yauman turja’uun…dst. (surah Al Baqarah: 281).

8.      Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمِئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ

“Aku diberi tujuh surat (panjang) sebagai ganti kitab Taurat, surat yang berjumlah ratusan sebagai ganti kitab Zabur, surat Matsani sebagai ganti kitab Injil, dan aku diberi kelebihan dengan surat-surat mufashshal.” (Hr. Thabrani dalam Al Kabir dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 1059)

Yang dimaksud tujuh surat panjang (As Sab’uth Thiwal) adalah Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa, Al Ma’idah, Al An’aam, Al A’raaf, dan Yunus.

Surat yang berjumlah ratusan (Al Mi’un) adalah surat yang jumlah ayatnya mencapai seratus, atau lebih sedikit atau kurang sedikit.

Surat Matsani maksudnya adalah surat yang di dalamnya disebutkan kisah-kisah, perumpamaan-perumpamaan, kewajiban-kewajiban, dan batasan-batasan. Ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya adalah surat Al Fatihah. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya surat yang jumlahnya ayatnya mencapai dua ratus atau mendekati jumlah itu.

Adapun surat Mufashshal, maka maksudnya surat-surat yang banyak dipisah oleh basmalah. Ada yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Muhammad hingga surat An Naas. Ada yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Qaaf hingga surat An Naas. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Adh Dhuha hingga surat An Naas. Pendapat terakhir adalah pendapat Ibnu Abbas, dimana Beliau memisahkan antara dua suratnya dengan takbir, dan ini adalah pendapat para qari Mekkah.

Perintah Mentadabburi Al Qur'an dan Manfaatnya

9.      Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kita memahami dan mentadabburi kitab-Nya, Dia berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Qs. Muhammad: 24)

OIeh karena itu, kewajiban para ulama adalah menggali maknanya, menafsirkannya, dan mencari tafsirnya dari penjelasan-penjelasan yang ada, mempelajarinya dan mengajarkannya sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ 

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Sangat buruklah tukaran yang mereka terima.” (Qs. Ali Imran: 187)

Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencela Ahli Kitab sebelum kita ketika mereka berpaling dari kitab-Nya yang diturunkan kepada mereka dan lebih mengutamakan dunia dan mengumpulkannya serta menyibukkan diri dengan selain yang diperintahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yaitu mengikuti kitab-Nya. Oleh karena itu, kita kaum muslimin hendaknya menghindari celaan tersebut, mengerjakan yang diperintahkan Allah yaitu mempelajari kitab-Nya, mengajarkannya, memahaminya dan memahamkannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (17)  

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.-- Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) agar kamu memikirkannya.” (Qs. Al Hadid: 16-17)

Disebutkan ayat yang artinya, “Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah matinya,” terdapat isyarat bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana telah menghidupkan bumi setelah matinya, maka Dia juga yang melunakkkan hati dengan iman dan petunjuk setelah sebelumnya keras oleh dosa dan maksiat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih memberikan asupan bagi akal dan ruh, serta menjaga jasmani dan menjamin kebahagiaan daripada sering memperhatikan kitabullah.” (Al Fatawa 7/493).

10.  Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seandainya manusia mengetahui faedah yang terkandung dalam membaca Al Qur’an sambal mentadabburi, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengan mendatabburi Al Qur’an daripada selainnya.” (Miftah Daaris Sa’adah)

11.  Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sebagian Ahli Ilmu pada bulan Ramadhan saat membaca Al Qur’an menyiapkan buku catatan khusus, dimana setiap kali ia membaca Al Qur’an dan berhenti pada sebuah ayat Al Qur’an yang mengandung makna yang banyak atau semisalnya, maka ia catat di buku itu, sehingga tidaklah berlalu Ramadhan melainkan ia telah memperoleh kebaikan yang banyak dari kandungan-kandungan Al Qur’anul Karim. Saya pernah melihat buku kecil milik Syaikh Abdurrahman As Sa’diy rahimahullah, ia menyatakan bahwa tulisan itu ditulisnya pada bulan Ramadhan sambil membaca Al Qur’an, saat melewati sebuah ayat lalu ia berhenti di sana dan mentadabburinya dan mencatat beberapa faedah yang tidak engkau temukan di kitab tafsir mana pun. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah mendorong bagi siapa yang ingin petunjuk hendaknya mentadabburi Al Qur’an. Bahkan gurunya Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barang siapa yang mentadabburi Al Qur’an sambil mengambil petunjuk darinya, maka semakin jelas baginya jalan kebenaran.” (Al Kafiyah Asy Syafiyah fil Intishar Lil Firqatin Najiyah 1/503-504).

12.  Di antara cara paling efektif dalam mentadabburi Al Qur’an adalah mengulang-ulang ayat dan mengulang perhatiannya. Bisyr bin As Sirriy rahimahullah berkata, “Ayat itu seperti kurma, setiap kali engkau mengunyahnya, maka engkau akan merasakan manisnya.” (Al Burhan fii Ulumil Qur’an 1/471)

13.  Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, "Wahai anak Adam, bagaimana hatimu akan lembut, sedangkan perhatianmu adalah bagaimana bisa cepat selesai membaca Al Qur'an di akhir surah." (Diriwayatkan oleh Hakim)

14.  Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadakan kunci untuk membuka setiap harapan yang dicari. Dia menjadikan,

a.    Kunci shalat adalah bersuci

b.    Kunci haji adalah ihram

c.    Kunci Al Birru (kebajikan) adalah jujur

d.   Kunci surga adalah tauhid

e.    Kunci ilmu adalah baik dalam bertanya dan menyimak

f.     Kunci pertolongan dan kemenangan adalah sabar

g.    Kunci mendapatkan tambahan adalah syukur

h.    Kunci agar kedudukan semakin dekat (menjadi wali) dan dicintai Allah adalah berdzikir

i.      Kunci keberuntungan adalah takwa

j.      Kunci mendapatkan taufik adalah harap dan cemas

k.    Kunci dikabulkan adalah berdoa

l.      Kunci cinta akhirat adalah zuhud terhadap dunia

m.  Kunci iman adalah mentafakkuri (memikirkan) apa-apa yang Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk memikirkannya

n.    Kunci masuk menghadap Allah adalah berserahnya hati, selamatnya hati kepada-Nya, dan ikhlas kepada-Nya dalam hal cinta dan benci serta melakukan dan meninggalkan.

o.    Kunci hidupnya hati adalah mentadabburi (merenungi) Al Qur’an, merendahkan diri di waktu sahur dan meninggalkan dosa.

p.    Kunci mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya.

q.    Kunci mendapatkan rezeki adalah berusaha di samping istighfar dan takwa.

r.     Kunci kemuliaan adalah menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

s.     Kunci mempersiapkan diri menghadapi akhirat adalah membatasi angan-angan.

t.     Kunci semua kebaikan adalah cinta kepada Allah dan akhirat.

u.    Kunci semua keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. (Haadil Arwah ‘alam Al Fawaid 1/138)

15.  Imam As Sakhawi rahimahullah berkata, "Ketahuilah, bahwa Al-Qur'an yang mulia, jika dibaca untuk dipelajari, maka cukup membacanya sedikit-sedikit dan diulang-ulang. Jika dibaca untuk ditadabburi (direnungkan), maka cukup membacanya dengan tartil dan diam berhenti. Namun jika dibaca untuk menghasilkan pahala, maka dengan banyak membacanya, ia boleh membaca semampunya, dan tidak tercela ketika ia membacanya dengan cepat." (Jamalul Qurra wa Kamalul Iqra hal. 666)

Sebagai tambahan, jika seorang hendak menghafal Al Qur'an, maka hendaknya dijaharkan (dikeraskan) suaranya. Namun jika hendak dihayati atau ditadabburi, maka dengan suara pelan ketika membacanya.

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata tentang membaca Alquran dengan irama atau dengan suara lagu dan timbangannya serta membacanya mengikuti alunan para pemusik, “Sebenarnya irama yang diada-adakan ini lagi seperti bernyanyi, serta membangkitkan rasa namun membuat lalai dari mentadaburi (memikirkan) apa yang didengar sehingga hanya menikmati suara lagu yang tersusun timbangannya dan suara-suara nyanyian, maka hal ini dapat menghalangi maksud dari mentadaburi makna Alquran. Yang diperintahkan dalam As Sunnah adalah memperbagus suara ketika membaca Al Qur'an namun tidak dengan irama lagu; keduanya jauh berbeda." (Nuzhatul Asma Fii Mas'alatis Sama 2/463)


[1] Dikumpulkan pengantar ini dari beberapa kitab, yaitu Tafsir Ibnu Katsir (bagian mukadimah), mukadimah muhaqqiq kitab Ma’alimut Tanzil (Imam Al Baghawi), Ushul wa Kulliyyat min Ushulit Tafsir, Al Qawaa’idul Hisan fii Tafsiril Qur’an dan Risalah Lathiifah fii Ushulil Fiqh tiga buah karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy, Muqaddimah Fii Ushulit Tafsir (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah), Ushul fit Tafsir (Syaikh M. bin Shalih Al 'Utsaimmin), At Tafsir (fi’ah an naasyi’ah) karya Dr. Ibrahim Al Huwaimil, Ahkaam Minal Qur’aani wa Sunnah karya Abdul ‘Azhim Ma’ani dan Dr. Ahmad Al Ghundur, Badaa’i’ul Fawaa’id karya Ibnul Qayyim (yang disebutkan secara ringkas pada bagian mukadimah tafsir As Sa’diy), Tafsir Juz ‘Amma karya (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Syarh Tsalatsatil Ushul (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Muqarrarul Qur'aan wa 'Ulumuh (Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud 'imadatut ta'lim 'an bu'd), Latha’iful Ma’arif (Ibnu Rajab Al Hanbali), Mukhtashar min Tafsir Al Imam Ath Thabari (Abu Yahya Muhammad bin Shumadih), An Nukat wal Uyun (Imam Al Mawardi), Al Bidayah fii Ulumil Qur’an (Sami bin Ibrahim bin Bali), dll.

[2] Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bahasa Arab adalah bahasa paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena kepada jiwa manusia. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia (Al Qur’anul Karim) diturunkan dengan bahasa yang paling utama (bahasa Arab).”

[3] Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Latha’iful Ma’arif.

[4] Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

[5] Ini adalah pendapat Qatadah radhiyallahu ‘anhuma.

[6] Menurut Asy Sya’biy bahwa Al Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadr, lalu turun setelahnya secara berangsur-angsur dalam waktu yang berbeda sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan manusia.

Imam As Suyuthi berkata, “Diperselisihkan oleh ulama tentang cara turunnya Al Qur’an dari Lauh Mahfuzh menjadi tiga pendapat:

Pertama, bahwa Al Qur’an diturunkan ke langit dunia sekaligus pada malam Lailatul Qadr. Inilah pendapat yang paling sahih dan paling masyhur.

Kedua, Al Qur’an diturunkan ke langit dunia pada malam yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadr) dalam waktu dua puluh hari, atau dua puluh tiga hari, atau dua puluh lima hari pada setiap malam yang Allah takdirkan untuk diturukan dalam setiap tahun.

Ketiga, Al Qur’an diturunkan pertama kali pada malam Lailatul Qadr, lalu turun setelahnya secara berangsur-angsur dalam waktu yang berbeda.

Menurut Ibnu Hajar, pendapat pertama itulah yang shahih dan dijadikan pegangan.

As Suyuthi menyebutkan pendapat yang keempat dari Al Mawardi, yaitu bahwa Al Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh secara sekaligus, dan bahwa para malaikat penjaga menyerahkan secara berangsur-angsur kepada malaikat Jibril dalam dua puluh hari, lalu malaikat Jibril membawanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara berangsur-angsur dalam dua puluh tahun.” Namun pendapat ini dianggap gharib (asing). Menurut As Suyuthi, bahwa apa yang disampaikan Al Mawardi diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas ia berkata, “Al Qur’an turun sekaligus dari sisi Allah dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat utusan yang mulia di langit dunia, lalu disampaikan oleh para malaikat utusan kepada malaikat Jibril dalam waktu dua puluh hari, dan malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam dua puluh tahun.”

Namun di anatara pendapat di atas yang lebih dekat kepada kebenaran dan lebih kuat adalah pendapat pertama. Ibnu Katsir berkata, “Al Qurthubi menukil dari Muqatil bin Hayyan, dan ia menyampaikan ijma bahwa Al Qur’an turun sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia.” (Dari situs https://www.islamweb.net/).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keadaan Al Qur’an tercatat dalam Lauh Mahfuzh dan dalam lembaran-lembaran yang disucikan di tangan para malaikat tidak menafikan bahwa malaikat Jibril turun membawanya dari sisi Allah baik telah dicatat oleh Allah sebelum dibawa oleh malaikat Jibril atau pun setelahnya. Jika duturunkan sekaligus dalam keadaan telah ditulis ke Baitul Izzah pada malam Lailatul Qadr, maka telah ditulis semuanya sebelum diturunkan…dst.” Ia juga berkata, “Barang siapa yang menyatakan bahwa Jibril menerima Al Qur’an dari kitab yang ditulis (Lauh Mahfuzh) tidak dari sisi Allah, maka pernyataannya batil dari beberapa sisi…dst.” Lalu ia menyebutkan alasannya (Majmu Fatawa 12/127, 128). 

Sabtu, 24 Januari 2026

Mukadimah (5) Mengenal Kemukjizatan Al Qur’an

 

Mengenal Kemukjizatan Al Qur’an

 


Kemujizatan Al Qur’an dari sisi bahasa

Al Qur’an merupakan mukjizat yang kekal, sebaik-baik perkataan, dan memiliki kefasihan pada tingkatan tertinggi, karena memang turun dari sisi Allah yang Mahabijaksana.

Jika kita perhatikan ayat-ayat Al Qur’an, maka seluruhnya bersih dari tanafurul huruf (huruf yang sulit diucapkan) dan tanafurul kalimat (kata yang sulit diucapkan), tidak menyalahi kaidah tata bahasa, dan tidak terdapat kata-kata yang asing.

Para ulama menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala mengutus setiap nabi dengan membawa mukjizat yang sesuai dengan kondisi zaman itu. Di zaman Nabi Musa sihir merebak di mana-mana, dan para tukang sihir dimuliakan, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi Musa ‘alaihis salam dengan mukjizat yang membuat mata terbelalak dan membuat heran para tukang sihir, para tukang sihir akhirnya yakin bahwa hal itu dari sisi Allah, mereka pun masuk Islam dan menjadi orang-orang saleh. Di zaman Nabi Isa ‘alaihis salam ilmu pengobatan tersebar, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi ‘Isa ’alaihis salaam dengan mukjizat yang tidak bisa ditandingi oleh para dokter dan tabib. Bagaimana mungkin dokter mampu menghidupkan benda mati, mengobati orang yang buta sejak lahir dan yang terkena penyakit sopak. Demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah mengutusnya di zaman para fushaha’ (pandai bahasa) dan para syu’araa (ahli syair). Allah Ta’ala memberikan kepada Beliau kitab yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun meskipun jin dan manusia berkumpul untuk membuatnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/45)

Abu Isa Ar Rummani berkata, “Adapun balaghah (sastra), maka ada tiga tingkatan. Ada yang paling tinggi, ada yang sedang, dan ada yang di bawahnya. Yang paling tinggi itulah yang menjadi mukjizat, yaitu balaghahnya Al Qur’an, sedangkan yang berada di bawahnya seperti balaghah para sastrawan. Namun balaghah itu bukan hanya memahamkan makna, karena terkadang dapat difahami juga perkataan dua orang yang berbicara, dimana yang satu fasih, sedangkan yang satu tidak. Demikian juga balaghah bukan hanya mewujudkan lafaz yang sesuai makna, karena terkadang lafaz sudah sesuai dengan maknanya namun jelek dan tidak disukai, membuat jauh dan terlalu menyusahkan diri. Bahkan balaghah adalah menyampaikan makna ke hati dengan tampilan lafaz yang paling indah. Dengan demikian, tingkatan tertinggi balaghah adalah pada Al Qur’an.”

Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Dalailun Nubuwwah dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Al Walid bin Mughirah pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau membacakan Al Qur’an kepadanya hingga hatinya tersentuh. Berita ini pun sampai ke telinga Abu Jahal sehingga membuatnya mendatangi Al Walid dan berkata, “Wahai paman! Kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” Al Walid berkata, “Untuk apa?” Ia menjawab, “Untuk memberikannya kepadamu. Karena engkau telah mendatangi Muhammad untuk menentangnya.” Al Walid berkata, “Kaum Quraisy tahu, bahwa aku adalah orang yang paling kaya hartanya.” Abu Jahal berkata, “Katakanlah tentang Muhammad perkataan yang sampai kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya atau membencinya.” Al Walid berkata, “Apa yang perlu aku ucapkan terhadapnya? Demi Allah, tidak ada di antara kalian yang lebih tahu tentang syair  daripada diriku, paling tahu tentang syair rajaz dan qasidahnya dibanding aku, serta tidak ada yang lebih tahu tentang syair jin daripada aku. Demi Allah, yang diucapkannya tidak mirip hal itu. Demi Allah, yang diucapkannya itu manis, dihias keindahan, di atasnya berbuah, bagian bawahnya subur, tinggi dan tidak terkalahkan, serta menghantam yang berada di bawahnya.” (Hr. Baihaqi)

Contoh Fasihnya Al Qur’an

Firman Allah Ta’ala,

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Difirmankan, "Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari kami." (Qs. Hud: 48)

Dalam ayat ini diulang huruf mim sampai 16 kali, namun para pembaca Al Qur’an tidak merasakan kesulitan dalam membacanya, dan tidak terasa berat saat disimak.

Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, "Aku pasti membunuhmu!" Habil menjawab, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Maidah: 27)

Dalam ayat ini huruf qaaf diulang sebanyak 10 kali, namun para pembaca Al Qur’an merasakan ringan diucapkan padahal sifatnya syiddah (tertahan suara), qalqalah (memantul), jahr (tertahan nafas), dan isti’la (naiknya bagian belakang lisan sehingga menjadi tebal). Sekarang coba bandingkan dengan kalimat berikut:

وَلَيْسَ قُرْبَ قَبْرِ حَرْبٍ قَبْرُ

Artinya: Tidak ada di dekat kuburan Harb sebuah kuburan.

Agak berat dibaca. Benarlah firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Al Qamar: 17)

Al Ashmu’i menceritakan, bahwa ia mendengar ucapan seorang budak wanita, lalu ia berkata kepadanya, “Alangkah fasih perkataanmu!” Budak itu berkata, “Apakah ini masih dianggap fasih di hadapan firman Allah Ta’ala,

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Qs. Al Qashas: 17)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menggabungkan antara dua perintah, dua larangan, dua berita, dan dua kabar gembira.

Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)

“Sesungguhnya surat itu dari SuIaiman, dan sesungguhnya (isi)nya, "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.--Bahwa janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." (Qs. An Naml: 30-31)

Dalam ayat ini terdapat tiga perkara, dari siapa surat itu, isinya apa, dan kebutuhannya apa?

 

Keindahan lafaz-lafaz Al Qur’an

Lafaz-lafaz Al Qur’an dipenuhi hiasan lafaz, di antaranya:

a. Jinas, yaitu dua lafaz yang sama, namun berbeda dalam makna (arti). Jinas ini ada dua macam:

Pertama, Jinas Tam, yaitu samanya lafaz namun berbeda makna. Contoh firman Allah Ta’ala,

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ

“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, "Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)." Seperti itulah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).” (Qs. Ar Ruum: 55)

Lafaz “  السَّاعَة  ” yang pertama maksudnya Kiamat, sedangkan yang kedua maksudnya waktu yang sebentar.

Kedua, Jinas Naqish yaitu adanya kesamaan namun tidak seluruhnya. Contoh firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.--Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (Qs. Adh Dhuha: 9-10)

Lafaz “  تَقْهَرْ  ” dan “  تَنْهَرْ  ” ada kesamaan namun tidak seluruhnya.

b. Saja’, yaitu persesuaian dua fashilah (pemisah) dalam natsar (prosa; bukan syair) pada huruf akhirnya.

Ibnul Qayyim berkata, “Saja’ atau tidak merupakan dua uslub yang dipakai oleh lisan para ahli sastra bangsa Arab dan para oratornya, mereka menyebutkannya tanpa susah payah dan tanpa serampangan. Dalam Al Qur’an ada ayat yang kosong dari saja’ dan ada ayat yang banyak dipenuhi saja’, bahkan sebagian surat dari awal ayat hingga akhirnya dipenuhi saja’ seperti ayat iqtarabatis saa’ah (surah Al Qamar), surah Adh Dhuha, dan Al kautsar, maka fahamilah.”

Akan tetapi saja’ yang disebutkan Al Qur’an tidak seperti saja para peramal atau lainnya, bahkan sebagai saja’ yang mengandung mukjizat yang mengalahkan para sastrawan. Oleh karena itu, Al Qur’an merupakan asas dimana kaidah-kaidah dalam ilmu Balaghah kembali kepadanya.

Contoh betapa tingginya sastra Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala,

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22)

“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?--Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (Qs. An Najm: 21-22)

Disebutkan, bahwa Amr bin Ash pernah menjadi delegasi untuk menemui Musailamah Al Kadzdzab sang nabi palsu. Ketika bertemu, Musailamah berkata kepada Amr bin Ash, “Surat apa yang diturunkan kepada kawanmu pada masa ini (perdamaian)?”

Amr bin Ash berkata, “Sungguh telah diturunkan kepadanya surat yang singkat namun dalam maknanya.”

“Apa itu?” Tanya Musailamah.

Amr membacakan ayat,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa.--Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,--Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati agar menaati kebenaran dan nasehat menasehati agar menetapi kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr: 1-3)

Lalu Musailamah berfikir sejenak kemudian berkata, “Demikian juga telah diturunkan kepadaku surat semisalnya.”

Amr berkata, “Surat apa itu?”

Ia menjawab, “Yaitu:

يَا وَبْرُ يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ، وَسَائِرُكَ حَفْزُ نَقْزٍ

Wahai marmut! Wahai marmut! Engkau adalah binatang yang memiliki dua telinga dan dada yang besar. Selebihnya kecil dan jelek.

Musailamah berkata, “Bagaimana menurutmu wahai Amr?”

Amr menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau tahu bahwa diriku menyaksikan bahwa engkau adalah pendusta.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/683) [1]

 

Kemujizatan Al Qur’an dari sisi berita

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)

“Alif laam Miim--Telah dikalahkan bangsa Romawi[1],--Di negeri yang terdekat[2] dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang[3]--Dalam beberapa tahun lagi[4]. Milik Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,--Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Qs. Ar Ruum: 1-5)

[1] Maksudnya: Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel.

[2] Maksudnya: terdekat ke negeri Arab yaitu Syria dan Palestina sewaktu menjadi jajahan kerajaan Romawi Timur.

[3] Bangsa Romawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai kitab suci sedang bangsa Persia beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). Kedua bangsa itu saling perang memerangi. Ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia, maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira karena berpihak kepada orang-orang musyrikin Persia. Sedangkan kaum muslimin berduka cita karenanya. Kemudian turunlah ayat ini dan ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa Romawi setelah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun saja. Hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun setelah itu menanglah bangsa Romawi dan kalahlah bangsa Persia. Dengan kejadian yang demikian nyatalah kebenaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul dan kebenaran Al Quran sebagai firman Allah.

[4] Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614-615) dengan kemenangannya (tahun 622 M.) bangsa Romawi kira-kira tujuh tahun.

2. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al Hijr: 9)

Al Qur’anul Karim sejak diturunkan dari sisi Allah belasan abad yang lalu tidak mengalami perubahan karena dijaga kemurniannya oleh Allah Azza wa Jalla.

Di antara bukti penjagaan Allah terhadap Al Qur’an adalah dengan dihapal dan dituliskan Al Qur’an sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam (ketika Al Qur’an masih turun), dibukukan di zaman Abu Bakar radhiyallahu anhu, diriwayatkan secara mutawatir (jumlah yang banyak dari setiap generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman) baik maktub (tulisannya) maupun manthuq (pembacaannya), dihafal oleh kaum muslimin dalam jumlah yang sangat banyak sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai sekarang, tetap disebutkan teks asli Al Qur’an berbahasa Arab ketika diterjemehkan ke dalam bahasa lain, adanya tim tashih di berbagai negara yang mengecek kemurnian Al Qur’an ketika Al Qur’an hendak dicetak untuk diperbanyak, dan dibuatnya software dan aplikasi yang memuat Al Qur’an 30 juz baik tulisan maupun suara sesuai perkembangan zaman.

Imam Baihaqi (Dalaailun Nubuwwah 7/159,160) meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Yahya bin Aktsam, ia berkata, “Khalifah Al Ma’mun memiliki majlis penelitian, ketika itu masuk ke majlis tersebut seorang Yahudi dengan pakaian yang menarik dan memakai wewangian, lalu ia berbicara dengan fasihnya. Saat majlis itu selesai, maka Al Ma’mun memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau orang Israel (Yahudi)?” Ia menjawab, “Ya.” Al Ma’mun berkata, “Masuk Islamlah, agar aku berbuat sesuatu untukmu,” Al Ma’mun menjanjikan sesuatu untuknya. Ia menjawab, “Aku akan tetap di atas agamaku dan agama nenek moyangku,” maka orang itu pergi. Setelah berlalu setahun, maka ia datang kembali dalam keadaan telah masuk Islam, lalu ia berbicara tentang fiqih dan berbicara dengan fasihnya. Ketika majlis Al Ma’mun selesai, maka Al Ma’mun memanggilnya dan bertanya, “Bukankah engkau kawan kami yang dulu?” Ia menjawab, “Ya.” “Lalu apa yang menyebabkan kamu masuk Islam?” Tanya Al Ma’mun. Ia menjawab, “Setelah aku pergi dari tempatmu, aku menguji beberapa agama, dan aku sebagaimana yang engkau lihat adalah orang yang pandai dalam menulis, maka aku coba mendatangi Taurat dan menyalinnya. Aku salin tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangkan, kemudian aku masukkan ke sinagog, lalu Tauratku terjual. Kemudian aku mendatangi Injil dan menyalinnya. Aku salin tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangkan, kemudian aku tawarkan ke gereja, lalu Injilku terjual. Kemudian aku mendatangi Al Qur’an, lalu aku salin tiga naskah; aku tambahkan dan aku kurangkan, kemudian aku tawarkan ke penjual buku, maka mereka menelitinya, dan saat mereka menemukan adanya penambahan dan pengurangan, mereka pun membuangnya dan tidak mau membeli. Dari sana aku pun tahu, bahwa kitab ini adalah kitab yang terpelihara. Inilah sebab yang membuatku masuk Islam.”

Yahya bin Aktsam berkata, “Pada tahun itu aku naik haji dan bertemu dengan Sufyan bin Uyaynah, lalu aku sampaikan kisah itu, maka ia berkata, “Sesuai sekali dengan yang disebutkan dalam kitabullah (Al Qur’an),” aku bertanya, “Di ayat berapa?” Ia menjawab, “Yaitu pada firman Allah Ta’ala tentang Taurat dan Injil, “Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah,” (Qs. Al Maidah: 44); mereka mendapat amanah untuk menjaganya, tetapi malah menyia-nyiakannya. Allah Azza wa Jalla juga berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz Dzikr (Al Qur’an), dan Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al Hijr: 9); Allah menjaga Al Qur’an untuk kita, sehingga tidak akan terlantar.”

3. Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An Nisaa: 56)

Prof. Tajasat Tajasun ketua Ahli Anatomi dan Janin di Universitas Chiang Mai Tailand yang menjadi dekan di jurusan kedokteran pernah ditanya oleh Prof. Abdul Majid Az Zandani, “Di manakah tempat rasa di tubuh manusia?” Ia menjawab, “Ada di ujung urat syaraf kulit. Jika kulit habis terbakar, maka habislah syaraf perasa, sehingga seseorang tidak merasakan perih lagi setelahnya, maka harus ada kulit agar manusia merasakan perihnya.”

Prof. Abdul Majid berkata lagi, “Kapan diketahui pengetahuan seperti ini?”

Prof. Tajasun menjawab, “Belum lama, setelah dibuat alat-alat modern.”

Prof. Abdul Majid berkata, “Akan tetapi Al Qur’an telah lebih dulu memberitakan hal itu sejak 1400 tahun yang lalu. “

Prof. Tajasun balik berkata, “Tidak mungkin! Coba bawa Al Qur’an kepadaku dan tunjukkan pernyataan itu.”

Ia pun membawakan Al Qur’an dan membuka surat An Nisa ayat 56, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. An Nisa’: 56) [2]

Prof. Abdul Majid berkata, “Mungkinkah Muhammad menerima ini dari manusia?”

Prof. Tajasun berkata, “Tidak mungkin, karena manusia ketika itu tidak tahu apa-apa tentang itu, lalu dari mana ia peroleh pengetahuan ini?”

Prof. Abdul Majid menjawab, “Dari sisi Allah, karena dia adalah utusan Allah.”

Prof. Tajasun berkata, “Biarkan saya mempelajari Al Qur’an secara ilmiah berdasarkan pengetahuan modern.”

Setahun kemudian setelah Prof, Tajasun mempelajari Al Qur’an  berdasarkan pengetahuan modern, ia datang untuk menghadiri mukmatar kedokteran ke-8 di Arab Saudi, dan empat hari setelah menyimak pemaparan ilmiyah yang disampaikan para Ahli baik dari kalangan muslim maupun non muslim tentang kemukjizatan Al Qur’an dan As Sunnah secara ilmiyah, maka Prof, Tajasun berdiri sambil berkata,

“Saya seorang spesialis ilmu anatomi dan janin setelah mempelajari ayat Al Qur’an tentang perkembangan janin dan ilmu anatomi menyatakan, bahwa apa yang disebutkan Al Qur’an ternyata tidak diketahui kecuali setelah berkembangnya ilmu pengetahuan modern, padahal di zaman itu pengetahuan tidak sampai kepada hakikat ini. Oleh karena itu, pasti Muhammad telah mendapatkan wahyu dari Allah berupa Al Qur’an ini. Maka dari itu, aku yakin bahwa Muhammad adalah benar-benar utusan Allah, dan sekarang aku nyatakan bahwa diriku masuk Islam, Asyhadu allaailaahaillallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam seorang yang ummi

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157) قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158)

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi (tidak bisa baca-tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka[3]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.-- Katakanlah, "Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (Qs. Al A’raaf: 157- 158)

Dalam ayat di atas, Allah menyebut nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang yang ‘ummi’ atau tidak bisa baca-tulis. Jika keadaan Beliau demikian, tetapi Beliau membawakan ayat-ayat Al Qur’an dengan sastra yang tinggi, berita yang benar, perintah yang bijak, melarang semua keburukan, maka sudah pasti apa yang Beliau bawa benar-benar firman Allah Ta’ala dan bahwa Beliau adalah utusan-Nya, dan kami menjadi saksi terhadap hal itu.

Bukan hanya itu, nama Beliau juga tercantum dalam kitab Taurat dan Injil.   

Dalam Al Qur’an disebutkan,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata." (Qs. Ash Shaff: 6)

Dalam Perjanjian Lama, pada Kidung Agung, pasal 5 paragraf 16 dalam bahasa Ibrani disebutkan:

“Hikko mamittakim we kullo Muhammadîm zehdoodeh wa zehraee.”

yang artinya: “Ucapannya adalah ucapan yang paling manis, dialah Muhammad yang agung. Inilah kekasih dan kesayangan-Ku.”

Dalam Injil Yohanes pasal 16 paragraf 7 disebutkan, bahwa Al Masih berkata kepada kawan-kawannya, “Akan tetapi, aku katakan kepada kalian, bahwa lebih baik bagi kalian jika aku pergi, karena jika aku tidak pergi, maka penghibur itu yaitu Farqalith tidak kunjung datang.”

Farqalith (Parakletos) dalam bahasa Yunani artinya Muhammad.

Lihat juga bukti bahwa nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tercantum dalam Bible (Injil) di sini: https://www.youtube.com/watch?v=OV3CK-zT7s0

Ibnu Jarir meriwayatkan dari 'Athaa' bin Yasar ia berkata: Aku bertemu dengan Abdullah bin 'Amr, lalu aku berkata, "Beritahukanlah kepadaku sifat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kitab Taurat." Abdullah bin 'Amr berkata, "Baiklah. Demi Allah, sesungguhnya Beliau disifati dalam kitab Taurat sama seperti yang disebutkan dalam Al Qur'an, yaitu, "Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan," (Terj. QS. Al Ahzab: 45), penjaga bagi orang-orang ummiy. Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Aku beri nama engkau Al Mutawakkil (orang yang bertawakkal), tidak kasar dan keras, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan membiarkan, dan Allah tidak akan mewafatkannya sampai dia berhasil meluruskan agama yang sebelumnya bengkok, yaitu dengan mengatakan Laailaahaillallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Melalui Beliau Dia membuka hati-hati manusia yang tertutup, telinga yang tuli, dan mata yang buta." (Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya)

 

Khatimah (Penutup)

Michael Hart, penulis buku "100 orang yang paling berpengaruh di Dunia" menempatkan Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam pada peringkat 1 dalam bukunya, dan beliau membutuhkan waktu 28 tahun riset, penelitian dan sebagainya untuk menyelesaikan bukunya tersebut.

Pada saat beliau memberikan kuliah dan seminar di London, beliau dicemooh, diejek, dan diinterupsi (dipotong pembicaraannya), mereka mempertanyakan buku beliau yang menempatkan Nabi Besar Muhammad  shallahu alaihi wa sallam sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia di peringkat 1.

Beliau menjawab, "Baginda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, berdiri tegak sendirian di Mekkah pada tahun 611, dan menyatakan ke semua orang di sana saat itu, "Aku adalah nabi dan utusan Allah."

Hanya 4 orang yang percaya kepada Beliau saat itu, sahabatnya, istrinya dan dua orang anak kecil!

Saat ini, setelah lebih dari 1400 tahun, pengikut beliau, umat muslim sudah mencapai lebih dari 1 Milyar orang, dan masih terus bertambah.

Jadi, Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam, jelas bukan pembohong, karena kebohongan tidak akan pernah bertahan setelah lebih dari 1400 tahun! Dan anda tidak akan pernah mampu membohongi 1 Milyar manusia!

Tambahan lagi yang harus anda renungkan. Setelah semua yg terjadi selama ini, ratusan juta umat muslim ini tidak akan pernah ragu untuk mengorbankan jiwa raga mereka jika ada yang mencoba menodai nama baik Nabi mereka yang tercinta tersebut!

Apakah di antara anda pengikut Kristiani yang sanggup berbuat seperti itu terhadap Jesus?

Setelah itu yang ada hanya keheningan yg mencekam dan lama di auditorium tersebut.

Lihat : https://youtu.be/3K-SUDN9Nc4

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.


[1] Tentang keshahihan kisah ini perlu ditinjau kembali, karena Amr bin Ash telah masuk Islam lebih dulu sebelum Musailamah mengaku sebagai nabi, sedangkan Musailamah mengaku sebagai nabi pada tahun ke-10 H. Ketika itu Amr bin Ash menjadi delegasi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama kaumnya pada tahun ke-10 H sebagaimana dalam As Sirah An Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (3/74), sedangkan Amr bin Ash masuk Islam pada tahun ke-8 H menurut pendapat yang shahih sebagaimana disebutkan dalam Al Ishabah karya Al Hafizh Ibnu Hajar  (2/3). Dalam Al Ishabah (3/225) disebutkan, bahwa Amr bin Ash pernah diutus Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ke Bahrain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat sedangkan Amr berada di sana, dan bahwa Amr pernah bertemu dengan Musailamah, lalu Musailamah memberinya keamanan dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya Muhammad diutus untuk perkara besar, sedangkan aku diutus untuk perkara ringan,” lalu disebutkan hal yang sama dengan kisah di atas. Al Hafizh juga menyandarkan kisah ini kepada Ibnu Syahin dalam Ash Shahabah. Dengan demikian, bahwa kisah tersebut terjadi setelah Amr bin Ash masuk Islam, tidak sebelumnya, wallahu a’lam.(Lihat: https://ferkous.com/home/?q=rihab-4-13)

[2] Mungkin seorang berkata, “Bagaimana bisa sedemikian dahsyat siksaan untuk orang-orang kafir di neraka?” Jawab: Allah menyiksa mereka karena keadilan-Nya, dan Dia tidak pernah berbuat zalim, Dia mengetahui karena mereka layak mendapatkan siksaan itu. Bukankah setiap saat nikmat mengalir kepada mereka di dunia, semua yang ada di langit dan di bumi ditundukkan untuk mereka, hewan-hewan di darat disembelih untuk mereka, hewan-hewan laut mereka konsumsi dengan nikmat, berbagai kenikmatan mereka rasakan, namun mereka hadapi semua nikmat itu dengan sikap kufur, di samping itu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah Ta’ala, bahkan mereka tega membantai wali-wali Allah, seperti yang terjadi di Palestina, Bosnia, Suriah, Myanmar, Uighur, dll.

[3] Maksudnya: Dalam syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak ada lagi beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Misalnya: mensyariatkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan qisas pada pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat, memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain yang kena najis, diharamkan memakan ghanimah (harta rampasan perang), dsb.

Mukadimah (6) Pengantar Tafsir Al Qur'an

Pengantar Tafsir Al Qur’an [1] Mengenal Al Qur’an 1.       Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan) dan jam’/jami (yang ...