Mengenal Kemukjizatan Al Qur’an
Kemujizatan Al Qur’an dari sisi bahasa
Al Qur’an merupakan mukjizat yang kekal, sebaik-baik
perkataan, dan memiliki kefasihan pada tingkatan tertinggi, karena memang turun
dari sisi Allah yang Mahabijaksana.
Jika kita perhatikan ayat-ayat Al Qur’an,
maka seluruhnya bersih dari tanafurul huruf (huruf yang sulit diucapkan) dan
tanafurul kalimat (kata yang sulit diucapkan), tidak menyalahi kaidah tata
bahasa, dan tidak terdapat kata-kata yang asing.
Para ulama menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala
mengutus setiap nabi dengan membawa mukjizat yang sesuai dengan kondisi zaman
itu. Di zaman Nabi Musa sihir merebak di mana-mana, dan para tukang sihir
dimuliakan, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi Musa ‘alaihis salam dengan mukjizat
yang membuat mata terbelalak dan membuat heran para tukang sihir, para tukang
sihir akhirnya yakin bahwa hal itu dari sisi Allah, mereka pun masuk Islam dan
menjadi orang-orang saleh. Di zaman Nabi Isa ‘alaihis salam ilmu pengobatan
tersebar, maka Allah Ta’ala mengutus Nabi ‘Isa ’alaihis salaam dengan mukjizat
yang tidak bisa ditandingi oleh para dokter dan tabib. Bagaimana mungkin dokter mampu menghidupkan
benda mati, mengobati orang yang buta sejak lahir dan yang terkena penyakit
sopak. Demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah
mengutusnya di zaman para fushaha’ (pandai bahasa) dan para syu’araa (ahli
syair). Allah Ta’ala memberikan kepada Beliau kitab yang tidak bisa ditandingi
oleh siapa pun meskipun jin dan manusia berkumpul untuk membuatnya. (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir 2/45)
Abu Isa Ar Rummani berkata, “Adapun balaghah
(sastra), maka ada tiga tingkatan. Ada yang paling tinggi, ada yang sedang, dan
ada yang di bawahnya. Yang paling tinggi itulah yang menjadi mukjizat, yaitu
balaghahnya Al Qur’an, sedangkan yang berada di bawahnya seperti balaghah para
sastrawan. Namun balaghah itu bukan hanya memahamkan makna, karena terkadang
dapat difahami juga perkataan dua orang yang berbicara, dimana yang satu fasih,
sedangkan yang satu tidak. Demikian juga balaghah bukan hanya mewujudkan lafaz
yang sesuai makna, karena terkadang lafaz sudah sesuai dengan maknanya namun
jelek dan tidak disukai, membuat jauh dan terlalu menyusahkan diri. Bahkan
balaghah adalah menyampaikan makna ke hati dengan tampilan lafaz yang paling
indah. Dengan demikian, tingkatan tertinggi balaghah adalah pada Al
Qur’an.”
Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Dalailun
Nubuwwah dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Al Walid bin Mughirah
pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau membacakan
Al Qur’an kepadanya hingga hatinya tersentuh. Berita ini pun sampai ke telinga
Abu Jahal sehingga membuatnya mendatangi Al Walid dan berkata, “Wahai paman!
Kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” Al Walid berkata, “Untuk apa?” Ia
menjawab, “Untuk memberikannya kepadamu. Karena engkau telah mendatangi
Muhammad untuk menentangnya.” Al Walid berkata, “Kaum Quraisy tahu, bahwa aku
adalah orang yang paling kaya hartanya.” Abu Jahal berkata, “Katakanlah tentang
Muhammad perkataan yang sampai kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya atau
membencinya.” Al Walid berkata, “Apa yang perlu aku ucapkan terhadapnya? Demi
Allah, tidak ada di antara kalian yang lebih tahu tentang syair daripada diriku, paling tahu tentang syair
rajaz dan qasidahnya dibanding aku, serta tidak ada yang lebih tahu tentang
syair jin daripada aku. Demi Allah, yang diucapkannya tidak mirip hal itu. Demi
Allah, yang diucapkannya itu manis, dihias keindahan, di atasnya berbuah,
bagian bawahnya subur, tinggi dan tidak terkalahkan, serta menghantam yang
berada di bawahnya.” (Hr. Baihaqi)
Contoh Fasihnya Al Qur’an
Firman Allah Ta’ala,
قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ
مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Difirmankan, "Wahai Nuh! Turunlah
dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas
umat-umat (yang mukmin) yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri
kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa
azab yang pedih dari kami." (Qs.
Hud: 48)
Dalam ayat ini diulang huruf mim sampai 16
kali, namun para pembaca Al Qur’an tidak merasakan kesulitan dalam membacanya,
dan tidak terasa berat saat disimak.
Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا
فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ
قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra
Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan
korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak
diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, "Aku pasti
membunuhmu!" Habil menjawab, "Sesungguhnya Allah hanya menerima
(korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Maidah: 27)
Dalam ayat ini huruf qaaf diulang sebanyak 10
kali, namun para pembaca Al Qur’an merasakan ringan diucapkan padahal sifatnya
syiddah (tertahan suara), qalqalah (memantul), jahr (tertahan nafas), dan isti’la
(naiknya bagian belakang lisan sehingga menjadi tebal). Sekarang
coba bandingkan dengan kalimat berikut:
وَلَيْسَ
قُرْبَ قَبْرِ حَرْبٍ قَبْرُ
Artinya: Tidak ada di dekat kuburan Harb
sebuah kuburan.
Agak berat dibaca. Benarlah
firman Allah Ta’ala,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan
Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Qs. Al Qamar: 17)
Al Ashmu’i menceritakan, bahwa ia mendengar
ucapan seorang budak wanita, lalu ia berkata kepadanya, “Alangkah fasih
perkataanmu!” Budak itu berkata, “Apakah ini masih dianggap fasih di hadapan
firman Allah Ta’ala,
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ
فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ
مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa,
"Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia
ke sungai (Nil). Janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati,
karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya
(salah seorang) dari para rasul.” (Qs. Al Qashas: 17)
Dalam ayat ini Allah Ta’ala menggabungkan
antara dua perintah, dua larangan, dua berita, dan dua kabar gembira.
Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
(30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)
“Sesungguhnya surat itu dari SuIaiman, dan
sesungguhnya (isi)nya, "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang.--Bahwa janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah
kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri." (Qs. An Naml: 30-31)
Dalam ayat ini terdapat tiga perkara, dari
siapa surat itu, isinya apa, dan kebutuhannya apa?
Keindahan lafaz-lafaz Al Qur’an
Lafaz-lafaz Al Qur’an dipenuhi hiasan lafaz,
di antaranya:
a. Jinas, yaitu dua lafaz yang
sama, namun berbeda dalam makna (arti). Jinas ini ada dua macam:
Pertama, Jinas Tam, yaitu samanya lafaz namun berbeda makna.
Contoh firman Allah Ta’ala,
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ
كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ
“Dan pada hari terjadinya kiamat,
bersumpahlah orang-orang yang berdosa, "Mereka tidak berdiam (dalam kubur)
melainkan sesaat (saja)." Seperti itulah mereka selalu dipalingkan (dari
kebenaran).” (Qs. Ar Ruum: 55)
Lafaz “ السَّاعَة ” yang pertama maksudnya Kiamat, sedangkan yang kedua
maksudnya waktu yang sebentar.
Kedua, Jinas Naqish yaitu adanya kesamaan namun tidak
seluruhnya. Contoh firman Allah Ta’ala,
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
(10)
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah
kamu berlaku sewenang-wenang.--Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah
kamu menghardiknya.” (Qs.
Adh Dhuha: 9-10)
Lafaz “ تَقْهَرْ ” dan “ تَنْهَرْ ” ada kesamaan namun tidak seluruhnya.
b. Saja’, yaitu persesuaian
dua fashilah (pemisah) dalam natsar (prosa; bukan syair) pada
huruf akhirnya.
Ibnul Qayyim berkata, “Saja’ atau tidak
merupakan dua uslub yang dipakai oleh lisan para ahli sastra bangsa Arab dan
para oratornya, mereka menyebutkannya tanpa susah payah dan tanpa serampangan.
Dalam Al Qur’an ada ayat yang kosong dari saja’ dan ada ayat yang banyak
dipenuhi saja’, bahkan sebagian surat dari awal ayat hingga akhirnya dipenuhi
saja’ seperti ayat iqtarabatis saa’ah (surah Al Qamar), surah Adh Dhuha, dan Al
kautsar, maka fahamilah.”
Akan tetapi saja’ yang disebutkan Al Qur’an
tidak seperti saja’ para peramal atau lainnya, bahkan sebagai
saja’ yang mengandung mukjizat yang mengalahkan para sastrawan. Oleh karena
itu, Al Qur’an merupakan asas dimana kaidah-kaidah dalam ilmu Balaghah kembali
kepadanya.
Contoh betapa tingginya sastra Al Qur’an
adalah firman Allah Ta’ala,
أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى (21) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى (22)
“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki
dan untuk Allah (anak) perempuan?--Yang demikian itu tentulah suatu pembagian
yang tidak adil.” (Qs. An Najm:
21-22)
Disebutkan, bahwa Amr bin Ash pernah menjadi
delegasi untuk menemui Musailamah Al Kadzdzab sang nabi palsu. Ketika bertemu,
Musailamah berkata kepada Amr bin Ash, “Surat apa yang diturunkan kepada
kawanmu pada masa ini (perdamaian)?”
Amr bin Ash berkata, “Sungguh telah
diturunkan kepadanya surat yang singkat namun dalam maknanya.”
“Apa itu?” Tanya Musailamah.
Amr membacakan ayat,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Demi masa.--Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian,--Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh dan nasehat menasehati agar menaati kebenaran dan nasehat menasehati
agar menetapi kesabaran.” (Qs. Al
‘Ashr: 1-3)
Lalu Musailamah berfikir sejenak kemudian
berkata, “Demikian juga telah diturunkan kepadaku surat semisalnya.”
Amr berkata, “Surat apa itu?”
Ia menjawab, “Yaitu:
يَا وَبْرُ يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ، وَسَائِرُكَ
حَفْزُ نَقْزٍ
Wahai marmut! Wahai marmut! Engkau adalah
binatang yang memiliki dua telinga dan dada yang besar. Selebihnya kecil dan
jelek.
Musailamah berkata, “Bagaimana menurutmu wahai
Amr?”
Amr menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya
engkau tahu bahwa diriku menyaksikan bahwa engkau adalah pendusta.” (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir 4/683) [1]
Kemujizatan Al Qur’an dari sisi berita
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ
سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ
وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)
“Alif laam Miim--Telah dikalahkan bangsa
Romawi[1],--Di negeri yang terdekat[2] dan mereka setelah dikalahkan itu akan
menang[3]--Dalam beberapa tahun lagi[4]. Milik Allah-lah urusan sebelum dan
setelah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu
bergembiralah orang-orang yang beriman,--Karena pertolongan Allah. Dia menolong
siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Qs. Ar Ruum:
1-5)
[1] Maksudnya: Romawi Timur yang berpusat di
Konstantinopel.
[2] Maksudnya: terdekat ke negeri Arab yaitu
Syria dan Palestina sewaktu menjadi jajahan kerajaan Romawi Timur.
[3] Bangsa Romawi adalah satu bangsa yang
beragama Nasrani yang mempunyai kitab suci sedang bangsa Persia beragama
Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). Kedua bangsa itu saling perang
memerangi. Ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia,
maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira karena berpihak kepada
orang-orang musyrikin Persia. Sedangkan kaum muslimin berduka cita karenanya.
Kemudian turunlah ayat ini dan ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa
Romawi setelah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun
saja. Hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun setelah itu menanglah bangsa
Romawi dan kalahlah bangsa Persia. Dengan kejadian yang demikian nyatalah
kebenaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul dan
kebenaran Al Quran sebagai firman Allah.
[4] Waktu antara kekalahan bangsa Romawi
(tahun 614-615) dengan kemenangannya (tahun 622 M.) bangsa Romawi kira-kira
tujuh tahun.
2. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.” (Qs. Al Hijr: 9)
Al Qur’anul Karim sejak diturunkan dari sisi
Allah belasan abad yang lalu tidak mengalami perubahan karena dijaga
kemurniannya oleh Allah Azza wa Jalla.
Di antara bukti penjagaan Allah terhadap Al
Qur’an adalah dengan dihapal dan dituliskan Al Qur’an sejak zaman Nabi
shallallahu alaihi wa sallam (ketika Al Qur’an masih turun), dibukukan di zaman
Abu Bakar radhiyallahu anhu, diriwayatkan secara mutawatir (jumlah yang banyak
dari setiap generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman) baik maktub
(tulisannya) maupun manthuq (pembacaannya), dihafal oleh kaum muslimin
dalam jumlah yang sangat banyak sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam
sampai sekarang, tetap disebutkan teks asli Al Qur’an berbahasa Arab ketika
diterjemehkan ke dalam bahasa lain, adanya tim tashih di berbagai negara yang
mengecek kemurnian Al Qur’an ketika Al Qur’an hendak dicetak untuk diperbanyak,
dan dibuatnya software dan aplikasi yang memuat Al Qur’an 30 juz baik tulisan
maupun suara sesuai perkembangan zaman.
Imam Baihaqi (Dalaailun Nubuwwah 7/159,160)
meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Yahya bin Aktsam, ia berkata,
“Khalifah Al Ma’mun memiliki majlis penelitian, ketika itu masuk ke majlis
tersebut seorang Yahudi dengan pakaian yang menarik dan memakai wewangian, lalu
ia berbicara dengan fasihnya. Saat majlis itu
selesai, maka Al Ma’mun memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau orang Israel
(Yahudi)?” Ia menjawab, “Ya.” Al Ma’mun berkata, “Masuk Islamlah, agar aku
berbuat sesuatu untukmu,” Al Ma’mun menjanjikan sesuatu untuknya. Ia menjawab,
“Aku akan tetap di atas agamaku dan agama nenek moyangku,” maka orang itu
pergi. Setelah berlalu setahun, maka ia datang kembali dalam keadaan telah
masuk Islam, lalu ia berbicara tentang fiqih dan berbicara dengan fasihnya.
Ketika majlis Al Ma’mun selesai, maka Al Ma’mun memanggilnya dan bertanya,
“Bukankah engkau kawan kami yang dulu?” Ia menjawab, “Ya.” “Lalu apa
yang menyebabkan kamu masuk Islam?” Tanya Al Ma’mun. Ia menjawab, “Setelah aku
pergi dari tempatmu, aku menguji beberapa agama, dan aku sebagaimana yang
engkau lihat adalah orang yang pandai dalam menulis, maka aku coba mendatangi
Taurat dan menyalinnya. Aku salin tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangkan,
kemudian aku masukkan ke sinagog, lalu Tauratku terjual. Kemudian aku mendatangi
Injil dan menyalinnya. Aku salin tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangkan,
kemudian aku tawarkan ke gereja, lalu Injilku terjual. Kemudian aku mendatangi
Al Qur’an, lalu aku salin tiga naskah; aku tambahkan dan aku kurangkan,
kemudian aku tawarkan ke penjual buku, maka mereka menelitinya, dan saat mereka
menemukan adanya penambahan dan pengurangan, mereka pun membuangnya dan tidak
mau membeli. Dari sana aku pun tahu, bahwa kitab ini adalah kitab yang
terpelihara. Inilah sebab yang membuatku masuk Islam.”
Yahya bin Aktsam
berkata, “Pada tahun itu aku naik haji dan bertemu dengan Sufyan bin Uyaynah,
lalu aku sampaikan kisah itu, maka ia berkata, “Sesuai sekali dengan yang
disebutkan dalam kitabullah (Al Qur’an),” aku bertanya, “Di ayat berapa?” Ia menjawab,
“Yaitu pada firman Allah Ta’ala tentang Taurat dan Injil, “Disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah,” (Qs. Al Maidah: 44);
mereka mendapat amanah untuk menjaganya, tetapi malah menyia-nyiakannya. Allah
Azza wa Jalla juga berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz
Dzikr (Al Qur’an), dan Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al Hijr: 9);
Allah menjaga Al Qur’an untuk kita, sehingga tidak akan terlantar.”
3. Firman Allah Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ
جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada
ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali
kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya
mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An Nisaa: 56)
Prof.
Tajasat Tajasun ketua Ahli Anatomi dan Janin di Universitas Chiang Mai Tailand
yang menjadi dekan di jurusan kedokteran pernah ditanya oleh Prof. Abdul Majid
Az Zandani, “Di manakah tempat rasa di tubuh manusia?” Ia menjawab, “Ada di
ujung urat syaraf kulit. Jika kulit habis terbakar, maka habislah syaraf
perasa, sehingga seseorang tidak merasakan perih lagi setelahnya, maka harus
ada kulit agar manusia merasakan perihnya.”
Prof.
Abdul Majid berkata lagi, “Kapan diketahui pengetahuan seperti ini?”
Prof.
Tajasun menjawab, “Belum lama, setelah dibuat alat-alat modern.”
Prof.
Abdul Majid berkata, “Akan tetapi Al Qur’an telah lebih dulu memberitakan hal
itu sejak 1400 tahun yang lalu. “
Prof.
Tajasun balik berkata, “Tidak mungkin! Coba bawa Al Qur’an kepadaku dan
tunjukkan pernyataan itu.”
Ia
pun membawakan Al Qur’an dan membuka surat An Nisa ayat 56, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat
Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka
hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka
merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. An Nisa’: 56) [2]
Prof. Abdul Majid
berkata, “Mungkinkah Muhammad menerima ini dari manusia?”
Prof. Tajasun
berkata, “Tidak mungkin, karena manusia ketika itu tidak tahu apa-apa tentang
itu, lalu dari mana ia peroleh pengetahuan ini?”
Prof. Abdul Majid
menjawab, “Dari sisi Allah, karena dia adalah utusan Allah.”
Prof. Tajasun
berkata, “Biarkan saya mempelajari Al Qur’an secara ilmiah berdasarkan
pengetahuan modern.”
Setahun kemudian
setelah Prof, Tajasun mempelajari Al Qur’an
berdasarkan pengetahuan modern, ia datang untuk menghadiri mukmatar
kedokteran ke-8 di Arab Saudi, dan empat hari setelah menyimak pemaparan
ilmiyah yang disampaikan para Ahli baik dari kalangan muslim maupun non muslim
tentang kemukjizatan Al Qur’an dan As Sunnah secara ilmiyah, maka Prof, Tajasun
berdiri sambil berkata,
“Saya seorang spesialis ilmu anatomi dan janin setelah mempelajari
ayat Al Qur’an tentang perkembangan janin dan ilmu anatomi menyatakan, bahwa
apa yang disebutkan Al Qur’an ternyata tidak diketahui kecuali setelah
berkembangnya ilmu pengetahuan modern, padahal di zaman itu pengetahuan tidak
sampai kepada hakikat ini. Oleh karena itu, pasti Muhammad telah mendapatkan
wahyu dari Allah berupa Al Qur’an ini. Maka dari itu, aku yakin bahwa Muhammad
adalah benar-benar utusan Allah, dan sekarang aku nyatakan bahwa diriku masuk
Islam, Asyhadu allaailaahaillallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
seorang yang ummi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ
مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ
الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي
أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157) قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي
رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
(158)
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul,
Nabi yang Ummi (tidak bisa baca-tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di
dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka
mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada
pada mereka[3]. Maka orang-orang yang beriman kepadanya.
memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan
kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.--
Katakanlah, "Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan
yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka
berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada
Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya
kamu mendapat petunjuk". (Qs. Al A’raaf: 157- 158)
Dalam ayat di atas, Allah menyebut nabi-Nya
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai seorang yang ‘ummi’ atau tidak
bisa baca-tulis. Jika keadaan Beliau demikian, tetapi Beliau membawakan
ayat-ayat Al Qur’an dengan sastra yang tinggi, berita yang benar, perintah yang
bijak, melarang semua keburukan, maka sudah pasti apa yang Beliau bawa
benar-benar firman Allah Ta’ala dan bahwa Beliau adalah utusan-Nya, dan kami
menjadi saksi terhadap hal itu.
Bukan hanya itu, nama Beliau juga tercantum
dalam kitab Taurat dan Injil.
Dalam Al Qur’an disebutkan,
وَإِذْ
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ
إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا
بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ
بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Wahai Bani
Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab
sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang
Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka
ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata,
mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata." (Qs.
Ash Shaff: 6)
|
Dalam Perjanjian Lama, pada Kidung Agung, pasal 5 paragraf
16 dalam bahasa Ibrani disebutkan: “Hikko
mamittakim we kullo Muhammadîm zehdoodeh
wa zehraee.” yang artinya: “Ucapannya adalah ucapan yang paling manis,
dialah Muhammad yang agung. Inilah kekasih dan kesayangan-Ku.” |
|
Dalam Injil Yohanes pasal 16 paragraf 7 disebutkan, bahwa Al
Masih berkata kepada kawan-kawannya, “Akan tetapi, aku katakan kepada
kalian, bahwa lebih baik bagi kalian jika aku pergi, karena jika aku tidak
pergi, maka penghibur itu yaitu Farqalith tidak kunjung datang.” Farqalith (Parakletos) dalam bahasa Yunani artinya Muhammad. |
Lihat juga bukti bahwa nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam tercantum dalam Bible (Injil) di sini: https://www.youtube.com/watch?v=OV3CK-zT7s0
Ibnu Jarir meriwayatkan dari 'Athaa' bin
Yasar ia berkata: Aku bertemu dengan Abdullah bin 'Amr, lalu aku berkata,
"Beritahukanlah kepadaku sifat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam kitab Taurat." Abdullah bin 'Amr berkata, "Baiklah. Demi Allah,
sesungguhnya Beliau disifati dalam kitab Taurat sama seperti yang disebutkan
dalam Al Qur'an, yaitu, "Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk
menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan," (Terj.
QS. Al Ahzab: 45), penjaga bagi orang-orang ummiy. Engkau adalah hamba-Ku dan
Rasul-Ku. Aku beri nama engkau Al Mutawakkil (orang yang bertawakkal), tidak
kasar dan keras, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan
dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan membiarkan, dan Allah tidak akan
mewafatkannya sampai dia berhasil meluruskan agama yang sebelumnya bengkok,
yaitu dengan mengatakan Laailaahaillallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah
selain Allah). Melalui Beliau Dia membuka hati-hati manusia yang tertutup,
telinga yang tuli, dan mata yang buta." (Imam Bukhari juga meriwayatkan
hadits ini dalam Shahihnya)
Khatimah (Penutup)
Michael Hart, penulis buku "100 orang yang paling
berpengaruh di Dunia" menempatkan Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam
pada peringkat 1 dalam bukunya, dan beliau membutuhkan waktu 28 tahun riset,
penelitian dan sebagainya untuk menyelesaikan bukunya tersebut.
Pada saat beliau memberikan kuliah dan seminar di London,
beliau dicemooh, diejek, dan diinterupsi (dipotong pembicaraannya), mereka
mempertanyakan buku beliau yang menempatkan Nabi Besar Muhammad shallahu alaihi wa sallam sebagai orang yang
paling berpengaruh di dunia di peringkat 1.
Beliau menjawab, "Baginda
Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, berdiri tegak sendirian di Mekkah pada
tahun 611, dan menyatakan ke semua orang di sana saat itu, "Aku adalah
nabi dan utusan Allah."
Hanya 4 orang yang percaya kepada Beliau saat itu,
sahabatnya, istrinya dan dua orang anak kecil!
Saat ini, setelah lebih dari 1400 tahun, pengikut beliau,
umat muslim sudah mencapai lebih dari 1 Milyar orang, dan masih terus
bertambah.
Jadi, Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam, jelas
bukan pembohong, karena kebohongan tidak akan pernah bertahan setelah lebih dari
1400 tahun! Dan anda tidak akan pernah mampu membohongi 1 Milyar manusia!
Tambahan lagi yang harus anda renungkan. Setelah semua yg
terjadi selama ini, ratusan juta umat muslim ini tidak akan pernah ragu untuk
mengorbankan jiwa raga mereka jika ada yang mencoba menodai nama baik Nabi
mereka yang tercinta tersebut!
Apakah di antara anda pengikut Kristiani yang sanggup
berbuat seperti itu terhadap Jesus?
Setelah itu yang ada hanya keheningan yg mencekam dan
lama di auditorium tersebut.
Lihat : https://youtu.be/3K-SUDN9Nc4
[1] Tentang keshahihan kisah ini perlu
ditinjau kembali, karena Amr bin Ash telah masuk Islam lebih dulu sebelum
Musailamah mengaku sebagai nabi, sedangkan Musailamah
mengaku sebagai nabi pada tahun ke-10 H. Ketika itu Amr bin Ash menjadi
delegasi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama kaumnya pada
tahun ke-10 H sebagaimana dalam As Sirah An Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam
(3/74), sedangkan Amr bin Ash masuk Islam pada tahun ke-8 H menurut pendapat
yang shahih sebagaimana disebutkan dalam Al Ishabah karya Al Hafizh Ibnu
Hajar (2/3). Dalam Al Ishabah
(3/225) disebutkan, bahwa Amr bin Ash pernah diutus Rasulullah shalallahu
alaihi wa sallam ke Bahrain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat
sedangkan Amr berada di sana, dan bahwa Amr pernah bertemu dengan Musailamah,
lalu Musailamah memberinya keamanan dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya
Muhammad diutus untuk perkara besar, sedangkan aku diutus untuk perkara
ringan,” lalu disebutkan hal yang sama dengan kisah di atas. Al Hafizh juga
menyandarkan kisah ini kepada Ibnu Syahin dalam Ash Shahabah. Dengan
demikian, bahwa kisah tersebut terjadi setelah Amr bin Ash masuk Islam, tidak
sebelumnya, wallahu a’lam.(Lihat: https://ferkous.com/home/?q=rihab-4-13)
[2] Mungkin seorang berkata, “Bagaimana bisa sedemikian
dahsyat siksaan untuk orang-orang kafir di neraka?” Jawab: Allah menyiksa
mereka karena keadilan-Nya, dan Dia tidak pernah berbuat zalim, Dia mengetahui
karena mereka layak mendapatkan siksaan itu. Bukankah setiap saat nikmat
mengalir kepada mereka di dunia, semua yang ada di langit dan di bumi ditundukkan
untuk mereka, hewan-hewan di darat disembelih untuk mereka, hewan-hewan laut
mereka konsumsi dengan nikmat, berbagai kenikmatan mereka rasakan, namun mereka
hadapi semua nikmat itu dengan sikap kufur, di samping itu mereka menghalangi
manusia dari jalan Allah Ta’ala, bahkan mereka tega membantai wali-wali Allah,
seperti yang terjadi di Palestina, Bosnia, Suriah, Myanmar, Uighur, dll.
[3] Maksudnya: Dalam syariat
yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak ada lagi
beban-beban yang berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Misalnya:
mensyariatkan membunuh diri untuk sahnya taubat, mewajibkan qisas pada
pembunuhan baik yang disengaja atau tidak tanpa membolehkan membayar diat,
memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, membuang atau menggunting kain
yang kena najis, diharamkan memakan ghanimah (harta rampasan perang), dsb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar