Pengantar Tafsir Al Qur’an[1]
Mengenal Al Qur’an
1. Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan)
dan jam’/jami (yang menghimpun berita dan hukum-hukum).
2. Al Qur’an secara istilah adalah firman Allah Ta’ala yang
diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dengan lafaznya yang
berbahasa Arab[2], menjadi
ibadah dengan membacanya, dinukil secara mutawatir, dan dicatat dalam
mushaf-mushaf.
3. Al Qur’an adalah kitab samawi (turun dari langit) yang paling
agung. Di dalamnya mengandung berbagai ilmu dan hikmah, nasihat, kisah-kisah,
targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman), menerangkan peristiwa-peristiwa di
masa lalu dan berita-berita tentang hal yang akan terjadi seperti kebangkitan
manusia, surga, neraka, dan lain-lain yang tidak dikandung oleh kitab
sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata, “Kalau seandainya kitab
(Al Qur’an) ini ditemukan tertulis dalam sebuah mushaf di padang pasir dan
tidak diketahui siapa yang menyusunnya di sana, tentu semua akal yang sehat
akan bersaksi, bahwa kitab itu turun dari sisi Allah, karena manusia tidak
sanggup menyusunnya, lalu bagaimana jika ternyata Al Qur’an itu datang melalui
tangan manusia yang paling jujur, paling baik, dan paling takwa (Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam), dimana Beliau menyatakan, bahwa ini adalah
firman Allah, serta menantang semua makhluk untuk membuat satu surat yang
semisalnya, namun ternyata mereka tidak sanggup membuatnya, maka masih adakah
keraguan setelah ini?” [3]
4. Allah menamai Al Qur’an dalam kitab-Nya dengan beberapa nama,
yaitu: Al Qur’an (lihat QS. Yusuf: 3), Al Furqan (lihat QS. A
Furqan: 1), Al Kitab (lihat QS. Al Kahf: 1), dan Adz Dzikr (lihat QS. Al
Hijr: 9). Al Qur’an artinya penjelasan[4]
atau kumpulan ayat-ayat[5].
Al Furqan artinya pembeda antara yang hak (benar) dan yang batil. Kitab artinya
tulisan. Adz Dzikr artinya peringatan atau kebanggaan.
5. Ibnul Qayyim berkata,
“Tidak ada di kolong langit kitab yang memuat bukti dan ayat yang menerangkan
tuntutan tertinggi seperti tauhid, menetapkan sifat Allah, menetapkan hari
kebangkitan, menetapkan kenabian, serta membantah kepercayaan yang batil dan
pandangan yang rusak seperti halnya Al Qur’an, karena Al Qur’an memuat itu
semuanya dan mencakupnya secara sempurna dan indah, paling mudah difahami oleh
akal dan paling fasih penjelasannya.” (Ighatsatul Lahfan 1/44)
6. Al Qur’an terdiri dari 114 surat. Masing-masing memiliki nama
yang mencerminkan isi atau kandungannya, tetapi ada juga surat yang memiliki
lebih dari satu nama, di antaranya: Al Fatihah (Ummul Qur’an dan As
Sab’ul Matasani), At Taubah (Al Bara’ah), Al Israa’ (Bani
Israil), Fathir (Al Malaikah), Ghaafir (Al Mu’min), Fushshilat
(Haa Miim As Sajdah), Al Insan (Ad Dahr), Al Muthaffifin (At
Tathfif), dan Al Lahab (Al Masad).
7. Menurut Ibnu Abbas, Al Qur’an turun sekaligus ke langit dunia
pada malam Lailatul Qadr, lalu turun kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam
secara berangsur-angsur sesuai situasi dan kondisi selama 23 tahun[6].
Ayat yang pertama turun adalah Iqra’ bismi Rabbikalladzii khalaq (Surah
Al ‘Alaq: 1-5), sedangkan ayat yang terakhir turun adalah Wattaquu yauman
turja’uun…dst. (surah Al Baqarah: 281).
8. Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُعْطِيتُ
مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمِئِينَ،
وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ
“Aku diberi tujuh surat (panjang)
sebagai ganti kitab Taurat, surat yang berjumlah ratusan sebagai ganti kitab
Zabur, surat Matsani sebagai ganti kitab Injil, dan aku diberi kelebihan dengan
surat-surat mufashshal.” (Hr. Thabrani dalam Al Kabir dan Baihaqi dalam Syu’abul
Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 1059)
Yang dimaksud tujuh surat panjang (As
Sab’uth Thiwal) adalah Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa, Al Ma’idah, Al
An’aam, Al A’raaf, dan Yunus.
Surat yang berjumlah ratusan (Al
Mi’un) adalah surat yang jumlah ayatnya mencapai seratus, atau lebih
sedikit atau kurang sedikit.
Surat Matsani maksudnya adalah
surat yang di dalamnya disebutkan kisah-kisah, perumpamaan-perumpamaan,
kewajiban-kewajiban, dan batasan-batasan. Ada pula yang berpendapat, bahwa
maksudnya adalah surat Al Fatihah. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya
surat yang jumlahnya ayatnya mencapai dua ratus atau mendekati jumlah itu.
Adapun surat Mufashshal, maka
maksudnya surat-surat yang banyak dipisah oleh basmalah. Ada yang berpendapat,
bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Muhammad hingga surat An Naas.
Ada yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Qaaf hingga
surat An Naas. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal
adalah dari surat Adh Dhuha hingga surat An Naas. Pendapat terakhir adalah
pendapat Ibnu Abbas, dimana Beliau memisahkan antara dua suratnya dengan
takbir, dan ini adalah pendapat para qari Mekkah.
Perintah Mentadabburi Al Qur'an dan
Manfaatnya
9. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kita memahami dan
mentadabburi kitab-Nya, Dia berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ
أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al
Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Qs. Muhammad: 24)
OIeh karena itu, kewajiban para ulama
adalah menggali maknanya, menafsirkannya, dan mencari tafsirnya dari
penjelasan-penjelasan yang ada, mempelajarinya dan mengajarkannya sebagaimana
firman-Nya:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil
janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), "Hendaklah kamu
menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu
menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung
mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Sangat buruklah tukaran
yang mereka terima.” (Qs. Ali Imran: 187)
Allah
Subhaanahu wa Ta'aala mencela Ahli Kitab sebelum kita ketika mereka berpaling
dari kitab-Nya yang diturunkan kepada mereka dan lebih mengutamakan dunia dan
mengumpulkannya serta menyibukkan diri dengan selain yang diperintahkan Allah Subhaanahu
wa Ta'aala yaitu mengikuti kitab-Nya. Oleh karena itu, kita kaum muslimin
hendaknya menghindari celaan tersebut, mengerjakan yang diperintahkan Allah
yaitu mempelajari kitab-Nya, mengajarkannya, memahaminya dan memahamkannya.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ
قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ
وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ
مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (17)
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang
yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang
telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang
sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang
panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara
mereka adalah orang-orang yang fasik.-- Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya
Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan
kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) agar kamu memikirkannya.” (Qs. Al
Hadid: 16-17)
Disebutkan ayat yang artinya, “Ketahuilah
olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah matinya,” terdapat
isyarat bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana telah menghidupkan bumi
setelah matinya, maka Dia juga yang melunakkkan hati dengan iman dan petunjuk
setelah sebelumnya keras oleh dosa dan maksiat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih memberikan asupan bagi akal
dan ruh, serta menjaga jasmani dan menjamin kebahagiaan daripada sering
memperhatikan kitabullah.” (Al Fatawa 7/493).
10.
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Seandainya manusia mengetahui faedah yang terkandung dalam membaca Al
Qur’an sambal mentadabburi, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengan
mendatabburi Al Qur’an daripada selainnya.” (Miftah Daaris Sa’adah)
11.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
“Sebagian Ahli Ilmu pada bulan Ramadhan saat membaca Al Qur’an menyiapkan buku
catatan khusus, dimana setiap kali ia membaca Al Qur’an dan berhenti pada
sebuah ayat Al Qur’an yang mengandung makna yang banyak atau semisalnya, maka
ia catat di buku itu, sehingga tidaklah berlalu Ramadhan melainkan ia telah
memperoleh kebaikan yang banyak dari kandungan-kandungan Al Qur’anul Karim.
Saya pernah melihat buku kecil milik Syaikh Abdurrahman As Sa’diy rahimahullah,
ia menyatakan bahwa tulisan itu ditulisnya pada bulan Ramadhan sambil membaca
Al Qur’an, saat melewati sebuah ayat lalu ia berhenti di sana dan
mentadabburinya dan mencatat beberapa faedah yang tidak engkau temukan di kitab
tafsir mana pun. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah mendorong
bagi siapa yang ingin petunjuk hendaknya mentadabburi Al Qur’an. Bahkan gurunya
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barang siapa yang mentadabburi Al
Qur’an sambil mengambil petunjuk darinya, maka semakin jelas baginya jalan
kebenaran.” (Al Kafiyah Asy Syafiyah fil Intishar Lil Firqatin Najiyah
1/503-504).
12.
Di antara cara paling efektif dalam
mentadabburi Al Qur’an adalah mengulang-ulang ayat dan mengulang perhatiannya.
Bisyr bin As Sirriy rahimahullah berkata, “Ayat itu seperti kurma,
setiap kali engkau mengunyahnya, maka engkau akan merasakan manisnya.” (Al
Burhan fii Ulumil Qur’an 1/471)
13.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,
"Wahai anak Adam, bagaimana hatimu akan lembut, sedangkan perhatianmu
adalah bagaimana bisa cepat selesai membaca Al Qur'an di akhir surah."
(Diriwayatkan oleh Hakim)
14.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadakan kunci untuk membuka setiap harapan yang
dicari. Dia menjadikan,
a. Kunci shalat
adalah bersuci
b. Kunci haji
adalah ihram
c. Kunci Al Birru
(kebajikan) adalah jujur
d. Kunci surga
adalah tauhid
e. Kunci ilmu
adalah baik dalam bertanya dan menyimak
f. Kunci
pertolongan dan kemenangan adalah sabar
g. Kunci
mendapatkan tambahan adalah syukur
h. Kunci agar
kedudukan semakin dekat (menjadi wali) dan dicintai Allah adalah
berdzikir
i. Kunci
keberuntungan adalah takwa
j. Kunci
mendapatkan taufik adalah harap dan cemas
k. Kunci
dikabulkan adalah berdoa
l. Kunci cinta
akhirat adalah zuhud terhadap dunia
m. Kunci iman
adalah mentafakkuri (memikirkan) apa-apa yang Allah perintahkan hamba-hamba-Nya
untuk memikirkannya
n. Kunci masuk
menghadap Allah adalah berserahnya hati, selamatnya hati kepada-Nya, dan ikhlas
kepada-Nya dalam hal cinta dan benci serta melakukan dan meninggalkan.
o. Kunci hidupnya
hati adalah mentadabburi (merenungi) Al Qur’an, merendahkan diri di waktu sahur
dan meninggalkan dosa.
p. Kunci
mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan
berusaha memberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya.
q. Kunci
mendapatkan rezeki adalah berusaha di samping istighfar dan takwa.
r. Kunci kemuliaan
adalah menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.
s. Kunci
mempersiapkan diri menghadapi akhirat adalah membatasi angan-angan.
t. Kunci semua
kebaikan adalah cinta kepada Allah dan akhirat.
u. Kunci semua
keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. (Haadil Arwah ‘alam Al
Fawaid 1/138)
15.
Imam As Sakhawi rahimahullah berkata,
"Ketahuilah, bahwa Al-Qur'an yang mulia, jika dibaca untuk dipelajari,
maka cukup membacanya sedikit-sedikit dan diulang-ulang. Jika dibaca untuk ditadabburi
(direnungkan), maka cukup membacanya dengan tartil dan diam berhenti. Namun
jika dibaca untuk menghasilkan pahala, maka dengan banyak membacanya, ia boleh
membaca semampunya, dan tidak tercela ketika ia membacanya dengan cepat."
(Jamalul Qurra wa Kamalul Iqra hal. 666)
Sebagai tambahan, jika seorang hendak menghafal Al Qur'an, maka
hendaknya dijaharkan (dikeraskan) suaranya. Namun jika hendak dihayati atau
ditadabburi, maka dengan suara pelan ketika membacanya.
[1] Dikumpulkan pengantar ini dari beberapa
kitab, yaitu Tafsir Ibnu Katsir (bagian mukadimah), mukadimah
muhaqqiq kitab Ma’alimut Tanzil (Imam Al Baghawi), Ushul wa Kulliyyat min
Ushulit Tafsir, Al Qawaa’idul Hisan fii Tafsiril Qur’an dan Risalah
Lathiifah fii Ushulil Fiqh tiga buah karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As
Sa’diy, Muqaddimah Fii Ushulit Tafsir (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah), Ushul
fit Tafsir (Syaikh M. bin Shalih Al 'Utsaimmin), At Tafsir
(fi’ah an naasyi’ah) karya Dr. Ibrahim Al Huwaimil, Ahkaam Minal Qur’aani wa
Sunnah karya Abdul ‘Azhim Ma’ani dan Dr. Ahmad Al Ghundur, Badaa’i’ul
Fawaa’id karya Ibnul Qayyim (yang disebutkan secara ringkas pada bagian
mukadimah tafsir As Sa’diy), Tafsir Juz ‘Amma karya (Syaikh Ibnu
‘Utsaimin), Syarh Tsalatsatil Ushul (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Muqarrarul
Qur'aan wa 'Ulumuh (Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud 'imadatut
ta'lim 'an bu'd), Latha’iful Ma’arif (Ibnu Rajab Al Hanbali), Mukhtashar
min Tafsir Al Imam Ath Thabari (Abu Yahya Muhammad bin Shumadih), An
Nukat wal Uyun (Imam Al Mawardi), Al Bidayah fii Ulumil Qur’an (Sami
bin Ibrahim bin Bali), dll.
[2]
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bahasa Arab adalah bahasa paling
fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena kepada jiwa manusia. Oleh karena
itu, kitab yang paling mulia (Al Qur’anul Karim) diturunkan dengan bahasa yang
paling utama (bahasa Arab).”
[3]
Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Latha’iful
Ma’arif.
[4]
Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
[5]
Ini adalah pendapat Qatadah radhiyallahu ‘anhuma.
[6]
Menurut Asy Sya’biy bahwa Al Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul
Qadr, lalu turun setelahnya secara berangsur-angsur dalam waktu yang berbeda
sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan manusia.
Imam As Suyuthi berkata,
“Diperselisihkan oleh ulama tentang cara turunnya Al Qur’an dari Lauh
Mahfuzh menjadi tiga pendapat:
Pertama, bahwa Al Qur’an
diturunkan ke langit dunia sekaligus pada malam Lailatul Qadr. Inilah pendapat
yang paling sahih dan paling masyhur.
Kedua, Al Qur’an diturunkan ke
langit dunia pada malam yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadr) dalam waktu dua
puluh hari, atau dua puluh tiga hari, atau dua puluh lima hari pada setiap
malam yang Allah takdirkan untuk diturukan dalam setiap tahun.
Ketiga, Al Qur’an diturunkan
pertama kali pada malam Lailatul Qadr, lalu turun setelahnya secara
berangsur-angsur dalam waktu yang berbeda.
Menurut Ibnu Hajar, pendapat pertama
itulah yang shahih dan dijadikan pegangan.
As Suyuthi menyebutkan pendapat yang
keempat dari Al Mawardi, yaitu bahwa Al Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh
secara sekaligus, dan bahwa para malaikat penjaga menyerahkan secara
berangsur-angsur kepada malaikat Jibril dalam dua puluh hari, lalu malaikat
Jibril membawanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara
berangsur-angsur dalam dua puluh tahun.” Namun pendapat ini dianggap gharib
(asing). Menurut As Suyuthi, bahwa apa yang disampaikan Al Mawardi diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas ia berkata, “Al
Qur’an turun sekaligus dari sisi Allah dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat
utusan yang mulia di langit dunia, lalu disampaikan oleh para malaikat utusan
kepada malaikat Jibril dalam waktu dua puluh hari, dan malaikat Jibril
menyampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam dua puluh
tahun.”
Namun di anatara pendapat di atas
yang lebih dekat kepada kebenaran dan lebih kuat adalah pendapat pertama. Ibnu
Katsir berkata, “Al Qurthubi menukil dari Muqatil bin Hayyan, dan ia
menyampaikan ijma bahwa Al Qur’an turun sekaligus
dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia.” (Dari situs https://www.islamweb.net/).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keadaan Al Qur’an tercatat
dalam Lauh Mahfuzh dan dalam lembaran-lembaran yang disucikan di tangan para
malaikat tidak menafikan bahwa malaikat Jibril turun membawanya dari sisi Allah
baik telah dicatat oleh Allah sebelum dibawa oleh malaikat Jibril atau pun
setelahnya. Jika duturunkan sekaligus dalam keadaan telah ditulis ke Baitul
Izzah pada malam Lailatul Qadr, maka telah ditulis semuanya sebelum
diturunkan…dst.” Ia juga berkata, “Barang siapa yang menyatakan bahwa Jibril
menerima Al Qur’an dari kitab yang ditulis (Lauh Mahfuzh) tidak dari sisi
Allah, maka pernyataannya batil dari beberapa sisi…dst.” Lalu ia menyebutkan
alasannya (Majmu Fatawa 12/127, 128).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar