Minggu, 25 Januari 2026

Mukadimah (6) Pengantar Tafsir Al Qur'an



Pengantar Tafsir Al Qur’an[1]

Mengenal Al Qur’an

1.      Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan) dan jam’/jami (yang menghimpun berita dan hukum-hukum).

2.      Al Qur’an secara istilah adalah firman Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam dengan lafaznya yang berbahasa Arab[2], menjadi ibadah dengan membacanya, dinukil secara mutawatir, dan dicatat dalam mushaf-mushaf.

3.      Al Qur’an adalah kitab samawi (turun dari langit) yang paling agung. Di dalamnya mengandung berbagai ilmu dan hikmah, nasihat, kisah-kisah, targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman), menerangkan peristiwa-peristiwa di masa lalu dan berita-berita tentang hal yang akan terjadi seperti kebangkitan manusia, surga, neraka, dan lain-lain yang tidak dikandung oleh kitab sebelumnya. Oleh karena itu, sebagian ulama berkata, “Kalau seandainya kitab (Al Qur’an) ini ditemukan tertulis dalam sebuah mushaf di padang pasir dan tidak diketahui siapa yang menyusunnya di sana, tentu semua akal yang sehat akan bersaksi, bahwa kitab itu turun dari sisi Allah, karena manusia tidak sanggup menyusunnya, lalu bagaimana jika ternyata Al Qur’an itu datang melalui tangan manusia yang paling jujur, paling baik, dan paling takwa (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dimana Beliau menyatakan, bahwa ini adalah firman Allah, serta menantang semua makhluk untuk membuat satu surat yang semisalnya, namun ternyata mereka tidak sanggup membuatnya, maka masih adakah keraguan setelah ini?” [3]

4.      Allah menamai Al Qur’an dalam kitab-Nya dengan beberapa nama, yaitu: Al Qur’an (lihat QS. Yusuf: 3), Al Furqan (lihat QS. A Furqan: 1), Al Kitab (lihat QS. Al Kahf: 1), dan Adz Dzikr (lihat QS. Al Hijr: 9). Al Qur’an artinya penjelasan[4] atau kumpulan ayat-ayat[5]. Al Furqan artinya pembeda antara yang hak (benar) dan yang batil. Kitab artinya tulisan. Adz Dzikr artinya peringatan atau kebanggaan.

5.      Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada di kolong langit kitab yang memuat bukti dan ayat yang menerangkan tuntutan tertinggi seperti tauhid, menetapkan sifat Allah, menetapkan hari kebangkitan, menetapkan kenabian, serta membantah kepercayaan yang batil dan pandangan yang rusak seperti halnya Al Qur’an, karena Al Qur’an memuat itu semuanya dan mencakupnya secara sempurna dan indah, paling mudah difahami oleh akal dan paling fasih penjelasannya.” (Ighatsatul Lahfan 1/44)

6.      Al Qur’an terdiri dari 114 surat. Masing-masing memiliki nama yang mencerminkan isi atau kandungannya, tetapi ada juga surat yang memiliki lebih dari satu nama, di antaranya: Al Fatihah (Ummul Qur’an dan As Sab’ul Matasani), At Taubah (Al Bara’ah), Al Israa’ (Bani Israil), Fathir (Al Malaikah), Ghaafir (Al Mu’min), Fushshilat (Haa Miim As Sajdah), Al Insan (Ad Dahr), Al Muthaffifin (At Tathfif), dan Al Lahab (Al Masad).

7.      Menurut Ibnu Abbas, Al Qur’an turun sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadr, lalu turun kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara berangsur-angsur sesuai situasi dan kondisi selama 23 tahun[6]. Ayat yang pertama turun adalah Iqra’ bismi Rabbikalladzii khalaq (Surah Al ‘Alaq: 1-5), sedangkan ayat yang terakhir turun adalah Wattaquu yauman turja’uun…dst. (surah Al Baqarah: 281).

8.      Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمِئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ

“Aku diberi tujuh surat (panjang) sebagai ganti kitab Taurat, surat yang berjumlah ratusan sebagai ganti kitab Zabur, surat Matsani sebagai ganti kitab Injil, dan aku diberi kelebihan dengan surat-surat mufashshal.” (Hr. Thabrani dalam Al Kabir dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami no. 1059)

Yang dimaksud tujuh surat panjang (As Sab’uth Thiwal) adalah Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa, Al Ma’idah, Al An’aam, Al A’raaf, dan Yunus.

Surat yang berjumlah ratusan (Al Mi’un) adalah surat yang jumlah ayatnya mencapai seratus, atau lebih sedikit atau kurang sedikit.

Surat Matsani maksudnya adalah surat yang di dalamnya disebutkan kisah-kisah, perumpamaan-perumpamaan, kewajiban-kewajiban, dan batasan-batasan. Ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya adalah surat Al Fatihah. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya surat yang jumlahnya ayatnya mencapai dua ratus atau mendekati jumlah itu.

Adapun surat Mufashshal, maka maksudnya surat-surat yang banyak dipisah oleh basmalah. Ada yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Muhammad hingga surat An Naas. Ada yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Qaaf hingga surat An Naas. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa awal surat mufashshal adalah dari surat Adh Dhuha hingga surat An Naas. Pendapat terakhir adalah pendapat Ibnu Abbas, dimana Beliau memisahkan antara dua suratnya dengan takbir, dan ini adalah pendapat para qari Mekkah.

Perintah Mentadabburi Al Qur'an dan Manfaatnya

9.      Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kita memahami dan mentadabburi kitab-Nya, Dia berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Qs. Muhammad: 24)

OIeh karena itu, kewajiban para ulama adalah menggali maknanya, menafsirkannya, dan mencari tafsirnya dari penjelasan-penjelasan yang ada, mempelajarinya dan mengajarkannya sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ 

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Sangat buruklah tukaran yang mereka terima.” (Qs. Ali Imran: 187)

Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencela Ahli Kitab sebelum kita ketika mereka berpaling dari kitab-Nya yang diturunkan kepada mereka dan lebih mengutamakan dunia dan mengumpulkannya serta menyibukkan diri dengan selain yang diperintahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yaitu mengikuti kitab-Nya. Oleh karena itu, kita kaum muslimin hendaknya menghindari celaan tersebut, mengerjakan yang diperintahkan Allah yaitu mempelajari kitab-Nya, mengajarkannya, memahaminya dan memahamkannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (17)  

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.-- Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) agar kamu memikirkannya.” (Qs. Al Hadid: 16-17)

Disebutkan ayat yang artinya, “Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah matinya,” terdapat isyarat bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana telah menghidupkan bumi setelah matinya, maka Dia juga yang melunakkkan hati dengan iman dan petunjuk setelah sebelumnya keras oleh dosa dan maksiat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih memberikan asupan bagi akal dan ruh, serta menjaga jasmani dan menjamin kebahagiaan daripada sering memperhatikan kitabullah.” (Al Fatawa 7/493).

10.  Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seandainya manusia mengetahui faedah yang terkandung dalam membaca Al Qur’an sambal mentadabburi, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengan mendatabburi Al Qur’an daripada selainnya.” (Miftah Daaris Sa’adah)

11.  Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sebagian Ahli Ilmu pada bulan Ramadhan saat membaca Al Qur’an menyiapkan buku catatan khusus, dimana setiap kali ia membaca Al Qur’an dan berhenti pada sebuah ayat Al Qur’an yang mengandung makna yang banyak atau semisalnya, maka ia catat di buku itu, sehingga tidaklah berlalu Ramadhan melainkan ia telah memperoleh kebaikan yang banyak dari kandungan-kandungan Al Qur’anul Karim. Saya pernah melihat buku kecil milik Syaikh Abdurrahman As Sa’diy rahimahullah, ia menyatakan bahwa tulisan itu ditulisnya pada bulan Ramadhan sambil membaca Al Qur’an, saat melewati sebuah ayat lalu ia berhenti di sana dan mentadabburinya dan mencatat beberapa faedah yang tidak engkau temukan di kitab tafsir mana pun. Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah mendorong bagi siapa yang ingin petunjuk hendaknya mentadabburi Al Qur’an. Bahkan gurunya Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barang siapa yang mentadabburi Al Qur’an sambil mengambil petunjuk darinya, maka semakin jelas baginya jalan kebenaran.” (Al Kafiyah Asy Syafiyah fil Intishar Lil Firqatin Najiyah 1/503-504).

12.  Di antara cara paling efektif dalam mentadabburi Al Qur’an adalah mengulang-ulang ayat dan mengulang perhatiannya. Bisyr bin As Sirriy rahimahullah berkata, “Ayat itu seperti kurma, setiap kali engkau mengunyahnya, maka engkau akan merasakan manisnya.” (Al Burhan fii Ulumil Qur’an 1/471)

13.  Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, "Wahai anak Adam, bagaimana hatimu akan lembut, sedangkan perhatianmu adalah bagaimana bisa cepat selesai membaca Al Qur'an di akhir surah." (Diriwayatkan oleh Hakim)

14.  Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadakan kunci untuk membuka setiap harapan yang dicari. Dia menjadikan,

a.    Kunci shalat adalah bersuci

b.    Kunci haji adalah ihram

c.    Kunci Al Birru (kebajikan) adalah jujur

d.   Kunci surga adalah tauhid

e.    Kunci ilmu adalah baik dalam bertanya dan menyimak

f.     Kunci pertolongan dan kemenangan adalah sabar

g.    Kunci mendapatkan tambahan adalah syukur

h.    Kunci agar kedudukan semakin dekat (menjadi wali) dan dicintai Allah adalah berdzikir

i.      Kunci keberuntungan adalah takwa

j.      Kunci mendapatkan taufik adalah harap dan cemas

k.    Kunci dikabulkan adalah berdoa

l.      Kunci cinta akhirat adalah zuhud terhadap dunia

m.  Kunci iman adalah mentafakkuri (memikirkan) apa-apa yang Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk memikirkannya

n.    Kunci masuk menghadap Allah adalah berserahnya hati, selamatnya hati kepada-Nya, dan ikhlas kepada-Nya dalam hal cinta dan benci serta melakukan dan meninggalkan.

o.    Kunci hidupnya hati adalah mentadabburi (merenungi) Al Qur’an, merendahkan diri di waktu sahur dan meninggalkan dosa.

p.    Kunci mendapatkan rahmat adalah berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berusaha memberi manfaat kepada hamba-hamba-Nya.

q.    Kunci mendapatkan rezeki adalah berusaha di samping istighfar dan takwa.

r.     Kunci kemuliaan adalah menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

s.     Kunci mempersiapkan diri menghadapi akhirat adalah membatasi angan-angan.

t.     Kunci semua kebaikan adalah cinta kepada Allah dan akhirat.

u.    Kunci semua keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. (Haadil Arwah ‘alam Al Fawaid 1/138)

15.  Imam As Sakhawi rahimahullah berkata, "Ketahuilah, bahwa Al-Qur'an yang mulia, jika dibaca untuk dipelajari, maka cukup membacanya sedikit-sedikit dan diulang-ulang. Jika dibaca untuk ditadabburi (direnungkan), maka cukup membacanya dengan tartil dan diam berhenti. Namun jika dibaca untuk menghasilkan pahala, maka dengan banyak membacanya, ia boleh membaca semampunya, dan tidak tercela ketika ia membacanya dengan cepat." (Jamalul Qurra wa Kamalul Iqra hal. 666)

Sebagai tambahan, jika seorang hendak menghafal Al Qur'an, maka hendaknya dijaharkan (dikeraskan) suaranya. Namun jika hendak dihayati atau ditadabburi, maka dengan suara pelan ketika membacanya.

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata tentang membaca Alquran dengan irama atau dengan suara lagu dan timbangannya serta membacanya mengikuti alunan para pemusik, “Sebenarnya irama yang diada-adakan ini lagi seperti bernyanyi, serta membangkitkan rasa namun membuat lalai dari mentadaburi (memikirkan) apa yang didengar sehingga hanya menikmati suara lagu yang tersusun timbangannya dan suara-suara nyanyian, maka hal ini dapat menghalangi maksud dari mentadaburi makna Alquran. Yang diperintahkan dalam As Sunnah adalah memperbagus suara ketika membaca Al Qur'an namun tidak dengan irama lagu; keduanya jauh berbeda." (Nuzhatul Asma Fii Mas'alatis Sama 2/463)


[1] Dikumpulkan pengantar ini dari beberapa kitab, yaitu Tafsir Ibnu Katsir (bagian mukadimah), mukadimah muhaqqiq kitab Ma’alimut Tanzil (Imam Al Baghawi), Ushul wa Kulliyyat min Ushulit Tafsir, Al Qawaa’idul Hisan fii Tafsiril Qur’an dan Risalah Lathiifah fii Ushulil Fiqh tiga buah karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy, Muqaddimah Fii Ushulit Tafsir (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah), Ushul fit Tafsir (Syaikh M. bin Shalih Al 'Utsaimmin), At Tafsir (fi’ah an naasyi’ah) karya Dr. Ibrahim Al Huwaimil, Ahkaam Minal Qur’aani wa Sunnah karya Abdul ‘Azhim Ma’ani dan Dr. Ahmad Al Ghundur, Badaa’i’ul Fawaa’id karya Ibnul Qayyim (yang disebutkan secara ringkas pada bagian mukadimah tafsir As Sa’diy), Tafsir Juz ‘Amma karya (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Syarh Tsalatsatil Ushul (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Muqarrarul Qur'aan wa 'Ulumuh (Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa'ud 'imadatut ta'lim 'an bu'd), Latha’iful Ma’arif (Ibnu Rajab Al Hanbali), Mukhtashar min Tafsir Al Imam Ath Thabari (Abu Yahya Muhammad bin Shumadih), An Nukat wal Uyun (Imam Al Mawardi), Al Bidayah fii Ulumil Qur’an (Sami bin Ibrahim bin Bali), dll.

[2] Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bahasa Arab adalah bahasa paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena kepada jiwa manusia. Oleh karena itu, kitab yang paling mulia (Al Qur’anul Karim) diturunkan dengan bahasa yang paling utama (bahasa Arab).”

[3] Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Latha’iful Ma’arif.

[4] Ini adalah pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

[5] Ini adalah pendapat Qatadah radhiyallahu ‘anhuma.

[6] Menurut Asy Sya’biy bahwa Al Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadr, lalu turun setelahnya secara berangsur-angsur dalam waktu yang berbeda sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan manusia.

Imam As Suyuthi berkata, “Diperselisihkan oleh ulama tentang cara turunnya Al Qur’an dari Lauh Mahfuzh menjadi tiga pendapat:

Pertama, bahwa Al Qur’an diturunkan ke langit dunia sekaligus pada malam Lailatul Qadr. Inilah pendapat yang paling sahih dan paling masyhur.

Kedua, Al Qur’an diturunkan ke langit dunia pada malam yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadr) dalam waktu dua puluh hari, atau dua puluh tiga hari, atau dua puluh lima hari pada setiap malam yang Allah takdirkan untuk diturukan dalam setiap tahun.

Ketiga, Al Qur’an diturunkan pertama kali pada malam Lailatul Qadr, lalu turun setelahnya secara berangsur-angsur dalam waktu yang berbeda.

Menurut Ibnu Hajar, pendapat pertama itulah yang shahih dan dijadikan pegangan.

As Suyuthi menyebutkan pendapat yang keempat dari Al Mawardi, yaitu bahwa Al Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfuzh secara sekaligus, dan bahwa para malaikat penjaga menyerahkan secara berangsur-angsur kepada malaikat Jibril dalam dua puluh hari, lalu malaikat Jibril membawanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam secara berangsur-angsur dalam dua puluh tahun.” Namun pendapat ini dianggap gharib (asing). Menurut As Suyuthi, bahwa apa yang disampaikan Al Mawardi diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas ia berkata, “Al Qur’an turun sekaligus dari sisi Allah dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat utusan yang mulia di langit dunia, lalu disampaikan oleh para malaikat utusan kepada malaikat Jibril dalam waktu dua puluh hari, dan malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam dua puluh tahun.”

Namun di anatara pendapat di atas yang lebih dekat kepada kebenaran dan lebih kuat adalah pendapat pertama. Ibnu Katsir berkata, “Al Qurthubi menukil dari Muqatil bin Hayyan, dan ia menyampaikan ijma bahwa Al Qur’an turun sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia.” (Dari situs https://www.islamweb.net/).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keadaan Al Qur’an tercatat dalam Lauh Mahfuzh dan dalam lembaran-lembaran yang disucikan di tangan para malaikat tidak menafikan bahwa malaikat Jibril turun membawanya dari sisi Allah baik telah dicatat oleh Allah sebelum dibawa oleh malaikat Jibril atau pun setelahnya. Jika duturunkan sekaligus dalam keadaan telah ditulis ke Baitul Izzah pada malam Lailatul Qadr, maka telah ditulis semuanya sebelum diturunkan…dst.” Ia juga berkata, “Barang siapa yang menyatakan bahwa Jibril menerima Al Qur’an dari kitab yang ditulis (Lauh Mahfuzh) tidak dari sisi Allah, maka pernyataannya batil dari beberapa sisi…dst.” Lalu ia menyebutkan alasannya (Majmu Fatawa 12/127, 128). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (6) Pengantar Tafsir Al Qur'an

Pengantar Tafsir Al Qur’an [1] Mengenal Al Qur’an 1.       Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan) dan jam’/jami (yang ...