Senin, 15 Juni 2026

Seri 13 (Surah Al Baqarah ayat 30-33)

 

Seri (13)

 


Ayat 30-33: Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan nikmat-Nya kepada Bani Adam dengan meninggikan nama mereka di hadapan para malaikat sebelum mereka diciptakan, kisah manusia pertama yaitu Adam ‘alaihis salam, penciptaannya dan bagaimana Dia mengistimewakannya dengan khilafah dan ilmu.

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)  

30. Ingatlah[1] ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi[2]." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak[3] dan menumpahkan darah di sana[4], sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?"[5] Dia berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui[6]."

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31)  

31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam[7] nama-nama (benda) semuanya[8], kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat[9] seraya berfirman, "Sebutkanlah kepada-Ku nama (semua) benda ini jika kamu yang benar!"[10]

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) 

32. Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau[11], tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami[12]. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[13]."

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)  

33. [14]Allah berfirman, "Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu[15]." Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Allah berfirman, "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi[16] dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?"[17]


[1]  Demikian pula ingatkanlah kepada yang lain karena di dalamnya terdapat pelajaran yang berharga.

[2]  Makhluk yang akan mengelola bumi dan memberlakukan perintah-perintah Allah di sana, yaitu manusia dimana sebagiannya akan digantikan oleh yang lain, atau sebagai ganti para malaikat yang berada di bumi.

Faedah/Catatan:

Imam Al Qurthubi dan lainnya berdalil dengan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk memutuskan perselisihan di antara manusia dan menyelesaikan persengketaan mereka, membela orang yang teraniaya, menegakkan hudud, mencegah terjadinya perbuatan keji, dan melakukan perkara-perkara penting lainnya yang tidak dapat ditegakkan kecuali oleh imam (pemerintah), sedangkan suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu yang menyempurnakannya menjadi wajib.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukmul haakim yarfa’ul khilaf (ketetapan hakim atau pemerintah dapat menyelesaikan masalah).

Imamah (kepemimpinan besar) dapat diangkat dengan nash (hadits) sebagaimana yang dikatakan sebagian Ahlussunnah tentang pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah, atau dengan isyarat sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian yang lain dari Ahlussunnah, atau dengan diangkat oleh khalifah sebelumnya untuk menggantikannya sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar terhadap Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, atau dengan membawa kepada forum syura yang terdiri dari orang-orang yang saleh sebagaimana yang dilakukan Umar, atau dengan berkumpulnya Ahlul Halli wal ‘Aqdi (dewan khusus yang mewakili kaum muslimin yang berhak mengeluarkan keputusan) lalu mereka membaiatnya atau salah seorang dari mereka memba’atnya, maka wajib pula diikuti menurut jumhur ulama. Bahkan jika ada penggulingan khalifah sehingga khalifah yang lama ditinggalkan, dan orang-orang menerima khalifah yang baru, maka kita wajib menerima agar umat bersatu, dan wajib ditaati meskipun zalim selama perintahnya bukan maksiat. Hal ini sebagaimana pada kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan saat Ibnuz Zubair terbunuh.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ خَرَجَ عَنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَمَاتَ فَمِيتَتُهُ مِيتَةٌ جَاهِلِيَّةٌ»

“Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah (kaum  muslimin) lalu meninggal dunia, maka dia meninggal dengan cara Jahiliyyah.” (Hr. Muslim)

Maksud ‘keluar dari ketaatan’ adalah keluar dari ketaatan kepada khalifah yang kaum muslim bersatu di bawahnya, dan tampaknya maksudnya adalah khalifah di wilayah mana pun, karena manusia tidak berkumpul di atas satu khalifah yang memimpin semua wilayah Islam sejak runtuhnya Daulah Abbasiyyah, bahkan setiap wilayah ada pemimpin masing-masing yang mengatur wilayahnya. Karena kalau hadits ini ditafsirkan dengan khalifah yang menyeluruh dimana semua kaum muslimin bersatu di bawahnya, maka sedikit sekali faidahnya.

Maksud “memisahkan diri dari jamaah” adalah keluar dari jamaah yang kaum muslim telah sepakat untuk menaati seorang pemimpin yang menyatukan mereka dan menjaga mereka dari musuh mereka.

Maksud “maka dia akan meninggal dengan cara Jahiliyyah” dinisbatkan kepada kaum Jahiliyyah, yakni keadaan kekufuran sebelum Islam. Dimiripkan orang yang meninggal dalam keadaan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimmin seperti orang yang meninggal di atas kekufuran seperti keadaan kaum Jahiliyah karena mereka tidak di bawah seorang pemimpin, karena orang yang keluar dari jamaah kaum muslimin seperti kaum Jahiliyyah yang tidak punya pemimpin.

Dalam hadits tersebut terdapat dalil, bahwa apabila ada seorang yang keluar dari jamaah kaum muslim, namun tidak melawan kaum muslimin (memberontak), dan tidak memerangi mereka, maka kita tidak memeranginya untuk memaksanya masuk ke dalam jamaah kaum muslimin dan untuk tunduk kepada pemimpin, bahkan kita membiarkannya, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk memeranginya, bahkan hanya mengabarkan tentang keadaannya ketika mati, bahwa ia seperti kaum Jahiliyyah, dan tidak membuatnya keluar dari Islam. Hal ini ditunjukkan pula oleh pernyataan Ali radhiyallahu anhu kepada kaum Khawarij, “Silahkan kalian berada di mana saja yang kalian inginkan, dan perjanjian antara kami dengan kalian adalah kalian tidak boleh menumpahkan darah, tidak menghalangi jalan manusia, dan tidak menzalimi seorang pun. Jika kalian melakukan hal itu, maka aku akan memerangi kalian.” Riwayat ini telah sah dari beliau dengan lafaz yang berbeda-beda, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari jalan Abdullah bin Syaddad. Abdullah bin Syaddad berkata, “Demi Allah, Ali tidak memerangi mereka (kaum Khawarij) sampai mereka menghalangi jalan manusia dan menumpahkan darah yang terpelihara.” Hal ini menunjukkan, bahwa sekedar menyelisihi pemimpin tidak harus memerangi pelakunya (Lihat Subulussalam 2/374)

Khalifah yang dipilih harus laki-laki, merdeka, baligh, berakal, muslim, adil, seorang mujtahid, dapat melihat, selamat anggota badannya dari cacat, ahli dalam peperangan dan memiliki ide-ide cemerlang, dan menurut pendapat yang sahih hendaknya dari Quraisy, dan tidak disyaratkan harus orang dari Bani Hasyim. Demikian juga tidak disyaratkan harus bersih dari kesalahan berbeda dengan pendapat orang-orang Syi’ah Rafidhah yang guluw (berlebihan).

Pertanyaan, “Jika imam melakukan kefasikan, maka apakah harus dipecat atau tidak?” Menurut pendapat yang sahih, bahwa ia tidaklah dipecat berdasarkan hadits berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Dari Ubadah bin Ash Shaamit ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membaiat beliau.” Ubadah melanjutkan, “Di antara janji yang beliau ambil dari kami adalah, agar kami membaiat beliau untuk senantiasa mendengar dan taat, saat giat maupun malas, dan saat sulit maupun lapang, dan mengutamakannya di atas kami, serta agar kami tidak mencabut urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah.” (Hr. Bukhari)

Berdasarkan hadits ini, bahwa memberontak hukum asalnya adalah tidak boleh kecuali jika melihat kekafiran yang nyata pada pemimpin dan kita memiliki dalil yang jelas terhadapnya, dan tentunya dapat mengganti pemimpin tanpa menimbulkan mafsadat yang besar. Jika malah menimbulkan mafsadat yang lebih besar, maka tidak boleh memberontak dan wajib bersabar.

Selanjutnya, bolehkah imam memecat dirinya sendiri? Dalam masalah ini ada khilaf, tetapi Al Hasan bin ‘Ali radhiyallahu 'anhu pernah memecat dirinya sendiri dan menyerahkan pemerintahan kepada Mu’awiyah, akan tetapi hal ini karena adanya uzur.

Menurut jumhur ulama, bahwa tidak diperbolehkan mengangkat dua imam (pemerintah) dalam satu wilayah atau lebih. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ

“Jika datang kepadamu seseorang yang hendak mematahkan tongkatmu atau memecah belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia." (Hr. Muslim)

Namun Imam Al Haramain menceritakan dari Ustadz Abu Ishaq, bahwa ia membolehkan mengangkat dua imam atau lebih jika berjauhan wilayahnya dan luasnya daerah antara keduanya, tetapi Imam Al Haramain ragu-ragu terhadapnya.

[3] Dengan berbuat maksiat.

[4] Dengan tanpa alasan yang benar. Ini adalah perkiraan para malaikat. Menurut Ibnu Katsir, tampaknya mereka mengetahui hal itu berdasarkan pengetahuan yang khusus atau berdasarkan yang mereka pahami dari tabiat manusia, karena Dia memberitahukan bahwa Dia akan menciptakan makhluk jenis ini dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk (lihat Qs. Al Hijr: 28) atau berdasarkan yang mereka pahami dari kata ‘khalifah’ (yang saling menggantikan), bahwa Dia akan menyelesaikan hal yang terjadi di antara mereka berupa tindakan zalim, dan menghalangi mereka dari perkara haram dan dosa seperti yang dikatakan Imam Al Qurthubi. Ibnu Katsir juga menjelaskan, bahwa ucapan para malaikat ini bukanlah sikap protes terhadap Allah dan bukan karena hasad kepada keturunan Adam sebagaimana yang disangka oleh sebagian mufassir, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifati mereka (para malaikat), bahwa mereka tidak berbicara mendahului-Nya, yakni mereka tidak bertanya kepada-Nya sesuatu yang tidak Dia izinkan, dan di sini terjadi ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberitahukan mereka, bahwa Dia akan menciptakan makhluk di bumi. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 49)

Adh Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa jin sebelumnya telah melakukan kerusakan di muka bumi sebelum manusia, maka para malaikat mengatakan demikian.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Mujahid dari Abdullah bin Amr ia berkata, “Pada mulanya Jin Banul Jaan berada di muka bumi dua ribu tahun sebelum diciptakan Adam, lalu mereka mengadakan kerusakan di bumi dan menumpahkan darah, maka Allah mengirimkan satu pasukan malaikat dan memukul (memerangi) mereka hingga mengejar mereka sampai ke pulau-pulau di lautan. Selanjutnya Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi,” maka para malaikat berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan makhluk yang akan merusak dan menumpahkan darah di sana?” Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui.” (Tafsir Ibnu Abi Hatim 1/109).

[5]  Maksud ayat di atas adalah bahwa para malaikat meminta diberitahukan hikmah di balik penciptaan mereka, padahal makhluk tesebut menurut perkiraan mereka akan mengadakan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah, sedangkan mereka selalu taat kepada-Nya, bertasbih dengan memuji-Nya dan mengagungkan-Nya dengan semua sifat sempurna dan sifat kebesaran. Kata-kata "nuqaddisu laka" (lihat ayat di atas) memiliki dua makna: pertama, berarti "kami menyucikan-Mu (dari segala yang tidak layak dengan keagungan dan kebesaran-Mu) karena-Mu" lam di ayat tersebut menunjukkan takhshis (pengkhususan kepada Allah saja) dan menunjukkan ikhlas (karena Allah) . Kedua, berarti "Kami menyucikan diri kami dari akhlak buruk karena-Mu dan kami isi dengan akhlak mulia seperti cinta kepada-Mu, takut, dan mengagungkan-Mu.”

Ada pula yang berpendapat, bahwa maksud perkataan malaikat, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana?” Bahwa mereka meminta agar mereka yang tinggal di bumi menggantikan anak Adam, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada mereka, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Yakni tinggalmu di langit lebih baik dan lebih cocok bagimu daripada di bumi. Hal ini disebutkan oleh Ar Raaziy, wallahu a’lam.

[6] Berupa hikmah yang dalam dan maslahat yang kuat pada penciptaan mereka. Karena ucapan para malaikat itu sebatas perkiraan mereka, sedangkan Allah Ta'ala mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi, yang terdahulu dan yang akan datang. Bahkan kebaikan yang muncul dari mereka lebih banyak daripada keburukan, dengan diciptakan-Nya mereka, dipilih-Nya siapa di antara mereka yang menjadi para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh, dan agar ayat-ayat-Nya tampak jelas bagi makhluk-Nya serta dapat dilakukan ibadah yang tidak bisa dilakukan selain oleh kalangan manusia seperti jihad dan lainnya, diuji-Nya mereka (manusia); maukah mereka taat kepada-Nya dengan kecenderungan yang ada dalam diri mereka ke arah kebaikan dan keburukan, dan jika mereka jatuh ke dalam dosa, maka Dia akan mengampuninya kalau mereka meminta ampun kepada-Nya, demikian juga agar semakin jelas mana wali-Nya dan mana musuh-Nya, siapa yang berhak menempati surga-Nya dan siapa yang berhak menempati neraka-Nya, agar tampak jelas karunia dan keadilan-Nya, dan agar kelihatan jelas apa yang disembunyikan oleh Iblis berupa keburukan, serta hikmah-hikmah lainnya.

Dari ayat 30 di atas kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) bertanya kepada yang mengetahui jika tidak mengetahui, (2) tidak menghardik penanya, menjawab pertanyaan, dan mengalihkannya dengan lembut, (3) mengetahui manusia pertama, (4) keutamaan Nabi Adam alaihis salam, (5) umat manusia dilebihkan dengan ilmu, sehingga meskipun fisik mereka lemah dibandingkan jin dan malaikat, namun karena ilmu yang Allah berikan, mereka mampu melakukan hal-hal berat, seperti membangun gedung tinggi, membuat jalan layang, dll.

[7]  Ada yang mengatakan, bahwa dinamakan Adam karena diciptakan dari Adimul ardhi (permukaan bumi) atau karena warna kulitnya sawo matang.

[8] Adh Dhahhak berkata dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Yaitu nama-nama yang biasa dikenal manusia, seperti manusia, hewan, langit, bumi, tanah yang datar, laut, kuda, keledai dan lain sebagainya seperti umat-umat dan lain-lain.” Namun Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari hadits ‘Ashim bin Kulaib dari Sa’id bin Ma’bad, bahwa ia bertanya kepada Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya,” ia (Sa’id bin Ma’bad) berkata, “Apakah Allah mengajarkan kepadanya nama piring dan periuk? Ia (Ibnu Abbas) menjawab, “Ya, sampai nama fiswah dan fisyah.” Yakni nama-nama zat dan sifatnya yang besar maupun yang kecil.

Menurut Mujahid, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan kepadanya nama setiap binatang, setiap burung dan segala sesuatu. Menurut Ar Rabii’, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan kepadanya nama-nama para malaikat, wallahu a’lam.

Menurut Ibnu Katsir, yang sahih bahwa Dia mengajarkan nama-nama segala sesuatu baik zatnya, sifatnya maupun perbuatannya sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, yaitu sampai nama fiswah dan fisyah, yakni nama-nama zat dan perbuatannya yang besar maupun yang kecil, wallahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 51)

Faedah:

Disebutkan dalam hadits syafaat tentang kelebihan Nabi Adam ‘alaihis salam:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ فَيَسْتَحِي ائْتُوا نُوحًا فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ سُؤَالَهُ رَبَّهُ مَا لَيْسَ لَهُ بِهِ عِلْمٌ فَيَسْتَحِي فَيَقُولُ ائْتُوا خَلِيلَ الرَّحْمَنِ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُوسَى عَبْدًا كَلَّمَهُ اللَّهُ وَأَعْطَاهُ التَّوْرَاةَ فَيَأْتُونَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ قَتْلَ النَّفْسِ بِغَيْرِ نَفْسٍ فَيَسْتَحِي مِنْ رَبِّهِ فَيَقُولُ ائْتُوا عِيسَى عَبْدَ اللَّهِ وَرَسُولَهُ وَكَلِمَةَ اللَّهِ وَرُوحَهُ فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدًا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُونِي فَأَنْطَلِقُ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ عَلَى رَبِّي فَيُؤْذَنَ لِي فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي وَقَعْتُ سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُقَالُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَسَلْ تُعْطَهْ وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَحْمَدُهُ بِتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِيهِ ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا فَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُمَّ أَعُودُ إِلَيْهِ فَإِذَا رَأَيْتُ رَبِّي مِثْلَهُ ثُمَّ أَشْفَعُ فَيَحُدُّ لِي حَدًّا فَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ ثُمَّ أَعُودُ الرَّابِعَةَ فَأَقُولُ مَا بَقِيَ فِي النَّارِ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ وَوَجَبَ عَلَيْهِ الْخُلُودُ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ إِلَّا مَنْ حَبَسَهُ الْقُرْآنُ يَعْنِي قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى{ خَالِدِينَ فِيهَا}

Dari Anas radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda, "Pada hari kiamat orang-orang yang beriman berkumpul lalu mereka berkata, “Sebaiknya kita meminta syafa'at kepada Tuhan kita ‘Azza wa Jalla sehingga kita dapat pindah dari tempat kita sekarang juga.” Lalu mereka mendatangi Adam ‘alaihis salam sambil berkata, 'Wahai Adam, engkau adalah bapaknya manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya sendiri dan menjadikan malaikat-malaikat-Nya sujud kepadamu, serta  mengajarkan pula kepadamu nama-nama segala sesuatu, maka berilah syafa'at untuk kami di sisi Tuhanmu 'Azza wa Jalla agar Dia memindahkan kami dari tempat kami ini.” Maka Adam berkata, “Bukan aku yang kalian maksud, “ kemudian Adam menyebutkan dosa yang pernah ia lakukan, hingga dosa tersebut membuatnya malu kepada Allah, lalu Adam berkata, “Datanglah kalian kepada Nuh 'alaihis salam karena ia adalah rasul pertama yang Allah utus ke muka bumi,” kemudian mereka pun mendatangi Nuh 'Alaihis Salam, lalu Nuh berkata, 'Bukan aku yang kalian maksud, “ lalu ia menyebutkan kekeliruannya, yaitu merminta kepada Tuhannya dengan tanpa ilmu, hingga membuatnya malu kepada Tuhannya; “Akan tetapi datangilah Ibrahim ‘alaihis salam kekasih Ar Rahman 'Azza wa Jalla, “ maka mereka pun mendatanginya, lalu Ibrahim berkata, “Bukan aku yang kalian maksud, tetapi datanglah kalian kepada Musa 'Alaihis Salam, seorang hamba yang Allah ajak bicara secara langsung dan diberi-Nya Taurat.' Maka mereka pun mendatangi Musa, dan Musa juga berkata; 'Bukan aku yang kalian maksud, ' seraya menyebutkan seseorang yang dia bunuh bukan karena membunuh orang lain, hingga hal itu membuatnya malu kepada Tuhannya; “Akan tetapi datanglah kalian kepada Isa 'alaihis salam, hamba Allah dan Rasul-Nya, kalimat serta ruh (ciptaan)-Nya.” Maka mereka pun mendatangi Isa, kemudian Isa berkata, “Bukan aku yang kalian maksud, akan tetapi datanglah kalian kepada Muhammad, seorang hamba yang dosanya telah diampuni Allah, baik yang lalu atau yang akan datang.” Mereka pun mendatangiku, maka aku pun pergi sehingga aku meminta izin kepada Tuhanku ‘Azza wa Jalla, lalu aku pun diizinkan. Maka ketika aku melihat Tuhanku, aku langsung jatuh sujud kepada Tuhanku ‘Azza wa Jalla, kemudian Dia membiarkanku bersujud sekehendak-Nya. Setelah itu dikatakan, “Bangunlah (ya Muhammad)! Mintalah, maka engkau akan diberikan! Berkatalah maka engkau akan didengarkan! Dan mintalah syafa'at maka engkau akan diberi (hak memberi syafa'at)." Maka aku mengangkat kepalaku dan memuji-Nya dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku, kemudian aku memberikan syafa'at dan Dia memberikan aku batasan, lalu aku memasukkan orang-orang ke dalam surga. Kemudian aku kembali kepada Tuhanku ‘Azza wa Jalla untuk yang kedua kalinya, dan ketika aku melihat Tuhanku aku seperti sebelumnya (langsung jatuh sujud kepada Tuhanku, kemudian membiarkanku bersujud sekehendak-Nya, dst.) Maka aku memberikan syafa'at dan Dia memberikan aku batasan, lalu aku memasukkan orang-orang ke dalam surga." Kemudian aku kembali kepada Rabbku 'Azza wa Jalla untuk yang keempat kalinya, lalu aku berkata, “(Wahai Tuhanku!) Tidak ada yang tersisa kecuali orang yang terhalang oleh Al Qur`an dan wajib kekal di neraka.” Abu ‘Abdillah berkata, “Kecuali orang yang terhalang oleh Al Qur`an,” maksudnya firman Allah Ta’ala, “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Hr. Bukhari)

Hadits ini di samping menyebutkan keistimewaan Nabi Adam, juga menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan kepadanya nama-nama semua makhluk.

[9]  Benda-benda itu kepada para malaikat untuk mengetes mereka.

[10]  Di sini Allah Ta'ala membuktikan kelebihan Adam 'alaihis salam dalam hal ilmu, Allah mengajarkan kepadanya nama-nama benda semuanya lalu ditunjukkan-Nya kepada para malaikat sambil berfirman: "Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama benda yang ada ini jika kamu memang benar," yakni memang benar lebih layak menjadi khalifah di muka bumi daripada Adam dan keturunannya.

[11] Ini adalah penyucian dari para malaikat untuk Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari adanya seseorang yang mengetahui sedikit dari ilmu-Nya kecuali jika Dia menghendaki dan dari adanya seseorang yang mengetahui sesuatu kecuali jika Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkannya.

[12]  Asy Sya’bi pernah ditanya tentang suatu masalah, maka ia menjawab, “Saya tidak tahu.” Lalu ada yang berkata kepadanya, “Tidakkah engkau malu mengatakan ‘saya tidak tahu’ padahal engkau Ahli Fiqih penduduk Irak?” Maka Beliau rahimahullah berkata, “Akan tetapi para malaikat tidak malu ketika mengatakan, “Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (I’lamul Muwaqqi’in 4/167, 168)

[13] Hikmah atau bijaksana artinya adalah tepat, yakni menempatkan sesuatu pada posisi yang layak. Kebijaksanaan Allah Ta’ala meliputi pada firman-Nya, perbuatan-Nya, takdir yang Dia tetapkan di alam semesta, dan syariat yang Dia tetapkan dalam agama-Nya.

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa jika samar bagi seorang hamba hikmah Allah menciptakan sesuatu atau memerintahkan sesuatu, maka kewajibannya adalah tunduk dan menerima.

Menurut Al Baghawiy, Al Hakim memiliki dua arti: pertama, hakim, yakni yang memutuskan dengan adil. Kedua, yang merapihkan suatu perkara agar tidak rusak. Asal arti hikmah secara bahasa adalah mencegah, yakni mencegah pemiliknya dari jatuh dalam kebatilan.

[14]  Ketika tampak jelas kelemahan mereka.

[15]  Yakni nama-nama sesuatu yang ditunjukkan kepada mereka.

Menurut Zaid bin Aslam, bahwa Adam berkata, “Engkau Jibra’il, engkau Mika’il, engkau Israfil,” sampai ia sebutkan beberapa nama semuanya termasuk burung gagak.”

Menurut Mujahid tentang firman Allah Ta’ala, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu,” yaitu nama burung merpati, burung gagak, dan nama-nama segala sesuatu.” Dan telah diriwayatkan seperti itu dari Sa’id bin Jubair, Al Hasan, dan Qatadah.

[16] Rahasia atau gaib adalah yang tidak kita ketahui dan tidak dapat kita saksikan. Jika Allah Ta'ala mengetahui yang rahasia, apalagi yang tampak atau kelihatan.

[17] Allah Ta'ala menegaskan bahwa Dirinya lebih mengetahui hal yang samar bagi mereka baik di langit maupun di bumi, dan Dia mengetahui apa yang mereka nyatakan dan apa yang mereka sembunyikan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala di surat An Naml: 25, Mereka juga tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.” (Terj. Qs. An Naml: 25)

Adh Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?" maksudnya, “Aku mengetahui yang rahasia sebagaimana yang nyata, yakni yang disembunyikan oleh Iblis dalam hatinya berupa kesombongan dan ghurur (terpedaya).”

Abu Ja’far Ar Raaziy menyebutkan dari Ar Rabii’ bin Anas tentang firman Ta’ala, “Dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?" Ia berkata, “Yang mereka (para malaikat) nyatakan adalah ucapan mereka, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana,” sedangkan yang mereka sembunyikan adalah ucapan mereka, “Tuhan kita tidaklah menciptakan makhluk, kecuali kita adalah makhluk yang paling tahu dan paling mulia,” maka mereka pun menyadari bahwa Allah melebihkan Adam di atas mereka dalam hal ilmu dan kemuliaan.”

Dari ayat 31-33 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) menjelaskan tentang kemahakuasaan Allah Ta’ala, Dia mengajarkan kepada Adam nama semua makhluk, lalu Adam mengetahuinya, (2) keutamaan ilmu dan Ahli Ilmu, (3) keutamaan mengakui kekurangan, (4) bolehnya mencela terhadap orang yang mengakui sesuatu, namun ia belum pantas terhadapnya. Namun kalau kita perhatikan, betapa lembutnya Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, Dia tidak menghardik para malaikat, tetapi hanya mengatakan ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 13 (Surah Al Baqarah ayat 30-33)

  Seri (13)   Ayat 30-33: Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan nikmat-Nya kepada Bani Adam dengan meninggikan nama mereka di h...