Jumat, 12 Juni 2026

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

 Seri (12)

 


Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi, dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (28)  

28. [1]Bagaimana kamu ingkar kepada Allah[2], padahal kamu dahulunya mati[3], lalu Dia menghidupkan kamu[4], kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali[5], kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?[6]

u هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (29)    

29. [7]Dia-lah (Allah) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untukmu[8], kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit[9]. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu[10].


[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalil-dalil terhadap keesaan-Nya, kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan adanya kebangkitan, maka pada ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang mengena kepada segenap makhluk-Nya yang menghendaki untuk disyukuri dengan beriman kepada-Nya, beriman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan beriman kepada adanya hari pembalasan.

[2] Yakni bagaimana kamu mengingkari keberadaan Allah atau bagaimana kamu sampai menyembah kepada selain Allah padahal bukti-bukti akan keberadaan Allah dan keberhakan-Nya untuk diibadahi cukup banyak dan sangat jelas?

Bukti adanya Allah Azza wa Jalla sangat banyak, seperti adanya firman-Nya atau Al Qur’an yang diturunkan-Nya; tidak mungkin ada firman tanpa ada yang berfirman atau yang menurunkannya. Demikian pula adanya makhluk, tidak mungkin ada makhluk tanpa adanya Khaliq. Akankah ada tulisan tanpa ada yang menulis?! Tidak bisa dijadikan alasan hanya karena kita tidak melihat proses penciptaan langit dan bumi, lalu kita katakan bahwa itu semua ada dengan sendirinya, sebagaimana tidak bisa dibenarkan ada barang-barang di sekitar kita seperti bangunan, kendaraan, barang-barang, bahwa itu semua ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuat hanya karena kita tidak melihat proses pembuatannya. Bahkan kalau ada seorang datang kepada kita menyatakan, bahwa dirinya melihat ada sebuah mobil atau motor ada dengan sendirinya, tentu kita menolaknya, bahkan kalau dia tetap menyatakan demikian, maka kita katakan bahwa orang ini sudah gila.

Demikian pula bukti keberhakan Allah Azza wa Jalla untuk disembah; tidak selain-Nya adalah karena Dialah Yang menciptakan kita dan menciptakan alam semesta, Dia yang mengatur alam semesta, Dia Mahakuasa lagi Mahakaya, dan memang harus demikian sifat Tuhan. Tidak boleh dituhankan jika keadaannya dicipta, jika lemah, jika miskin, apalagi tidak dapat berbuat apa-apa seperti patung dan berhala.

[3] Tidak ada sama sekali. Apakah kamu muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang menciptakannya? Apakah kamu merasa demikian? Ataukah kamu yang menciptakan dirimu sendiri? Padahal sesuatu yang tidak ada tidak mungkin menciptakan sesuatu.

[4] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala di surat Ath Thuur: 35-36, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”-- Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).”

dan seperti dalam surat Al Insan: 1.

[5] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala di surat Ghafir: 11, Mereka menjawab, "Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?"

[6] Pertanyaan di sini maksudnya adalah ta'ajjub (menunjukkan keanehan), taubikh (mencela) dan mengingkari. Yakni bagaimana kamu wahai orang-orang musyrik bisa ingkar kepada keesaan Allah, kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu padahal ada bukti yang nyata terhadap keesaan-Nya pada diri kamu. Bukankah kamu dahulu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, lalu Dia mematikan kamu setelah tiba ajalmu dan akan membangkitkan kamu lagi dan kepada-Nya kamu dikembalikan untuk dihisab dan diberikan balasan terhadap amalmu selama di dunia. Di samping itu, kamu semua berada di bawah kekuasaan-Nya, lalu apakah pantas kamu ingkar kepada-Nya, bukankah yang demikian merupakan kebodohan yang sangat, bahkan yang sepatutnya kamu lakukan adalah beriman kepada-Nya, bertakwa dan bersyukur, takut terhadap azab-Nya dan berharap pahala-Nya.

[7] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan dalil terhadap keberadaan-Nya, keesaan-Nya, dan kekuasaan-Nya dari penciptaan mereka dan apa yang mereka saksikan pada diri mereka, maka Dia menyebutkan dalil lain terhadap keberadaan, keesaan, dan kekuasaan-Nya dari apa yang mereka saksikan, berupa langit dan bumi.

[8] Untuk kamu manfaatkan, untuk dipakai bersenang-senang, dan untuk diambil pelajaran. Dalam ayat ini diambil sebuah kaedah fiqih bahwa Al Ashlu fil asyaaa'il ibaahah wath thahaarah (hukum asal pada segala sesuatu itu boleh dan suci), karena ayat di atas menerangkan bahwa itu semua merupakan pemberian Allah kepada kita, tidak termasuk ke dalamnya hal-hal yang kotor. Dia menciptakan semua yang ada di bumi untuk kita manfaatkan. Oleh karena itu, jika ada bahaya di sana tidak termasuk bagiannya, dan termasuk sempurnanya nikmat Allah kepada kita adalah dengan dilarang-Nya juga sesuatu yang kotor dan membahayakan.

Dalam ayat di atas juga kita mengetahui betapa besar dan banyaknya nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikaruniakan-Nya kepada kita, dimana semua yang ada di bumi untuk kita, sehingga sudah sepatutnya kita mensyukurinya dengan beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.

[9]  Dengan keadaannya yang sempurna dan kuat tanpa ada retak dan celah.

[10] Sering sekali disebutkan Allah Maha Mengetahui setelah menerangkan penciptaan-Nya, karena penciptaan-Nya menunjukkan ilmu-Nya, hikmah-Nya, dan kekuasaan-Nya. Ilmu-Nya meliputi semua makhluk yang diciptakan-Nya.

Faedah/catatan:

Di dalam surat Fushshilat: 9-12 diterangkan lebih rinci penciptaan langit dan bumi, di sana dijelaskan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala pertama kali menciptakan bumi, kemudian menciptakan tujuh lapis langit, seperti inilah proses pembangunan, yaitu dimulai dari bagian bawah (pondasi), kemudian bagian atas.

Tentang firman Allah Ta’ala, “Dia-lah (Allah) yang menjadikan segala apa yang ada di bumi untukmu,” Mujahid berkata, “Allah menciptakan bumi sebelum langit. Setelah Dia menciptakan bumi, maka naiklah asap daripadanya, itulah firman-Nya ketika Dia berfirman, “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap…dst.”(Terj. Qs. Fushshilat: 11) dan firman-Nya, “Lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 29), ia (Mujahid) berkata, “Sebagiannya di atas sebagian yang lain, sedangkan tujuh bumi maksudnya sebagiannya di bawah yang lain.”

Adapun penghamparan bumi, dengan dipancarkan mata airnya, dan ditumbuhkan tumbuh-tumbuhannya serta dipancangkan dengan teguh gunung-gunungnya, maka hal itu dilakukan Allah Subhaanahu wa Ta'aala setelah penciptaan langit sebagaimana disebutkan di surat An Naazi’aat: 30-32.

Dari ayat 28-29 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) pengingkaran terhadap sikap kufur manusia kepada Allah, (2) bukti akan adanya Allah, bukti terhadap keesaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan rahmat-Nya, (3) halalnya semua yang ada di bumi, baik berupa makanan, minuman, pakaian, kendaraan dan lain-lain kecuali ada dalil khusus yang menerangkan keharamannya baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...