Senin, 29 Juni 2026

Seri 18 (surah Al Baqarah ayat 62-66)

 

Seri (18)


 

Ayat 62: Iman (masuk Islam) dan beramal saleh merupakan asas keselamatan dan kebahagiaan di setiap zaman.

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)  

62. [1]Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi[2], orang-orang Nasrani[3] dan orang-orang Shabiin[4], siapa saja (di antara) mereka yang benar beriman kepada Allah[5] dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati[6].

 

Ayat 63-66: Mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap sejarah nenek moyang mereka yang kelam, bagaimana mereka mendapatkan hukuman karena durhaka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, melanggar perjanjian dengan Allah, dan enggan melaksanakan syariat-Nya yang telah diturunkan.

 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (63) 

63. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu[7] dan Kami angkat gunung di atasmu[8] (seraya berfirman), "Pegang teguhlah[9] apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya[10], agar kamu bertakwa."

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (64)  

64. Kemudian setelah itu kamu berpaling[11]. Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya bagimu, pasti kamu termasuk orang yang rugi[12].

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65)    

65. [13]Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat[14], lalu Kami katakan kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina."[15]

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66)  

66. Maka Kami jadikan (yang demikian) itu sebagai peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian[16], serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa[17].


[1] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah Ta’ala telah menerangkan tentang orang-orang yang menyelisihi perintah-perintah-Nya dan mengerjakan larangan-larangan-Nya, dan melampaui batas dengan mengerjakan perbuatan yang tidak diizinkan serta melanggar kehormatan, demikian pula menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan bahwa barang siapa yang berbuat ihsan (beriman dan beramal saleh) dari kalangan umat-umat terdahulu dan melakukan ketaatan, maka dia akan memperoleh balasan yang terbaik (surga). Hal ini juga berlaku sampai hari Kiamat, yakni setiap orang yang mengikuti Rasul Nabi yang ummi, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dimana mereka tidak akan khawatir terhadap perkara yang akan datang di hadapan mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih terhadap perkara yang mereka tinggalkan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Terj. QS. Yunus: 62) demikian pula seperti yang dikatakan para malaikat kepada orang mukmin ketika ia akan wafat, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Terj. QS. Fushshilat: 30) (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67).

[2] Yahudi berasal dari kata ‘Hawadah’, yang artinya belas kasih dan tobat, seperti perkataan Nabi Musa ‘alaihis salam, “Innaa hudnaa ilaik.” (artinya: Sesungguhnya kami bertobat kepada-Mu). Mungkin mereka disebut demikian karena tobat mereka dan saling kasing-sayang antara sesama mereka. Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka disebut demikian karena nisbat mereka kepada Yahuda, yaitu anak paling besar di antara anak-anak Ya’qub. Adapun menurut Abu ‘Amr bin Al ‘Alaa’, bahwa mereka disebut Yahudi karena mereka bergerak-gerak ketika membaca Taurat. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67).

[3] Ketika Nabi Isa ‘alaihis salam diutus, maka orang-orang Bani Israil wajib mengikutinya, para pengikutnya dan para pemeluk agamanya disebut Nashara, bentuk jamak dari kata Nasrani. Mereka disebut demikian karena tolong-menolong yang dilakukan antar sesama mereka. Mereka juga disebut Anshar sebagaimana ucapan Nabi Isa ‘alaihis salam, Siapakah yang akan menjadi Anshar(penolong-penolong)ku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah," (Terj. Qs. Ash Shaff: 14). Ada pula yang mengatakan, bahwa mereka disebut Nashara karena mereka pernah menempati sebuah tempat yang disebut Nashirah (Nazaret), sebagaimana dikatakan Qatadah dan Ibnu Juraij, dan diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas seperti itu, wallahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67).

Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka disebut Nashara, karena Maryam pernah singgah bersama puteranya Isa di sebuah daerah yang disebut Nashirah (Nazaret).

[4] Tentang Shaabi’in, ada beberapa pendapat: Pertama, mereka adalah segolongan orang Nasrani yang paling lembut perkataannya. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Kedua, mereka adalah kaum antara Nasrani dan Majusi; mereka tidak punya agama. Hal ini dikatakan oleh Mujahid. Ketiga, mereka adalah kaum antara Yahudi dan Nasrani. Hal ini dikatakan oleh Sa’id bin Jubair. Keempat, mereka seperti orang-orang Majusi. Hal ini dikatakan oleh Al Hasan dan Al Hakam. Kelima, mereka adalah segolongan Ahli Kitab yang membaca kitab Zabur. Hal ini dikatakan oleh Abul ‘Aliyah. Keenam, mereka adalah orang-orang yang shalat menghadap kiblat dan menyembah malaikat, dan mereka membaca kitab Zabur. Hal ini dikatakan oleh Qatadah. Ketujuh, mereka adalah orang-orang yang mengucapkan Laailaahaillallah saja, namun mereka tidak punya amalan, kitab maupun nabi. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Lihat Zaadul Masiir oleh Ibnul Jauziy pada tafsir ayat 62 surah Al Baqarah).

Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka adalah orang-orang yang menyembah bintang-bintang. Menurut Ibnu Katsir, bahwa pendapat yang paling kuat -dan Allah yang paling tahu-, adalah pendapat Mujahid, orang-orang yang mengikutinya dan pendapat Wahb bin Munabbih, bahwa mereka adalah kaum yang bukan di atas agama Yahudi, Nasrani, Majusi maupun kaum musyrik, bahkan mereka adalah orang-orang yang masih tetap di atas fitrahnya, namun mereka tidak memiliki agama yang mereka ikuti dan lazimi. Oleh karena itulah, orang-orang musyrik menjuluki orang-orang yang masuk Islam dengan Shabi’. Sebagian ulama berkata, “Bahwa orang-orang shaabiin adalah orang-orang yang tidak sampai kepada mereka dakwah seorang nabi,” walahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67)

[5] Orang-orang yang beriman dari kalangan umat ini, begitu pula orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang mau beriman kepada Allah, termasuk juga beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beriman kepada hari akhir dan mengerjakan amalan yang saleh, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja (di antara) mereka yang benar beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” Ia berkata, “Kemudian Allah menurunkan ayat setelahnya yang berbunyi, Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Ibnu Katsir berkata, “Yang dikatakan Ibnu Abbas merupakan informasi bahwa tidak diterima suatu jalan hidup atau suatu amal kecuali jika sesuai dengan syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah diutusnya Beliau. Adapun sebelum Beliau diutus, maka setiap orang yang mengikuti Rasul di zamannya, maka ia berada di atas petunjuk dan jalan keselamatan.”

Ia juga berkata, “Ketika Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan sebagai rasul kepada manusia secara mutlak, maka mereka semua wajib membenarkan sabdanya, menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang hakiki, dan disebutkannya umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mukminin (orang-orang yang beriman) karena banyaknya keimanan mereka, kuatnya keyakinan mereka, dan karena mereka beriman kepada semua nabi yang terdahulu dan semua berita gaib yang akan datang.”

Abu Bakar Al Jazairiy berkata, “Keimanan yang benar tidaklah sempurna bagi seseorang kecuali dengan beriman kepada penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan amal saleh tidaklah terwujud kecuali dengan beriman kepada syariat yang dibawa Beliau yang ada dalam kitabnya dan yang diwahyukan kepadanya (dalam As Sunnah). Hal itu, karena dengan syariat Beliau, Allah menghapus semua syariat sebelumnya, dan karena syariat terdahulu sudah dihapus, maka tidak ada hasilnya, yakni tidak menyucikan jiwa seseorang dan tidak membersihkannya, sedangkan kebahagiaan di akhirat tergantung pada kesucian dan kebersihan jiwa.”

Intinya, untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa Jalla, diamankan dari rasa takut dan tidak bersedih hati adalah dengan beriman atau masuk Islam dan beramal saleh.

[6]  Disebutkannya ayat ini setelah sebelumnya menerangkan tindakan Bani Israil dan akhlak mereka yang buruk serta celaan kepada mereka di antara faedahnya adalah agar mereka (Bani Israil) tidak berputus asa untuk bertobat dan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni jika mereka mau merubah sikap dengan beriman (masuk Islam) dan beramal saleh, maka mereka akan memperoleh kemuliaan di dunia dan di akhirat (lihat juga surat Al Maa'idah: 65). Dalam ayat tersebut, Allah juga ingin menerangkan bahwa celaan tersebut hanyalah bagi mereka yang mengikuti jejak nenek moyang mereka yang salah. Dan agar tidak ada kesan bahwa hal ini khusus mereka, maka Allah menyebutkan juga bahwa tidak hanya mereka, bahkan umat yang lain; baik Yahudi, Nasrani, Shaabi'in dan umat lainnya jika mereka sama mau beriman dengan masuk Islam dan mau beramal saleh, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah, mereka tidak perlu takut dengan apa yang akan mereka hadapi berupa perkara akhirat, dan tidak perlu bersedih hati terhadap apa saja yang telah berlalu. Jika rasa takut telah hilang, maka yang ada adalah keamanan, dan ketika kesedihan telah hilang, maka yang ada adalah kebahagiaan.

Dari ayat 62 di atas kita dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) keimanan tidak hanya di lisan, tetapi harus dibenarkan oleh hati dan diamalkan dengan aggota badan, (2) wajibnya semua golongan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan masuk ke dalam Islam, (3) Mereka yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan kabar gembira berupa penyingkiran rasa takut sehingga mebuahkan keamanan, dan penyingkiran rasa sedih sehingga membuahkan kesenangan dan kebahagiaan.

[7]  Janji untuk beriman kepada Allah dan hanya beribadah kepada-Nya serta beriman kepada rasul-rasul-Nya.

[8] Jika mereka menolak, maka akan ditimpakan kepada mereka gunung tersebut.

[9] Yakni bersungguh-sungguh dan bersabarlah dalam menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla.

Mujahid berkata tentang firman-Nya, “Biquwwah,” yakni mengamalkan apa yang ada di dalamnya.

[10] Menurut Abul ‘Aliyah dan Ar Rabii’, bahwa maksudnya adalah, bacalah Taurat itu dan amalkanlah.

[11]  Mereka berpaling untuk kesekian kalinya.

[12] Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang memberikan taufiq untuk bertobat dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka tentu mereka termasuk orang-orang yang rugi di dunia dan akhirat, karena mereka telah melanggar perjanjian.

[13] Setelah Allah menyebutkan sejumlah nikmat-nikmat-Nya kepada Bani Israil, maka Dia menyebutkan peringatan keras kepada mereka, termasuk terkait kisah penyembelihan sapi betina. Yang demikian karena pelanggaran yang mereka lakukan dan sikap menyusahkan diri.

[14] Hari Sabat ialah hari Sabtu, hari khusus bagi orang yahudi untuk beribadah, bukan untuk bekerja; namun mereka memanfaatkannya untuk menjaring ikan.

Ibnu Katsir berkata tentang ayat di atas, “Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, kamu telah mengetahui,” wahai orang-orang Yahudi, hukuman yang menimpa penduduk kampung yang durhaka kepada perintah Allah dan menyelisihi perjanjian-Nya yang diambil-Nya dari mereka, yaitu (keharusan) memuliakan hari Sabtu dan melaksanakan perintah-Nya (dengan beribadah pada hari itu) karena disyariatkan kepada mereka, lalu mereka mencari helat (tipu daya) untuk dapat menjaring ikan yang berkumpul pada hari Sabtu dengan meletakkan perangkap, tali dan galian sebelum hari Sabtu. Ketika tiba hari Sabtu dan seperti biasanya banyak ikan pada hari itu, maka ikan-ikan itu terjaring di perangkap-perangkap itu dan tidak ada satu ikan pun yang lolos. Ketika tiba malam harinya setelah habis hari Sabtu, maka mereka mengambil ikan-ikan itu, saat mereka melakukannya, maka Allah rubah bentuk mereka menjadi bentuk kera, dimana ia adalah binatang yang paling mirip dengan manusia dalam penampilan luarnya, tetapi bukan manusia hakiki. Demikianlah amalan dan tipu daya mereka karena mirip dengan kebenaran di luarnya namun menyelisihi batinnya, maka mereka dibalas sesuai dengan amal yang mereka kerjakan. “ (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 68)

Kisahnya bisa dibaca dalam surat Al A'raaf: 163.

[15] Jumhur (mayoritas) mufassir menafsirkan bahwa mereka betul-betul berubah menjadi kera, hanyasaja tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidupnya tidak lebih dari tiga hari.

Al ‘Aufi menyebutkan tafsir ayat, “Lalu Kami katakan kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina" dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Maka Allah menjadikan mereka kera dan babi, ia menyebutkan, bahwa yang mudanya menjadi kera, sedangkan yang tua menjadi babi.”

Syaiban An Nahwiy meriwayatkan dari Qatadah tentang ayatLalu Kami katakan kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina," ia berkata, “Orang-orang itu pun menjadi kera yang berkerumun dan memiliki ekor setelah sebelumnya mereka sebagai laki-laki dan wanita.”

Adh Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Maka Allah merubah bentuk mereka menjadi kera karena kemaksiatan mereka,” Ia berkata lagi, “Mereka tidak hidup di bumi selain tiga hari.” Ia juga berkata, “Tidak ada yang dikutuk dengan perubahan bentuk yang dapat hidup lebih dari tiga hari, ia tidak makan, minum dan tidak berketurunan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menciptakan kera, babi dan semua makhluk dalam waktu enam hari seperti yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya, lalu Dia merubah bentuk mereka itu menjadi kera. Demikianlah Dia berbuat yang Dia kehendaki kepada siapa yang Dia kehendaki dan mengubahnya sebagaimana yang Dia kehendaki.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 68)

[16] Sehingga hujjah telah tegak dan agar mereka tidak bermaksiat kepada-Nya.

[17] Sehingga mereka dapat bersabar di atas ketakwaan, dan peringatan itu hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa saja.

Imam Abu Abdillah bin Baththah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad bin Ash Shabaah Az Za’faraaniy, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَرْتَكِبُوْا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُوْدُ، فَتَسْتَحِلُّوْا مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ

“Janganlah kamu melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, mereka menganggap halal larangan Allah dengan helat (tipu daya) yang paling rendah.” (Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Isnad ini jayyid, Ahmad bin Muhammad bin Muslim ini ditsiqahkan oleh Al Hafizh Abu Bakar Al Khathib Al Baghdadi, sedangkan perawi-perawi yang lainnya masyhur sesuai syarat shahih, wallahu a’lam.”)

Dari beberapa ayat di atas (ayat 63-66) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya seperti yang disimpulkan Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy dalam Tafsirnya: (1) wajibnya memenuhi perjanjian, (2) wajibnya berpegang teguh dengan syariat, demikian pula mengingatnya dan tidak melupakannya, (3) ketakwaan seorang hamba tidaklah sempurna sampai ia berpegang teguh dengan syariat, (4) haramnya mencari celah untuk menghalalkan yang haram, dan akibat mereka yang mencari celah lagi melanggar aturan, dan (5) terkadang Allah menyegerakan hukuman kepada sebagian pelaku maksiat di dunia sebelum di akhirat agar menjadi pelajaran bagi manusia sehingga mereka tidak berani mendatangi larangan Allah Azza wa Jalla.

Kamis, 25 Juni 2026

Seri 17 (Surah Al Baqarah ayat 58-61

 

Seri (17)

 


Ayat 58-61: Membicarakan tentang watak keras Bani Israil, menyingkap keadaan mereka kepada kaum muslimin, sejarah mereka yang kelam,  dan isi hati mereka yang penuh dengan keburukan, perkara kotor dan rencana jahat terhadap kaum mukmin, dan menyebutkan pembalasan terhadap sikap dan perbuatan mereka, serta balasan bagi orang-orang yang beriman.

 

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58)  

58. [1]Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman, "Masuklah ke negeri ini (Baitulmaqdis), maka makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud[2], dan katakanlah, "Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami),[3]" niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan Kami akan menambah (karunia)[4] bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (59)  

59. Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka[5]. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka (selalu) berbuat fasik[6].

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (60) 

60. Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya[7], lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!"[8] Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing)[9]. Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah[10], dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan[11].

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (61)  

61. Dan (ingatlah)[12], ketika kamu berkata[13], "Wahai Musa![14] kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti: sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah." Dia (Musa) menjawab, "Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?[15] Pergilah ke suatu kota[16], pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta." Kemudian mereka ditimpa[17] kenistaan[18] dan kemiskinan[19], dan mereka (kembali) membawa kemurkaan dari Allah[20]. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah[21] dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas[22].


[1] Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala berfirman mencela Bani Israil karena mundur dari berjihad dan enggan masuk ke negeri suci ketika mereka baru tiba dari negeri Mesir bersama Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu mereka disuruh masuk ke negeri suci dan memerangi orang-orang yang berada di dalamnya yang terdiri dari kaum Amaliqah yang kafir, tetapi mereka menolak maju, merasa lemah dan patah semangat, sehingga Allah menyesatkan mereka di padang pasir sebagai hukuman bagi mereka sebagaimana yang disebutkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala di surat Al Ma’idah: 21-26. Oleh karena itu, menurut pendapat yang sahih di antara kedua pendapat, bahwa negeri tersebut adalah negeri Baitulmaqdis sebagaimana yang disebutkan oleh As Suddiy, Ar Rabii’ bin Anas, Qatadah, Abu Muslim Al Ashfahaani dan lainnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga berfirman mengisahkan perkataan Nabi Musa, Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Terj. Qs. Al Ma’idah: 21) menurut yang lain, bahwa negeri tersebut adalah Ariha, dan pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abdurrahman bin Zaid.

As Suddiy berkata, “Ariha adalah salah satu daerah di Baitulmaqdis.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan, hal ini terjadi ketika mereka telah keluar dari padang sahara setelah mereka tersesat selama 40 tahun bersama Yusya’ bin Nun ‘alaihis salam, kemudian Allah memberikan kemenangan kepada mereka pada sore hari Jum’at. Pada hari itu, perjalanan matahari ditahan sebentar agar mereka memperoleh kemenangan. Ketika mereka telah berhasil menaklukkannya, maka mereka diperintahkan untuk masuk ke gerbang pintu Baitulmaqdis dalam keadaan bersujud, yakni sebagai rasa syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas nikmat-Nya yang dikaruniakan-Nya kepada mereka berupa kemenangan dan pertolongan, mengembalikan negeri mereka kepada mereka, serta menyelamatkan mereka dari tersesat di padang sahara.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 64)

[2] Ini termasuk nikmat Allah kepada mereka. Setelah mereka berbuat maksiat kepada-Nya, Allah memerintahkan mereka masuk ke sebuah negeri yang di sana terdapat kemuliaan bagi mereka dan bisa mereka jadikan sebagai tempat tinggal, di samping mereka akan memperoleh rezeki yang banyak. Ketika mereka hendak masuk ke negeri itu, mereka diperintahkan untuk masuk sambil menundukkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan bersujud dan mengucapkan kata-kata yang disebutkan pada ayat di atas.

Al ‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud.” Ia berkata, “Yaitu sambil ruku.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud.” Ia berkata, “Yaitu sambil ruku’ melalui pintu yang kecil.” Hakim juga meriwayatkan atsar ini, dan Ibnu Abi Hatim menambahkan, “Maka mereka pun masuk dengan mengesotkan bokong mereka.”

Al Hasan Al Bashri berkata, “Mereka diperintahkan sujud di atas wajahnya ketika masuk.”

Sebagian ulama tafsir berpendapat, bahwa maksud sujud di sini adalah tunduk.

Khashif meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Pintu tersebut letaknya berhadapan dengan arah kiblat.”

Ibnu Abbas, Mujahid, As Suddiy, Qatadah dan Adh Dhahhak berkata, bahwa Babulhiththah adalah salah satu pintu gerbang masuk ke kota Iliya Baitulmaqdis.

Ar Raziy meriwayatkan dari sebagian ulama, bahwa yang dimaksud dengan pintu tersebut adalah salah satu dari arah kiblat.

Khashif meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Maka mereka pun masuk dengan cara miring.”

As Suddiy meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Azdi dari Abu Al Kanud dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Dikatakan kepada mereka, “Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud,” maka mereka pun masuk dalam keadaan mengangkat kepala mereka, tidak sesuai dengan yang diperintahkan.

[3] Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan katakanlah, "Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami),” Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa maksudnya adalah mintalah ampunan. Al Hasan dan Qatadah berkata, “Gugurkanlah kesalahan kami, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan Kami akan menambah (karunia),” ayat ini merupakan jawab amr(perintah)nya. Dengan kata lain, jika kamu mengerjakan yang Kami perintahkan, maka Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kamu dan Kami akan melipatgandakan kebaikan kamu.

Kesimpulannya, bahwa mereka diperintahkan untuk tunduk kepada Allah Ta’ala ketika memperoleh kemenangan, baik dengan perbuatan maupun ucapan, mengakui dosa-dosa mereka dan memohon ampunan darinya, bersyukur terhadap nikmat pada saat itu serta bersegera melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala di surah An Nashr: 1-3.

[4]  Allah Ta'ala akan menambahkan karunia, balasan kebaikan di dunia dan akhirat, melipatgandakan kebaikan dan pahala.

[5] Mereka rubah kata-kata dan perbuatan yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak menundukkan diri dalam perbuatan dan perkataan, tetapi malah mengesotkan bokong mereka ke tanah sambil mengangkat kepala mereka. Mereka tidak mengucapkan "Bebaskanlah kami dari dosa-dosa,” bahkan mengatakan "sebutir biji dalam sebuah gandum," meremehkan perintah Allah dan mempermainkan agama-Nya. Hal ini sebagaimana dalam hadits berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

قِيلَ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ يُغْفَرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ فَبَدَّلُوا فَدَخَلُوا الْبَابَ يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاهِهِمْ وَقَالُوا حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ

"Dikatakan kepada Bani Israil, “Masuklah pintu itu dalam keadaan sujud dan katakanlah, 'Hitthah' (ampunilah dosa-dosa kami) niscaya akan diampuni kesalahan-kesalahan kamu, lalu mereka mengganti dan memasuki pintu itu seraya merangkak di atas bokong-bokong mereka dan mereka berkata, “Habbah (biji) dalam sya’ir (sejenis gandum)." (Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan siksa-Nya dan azab-Nya karena kefasikan mereka, yakni keluarnya mereka dari ketaatan kepada-Nya.

[6] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan azab dari langit karena mereka selalu berbuat fasik; tidak mau menuruti perintah Allah Azza wa Jalla.

Adh Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Segala sesuatu yang ada di kitab Allah yang disebut dengan ungkapan rijz, maka maksudnya azab.” Hal ini juga diriwayatkan dari Mujahid, Abu Malik, As Suddiy, Al Hasan dan Qatadah, bahwa maksud rijz adalah azab.

Menurut sebagian mufassir, bahwa azab yang Allah turunkan berupa penyakit tha’un kepada mereka.

Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iriy dalam Aisarut Tafasir menyimpulkan beberapa kandungan dari ayat di atas, di antaranya: (1) mengingatkan anak keturunan (Bani Israil) dengan peristiwa yang menimpa nenek moyangnya agar diambil pelajaran, (2) meninggalkan jihad menyebabkan kehinaan dan kerugian bagi umat, (3) peringatan tentang akibat dari berbuat zalim, fasik, dan melanggar perintah syariat, (4) haramnya mentakwil nash-nash syar’i hingga keluar dari maksud syariat, (5) keutamaan bersikap ihsan (baik) dalam ucapan maupun perbuatan.

[7]  Saat mereka kehausan di padang sahara.

Maksud ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan ingatlah nikmat-Ku kepadamu ketika Aku mengabulkan doa Nabimu Musa ‘alaihis salam ketika ia meminta air minum kepada-Ku, demikian pula Aku mudahkan kamu untuk memperoleh air; dikeluarkannya air itu dari batu yang ada bersamamu, dan Aku pancarkan air untukmu dari 12 mata air, masing-masing suku dari kalangan kamu memiliki mata air yang mereka kenali, maka makanlah Manna dan Salwa, dan minumlah air ini yang telah Aku keluarkan untukmu tanpa usaha dan susah payah darimu, dan sembahlah Allah yang telah menundukkan itu semua bagimu dan janganlah kamu berkeliaran di bumi melakukan kerusakan, dan jangan pula kamu balas nikmat-nikmat yang ada dengan kemaksiatan sehingga kenikmatan itu dicabut darimu.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 65)

Ibnu Abbas berkata, “Allah mengadakan di tengah-tengah mereka batu persegi, lalu memerintahkan Musa untuk memukul batu itu dengan tongkatnya, maka memancarlah daripadanya 12 mata air, dimana pada masing-masing sudutnya ada 3 mata air, Musa memberitahukan kepada masing-masing suku mata airnya, mereka pun meminum daripadanya, dan mereka tidak pindah ke tempat yang lain, kecuali mereka temukan hal itu sama seperti di tempat yang pertama.”

[8] Yakni tongkat yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam sejak keluar dari negeri Madyan.

[9] Sesuai jumlah suku Bani Israil sebagaimana tersebut dalam surat Al A'raaf ayat 160 dengan diberitahukan di mana tempat masing-masingnya agar mereka tidak bertengkar.

[10]  Rezeki itu diberikan Allah Ta'ala kepada mereka tanpa kerja keras dan susah payah.

[11]  Berbuat kerusakan adalah dengan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dalam semua sisi kehidupan.

[12] Menurut Ibnu Katsir, maksudnya, “Dan ingatlah nikmat-Ku kepadamu ketika Aku menurunkan Al Mann dan Salwa kepadamu sebagai makanan yang baik, bermanfaat, enak dan mudah diperoleh, dan ingat pula berpalingnya kamu dan bosannya kamu kepada rezeki yang Kami karuniakan kepadamu, dan permintaan kamu kepada Musa makanan-makanan rendah sebagai gantinya yang berupa sayuran dan semisalnya."

[13]  Dengan sikap bosan dan menganggap rendah tanda tidak bersyukur.

[14]  Memanggil Nabi mereka dengan menyebut Musa tanpa menyebut “wahai Nabi Allah atau wahai Rasulullah” menunjukkan buruknya adab mereka.

Dalam ayat ini juga terdapat dalil bolehnya bertawassul dalam berdoa dengan perantaraan orang yang saleh, masih hidup, dan ada di hadapan.

[15]  Maksudnya, "Apakah kalian masih mencari makanan yang lebih rendah nilainya dan meninggalkan rezeki bermanfaat yang telah dipilihkan Allah Ta'ala untuk kalian?!" Dalam perkataan ini terdapat celaan dan teguran keras kepada mereka karena meminta makanan-makanan yang rendah padahal kehidupan mereka sudah lapang dan makanan mereka adalah makanan yang enak, baik lagi bermanfaat. Kalimat ini juga mengandung larangan bagi kita mengganti hal yang baik dengan yang tidak baik, seperti mengganti suatu sunnah dengan suatu bid'ah.

Oleh karena permintaan mereka ini termasuk ke dalam kategori keterlaluan, sombong, dan tidak patut sekali maka permintaan mereka tidak dipenuhi, wallahu a’lam.

[16] Kata Mishr atau kota di ayat ini ada yang menafsirkan dengan negeri Mesir, sebagaimana yang dikatakan Abul ‘Aliyah dan Ar Rabii’ bin Anas. Namun menurut Ibnu Katsir, yang benar bahwa maksud Mishr adalah kota di antara kota-kota yang ada sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lainnya. Ditafsirkan dengan kota, karena Nabi Musa ‘alaihis salam berkata kepada mereka, “Permintaanmu ini bukanlah perkara sulit, bahkan makanan itu banyak di kota mana pun, yang jika kamu mendatangi tentu kamu akan menemukannya, oleh karena itu untuk makanan yang rendah dan banyak ditemukan di berbagai kota itu, tidak pantas aku mintakan kepada Allah.”

[17] Yakni ditimpakan dan ditetapkan baik secara syara’ maupun taqdir.

[18] Kehinaan yang tampak pada zhahir (lahiriah) mereka.

[19] Karena lebih mengedepankan hawa nafsu daripada apa yang telah dipilihkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk mereka. Kata ‘Maskanah’ di ayat ini bisa maksudnya kemiskinan sebagaimana dikatakan Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’ bin Anas dan As Suddiy, dan bisa maksudnya mereka dikenakan pajak sebagaimana dikatakan ‘Athiyyah Al ‘Aufi.

Oleh karena itu, orang yang menjumpai mereka, maka ia akan menghinakan dan merendahkan mereka, di samping keadaan mereka yang hina dan rendah. Al Hasan berkata, “Allah menghinakan mereka sehingga mereka tidak memiliki kewibawaan, dan dijadikan mereka di bawah kaum muslimin. Sungguh, umat ini telah menemukan mereka, sedangkan orang-orang Majusi menarik jizyah (pajak) dari mereka.”

Dalam ayat ini juga dapat kita ambil pelajaran, bahwa barang siapa yang menyelisihi nabi yang diutus kepadanya, maka dia akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Aku diutus sebelum hari Kiamat dengan membawa pedang sampai Allah saja yang disembah tidak ada sekutu bagi-Nya, dijadikan rezekiku di bawah naungan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka." (Hr. Ahmad, Abu Ya'la, dan Thabrani dari Ibnu Umar, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2831).

[20] Karena berpaling dari agama Allah, mengingkari ayat-ayat-Nya, menghina para pemikul syariat (para nabi dan pewarisnya) bahkan sampai melakukan pembunuhan kepada nabi-nabi mereka. Seperti inilah hati ketika sudah menjadi keras.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ قَتَلَهُ نَبِيٌّ أَوْ قَتَلَ نَبِيًّا وَإِمَامُ ضَلَالَةٍ وَمُمَثِّلٌ مِنْ الْمُمَثِّلِينَ

"Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang dibunuh oleh Nabi, atau orang yang membunuh Nabi dan pemimpin yang sesat serta orang yang menggambar (pelukis makhluk bernyawa)." (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1000).

[21] Ayat-ayat yang ditunjukkan Allah Ta'ala begitu jelas bagi mereka, namun mereka ingkari.

[22] Kerasnya hati mereka disebabkan mereka selalu bermaksiat kepada Allah dan melampaui batas terhadap hamba-hamba Allah dengan berbuat zalim kepada mereka. Awalnya sikap lalai yang mengakibatkan jatuh ke dalam dosa-dosa kecil, ketika sering dilakukan bisa mengakibatkan jatuh ke dalam dosa-dosa besar dan akhirnya bisa mengakibatkan jatuh ke dalam bid'ah, kekufuran dan penyimpangan lainnya, kita meminta kepada Allah agar dilindungi dari setiap bala'.

Perlu diketahui, bahwa ayat ini ditujukan kepada umat Bani Israil yang ada sewaktu diturunkannya Al Qur'an. Tindakan-tindakan Bani Israil yang disebutkan pada ayat-ayat di atas adalah tindakan Bani Israil terdahulu, namun dinisbatkan kepada Bani Israil yang ada pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah karena beberapa faedah, di antaranya:

Pertama, mereka sebelumnya berbangga diri, memuji dan menganggap lebih tinggi di atas umat yang lain, maka Allah mengingatkan bahwa nenek moyang mereka bukanlah orang-orang yang berakhlak mulia, bukanlah orang-orang yang sabar, bahkan biasa bermaksiat. Dengan begitu, mereka tidak berbangga diri lagi.

Kedua, nikmat yang diberikan Allah kepada nenek moyang mereka merupakan nikmat juga bagi generasi setelahnya.

Ketiga, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh mereka (Bani Israil) pada umumnya tidak diingkari, padahal meridhai kemungkaran sama saja ikut serta di dalamnya.

Dan faedah lainnya yang begitu banyak yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla.

Ayat di atas juga menunjukkan baiknya memberi nasihat disertai menyebutkan nikmat Allah kepadanya, orang yang mendapatkan nikmat hendaknya mensyukurinya, celaan terhadap adab dan akhlak yang buruk, peringatan terhadap dosa-dosa besar seperti kufur, membunuh dengan tanpa alasan yang benar, apalagi yang dibunuh adalah para nabi atau para pewarisnya, yaitu para ulama yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah umat ini, dan lain-lain.

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...