Seri (18)
Ayat 62:
Iman (masuk Islam) dan beramal saleh merupakan asas keselamatan dan kebahagiaan
di setiap zaman.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى
وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ
أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)
62. [1]Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi[2],
orang-orang Nasrani[3]
dan orang-orang Shabiin[4],
siapa saja (di antara) mereka yang benar beriman kepada Allah[5]
dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya,
tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati[6].
Ayat
63-66: Mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap sejarah nenek moyang mereka
yang kelam, bagaimana mereka mendapatkan hukuman karena durhaka kepada Allah ‘Azza
wa Jalla, melanggar perjanjian dengan Allah, dan enggan melaksanakan
syariat-Nya yang telah diturunkan.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ
الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(63)
63. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil
janji kamu[7]
dan Kami angkat gunung di atasmu[8]
(seraya berfirman), "Pegang teguhlah[9]
apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya[10],
agar kamu bertakwa."
ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (64)
64. Kemudian setelah itu kamu berpaling[11].
Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya bagimu, pasti kamu termasuk
orang yang rugi[12].
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا
لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65)
65. [13]Dan
sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara
kamu pada hari Sabat[14],
lalu Kami katakan kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina."[15]
فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً
لِلْمُتَّقِينَ (66)
[1] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah Ta’ala
telah menerangkan tentang orang-orang yang menyelisihi perintah-perintah-Nya
dan mengerjakan larangan-larangan-Nya, dan melampaui batas dengan mengerjakan
perbuatan yang tidak diizinkan serta melanggar kehormatan, demikian pula
menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa
Ta'aala mengingatkan bahwa barang siapa yang berbuat ihsan (beriman dan beramal
saleh) dari kalangan umat-umat terdahulu dan melakukan ketaatan, maka dia akan
memperoleh balasan yang terbaik (surga). Hal ini juga berlaku sampai hari
Kiamat, yakni setiap orang yang mengikuti Rasul Nabi yang ummi, maka ia akan
mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dimana mereka tidak akan khawatir terhadap
perkara yang akan datang di hadapan mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih
terhadap perkara yang mereka tinggalkan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Ingatlah, sesungguhnya
wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.” (Terj. QS. Yunus: 62) demikian pula seperti yang dikatakan para
malaikat kepada orang mukmin ketika ia akan wafat, “Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan,
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Terj. QS. Fushshilat: 30) (Lihat Al
Mishbahul Munir hal. 67).
[2] Yahudi berasal dari kata ‘Hawadah’, yang artinya belas
kasih dan tobat, seperti perkataan Nabi Musa ‘alaihis salam, “Innaa hudnaa
ilaik.” (artinya: Sesungguhnya kami bertobat kepada-Mu). Mungkin mereka disebut
demikian karena tobat mereka dan saling kasing-sayang antara sesama mereka.
[3] Ketika Nabi Isa ‘alaihis salam diutus, maka orang-orang
Bani Israil wajib mengikutinya, para pengikutnya dan para pemeluk agamanya
disebut Nashara, bentuk jamak dari kata Nasrani. Mereka disebut demikian karena
tolong-menolong yang dilakukan antar sesama mereka. Mereka juga disebut Anshar sebagaimana
ucapan Nabi Isa ‘alaihis salam, “Siapakah yang akan menjadi Anshar(penolong-penolong)ku
(untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata,
"Kamilah penolong-penolong agama Allah," (Terj. Qs. Ash Shaff: 14).
Ada pula yang mengatakan, bahwa mereka disebut Nashara karena mereka pernah
menempati sebuah tempat yang disebut Nashirah (Nazaret), sebagaimana
dikatakan Qatadah dan Ibnu Juraij, dan diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas
seperti itu, wallahu a’lam. (Lihat Al
Mishbahul Munir hal. 67).
Ada
pula yang berpendapat, bahwa mereka disebut Nashara, karena Maryam pernah singgah
bersama puteranya Isa di sebuah daerah yang disebut Nashirah (Nazaret).
[4] Tentang
Shaabi’in, ada beberapa pendapat: Pertama, mereka adalah segolongan
orang Nasrani yang paling lembut perkataannya. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu
Abbas. Kedua, mereka adalah kaum antara Nasrani dan Majusi; mereka tidak
punya agama. Hal ini dikatakan oleh Mujahid. Ketiga, mereka adalah kaum
antara Yahudi dan Nasrani. Hal ini dikatakan oleh Sa’id bin Jubair. Keempat,
mereka seperti orang-orang Majusi. Hal ini dikatakan oleh Al Hasan dan Al
Hakam. Kelima, mereka adalah segolongan Ahli Kitab yang membaca kitab
Zabur. Hal ini dikatakan oleh Abul ‘Aliyah. Keenam, mereka adalah orang-orang
yang shalat menghadap kiblat dan menyembah malaikat, dan mereka membaca kitab
Zabur. Hal ini dikatakan oleh Qatadah. Ketujuh, mereka adalah orang-orang
yang mengucapkan Laailaahaillallah saja, namun mereka tidak punya amalan, kitab
maupun nabi. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Lihat Zaadul Masiir oleh
Ibnul Jauziy pada tafsir ayat 62 surah Al Baqarah).
[5] Orang-orang
yang beriman dari kalangan umat ini, begitu pula orang-orang Yahudi, Nasrani
dan Shabiin yang mau beriman kepada Allah, termasuk juga beriman kepada Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beriman kepada hari akhir dan
mengerjakan amalan yang saleh, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah.
Ali bin Abi
Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja (di antara) mereka yang benar beriman kepada
Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari
Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”
Ia berkata, “Kemudian Allah menurunkan ayat setelahnya yang berbunyi, “Barang
siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(Qs. Ali Imran: 85)
Ibnu Katsir
berkata, “Yang dikatakan Ibnu Abbas merupakan informasi bahwa tidak diterima
suatu jalan hidup atau suatu amal kecuali jika sesuai dengan syariat Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah diutusnya Beliau. Adapun sebelum
Beliau diutus, maka setiap orang yang mengikuti Rasul di zamannya, maka ia
berada di atas petunjuk dan jalan keselamatan.”
Ia juga berkata,
“Ketika Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
sebagai penutup para nabi dan sebagai rasul kepada manusia secara mutlak, maka
mereka semua wajib membenarkan sabdanya, menaati perintahnya dan menjauhi
larangannya. Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang hakiki, dan
disebutkannya umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mukminin (orang-orang
yang beriman) karena banyaknya keimanan mereka, kuatnya keyakinan mereka, dan karena
mereka beriman kepada semua nabi yang terdahulu dan semua berita gaib yang akan
datang.”
Abu Bakar Al
Jazairiy berkata, “Keimanan yang benar tidaklah sempurna bagi seseorang kecuali
dengan beriman kepada penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi
wa sallam, dan amal saleh tidaklah terwujud kecuali dengan beriman kepada
syariat yang dibawa Beliau yang ada dalam kitabnya dan yang diwahyukan
kepadanya (dalam As Sunnah). Hal itu, karena dengan syariat Beliau, Allah
menghapus semua syariat sebelumnya, dan karena syariat terdahulu sudah dihapus,
maka tidak ada hasilnya, yakni tidak menyucikan jiwa seseorang dan tidak
membersihkannya, sedangkan kebahagiaan di akhirat tergantung pada kesucian dan
kebersihan jiwa.”
Intinya, untuk
memperoleh pahala dari Allah Azza wa Jalla, diamankan
dari rasa takut dan tidak bersedih hati adalah dengan
beriman atau masuk Islam dan beramal saleh.
[6] Disebutkannya ayat ini setelah sebelumnya
menerangkan tindakan Bani Israil dan akhlak mereka yang buruk serta celaan kepada
mereka di antara faedahnya adalah agar mereka (Bani Israil) tidak berputus asa
untuk bertobat dan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
yakni jika mereka mau merubah sikap dengan beriman (masuk Islam) dan beramal
saleh, maka mereka akan memperoleh kemuliaan di dunia dan di akhirat (lihat
juga surat Al Maa'idah: 65). Dalam ayat tersebut, Allah juga ingin menerangkan
bahwa celaan tersebut hanyalah bagi mereka yang mengikuti jejak nenek moyang
mereka yang salah. Dan agar tidak ada kesan bahwa hal ini khusus mereka, maka
Allah menyebutkan juga bahwa tidak hanya mereka, bahkan umat yang lain; baik
Yahudi, Nasrani, Shaabi'in dan umat lainnya jika mereka sama mau beriman dengan
masuk Islam dan mau beramal saleh, maka mereka akan mendapat
pahala dari Allah, mereka tidak perlu takut dengan apa yang akan mereka hadapi
berupa perkara akhirat, dan tidak perlu bersedih hati terhadap apa saja yang telah berlalu. Jika rasa takut
telah hilang, maka yang ada adalah keamanan, dan ketika kesedihan telah hilang,
maka yang ada adalah kebahagiaan.
Dari ayat 62 di atas kita
dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) keimanan tidak hanya di
lisan, tetapi harus dibenarkan oleh hati dan diamalkan dengan aggota badan, (2)
wajibnya semua golongan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam dan masuk ke dalam Islam, (3) Mereka yang beriman dan beramal saleh akan
mendapatkan kabar gembira berupa penyingkiran rasa takut sehingga mebuahkan
keamanan, dan penyingkiran rasa sedih sehingga membuahkan kesenangan dan
kebahagiaan.
[7] Janji untuk beriman kepada Allah dan hanya
beribadah kepada-Nya serta beriman kepada rasul-rasul-Nya.
[8] Jika mereka menolak, maka akan ditimpakan kepada
mereka gunung tersebut.
[9] Yakni bersungguh-sungguh dan bersabarlah dalam menjalankan
perintah Allah Azza wa Jalla.
Mujahid berkata tentang firman-Nya, “Biquwwah,”
yakni mengamalkan apa yang ada di dalamnya.
[10] Menurut Abul ‘Aliyah dan Ar Rabii’, bahwa maksudnya
adalah, bacalah Taurat itu dan amalkanlah.
[11] Mereka berpaling untuk kesekian kalinya.
[12] Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang
memberikan taufiq untuk bertobat dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka
tentu mereka termasuk orang-orang yang rugi di dunia dan akhirat, karena mereka
telah melanggar perjanjian.
[13] Setelah Allah menyebutkan sejumlah nikmat-nikmat-Nya
kepada Bani Israil, maka Dia menyebutkan peringatan keras kepada mereka,
termasuk terkait kisah penyembelihan sapi betina. Yang demikian karena
pelanggaran yang mereka lakukan dan sikap menyusahkan diri.
[14] Hari
Sabat ialah hari Sabtu, hari khusus bagi orang yahudi untuk beribadah, bukan
untuk bekerja; namun mereka memanfaatkannya untuk menjaring ikan.
Ibnu Katsir berkata tentang ayat di atas,
“Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, kamu telah mengetahui,”
wahai orang-orang Yahudi, hukuman yang menimpa penduduk kampung yang durhaka
kepada perintah Allah dan menyelisihi perjanjian-Nya yang diambil-Nya dari
mereka, yaitu (keharusan) memuliakan hari Sabtu dan melaksanakan perintah-Nya
(dengan beribadah pada hari itu) karena disyariatkan kepada mereka, lalu mereka
mencari helat (tipu daya) untuk dapat menjaring ikan yang berkumpul pada hari
Sabtu dengan meletakkan perangkap, tali dan galian sebelum hari Sabtu. Ketika
tiba hari Sabtu dan seperti biasanya banyak ikan pada hari itu, maka ikan-ikan
itu terjaring di perangkap-perangkap itu dan tidak ada satu ikan pun yang
lolos. Ketika tiba malam harinya setelah habis hari Sabtu, maka mereka
mengambil ikan-ikan itu, saat mereka melakukannya, maka Allah rubah bentuk
mereka menjadi bentuk kera, dimana ia adalah binatang yang paling mirip dengan
manusia dalam penampilan luarnya, tetapi bukan manusia hakiki. Demikianlah
amalan dan tipu daya mereka karena mirip dengan kebenaran di luarnya namun
menyelisihi batinnya, maka mereka dibalas sesuai dengan amal yang mereka
kerjakan. “ (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 68)
Kisahnya bisa dibaca dalam
[15] Jumhur
(mayoritas) mufassir menafsirkan bahwa mereka betul-betul berubah menjadi kera,
hanyasaja tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidupnya tidak lebih dari
tiga hari.
Al
‘Aufi menyebutkan tafsir ayat, “Lalu Kami katakan kepada mereka,
"Jadilah kamu kera yang hina" dari
Syaiban
An Nahwiy meriwayatkan dari Qatadah
tentang ayat “Lalu Kami katakan kepada mereka:
"Jadilah kamu kera yang hina," ia berkata, “Orang-orang itu pun
menjadi kera yang berkerumun dan memiliki ekor setelah sebelumnya mereka
sebagai laki-laki dan wanita.”
Adh
Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Maka Allah merubah bentuk mereka menjadi
kera karena kemaksiatan mereka,” Ia berkata lagi, “Mereka tidak hidup di bumi
selain tiga hari.” Ia juga berkata, “Tidak ada yang dikutuk dengan perubahan
bentuk yang dapat hidup lebih dari tiga hari, ia tidak makan, minum dan tidak
berketurunan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menciptakan kera, babi dan
semua makhluk dalam waktu enam hari seperti yang Allah sebutkan dalam
kitab-Nya, lalu Dia merubah bentuk mereka itu menjadi kera. Demikianlah Dia
berbuat yang Dia kehendaki kepada siapa yang Dia kehendaki dan mengubahnya sebagaimana
yang Dia kehendaki.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 68)
[16] Sehingga hujjah telah tegak dan agar mereka tidak
bermaksiat kepada-Nya.
[17] Sehingga mereka dapat bersabar di atas ketakwaan, dan
peringatan itu hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa
saja.
Imam Abu Abdillah bin Baththah berkata,
“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Muslim, telah
menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad bin Ash Shabaah Az Za’faraaniy,
telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun: Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَرْتَكِبُوْا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُوْدُ، فَتَسْتَحِلُّوْا
مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ
“Janganlah
kamu melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, mereka
menganggap halal larangan Allah dengan helat (tipu daya) yang paling rendah.”
(Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Isnad ini jayyid, Ahmad bin Muhammad bin
Muslim ini ditsiqahkan oleh Al Hafizh Abu Bakar Al Khathib Al Baghdadi,
sedangkan perawi-perawi yang lainnya masyhur sesuai syarat shahih, wallahu
a’lam.”)
Dari beberapa ayat di
atas (ayat 63-66) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya seperti
yang disimpulkan Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy dalam Tafsirnya: (1) wajibnya
memenuhi perjanjian, (2) wajibnya berpegang teguh dengan syariat, demikian pula
mengingatnya dan tidak melupakannya, (3) ketakwaan seorang hamba tidaklah
sempurna sampai ia berpegang teguh dengan syariat, (4) haramnya mencari celah
untuk menghalalkan yang haram, dan akibat mereka yang mencari celah lagi
melanggar aturan, dan (5) terkadang Allah menyegerakan hukuman kepada sebagian
pelaku maksiat di dunia sebelum di akhirat agar menjadi pelajaran bagi manusia
sehingga mereka tidak berani mendatangi larangan Allah Azza wa Jalla.