Seri (3)
1-7: Surah Al Fatihah
ini mencakup semua makna/kandungan dalam Al Qur’an dan mengandung maksud-maksud
Al Qur’an yang asasi (dasar) secara garis besar. Oleh karena itulah dinamakan
Ummul Kitab yang artinya induk Al Qur’an. Ayat 1-4 menerangkan materi akidah
dan memperkenalkan kita tentang Allah Azza wa Jalla, ayat 5 menerangkan materi
ibadah yang merupakan tujuan diciptakan kita di dunia, dan ayat 6-7 menerangkan
manhaj (jalan) yang harus ditempuh dalam hidup di dunia. Surat ini juga
mengajarkan kepada kita adab berdoa, yaitu mengawalinya dengan pujian dan
sanjungan bagi Allah Azza wa Jalla.
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang[1].
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)
2.
Segala puji[2]
bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
3.
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.[4]
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
[1] Maksudnya, "Saya memulai membaca
Susunan jar-majrur (ada huruf yang menyuruh
kasrah dan ada kata yang dikasrahkan) pada kalimat basmalah di atas menunjukkan
kalimat yang tersembunyi yang sesuai dengan keadaan orang yang membaca
basmalah. Jika seorang yang hendak membaca Al Qur’an membaca basmalah, maka
kalimat yang tersembunyi adalah dengan menyebut nama Allah ‘saya membaca Al
Qur’an’. Jika seorang menulis dan membaca basmalah, maka maka kalimat yang
tersembunyi adalah dengan menyebut nama Allah ‘saya menulis’, dst.
Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya
dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti berwudhu’, mandi, makan, minum,
menyembelih hewan, berburu, menaiki kendaraan, meruqyah, membaca Al Qur'an di
awal surat, masuk dan keluar masjid, mengunci pintu dan menutup wadah air,
masuk dan keluar rumah, menulis surat, pada saat dzikr pagi dan petang, berjima’
dengan istri dan sebagainya. Pengucapan basmalah ini di antara tujuannya adalah
untuk mengambil berkah dan agar pekerjaan yang dilakukan sempurna dan diterima.
Catatan:
Basmalah artinya mengucapkan Bismillahirrahmaanirrahim,
yang artinya dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
Adapun tasmiyah, artinya
mengucapkan Bismillah (artinya: dengan nama Allah).
Dalil membaca tasmiyah (bismillah)
ketika berwudhu' dan mandi adalah
sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ
عَلَيْهِ
"Tidak ada wudhu bagi orang
yang tidak menyebut nama Allah padanya." (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan
dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Dalil membaca tasmiyah (bismillah)
ketika makan dan minum adalah
sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ،
وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
"Wahai
anak, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari
yang dekat denganmu." (Hr. Bukhari dan Muslim)
Dalil membaca tasmiyah (bismillah)
ketika menyembelih hewan ada di
surat Al An'aam: 121.
Dalil membaca tasmiyah (bismillah)
ketika berburu ada di surat Al
Maa'idah: 4.
Dalil membaca tasmiyah (bismillah)
ketika menaiki kendaraan adalah
sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jabir,
ارْكَبْ بِاسْمِ اللهِ
"Naikilah
dengan nama Allah." (Hr. Muslim)
Demikian juga berdasarkan hadits yang
menyebutkan doa naik kendaraan.
Dalil membaca tasmiyah (bismillah)
ketika meruqyah adalah hadits Abu
Sa'id berikut,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ جِبْرِيلَ، أَتَى النَّبِيَّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ»
قَالَ: «بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ
نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ»
Dari Abu Sa'id, bahwa Jibril datang kepada
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Muhammad, apakah
engkau sakit?" Beliau menjawab, "Ya." Maka Jibril berdoa, "Dengan
nama Allah, aku meruqyahmu dari segala yang mengganggumu, dari kejahatan setiap
jiwa atau mata yang dengki. Allah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku
meruqyahmu." (Hr. Bukhari dan Muslim)
Dalil
membaca tasmiyah (bismillah) ketika masuk dan keluar masjid adalah dalam doa masuk dan keluar masjid
berikut:
Doa Masuk Masjid
أَعُوْذُ
بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ،
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، [بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ][وَالسَّلاَمُ
عَلَى رَسُوْلِ اللهِ] اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya
Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk. [1] Dengan
nama Allah dan semoga shalawat [2] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah [3]
Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.” [4]
[1] Hr. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’
no. 4591.
[2] Hr. Ibnus Sunni no.88, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al
Albani.
[3] Hr. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’
1/528.
[4] Hr. Muslim 1/494. Dalam Sunan Ibnu
Majah, dari hadits Fathimah, “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba
rahmatik,” Syaikh Al Albani menshahihkannya karena beberapa syahid. Lihat Shahih
Ibnu Majah 1/128-129.
Doa Keluar Masjid
بِسْمِ
اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ
أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
“Dengan nama Allah,
semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah,
sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku
dari godaan setan yang terkutuk”. (Lihat takhrij sebelumnya, adapun tambahan: Allaahumma’shimni
minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu
Majah 129.)
Dalil
membaca tasmiyah (bismillah) ketika mengunci pintu dan menutup wadah air adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ،
أَوْ أَمْسَيْتُمْ، فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ،
فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا
اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ
وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَلَوْ
أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ
"Apabila kegelapan malam mulai tiba atau kamu berada di
sore hari, maka tahanlah anak-anakmu, karena setan sedang bertebaran ketika
itu. Jika telah berlalu sesaat dari malam, maka lepaslah mereka, dan tutuplah
pintu serta sebutlah nama Allah padanya, karena setan tidak akan membuka pintu
yang tertutup. Ikat pula geriba (tempat minum) kamu serta sebutlah nama Allah
padanya. Tutupilah bejana kamu dan sebutlah nama Allah padanya meskipun kamu
hanya meletakkan sesuatu di atasnya, dan padamkanlah lampu-lampumu." (Hr.
Bukhari dan Muslim)
Dalil
membaca tasmiyah (bismillah) ketika masuk dan keluar rumah adalah hadits Anas bin Malik berikut, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ
بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ
إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى
لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ
وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟
"Apabila seseorang keluar dari rumahnya, lalu membaca,
"Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya
melainkan dengan pertolongan Allah." Maka akan dikatakan ketika itu,
"Kamu diberi petunjuk, dicukupi, dan dipelihara. Setan juga akan
menjauhinya, lalu setan lain berkata kepada setan itu, "Bagaimana engkau
dapat menguasai seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupi dan
dipelihara?" (Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani).
Dalil
membaca basmalah (bismillahirrahmaanirrahim) ketika menulis surat ada di surat An Naml: 30, demikian juga berdasarkan
surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Raja Heraclius dan
raja-raja lainnya.
Dalil
membaca tasmiyah (bismillah) ketika dzikr pagi dan petang adalah hadits Utsman berikut, bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ
فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ، وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا
يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ
"Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan di pagi dan sore
menjelang malam, "Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun yang
bisa memberikan madharat (bahaya) bersama nama-Nya baik di langit maupun di
bumi, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Tiga kali, maka
tidak ada sesuatu yang akan membahayakannya." (Hr. Tirmidzi dan Ibnu
Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Dalil
membaca tasmiyah (bismillah) ketika jima' adalah hadits Ibnu Abbas berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا
أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، قَالَ: بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ،
وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا
وَلَدٌ فِي ذَلِكَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
"Kalau sekiranya salah seorang di antara mereka ketika
mendatangi istrinya mengucapkan, "Dengan nama Allah. Ya Allah,
jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau
anugerahkan kepada kami." Maka jika ditaqdirkan anak dari keduanya,
niscaya setan tidak dapat membahayakannya selama-lamanya." (Hr. Bukhari
dan Muslim).
Namun tidak ada contohnya dari Nabi
shallallahu alaihi wa sallam membaca basmalah sebelum shalat, karena shalat
diawali takbir dan diakhiri dengan salam.
Keutamaan tasmiyah
عَمَّنْ كَانَ رَدِيفَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَهُ عَلَى
حِمَارٍ فَعَثَرَ الْحِمَارُ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ
إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ الشَّيْطَانُ فِي نَفْسِهِ وَقَالَ
صَرَعْتُهُ بِقُوَّتِي فَإِذَا قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ تَصَاغَرَتْ إِلَيْهِ
نَفْسُهُ حَتَّى يَكُونَ أَصْغَرَ مِنْ ذُبَابٍ
Dari orang yang pernah dibonceng Nabi shalallahu
'alaihi wasallam, ia berkata, “Aku pernah dibonceng Beliau saat menunggang
keledai, kemudian keledai itu tergelincir, maka aku berkata, "Celakalah
setan, " Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku,
"Janganlah kamu katakan “Celakalah setan,” karena jika kamu mengatakan ‘celakalah
setan’, maka setan akan membesarkan dirinya dan berkata; "Aku akan
melawannya dengan kekuatanku, " Tetapi jika kamu membaca “Bismillah,” maka
setan akan mengecil hingga lebih kecil dari seekor lalat." (Hr. Ahmad, Al
Haitsami dalam Al Majma’ berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan
beberapa sanad dan para perawinya adalah para perawi kitab shahih.”)
Mengecilnya setan merupakan pengaruh dari
keberkahan basmalah.
Allah adalah nama Dzat Yang Mahasuci, yang satu-satunya berhak disembah
dengan sebenarnya disertai rasa cinta, takut dan berharap kepada-Nya, Dzat yang
tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk yang membutuhkan-Nya.
Ar Rahmaan (Maha Pengasih) adalah salah satu nama Allah yang
memberikan pengertian bahwa Allah memiliki rahmat (kasih-sayang) yang luas
mengena kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Ar Rahiim artinya Allah Maha
Penyayang kepada orang-orang mukmin.
Al ‘Azramiy (sebagaimana disebutkan Ibnu
Jarir Ath Thabari) berkata, “Ar Rahman adalah kepada semua makhluk. Ar
Rahiim adalah kepada orang-orang mukmin.” Kepada orang-orang mukmin itu
diberikan-Nya rahmat yang mutlak, selain mereka hanya memperperoleh sebagian
daripadanya.
Ada pula yang mengatakan, bahwa Ar Rahman
adalah Dzat Yang Memiliki rahmat yang luas, sedangkan Ar Rahiim adalah
Dzat yang menyampaikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.
Ar Rahmaan dan Ar Rahiim merupakan nama
Allah yang menetapkan adanya sifat rahmah (sayang) bagi Allah Ta'ala sesuai
dengan kebesaran-Nya berbeda dengan orang-orang yang keliru yang menafsirkan
rahmat dengan "keinginan memberikan nikmat atau memberikan kebaikan."
Ar Rahman adalah nama yang khusus bagi Allah
Subhaanahu wa Ta'aala saja sebagaimana firman-Nya di
Wal hasil, bahwa di antara nama-nama Allah ada yang khusus
bagi-Nya dan ada yang bisa juga selain-Nya dinamai dengannya. Yang khusus bagi
Allah Subhaanahu wa Ta'aala misalnya Allah, Ar Rahman, Al Khaaliq, Ar Raaziq,
dsb.
Makna basmalah adalah aku memulai
membaca dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sambil
mengharap berkah dengan nama-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya.
Faedah:
Jika seorang bertanya, “Apa maksud pembacaan
basmalah dari Allah untuk Diri-Nya?” Ada yang berpendapat, bahwa maksudnya
adalah mengajarkan kepada hamba bagaimana seharusnya mereka memulai membaca
sebagaimana di surah Al ‘Alaq: 1.
[2] Alhamdu
artinya segala puji, karena Alif dan Lam pada kata Al Hamdu adalah lil
istighraaq (untuk menyeluruh sehingga diartikan “segala puji”). Memuji
dilakukan karena perbuatannya yang baik. Maka memuji Allah berarti
menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik seperti melimpahkan karunia dan
berbuat adil, juga karena nama-nama-Nya yang indah, karena sifat-sifat-Nya yang
sempurna dan Tinggi yang tidak ada cacat sama sekali, dan karena
nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk-Nya
baik nikmat yang berkaitan dengan agama maupun dunia. Allah Subhaanahu wa
Ta’ala berhak mendapat pujian juga karena kebijaksanaan-Nya, baik pada
firman-Nya, perbuatan-Nya, syariat yang Dia tetapkan dalam agama-Nya, dan
taqdir-Nya yang Dia tetapkan di alam semesta.
Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, "Al
Hamdu adalah menyifati yang dipuji dengan kesempurnaan disertai rasa cinta dan
pengagungan; baik kesempurnaan dzaat, sifat, maupun perbuatan-Nya." Dengan
demikian dalam memuji Allah Ta'ala harus disertai rasa cinta dan pengagungan
serta ketundukan, karena jika tidak seperti ini bukan merupakan pujian yang
sempurna.
Kita menghadapkan segala puji bagi Allah adalah
karena dari Allah sumber segala kebaikan yang kita peroleh. Di dalam ayat ini
mengandung perintah kepada semua hamba agar memuji Allah Ta'ala meskipun bentuk
kalimatnya khabar (berita).
Lam pada kata “Lillahi” menunjukkan istihqaq
(keberhakan).
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa Allah
Ta'ala berhak mendapatkan pujian sempurna dari segala sisi dan dalam setiap
keadaan. Oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendapatkan
hal yang menyenangkan mengucapkan "Alhamdulillahilladziy bini'matihi
tatimmush shaalihaat" (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya
segala kebaikan menjadi sempurna), dan ketika Beliau memperoleh selain itu,
Beliau tetap mengucapkan "Alhamdulillah 'alaa kulli haal"
(segala puji bagi Allah dalam semua keadaan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu
Majah (3803) dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah
(265).
Said bin Jubair
rahimahullah berkata, "Sesungguhnya orang-orang yang pertama
dipanggil ke surga adalah mereka yang senantiasa memuji Allah dalam setiap
keadaan, atau mereka yang memuji Allah baik di saat lapang maupun sempit."
(Az Zuhd karya Ibnul Mubarak hal. 206)
Keutamaan
Hamdalah (ucapan Alhamdulillah)
Imam Tirmidzi,
Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata,
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الذِّكْرِ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Sebaik-baik
dzikr adalah Laailaahaillallah dan sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah.”
(Dihasankan oleh Syaikh Al Albani, lihat Ash Shahiihah (1497), Al
Misykaat (2306) dan At Ta’liiqur Raghiib (2/229)).
Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu
'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَنْعَمَ اللَّهُ
عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ
أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ
"Tidaklah Allah memberikan kenikmatan
kepada seorang hamba, kemudian ia mengucapkan, "Alhamdulillah” (artinya Segala
puji bagi Allah) kecuali apa yang diberikan itu lebih utama dari apa yang telah
diterimanya." (Hr. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Pendapat ulama salaf tentang kalimat
hamdalah (ucapan Alhamdulillah)
Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkata
kepada Ali radhiyallahu 'anhu, ketika itu kawan-kawannya berada di dekatnya, “Laailaahaillallah
wa subhaanallah wallahu akbar telah kami ketahui, lalu apa Alhamdu
lillahi?” Ali menjawab, “Ia adalah kalimat yang Allah Ta’ala cintai untuk
Diri-Nya, Dia ridhai untuk Diri-Nya, dan Dia suka jika diucapkan.”
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata,
“Alhamdulillah adalah kalimat syukur. Jika seorang hamba mengucapkan
“Alhamdulillah,” maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Hamba-Ku telah
bersyukur kepada-Ku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim).
[3] Rabb (Tuhan)
berarti Tuhan yang ditaati, Yang Memiliki, Mendidik, Mengurus dan Memelihara.
Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali jika ada idhafat/sambungannya,
seperti rabbud daar (tuan rumah), dsb.
Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah,
yakni menetapkan bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta, Penguasa, Pengatur,
Pemberi rezeki, dan Pemelihara alam semesta.
'Alamiin
(semesta alam) artinya segala yang ada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala atau
apa saja yang diciptakan Allah di dunia dan akhirat, alam bagian bawah maupun
alam bagian atas; yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam
manusia, alam jin, alam malaikat, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda
mati, dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu, Dia-lah yang menciptakan
semua makhluk, yang mengurus urusan mereka, mengurus semua makhluk-Nya dengan
nikmat-nikmat-Nya dan mengurus para wali-Nya dengan iman dan amal yang saleh. Dengan demikian,
pemeliharaan Allah Ta'ala kepada alam semesta itu ada yang umum dan ada yang
khusus. Yang umum adalah diciptakan-Nya mereka, diberi-Nya rezeki, diberi-Nya
mereka petunjuk kepada hal-hal yang bermaslahat bagi mereka agar mereka dapat
hidup di muka bumi, sedangkan yang khusus adalah dengan dididik-Nya para wali-Nya
dengan iman dan amal saleh atau diberi-Nya taufiq kepada setiap kebaikan dan
dihindarkan dari semua keburukan. Mungkin inilah rahasia mengapa doa yang
diucapkan para nabi kebanyakan menggunakan lafaz Rabb (seperti Rabbi atau
Rabbanaa). Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Rabbul 'aalamin; yang
menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menguasai dan memiliki alam semesta;
tidak ada Rabb selain-Nya.
Oleh karena Dia sebagai Rabbul
alamin, maka Dia sajalah yang berhak untuk disembah dan ditujukan berbagai
macam bentuk ibadah seperti doa, tawakkal, ruku dan sujud, nadzar, berkurban,
dan lain-lain sebagaimana ditunjukkan oleh ayat 5 surah ini, “Hanya kepada
Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (Qs. Al Baqarah: 21)
Barang siapa yang mengarahkan
ibadah kepada selain-Nya, maka berarti dia telah berbuat syirik dan melakukan
dosa yang paling besar yang menyebabkannya berhak mendapatkan azab. Allah Azza
wa Jalla berfirman,
فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ
الْمُعَذَّبِينَ
“Maka janganlah kamu menyeru (menyembah)
Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang diazab.” (Qs. Asy
Syu’ara: 213).
[4] Tentang makna Ar Rahmaan dan Ar
Rahiim sudah diterangkan sebelumnya. Disebutkannya ayat ini setelah "Alhamdulillahi
Rabbil 'aalamiin" untuk memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa
Ta'aala mengurus alam semesta ini tidak dengan memaksa dan mengazab, bahkan
atas dasar kasih-sayang-Nya. Menurut Al Qurthubi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala
menyifati Diri-Nya dengan Ar Rahmaanir Rahiim setelah firman-Nya “Rabbil
‘aalamiin” termasuk ke dalam penggandengan targhib (dorongan) setelah tarhib
(menakut-nakuti) seperti firman-Nya, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku,
bahwa sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,--Dan bahwa
sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Terj. Qs. Al Hijr: 49-50). Dalam kata Ar Rabb terdapat tarhib, sedangkan dalam
kata Ar Rahmaanir Rahiim terdapat targhib (dorongan). Penggandengan
targhib dan tarhib sama seperti dalam hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا
عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ
الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda, "Seandainya orang mukmin mengetahui siksa Allah
Subhanahu wa Ta'ala, niscaya tidak ada seorang mukmin pun yang menginginkan
surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat Allah, maka tidak
ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surga-Nya." (Hr.
Muslim)
[5] Maalik (yang menguasai) dengan
memanjangkan mim, berarti: pemilik. Ini adalah qiraat Ashim, Kisa’i, dan
Ya’qub. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia
dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan
kepemilikan-Nya, dimana tidak ada seorang pun yang mendakwakan sesuatu dan
tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya (lihat
Disebutkan dalam Shahih
Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
يَقْبِضُ اللَّهُ
الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ
أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ
"Allah
menggenggam bumi dan melipat langit dengan Tangan kanan-Nya kemudian berfirman,
“Akulah Raja, mana yang mengaku raja di bumi? “ (Hr. Bukhari dan Muslim)
[6] Yaumiddin artinya hari penghisaban
makhluk atau hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan
amalnya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul
hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang
muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari akhir; hari dimana
amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal
saleh dan menjauhi diri dari kemaksiatan. Disebutkan, bahwa seseorang
pernah mencaci-maki Umar bin Abdul Aziz,
lalu ia menjawab, "Kalau
bukan karena ada hari Kiamat, tentu
engkau kubalas. " (Natsrud Dur 1/285)
Dari ayat 1-4 dapat
ditarikan banyak kesimpulan, di antaranya: Allah Ta’ala menyukai pujian. Oleh
karena itu, Dia memuji Diri-Nya dan memerintahkan para hamba untuk memuji-Nya,
dan Dia berhak memperoleh segala pujian karena keadaan-Nya sebagai Rabbul
alamin, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan yang menguasai hari pembalasan,
demikian juga karena beberapa alasan yang telah disebutkan sebelumnya (lihat
tafsir ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar