Kamis, 28 Mei 2026

Seri (3) Tafsir surah Al Fatihah 1-4

 

Seri (3)

 


1-7: Surah Al Fatihah ini mencakup semua makna/kandungan dalam Al Qur’an dan mengandung maksud-maksud Al Qur’an yang asasi (dasar) secara garis besar. Oleh karena itulah dinamakan Ummul Kitab yang artinya induk Al Qur’an. Ayat 1-4 menerangkan materi akidah dan memperkenalkan kita tentang Allah Azza wa Jalla, ayat 5 menerangkan materi ibadah yang merupakan tujuan diciptakan kita di dunia, dan ayat 6-7 menerangkan manhaj (jalan) yang harus ditempuh dalam hidup di dunia. Surat ini juga mengajarkan kepada kita adab berdoa, yaitu mengawalinya dengan pujian dan sanjungan bagi Allah Azza wa Jalla.

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang[1].

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) 

2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) 

3. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.[4]

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) 

4. Yang menguasai[5] hari Pembalasan[6].


[1] Maksudnya, "Saya memulai membaca surat Al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah sambil memohon pertolongan kepada-Nya agar dapat membaca firman-Nya, memahami maknanya dan dapat mengambilnya sebagai petunjuk."

Susunan jar-majrur (ada huruf yang menyuruh kasrah dan ada kata yang dikasrahkan) pada kalimat basmalah di atas menunjukkan kalimat yang tersembunyi yang sesuai dengan keadaan orang yang membaca basmalah. Jika seorang yang hendak membaca Al Qur’an membaca basmalah, maka kalimat yang tersembunyi adalah dengan menyebut nama Allah ‘saya membaca Al Qur’an’. Jika seorang menulis dan membaca basmalah, maka maka kalimat yang tersembunyi adalah dengan menyebut nama Allah ‘saya menulis’, dst.

Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti berwudhu’, mandi, makan, minum, menyembelih hewan, berburu, menaiki kendaraan, meruqyah, membaca Al Qur'an di awal surat, masuk dan keluar masjid, mengunci pintu dan menutup wadah air, masuk dan keluar rumah, menulis surat, pada saat dzikr pagi dan petang, berjima’ dengan istri dan sebagainya. Pengucapan basmalah ini di antara tujuannya adalah untuk mengambil berkah dan agar pekerjaan yang dilakukan sempurna dan diterima.

Catatan:

Basmalah artinya mengucapkan Bismillahirrahmaanirrahim, yang artinya dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Adapun tasmiyah, artinya mengucapkan Bismillah (artinya: dengan nama Allah).

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika berwudhu' dan mandi adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

"Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya." (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika makan dan minum adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika menyembelih hewan ada di surat Al An'aam: 121.

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika berburu ada di surat Al Maa'idah: 4.

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika menaiki kendaraan adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jabir,

ارْكَبْ بِاسْمِ اللهِ

"Naikilah dengan nama Allah." (Hr. Muslim)

Demikian juga berdasarkan hadits yang menyebutkan doa naik kendaraan.

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika meruqyah adalah hadits Abu Sa'id berikut,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ جِبْرِيلَ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ» قَالَ: «بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ»

Dari Abu Sa'id, bahwa Jibril datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Muhammad, apakah engkau sakit?" Beliau menjawab, "Ya." Maka Jibril berdoa, "Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala yang mengganggumu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang dengki. Allah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah, aku meruqyahmu." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika masuk dan keluar masjid adalah dalam doa masuk dan keluar masjid berikut:

Doa Masuk Masjid

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، [بِسْمِ اللهِ، وَالصَّلاَةُ][وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ] اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Mulia dan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk. [1] Dengan nama Allah dan semoga shalawat [2] dan salam tercurahkan kepada Rasulullah [3] Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.” [4]

[1] Hr. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ no. 4591.

[2] Hr. Ibnus Sunni no.88, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani.

[3] Hr. Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’ 1/528.

[4] Hr. Muslim 1/494. Dalam Sunan Ibnu Majah, dari hadits Fathimah, “Allahummagh fir li dzunubi waftahli abwaba rahmatik,” Syaikh Al Albani menshahihkannya karena beberapa syahid. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/128-129.

Doa Keluar Masjid

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اَللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

 “Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari godaan setan yang terkutuk”. (Lihat takhrij sebelumnya, adapun tambahan: Allaahumma’shimni minasy syai-thaanir rajim, adalah riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 129.)

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika mengunci pintu dan menutup wadah air adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ، أَوْ أَمْسَيْتُمْ، فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ، فَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

"Apabila kegelapan malam mulai tiba atau kamu berada di sore hari, maka tahanlah anak-anakmu, karena setan sedang bertebaran ketika itu. Jika telah berlalu sesaat dari malam, maka lepaslah mereka, dan tutuplah pintu serta sebutlah nama Allah padanya, karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Ikat pula geriba (tempat minum) kamu serta sebutlah nama Allah padanya. Tutupilah bejana kamu dan sebutlah nama Allah padanya meskipun kamu hanya meletakkan sesuatu di atasnya, dan padamkanlah lampu-lampumu." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika masuk dan keluar rumah adalah hadits Anas bin Malik berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

"Apabila seseorang keluar dari rumahnya, lalu membaca, "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah." Maka akan dikatakan ketika itu, "Kamu diberi petunjuk, dicukupi, dan dipelihara. Setan juga akan menjauhinya, lalu setan lain berkata kepada setan itu, "Bagaimana engkau dapat menguasai seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupi dan dipelihara?" (Hr. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Dalil membaca basmalah (bismillahirrahmaanirrahim) ketika menulis surat ada di surat An Naml: 30, demikian juga berdasarkan surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Raja Heraclius dan raja-raja lainnya.

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika dzikr pagi dan petang adalah hadits Utsman berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ، وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ: بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَيَضُرَّهُ شَيْءٌ

"Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan di pagi dan sore menjelang malam, "Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun yang bisa memberikan madharat (bahaya) bersama nama-Nya baik di langit maupun di bumi, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Tiga kali, maka tidak ada sesuatu yang akan membahayakannya." (Hr. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Dalil membaca tasmiyah (bismillah) ketika jima' adalah hadits Ibnu Abbas berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ، قَالَ: بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

"Kalau sekiranya salah seorang di antara mereka ketika mendatangi istrinya mengucapkan, "Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami." Maka jika ditaqdirkan anak dari keduanya, niscaya setan tidak dapat membahayakannya selama-lamanya." (Hr. Bukhari dan Muslim).

Namun tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca basmalah sebelum shalat, karena shalat diawali takbir dan diakhiri dengan salam.

Keutamaan tasmiyah

عَمَّنْ كَانَ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَهُ عَلَى حِمَارٍ فَعَثَرَ الْحِمَارُ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ الشَّيْطَانُ فِي نَفْسِهِ وَقَالَ صَرَعْتُهُ بِقُوَّتِي فَإِذَا قُلْتَ بِسْمِ اللَّهِ تَصَاغَرَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ حَتَّى يَكُونَ أَصْغَرَ مِنْ ذُبَابٍ

Dari orang yang pernah dibonceng Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, “Aku pernah dibonceng Beliau saat menunggang keledai, kemudian keledai itu tergelincir, maka aku berkata, "Celakalah setan, " Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku, "Janganlah kamu katakan “Celakalah setan,” karena jika kamu mengatakan ‘celakalah setan’, maka setan akan membesarkan dirinya dan berkata; "Aku akan melawannya dengan kekuatanku, " Tetapi jika kamu membaca “Bismillah,” maka setan akan mengecil hingga lebih kecil dari seekor lalat." (Hr. Ahmad, Al Haitsami dalam Al Majma’ berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan beberapa sanad dan para perawinya adalah para perawi kitab shahih.”)

Mengecilnya setan merupakan pengaruh dari keberkahan basmalah.

Allah adalah nama Dzat Yang Mahasuci, yang satu-satunya berhak disembah dengan sebenarnya disertai rasa cinta, takut dan berharap kepada-Nya, Dzat yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ada yang mengatakan, bahwa Allah adalah Al Ismul A’zham (Nama Yang Paling Agung), karena disifati dengan semua sifat, seperti dalam surat Al Hasyr: 22-24, dimana semua nama merupakan sifat bagi-Nya, dan sebagaimana firman-Nya, “Hanya milik Allah Asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul husna itu.” (Terj. Qs. Al A’raaf: 180)

Ar Rahmaan (Maha Pengasih) adalah salah satu nama Allah yang memberikan pengertian bahwa Allah memiliki rahmat (kasih-sayang) yang luas mengena kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Ar Rahiim artinya Allah Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.

Al ‘Azramiy (sebagaimana disebutkan Ibnu Jarir Ath Thabari) berkata, “Ar Rahman adalah kepada semua makhluk. Ar Rahiim adalah kepada orang-orang mukmin.” Kepada orang-orang mukmin itu diberikan-Nya rahmat yang mutlak, selain mereka hanya memperperoleh sebagian daripadanya.

Ada pula yang mengatakan, bahwa Ar Rahman adalah Dzat Yang Memiliki rahmat yang luas, sedangkan Ar Rahiim adalah Dzat yang menyampaikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Ar Rahmaan dan Ar Rahiim merupakan nama Allah yang menetapkan adanya sifat rahmah (sayang) bagi Allah Ta'ala sesuai dengan kebesaran-Nya berbeda dengan orang-orang yang keliru yang menafsirkan rahmat dengan "keinginan memberikan nikmat atau memberikan kebaikan."

Ar Rahman adalah nama yang khusus bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja sebagaimana firman-Nya di surat Al Israa’: 110. Oleh karena itu, ketika Musailamah Al Kadzdzab menamai dirinya dengan Rahmaanul Yamaamah, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memakaikan pakaian kedustaan dan memasyhurkan dia dengan kedustaan itu, sehingga ia tidaklah disebut selain Musailamah Al Kadzdzab (pendusta).

Wal hasil, bahwa di antara nama-nama Allah ada yang khusus bagi-Nya dan ada yang bisa juga selain-Nya dinamai dengannya. Yang khusus bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala misalnya Allah, Ar Rahman, Al Khaaliq, Ar Raaziq, dsb.

Makna basmalah adalah aku memulai membaca dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sambil mengharap berkah dengan nama-Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya.

Faedah:

Jika seorang bertanya, “Apa maksud pembacaan basmalah dari Allah untuk Diri-Nya?” Ada yang berpendapat, bahwa maksudnya adalah mengajarkan kepada hamba bagaimana seharusnya mereka memulai membaca sebagaimana di surah Al ‘Alaq: 1.

[2] Alhamdu artinya segala puji, karena Alif dan Lam pada kata Al Hamdu adalah lil istighraaq (untuk menyeluruh sehingga diartikan “segala puji”). Memuji dilakukan karena perbuatannya yang baik. Maka memuji Allah berarti menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik seperti melimpahkan karunia dan berbuat adil, juga karena nama-nama-Nya yang indah, karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan Tinggi yang tidak ada cacat sama sekali, dan karena nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk-Nya baik nikmat yang berkaitan dengan agama maupun dunia. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berhak mendapat pujian juga karena kebijaksanaan-Nya, baik pada firman-Nya, perbuatan-Nya, syariat yang Dia tetapkan dalam agama-Nya, dan taqdir-Nya yang Dia tetapkan di alam semesta.

Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, "Al Hamdu adalah menyifati yang dipuji dengan kesempurnaan disertai rasa cinta dan pengagungan; baik kesempurnaan dzaat, sifat, maupun perbuatan-Nya." Dengan demikian dalam memuji Allah Ta'ala harus disertai rasa cinta dan pengagungan serta ketundukan, karena jika tidak seperti ini bukan merupakan pujian yang sempurna.

Kita menghadapkan segala puji bagi Allah adalah karena dari Allah sumber segala kebaikan yang kita peroleh. Di dalam ayat ini mengandung perintah kepada semua hamba agar memuji Allah Ta'ala meskipun bentuk kalimatnya khabar (berita).

Lam pada kata “Lillahi” menunjukkan istihqaq (keberhakan).

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa Allah Ta'ala berhak mendapatkan pujian sempurna dari segala sisi dan dalam setiap keadaan. Oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendapatkan hal yang menyenangkan mengucapkan "Alhamdulillahilladziy bini'matihi tatimmush shaalihaat" (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna), dan ketika Beliau memperoleh selain itu, Beliau tetap mengucapkan "Alhamdulillah 'alaa kulli haal" (segala puji bagi Allah dalam semua keadaan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3803) dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah (265).

Said bin Jubair rahimahullah berkata, "Sesungguhnya orang-orang yang pertama dipanggil ke surga adalah mereka yang senantiasa memuji Allah dalam setiap keadaan, atau mereka yang memuji Allah baik di saat lapang maupun sempit." (Az Zuhd karya Ibnul Mubarak hal. 206)

Keutamaan Hamdalah (ucapan Alhamdulillah)

Imam Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Sebaik-baik dzikr adalah Laailaahaillallah dan sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah.” (Dihasankan oleh Syaikh Al Albani, lihat Ash Shahiihah (1497), Al Misykaat (2306) dan At Ta’liiqur Raghiib (2/229)).

Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَاهُ أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

"Tidaklah Allah memberikan kenikmatan kepada seorang hamba, kemudian ia mengucapkan, "Alhamdulillah” (artinya Segala puji bagi Allah) kecuali apa yang diberikan itu lebih utama dari apa yang telah diterimanya." (Hr. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat ulama salaf tentang kalimat hamdalah (ucapan Alhamdulillah)

Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Ali radhiyallahu 'anhu, ketika itu kawan-kawannya berada di dekatnya, “Laailaahaillallah wa subhaanallah wallahu akbar telah kami ketahui, lalu apa Alhamdu lillahi?” Ali menjawab, “Ia adalah kalimat yang Allah Ta’ala cintai untuk Diri-Nya, Dia ridhai untuk Diri-Nya, dan Dia suka jika diucapkan.”

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, “Alhamdulillah adalah kalimat syukur. Jika seorang hamba mengucapkan “Alhamdulillah,” maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim).

[3] Rabb (Tuhan) berarti Tuhan yang ditaati, Yang Memiliki, Mendidik, Mengurus dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali jika ada idhafat/sambungannya, seperti rabbud daar (tuan rumah), dsb. Ada yang mengatakan, bahwa Ar Rabb adalah Al Ismul A’zham (Nama Allah Yang Agung).

Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah, yakni menetapkan bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta, Penguasa, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemelihara alam semesta.

'Alamiin (semesta alam) artinya segala yang ada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala atau apa saja yang diciptakan Allah di dunia dan akhirat, alam bagian bawah maupun alam bagian atas; yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam jin, alam malaikat, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati, dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu, Dia-lah yang menciptakan semua makhluk, yang mengurus urusan mereka, mengurus semua makhluk-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya dan mengurus para wali-Nya dengan iman dan amal yang saleh. Dengan demikian, pemeliharaan Allah Ta'ala kepada alam semesta itu ada yang umum dan ada yang khusus. Yang umum adalah diciptakan-Nya mereka, diberi-Nya rezeki, diberi-Nya mereka petunjuk kepada hal-hal yang bermaslahat bagi mereka agar mereka dapat hidup di muka bumi, sedangkan yang khusus adalah dengan dididik-Nya para wali-Nya dengan iman dan amal saleh atau diberi-Nya taufiq kepada setiap kebaikan dan dihindarkan dari semua keburukan. Mungkin inilah rahasia mengapa doa yang diucapkan para nabi kebanyakan menggunakan lafaz Rabb (seperti Rabbi atau Rabbanaa). Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Rabbul 'aalamin; yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menguasai dan memiliki alam semesta; tidak ada Rabb selain-Nya.

Oleh karena Dia sebagai Rabbul alamin, maka Dia sajalah yang berhak untuk disembah dan ditujukan berbagai macam bentuk ibadah seperti doa, tawakkal, ruku dan sujud, nadzar, berkurban, dan lain-lain sebagaimana ditunjukkan oleh ayat 5 surah ini, “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (Qs. Al Baqarah: 21)

Barang siapa yang mengarahkan ibadah kepada selain-Nya, maka berarti dia telah berbuat syirik dan melakukan dosa yang paling besar yang menyebabkannya berhak mendapatkan azab. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

“Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.” (Qs. Asy Syu’ara: 213).

Ada yang berpendapat, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah Subhaanahu wa Ta'aala disebut alam, karena semuanya menunjukkan keberadaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala Penciptanya, dan menunjukkan keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya.

[4]  Tentang makna Ar Rahmaan dan Ar Rahiim sudah diterangkan sebelumnya. Disebutkannya ayat ini setelah "Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin" untuk memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengurus alam semesta ini tidak dengan memaksa dan mengazab, bahkan atas dasar kasih-sayang-Nya. Menurut Al Qurthubi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati Diri-Nya dengan Ar Rahmaanir Rahiim setelah firman-Nya “Rabbil ‘aalamiin” termasuk ke dalam penggandengan targhib (dorongan) setelah tarhib (menakut-nakuti) seperti firman-Nya, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,--Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Terj. Qs. Al Hijr: 49-50). Dalam kata Ar Rabb terdapat tarhib, sedangkan dalam kata Ar Rahmaanir Rahiim terdapat targhib (dorongan). Penggandengan targhib dan tarhib sama seperti dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Seandainya orang mukmin mengetahui siksa Allah Subhanahu wa Ta'ala, niscaya tidak ada seorang mukmin pun yang menginginkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir itu mengetahui rahmat Allah, maka tidak ada seorang kafir pun yang berputus asa untuk mengharapkan surga-Nya." (Hr. Muslim)

[5] Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik. Ini adalah qiraat Ashim, Kisa’i, dan Ya’qub. Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan kepemilikan-Nya, dimana tidak ada seorang pun yang mendakwakan sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya (lihat surat An Naba’: 38, Thaahaa: 108-109, dan Huud: 105), demikian pula semua kerajaan sirna, sehingga tidak ada kerajaan dan keputusan kecuali milik-Nya (lihat Qs. Al Furqan: 26). Pada hari itu antara raja-raja di dunia dengan rakyat adalah sama tidak ada perbedaan, mereka tunduk kepada keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَوَاتِ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ الْأَرْضِ

"Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan Tangan kanan-Nya kemudian berfirman, “Akulah Raja, mana yang mengaku raja di bumi? “ (Hr. Bukhari dan Muslim)

[6] Yaumiddin artinya hari penghisaban makhluk atau hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalnya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari akhir; hari dimana amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal saleh dan menjauhi diri dari kemaksiatan. Disebutkan, bahwa seseorang pernah mencaci-maki Umar bin Abdul Aziz,  lalu ia menjawab,  "Kalau bukan karena ada hari Kiamat,  tentu engkau kubalas. " (Natsrud Dur 1/285)

Dari ayat 1-4 dapat ditarikan banyak kesimpulan, di antaranya: Allah Ta’ala menyukai pujian. Oleh karena itu, Dia memuji Diri-Nya dan memerintahkan para hamba untuk memuji-Nya, dan Dia berhak memperoleh segala pujian karena keadaan-Nya sebagai Rabbul alamin, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan yang menguasai hari pembalasan, demikian juga karena beberapa alasan yang telah disebutkan sebelumnya (lihat tafsir ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin).

Rabu, 27 Mei 2026

Seri (2) Pengantar Surah Al Fatihah

 

Seri (2)

 


Juz 1

 

Surah Al Fatihah (Pembuka)[1]

Surah ke-1. Terdiri dari 7 ayat. Makkiyyah.

Al Fatihah artinya Pembuka atau Awal, jamaknya adalah Fawatih.

Sebab dinamakan ‘Al Fatihah’ adalah karena mushaf Al Qur’an diawali dengannya dalam penulisan dan karena semua shalat dibuka dengan surah ini.

Di antara keutamaan surah ini adalah sebagai surah paling agung dalam Al Qur’an, disebut sebagai ‘nur’ (cahaya), dan sebagai syifa (penyembuh).

Ayat 1-5 menerangkan tentang pujian dan sanjungan bagi Allah Azza wa Jalla, dan ayat 6-7  memuat doa memohon hidayah dan istiqamah.

Di dalamnya juga terdapat ketergantungan kepada Allah Azza wa Jalla dan mencintai-Nya sehingga terus diulang dalam setiap shalat. Di samping agar nilai-nilai yang terkandung di surah Al Fatihah senantiasa diingat seorang hamba, dan karena butuhnya seorang hamba kepada hidayah Allah di setiap waktu.

Hubungan surah Al Fatihah dengan surah setelahnya adalah bahwa surah ini sebagai pengantar secara garis besar tentang tema-tema pokok yang disebutkan secara rinci dalam surah-surah setelahnya.


[1] Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat ini adalah surat yang pertama diturunkan secara lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Quran. Surat ini diturunkan setelah surat Al Muddatstsir. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quran. Allah subhaanahu wa Ta'ala memulai kitab-Nya dengan surat ini, karena surat ini menghimpun tujuan dan maksud Al Qur'an. Oleh karena itu, surat ini dinamakan Ummul Quran (induk Al Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran. Al Hasan Al Basri berkata, "Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur'an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur'an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan." (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Tentang mencakupnya isi surat Al Fatihah terhadap semua ilmu yang ada di dalam Al Qur'an diterangkan oleh Az Zamakhsyari, yaitu karena di dalam Al Fatihah terdapat pujian bagi Allah yang sesuai, terdapat peribadatan kepada-Nya, terdapat perintah dan larangan serta terdapat janji dan ancaman, sedangkan ayat-ayat Al Qur'an tidak lepas dari semua  ini. Dengan demikian, semua isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah. Ada pula yang berpendapat, bahwa dinamakan Ummul Kitab karena ditulis pertama dalam mushaf dan pertama dibaca dalam shalat, ini adalah pendapat Imam Bukhari di bagian awal kitab tafsir dalam kitab Shahihnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Surah Al Fatihah adalah pembuka kitab, induk Al Qur’an, As Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang berulang-ulang), obat penawar yang sempurna, obat yang bermanfaat, ruqyah yang sempurna, kunci kecukupan dan keberuntungan, penjaga kekuatan, serta penolak kegelisahan, kegundahan, ketakutan dan kesedihan bagi orang yang mengetahui kadar kedudukannya dan memberikan haknya,” (Bada’i’ut Tafsir 1/23)

Surah Al Fatihah membicarakan tentang pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, akidah, ibadah, syariat, keyakinan kepada hari Akhir dan beriman kepada nama Allah yang indah. Demikian pula mengesakan Allah dalam beribadah, memohon pertolongan, dan dalam berdoa, serta mengharap kepada Allah dengan memohon hidayah-Nya ke jalan yang lurus, memohon pula agar diteguhkan di atas keimanan dan mengikuti jalan orang-orang yang saleh, serta menjauhi jalan orang-orang yang dimurkai dan yang sesat. Demikian pula menceritakan tentang kisah orang-orang terdahulu, memperhatikan tempat orang-orang yang bahagia dan tempat orang-orang yang sengsara, serta beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Nama lain surah Al Fatihah dan maknanya

Tentang nama lain surah Al Fatihah disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi dan ia menshahihkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْحَمْدُ لِلَّهِ أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي

Al Hamdulillah (surat Al Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab dan As Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (131))

Surah ini dinamakan pula “Al Hamdu” dan “Ash Shalaah” sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّي أَحْيَانًا أَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ قَالَ يَا ابْنَ الْفَارِسِيِّ فَاقْرَأْهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقْرَأُ الْعَبْدُ فَيَقُولُ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي فَيَقُولُ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } فَيَقُولُ اللَّهُ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي فَيَقُولُ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } فَيَقُولُ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَهَذَا لِي وَبَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } وَآخِرُ السُّورَةِ لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقُولُ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa shalat tanpa membaca ummul Qur'an (Al Fatihah), maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." Aku (Abul ‘Ala) berkata, “Aku berkata, "Wahai Abu Hurairah, aku terkadang shalat di belakang imam." Abu Hurairah berkata, "Wahai Ibnul Farisi, bacalah dalam dirimu, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, “Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, separuhnya untuk-Ku dan separuhnya untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang ia minta. Jika seorang hamba membaca, Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Jika hamba membaca, "Ar Rahmaanir Rahiim," Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Hamba-Ku menyanjung-Ku." Jika hamba membaca, "Maaliki yaumiddin, " Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "HambaKu mengagungkanKu, dan ini untuk-Ku, sedangkan antara Aku dan hamba-Ku, “Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin,” dan akhir surat untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia minta, ia membaca, “Ihdinash shiraathal mustaqiim-Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin." (Hr. Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 838)

Al Fatihah dalam hadits di atas dinamakan Ash Shalaah, karena diwajibkan membacanya di dalam shalat, dan shalat tidak akan sah tanpanya.

Surat ini dinamakan pula As Sab'ul Matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya ada tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat. Di antara hikmah diulang-ulangnya surah ini dalam shalat adalah agar terus hadir dalam pikiran seseorang bahwa Allah adalah Rabbul ‘alamin, Dia berhak mendapatkan pujian dalam keadaan bagaimana pun, Dia juga yang berhak disembah; tidak selain-Nya, butuhnya seseorang kepada hidayah-Nya dan taufiq-Nya dalam meniti hidup di dunia, dsb.

Surah ini disebut juga Ar Ruqyah berdasarkan hadits Abu Sa’id berikut,

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ فَقَالُوا هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ فَقَالُوا إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا وَلَا نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنْ الشَّاءِ فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ فَقَالُوا لَا نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Bahwa beberapa orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengadakan suatu perjalanan, ketika mereka melewati salah satu perkampungan dari perkampungan orang Arab, orang-orang kampung tersebut tidak mau menjamu mereka, ketika sikap mereka masih seperti itu, seorang pemimpin mereka terkena sengatan kalajengking, lalu mereka pun berkata, "Apakah di antara kalian ada yang mempunyai obat, atau seorang yang bisa meruqyah?" Lalu para sahabat Nabi berkata, "Sesungguhnya kalian tidak mau menjamu kami, maka kami pun tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan imbalan kepada kami, " Akhirnya mereka pun berjanji akan memberikan beberapa ekor kambing," lalu seorang sahabat Nabi membaca Ummul Qur`an dan mengumpulkan ludahnya seraya meludahkan kepadanya hingga laki-laki itu sembuh, kemudian orang-orang kampung itu memberikan kepada para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam beberapa ekor kambing." Namun sebagian para sahabat Nabi berkata, "Kita tidak akan mengambilnya hingga kita bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal ini, " lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang pemberian itu hingga membuat Beliau tertawa. Beliau bersabda, "Dari mana kamu tahu bahwa surat itu sebagai ruqyah? Ambillah pemberian tersebut dan berilah bagiannya untukku." (Hr. Bukhari)

Nama lain surat ini juga adalah Al Qur'anul 'Azhiim dan Fatihatul kitab. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

 «الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ. هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ»

"Al Hamdulillahi Rabbil 'aalamin, ia adalah As Sab'ul Matsani dan Al Qur'anul 'Azhiim yang diberikan kepadaku." (Hr. Bukhari)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Surah Al Fatihah ini tergolong surah-surah Makkiyyah sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Qatadah dan Abul ‘Aliyah berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ   

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (Qs. Al Hijr: 87)

Namun Mujahid berpendapat, bahwa surat Al Fatihah adalah Madaniyyah. Ada pula yang berpendapat, bahwa surat Al Fatihah turun dua kali; di Mekkah dan di Madinah. Tetapi pendapat yang menyatakan bahwa surat Al Fatihah turun di Mekkah lebih kuat berdasarkan ayat di surat Al Hijr di atas, sedangkan surat Al Hijr adalah Makkiyyah.

Jumlah ayatnya berdasarkan ayat di atas adalah tujuh ayat tanpa ada lagi khilaf. Awal ayat menurut para ulama yang berpendapat bahwa basmalah bagian dari Al Fatihah adalah Bismillahirrahmaanirrahim dan ayat terakhirnya adalah Shiraathalladziina…dst. Sedangkan menurut ulama yang berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah, awal ayatnya adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, dan ayat terakhirnya Ghairil maghdhubi alaihim…dst.

Faedah

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sebagian manusia saat ini telah mengadakan sebuah bid’ah terkait surah ini, dimana mereka menutup doa dengan Al Fatihah, memulai khutbah dengan Al Fatihah, serta membaca Al Fatihah dalam beberapa kesempatan. Hal ini adalah keliru. Engkau temukan misalnya ada yang ketika berdoa; ia berkata kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya ‘Al Fatihah!” yang maksudnya adalah ‘Bacalah surah Al Fatihah!”, sedangkan sebagian lagi ada yang memulai khutbah dengan Al Fatihah atau dalam beberapa keadaan. Hal ini juga keliru, karena ibadah itu dasarnya adalah tauqif (diam menunggu dalil) dan itttiba (mengikuti contoh).” (Tafsir Juz Amma hal. 6 Cet. Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah)

Apakah basmalah (Bismillahirrahmaanirrahim) termasuk ayat surah Al Fatihah atau tidak?

Para sahabat membuka kitabullah dengan basmalah, dan para ulama sepakat bahwa basmalah termasuk bagian ayat di surat An Naml: 30. Kemudian mereka berselisih, apakah basmalah merupakan ayat tersendiri di awal setiap surat, atau di awal setiap surat ditulis basmalah di bagian awalnya atau basmalah merupakan sebagian ayat dari setiap surah? Para qari’ Mekah dan Kufah menguatkan, bahwa basmalah termasuk ayat surat Al Fatihah dan surat-surat yang lain, namun para qari’ Madinah, Bashrah dan Syam tidak menganggapnya ayat baik dari surat Al Fatihah maupun surat yang lain, mereka mengatakan, bahwa dituliskan basmalah adalah untuk memisahkan (antara surat-surat) dan untuk tabarruk (mengambil keberkahan).

Dari kalangan sahabat yang berpendapat bahwa basmalah merupakan ayat dari setiap surat selain surat At Taubah adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah dan Ali radhiyallahu 'anhum, sedangkan dari kalangan tabi’in yang berpendapat demikian adalah ‘Atha’, Thawus, Sa’id bin Jubair, Makhul, Az Zuhriy, dan pendapat ini dipegang pula oleh Abdullah bin Al Mubarak, Imam Syafi’i, Ahmad dalam sebuah riwayat darinya, Ishaq bin Rahawaih, dan Abu ‘Ubaid Al Qaasim bin Sallam rahimahumullah.

Adapun Imam Malik, Abu Hanifah dan kawan-kawan keduanya berpendapat, bahwa basmalah tidak termasuk ayat Al Fatihah dan tidak pula termasuk ayat dari surat-surat yang lain. Dawud berpendapat, bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri di setiap surat, tetapi tidak termasuk ayat surat itu, dan ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Menurut madzhab Hafsh dari Ashim, bahwa basmalah bagian dari surat Al Fatihah dan setiap surat selain surat Al Bara’ah (At Taubah), dan setiap surah dipisah dengan basmalah selain Al Anfal dan At Taubah.

Dengan demikian, para ulama berselisih apakah basmalah (Bismillahirrahmaanirrahim) termasuk ayat surah Al Fatihah atau tidak? Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia termasuk Al Fatihah, dibaca dalam shalat yang jahar (dikeraskan suaranya) dan berpendapat bahwa shalat tidak akan sah tanpa membaca basmalah, karena ia termasuk Al Fatihah. Namun di antara mereka ada yang berpendapat, bahwa basmalah tidak termasuk surah Al Fatihah, tetapi ayat tersendiri dalam Kitabullah, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Tafsir Juz ‘Ammanya.

Alasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala membagi shalat antara Dia dan hamba-Nya dua bagian; jika seorang hamba membaca, Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin,…dst.” Hal ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk Al Fatihah (karena basmalah tidak disebutkan). Demikian pula berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata,

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا

"Saya shalat di belakang Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka mereka memulai membaca dengan, 'Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam).' Mereka tidak menyebutkan, “Bismillahirrahmanirrahim” (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) pada awal bacaan, dan tidak pada akhirnya." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Maksud tidak menyebutkan adalah tidak menjaharkan atau mengeraskan basmalahnya. Dipisahkan basmalah dengan Al Fatihah dengan disirkan (dipelankan) basmalah dan dijaharkan Al Fatihah menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk Al Fatihah.

Ini adalah alasan dari sisi nash, adapun dari sisi siyaq (susunannya) yakni dari sisi maknanya menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah karena Al Fatihah merupakan tujuh ayat dengan kesepakatan ulama, dan jika kita hendak membagi tujuh ayat atas temanya, maka kita akan dapatkan bahwa separuhnya adalah firman Allah Ta’ala, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin,” inilah ayat yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman tentangnya, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian,” karena Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin adalah pertama, Ar Rahmaanirrahiim adalah kedua, Maaliki yaumiddin adalah ketiga, dan semuanya hak Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah keempat, inilah pertengahannya dan di sana terdapat dua bagian; bagian untuk Allah dan bagian untuk hamba-Nya, Ihdinash shiraathal mustaqiim adalah untuk hamba, shirrathalladziina an’amta ‘alaihim adalah untuk hamba, dan ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliiin adalah untuk hamba. Sehingga tiga ayat yang pertama untuk Allah, tiga ayat terakhir adalah untuk hamba, sedangkan satu antara hamba dan Tuhannya, yaitu ayat keempat yang pertengahan. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga, dari sisi susunan lafaznya, jika kita katakan, bahwa basmalah termasuk ayat Al Fatihah, maka ayat ketujuhnya berarti panjang seukuran dua ayat, sedangkan sudah menjadi maklum bahwa kedekatan panjang dan pendeknya ayat itulah asalnya. Oleh karena itu, menurutnya yang benar bahwa basmalah tidak termasuk surah Al Fatihah sebagaimana basmalah juga tidak termasuk ayat dari surah-surah yang lain.

Tetapi menurut Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr dalam bukunya "Qathfuts tsamaril mustathaab fii tafsiir Faatihatil Kitab", bahwa pendapat yang lebih tepat adalah, basmalah termasuk salah satu ayat dari surat Al Fatihah. Alasannya adalah hadits Ummu Salamah yang menuturkan bagaimana cara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Al Fatihah,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) 

Beliau membacanya ayat perayat, dan memberi jeda pada setiap ayatnya." (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam shalat) terkadang menjaharkan Bismillahirrahmaanirrahim, namun mensirkannya lebih sering Beliau lakukan daripada menjaharkannya.”

Jumlah kata dalam surah Al Fatihah dan jumlah hurufnya

Para ulama mengatakan, bahwa jumlah katanya adalah 25 kata, sedangkan jumlah hurufnya ada 113 huruf.

Keutamaan surah Al Fatihah

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ حَتَّى صَلَّيْتُ فَأَتَيْتُهُ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَأْتِيَنِي قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ }ثُمَّ قَالَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ أَوْ مِنْ الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ نَعَمْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُه

Dari Abu Sa'id bin Al Mu'alla ia berkata, "Suatu ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku, namun saya tidak menjawab panggilannya hingga shalatku selesai. Ketika aku datang, beliau pun bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk mendatangiku?" Saya menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang shalat." Beliau bersabda, "Bukankah Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu…dst.” (Qs. Al Anfaal: 24). Beliau bersabda lagi, "Sungguh, saya akan mengajarimu satu surat paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an, atau dari Al Qur`an sebelum kamu keluar dari Masjid." Abu Sa'id berkata, “Kemudian Beliau memegang tanganku, dan saat Beliau hendak keluar Masjid, aku pun berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan 'Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an?” Beliau menjawab, "Benar. Yaitu Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam). Ia adalah As Sab'u Al Matsani, dan Al Qur`an Al Azhim yang telah diwahyukan kepadaku." (Hr. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Imam Muslim dan Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata,

بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

“Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba ia mendengar suara (pintu dibuka) dari arah atas kepalanya, lalu malaikat Jibril mengangkat kepalanya dan berkata, "Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini." Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata, "Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja." Lalu ia memberi salam dan berkata, "Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (surat Al Fatihah) dan penutup surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu."

Tentang keutamaan surat ini juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَخْيَرَ سُوْرَةٍ فِي اْلقُرْآنِ  { الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ }

"Maukah aku beritahukan kepadamu surat yang terbaik dalam Al Qur'an? Yaitu Alhamdulillahi rabbil 'Aalamin." (Hr. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2592)

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْقُرْآنِ مِثْلُهَا وَإِنَّهَا لَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي الَّتِي آتَانِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»

“Demi Allah yang jiwaku di Tangan-Nya. Tidak pernah diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, Zabur, maupun Al Qur’an sebuah surat yang semisal dengan Al Fatihah. Ia adalah Sab’ul Matsani yang Allah Azza wa Jalla berikan kepadaku.” (Hr. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim. Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.” Dinyatakan hasan shahih oleh Imam Al Baghawi).

Wajibnya membaca surat Al Fatihah dalam semua shalat di setiap rakaat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

"Barang siapa shalat tanpa membaca ummul Qur'an (Al Fatihah), maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." (Hr. Ahmad, Muslim dan empat Imam Ahli Hadits dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6349)

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Hr. Bukhari dan Muslim)

لَا تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيْهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat yang tidak dibaca di dalamnya surat Al Fatihah.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kedua shahihnya, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al A'zhamiy).

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...