Rabu, 10 Juni 2026

Seri 10 (surah Al Baqarah ayat 23-25)

 

Seri (10)

 


Ayat 23-25: Menyebutkan kemukjizatan Al Qur’an, tantangan kepada kaum musyrikin mengenai Al Qur'an, menetapkan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, menerangkan balasan orang-orang kafir, dan balasan untuk orang-orang mukmin.

 

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) 

23. [1]Dan jika kamu meragukan (Al Quran)[2] yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad)[3], maka buatlah[4] satu surat yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu[5] selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)    

24. Jika kamu tidak mampu membuatnya dan pasti kamu tidak akan mampu[6], maka takutlah kamu akan api neraka[7] yang bahan bakarnya manusia dan batu[8] yang disediakan bagi orang-orang kafir[9].

Î وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (25)  

25. [10]Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai[11]. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, "Inilah rezeki yang pernah diberikan kepada kami dahulu[12]." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci[13]. Mereka kekal di dalamnya[14].


[1] Jika pada ayat sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan dasar agama ini, yaitu tauhid, maka pada ayat ini, Dia mengokohkan dasar kedua, yaitu kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang penurunan hujan yang Dia lakukan, dimana dengannya bumi yang mati menjadi hidup dan jasmani manusia mendapatkan asupan atau siraman, maka Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang penurunan Al Qur’an yang dengannya hati manusia yang mati menjadi hidup, yang sakit menjadi sembuh, dan rohani mendapatkan asupan atau siraman.

[2]  Orang yang masih meragukan jika sebelumnya tidak mengenal yang hak (kebenaran), lalu diterangkan yang hak itu, maka diharapkan mau mengikuti jika memang dalam hatinya ada niat mencari yang hak. Adapun orang yang tetap menentang, yakni sudah mengetahui yang hak, namun malah ditinggalkannya, maka tidak mungkin rujuk, demikian juga orang yang meragukannya dan niat untuk mencari yang hak tidak benar, pada umumnya ia juga tidak mau mengikuti.

[3] Jika kalian wahai orang-orang kafir tetap meragukan Al Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak mengenal baca-tulis dan kalian mengira bahwa ia bukan dari sisi Allah. Disebut "hamba Kami" oleh Allah Ta'ala dalam ayat tersebut merupakan kedudukan besar bagi Beliau.

[4] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran. Al Qur'an ini tidak dapat ditiru walaupun hanya satu surat meskipun mengerahkan semua ahli sastra dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[5] Yang kamu inginkan selain Allah, baik sesembahan kamu maupun orang-orang yang membantumu. Menurut Mujahid, maksud “Wad ‘uu syuhadaa’akum,” adalah para hakim yang fasih.

[6] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menantang manusia ketika mereka beranggapan bahwa Al Qur’an adalah buatan manusia dan bukan firman-Nya untuk membuat kitab yang sama dengan Al Qur’an (lihat surat Al Israa’ ayat 88). Ketika mereka tidak sanggup membuatnya, Allah menantang mereka lagi untuk membuat sepuluh surat saja yang sama dengan Al Qur’an (lihat surat Hud ayat 13), dan ketika mereka tidak sanggup juga, maka Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang bisa menandingi Al Qur’an seperti di surat ini ayat 23-24, ternyata mereka tidak sanggup juga, dan selamanya mereka tidak akan sanggup. Hal ini merupakan bukti kebenaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa yang dibawanya, dan bahwa Al Qur’an adalah benar-benar dari sisi Allah Azza wa Jalla. Di samping itu, bagaimana mungkin makhluk yang diciptakan dari tanah (manusia) sanggup mengatakan perkataan yang sama dengan perkataan Rabbul 'aalamin, apakah makhluk yang memiliki kekurangan dan fakir ini mampu menandingi perkataan Dzat yang memiliki kesempurnaan secara mutlak. Setiap orang yang memiliki rasa bahasa dan pengetahuan tentang berbagai macam perkataan pasti akan mengetahui perbedaan yang tampak ketika Al Qur'an ini dibandingkan dengan perkataan para ahli sastra.

Ya Allah sesungguhnya kami menjadi saksi terhadap kebenaran kitab-Mu, ia datang dari sisi-Mu dan ia adalah firman-Mu, “Yang tidak datang kepadanya (al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun belakang, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Terj. Qs. Fushshilat : 42)

Sisi kemukjizatan Al Qur’an

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Barang siapa yang mentadabburi Al Qur’an, maka ia akan mendapatkan di dalamnya sisi-sisi kemukjizatan Al Qur’an dengan beraneka ragam baik yang tampak maupun yang tersembunyi dari sisi lafaz maupun dari sisi makna. Allah Ta’ala berfirman, Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Terj. Qs. Huud: 1) Lafaz-lafaznya disusun dengan rapi dan makna-maknanya terperinci atau sebaliknya menurut khilaf (pendapat ulama yang lain). Setiap lafaznya dan maknanya adalah fasih, tidak dapat ditandingi dan tidak dapat disamakan. Al Qur’an memberitakan tentang hal-hal gaib di masa lalu yang telah terjadi dan ternyata sesuai dengan yang diberitakannya. Al Qur’an juga memerintahkan setiap kebaikan dan melarang setiap keburukan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (Terj. Qs. Al An’aam: 115) yakni benar dalam beritanya dan adil dalam hukum-hukumnya. Semuanya adalah hak dan benar, adil dan merupakan petunjuk, tidak ada yang kacau, dusta atau dibuat-buat sebagaimana yang terjadi pada syair-syair orang Arab dan selainnya yang dipenuhi kedustaan dan perkara-perkara kacau, karena syair mereka tidak menjadi baik kecuali dengannya, sebagaimana dikatakan tentang syair, bahwa yang paling segar/manis syair itu adalah yang paling dusta. Anda juga dapat menemukan syair yang begitu panjang, namun pada umumnya dipakai untuk menyifati wanita, kuda atau minuman keras, atau memuji orang tertentu, membicarakan tentang kuda, unta, peperangan, suatu kejadian, sesuatu yang ditakuti, binatang buas atau kejadian-kejadian tertentu yang disaksikan yang tidak memberikan faedah apa-apa selain menunjukkan kemampuan seorang pembicara terhadap sesuatu yang samar atau kecil atau menampilkannya kepada sesuatu yang nyata, kemudian anda temukan di dalamnya sebuah bait atau dua buah bait atau lebih dari itu yang merupakan bait-bait penting dalam syair, selebihnya kata-kata yang tidak ada faedahnya. Adapun Al Qur’an, maka seluruhnya fasih dengan sastra yang paling tinggi bagi orang yang mengetahui hal itu secara rinci maupun garis besar dari kalangan mereka yang memahami ucapan orang-orang Arab dan bentuk-bentuk perubahan ungkapan. Jika anda memperhatikan beritanya, maka anda akan menemukan sangat manis sekali, baik yang panjangnya maupun yang singkatnya, yang diulang maupun yang tidak diulang, dan setiap kali diulang, maka semakin manis dan tinggi, tidak usang karena sering diulang dan para ulama tidak bosan-bosan terhadapnya. Jika menyebutkan tentang ancaman, maka ia menyebutkan dengan cara yang dapat membuat gunung yang kuat dan kokoh bergetar, lalu bagaimana menurutmu jika berhadapan dengan hati yang memahami? Jika Al Qur’an menjanjikan sesuatu, maka ia datang membawa sesuatu yang membuka hati dan telinga serta membuat rindu memasuki tempat yang penuh keselamatan dan tinggal berdampingan dengan Arsy Ar Rahman sebagaimana firman-Nya memberikan dorongan (targhib), “Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (Terj. Qs. As Sajdah: 17). Firman-Nya pula, “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (Terj. Qs. Az Zukhruf: 71). Dia juga berfirman untuk menakut-nakuti (tarhib), Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Allah) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu,” (Terj. Qs. Al Israa’: 68). Firman-Nya juga, “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?-- Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (Terj. Qs. Al Mulk: 16-17) Dia juga berfirman untuk melarang, “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya…dst.” (Terj. Qs. Al ‘Ankabut: 40), Dia juga berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun,--Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka,--Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Terj. Qs. Asy Syu’ara: 205-207), dan lain sebagainya di antara contoh bentuk kefasihan, ketinggian sastra, dan manisnya. Jika ayat-ayatnya datang berkenaan dengan hukum-hukum, perintah-perintah dan larangan, maka mengandung perintah kepada setiap yang ma’ruf, yang bermanfaat, yang baik, dan yang dicintai, serta larangan terhadap hal yang buruk, hina dan rendah sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud dan ulama salaf lainnya. Jika Anda mendengar Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman!” maka pasang telingamu, karena ia merupakan kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala berfirman, “Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…dst. (Terj. Qs. Al A’raaf: 157). Jika ayat-ayatnya datang menerangkan sifat akhirat dan huru-hara yang terjadi pada hari itu, menyebutkan sifat surga dan neraka serta apa yang Allah siapkan pada keduanya untuk para wali-Nya maupun musuh-musuh-Nya berupa kenikmatan, neraka, perlindungan dan azab yang pedih, maka anda akan terhibur olehnya, demikian pula akan menjadi takut. Al Qur’an mengajak mengerjakan kebaikan dan menjauhi kemungkaran, membuat zuhud kepada dunia dan mencintai akhirat, mengokohkannya di atas jalan yang lurus, menunjuki kepada jalan Allah yang lurus, syariat-Nya yang lurus, dan menghilangkan godaan setan yang terkutuk dari hati.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 44)

Abu Isa Ar Rummani berkata, “Adapun balaghah (sastra), maka ada tiga tingkatan. Ada yang paling tinggi, ada yang sedang, dan ada yang di bawahnya. Yang paling tinggi itulah yang menjadi mukjizat, yaitu balaghahnya Al Qur’an, sedangkan yang berada di bawahnya seperti balaghah para sastrawan. Namun balaghah itu bukan hanya memahamkan makna, karena terkadang dapat difahami dari dua orang yang berbicara, dimana yang satu fasih, sedangkan yang satu tidak. Demikian juga balaghah bukan hanya mewujudkan lafaz yang sesuai makna, karena terkadang lafaz sudah sesuai dengan maknanya namun jelek dan tidak disukai, membuat jauh dan terlalu menyusahkan diri. Bahkan balaghah adalah menyampaikan makna ke hati dengan tampilan lafaz yang paling indah. Dengan demikian, tingkatan tertinggi balaghah adalah pada Al Qur’an.”

Syarat fasih pada kata adalah ketika kata itu selamat dari tanafurul huruf (huruf-huruf yang sulit diucapkan), tidak menyalahi qiyas (kaidah sharaf/pada umumnya), dan tidak sebagai kata yang gharib (asing). Sedangkan syarat fasih pada kalam (kalimat) adalah ketika kalimat itu selamat dari tanafurul kalimat (sulit dibaca di lisan kalimat itu), selamat dari susunan yang lemah (tidak mengikuti kaidah Nahwu yang masyhur), dan selamat dari ta’qid (maksudnya tidak jelas) meskipun kata-katanya fasih. Al Qur’anul Karim bersih dari itu semua, yakni tidak ada tanafurul huruf, menyalahi qiyas, adanya ta’qid, sebagai kata yang gharib, dsb.

Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Dalailun Nubuwwah dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Al Walid bin Mughirah pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau membacakan Al Qur’an kepadanya hingga hatinya tersentuh. Berita ini pun sampai ke telinga Abu Jahal sehingga membuatnya mendatangi Al Walid dan berkata, “Wahai paman! Kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” Al Walid berkata, “Untuk apa?” Ia menjawab, “Untuk memberikannya kepadamu. Karena engkau telah mendatangi Muhammad untuk menentangnya.” Al Walid berkata, “Kaum Quraisy tahu, bahwa aku adalah orang yang paling kaya hartanya.” Abu Jahal berkata, “Katakanlah tentang Muhammad perkataan yang sampai kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya atau membencinya.” Al Walid berkata, “Apa yang perlu aku ucapkan terhadapnya? Demi Allah, tidak ada di antara kalian yang lebih tahu tentang syair daripada diriku, paling tahu tentang syair rajaz dan qasidahnya dibanding aku, serta tidak ada yang lebih tahu tentang syair jin daripada aku. Demi Allah, yang diucapkannya tidak mirip hal itu. Demi Allah, yang diucapkannya itu manis, dihias keindahan, di atasnya berbuah, bagian bawahnya subur, tinggi dan tidak terkalahkan, serta menghantam yang berada di bawahnya.” (Hr. Baihaqi)

Al Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah setiap Nabi melainkan dia pasti diberi tanda (sebagai bukti kenabian mereka) yang semisalnya diimani manusia. Sedangkan yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Oleh karena itu, aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat." (Hr. Bukhari dan Muslim)

[7] Yaitu dengan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan taat kepada Allah Ta'ala. Api neraka yang sudah disiapkan Allah Ta'ala untuk orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya bahan bakarnya manusia dan batu, maka janganlah kamu kafir setelah jelas bagimu kebenarannya. Pada ayat selanjutnya Allah Ta'ala menyebutkan balasan jika mereka mau beriman. Seperti inilah cara yang digunakan Al Qur'an, menggabung antara targhib (memberikan dorongan) dan tarhib (menakut-nakuti) agar seorang hamba ketika berharap sambil bersikap cemas, dan ketika takut sambil tetap berharap dan tidak berputus asa. Inilah maksud disebutnya Al Qur’an dengan Matsani menurut pendapat yang sahih di antara pendapat-pendapat ulama, yakni setelah disebutkan tentang keimanan, maka disebutkan tentang kekafiran, setelah disebutkan tentang surga, maka disebutkan tentang neraka, setelah disebutkan tentang orang-orang yang celaka, maka disebutkan tentang orang-orang yang berbahagia, dan setelah disebutkan tarhib, maka disebutkan targhib. Adapun jika disebutkan sesuatu dan disebutkan pula sesuatu yang sebanding atau serupa dengannya, maka disebut mutasyabih.

[8] Maksud batu di ayat ini adalah batu belerang yang besar, hitam, keras dan bau, dimana ia merupakan batu yang paling panas jika dipanaskan, semoga Allah Subhaanahu wa Ta'aala melindungi kita daripadanya. Ada pula yang berpendapat, bahwa batu di ayat ini adalah patung-patung dan berhala yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (Terj. Qs. Al Anbiya’: 98)

[9] Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafirlah yang kekal di neraka. Adapun orang yang beriman (muslim) meskipun melakukan dosa besar, maka ia tidak kekal di neraka. Ayat ini juga menunjukkan bahwa neraka Jahannam sudah ada sekarang berdasarkan firman Allah Ta’ala ini “U’iddat” (yang disediakan), dan hal ini diperkuat oleh hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْرُونَ مَا هَذَا قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba Beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Tahukah kalian apa itu?" Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, "Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuh puluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya." (Hr. Muslim)

Dari beberapa ayat di atas (23-24) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, (2) kebenaran Al Qur’an, dan bahwa ia turun dari sisi Allah Azza wa Jalla, (3) cara menghindarkan diri dari neraka adalah dengan iman dan amal saleh.

[10] Setelah Allah menyebutkan neraka dan penghuninya, maka pada ayat ini, Dia menyebutkan surga dan penghuninya agar tercapai targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman) yang merupakan sarana hidayah dan perbaikan. Demikianlah keadaan Al Qur’an, ketika menyebutkan ancaman, maka menyebutkan pula setelahnya janji (pahala).

Menurut sebagian ulama, setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tauhid (keesaan-Nya) dan kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah Azza wa Jalla menyebutkan akhirat dan menerangkan balasan yang akan diperoleh orang-orang kafir serta balasan yang akan diperoleh orang-orang beriman.

[11]  Yakni berikanlah kabar gembira wahai Rasul dan orang yang menjadi pewarisnya (para ulama) kepada orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal saleh dengan anggota badannya, dimana mereka membuktikan iman mereka dengan amal saleh, bahwa mereka akan memperoleh taman-taman yang indah, dan di bawah istana yang tinggi serta pohon yang lebat ada sungai-sungai yang mengalir; ada sungai yang berair tawar, sungai susu, sungai madu dan sungai khamr (arak) sebagaimana dalam surat Muhammad ayat 15; mereka bisa memancarkan dan mengarahkannya ke arah yang mereka kehendaki. Disebutkan dalam hadits, bahwa sungai-sungai surga mengalir tanpa adanya parit (galian).

Amal yang baik disebut amal yang saleh, karena dengan amal saleh akan menjadi baik keadaan seorang hamba, urusan agama dan dunianya, hidupnya di dunia dan akhiratnya dan hilang daripadanya keadaan yang buruk sehingga ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan cocok untuk tinggal di sisi Ar Rahman di surga-Nya.

Menurut Mu’adz, amal saleh adalah amal yang di dalamnya terdapat empat perkara, “Ilmu (ada dalilnya), niat (baik dan benar), sabar, dan ikhlas (karena Allah).”

Dalam ayat ini disebutkan pemberi kabar gembira, orang yang diberi kabar gembira, berita gembiranya, dan sebab yang dapat mencapai kepadanya. Pemberi kabar gembira adalah rasul dan para pewarisnya, orang yang diberi kabar gembira adalah kaum mukmin, berita gembiranya adalah surga dan kenikmatannya, sedangkan sebab yang dapat mencapai kepadanya adalah iman dan amal saleh.

[12]  Setiap kali Allah memberikan rezeki berupa satu jenis buah-buahan yang nikmat, mereka berkata, "Dahulu (ketika di dunia), Allah juga melimpahkan rezeki jenis ini." Ketika mereka memakannya, mereka merasakan sesuatu yang baru dalam hal rasa dan lezatnya, meskipun buah-buahan itu mirip dengan sebelumnya di dunia baik warna, nama, dan tampak dari luarnya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata, “Rumput surga itu tumbuhan Za’faran, bukitnya misk (kesturi), (penghuninya) dikelilingi anak-anak yang membawakan buah-buahan, lalu mereka memakannya, kemudian mereka diberikan lagi yang semisalnya, lalu penghuni surga berkata kepada mereka (anak-anak), “Inilah yang tadi kalian berikan kepada kami.” Maka anak-anak itu berkata kepada mereka, “Makanlah, warnanya memang sama, tetapi rasanya berbeda.” Itulah maksud firman Allah Ta’ala, Mereka diberi buah-buahan yang serupa.”

Abu Ja’far Ar Raziy berkata, Dari Ar Rabii’ bin Anas dari Abul ‘Aliyah tentang firman Allah Ta’ala, Mereka diberi buah-buahan yang serupa,” ia berkata, “Satu sama lain mirip, tetapi berbeda rasanya.”

Tentang firman Allah Ta’ala, Mereka diberi buah-buahan yang serupa.” Ikrimah berkata, “Mirip buah-buahan di dunia, tetapi buah-buahan di surga lebih baik.”

Sufyan Ats Tsauriy berkata, “Dari Al A’masy dari Abu Zhabiyyan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Tidaklah sama sesuatu yang ada di surga dengan yang ada di dunia selain namanya saja.” Dalam sebuah riwayat, ia (Ibnu Abbas) berkata, “Tidak ada yang di dunia itu di surga selain namanya saja (sama).”

[13]  Suci dari semua kotoran baik hissiy maupun maknawi. Hissiy (yang dapat dirasakan) seperti buang air kecil, buang air besar, ingus, riak, haidh, dsb. Sedangkan kotoran maknawi seperti dusta dan akhlak yang buruk.

Mujahid berkata, “Suci dari haidh, buang air besar, buang air kecil, dahak, ludah, mani, dan anak.”

Qatadah berkata, “Suci dari mengganggu dan berbuat dosa.”

[14] Kenikmatan di surga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani, penghuninya senantiasa memperoleh kenikmatan, mereka tidak mati di dalamnya dan tidak akan dikeluarkan. Dalam ayat ini terdapat anjuran memberikan kabar gembira kepada kaum mukmin untuk mendorong mereka beramal dengan menyebutkan balasan yang akan diperoleh, dengan begitu membuat mereka ringan dalam beramal saleh. Kabar gembira yang paling besar bagi seseorang adalah diberi-Nya taufiq untuk beriman dan beramal saleh, ia merupakan awal kabar gembira dan asalnya, setelahnya kabar gembira ketika meninggal dan setelahnya lagi adalah masuk ke tempat yang penuh kenikmatan (surga). Kita meminta kepada Allah agar kita semua dimasukkan ke dalamnya, Allahumma aamiin.

Dari ayat di atas kita dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) Keutamaan iman dan amal saleh, karena dengan kedua sebab itu seseorang akan memperoleh kenikmatan surga, (2) Mendorong orang-orang yang beriman untuk mengejar surga dengan disebutkan kenikmatan yang akan diperoleh penghuninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...