Seri (10)
Ayat
23-25: Menyebutkan kemukjizatan Al Qur’an, tantangan kepada kaum musyrikin
mengenai Al Qur'an, menetapkan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
menerangkan balasan orang-orang kafir, dan balasan untuk orang-orang mukmin.
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى
عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ
إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23)
23. [1]Dan
jika kamu meragukan (Al Quran)[2]
yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad)[3], maka
buatlah[4]
satu
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)
24. Jika kamu tidak mampu membuatnya dan
pasti kamu tidak akan mampu[6], maka
takutlah kamu akan api neraka[7]
yang bahan bakarnya manusia dan batu[8]
yang disediakan bagi orang-orang kafir[9].
Î وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا
مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ
مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
(25)
[1] Jika pada ayat sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengokohkan dasar agama ini, yaitu tauhid, maka pada ayat ini, Dia mengokohkan
dasar kedua, yaitu kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam.
Sebagian
ulama berpendapat, bahwa setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang
penurunan hujan yang Dia lakukan, dimana dengannya bumi yang mati menjadi hidup
dan jasmani manusia mendapatkan asupan atau siraman, maka Allah Azza wa Jalla
menyebutkan tentang penurunan Al Qur’an yang dengannya hati manusia yang mati
menjadi hidup, yang sakit menjadi sembuh, dan rohani mendapatkan asupan atau
siraman.
[2] Orang yang masih meragukan jika sebelumnya
tidak mengenal yang hak (kebenaran), lalu diterangkan yang hak itu, maka
diharapkan mau mengikuti jika memang dalam hatinya ada niat mencari yang hak.
Adapun orang yang tetap menentang, yakni sudah mengetahui yang hak, namun malah
ditinggalkannya, maka tidak mungkin rujuk, demikian juga orang yang
meragukannya dan niat untuk mencari yang hak tidak benar, pada umumnya ia juga
tidak mau mengikuti.
[3] Jika kalian wahai orang-orang kafir tetap meragukan Al
Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak
mengenal baca-tulis dan kalian mengira bahwa ia bukan dari sisi Allah. Disebut
"hamba Kami" oleh Allah Ta'ala dalam ayat tersebut merupakan
kedudukan besar bagi Beliau.
[4] Ayat
ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran.
Al Qur'an ini tidak dapat ditiru walaupun hanya satu
[5] Yang kamu inginkan selain Allah, baik sesembahan kamu
maupun orang-orang yang membantumu. Menurut Mujahid, maksud “Wad ‘uu
syuhadaa’akum,” adalah para hakim yang fasih.
[6] Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menantang manusia ketika mereka beranggapan bahwa Al Qur’an adalah
buatan manusia dan bukan firman-Nya untuk membuat kitab yang sama dengan Al
Qur’an (lihat
Ya Allah
sesungguhnya kami menjadi saksi terhadap kebenaran kitab-Mu, ia datang dari
sisi-Mu dan ia adalah firman-Mu, “Yang tidak datang kepadanya (al Qur’an)
kebatilan baik dari depan maupun belakang, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana
lagi Maha Terpuji.” (Terj. Qs. Fushshilat : 42)
Sisi kemukjizatan Al Qur’an
Al
Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Barang siapa yang mentadabburi Al Qur’an, maka ia
akan mendapatkan di dalamnya sisi-sisi kemukjizatan Al Qur’an dengan beraneka
ragam baik yang tampak maupun yang tersembunyi dari sisi lafaz maupun dari sisi
makna. Allah Ta’ala berfirman, “Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang
ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang
diturunkan dari sisi (Allah) yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Terj. Qs. Huud: 1) Lafaz-lafaznya
disusun dengan rapi dan makna-maknanya terperinci atau sebaliknya menurut
khilaf (pendapat ulama yang lain). Setiap lafaznya dan maknanya adalah fasih,
tidak dapat ditandingi dan tidak dapat disamakan. Al Qur’an memberitakan
tentang hal-hal gaib di masa lalu yang telah terjadi dan ternyata sesuai dengan
yang diberitakannya. Al Qur’an juga memerintahkan setiap kebaikan dan melarang
setiap keburukan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Telah sempurnalah kalimat
Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil.” (Terj. Qs. Al An’aam: 115)
yakni benar dalam beritanya dan adil dalam hukum-hukumnya. Semuanya adalah hak
dan benar, adil dan merupakan petunjuk, tidak ada yang kacau, dusta atau
dibuat-buat sebagaimana yang terjadi pada syair-syair orang Arab dan selainnya
yang dipenuhi kedustaan dan perkara-perkara kacau, karena syair mereka tidak
menjadi baik kecuali dengannya, sebagaimana dikatakan tentang syair, bahwa yang
paling segar/manis syair itu adalah yang paling dusta. Anda juga dapat
menemukan syair yang begitu panjang, namun pada umumnya dipakai untuk menyifati
wanita, kuda atau minuman keras, atau memuji orang tertentu, membicarakan
tentang kuda, unta, peperangan, suatu kejadian, sesuatu yang ditakuti, binatang
buas atau kejadian-kejadian tertentu yang disaksikan yang tidak memberikan
faedah apa-apa selain menunjukkan kemampuan seorang pembicara terhadap sesuatu
yang samar atau kecil atau menampilkannya kepada sesuatu yang nyata, kemudian
anda temukan di dalamnya sebuah bait atau dua buah bait atau lebih dari itu
yang merupakan bait-bait penting dalam syair, selebihnya kata-kata yang tidak
ada faedahnya. Adapun Al Qur’an, maka seluruhnya fasih dengan sastra yang
paling tinggi bagi orang yang mengetahui hal itu secara rinci maupun garis
besar dari kalangan mereka yang memahami ucapan orang-orang Arab dan
bentuk-bentuk perubahan ungkapan. Jika anda memperhatikan beritanya, maka anda
akan menemukan sangat manis sekali, baik yang panjangnya maupun yang
singkatnya, yang diulang maupun yang tidak diulang, dan setiap kali diulang,
maka semakin manis dan tinggi, tidak usang karena sering diulang dan para ulama
tidak bosan-bosan terhadapnya. Jika menyebutkan tentang ancaman, maka ia
menyebutkan dengan cara yang dapat membuat gunung yang kuat dan kokoh bergetar,
lalu bagaimana menurutmu jika berhadapan dengan hati yang memahami? Jika Al
Qur’an menjanjikan sesuatu, maka ia datang membawa sesuatu yang membuka hati
dan telinga serta membuat rindu memasuki tempat yang penuh keselamatan dan
tinggal berdampingan dengan Arsy Ar Rahman sebagaimana firman-Nya memberikan
dorongan (targhib), “Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah
dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (Terj. Qs. As Sajdah: 17).
Firman-Nya pula, “Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan
sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (Terj. Qs. Az Zukhruf: 71).
Dia juga berfirman untuk menakut-nakuti (tarhib), “Maka apakah kamu merasa aman
(dari hukuman Allah) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu,” (Terj. Qs. Al Israa’: 68).
Firman-Nya juga, “Apakah kamu merasa
aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi
bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?-- Dan sesungguhnya
orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka
alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (Terj. Qs. Al Mulk: 16-17) Dia juga berfirman untuk
melarang, “Maka
masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya…dst.” (Terj. Qs. Al ‘Ankabut:
40), Dia juga berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan
hidup bertahun-tahun,--Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan
kepada mereka,--Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu
menikmatinya.”
(Terj. Qs. Asy Syu’ara: 205-207), dan lain sebagainya di antara contoh bentuk
kefasihan, ketinggian sastra, dan manisnya. Jika ayat-ayatnya datang berkenaan
dengan hukum-hukum, perintah-perintah dan larangan, maka mengandung perintah
kepada setiap yang ma’ruf, yang bermanfaat, yang baik, dan yang dicintai, serta
larangan terhadap hal yang buruk, hina dan rendah sebagaimana dikatakan Ibnu
Mas’ud dan ulama salaf lainnya. Jika Anda mendengar Allah Ta’ala berfirman
dalam Al Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman!” maka pasang
telingamu, karena ia merupakan kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang
dilarang. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala berfirman, “Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan
melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka
segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang
dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…dst. (Terj. Qs. Al A’raaf:
157). Jika ayat-ayatnya datang menerangkan sifat akhirat dan huru-hara yang
terjadi pada hari itu, menyebutkan sifat surga dan neraka serta apa yang Allah
siapkan pada keduanya untuk para wali-Nya maupun musuh-musuh-Nya berupa
kenikmatan, neraka, perlindungan dan azab yang pedih, maka anda akan terhibur
olehnya, demikian pula akan menjadi takut. Al Qur’an mengajak mengerjakan
kebaikan dan menjauhi kemungkaran, membuat zuhud kepada dunia dan mencintai
akhirat, mengokohkannya di atas jalan yang lurus, menunjuki kepada jalan Allah
yang lurus, syariat-Nya yang lurus, dan menghilangkan godaan setan yang
terkutuk dari hati.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 44)
Abu Isa Ar Rummani berkata, “Adapun balaghah (sastra),
maka ada tiga tingkatan. Ada yang paling tinggi, ada yang sedang, dan ada yang
di bawahnya. Yang paling tinggi itulah yang menjadi mukjizat, yaitu balaghahnya
Al Qur’an, sedangkan yang berada di bawahnya seperti balaghah para sastrawan.
Namun balaghah itu bukan hanya memahamkan makna, karena terkadang dapat
difahami dari dua orang yang berbicara, dimana yang satu fasih, sedangkan yang
satu tidak. Demikian juga balaghah bukan hanya mewujudkan lafaz yang sesuai
makna, karena terkadang lafaz sudah sesuai dengan maknanya namun jelek dan
tidak disukai, membuat jauh dan terlalu menyusahkan diri. Bahkan balaghah
adalah menyampaikan makna ke hati dengan tampilan lafaz yang paling indah.
Dengan demikian, tingkatan tertinggi balaghah adalah pada Al Qur’an.”
Syarat fasih pada kata adalah ketika
kata itu selamat dari tanafurul huruf (huruf-huruf yang sulit diucapkan), tidak
menyalahi qiyas (kaidah sharaf/pada umumnya), dan tidak sebagai kata yang
gharib (asing). Sedangkan syarat fasih pada kalam (kalimat) adalah ketika
kalimat itu selamat dari tanafurul kalimat (sulit dibaca di lisan kalimat itu),
selamat dari susunan yang lemah (tidak mengikuti kaidah Nahwu yang masyhur),
dan selamat dari ta’qid (maksudnya tidak jelas) meskipun kata-katanya
fasih. Al Qur’anul Karim bersih dari itu semua, yakni tidak ada tanafurul
huruf, menyalahi qiyas, adanya ta’qid, sebagai kata yang gharib, dsb.
Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Dalailun
Nubuwwah dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Al Walid bin Mughirah
pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau membacakan
Al Qur’an kepadanya hingga hatinya tersentuh. Berita ini pun sampai ke telinga
Abu Jahal sehingga membuatnya mendatangi Al Walid dan berkata, “Wahai paman! Kaummu
ingin mengumpulkan harta untukmu.” Al Walid berkata, “Untuk apa?” Ia menjawab,
“Untuk memberikannya kepadamu. Karena engkau telah mendatangi Muhammad untuk
menentangnya.” Al Walid berkata, “Kaum Quraisy tahu, bahwa aku adalah orang
yang paling kaya hartanya.” Abu Jahal berkata, “Katakanlah tentang Muhammad
perkataan yang sampai kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya atau
membencinya.” Al Walid berkata, “Apa yang perlu aku ucapkan terhadapnya? Demi
Allah, tidak ada di antara kalian yang lebih tahu tentang syair daripada
diriku, paling tahu tentang syair rajaz dan qasidahnya dibanding aku, serta
tidak ada yang lebih tahu tentang syair jin daripada aku. Demi Allah, yang
diucapkannya tidak mirip hal itu. Demi Allah, yang diucapkannya itu manis,
dihias keindahan, di atasnya berbuah, bagian bawahnya subur, tinggi dan tidak
terkalahkan, serta menghantam yang berada di bawahnya.” (Hr. Baihaqi)
Al Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ
نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ
الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ
فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah setiap Nabi melainkan dia pasti
diberi tanda (sebagai bukti kenabian mereka) yang semisalnya diimani manusia.
Sedangkan yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku.
Oleh karena itu, aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari
Kiamat." (Hr. Bukhari dan Muslim)
[7] Yaitu dengan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam dan taat kepada Allah Ta'ala. Api neraka yang sudah disiapkan
Allah Ta'ala untuk orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya bahan
bakarnya manusia dan batu, maka janganlah kamu kafir setelah jelas bagimu
kebenarannya. Pada ayat selanjutnya Allah Ta'ala menyebutkan balasan jika
mereka mau beriman. Seperti inilah cara yang digunakan Al Qur'an, menggabung
antara targhib (memberikan dorongan) dan tarhib (menakut-nakuti) agar seorang
hamba ketika berharap sambil bersikap cemas, dan ketika takut sambil tetap
berharap dan tidak berputus asa. Inilah maksud disebutnya Al Qur’an dengan Matsani
menurut pendapat yang sahih di antara pendapat-pendapat ulama, yakni setelah
disebutkan tentang keimanan, maka disebutkan tentang kekafiran, setelah
disebutkan tentang surga, maka disebutkan tentang neraka, setelah disebutkan
tentang orang-orang yang celaka, maka disebutkan tentang orang-orang yang
berbahagia, dan setelah disebutkan tarhib, maka disebutkan targhib. Adapun jika
disebutkan sesuatu dan disebutkan pula sesuatu yang sebanding atau serupa
dengannya, maka disebut mutasyabih.
[8] Maksud batu di ayat ini adalah batu belerang yang
besar, hitam, keras dan bau, dimana ia merupakan batu yang paling panas jika
dipanaskan, semoga Allah Subhaanahu wa Ta'aala melindungi kita daripadanya.
Ada pula yang berpendapat, bahwa batu di ayat ini adalah patung-patung dan
berhala yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana firman
Allah Ta’ala, “Sesungguhnya
kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti
masuk ke dalamnya.” (Terj. Qs. Al Anbiya’: 98)
[9] Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafirlah yang
kekal di neraka. Adapun orang yang beriman (muslim) meskipun melakukan dosa
besar, maka ia tidak kekal di neraka. Ayat ini juga menunjukkan bahwa neraka
Jahannam sudah ada sekarang berdasarkan firman Allah Ta’ala ini “U’iddat” (yang
disediakan), dan hal ini diperkuat oleh hadits-hadits Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, di antaranya adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ
وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْرُونَ مَا
هَذَا قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ
فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ
حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Kami bersama Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba Beliau mendengar suara sesuatu yang
jatuh berdebuk, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Tahukah
kalian apa itu?" Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau
bersabda, "Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuh puluh
tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya." (Hr. Muslim)
Dari beberapa ayat di
atas (23-24) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) menetapkan
kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, (2) kebenaran Al
Qur’an, dan bahwa ia turun dari sisi Allah Azza wa Jalla, (3) cara
menghindarkan diri dari neraka adalah dengan iman dan amal saleh.
[10] Setelah Allah menyebutkan neraka dan penghuninya, maka
pada ayat ini, Dia menyebutkan surga dan penghuninya agar tercapai targhib
(dorongan) dan tarhib (ancaman) yang merupakan sarana hidayah dan perbaikan. Demikianlah
keadaan Al Qur’an, ketika menyebutkan ancaman, maka menyebutkan pula setelahnya
janji (pahala).
Menurut
sebagian ulama, setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tauhid (keesaan-Nya)
dan kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah Azza wa Jalla
menyebutkan akhirat dan menerangkan balasan yang akan diperoleh orang-orang
kafir serta balasan yang akan diperoleh orang-orang beriman.
[11] Yakni berikanlah kabar gembira wahai Rasul dan
orang yang menjadi pewarisnya (para ulama) kepada orang-orang yang beriman
dengan hatinya dan beramal saleh dengan anggota badannya, dimana mereka
membuktikan iman mereka dengan amal saleh, bahwa mereka akan memperoleh
taman-taman yang indah, dan di bawah istana yang tinggi serta pohon yang lebat
ada sungai-sungai yang mengalir; ada sungai yang berair tawar, sungai susu,
sungai madu dan sungai khamr (arak) sebagaimana dalam surat Muhammad ayat 15;
mereka bisa memancarkan dan mengarahkannya ke arah yang mereka kehendaki. Disebutkan
dalam hadits, bahwa sungai-sungai surga mengalir tanpa adanya parit (galian).
Amal yang baik disebut amal yang saleh,
karena dengan amal saleh akan menjadi baik keadaan seorang hamba, urusan agama
dan dunianya, hidupnya di dunia dan akhiratnya dan hilang daripadanya keadaan
yang buruk sehingga ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan
cocok untuk tinggal di sisi Ar Rahman di surga-Nya.
Menurut Mu’adz, amal saleh adalah amal yang
di dalamnya terdapat empat perkara, “Ilmu (ada dalilnya), niat (baik dan
benar), sabar, dan ikhlas (karena Allah).”
Dalam ayat ini disebutkan pemberi kabar
gembira, orang yang diberi kabar gembira, berita gembiranya, dan sebab yang
dapat mencapai kepadanya. Pemberi kabar gembira adalah rasul dan para
pewarisnya, orang yang diberi kabar gembira adalah kaum mukmin, berita
gembiranya adalah surga dan kenikmatannya, sedangkan sebab yang dapat mencapai
kepadanya adalah iman dan amal saleh.
[12] Setiap kali Allah memberikan rezeki berupa
satu jenis buah-buahan yang nikmat, mereka berkata, "Dahulu (ketika di
dunia), Allah juga melimpahkan rezeki jenis ini." Ketika mereka
memakannya, mereka merasakan sesuatu yang baru dalam hal rasa dan lezatnya,
meskipun buah-buahan itu mirip dengan sebelumnya di dunia baik warna, nama, dan
tampak dari luarnya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin
Abu
Ja’far Ar Raziy berkata,
“Dari
Ar Rabii’ bin Anas dari Abul ‘Aliyah tentang firman Allah Ta’ala, “Mereka diberi
buah-buahan yang serupa,” ia berkata, “Satu sama lain mirip,
tetapi berbeda rasanya.”
Tentang
firman Allah Ta’ala, “Mereka
diberi buah-buahan yang serupa.” Ikrimah
berkata, “Mirip buah-buahan di dunia, tetapi buah-buahan di surga lebih baik.”
Sufyan
Ats Tsauriy berkata, “Dari Al A’masy dari Abu Zhabiyyan dari
[13] Suci dari semua kotoran baik hissiy maupun
maknawi. Hissiy (yang dapat dirasakan) seperti buang air kecil, buang air
besar, ingus, riak, haidh, dsb. Sedangkan kotoran maknawi seperti dusta dan
akhlak yang buruk.
Mujahid berkata, “Suci dari haidh, buang air
besar, buang air kecil, dahak, ludah, mani, dan anak.”
Qatadah berkata, “Suci dari mengganggu dan
berbuat dosa.”
[14] Kenikmatan
di surga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani,
penghuninya senantiasa memperoleh kenikmatan, mereka tidak mati di dalamnya dan
tidak akan dikeluarkan. Dalam ayat ini terdapat anjuran memberikan kabar
gembira kepada kaum mukmin untuk mendorong mereka beramal dengan menyebutkan
balasan yang akan diperoleh, dengan begitu membuat mereka ringan dalam beramal
saleh. Kabar gembira yang paling besar bagi seseorang adalah diberi-Nya taufiq
untuk beriman dan beramal saleh, ia merupakan awal kabar gembira dan asalnya,
setelahnya kabar gembira ketika meninggal dan setelahnya lagi adalah masuk ke
tempat yang penuh kenikmatan (surga). Kita meminta kepada Allah agar kita semua
dimasukkan ke dalamnya, Allahumma aamiin.
Dari ayat di atas kita dapat menarik banyak kesimpulan, di
antaranya: (1) Keutamaan iman dan amal saleh, karena dengan kedua sebab itu
seseorang akan memperoleh kenikmatan surga, (2) Mendorong orang-orang yang
beriman untuk mengejar surga dengan disebutkan kenikmatan yang akan diperoleh
penghuninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar