Seri (11)
Ayat
26-27: Menyebutkan perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur'an dan
hikmah-hikmahnya, sikap manusia terhadapnya, dan bahwa dalam perumpamaan itu
terdapat ujian bagi hati dan jiwa manusia.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا
مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ
مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا
مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا
الْفَاسِقِينَ (26)
26. [1]Sesungguhnya
Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari
itu[2].
Adapun orang-orang yang beriman, maka
mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka[3],
tetapi mereka yang kafir berkata[4],
"Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?[5]."
Dengan (perumpamaan) itu banyak orang[6]
yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang[7]
yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan
(perumpamaan) itu kecuali orang-orang yang fasik[8],
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ
مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ
الْخَاسِرُونَ (27)
[1] As Suddiy meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu
Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat, mereka berkata, “Ketika Allah
membuatkan dua perumpamaan bagi kaum munafik, yakni firman-Nya, “Matsaluhum
kamatsalilladzistawqada naaraa,” dan firman-Nya, “Aw kashayyibim minas
samaa’,” yang terdiri dari tiga ayat, kaum munafik berkata, “Allah lebih
tinggi dan lebih agung dari membuat perumpamaan seperti ini,” maka Allah
menurunkan ayat ini (Innallaha laa yastahyii…dst.) sampai firman-Nya, “Humul
khaasiruun.”
Sa’id
berkata dari Qatadah, bahwa maksudnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak malu
menerangkan kebenaran untuk menyebutkan sesuatu yang sedikit atau banyak, dan
sesungguhnya Allah ketika menyebutkan lalat dan laba-laba dalam kitab-Nya, maka
orang-orang yang sesat berkata, “Apa maksud Allah menyebutkan sesuatu ini? Maka
Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ayat, “Innallaha laa yastahyii ay
yadhriba matsalam maa ba’uudhatan famaa fauqahaa…dst.”
[2] Sebagai
perumpamaan terhadap lemahnya berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah.
Hal ini seperti yang disebutkan dalam surah Al Hajj ayat 73; di dalamnya Allah
menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat menciptakan
lalat, meskipun mereka kerjakan bersama-sama, dan di surat Al Ankabuut ayat 41,
yang di dalamnya Allah menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan
oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung seperti lemahnya sarang
laba-laba.
Tampaknya ayat di atas sebagai jawaban
terhadap orang yang mengingkari perumpamaan yang dibuat Allah Ta'ala
menggunakan makhluk-makhluk yang kecil seperti nyamuk, padahal bukan pada
tempatnya membantah hal tersebut, ia merupakan pengajaran Allah kepada
hamba-hamba-Nya sekaligus sebagai rahmat-Nya yang seharusnya diterima dan
disyukuri. Bagi orang-orang yang beriman, ketika mereka mengetahui hikmahnya
bertambahlah ilmu dan iman mereka, kalau pun samar hikmahnya bagi mereka,
mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah hak (benar), isinya hak meskipun
secara rincinya mereka tidak mengetahui, karena mereka yakin bahwa Allah
tidaklah membuat perumpamaan main-main, bahkan karena ada hikmah yang dalam di
balik itu.
Abu
Ja’far Ar Raaziy berkata, “Dari Ar Rabii’ bin Anas tentang ayat ini, ia
berkata, “Ini adalah perumpamaan Allah terhadap dunia, bahwa nyamuk hidup
ketika masih lapar dan ketika telah gemuk, ia pun mati, demikian pula mereka
yang dibuatkan permisalan dalam Al Qur’an ini, ketika mereka telah puas dengan
dunia, maka Allah hukum mereka pada saat itu.” Selanjutnya, ia membacakan ayat,
“Maka ketika
mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; ...dst.” (Terj. Qs. Al An’aam: 44)
Sebagian kaum salaf berkata, “Apabila aku mendengar
perumpamaan dalam Al Qur’an, namun aku tidak memahaminya, maka aku menangisi
diriku, karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk
manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
(Terj. Qs. Al ‘Ankabut: 43)
Perlu diketahui, bahwa membuat perumpamaan termasuk
metode mengajar. Dengan perumpamaan yang dibuat, maka seseorang dapat memahami
lebih jelas maksudnya.
Catatan:
Dalam penelitian Ahli Biologi
dengan memperbesar nyamuk 400 kali, ternyata di kepala hewan ini terdapat 100
mata. Di mulutnya terdapat 48 gigi, dan di dadanya terdapat 3 jantung.
Masing-masing jantung terdapat dua atrium, dua bilik, dan dua katup. Yang cukup
mengejutkan, berat nyamuk yang diteliti hanya 0,001 gram. Selain anatomi yang
rumit tersebut, nyamuk juga memiliki perangkat canggih untuk menyedot darah.
Nyamuk punya alat pendeteksi darah. Selain itu, nyamuk punya alat pencair darah
dan pembius manusia. Belalai nyamuk juga memiliki enam pisau. Empat buah pisau
untuk membuat luka berbentuk segi empat, sedangkan dua pisau untuk membentuk
lubang sesuai tabung penghisap darah. Maka Mahasuci Allah dan Mahakuasa Dia
atas segala sesuatu.
[3] Mereka mengetahui hikmah
Allah Ta'ala membuat perumpamaan dengan makhluk-Nya yang kecil maupun yang
besar. Ayat ini menunjukkan bahwa perumpamaan yang Allah adakan hanyalah
bermanfaat bagi orang-orang yang beriman, karena merekalah yang jujur mencari
hidayah dan mencari kebenaran.
[4] Sambil membantah dan
mengolok-olok.
[5] Mereka tidak bisa
memahami perumpamaan itu.
[6] Yaitu kaum munafik,
sehingga mereka bertambah sesat, karena mendustakan kebenaran yang telah mereka
ketahui dari perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[7] Yaitu kaum mukmin,
sehingga mereka bertambah mendapatkan petunjuk karena membenarkan kebenaran
yang telah mereka ketahui dari perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Subhaanahu
wa Ta'aala.
[8] Yaitu orang-orang
munafik. Perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Ta'ala itu merupakakan ujian
untuk membedakan siapa yang mukmin dan siapa yang kafir. Oleh karena itu,
dengan perumpamaan itu ada yang disesatkan Allah karena olok-olokkan yang
mereka lakukan dan ada juga yang ditambahkan oleh-Nya iman dan hidayah dari-Nya.
Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat karena
keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Allah tidaklah menzalimi seorang pun, karena tidak ada
yang dijauhkan dari yang hak kecuali karena perbuatannya yang keluar dari
ketaatan kepada-Nya dan karena mereka tidak cocok memperoleh hidayah-Nya sesuai
kebijaksanaan-Nya.
[9] Padahal mereka telah berjanji untuk
mentauhidkan Allah Ta'ala dan menaati-Nya serta beribadah kepada-Nya sebagai
amanah yang dibebankan kepada mereka ketika langit, bumi, dan gunung tidak siap
memikulnya karena khawatir tidak bisa melaksanakan, diperkuat lagi dengan
diutusnya para rasul dan diturunkan kitab-kitab agar mereka mau memenuhi amanah
itu. Di samping itu, mereka juga melanggar ajaran Allah seperti memutuskan tali
silaturrahim dan menyebarkan kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang
yang rugi di dunia dan akhirat.
Ada
yang mengatakan, bahwa perjanjian di sini adalah perintah Allah untuk tetap
mentauhidkan-Nya sebagaimana tertera di surat Al A’raaf: 172, “Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku
ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuban kami), kami
menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu
tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."
Ada
yang mengatakan, bahwa perjanjian pada ayat tersebut adalah perjanjian yang
Allah ambil dari para nabi dan umat mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan (ingatlah), ketika
Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku
berikan kepadamu berupa Kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul
yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman
kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kamu mengakui
dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab,
"Kami mengakui." Allah berfirman, "Kalau begitu saksikanlah (wahai
Para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (Qs. Ali Imran: 81).
[10]
[11] Dengan melakukan berbagai kemaksiatan dan menghalangi
manusia dari beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
[12] Di akhiratnya. Hal ini sama seperti di
Dari beberapa ayat di atas (26-27)
kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) malu jangan sampai
menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan baik, mengucapkan yang benar,
dan memerintahkan kebenaran, (2) perlunya membuat perumpamaan agar lebih mudah
dipahami, (3) keadaan orang-orang beriman di hadapan wahyu Allah bertambah iman
dan kebaikannya, sedangkan orang-orang kafir semakin bertambah kesesatan dan
keburukannya, (4) peringatan akan bahayanya berbuat fasik (melanggar aturan
Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam) yang di antaranya
mengakibatkan melanggar perjanjian, memutuskan apa yang diperintahkan untuk
disambungkan, dan mencegah perkara yang ma’ruf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar