Kamis, 11 Juni 2026

Seri 11 (Surah Al Baqarah ayat 26-27)

 

Seri (11)

 



Ayat 26-27: Menyebutkan perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur'an dan hikmah-hikmahnya, sikap manusia terhadapnya, dan bahwa dalam perumpamaan itu terdapat ujian bagi hati dan jiwa manusia.

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)  

26. [1]Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu[2]. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka[3], tetapi mereka yang kafir berkata[4], "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?[5]." Dengan (perumpamaan) itu banyak orang[6] yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang[7] yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu kecuali orang-orang yang fasik[8],

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27) 

27. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan[9], dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan[10], dan membuat kerusakan di muka bumi[11]. Mereka itulah orang-orang yang rugi[12].


[1] As Suddiy meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat, mereka berkata, “Ketika Allah membuatkan dua perumpamaan bagi kaum munafik, yakni firman-Nya, “Matsaluhum kamatsalilladzistawqada naaraa,” dan firman-Nya, “Aw kashayyibim minas samaa’,” yang terdiri dari tiga ayat, kaum munafik berkata, “Allah lebih tinggi dan lebih agung dari membuat perumpamaan seperti ini,” maka Allah menurunkan ayat ini (Innallaha laa yastahyii…dst.) sampai firman-Nya, “Humul khaasiruun.

Sa’id berkata dari Qatadah, bahwa maksudnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak malu menerangkan kebenaran untuk menyebutkan sesuatu yang sedikit atau banyak, dan sesungguhnya Allah ketika menyebutkan lalat dan laba-laba dalam kitab-Nya, maka orang-orang yang sesat berkata, “Apa maksud Allah menyebutkan sesuatu ini? Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ayat, “Innallaha laa yastahyii ay yadhriba matsalam maa ba’uudhatan famaa fauqahaa…dst.”

[2] Sebagai perumpamaan terhadap lemahnya berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah. Hal ini seperti yang disebutkan dalam surah Al Hajj ayat 73; di dalamnya Allah menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat menciptakan lalat, meskipun mereka kerjakan bersama-sama, dan di surat Al Ankabuut ayat 41, yang di dalamnya Allah menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung seperti lemahnya sarang laba-laba.

Tampaknya ayat di atas sebagai jawaban terhadap orang yang mengingkari perumpamaan yang dibuat Allah Ta'ala menggunakan makhluk-makhluk yang kecil seperti nyamuk, padahal bukan pada tempatnya membantah hal tersebut, ia merupakan pengajaran Allah kepada hamba-hamba-Nya sekaligus sebagai rahmat-Nya yang seharusnya diterima dan disyukuri. Bagi orang-orang yang beriman, ketika mereka mengetahui hikmahnya bertambahlah ilmu dan iman mereka, kalau pun samar hikmahnya bagi mereka, mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah hak (benar), isinya hak meskipun secara rincinya mereka tidak mengetahui, karena mereka yakin bahwa Allah tidaklah membuat perumpamaan main-main, bahkan karena ada hikmah yang dalam di balik itu.

Abu Ja’far Ar Raaziy berkata, “Dari Ar Rabii’ bin Anas tentang ayat ini, ia berkata, “Ini adalah perumpamaan Allah terhadap dunia, bahwa nyamuk hidup ketika masih lapar dan ketika telah gemuk, ia pun mati, demikian pula mereka yang dibuatkan permisalan dalam Al Qur’an ini, ketika mereka telah puas dengan dunia, maka Allah hukum mereka pada saat itu.” Selanjutnya, ia membacakan ayat, “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; ...dst.” (Terj. Qs. Al An’aam: 44)

Sebagian kaum salaf berkata, “Apabila aku mendengar perumpamaan dalam Al Qur’an, namun aku tidak memahaminya, maka aku menangisi diriku, karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Terj. Qs. Al ‘Ankabut: 43)

Perlu diketahui, bahwa membuat perumpamaan termasuk metode mengajar. Dengan perumpamaan yang dibuat, maka seseorang dapat memahami lebih jelas maksudnya.

Catatan:

Dalam penelitian Ahli Biologi dengan memperbesar nyamuk 400 kali, ternyata di kepala hewan ini terdapat 100 mata. Di mulutnya terdapat 48 gigi, dan di dadanya terdapat 3 jantung. Masing-masing jantung terdapat dua atrium, dua bilik, dan dua katup. Yang cukup mengejutkan, berat nyamuk yang diteliti hanya 0,001 gram. Selain anatomi yang rumit tersebut, nyamuk juga memiliki perangkat canggih untuk menyedot darah. Nyamuk punya alat pendeteksi darah. Selain itu, nyamuk punya alat pencair darah dan pembius manusia. Belalai nyamuk juga memiliki enam pisau. Empat buah pisau untuk membuat luka berbentuk segi empat, sedangkan dua pisau untuk membentuk lubang sesuai tabung penghisap darah. Maka Mahasuci Allah dan Mahakuasa Dia atas segala sesuatu.

[3] Mereka mengetahui hikmah Allah Ta'ala membuat perumpamaan dengan makhluk-Nya yang kecil maupun yang besar. Ayat ini menunjukkan bahwa perumpamaan yang Allah adakan hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang beriman, karena merekalah yang jujur mencari hidayah dan mencari kebenaran.

[4]  Sambil membantah dan mengolok-olok.

[5] Mereka tidak bisa memahami perumpamaan itu.

[6] Yaitu kaum munafik, sehingga mereka bertambah sesat, karena mendustakan kebenaran yang telah mereka ketahui dari perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[7] Yaitu kaum mukmin, sehingga mereka bertambah mendapatkan petunjuk karena membenarkan kebenaran yang telah mereka ketahui dari perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[8] Yaitu orang-orang munafik. Perumpamaan yang dibuatkan oleh Allah Ta'ala itu merupakakan ujian untuk membedakan siapa yang mukmin dan siapa yang kafir. Oleh karena itu, dengan perumpamaan itu ada yang disesatkan Allah karena olok-olokkan yang mereka lakukan dan ada juga yang ditambahkan oleh-Nya iman dan hidayah dari-Nya. Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Allah tidaklah menzalimi seorang pun, karena tidak ada yang dijauhkan dari yang hak kecuali karena perbuatannya yang keluar dari ketaatan kepada-Nya dan karena mereka tidak cocok memperoleh hidayah-Nya sesuai kebijaksanaan-Nya.

[9]  Padahal mereka telah berjanji untuk mentauhidkan Allah Ta'ala dan menaati-Nya serta beribadah kepada-Nya sebagai amanah yang dibebankan kepada mereka ketika langit, bumi, dan gunung tidak siap memikulnya karena khawatir tidak bisa melaksanakan, diperkuat lagi dengan diutusnya para rasul dan diturunkan kitab-kitab agar mereka mau memenuhi amanah itu. Di samping itu, mereka juga melanggar ajaran Allah seperti memutuskan tali silaturrahim dan menyebarkan kerusakan di muka bumi, mereka itulah orang-orang yang rugi di dunia dan akhirat.

Ada yang mengatakan, bahwa perjanjian di sini adalah perintah Allah untuk tetap mentauhidkan-Nya sebagaimana tertera di surat Al A’raaf: 172, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

Ada yang mengatakan, bahwa perjanjian pada ayat tersebut adalah perjanjian yang Allah ambil dari para nabi dan umat mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami mengakui." Allah berfirman, "Kalau begitu saksikanlah (wahai Para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (Qs. Ali Imran: 81).

Ada pula yang mengatakan, bahwa ayat ini tertuju kepada orang-orang Ahli Kitab dan kaum munafik di antara mereka. Maksud ‘melanggar perjanjian Allah’ adalah perjanjian mereka dengan Allah dalam Taurat untuk mengamalkan isinya, mengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Beliau telah diutus, membenarkan Beliau dan apa yang Beliau bawa dari sisi Allah, mereka melanggar perjanjian itu; mereka mendustakan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah mengenalinya dan menyembunyikan ilmu yang mereka ketahui tentang kebenaran Beliau dan tidak memberitahukannya kepada manusia, dan mereka lempar kitab mereka ke belakang punggung mereka serta menjualnya dengan harga yang murah (lihat Qs. Ali Imran: 187).

[10] Ada yang menafsirkan sebagai menyambung tali silaturrahim dan ada yang menafsirkan lebih luas lagi, yaitu memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan berupa hak-hak. Kepada Allah Ta'ala, menyambungnya adalah dengan beriman dan beribadah kepada-Nya. Kepada rasul-Nya, seperti dengan beriman kepadanya, mencintainya, membelanya dan memenuhi hak-haknya. Demikian juga termasuk ke dalamnya memenuhi hak orang tua, kerabat dan orang lain.

[11] Dengan melakukan berbagai kemaksiatan dan menghalangi manusia dari beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

[12] Di akhiratnya. Hal ini sama seperti di surat Ar Ra’d: 25.

Dari beberapa ayat di atas (26-27) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) malu jangan sampai menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan baik, mengucapkan yang benar, dan memerintahkan kebenaran, (2) perlunya membuat perumpamaan agar lebih mudah dipahami, (3) keadaan orang-orang beriman di hadapan wahyu Allah bertambah iman dan kebaikannya, sedangkan orang-orang kafir semakin bertambah kesesatan dan keburukannya, (4) peringatan akan bahayanya berbuat fasik (melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam) yang di antaranya mengakibatkan melanggar perjanjian, memutuskan apa yang diperintahkan untuk disambungkan, dan mencegah perkara yang ma’ruf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...