Minggu, 18 Januari 2026

Mukadimah (3) Keutamaan Membaca Al Qur'an



 

Keutamaan Membaca Al Qur’an

 

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)  

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,-- Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Faathir: 29-30)

Syaikh Ibnu 'Utsaimin menjelaskan bahwa membaca kitab Allah ada dua macam:

Pertama, membaca hukmiyyah, yakni membenarkan berita-berita yang ada dan melaksanakan hukum-hukumnya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Kedua, membaca lafzhiyyah, yakni membaca lafaznya. Telah datang nash-nash yang cukup banyak menerangkan tentang keutamaannya, baik membaca secara umum isi Al Qur'an, surat tertentu maupun ayat tertentu (lihat Majaalis Syahri Ramadhan, tentang Fadhlu Tilaawatil Qur'aan).

Menurut Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, bahwa dalam membaca Al Qur’an tidak cukup hanya melihat mushaf, bahkan harus menggerakkan kedua bibir.

Ibnu Rusyd menukil dalam Al Bayan wat Tahshil (1/490) dari Imam Malik rahimahullah, bahwa dia pernah ditanya tentang seorang yang membaca dalam shalat, namun tidak memperdengarkan kepada orang lain dan tidak pula kepada dirinya, serta tidak menggerakkan lisannya, ia (Imam Malik) menjawab, “Ini bukan bacaan. Bacaan itu adalah yang digerakkan oleh lisan.”

 

Keutamaan membaca Al Qur'an

Berikut ini akan kami sebutkan keutamaan membaca Al Qur'an:

1.  Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه

"Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Hal itu dikarenakan Al Qur'an adalah firman Allah Rabbul 'aalamin. Al Qur'an merupakan ilmu yang paling utama dan paling mulia, oleh karena itu orang yang mempelajari dan mengajarkannya adalah orang yang terbaik di sisi Allah Ta'ala.

2.  Al Qur'an adalah sebaik-baik perkataan

Allah Azza wa Jalla berfirman,

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran." (Terj. Qs. Az Zumar: 23)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

"Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, seburuk-buruk urusan adalah perbuatan yang diada-adakan (dalam agama) dan semua bid'ah adalah sesat." (Hr. Muslim)

Imam Syafi'i dan ulama lainnya berpendapat bahwa membaca Al Qur'an merupakan dzikr yang paling utama.

3.  Orang yang mahir membaca Al Qur'an akan bersama para malaikat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

 “Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Al Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (Hr. Muslim)

Orang yang tersendat-sendat dalam membaca Al Qur'an mendapatkan dua pahala adalah hasil dari membaca Al Qur'an dan karena telah bersusah payah untuknya.

4.  Orang yang membaca Al Qur'an diibaratkan seperti buah utrujjah yang luarnya wangi dan dalamnya manis.

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (البخاري)

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti buah kurma; tidak ada wanginya, tetapi rasanya manis. Orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah seperti tumbuhan raihaanah (seperti kemangi); aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti tumbuhan hanzhalah; tidak ada wanginya dan rasanya pahit.” (Hr. Bukhari-Muslim)

5.  Al Qur'an akan memberi syafa'at kepada pembacanya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

6.  Membaca satu atau dua ayat Al Qur'an lebih baik daripada memperoleh satu atau dua ekor unta yang besar

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabat,

« أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ » . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ « أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ » . 

“Siapakah di antara kalian yang suka berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq dan pulangnya membawa dua unta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau bersabda, “Tidak adakah salah seorang di antara kamu yang pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Al Qur’an? Yang sesungguhnya hal itu lebih baik daripada memperoleh dua ekor unta, tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta dan (jika lebih) sesuai jumlah itu dari beberapa ekor unta.” (Hr. Muslim)

7.  Rahmat dan ketentraman akan turun ketika berkumpul membaca Al Qur'an

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah berkumpul sebuah kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketentraman kepada mereka, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut mereka ke hadapan makhluk di sisi-Nya." (Hr. Muslim)

8.  Karena kemuliaan Al Qur'an, tidak patut bagi yang telah menghapalnya mengatakan "Saya lupa ayat ini dan itu", tetapi hendaknya mengatakan "Ayat ini telah terlupakan."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لا يقُلْ أحْدُكم نِسيَتُ آية كَيْتَ وكيْتَ بل هو نُسِّيَ

"Janganlah salah seorang di antara kamu berkata, "Saya lupa ayat ini dan ini", bahkan ayat itu telah dilupakan." (Hr. Muslim)

Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, "Hal itu karena ucapan "saya lupa" terkesan adanya sikap tidak peduli dengan ayat Al Qur'an yang dihapalnya sehingga ia pun melupakannya."

9.  Membaca satu huruf Al Qur'an akan memperoleh sepuluh kebaikan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (Hr. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani)

10.          Al Qur'an merupakan tali Allah

Ali bin Abi Thalib berkata, “Al Qur'an adalah Kitabullah, di dalamnya terdapat berita generasi sebelum kalian, berita yang akan terjadi setelah kalian dan sebagai hukum di antara kalian. Al Qur'an adalah keputusan yang serius bukan main-main, barang siapa meninggalkannya dengan sombong pasti dibinasakan Allah, barang siapa mencari petunjuk kepada selainnya pasti disesatkan Allah. Dialah tali Allah yang kokoh,  peringatan yang bijaksana dan jalan yang lurus. Dengan Al Qur'an hawa nafsu tidak akan menyeleweng dan lisan tidak akan rancu. Para ulama tidak akan merasa cukup (dalam membacanya dan mempelajarinya), Al Qur'an tidak akan usang karena banyak pengulangan, dan tidak akan habis keajaibannya. Dialah Al Qur'an, dimana jin tidak berhenti mendengarnya sehingga mereka mengatakan; “Sungguh kami mendengar Al- Qur’an yang penuh keajaiban, menunjukkan ke jalan lurus, maka kami beriman kepadanya". Barang siapa yang berkata dengannya pasti benar, barang siapa beramal dengannya pasti diberi pahala, barang siapa berhukum dengannya pastilah adil dan barang siapa mengajak kepadanya pastilah ditunjuki ke jalan yang lurus."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya orang yang membaca Al Qur’an dan mentadabburinya (menghayatinya), maka yang demikian merupakan sebab terbesar yang menghalanginya dari terjatuh ke dalam berbagai maksiat atau sebagiannya.” (Al Fatawa 20/123)

11.          Pembaca Al Qur'an akan ditinggikan derajatnya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

“Akan dikatakan kepada pembaca Al Qur’an “Bacalah dan naiklah (ke derajat yang tinggi), serta tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada akhir ayat yang kamu baca.” (Hasan shahih, Hr. Tirmidzi)

12.          Dengan Al Qur'an, Allah meninggikan suatu kaum dan dengannya pula Allah merendahkan suatu kaum

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Al Qur’an ini dan merendahkan juga karenanya.” (Hr. Muslim)

Yakni bagi orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengamalkan isinya, maka Allah akan meninggikannya. Sebaliknya, bagi orang yang mengetahuinya, namun malah mengingkarinya, maka Allah akan merendahkannya.

13.          Orang yang membaca Al Qur'an secara terang-terangan seperti bersedekah secara terang-terangan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اَلْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ وَ الْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

"Orang yang membaca Al Qur'an terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, dan orang yang membaca Al Qur'an secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi." (Hr. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i, lihat Shahihul Jaami': 3105)

Oleh karena itu, bagi orang yang khawatir riya' lebih utama membacanya secara sembunyi. Namun jika tidak khawatir, maka lebih utama secara terang-terangan.

14.          Para penghapal Al Qur'an dimuliakan oleh Islam

Di antara bentuk pemuliaan Islam kepada mereka adalah:

1. Mereka lebih berhak diangkat menjadi imam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya yang mengimami suatu kaum itu orang yang paling banyak (hapalan) terhadap Kitab Allah Ta’ala (Al Qur’an). Jika mereka sama dalam hapalan, maka yang lebih mengetahui tentang Sunnah. Jika mereka sama dalam pengetahuannya tentang sunnah, maka yang paling terdepan hijrahnya. Jika mereka sama dalam hijrahnya, maka yang paling terdepan masuk Islamnya –dalam riwayat lain disebutkan “Paling tua umurnya”-, janganlah seorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya, dan janganlah ia duduk di tempat istimewa yang ada di rumah orang lain kecuali dengan izinnya.” (Hr. Muslim)

2. Mereka lebih didahulukan dimasukkan ke dalam liang lahad, jika banyak orang yang meninggal.

Pada saat perang Uhud banyak para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang gugur, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar yang lebih didahulukan dimasukkan ke liang lahad adalah para penghapal Al Qur'an.

3. Berhak mendapatkan penghormatan di masyarakat

Oleh karena itu, di zaman Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, para penghapal Al Qur'an duduk di majlis musyawarahnya.

Catatan:

Dalam Thabaqat Majduddin disebutkan, bahwa Zufar bin Al Hudzail (murid senior Abu Hanifah) berhasil menghafalkan Al Qur’an dua tahun di akhir usianya. Setelah ia wafat ada yang bermimpi melihatnya dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Ia menjawab, “Kalau bukan karena dua tahun itu (yang aku manfaatkan buat menghafal Al Qur’an) tentu Zufar sudah binasa.” (Syarh Musnad Abi Hanifah 1/45)

15.          Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai Al Qur'an

Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, "Barang siapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah: "Jika ia mencintai Al Qur'an, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (Diriwayatkan oleh Thabraniy dengan isnad, dimana para perawinya tsiqah)

Utsman bin 'Affan radhiyallahu anhu berkata, "Kalau sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan kenyang (membaca) kitabullah."

Khabbab bin Art radhiyallahu anhu berkata, “Dekatkanlah dirimu kepada Allah Ta’ala semampumu. Ketahuilah, tidak ada sesuatu yang paling dicintai-Nya untuk mendekatkan diri kepadanya daripada membaca firman-Nya.”

 

 

 

Catatan:

Manakah yang lebih utama antara membaca Al Quran secara tartil namun sedikit dengan membaca cepat namun banyak?

Ibnul Qayyim setelah menyebutkan khilaf di antara ulama berkata, “Yang benar dalam masalah ini adalah menyatakan, bahwa pahala membaca secara tartil sambil mentadabburinya lebih berbobot dan bernilai, namun pahala membaca banyak ayat/surat lebih banyak secara hitungan jumlah. Perumpamaan yang pertama seperti orang yang bersedekah dengan batu permata yang besar atau memerdekakan seorang budak yang harganya mahal,  sedangkan perumpamaan yang kedua seperti orang yang bersedekah dengan sejumlah dirham yang banyak atau memerdekakan beberapa budak yang harganya murah.” Dalam Shahih Bukhari dari Qatadah ia berkata, "Aku bertanya kepada Anas tentang bacaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu ia menjawab, "Bacaan Beliau panjang."

Ibnu Hajar berkata, "Anjuran membaca secara tartil bukan berarti makruh membaca secara cepat. Yang makruh adalah al hadz, yakni terlalu cepat sehingga huruf-hurufnya banyak yang samar, atau keluar dari makhrajnya. Bahkan di bab ini telah disebutkan pengingkaran Ibnu Mas'ud terhadap orang yang membaca cepat seperti membaca syair." (Fathul Bari 9/89)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sangat disayangkan engkau dapati sebagian penuntut ilmu tidak hafal Al Quran, bahkan sebagian mereka tidak baik membacanya. Ini merupakan kekurangan yang besar dalam manhaj menuntut ilmu. Oleh karena itu, saya ulangi, bahwa wajib bagi penuntut ilmu berusaha menghafal Al Quran, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan memahaminya dengan pemahaman yang sesuai faham salafush shalih." (Al Ilmu 1/35)

 

Faedah

Sebagian ahli ilmu berpendapat, bahwa para penghafal Al Qur’an akan memiliki lima tingkatan atau martabat:

Pertama, tingkatan mendapatkan syafaat pada hari Kiamat.

Kedua, mendapatkan ketinggian derajat sesuai ayat yang ia sanggup baca.

Ketiga, dikumpulkan bersama para malaikat utusan yang berbakti.

Keempat, menjadi orang terbaik.

Kelima, menjadi Ahlullah wa Khaashshatuh (wali Allah dan manusia pilihan-Nya). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ» 

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba yang dekat dengan-Nya dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah para penghafal Al Qur’an. Merekalah para wali Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (Hr. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (6) Pengantar Tafsir Al Qur'an

Pengantar Tafsir Al Qur’an [1] Mengenal Al Qur’an 1.       Al Qur’an secara bahasa berarti tilawah/matlu (bacaan) dan jam’/jami (yang ...