Seri (2)
Juz 1
Surah Al Fatihah (Pembuka)[1]
Surah ke-1. Terdiri
dari 7 ayat. Makkiyyah.
Al Fatihah artinya Pembuka atau Awal,
jamaknya adalah Fawatih.
Sebab dinamakan ‘Al Fatihah’ adalah karena
mushaf Al Qur’an diawali dengannya dalam penulisan dan karena semua shalat
dibuka dengan surah ini.
Di antara keutamaan surah ini adalah
sebagai surah paling agung dalam Al Qur’an, disebut sebagai ‘nur’ (cahaya), dan
sebagai syifa (penyembuh).
Ayat 1-5 menerangkan tentang pujian dan
sanjungan bagi Allah Azza wa Jalla, dan ayat 6-7 memuat doa memohon hidayah dan istiqamah.
Di dalamnya juga terdapat ketergantungan
kepada Allah Azza wa Jalla dan mencintai-Nya sehingga terus diulang dalam
setiap shalat. Di samping agar nilai-nilai yang terkandung di surah Al Fatihah
senantiasa diingat seorang hamba, dan karena butuhnya seorang hamba kepada
hidayah Allah di setiap waktu.
[1] Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan
di Mekah dan terdiri dari 7 ayat ini adalah
Tentang mencakupnya isi surat Al Fatihah terhadap semua ilmu yang ada
di dalam Al Qur'an diterangkan oleh Az Zamakhsyari, yaitu karena di dalam Al
Fatihah terdapat pujian bagi Allah yang sesuai, terdapat peribadatan
kepada-Nya, terdapat perintah dan larangan serta terdapat janji dan ancaman,
sedangkan ayat-ayat Al Qur'an tidak lepas dari semua ini. Dengan demikian, semua isi Al Qur'an
merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang disebutkan secara garis
besar dalam
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Surah Al Fatihah adalah pembuka kitab, induk Al Qur’an, As Sab’ul
Matsani (tujuh ayat yang berulang-ulang), obat penawar yang sempurna, obat yang
bermanfaat, ruqyah yang sempurna, kunci kecukupan dan keberuntungan, penjaga
kekuatan, serta penolak kegelisahan, kegundahan, ketakutan dan kesedihan bagi
orang yang mengetahui kadar kedudukannya dan memberikan haknya,” (Bada’i’ut
Tafsir 1/23)
Surah Al
Fatihah membicarakan tentang pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, akidah,
ibadah, syariat, keyakinan kepada hari Akhir dan beriman kepada nama Allah yang
indah. Demikian pula mengesakan Allah dalam beribadah, memohon pertolongan, dan
dalam berdoa, serta mengharap kepada Allah dengan memohon hidayah-Nya ke jalan
yang lurus, memohon pula agar diteguhkan di atas keimanan dan mengikuti jalan
orang-orang yang saleh, serta menjauhi jalan orang-orang yang dimurkai dan yang
sesat. Demikian pula menceritakan tentang kisah orang-orang terdahulu, memperhatikan
tempat orang-orang yang bahagia dan tempat orang-orang yang sengsara, serta
beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya.
Nama lain surah Al Fatihah dan maknanya
Tentang nama lain surah Al
Fatihah disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi dan ia menshahihkannya dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
الْحَمْدُ لِلَّهِ أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ
وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي
“Al Hamdulillah (
Surah ini dinamakan pula “Al
Hamdu” dan “Ash Shalaah” sebagaimana dalam hadits berikut:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ
فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ قَالَ
قُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّي أَحْيَانًا أَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ قَالَ
يَا ابْنَ الْفَارِسِيِّ فَاقْرَأْهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِي
وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقْرَأُ الْعَبْدُ فَيَقُولُ{
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
حَمِدَنِي عَبْدِي فَيَقُولُ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } فَيَقُولُ اللَّهُ أَثْنَى
عَلَيَّ عَبْدِي فَيَقُولُ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } فَيَقُولُ مَجَّدَنِي
عَبْدِي وَهَذَا لِي وَبَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ } وَآخِرُ السُّورَةِ لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقُولُ{
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }
Dari
Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barang siapa shalat tanpa membaca ummul Qur'an (Al Fatihah), maka
shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." Aku (Abul ‘
Al
Fatihah dalam hadits di atas dinamakan Ash Shalaah, karena diwajibkan
membacanya di dalam shalat, dan shalat tidak akan sah tanpanya.
Surah ini disebut juga Ar Ruqyah
berdasarkan hadits Abu Sa’id berikut,
أَنَّ نَاسًا مِنْ
أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ
أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ لُدِغَ
سَيِّدُ أُولَئِكَ فَقَالُوا هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ فَقَالُوا إِنَّكُمْ
لَمْ تَقْرُونَا وَلَا نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَجَعَلُوا
لَهُمْ قَطِيعًا مِنْ الشَّاءِ فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَيَجْمَعُ
بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ فَقَالُوا لَا نَأْخُذُهُ
حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ
فَضَحِكَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي
بِسَهْمٍ
“Bahwa
beberapa orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengadakan suatu
perjalanan, ketika mereka melewati salah satu perkampungan dari perkampungan orang
Arab, orang-orang kampung tersebut tidak mau menjamu mereka, ketika sikap
mereka masih seperti itu, seorang pemimpin mereka terkena sengatan
kalajengking, lalu mereka pun berkata, "Apakah di antara kalian ada yang
mempunyai obat, atau seorang yang bisa meruqyah?" Lalu para sahabat Nabi
berkata, "Sesungguhnya kalian tidak mau menjamu kami, maka kami pun tidak
akan melakukannya sehingga kalian memberikan imbalan kepada kami, "
Akhirnya mereka pun berjanji akan memberikan beberapa ekor kambing," lalu
seorang sahabat Nabi membaca Ummul Qur`an dan mengumpulkan ludahnya seraya
meludahkan kepadanya hingga laki-laki itu sembuh, kemudian orang-orang kampung
itu memberikan kepada para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam beberapa
ekor kambing." Namun sebagian para sahabat Nabi berkata, "Kita tidak
akan mengambilnya hingga kita bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam tentang hal ini, " lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam tentang pemberian itu hingga membuat Beliau tertawa. Beliau
bersabda, "Dari mana kamu tahu bahwa surat itu sebagai ruqyah? Ambillah
pemberian tersebut dan berilah bagiannya untukku." (Hr. Bukhari)
Nama lain
«الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ. هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ
العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ»
"Al Hamdulillahi Rabbil
'aalamin,
ia adalah As Sab'ul Matsani dan Al Qur'anul 'Azhiim yang diberikan
kepadaku." (Hr. Bukhari)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
لَا
صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
"Tidak
ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Hr. Bukhari dan Muslim)
Surah Al Fatihah ini tergolong surah-surah
Makkiyyah sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Qatadah dan Abul ‘Aliyah
berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي
وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
“Dan
sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca
berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (Qs. Al Hijr: 87)
Namun Mujahid berpendapat, bahwa surat Al
Fatihah adalah Madaniyyah. Ada pula yang berpendapat, bahwa surat Al Fatihah
turun dua kali; di Mekkah dan di Madinah. Tetapi pendapat yang menyatakan bahwa
surat Al Fatihah turun di Mekkah lebih kuat berdasarkan ayat di surat Al Hijr
di atas, sedangkan surat Al Hijr adalah Makkiyyah.
Jumlah ayatnya berdasarkan ayat di atas
adalah tujuh ayat tanpa ada lagi khilaf. Awal ayat menurut para ulama yang
berpendapat bahwa basmalah bagian dari Al Fatihah adalah Bismillahirrahmaanirrahim
dan ayat terakhirnya adalah Shiraathalladziina…dst. Sedangkan
menurut ulama yang berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah,
awal ayatnya adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, dan ayat terakhirnya Ghairil
maghdhubi alaihim…dst.
Faedah
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata, “Sebagian manusia saat ini telah mengadakan sebuah bid’ah terkait
surah ini, dimana mereka menutup doa dengan Al Fatihah, memulai khutbah dengan
Al Fatihah, serta membaca Al Fatihah dalam beberapa kesempatan. Hal ini adalah
keliru. Engkau temukan misalnya ada yang ketika berdoa; ia berkata kepada
orang-orang yang berada di sekelilingnya ‘Al Fatihah!” yang maksudnya adalah
‘Bacalah surah Al Fatihah!”, sedangkan sebagian lagi ada yang memulai khutbah
dengan Al Fatihah atau dalam beberapa keadaan. Hal ini juga keliru, karena
ibadah itu dasarnya adalah tauqif (diam menunggu dalil) dan itttiba (mengikuti
contoh).” (Tafsir Juz Amma hal. 6 Cet. Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah)
Apakah basmalah
(Bismillahirrahmaanirrahim) termasuk ayat surah Al Fatihah atau tidak?
Dari kalangan sahabat yang berpendapat bahwa
basmalah merupakan ayat dari setiap
Adapun Imam Malik, Abu Hanifah dan
kawan-kawan keduanya berpendapat, bahwa basmalah tidak termasuk ayat Al Fatihah
dan tidak pula termasuk ayat dari surat-surat yang lain. Dawud berpendapat,
bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri di setiap
Menurut madzhab Hafsh dari
Ashim, bahwa basmalah bagian dari surat Al Fatihah dan setiap surat selain
surat Al Bara’ah (At Taubah), dan setiap surah dipisah dengan basmalah selain
Al Anfal dan At Taubah.
Dengan demikian, para ulama berselisih
apakah basmalah (Bismillahirrahmaanirrahim) termasuk ayat surah Al
Fatihah atau tidak? Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia termasuk Al
Fatihah, dibaca dalam shalat yang jahar (dikeraskan suaranya) dan berpendapat
bahwa shalat tidak akan sah tanpa membaca basmalah, karena ia termasuk Al
Fatihah. Namun di antara mereka ada yang berpendapat, bahwa basmalah tidak
termasuk surah Al Fatihah, tetapi ayat tersendiri dalam Kitabullah, dan
pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Tafsir Juz
‘Ammanya.
Alasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah hadits
Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala membagi shalat
antara Dia dan hamba-Nya dua bagian; jika seorang
hamba membaca, Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin,…dst.” Hal ini merupakan
nash yang menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk Al Fatihah (karena basmalah
tidak disebutkan). Demikian pula berdasarkan hadits Anas bin
صَلَّيْتُ خَلْفَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
} لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ
وَلَا فِي آخِرِهَا
"Saya
shalat di belakang Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, Abu Bakar, Umar, dan
Utsman, maka mereka memulai membaca dengan, 'Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin
(Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam).' Mereka tidak menyebutkan, “Bismillahirrahmanirrahim”
(dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) pada awal
bacaan, dan tidak pada akhirnya." (Hr. Bukhari dan Muslim)
Maksud tidak menyebutkan adalah tidak
menjaharkan atau mengeraskan basmalahnya. Dipisahkan basmalah dengan Al Fatihah
dengan disirkan (dipelankan) basmalah dan dijaharkan Al Fatihah menunjukkan
bahwa basmalah tidak termasuk Al Fatihah.
Ini adalah alasan dari sisi nash, adapun
dari sisi siyaq (susunannya) yakni dari sisi maknanya menurut Syaikh Ibnu
‘Utsaimin adalah karena Al Fatihah merupakan tujuh ayat dengan kesepakatan
ulama, dan jika kita hendak membagi tujuh ayat atas temanya, maka kita akan
dapatkan bahwa separuhnya adalah firman Allah Ta’ala, “Iyyaka
na’budu wa iyyaka nasta’iin,” inilah ayat
yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman tentangnya, “Aku membagi shalat
antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian,” karena Al Hamdulillahi
Rabbil ‘aalamiin adalah pertama, Ar Rahmaanirrahiim adalah kedua, Maaliki
yaumiddin adalah ketiga, dan semuanya hak Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Iyyaaka
na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah keempat, inilah pertengahannya dan di
sana terdapat dua bagian; bagian untuk Allah dan bagian untuk hamba-Nya, Ihdinash
shiraathal mustaqiim adalah untuk hamba, shirrathalladziina an’amta
‘alaihim adalah untuk hamba, dan ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh
dhaalliiin adalah untuk hamba. Sehingga tiga ayat yang pertama untuk Allah,
tiga ayat terakhir adalah untuk hamba, sedangkan satu antara hamba dan
Tuhannya, yaitu ayat keempat yang pertengahan. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
juga, dari sisi susunan lafaznya, jika kita katakan, bahwa basmalah termasuk
ayat Al Fatihah, maka ayat ketujuhnya berarti panjang seukuran dua ayat,
sedangkan sudah menjadi maklum bahwa kedekatan panjang dan pendeknya ayat itulah
asalnya. Oleh karena itu, menurutnya yang benar bahwa basmalah tidak termasuk
surah Al Fatihah sebagaimana basmalah juga tidak termasuk ayat dari surah-surah
yang lain.
Tetapi
menurut Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr dalam bukunya "Qathfuts
tsamaril mustathaab fii tafsiir Faatihatil Kitab", bahwa pendapat yang
lebih tepat adalah, basmalah termasuk salah satu ayat dari surat Al Fatihah.
Alasannya adalah hadits Ummu Salamah yang menuturkan bagaimana cara Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Al Fatihah,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
(1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ
يَوْمِ الدِّينِ (4)
Beliau
membacanya ayat perayat, dan memberi jeda pada setiap ayatnya." (Hr. Abu
Dawud dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Ibnul Qayyim
dalam Zaadul Ma’aad berkata, “Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam shalat) terkadang menjaharkan Bismillahirrahmaanirrahim,
namun mensirkannya lebih sering Beliau lakukan daripada menjaharkannya.”
Jumlah
kata dalam surah Al Fatihah dan jumlah hurufnya
Para ulama mengatakan, bahwa jumlah katanya
adalah 25 kata, sedangkan jumlah hurufnya ada 113 huruf.
Keutamaan surah Al Fatihah
عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ حَتَّى صَلَّيْتُ فَأَتَيْتُهُ فَقَالَ
مَا مَنَعَكَ أَنْ تَأْتِيَنِي قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي
قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا
لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ }ثُمَّ قَالَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ
فِي الْقُرْآنِ أَوْ مِنْ الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَ
فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ قُلْتُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ نَعَمْ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ
الَّذِي أُوتِيتُه
Dari Abu Sa'id bin Al Mu'alla ia berkata,
"Suatu ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku, namun saya tidak menjawab
panggilannya hingga shalatku selesai. Ketika aku datang, beliau pun bertanya,
"Apa yang menghalangimu untuk mendatangiku?" Saya menjawab,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang shalat." Beliau bersabda,
"Bukankah Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman, “Wahai orang-orang yang
beriman! penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru
kamu…dst.” (Qs. Al Anfaal: 24). Beliau bersabda lagi, "Sungguh, saya
akan mengajarimu satu
Imam Muslim dan Nasa’i meriwayatkan dari
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata,
بَيْنَمَا جِبْرِيلُ
قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا
مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ
الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ
هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ
فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ
قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ
بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
“Ketika malaikat Jibril sedang duduk di
samping Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba ia mendengar suara (pintu
dibuka) dari arah atas kepalanya, lalu malaikat Jibril mengangkat kepalanya dan
berkata, "Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya
ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini." Lalu keluarlah
daripadanya malaikat. Jibril berkata, "Ini adalah malaikat yang hendak
turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali
pada hari ini saja." Lalu ia memberi salam dan berkata,
"Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah
diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (
Tentang keutamaan
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَخْيَرَ سُوْرَةٍ فِي اْلقُرْآنِ { الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ }
"Maukah aku beritahukan
kepadamu
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَ فِي
التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْقُرْآنِ
مِثْلُهَا وَإِنَّهَا لَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي الَّتِي آتَانِي اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ»
“Demi Allah yang jiwaku di
Tangan-Nya. Tidak pernah diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, Zabur, maupun Al
Qur’an sebuah surat yang semisal dengan Al Fatihah. Ia adalah Sab’ul Matsani
yang Allah Azza wa Jalla berikan kepadaku.” (Hr. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim. Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat
Muslim.” Dinyatakan hasan shahih oleh Imam Al Baghawi).
Wajibnya
membaca
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ
خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ
"Barang siapa shalat tanpa membaca ummul Qur'an (Al
Fatihah), maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." (Hr.
Ahmad, Muslim dan empat Imam Ahli Hadits dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6349)
لَا
صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
"Tidak ada shalat bagi yang
tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Hr. Bukhari dan Muslim)
لَا تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيْهَا بِفَاتِحَةِ
الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat yang tidak
dibaca di dalamnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar