Rabu, 27 Mei 2026

Seri (2) Pengantar Surah Al Fatihah

 

Seri (2)

 


Juz 1

 

Surah Al Fatihah (Pembuka)[1]

Surah ke-1. Terdiri dari 7 ayat. Makkiyyah.

Al Fatihah artinya Pembuka atau Awal, jamaknya adalah Fawatih.

Sebab dinamakan ‘Al Fatihah’ adalah karena mushaf Al Qur’an diawali dengannya dalam penulisan dan karena semua shalat dibuka dengan surah ini.

Di antara keutamaan surah ini adalah sebagai surah paling agung dalam Al Qur’an, disebut sebagai ‘nur’ (cahaya), dan sebagai syifa (penyembuh).

Ayat 1-5 menerangkan tentang pujian dan sanjungan bagi Allah Azza wa Jalla, dan ayat 6-7  memuat doa memohon hidayah dan istiqamah.

Di dalamnya juga terdapat ketergantungan kepada Allah Azza wa Jalla dan mencintai-Nya sehingga terus diulang dalam setiap shalat. Di samping agar nilai-nilai yang terkandung di surah Al Fatihah senantiasa diingat seorang hamba, dan karena butuhnya seorang hamba kepada hidayah Allah di setiap waktu.

Hubungan surah Al Fatihah dengan surah setelahnya adalah bahwa surah ini sebagai pengantar secara garis besar tentang tema-tema pokok yang disebutkan secara rinci dalam surah-surah setelahnya.


[1] Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat ini adalah surat yang pertama diturunkan secara lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Quran. Surat ini diturunkan setelah surat Al Muddatstsir. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quran. Allah subhaanahu wa Ta'ala memulai kitab-Nya dengan surat ini, karena surat ini menghimpun tujuan dan maksud Al Qur'an. Oleh karena itu, surat ini dinamakan Ummul Quran (induk Al Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran. Al Hasan Al Basri berkata, "Sesungguhnya Allah menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur'an, kemudian Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur'an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu, barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang diturunkan." (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Tentang mencakupnya isi surat Al Fatihah terhadap semua ilmu yang ada di dalam Al Qur'an diterangkan oleh Az Zamakhsyari, yaitu karena di dalam Al Fatihah terdapat pujian bagi Allah yang sesuai, terdapat peribadatan kepada-Nya, terdapat perintah dan larangan serta terdapat janji dan ancaman, sedangkan ayat-ayat Al Qur'an tidak lepas dari semua  ini. Dengan demikian, semua isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah. Ada pula yang berpendapat, bahwa dinamakan Ummul Kitab karena ditulis pertama dalam mushaf dan pertama dibaca dalam shalat, ini adalah pendapat Imam Bukhari di bagian awal kitab tafsir dalam kitab Shahihnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Surah Al Fatihah adalah pembuka kitab, induk Al Qur’an, As Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang berulang-ulang), obat penawar yang sempurna, obat yang bermanfaat, ruqyah yang sempurna, kunci kecukupan dan keberuntungan, penjaga kekuatan, serta penolak kegelisahan, kegundahan, ketakutan dan kesedihan bagi orang yang mengetahui kadar kedudukannya dan memberikan haknya,” (Bada’i’ut Tafsir 1/23)

Surah Al Fatihah membicarakan tentang pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, akidah, ibadah, syariat, keyakinan kepada hari Akhir dan beriman kepada nama Allah yang indah. Demikian pula mengesakan Allah dalam beribadah, memohon pertolongan, dan dalam berdoa, serta mengharap kepada Allah dengan memohon hidayah-Nya ke jalan yang lurus, memohon pula agar diteguhkan di atas keimanan dan mengikuti jalan orang-orang yang saleh, serta menjauhi jalan orang-orang yang dimurkai dan yang sesat. Demikian pula menceritakan tentang kisah orang-orang terdahulu, memperhatikan tempat orang-orang yang bahagia dan tempat orang-orang yang sengsara, serta beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Nama lain surah Al Fatihah dan maknanya

Tentang nama lain surah Al Fatihah disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi dan ia menshahihkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْحَمْدُ لِلَّهِ أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي

Al Hamdulillah (surat Al Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab dan As Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud (131))

Surah ini dinamakan pula “Al Hamdu” dan “Ash Shalaah” sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّي أَحْيَانًا أَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ قَالَ يَا ابْنَ الْفَارِسِيِّ فَاقْرَأْهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقْرَأُ الْعَبْدُ فَيَقُولُ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي فَيَقُولُ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } فَيَقُولُ اللَّهُ أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي فَيَقُولُ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } فَيَقُولُ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَهَذَا لِي وَبَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } وَآخِرُ السُّورَةِ لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ يَقُولُ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa shalat tanpa membaca ummul Qur'an (Al Fatihah), maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." Aku (Abul ‘Ala) berkata, “Aku berkata, "Wahai Abu Hurairah, aku terkadang shalat di belakang imam." Abu Hurairah berkata, "Wahai Ibnul Farisi, bacalah dalam dirimu, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, “Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, separuhnya untuk-Ku dan separuhnya untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapat apa yang ia minta. Jika seorang hamba membaca, Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Jika hamba membaca, "Ar Rahmaanir Rahiim," Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Hamba-Ku menyanjung-Ku." Jika hamba membaca, "Maaliki yaumiddin, " Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "HambaKu mengagungkanKu, dan ini untuk-Ku, sedangkan antara Aku dan hamba-Ku, “Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin,” dan akhir surat untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia minta, ia membaca, “Ihdinash shiraathal mustaqiim-Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin." (Hr. Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 838)

Al Fatihah dalam hadits di atas dinamakan Ash Shalaah, karena diwajibkan membacanya di dalam shalat, dan shalat tidak akan sah tanpanya.

Surat ini dinamakan pula As Sab'ul Matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya ada tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat. Di antara hikmah diulang-ulangnya surah ini dalam shalat adalah agar terus hadir dalam pikiran seseorang bahwa Allah adalah Rabbul ‘alamin, Dia berhak mendapatkan pujian dalam keadaan bagaimana pun, Dia juga yang berhak disembah; tidak selain-Nya, butuhnya seseorang kepada hidayah-Nya dan taufiq-Nya dalam meniti hidup di dunia, dsb.

Surah ini disebut juga Ar Ruqyah berdasarkan hadits Abu Sa’id berikut,

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ فَقَالُوا هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ فَقَالُوا إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا وَلَا نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلًا فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنْ الشَّاءِ فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ فَبَرَأَ فَأَتَوْا بِالشَّاءِ فَقَالُوا لَا نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ خُذُوهَا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Bahwa beberapa orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengadakan suatu perjalanan, ketika mereka melewati salah satu perkampungan dari perkampungan orang Arab, orang-orang kampung tersebut tidak mau menjamu mereka, ketika sikap mereka masih seperti itu, seorang pemimpin mereka terkena sengatan kalajengking, lalu mereka pun berkata, "Apakah di antara kalian ada yang mempunyai obat, atau seorang yang bisa meruqyah?" Lalu para sahabat Nabi berkata, "Sesungguhnya kalian tidak mau menjamu kami, maka kami pun tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan imbalan kepada kami, " Akhirnya mereka pun berjanji akan memberikan beberapa ekor kambing," lalu seorang sahabat Nabi membaca Ummul Qur`an dan mengumpulkan ludahnya seraya meludahkan kepadanya hingga laki-laki itu sembuh, kemudian orang-orang kampung itu memberikan kepada para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam beberapa ekor kambing." Namun sebagian para sahabat Nabi berkata, "Kita tidak akan mengambilnya hingga kita bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal ini, " lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang pemberian itu hingga membuat Beliau tertawa. Beliau bersabda, "Dari mana kamu tahu bahwa surat itu sebagai ruqyah? Ambillah pemberian tersebut dan berilah bagiannya untukku." (Hr. Bukhari)

Nama lain surat ini juga adalah Al Qur'anul 'Azhiim dan Fatihatul kitab. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

 «الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ. هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ»

"Al Hamdulillahi Rabbil 'aalamin, ia adalah As Sab'ul Matsani dan Al Qur'anul 'Azhiim yang diberikan kepadaku." (Hr. Bukhari)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Surah Al Fatihah ini tergolong surah-surah Makkiyyah sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Qatadah dan Abul ‘Aliyah berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ   

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (Qs. Al Hijr: 87)

Namun Mujahid berpendapat, bahwa surat Al Fatihah adalah Madaniyyah. Ada pula yang berpendapat, bahwa surat Al Fatihah turun dua kali; di Mekkah dan di Madinah. Tetapi pendapat yang menyatakan bahwa surat Al Fatihah turun di Mekkah lebih kuat berdasarkan ayat di surat Al Hijr di atas, sedangkan surat Al Hijr adalah Makkiyyah.

Jumlah ayatnya berdasarkan ayat di atas adalah tujuh ayat tanpa ada lagi khilaf. Awal ayat menurut para ulama yang berpendapat bahwa basmalah bagian dari Al Fatihah adalah Bismillahirrahmaanirrahim dan ayat terakhirnya adalah Shiraathalladziina…dst. Sedangkan menurut ulama yang berpendapat bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah, awal ayatnya adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, dan ayat terakhirnya Ghairil maghdhubi alaihim…dst.

Faedah

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sebagian manusia saat ini telah mengadakan sebuah bid’ah terkait surah ini, dimana mereka menutup doa dengan Al Fatihah, memulai khutbah dengan Al Fatihah, serta membaca Al Fatihah dalam beberapa kesempatan. Hal ini adalah keliru. Engkau temukan misalnya ada yang ketika berdoa; ia berkata kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya ‘Al Fatihah!” yang maksudnya adalah ‘Bacalah surah Al Fatihah!”, sedangkan sebagian lagi ada yang memulai khutbah dengan Al Fatihah atau dalam beberapa keadaan. Hal ini juga keliru, karena ibadah itu dasarnya adalah tauqif (diam menunggu dalil) dan itttiba (mengikuti contoh).” (Tafsir Juz Amma hal. 6 Cet. Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah)

Apakah basmalah (Bismillahirrahmaanirrahim) termasuk ayat surah Al Fatihah atau tidak?

Para sahabat membuka kitabullah dengan basmalah, dan para ulama sepakat bahwa basmalah termasuk bagian ayat di surat An Naml: 30. Kemudian mereka berselisih, apakah basmalah merupakan ayat tersendiri di awal setiap surat, atau di awal setiap surat ditulis basmalah di bagian awalnya atau basmalah merupakan sebagian ayat dari setiap surah? Para qari’ Mekah dan Kufah menguatkan, bahwa basmalah termasuk ayat surat Al Fatihah dan surat-surat yang lain, namun para qari’ Madinah, Bashrah dan Syam tidak menganggapnya ayat baik dari surat Al Fatihah maupun surat yang lain, mereka mengatakan, bahwa dituliskan basmalah adalah untuk memisahkan (antara surat-surat) dan untuk tabarruk (mengambil keberkahan).

Dari kalangan sahabat yang berpendapat bahwa basmalah merupakan ayat dari setiap surat selain surat At Taubah adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah dan Ali radhiyallahu 'anhum, sedangkan dari kalangan tabi’in yang berpendapat demikian adalah ‘Atha’, Thawus, Sa’id bin Jubair, Makhul, Az Zuhriy, dan pendapat ini dipegang pula oleh Abdullah bin Al Mubarak, Imam Syafi’i, Ahmad dalam sebuah riwayat darinya, Ishaq bin Rahawaih, dan Abu ‘Ubaid Al Qaasim bin Sallam rahimahumullah.

Adapun Imam Malik, Abu Hanifah dan kawan-kawan keduanya berpendapat, bahwa basmalah tidak termasuk ayat Al Fatihah dan tidak pula termasuk ayat dari surat-surat yang lain. Dawud berpendapat, bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri di setiap surat, tetapi tidak termasuk ayat surat itu, dan ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Menurut madzhab Hafsh dari Ashim, bahwa basmalah bagian dari surat Al Fatihah dan setiap surat selain surat Al Bara’ah (At Taubah), dan setiap surah dipisah dengan basmalah selain Al Anfal dan At Taubah.

Dengan demikian, para ulama berselisih apakah basmalah (Bismillahirrahmaanirrahim) termasuk ayat surah Al Fatihah atau tidak? Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia termasuk Al Fatihah, dibaca dalam shalat yang jahar (dikeraskan suaranya) dan berpendapat bahwa shalat tidak akan sah tanpa membaca basmalah, karena ia termasuk Al Fatihah. Namun di antara mereka ada yang berpendapat, bahwa basmalah tidak termasuk surah Al Fatihah, tetapi ayat tersendiri dalam Kitabullah, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Tafsir Juz ‘Ammanya.

Alasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala membagi shalat antara Dia dan hamba-Nya dua bagian; jika seorang hamba membaca, Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin,…dst.” Hal ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk Al Fatihah (karena basmalah tidak disebutkan). Demikian pula berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ia berkata,

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ{ الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } لَا يَذْكُرُونَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا

"Saya shalat di belakang Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka mereka memulai membaca dengan, 'Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam).' Mereka tidak menyebutkan, “Bismillahirrahmanirrahim” (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) pada awal bacaan, dan tidak pada akhirnya." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Maksud tidak menyebutkan adalah tidak menjaharkan atau mengeraskan basmalahnya. Dipisahkan basmalah dengan Al Fatihah dengan disirkan (dipelankan) basmalah dan dijaharkan Al Fatihah menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk Al Fatihah.

Ini adalah alasan dari sisi nash, adapun dari sisi siyaq (susunannya) yakni dari sisi maknanya menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah karena Al Fatihah merupakan tujuh ayat dengan kesepakatan ulama, dan jika kita hendak membagi tujuh ayat atas temanya, maka kita akan dapatkan bahwa separuhnya adalah firman Allah Ta’ala, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin,” inilah ayat yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman tentangnya, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian,” karena Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin adalah pertama, Ar Rahmaanirrahiim adalah kedua, Maaliki yaumiddin adalah ketiga, dan semuanya hak Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah keempat, inilah pertengahannya dan di sana terdapat dua bagian; bagian untuk Allah dan bagian untuk hamba-Nya, Ihdinash shiraathal mustaqiim adalah untuk hamba, shirrathalladziina an’amta ‘alaihim adalah untuk hamba, dan ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliiin adalah untuk hamba. Sehingga tiga ayat yang pertama untuk Allah, tiga ayat terakhir adalah untuk hamba, sedangkan satu antara hamba dan Tuhannya, yaitu ayat keempat yang pertengahan. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga, dari sisi susunan lafaznya, jika kita katakan, bahwa basmalah termasuk ayat Al Fatihah, maka ayat ketujuhnya berarti panjang seukuran dua ayat, sedangkan sudah menjadi maklum bahwa kedekatan panjang dan pendeknya ayat itulah asalnya. Oleh karena itu, menurutnya yang benar bahwa basmalah tidak termasuk surah Al Fatihah sebagaimana basmalah juga tidak termasuk ayat dari surah-surah yang lain.

Tetapi menurut Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr dalam bukunya "Qathfuts tsamaril mustathaab fii tafsiir Faatihatil Kitab", bahwa pendapat yang lebih tepat adalah, basmalah termasuk salah satu ayat dari surat Al Fatihah. Alasannya adalah hadits Ummu Salamah yang menuturkan bagaimana cara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat Al Fatihah,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) 

Beliau membacanya ayat perayat, dan memberi jeda pada setiap ayatnya." (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam shalat) terkadang menjaharkan Bismillahirrahmaanirrahim, namun mensirkannya lebih sering Beliau lakukan daripada menjaharkannya.”

Jumlah kata dalam surah Al Fatihah dan jumlah hurufnya

Para ulama mengatakan, bahwa jumlah katanya adalah 25 kata, sedangkan jumlah hurufnya ada 113 huruf.

Keutamaan surah Al Fatihah

عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ حَتَّى صَلَّيْتُ فَأَتَيْتُهُ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَأْتِيَنِي قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي قَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ }ثُمَّ قَالَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ أَوْ مِنْ الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ نَعَمْ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُه

Dari Abu Sa'id bin Al Mu'alla ia berkata, "Suatu ketika saya sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku, namun saya tidak menjawab panggilannya hingga shalatku selesai. Ketika aku datang, beliau pun bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk mendatangiku?" Saya menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang shalat." Beliau bersabda, "Bukankah Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu…dst.” (Qs. Al Anfaal: 24). Beliau bersabda lagi, "Sungguh, saya akan mengajarimu satu surat paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an, atau dari Al Qur`an sebelum kamu keluar dari Masjid." Abu Sa'id berkata, “Kemudian Beliau memegang tanganku, dan saat Beliau hendak keluar Masjid, aku pun berkata, "Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan 'Saya akan mengajarimu surat yang paling agung yang terdapat di dalam Al Qur`an?” Beliau menjawab, "Benar. Yaitu Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin (Segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam). Ia adalah As Sab'u Al Matsani, dan Al Qur`an Al Azhim yang telah diwahyukan kepadaku." (Hr. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Imam Muslim dan Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata,

بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

“Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba ia mendengar suara (pintu dibuka) dari arah atas kepalanya, lalu malaikat Jibril mengangkat kepalanya dan berkata, "Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini." Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata, "Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja." Lalu ia memberi salam dan berkata, "Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (surat Al Fatihah) dan penutup surat Al Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu."

Tentang keutamaan surat ini juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَخْيَرَ سُوْرَةٍ فِي اْلقُرْآنِ  { الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ }

"Maukah aku beritahukan kepadamu surat yang terbaik dalam Al Qur'an? Yaitu Alhamdulillahi rabbil 'Aalamin." (Hr. Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2592)

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْقُرْآنِ مِثْلُهَا وَإِنَّهَا لَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي الَّتِي آتَانِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»

“Demi Allah yang jiwaku di Tangan-Nya. Tidak pernah diturunkan dalam kitab Taurat, Injil, Zabur, maupun Al Qur’an sebuah surat yang semisal dengan Al Fatihah. Ia adalah Sab’ul Matsani yang Allah Azza wa Jalla berikan kepadaku.” (Hr. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim. Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.” Dinyatakan hasan shahih oleh Imam Al Baghawi).

Wajibnya membaca surat Al Fatihah dalam semua shalat di setiap rakaat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ هِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

"Barang siapa shalat tanpa membaca ummul Qur'an (Al Fatihah), maka shalatnya kurang, shalatnya kurang, dan tidak sempurna." (Hr. Ahmad, Muslim dan empat Imam Ahli Hadits dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6349)

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)." (Hr. Bukhari dan Muslim)

لَا تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيْهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat yang tidak dibaca di dalamnya surat Al Fatihah.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kedua shahihnya, dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al A'zhamiy).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...