Kamis, 04 Juni 2026

Seri (5) Tafsir surah Al Baqarah 1-5

 

Seri (5)

 


Surat Al Baqarah (Sapi Betina) [1]

Surah ke-2. Terdiri dari 286 ayat. Madaniyyah

Al Baqarah artinya sapi betina yang merupakan salah satu di antara hewan ternak. Disebut Al Baqarah karena surah ini menyebutkan secara sendiri kisah sapi betina Bani Israil.

Surah ini dikenal dengan nama Al Baqarah, disebut juga Sanamul Qur’an (puncak Al Qur’an), Fusthathul Qur’an (tenda Al Qur’an, karena memuat berbagai masalah syariat), dan Az Zahra (yang bercahaya).

Kandungannya secara umum memuat sikap menyambut perintah Allah Azza wa Jalla dan melaksanakan perintah-Nya.

Keutamaannya adalah keberkahan bagi pembacanya, mengobati sihir, penyakit ‘ain dan hasad, mengusir setan, dan termasuk tujuh surah yang jika dihafal dan dipelajari menjadikan seorang berilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ السَّبْعَ الْأُوَلَ فَهُوَ حَبْرٌ  

“Barang siapa yang mengambil tujuh surah pertama dari Al Qur’an, maka dia adalah orang yang berilmu.”  (Hr. Ahmad, dan dinyatakan isnadnya hasan oleh pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)

Hubungan surah Al Baqarah dengan surah Al Fatihah adalah bahwa ketika di surah Al Fatihah seorang hamba memohon ditunjukkan jalan yang lurus (lihat Qs. Al Fatihah: 5), maka dikatakan kepadanya ‘ada, yaitu dalam kitab Al Qur’an ini yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertakwa (lihat Qs. Al Baqarah: 2), di dalamnya terdapat apa yang kamu inginkan dan terdapat kebutuhanmu.

Ketika Allah Azza wa Jalla menyebutkan tiga golongan manusia di surah Al Fatihah, yaitu golongan orang yang beriman, golongan orang-orang Yahudi, dan golongan orang-orang Nasrani, maka Allah Azza wa Jalla merincinkan mereka di bagian awal surah Al Baqarah.

Hubungan bagian awal surah Al Baqarah dengan bagian akhirnya adalah jika di bagian awal surah Al Baqarah disebutkan sifat orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib dan seterusnya, maka di bagian akhir surah Al Baqarah Allah Azza wa Jalla sebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman, yaitu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dst.

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

Ayat 1-5: Golongan mukmin, membicarakan tentang sifat orang-orang yang bertakwa, hakikat iman dan bagaimana Al Qur’an menjadi petunjuk bagi mereka.

 

$ الم (1) 

1. Alif laam miim[2]

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)  

2. Kitab[3] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya[4]; petunjuk bagi mereka yang bertakwa[5],

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) 

3. (yaitu) mereka yang beriman[6] kepada yang ghaib[7], mendirikan shalat[8], dan menafkahkan sebagian rezeki[9] yang Kami anugerahkan kepada mereka.

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)

4. Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu[10] dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu[11], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[12].

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) 

5. Merekalah[13] yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka[14], dan mereka itulah orang-orang yang beruntung[15].


[1] Surat Al Baqarah yang berjumlah 286 ayat ini turun di Madinah, sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wadaa' (haji Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terakhir). Ada yang mengatakan, bahwa ayat tersebut (Al Baqarah: 281) adalah ayat yang terakhir turun, demikian pula ayat riba termasuk ayat yang terakhir turun.

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah. Surat Al Baqarah adalah surat yang terpanjang di antara surah-surah Al Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), di sana terdapat bukti kekuasaan Allah membangkitkan orang yang telah mati, dan dijelaskan pula watak orang-orang Yahudi pada umumnya.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa surat Al Baqarah mengandung seribu berita, seribu perintah, dan seribu larangan.

Di antara kandungan surat Al Baqarah

Surah Al Baqarah ini sebagaimana keadaan surat-surat Madaniyyah lainnya banyak membicarakan masalah tasyri’ (undang-undang dan hukum-hukum) yang dibutuhkan oleh kaum muslimin dalam kehidupan sosial mereka.

Dalam surah ini juga, umat dipersiapkan untuk mengurus dunia dan menegakkan agama Allah, diterangkan tentang pembagian manusia, diterangkan tentang dasar-dasar iman dan tentang berbagai masalah syariat.

Dalam surah ini kaum muslimin dibina di atas iman dan takwa.

Renungan surah Al Baqarah

Jika kita perhatikan surah Al Baqarah, kita akan mengenal tiga khalifah (pengelola) bumi, yaitu Adam, Bani Israil, dan Ibrahim alaihis salam.

Pertama adalah Adam alaihis salam, saat mendapatkan beban perintah dan larangan, namun beliau jatuh ke dalam larangan dengan memakan buah dari pohon yang dilarang didekati oleh Allah Azza wa Jalla, namun Beliau segera kembali dan bertobat, dan Allah menerima tobatnya.

Kedua adalah Bani Israil, Allah membebani mereka dengan perintah dan larangan, namun mereka sering jatuh ke dalam maksiat; meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan.

Ketiga adalah Ibrahim alaihis salam, Allah membebaninya dengan perintah dan larangan, dan beliau berhasil memikul semua beban itu dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, sehingga Allah menjadikannya imam dan teladan bagi umat manusia.

Di juz kedua surah Al Baqarah terdapat hukum-hukum dan beban syariat, seperti shalat, zakat, puasa, haji, muamalat, jihad, dsb. Seakan-akan Allah Ta’ala berfirman, “Inilah hukum-hukum dan syariat-Ku! Perhatikanlah diri kalian dan bandingkan dengan tiga khalifah sebelumnya, di manakah posisi kalian? Apakah kalian akan seperti Adam yang jatuh ke dalam larangan namun segera bertobat, atau Bani Israil yang mengatakan ‘kami dengar namun kami durhakai’ atau seperti Ibrahim dan anaknya yang mampu memikul syariat-Ku sehingga Kujadikan sebagai imam bagi seluruh manusia.”

Di bagian akhir surah Al Baqarah, Allah Azza wa Jalla menerangkan sikap yang harus dilakukan dan keringanan dari Allah Azza wa Jalla, dan bahwa Dia tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya, serta mengingatkan mereka agar bersandar dan meminta kepada Allah dalam memikul beban dari-Nya, serta memohon kepada-Nya agar diampuni segala kekurangan. Dia mengajarkan mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." 

Keutamaan surat Al Baqarah

Tentang keutamaan surat Al Baqarah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

"Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpukan awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang berjajar hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan membacanya akan memperoleh berkah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh para tukang sihir." (Hr. Ahmad dan Muslim)

Maksud “tidak dapat dikuasai oleh para tukang sihir” adalah tidak sanggup mereka hapal dan tidak sanggup mereka tembus pembacanya.

Beliau juga bersabda,

اِقْرَءُوْا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَدْخُلُ بَيْتًا يُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

"Bacalah surat Al Baqarah di rumah kalian, karena setan tidak akan masuk ke dalam rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah." (Hr. Hakim dan Baihaqi dalam Syu'abul Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1170).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ ذُو عَدَدٍ فَاسْتَقْرَأَهُمْ فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ مِنْ الْقُرْآنِ فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا فَقَالَ مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ قَالَ مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ قَالَ أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مَنَعَنِي أَنْ أَتَعَلَّمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَشْيَةَ أَلَّا أَقُومَ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاقْرَءُوهُ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutus rombongan para sahabat dalam jumlah banyak, Beliau meminta kepada mereka untuk membaca, Beliau meminta setiap orang dari mereka untuk membacakan apa yang dia hapal dari Al Qur`an, lalu Beliau datang kepada seseorang yang paling muda umurnya di antara mereka dan bertanya, "Apa yang kamu hapal dari Al Qur`an wahai Fulan?" Dia menjawab, "Saya hapal ini dan itu, dan surat Al Baqarah, " Beliau bertanya, "Apakah kamu hapal surat Al Baqarah?" Dia menjawab, "Ya, " Beliau bersabda kepadanya, "Pergilah dan kamu yang menjadi imam bagi mereka, " Seseorang yang paling terkemuka di antara mereka berkata, "Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada yang menghalangiku untuk mempelajari surat Al Baqarah selain karena aku takut tidak dapat mengamalkannya," Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pelajarilah Al Qur`an dan bacalah, karena perumpamaan Al Qur`an bagi orang yang mempelajarinya kemudian membacanya seperti kantong yang penuh dengan minyak wangi, dimana wanginya semerbak ke setiap tempat, dan perumpamaan orang yang mempelajarinya kemudian tidur (tidak mengamalkannya) padahal Al Qur`an ada di hatinya seperti kantong yang berisi minyak wangi namun terikat." (Hr. Tirmidzi dan ia menghasankannya, Nasa’i dan Ibnu Majah)

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ قَالَ بَيْنَمَا هُوَ يَقْرَأُ مِنْ اللَّيْلِ سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَفَرَسُهُ مَرْبُوطَةٌ عِنْدَهُ إِذْ جَالَتْ الْفَرَسُ فَسَكَتَ فَسَكَتَتْ فَقَرَأَ فَجَالَتْ الْفَرَسُ فَسَكَتَ وَسَكَتَتْ الْفَرَسُ ثُمَّ قَرَأَ فَجَالَتْ الْفَرَسُ فَانْصَرَفَ وَكَانَ ابْنُهُ يَحْيَى قَرِيبًا مِنْهَا فَأَشْفَقَ أَنْ تُصِيبَهُ فَلَمَّا اجْتَرَّهُ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ { وَقَدْ أَوْرَدَهُ أَبُو عُبَيْد كَامِلًا وَلَفْظه " رَفَعَ رَأْسه إِلَى السَّمَاء فَإِذَا هُوَ بِمِثْلِ الظُّلَّة فِيهَا أَمْثَال الْمَصَابِيح عَرَجَتْ إِلَى السَّمَاء حَتَّى مَا يَرَاهَا "} حَتَّى مَا يَرَاهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ حَدَّثَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ قَالَ فَأَشْفَقْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَطَأَ يَحْيَى وَكَانَ مِنْهَا قَرِيبًا فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَانْصَرَفْتُ إِلَيْهِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مِثْلُ الظُّلَّةِ فِيهَا أَمْثَالُ الْمَصَابِيحِ فَخَرَجَتْ حَتَّى لَا أَرَاهَا قَالَ وَتَدْرِي مَا ذَاكَ قَالَ لَا قَالَ تِلْكَ الْمَلَائِكَةُ دَنَتْ لِصَوْتِكَ وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحْتَ يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهَا لَا تَتَوَارَى مِنْهُمْ

Dari Usaid bin Hudhair, ia berkata, Ketika dirinya sedang membaca surat Al Baqarah (dalam shalat malam), sedangkan kudanya ditambat di dekatnya, tiba-tiba kudanya hendak berontak, maka Usaid pun diam (berhenti membaca), kudanya pun ikut diam. Ketika Usaid membaca lagi, maka kudanya hendak berontak dan ketika ia diam, kudanya pun diam, lalu ia membaca lagi, maka kudanya berontak lagi, maka Usaid pun berhenti, sedangkan puteranya yaitu Yahya dekat dengan kuda itu, ia khawatir jika kuda itu mengenainya. Saat Usaid menarik anaknya, ia angkat kepalanya ke langit, tiba-tiba ada semacam naungan yang di dalamnya terdapat semacam lampu-lampu yang naik ke langit sehingga tidak terlihat lagi.” ketika tiba pagi harinya, Usaid menceritakan peristiwa itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Teruskanlah membaca wahai Ibnu Hudhair, teruskanlah membaca wahai Ibnu Hudhair!” Usaid bin Hudhair berkata, “Aku takut wahai Rasulullah, kalau kuda itu menginjak Yahya karena ia dekat dengannya, maka aku angkat kepalaku dan aku pergi mendatanginya, aku angkat kepalaku ke langit ternyata ada semacam naungan yang di sana terdapat semacam lampu-lampu, lalu keluar (dari rumahku) sehingga aku tidak melihatnya lagi.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu apa itu?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Itu adalah para malaikat yang mendekat kepada suaramu, dan kalau sekiranya kamu meneruskan bacaanmu, tentu pada pagi hari manusia akan melihatnya, dan tidak akan tersembunyi bagi mereka.” (Hr. Bukhari).

[2] Alif Laam Miim adalah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif Laam Miim, Alif Laam Raa, Alif Laam Miim Shaad, dan sebagainya. Di antara para mufassir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat.

Asy Sya’biy dan jamaah para ulama berkata, “Alif Lam Mim dan seluruh huruf hijaiyah di awal surat termasuk ayat-ayat mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Ia termasuk rahasia Al Qur’an. Kita beriman dengan zhahirnya dan kita serahkan ilmu tentangnya kepada Allah Ta’ala. Faedah disebutkannya adalah agar kita mengimaninya.”  

Abu Bakar Ash Shiddiq berkata, “Dalam setiap kitab ada rahasia, dan rahasia Allah dalam Al Qur’an terletak pada awal-awal surat (potongan huruf).”

Ada pula yang menafsirkan huruf-huruf itu. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, ada pula yang berpendapat, bahwa itu adalah sumpah yang dipakai Allah untuk bersumpah karena kemuliaannya, dan ada pula yang berpendapat, bahwa huruf-huruf itu untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Jika mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka cobalah mereka buat yang semisal Al Quran itu. Ada pula yang berpendapat, disebutkannya huruf-huruf ini di awal surat yang menyebutkannya untuk menjelaskan kemukjizatan Al Qur’an dan bahwa manusia tidak akan sanggup menyainginya, padahal ia hanya tersusun dari huruf-huruf potongan yang biasa mereka pakai dalam berbicara antar mereka.

Quthrub, Al Mubarrad, Al Farra, dan para ulama lainnya menyatakan, bahwa huruf-huruf itu merupakan isyarat terhadap huruf-huruf hijaiyah yang Allah mengajarkannya kepada bangsa Arab saat Dia menantang mereka dengan Al Qur’an yang tersusun dari huruf-huruf yang biasa mereka gunakan untuk berbicara agar kelemahan mereka menyaingi Al Qur’an tampak lebih jelas sehingga menjadi hujjah atas mereka; karena huruf-huruf itu tidak lepas dalam pembicaraan mereka.”

Menurut sebagian ulama, bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar agar memperhatikan Al Quran itu. Yang demikian adalah karena kaum musyrik tidak mau mendengarkan Al Qur’an, maka dengan disebutkan potongan-potongan huruf itu yang maknanya asing bagi mereka, membuat mereka penasaran dan akhirnya mau mendengarkan ayat selanjutnya yang merupakan intinya.

Syaikh As Sa'diy berpendapat, bahwa yang lebih selamat adalah diam tidak mencari-cari maksudnya, yang pasti Allah Ta'ala tidaklah menurunkan begitu saja tanpa ada hikmah di balik itu hanya saja kita tidak mengetahui. Wallahu a'lam.

Imam Al Qurthubi berkata, "Para ahli tafsir berselisih tentang huruf-huruf yang berada di awal-awal surat. Amir Asy Sya'biy, Sufyan Ats Tsauriy dan Jama'ah ahli hadits berkata, "Ia adalah rahasia Allah dalam Al Qur'an, dan Allah memiliki rahasia di setiap kitab-Nya, ia termasuk ayat-ayat mutasyabihat yang hanya Allah saja mengetahuinya, ia tidak mesti dibicarakan, akan tetapi kita mengimaninya dan membacanya sebagaimana telah datang (disebutkan)."

[3] Allah Ta'ala menamakan Al Qur'an dengan Al Kitab berarti "yang ditulis," sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.

[4] Yakni tidak ada keraguan bahwa ia berasal dari Allah Ta'ala (lihat pula surat As Sajdah: 2), sehingga tidak benar masih meragukannya karena jelas sekali buktinya. Sebagian mufassir berpendapat, bahwa ayat ini meskipun susunannya khabar (berita), namun maknanya adalah larangan, yakni larangan meragukannya.

[5] Orang-orang yang bertakwa mengambil manfaat darinya, menjadikannya sebagai petunjuk dan ilmu yang bermanfaat serta membuat mereka dapat beramal saleh. Mereka memperoleh dua hidayah; hidayah irsyad (ilmu/petunjuk) dan hidayah taufiq (bisa beramal). Al Qur’an meskipun sesungguhnya petunjuk bagi semua manusia, namun hanya orang-orang yang bertakwa yang mau mengambilnya sebagai petunjuk dan cahaya serta melaksanakan isinya, sehingga disebutkan mereka secara khusus.

Menurut Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat, maksud “Hudal lil muttaqiin” adalah cahaya bagi orang-orang yang bertakwa. Al Baghawi berkata, “Petunjuk bagi orang-orang yang beriman.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Makna-makna Al Quran tidak  dapat diresapi kecuali oleh hati yang suci yaitu hati orang-orang yang bertakwa." (Fatawa Ibni Taimiyah 13/254)

Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja. Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa, maka Ubay menjawab, “Tidak pernahkah engkau menempuh sebuah jalan yang berduri?” Umar menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab, “Aku menyingsingkan lengan bajuku (berhati-hati) dan aku bersungguh-sungguh.” Ubay berkata, “Itulah takwa.”

Thalq bin Habib berkata, "Apabila terjadi fitnah maka padamkanlah dengan takwa." Orang-orang bertanya, "Apa itu takwa? Dia menjawab, "Yaitu engkau mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari-Nya sambil mengharapkan pahala-Nya, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari-Nya seraya takut kepada hukuman-Nya." (Bada'iul Fawaid 2/96)

Kata huda (petunjuk) pada ayat di atas adalah umum, yakni bahwa Al Qur'an merupakan petunjuk terhadap semua maslahat di dunia dan akhirat, ia merupakan pembimbing manusia dalam masalah ushul (pokok seperti keyakinan) maupun furu' (cabang), menerangkan yang hak dan menerangkan kepada mereka jalan yang dapat memberikan manfaat di dunia dan akhirat.

Dalam ayat di atas terdapat dorongan untuk mengambil hidayah dari Al Qur’anul Karim, demikian pula terdapat penjelasan tentang keutamaan takwa dan orang-orang yang bertakwa.

Faedah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak termasuk syarat orang-orang yang bertakwa dan semisalnya harus tidak jatuh ke dalam dosa dan bersih dari kesalahan dan dosa. Karena jika syaratnya demikian, maka tidak ada di tengah umat ini seorang yang bertakwa. Bahkan orang yang bertaubat dari dosanya juga masuk ke dalam orang-orang yang bertakwa dan orang yang melakukan perbuatan yang menghapuskan kesalahan juga termasuk orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah Ta'ala,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (Qs. An Nisaa: 31)

(Minhajus Sunnah An Nabawiyyah 7/58)

[6] Iman secara bahasa artinya pembenaran. Secara istilah iman adalah pembenaran di hati, pengakuan di lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Bisa juga diartikan dengan kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa atau pembenaran di hati yang membuahkan ketundukkan di lisan (dengan iqrar/pengakuan seperti mengucapkan Laailaahaillallah) dan pada anggota badan (dengan adanya sikap dan pengamalan). Iman bisa bertambah dan berkurang; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Tanda-tanda adanya iman adalah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

Menurut Al Baghawi, kata iman diambil dari kata aman. Orang beriman disebut mukmin, karena ia telah mengamankan dirinya dari azab Allah, dan Allah juga Al Mu’min, karena Dia yang memberikan keamanan kepada hamba-hamba-Nya dari siksa-Nya.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Ketika iman menancap dalam hati, maka seluruh anggota badan bangkit untuk mengerjakan amal saleh dan lisan pun terdorong untuk berkata yang baik." (Lathaiful Ma'arif 1/225)

[7] Yang ghaib ialah yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghaib yaitu, meyakini adanya yang maujud (terwujud) yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat, surga, neraka dan sebagainya.

Mengapa beriman itu kepada yang ghaib? Jawabnya adalah karena beriman kepada sesuatu yang disaksikan atau dirasakan panca indera tidak dapat membedakan mana muslim dan mana kafir. Oleh karena itu, orang mukmin beriman kepada semua yang diberitakan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, baik mereka menyaksikannya atau tidak, baik mereka memahaminya atau tidak, dan baik dijangkau oleh akal mereka maupun tidak.

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya perkara Muhammad shallallahu alahi wa sallam sangat jelas (kebenarannya) bagi orang yang melihatnya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada keimanan yang diimani oleh seseorang yang lebih utama daripada keimanannya kepada yang ghaib," lalu Ibnu Mas'ud membacakan ayat, "Alif Laam Miim…dst. sampai Alladziina yu'minuuna bil ghaib.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih dan Hakim dalam Mustadraknya. Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak menyebutkannya.”)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Talbis Al Jahmiyyah 5/413, “Sesungguhnya Allah menutup mata manusia dari melihat-Nya ketika di dunia adalah sebagai bentuk rahmat kepada mereka. Karena kalau sekiranya Dia dapat terlihat di dunia oleh makhluk-makhluk yang fana, tentu mereka akan hancur dan mata mereka tidak akan mampu melihat Allah Ta’ala, karena mata tersebut diciptakan untuk fana yang tidak siap menerima cahaya kekekalan. Akan tetapi pada hari Kiamat, mata siap menerima kekekalan, sehingga ia dapat melihat cahaya kekekalan.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ - وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ: النَّارُ - لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak tidur, dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan timbangan dan menaikkannya. Diangkat kepada-Nya amalan di malam hari sebelum amalan di siang hari, dan amalan di siang hari sebelum amalan di malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya –dalam riwayat Abu Bakar : Hijab-Nya adalah api-. Jika hijab itu disingkap tentu cahaya wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk-Nya.” (Hr. Muslim dari Abu Musa radhiyallahu anhu)

[8] Yakni di samping beriman kepada yang ghaib, mereka buktikan dengan mendirikan shalat. Shalat menurut bahasa Arab artinya doa, menurut istilah syara' adalah ibadah yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat merupakan pembuktian terhadap pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Mendirikan shalat adalah menunaikannya dengan benar dan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir maupun yang batin, seperti khusyu', memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya. Shalat yang seperti inilah yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Adh Dhahhak menyebutkan dari Ibnu Abbas, bahwa maksud “mendirikan shalat” adalah menyempurnakan ruku’, sujud, bacaannya, khusyu’, dan memperhatikan shalat di dalam shalat.

Qatadah berkata, “Mendirikan shalat adalah menjaga pada waktunya, menjaga wudhunya, ruku’ dan sujudnya.”

Muqatil bin Hayyan berkata, “Mendirikan shalat maksudnya menjaga pada waktunya, menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan ruku’, sujud, membaca Al Qur’an di dalamnya, bertasyahhud dan bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, inilah mendirikannya.”

Syaikh As Sa'diy berkata, "Allah tidak mengatakan 'mengerjakan shalat' atau 'menunaikan shalat' karena tidak cukup di sana sekedar menunaikan dengan praktek yang tampak. Oleh karena itu, mendirikan shalat adalah mendirikannya dengan zahir (luarnya), yaitu dengan menyempurnakan ruku', kewajibannya, dan syarat-syaratnya, serta mendirikannya dengan batin, yaitu dengan menegakkan ruhnya, yaitu hadirnya hati, mentadabburi (memikirkan) apa yang dia ucapkan dan dia lakukan. Inilah shalat yang Allah katakan, bahwa shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Inilah shalat yang menghasilkan pahala. Oleh karena itu, tidak ada pahala bagi seseorang dari shalatnya selain yang dihayati daripadanya."

Hal ini juga menunjukkan bahwa besar-kecilnya pahala shalat seseorang sesuai tinggi-rendahnya kekhusyuan seseorang. Nanti akan diterangkan lebih khusus –insya Allah- tentang khusyu yang merupakan ruhnya shalat.

Berdasarkan tafsir para ulama di atas kita dapat mengetahui, bahwa mendirikan shalat itu tidak hanya mengerjakan shalat atau menunaikannya, tetapi menghendaki kita untuk mendirikan shalat baik zhahir(luar)nya maupun batin(dalam)nya. Zhahirnya adalah dengan memenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya, dan lebih sempurna lagi jika ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Sedangkan batinnya adalah dengan melakukan khusyu' (hadirnya hati dan diamnya anggota badan) di dalamnya. Jika seseorang melakukan semua itu, maka sudah pasti shalat itu akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar. Dan seperti inilah shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam; Beliau memperhatikan zhahir maupun batin.

[9] Rezeki artinya segala yang dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezeki ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzekikan oleh Allah tersebut kepada orang-orang yang disyariatkan oleh agama memberinya, baik yang wajib maupun yang sunah. Contoh pengeluaran yang wajib adalah zakat, menafkahi anak dan istri, orang tua, kerabat, dan budak, sedangkan yang sunah adalah semua jalan kebaikan. Disebutkan "sebagian rezeki" menunjukkan bahwa yang Allah inginkan hanyalah sedikit dari harta mereka; tidak memadharatkan mereka dan tidak membebani, dan dipakainya kata-kata "rezeki" untuk mengingatkan bahwa harta yang ada pada mereka merupakan rezeki dari Allah yang menghendaki untuk disyukuri dengan menyisihkan sebagiannya berbagi bersama saudara-saudara mereka yang tidak mampu.

Shalat dan zakat sangat sering disebutkan secara bersamaan di dalam Al Qur'an, karena shalat mengandung sikap ikhlas kepada Allah Ta'ala, sedangkan zakat dan infak mengandung sikap ihsan terhadap sesama hamba Allah Ta'ala. Oleh karena itu, tanda kebahagiaan seorang hamba adalah dengan bersikap ikhlas kepada Allah dan berusaha memberikan manfaat kepada makhluk, sebagaimana tanda celakanya seorang hamba adalah ketika tidak adanya kedua ini, yakni ikhlas kepada Allah Ta'ala dan berbuat ihsan kepada sesama hamba Allah Ta'ala.

[10] Yaitu Al Qur'an, demikian juga apa yang diturunkan kepada Beliau berupa hikmah (As Sunnah).

[11] Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Qur'an yang diturunkan kepada Para rasul. Orang-orang mukmin tidak membeda-bedakan para rasul (dengan hanya beriman kepada sebagiannya dan ingkar kepada sebagian yang lain) dan mereka tidak mengingkari apa yang mereka (para rasul) bawa dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan kitab kepada Rasul adalah dengan menyampaikan wahyu kepada Jibril 'alaihis salam, lalu Jibril menyampaikannya kepada rasul.

Termasuk ke dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah:

1.  Beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah.

2.  Beriman kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar). Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci seperti namanya adalah kitab ini dan diberikan kepada nabi yang bernama itu dsb. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan namanya.

3.  Membenarkan berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah.

Kita katakan “yang masih murni” karena kitab-kitab selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an yang dijaga kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sedangkan kitab-kitab selain Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau dihilangkan sehingga tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah berfirman,

z`ÏiB tûïÏ%©!$# (#rߊ$yd tbqèùÌhptä zNÎ=s3ø9$# `tã ¾ÏmÏèÅÊ#uq¨B

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (Terj. Qs. An Nisaa’: 46)

4.  Mengamalkan hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai dengan sikap ridha dan menerima. Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab sebelumnya sudah mansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.

Sulaiman bin Habib pernah berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.

[12] Yakin adalah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikit pun. Akhirat lawan dunia. Dinamakan akhirat karena berada di akhir setelah kehidupan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan setelah mati dan setelah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat adalah benar-benar percaya akan adanya kehidupan setelah mati (yaitu alam barzakh yang di dalamnya terdapat fitnah kubur, azab kubur dan nikmat kubur) dan setelah dunia berakhir (seperti kebangkitan manusia, pengumpulan manusia di padang mahsyar, adanya hisab (pemeriksaan amalan), mizan (penimbangan amalan), shirath, surga dan neraka).

Termasuk beriman kepada hari Akhir juga adalah beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj-Ma’juj dan terbitnya matahari dari barat. Sebelum tibanya tanda-tanda tersebut, akan didahului tanda-tanda kecilnya di antaranya adalah diangkatnya ilmu (dengan banyak diwafatkannya para ulama), perzinaan banyak dilakukan, wanita lebih banyak daripada laki-laki, amanah akan disia-siakan dengan diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, banyaknya pembunuhan, dan banyaknya gempa bumi (berdasarkan beberapa hadits yang shahih).

Di antara hikmah mengapa Allah sering menyebutkan hari akhir dalam Al Qur’an adalah karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari akhir itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi merasa tentram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.

[13]  Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian rezeki yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala karuniakan kepada mereka, beriman kepada para rasul dan apa yang mereka bawa, dan beriman kepada hari akhir.

[14] Mereka berjalan di atas cahaya dan petunjuk dari Tuhan mereka serta di atas taufiq-Nya.

[15] Di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah setelah mengusahakannya dan selamat dari sesuatu yang mereka khawatirkan atau orang-orang yang akan memperoleh surga dan selamat dari neraka. Falah atau beruntung juga bisa berarti kekal, yakni mereka kekal dalam kenikmatan yang abadi.

Dalam ayat di atas terdapat ajakan dan dorongan kepada orang-orang yang beriman agar memiliki sifat orang-orang yang memperoleh hidayah dan keberuntungan, agar mereka menempuh jalan itu, sehingga mereka mendapat petunjuk dan memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...