Seri (5)
Surat Al Baqarah (Sapi Betina) [1]
Surah ke-2. Terdiri dari 286 ayat. Madaniyyah
Al
Baqarah artinya sapi betina yang merupakan salah satu di antara hewan ternak.
Disebut Al Baqarah karena surah ini menyebutkan secara sendiri kisah sapi
betina Bani Israil.
Surah
ini dikenal dengan nama Al Baqarah, disebut juga Sanamul Qur’an (puncak
Al Qur’an), Fusthathul Qur’an (tenda Al Qur’an, karena memuat berbagai
masalah syariat), dan Az Zahra (yang bercahaya).
Kandungannya
secara umum memuat sikap menyambut perintah Allah Azza wa Jalla dan
melaksanakan perintah-Nya.
Keutamaannya
adalah keberkahan bagi pembacanya, mengobati sihir, penyakit ‘ain dan hasad,
mengusir setan, dan termasuk tujuh surah yang jika dihafal dan dipelajari
menjadikan seorang berilmu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
أَخَذَ السَّبْعَ الْأُوَلَ فَهُوَ حَبْرٌ
“Barang
siapa yang mengambil tujuh surah pertama dari Al Qur’an, maka dia adalah orang
yang berilmu.” (Hr. Ahmad, dan dinyatakan isnadnya hasan oleh
pentahqiq Musnad Ahmad cet. Ar Risalah)
Hubungan
surah Al Baqarah dengan surah Al Fatihah adalah bahwa ketika di surah Al
Fatihah seorang hamba memohon ditunjukkan jalan yang lurus (lihat Qs. Al
Fatihah: 5), maka dikatakan kepadanya ‘ada, yaitu dalam kitab Al Qur’an ini
yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertakwa (lihat
Qs. Al Baqarah: 2), di dalamnya terdapat apa yang kamu inginkan dan terdapat
kebutuhanmu.
Ketika
Allah Azza wa Jalla menyebutkan tiga golongan manusia di surah Al Fatihah,
yaitu golongan orang yang beriman, golongan orang-orang Yahudi, dan golongan
orang-orang Nasrani, maka Allah Azza wa Jalla merincinkan mereka di bagian awal
surah Al Baqarah.
Hubungan
bagian awal surah Al Baqarah dengan bagian akhirnya adalah jika di bagian awal
surah Al Baqarah disebutkan sifat orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang
yang beriman kepada yang gaib dan seterusnya, maka di bagian akhir surah Al
Baqarah Allah Azza wa Jalla sebutkan sifat-sifat orang-orang yang beriman,
yaitu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dst.
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-5: Golongan mukmin, membicarakan
tentang sifat orang-orang yang bertakwa, hakikat iman dan bagaimana Al Qur’an
menjadi petunjuk bagi mereka.
$ الم (1)
1.
Alif laam miim[2].
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
(2)
2. Kitab[3]
(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya[4];
petunjuk bagi mereka yang bertakwa[5],
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)
3.
(yaitu) mereka yang beriman[6]
kepada yang ghaib[7],
mendirikan shalat[8],
dan menafkahkan sebagian rezeki[9]
yang Kami anugerahkan kepada mereka.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ
قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
4.
Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu[10]
dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu[11],
serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[12].
أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(5)
[1] Surat Al Baqarah yang berjumlah
286 ayat ini turun di Madinah, sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun
Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wadaa' (haji Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al
Baqarah termasuk golongan Madaniyyah. Surat Al Baqarah adalah surat yang
terpanjang di antara surah-surah Al Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat
yang terpanjang (ayat 282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di
dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah
kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), di sana terdapat bukti kekuasaan
Allah membangkitkan orang yang telah mati, dan dijelaskan pula watak
orang-orang Yahudi pada umumnya.
Sebagian ulama berpendapat, bahwa surat Al
Baqarah mengandung seribu berita, seribu perintah, dan seribu larangan.
Di antara kandungan surat Al Baqarah
Surah Al Baqarah ini sebagaimana keadaan
surat-surat Madaniyyah lainnya banyak membicarakan masalah tasyri’
(undang-undang dan hukum-hukum) yang dibutuhkan oleh kaum muslimin dalam
kehidupan sosial mereka.
Dalam surah ini juga, umat dipersiapkan untuk mengurus dunia dan
menegakkan agama Allah, diterangkan tentang pembagian manusia, diterangkan
tentang dasar-dasar iman dan tentang berbagai masalah syariat.
Dalam surah ini kaum muslimin dibina di atas
iman dan takwa.
Renungan
surah Al Baqarah
Jika kita
perhatikan surah Al Baqarah, kita akan mengenal tiga khalifah (pengelola) bumi,
yaitu Adam, Bani Israil, dan Ibrahim alaihis salam.
Pertama adalah
Adam alaihis salam, saat mendapatkan beban perintah dan larangan, namun beliau
jatuh ke dalam larangan dengan memakan buah dari pohon yang dilarang didekati
oleh Allah Azza wa Jalla, namun Beliau segera kembali dan bertobat, dan Allah
menerima tobatnya.
Kedua adalah
Bani Israil, Allah membebani mereka dengan perintah dan larangan, namun mereka
sering jatuh ke dalam maksiat; meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan.
Ketiga adalah
Ibrahim alaihis salam, Allah membebaninya dengan perintah dan larangan, dan
beliau berhasil memikul semua beban itu dengan mengerjakan perintah dan
menjauhi larangan, sehingga Allah menjadikannya imam dan teladan bagi umat
manusia.
Di juz kedua
surah Al Baqarah terdapat hukum-hukum dan beban syariat, seperti shalat, zakat,
puasa, haji, muamalat, jihad, dsb. Seakan-akan Allah Ta’ala berfirman, “Inilah
hukum-hukum dan syariat-Ku! Perhatikanlah diri kalian dan bandingkan dengan
tiga khalifah sebelumnya, di manakah posisi kalian? Apakah kalian akan seperti
Adam yang jatuh ke dalam larangan namun segera bertobat, atau Bani Israil yang
mengatakan ‘kami dengar namun kami durhakai’ atau seperti Ibrahim dan anaknya
yang mampu memikul syariat-Ku sehingga Kujadikan sebagai imam bagi seluruh
manusia.”
Di bagian akhir surah Al Baqarah, Allah Azza wa Jalla
menerangkan sikap yang harus dilakukan dan keringanan dari Allah Azza wa Jalla,
dan bahwa Dia tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya, serta
mengingatkan mereka agar bersandar dan meminta kepada Allah dalam memikul beban
dari-Nya, serta memohon kepada-Nya agar diampuni segala kekurangan. Dia
mengajarkan mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tidak sanggup kami memikulnya. beri maaflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
yang kafir."
Keutamaan
surat Al Baqarah
Tentang
keutamaan surat Al Baqarah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ
فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا
الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ
أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ
أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ
وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
"Bacalah
Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada
hari kiamat nanti. Bacalah Zahrawain, yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran,
karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpukan awan
menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang
berjajar hendak membela pembacanya. Bacalah Al Baqarah, karena dengan
membacanya akan memperoleh berkah, dan dengan tidak membacanya akan menyebabkan
penyesalan, dan pembacanya tidak dapat dikuasai (dikalahkan) oleh para tukang
sihir." (Hr. Ahmad dan Muslim)
Maksud “tidak dapat dikuasai oleh para
tukang sihir” adalah tidak sanggup mereka hapal dan tidak sanggup mereka tembus
pembacanya.
Beliau juga bersabda,
اِقْرَءُوْا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ
لاَ يَدْخُلُ بَيْتًا يُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
"Bacalah
surat Al Baqarah di rumah kalian, karena setan tidak akan masuk ke dalam rumah
yang dibacakan di dalamnya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا وَهُمْ
ذُو عَدَدٍ فَاسْتَقْرَأَهُمْ فَاسْتَقْرَأَ كُلَّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مَا مَعَهُ
مِنْ الْقُرْآنِ فَأَتَى عَلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا فَقَالَ
مَا مَعَكَ يَا فُلَانُ قَالَ مَعِي كَذَا وَكَذَا وَسُورَةُ الْبَقَرَةِ قَالَ
أَمَعَكَ سُورَةُ الْبَقَرَةِ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَاذْهَبْ فَأَنْتَ أَمِيرُهُمْ
فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مَنَعَنِي
أَنْ أَتَعَلَّمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ إِلَّا خَشْيَةَ أَلَّا أَقُومَ بِهَا
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَلَّمُوا
الْقُرْآنَ وَاقْرَءُوهُ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ
وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ
مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ
جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ
Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutus rombongan para sahabat dalam
jumlah banyak, Beliau meminta kepada mereka untuk membaca, Beliau meminta
setiap orang dari mereka untuk membacakan apa yang dia hapal dari Al Qur`an,
lalu Beliau datang kepada seseorang yang paling muda umurnya di antara mereka
dan bertanya, "Apa yang kamu hapal dari Al Qur`an wahai Fulan?" Dia
menjawab, "Saya hapal ini dan itu, dan
عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ قَالَ بَيْنَمَا هُوَ
يَقْرَأُ مِنْ اللَّيْلِ سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَفَرَسُهُ مَرْبُوطَةٌ عِنْدَهُ إِذْ
جَالَتْ الْفَرَسُ فَسَكَتَ فَسَكَتَتْ فَقَرَأَ فَجَالَتْ الْفَرَسُ فَسَكَتَ وَسَكَتَتْ
الْفَرَسُ ثُمَّ قَرَأَ فَجَالَتْ الْفَرَسُ فَانْصَرَفَ وَكَانَ ابْنُهُ يَحْيَى قَرِيبًا
مِنْهَا فَأَشْفَقَ أَنْ تُصِيبَهُ فَلَمَّا اجْتَرَّهُ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ
{ وَقَدْ أَوْرَدَهُ أَبُو عُبَيْد كَامِلًا وَلَفْظه " رَفَعَ رَأْسه إِلَى السَّمَاء
فَإِذَا هُوَ بِمِثْلِ الظُّلَّة فِيهَا أَمْثَال الْمَصَابِيح عَرَجَتْ إِلَى السَّمَاء
حَتَّى مَا يَرَاهَا "} حَتَّى مَا يَرَاهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ حَدَّثَ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ اقْرَأْ يَا
ابْنَ حُضَيْرٍ قَالَ فَأَشْفَقْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَطَأَ يَحْيَى وَكَانَ
مِنْهَا قَرِيبًا فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَانْصَرَفْتُ إِلَيْهِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى
السَّمَاءِ فَإِذَا مِثْلُ الظُّلَّةِ فِيهَا أَمْثَالُ الْمَصَابِيحِ فَخَرَجَتْ حَتَّى
لَا أَرَاهَا قَالَ وَتَدْرِي مَا ذَاكَ قَالَ لَا قَالَ تِلْكَ الْمَلَائِكَةُ دَنَتْ
لِصَوْتِكَ وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحْتَ يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهَا لَا تَتَوَارَى
مِنْهُمْ
Dari Usaid bin
Hudhair, ia berkata, “Ketika dirinya sedang membaca surat Al
Baqarah (dalam shalat malam), sedangkan kudanya ditambat di dekatnya, tiba-tiba
kudanya hendak berontak, maka Usaid pun diam
(berhenti membaca),
kudanya pun ikut diam. Ketika Usaid membaca lagi, maka kudanya hendak berontak dan ketika ia diam, kudanya pun diam, lalu ia membaca lagi, maka
kudanya berontak lagi, maka Usaid pun berhenti, sedangkan puteranya yaitu
Yahya dekat dengan kuda itu, ia khawatir jika kuda itu mengenainya. Saat Usaid
menarik anaknya, ia angkat kepalanya ke langit, tiba-tiba ada semacam naungan
yang di dalamnya terdapat semacam lampu-lampu yang naik ke langit sehingga
tidak terlihat lagi.” ketika tiba pagi harinya, Usaid menceritakan peristiwa itu kepada
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Teruskanlah membaca wahai Ibnu Hudhair, teruskanlah membaca wahai Ibnu Hudhair!” Usaid
bin Hudhair berkata, “Aku takut wahai Rasulullah, kalau kuda itu menginjak
Yahya karena ia dekat dengannya, maka aku angkat kepalaku dan aku pergi mendatanginya,
aku angkat kepalaku ke langit ternyata ada semacam naungan yang di sana
terdapat semacam lampu-lampu, lalu keluar (dari
rumahku) sehingga
aku tidak melihatnya lagi.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tahukah kamu apa itu?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Itu adalah para
malaikat yang mendekat kepada suaramu, dan kalau sekiranya kamu meneruskan
bacaanmu, tentu pada pagi hari manusia akan melihatnya, dan tidak akan tersembunyi bagi
mereka.” (Hr. Bukhari).
[2] Alif Laam Miim adalah huruf-huruf abjad yang terletak pada
permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif Laam Miim, Alif
Laam Raa, Alif Laam Miim Shaad, dan sebagainya. Di antara para
mufassir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk
ayat-ayat mutasyaabihaat.
Asy Sya’biy dan
jamaah para ulama berkata, “Alif Lam Mim dan seluruh huruf hijaiyah di awal
surat termasuk ayat-ayat mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang
mengetahuinya. Ia termasuk rahasia Al Qur’an. Kita beriman dengan zhahirnya dan
kita serahkan ilmu tentangnya kepada Allah Ta’ala. Faedah disebutkannya adalah
agar kita mengimaninya.”
Abu Bakar Ash
Shiddiq berkata, “Dalam setiap kitab ada rahasia, dan rahasia Allah dalam Al
Qur’an terletak pada awal-awal surat (potongan huruf).”
Ada pula yang
menafsirkan huruf-huruf itu. Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya
sebagai nama surat, ada pula yang berpendapat, bahwa itu adalah sumpah yang
dipakai Allah untuk bersumpah karena kemuliaannya, dan ada pula yang berpendapat,
bahwa huruf-huruf itu untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran diturunkan dari Allah
dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Jika mereka tidak
percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam, maka cobalah mereka buat yang semisal Al Quran
itu.
Quthrub, Al Mubarrad, Al Farra, dan para
ulama lainnya menyatakan, bahwa huruf-huruf itu merupakan isyarat terhadap
huruf-huruf hijaiyah yang Allah mengajarkannya kepada bangsa Arab saat Dia
menantang mereka dengan Al Qur’an yang tersusun dari huruf-huruf yang biasa
mereka gunakan untuk berbicara agar kelemahan mereka menyaingi Al Qur’an tampak
lebih jelas sehingga menjadi hujjah atas mereka; karena huruf-huruf itu tidak
lepas dalam pembicaraan mereka.”
Menurut sebagian ulama, bahwa huruf-huruf abjad itu
gunanya untuk menarik perhatian para pendengar agar memperhatikan Al Quran itu.
Yang demikian adalah karena kaum musyrik tidak mau mendengarkan Al Qur’an, maka
dengan disebutkan potongan-potongan huruf itu yang maknanya asing bagi mereka,
membuat mereka penasaran dan akhirnya mau mendengarkan ayat selanjutnya yang
merupakan intinya.
Syaikh As Sa'diy berpendapat, bahwa yang
lebih selamat adalah diam tidak mencari-cari maksudnya, yang pasti Allah Ta'ala
tidaklah menurunkan begitu saja tanpa ada hikmah di balik itu hanya saja kita
tidak mengetahui. Wallahu a'lam.
Imam Al Qurthubi berkata, "Para ahli
tafsir berselisih tentang huruf-huruf yang berada di awal-awal surat. Amir Asy
Sya'biy, Sufyan Ats Tsauriy dan Jama'ah ahli hadits berkata, "Ia adalah
rahasia Allah dalam Al Qur'an, dan Allah memiliki rahasia di setiap kitab-Nya,
ia termasuk ayat-ayat mutasyabihat yang hanya Allah saja mengetahuinya, ia
tidak mesti dibicarakan, akan tetapi kita mengimaninya dan membacanya
sebagaimana telah datang (disebutkan)."
[3] Allah Ta'ala menamakan Al
Qur'an dengan Al Kitab berarti "yang ditulis," sebagai isyarat bahwa
Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[4] Yakni tidak ada keraguan bahwa ia berasal dari Allah
Ta'ala (lihat pula
[5] Orang-orang yang bertakwa
mengambil manfaat darinya, menjadikannya sebagai petunjuk dan ilmu yang
bermanfaat serta membuat mereka dapat beramal saleh. Mereka memperoleh dua
hidayah; hidayah irsyad (ilmu/petunjuk) dan hidayah taufiq (bisa beramal). Al
Qur’an meskipun sesungguhnya petunjuk bagi semua manusia, namun hanya orang-orang
yang bertakwa yang mau mengambilnya sebagai petunjuk dan cahaya serta
melaksanakan isinya, sehingga disebutkan mereka secara khusus.
Menurut Ibnu
Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat, maksud “Hudal lil muttaqiin”
adalah cahaya bagi orang-orang yang bertakwa. Al Baghawi berkata, “Petunjuk
bagi orang-orang yang beriman.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Makna-makna Al Quran tidak dapat diresapi kecuali oleh hati yang suci
yaitu hati orang-orang yang bertakwa." (Fatawa Ibni Taimiyah
13/254)
Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan
takut saja. Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Ubay
bin Ka’ab tentang takwa, maka Ubay menjawab, “Tidak pernahkah engkau menempuh
sebuah jalan yang berduri?” Umar menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?”
Umar menjawab, “Aku menyingsingkan lengan bajuku (berhati-hati) dan aku
bersungguh-sungguh.” Ubay berkata, “Itulah takwa.”
Thalq bin Habib
berkata, "Apabila terjadi fitnah maka padamkanlah dengan takwa." Orang-orang
bertanya, "Apa itu takwa? Dia menjawab, "Yaitu engkau mengerjakan
ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari-Nya sambil mengharapkan pahala-Nya,
dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari-Nya seraya
takut kepada hukuman-Nya." (Bada'iul Fawaid 2/96)
Kata huda
(petunjuk) pada ayat di atas adalah umum, yakni bahwa Al Qur'an merupakan
petunjuk terhadap semua maslahat di dunia dan akhirat, ia merupakan pembimbing
manusia dalam masalah ushul (pokok seperti keyakinan) maupun furu' (cabang), menerangkan yang hak dan menerangkan kepada mereka
jalan yang dapat memberikan manfaat di dunia dan akhirat.
Dalam ayat di atas terdapat dorongan untuk mengambil
hidayah dari Al Qur’anul Karim, demikian pula terdapat penjelasan tentang
keutamaan takwa dan orang-orang yang bertakwa.
Faedah:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Tidak termasuk syarat orang-orang yang bertakwa dan semisalnya harus
tidak jatuh ke dalam dosa dan bersih dari kesalahan dan dosa. Karena jika
syaratnya demikian, maka tidak ada di tengah umat ini seorang yang bertakwa.
Bahkan orang yang bertaubat dari dosanya juga masuk ke dalam orang-orang yang
bertakwa dan orang yang melakukan perbuatan yang menghapuskan kesalahan juga
termasuk orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah Ta'ala,
إِنْ
تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara
dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus
kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat
yang mulia (surga).” (Qs. An Nisaa: 31)
(Minhajus Sunnah An Nabawiyyah 7/58)
[6] Iman secara bahasa artinya
pembenaran. Secara istilah iman adalah pembenaran di hati, pengakuan di lisan,
dan pengamalan dengan anggota badan. Bisa juga diartikan dengan kepercayaan
yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa atau pembenaran
di hati yang membuahkan ketundukkan di lisan (dengan iqrar/pengakuan seperti
mengucapkan Laailaahaillallah) dan pada anggota badan (dengan adanya
sikap dan pengamalan). Iman bisa bertambah dan berkurang; bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Tanda-tanda adanya iman adalah
mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
Menurut Al
Baghawi, kata iman diambil dari kata aman. Orang beriman disebut mukmin, karena
ia telah mengamankan dirinya dari azab Allah, dan Allah juga Al Mu’min, karena
Dia yang memberikan keamanan kepada hamba-hamba-Nya dari siksa-Nya.
Ibnu Rajab rahimahullah
berkata, "Ketika iman menancap dalam hati, maka seluruh anggota badan
bangkit untuk mengerjakan amal saleh dan lisan pun terdorong untuk berkata yang
baik." (Lathaiful Ma'arif 1/225)
[7] Yang ghaib ialah yang tidak
dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghaib yaitu, meyakini
adanya yang maujud (terwujud) yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera,
karena ada dalil yang menunjukkan adanya, seperti: adanya Allah,
malaikat-malaikat, hari akhirat, surga, neraka dan sebagainya.
Mengapa beriman
itu kepada yang ghaib? Jawabnya adalah karena beriman kepada sesuatu yang
disaksikan atau dirasakan panca indera tidak dapat membedakan mana muslim dan mana
kafir. Oleh karena itu, orang mukmin beriman kepada semua yang diberitakan
Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, baik mereka
menyaksikannya atau tidak, baik mereka memahaminya atau tidak, dan baik
dijangkau oleh akal mereka maupun tidak.
Abdullah bin
Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya perkara Muhammad
shallallahu alahi wa sallam sangat jelas (kebenarannya) bagi orang yang
melihatnya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak
ada keimanan yang diimani oleh seseorang yang lebih utama daripada keimanannya
kepada yang ghaib," lalu Ibnu Mas'ud membacakan ayat, "Alif Laam
Miim…dst. sampai Alladziina yu'minuuna bil ghaib.” (Diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih dan Hakim dalam Mustadraknya. Hakim
berkata, “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak
menyebutkannya.”)
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Talbis Al Jahmiyyah
5/413, “Sesungguhnya Allah menutup mata manusia dari melihat-Nya ketika di
dunia adalah sebagai bentuk rahmat kepada mereka. Karena kalau sekiranya Dia
dapat terlihat di dunia oleh makhluk-makhluk yang fana, tentu mereka akan
hancur dan mata mereka tidak akan mampu melihat Allah Ta’ala, karena mata
tersebut diciptakan untuk fana yang tidak siap menerima cahaya kekekalan. Akan
tetapi pada hari Kiamat, mata siap menerima kekekalan, sehingga ia dapat
melihat cahaya kekekalan.”
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ، وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَخْفِضُ
الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ، يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ
النَّهَارِ، وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ، حِجَابُهُ النُّورُ -
وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ: النَّارُ - لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ
وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ
“Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla tidak tidur, dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur. Dia
menurunkan timbangan dan menaikkannya. Diangkat kepada-Nya amalan di malam hari
sebelum amalan di siang hari, dan amalan di siang hari sebelum amalan di malam
hari. Hijab-Nya adalah cahaya –dalam riwayat Abu Bakar : Hijab-Nya adalah api-.
Jika hijab itu disingkap tentu cahaya wajah-Nya akan membakar seluruh
makhluk-Nya.” (Hr. Muslim dari Abu Musa radhiyallahu anhu)
[8] Yakni di samping beriman
kepada yang ghaib, mereka buktikan dengan mendirikan shalat. Shalat menurut
bahasa Arab artinya doa, menurut istilah syara' adalah ibadah yang sudah
dikenal, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat merupakan
pembuktian terhadap pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah Subhaanahu wa
Ta'aala. Mendirikan shalat adalah menunaikannya dengan benar dan teratur,
dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir maupun
yang batin, seperti khusyu', memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya. Shalat yang seperti inilah yang dapat mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar.
Adh Dhahhak menyebutkan dari Ibnu Abbas,
bahwa maksud “mendirikan shalat” adalah menyempurnakan ruku’, sujud, bacaannya,
khusyu’, dan memperhatikan shalat di dalam shalat.
Qatadah berkata, “Mendirikan shalat adalah
menjaga pada waktunya, menjaga wudhunya, ruku’ dan sujudnya.”
Muqatil bin Hayyan berkata, “Mendirikan
shalat maksudnya menjaga pada waktunya, menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan
ruku’, sujud, membaca Al Qur’an di dalamnya, bertasyahhud dan bershalawat
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, inilah mendirikannya.”
Syaikh As Sa'diy
berkata, "Allah tidak mengatakan 'mengerjakan shalat' atau 'menunaikan
shalat' karena tidak cukup di sana sekedar menunaikan dengan praktek yang
tampak. Oleh karena itu, mendirikan shalat adalah mendirikannya dengan zahir
(luarnya), yaitu dengan menyempurnakan ruku', kewajibannya, dan
syarat-syaratnya, serta mendirikannya dengan batin, yaitu dengan menegakkan
ruhnya, yaitu hadirnya hati, mentadabburi (memikirkan) apa yang dia ucapkan dan
dia lakukan. Inilah shalat yang Allah katakan, bahwa shalat dapat mencegah dari
perbuatan keji dan munkar. Inilah shalat yang menghasilkan pahala. Oleh karena
itu, tidak ada pahala bagi seseorang dari shalatnya selain yang dihayati
daripadanya."
Hal ini juga menunjukkan bahwa
besar-kecilnya pahala shalat seseorang sesuai tinggi-rendahnya kekhusyuan
seseorang. Nanti akan diterangkan lebih khusus –insya Allah- tentang khusyu
yang merupakan ruhnya shalat.
Berdasarkan tafsir para ulama di
atas kita dapat mengetahui, bahwa mendirikan shalat itu tidak hanya mengerjakan
shalat atau menunaikannya, tetapi menghendaki kita untuk mendirikan shalat baik
zhahir(luar)nya maupun batin(dalam)nya. Zhahirnya adalah dengan memenuhi
syarat, rukun, dan kewajibannya, dan lebih sempurna lagi jika ditambah dengan
sunnah-sunnahnya. Sedangkan batinnya adalah dengan melakukan khusyu' (hadirnya
hati dan diamnya anggota badan) di dalamnya. Jika seseorang melakukan semua
itu, maka sudah pasti shalat itu akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji
dan munkar. Dan seperti inilah shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam;
Beliau memperhatikan zhahir maupun batin.
[9] Rezeki artinya segala yang
dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezeki ialah memberikan sebagian
dari harta yang telah direzekikan oleh Allah tersebut kepada orang-orang yang
disyariatkan oleh agama memberinya, baik yang wajib maupun yang sunah. Contoh
pengeluaran yang wajib adalah zakat, menafkahi anak dan istri, orang tua, kerabat,
dan budak, sedangkan yang sunah adalah semua jalan kebaikan. Disebutkan
"sebagian rezeki" menunjukkan bahwa yang Allah inginkan hanyalah
sedikit dari harta mereka; tidak memadharatkan mereka dan tidak membebani, dan
dipakainya kata-kata "rezeki" untuk mengingatkan bahwa harta yang ada
pada mereka merupakan rezeki dari Allah yang menghendaki untuk disyukuri dengan
menyisihkan sebagiannya berbagi bersama saudara-saudara mereka yang tidak mampu.
Shalat dan zakat
sangat sering disebutkan secara bersamaan di dalam Al Qur'an, karena shalat
mengandung sikap ikhlas kepada Allah Ta'ala, sedangkan zakat dan infak
mengandung sikap ihsan terhadap sesama hamba Allah Ta'ala. Oleh karena itu,
tanda kebahagiaan seorang hamba adalah dengan bersikap ikhlas kepada Allah dan
berusaha memberikan manfaat kepada makhluk, sebagaimana tanda celakanya seorang
hamba adalah ketika tidak adanya kedua ini, yakni ikhlas kepada Allah Ta'ala
dan berbuat ihsan kepada sesama hamba Allah Ta'ala.
[10] Yaitu Al Qur'an, demikian juga apa yang diturunkan
kepada Beliau berupa hikmah (As Sunnah).
[11] Kitab-kitab yang telah
diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan
Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Qur'an yang diturunkan kepada
Termasuk ke dalam beriman
kepada kitab-kitab Allah adalah:
1. Beriman
bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah.
2. Beriman
kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal
(garis besar). Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan
As Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci
seperti namanya adalah kitab ini dan diberikan kepada nabi yang bernama itu
dsb. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah
menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan
namanya.
3. Membenarkan
berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti
berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah.
Kita katakan “yang masih murni” karena kitab-kitab
selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an yang dijaga
kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sedangkan kitab-kitab selain Al
Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan manusia
dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau dihilangkan sehingga tidak
murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah berfirman,
z`ÏiB
tûïÏ%©!$#
(#rß$yd tbqèùÌhptä
zNÎ=s3ø9$# `tã ¾ÏmÏèÅÊ#uq¨B
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah
perkataan dari tempat-tempatnya.” (Terj. Qs. An Nisaa’: 46)
4. Mengamalkan hukum
yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai dengan
sikap ridha dan menerima. Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab
sebelumnya sudah mansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan
hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.
Sulaiman bin Habib pernah
berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak
diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.”
[12] Yakin adalah kepercayaan
yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikit pun. Akhirat lawan dunia.
Dinamakan akhirat karena berada di akhir setelah kehidupan dunia. Kehidupan
akhirat ialah kehidupan setelah mati dan setelah dunia berakhir. Yakin akan
adanya kehidupan akhirat adalah benar-benar percaya akan adanya kehidupan setelah
mati (yaitu alam barzakh yang di dalamnya terdapat fitnah kubur, azab kubur dan
nikmat kubur) dan setelah dunia berakhir (seperti kebangkitan manusia,
pengumpulan manusia di
Termasuk beriman kepada hari Akhir juga adalah
beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi
Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj-Ma’juj dan terbitnya matahari dari barat.
Sebelum tibanya tanda-tanda tersebut, akan didahului tanda-tanda kecilnya di
antaranya adalah diangkatnya ilmu (dengan banyak
diwafatkannya para ulama), perzinaan banyak dilakukan, wanita lebih banyak
daripada laki-laki, amanah akan disia-siakan dengan diserahkan urusan kepada
yang bukan ahlinya, banyaknya pembunuhan, dan banyaknya gempa bumi (berdasarkan
beberapa hadits yang shahih).
Di antara hikmah mengapa Allah sering
menyebutkan hari akhir dalam Al Qur’an adalah karena beriman kepada hari akhir
memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia
akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk
mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari akhir
itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan
kemaksiatan apalagi merasa tentram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga
membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak
menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah
menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia karena di
hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.
[13] Yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat di
atas, yaitu beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian
rezeki yang Allah Subhaanahu wa Ta'aala karuniakan kepada mereka, beriman
kepada para rasul dan apa yang mereka bawa, dan beriman kepada hari akhir.
[14] Mereka berjalan di atas cahaya dan petunjuk dari Tuhan
mereka serta di atas taufiq-Nya.
[15] Di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang
mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah setelah mengusahakannya dan
selamat dari sesuatu yang mereka khawatirkan atau orang-orang yang akan
memperoleh surga dan selamat dari neraka. Falah atau beruntung juga bisa
berarti kekal, yakni mereka kekal dalam kenikmatan yang abadi.
Dalam ayat di atas
terdapat ajakan dan dorongan kepada orang-orang yang beriman agar memiliki
sifat orang-orang yang memperoleh hidayah dan keberuntungan, agar mereka menempuh
jalan itu, sehingga mereka mendapat petunjuk dan memperoleh keberuntungan di
dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar