Minggu, 17 Mei 2026

Mukadimah (22)

 

Mukadimah (22)



Penjelasan Singkat Rukun Iman

Iman secara istilah artinya pengikraran di lisan, pembenaran di hati dan pengamalan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan.

Pengikraran di lisan misalnya mengucapkan kalimat syahadatain.

Pembenaran di hati adalah dengan tidak ragu-ragu, ikhlas mengucapkannya, jujur hatinya, mencintai dan menerima apa yang diikrarkan oleh lisannya.

Sedangkan pengamalan dengan anggota badan adalah mengamalkan konsekwensi syahadatain yang telah diikrarkan.

Konsekwensi dari syahadat Laailaahaillallah adalah meniadakan sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah saja. Contoh ibadah adalah berdoa, ruku’ dan sujud, meminta pertolongan dan perlindungan, tawakkal dan berkurban. Ini semua harus ditujukan kepada Allah saja.

Sedangkan konsekwensi dari syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan sabdanya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

Berikut penjelasan singkat maksud beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dst.

Makna beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah adalah kita mengimani semua penjelasan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam tentang Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk ke dalam beriman kepada Allah adalah beriman kepada apa yang kami sebutkan di bawah ini:

1. Beriman kepada wujud Allah.

Kita mengetahui bahwa manusia bukanlah yang menciptakan dirinya sendiri, karena sebelumnya ia tidak ada. Sesuatu yang tidak ada tidak bisa mengadakan sesuatu. Manusia tidak pula diciptakan oleh ibunya dan tidak pula oleh bapaknya serta tidak pula muncul secara tiba-tiba. Dan sesuatu yang terwujud sudah pasti ada yang mewujudkannya. Dari sini kita mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta kita dan Pencipta alam semesta.

2. Beriman bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamiin.

Maksudnya adalah beriman bahwa Allah adalah Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam semesta serta Pemberi rezekinya. Beriman bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamin, disebut juga beriman kepada rububiyyah Allah.

3. Beriman bahwa Allah adalah Al Ilaah (Al Ma’buud bihaqq).

Yakni beriman bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah. Beriman bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah disebut juga beriman kepada Uluhiyyah Allah.

4. Beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-Nya.

Yakni kita mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan Rasul-Nya dalam As Sunnah, tanpa tamtsil (menyamakan dengan sifat makhluk), takyif (menanyakan “Bagaimana hakikat sifat Allah?”),  ta’thil (meniadakan) dan tanpa ta’wil (mengartikan lain, seperti mengartikan “Tangan” dengan “Kekuasaan”).

 

Makna beriman kepada malaikat Allah

Beriman kepada malaikat maksudnya kita mengimani segala penjelasan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam tentang malaikat.

Malaikat adalah makhluk Allah yang berada di alam ghaib yang senantiasa beribadah kepada Allah. Mereka tidak memiliki sedikit pun sifat-sifat ketuhanan dan tidak berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan mengaruniakan kepada mereka sikap selalu tunduk kepada perintah-Nya serta diberikan kesanggupan untuk menjalankan perintah-Nya.

Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Azza wa Jalla sendiri (lihat Qs. Al Muddatstsir: 311), disebutkan dalam hadits Israa’-Mi’raj bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

“Lalu ditampakkan kepadaku Al Baitul Ma’mur (ka’bah penghuni langit ketujuh), aku pun bertanya kepada Jibril (tentangnya), maka ia menjawab, “Ini adalah Al Baitul Ma’mur, setiap harinya 70.000 malaikat shalat di situ, setelah keluar mereka tidak kembali lagi sebagai kewajiban terakhir mereka.” (Hr. Bukhari)

Termasuk ke dalam beriman kepada malaikat adalah:

1.  Mengimani wujud mereka

2.  Mengimani malaikat yang telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).

3.  Mengimani sifat malaikat yang telah diberitahukan kepada kita sifatnya. Misalnya malaikat Jibril, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihatnya dalam wujud aslinya, dimana ia memiliki 600 sayap (sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari).

4.  Mengimani tugas malaikat yang telah diberitahukan kepada kita. Di antara tugas mereka adalah bertasbih malam dan siang, menyampaikan wahyu, mencatat amal, bertanya kepada manusia di alam kubur, beribadah, dll.

Makna beriman kepada kitab-kitab Allah

Kita juga wajib beriman bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menurunkan kitab-kitab dan telah memberikan kepada beberapa rasul suhuf (lembaran-lembaran berisi wahyu).

Semuanya adalah firman Allah yang  diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya agar mereka menyampaikan kepada manusia syari’at-Nya. Firman Allah bukanlah makhluk karena firman termasuk sifat-sifat-Nya sedangkan sifat-sifat-Nya bukanlah makhluk.

Termasuk ke dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah:

1.  Beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah.

2.  Beriman kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar). Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci seperti namanya adalah kitab ini dan diberikan kepada nabi yang bernama itu dsb. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan namanya.

3.  Membenarkan berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah.

Kami katakan “yang masih murni” karena kitab-kitab selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an yang dijaga kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sedangkan kitab-kitab selain Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau dihilangkan sehingga tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah berfirman,

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (Terj. Qs. An Nisaa’: 46)

4.  Mengamalkan hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai dengan sikap ridha dan menerima. Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab sebelumnya sudah mansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.

Sulaiman bin Habib pernah berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.

Makna beriman kepada rasul-rasul Allah

Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dengan membawa syariat yang baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus dengan membawa syariat rasul yang datang sebelumnya. Ada pula yang berpendapat, bahwa rasul diperintahkan menyampaikan wahyu kepada umatnya, sedangkan nabi tidak.

Para rasul adalah manusia, mereka tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah (mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta), mereka tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak mampu mendatangkan manfaat atau pun menolak madharrat (bahaya), Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam –dimana Beliau adalah pemimpin para rasul dan rasul yang paling tinggi kedudukannya- untuk mengatakan,

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemadharratan kecuali yang diikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku banyak memperoleh kemanfaatan dan sedikit pun aku tidak ditimpa kemadharratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Terj. Qs. Al A’raaf : 188)

Di antara sebab yang  menghalangi orang-orang kafir beriman kepada Nabi Muhammad hallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena Beliau manusia, mereka mengatakan “Mengapa Allah mengutus rasul dari kalangan manusia?’, Kalau seandainya mereka mau berfikir tentu mereka akan mengetahui bahwa di antara hikmah Allah mengutus rasul dari kalangan manusia adalah agar dapat diteladani, ditiru dan diikuti perbuatannya. Karena kalau dari kalangan malaikat bagaimana dapat diikuti, bukankah malaikat itu tidak makan dan tidak minum, juga tidak menikah, dsb.

Termasuk ke dalam beriman kepada rasul-rasul Allah adalah:

1.  Beriman bahwa risalah mereka benar-benar dari sisi Allah. Oleh karena itu siapa saja yang ingkar kepada salah seorang rasul, maka sama saja telah ingkar kepada semua rasul.

2.  Mengimani rasul yang telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak diberitahukan namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).

3.  Membenarkan berita mereka yang shahih.

4.  Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita. Rasul yang diutus kepada kita sekarang adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau adalah penutup para rasul, tidak ada lagi nabi setelahnya.

 

Makna beriman kepada hari akhir

Beriman kepada hari akhir maksudnya adalah mengimani semua penjelasan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam yang menyebutkan tentang keadaan setelah mati, seperti: Fitnah kubur, azab kubur dan nikmat kubur, Ba’ts (kebangkitan manusia), Hasyr (pengumpulan manusia), bertebarannya catatan amal, Hisab, Mizan (timbangan), Haudh (telaga), Shirat (jembatan), syafa’at, surga, neraka dsb.

Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj-Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ *

“Sesungguhnya kiamat tidak akan tegak sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan sebagai berikut, “Adanya Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah (binatang melata), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa putera Maryam, Ya’juj dan Ma’juj, adanya tiga khasf (penenggelaman bumi) di timur, di barat, dan di jazirah Arab, dan yang terakhir dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman menggiring manusia ke tempat berkumpulnya[i].” (Hr. Muslim)

Sebelum tibanya tanda-tanda tersebut, akan didahului tanda-tanda kecilnya di antaranya adalah diangkatnya ilmu (yakni dengan banyak diwafatkannya para ulama), perzinaan banyak dilakukan, wanita lebih banyak daripada laki-laki, amanah akan disia-siakan dengan diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, banyaknya pembunuhan dan banyaknya gempa bumi (berdasarkan hadits yang shahih).

Di antara hikmah mengapa Allah sering menyebutkan hari akhir dalam Al Qur’an adalah karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari akhir itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi sampai merasa tentram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.

Makna beriman kepada qadar Allah

Maksud beriman kepada qadar adalah kita mengimani bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini yang baik mapun yang buruk adalah dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya. Semuanya telah diketahui Allah, telah ditulis, telah dikehendaki dan diciptakan Allah.

Allah Ta’ala berbuat adil dalam qadha’ dan qadar-Nya. Semua yang ditaqdirkan-Nya adalah sesuai hikmah yang sempurna yang diketahui-Nya. Allah  tidaklah menciptakan keburukan tanpa adanya maslahat, namun keburukan dari sisi buruknya tidak bisa dinisbatkan kepada-Nya. Tetapi keburukan masuk ke dalam ciptaan-Nya. Jika dihubungkan kepada Allah Ta’ala, maka hal itu adalah keadilan, kebijaksanaan dan sebagai rahmat/kasih-sayang-Nya.

Allah telah menciptakan kemampuan dan iradah (keinginan) untuk hamba-hamba-Nya, dimana ucapan yang keluar dan perbuatan yang dilakukan sesuai kehendak mereka, Allah tidak memaksa mereka, bahkan mereka berhak memilih.

Manusia merasakan bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan, yang dengannya ia akan berbuat atau tidak, ia juga bisa membedakan antara hal yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan yang tidak diinginkannya seperti bergemetar. Akan tetapi, tetap bahwa kehendak dan kemampuan seseorang tidak akan melahirkan ucapan atau perbuatan kecuali dengan kehendak Allah, namun ucapan atau perbuatan tersebut tidak mesti dicintai Allah meskipun terwujud, karena yang dicintai-Nya adalah jika sesuai dengan syari'at-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan Singkat Tentang Ihsan

 

Ihsan bagi seorang muslim tidaklah sekedar akhlak utama yang perlu dimilikinya, bahkan ia memandangnya sebagai bagian dari akidah dan agamanya, karena tingkatan agama itu tiga, yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan.

Ta'rif (definisi) ihsan

Ihsan secara bahasa artinya berbuat baik, lawan dari kata isaa'ah (berbuat buruk). Sedangkan secara istilah, ihsan artinya merasakan pengawasan Allah baik di saat rahasia maupun terang-terangan, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Oleh karenanya, ia mengerjakan kebaikan dengan cara yang paling baik dan mencari keridhaan Allah.

Dalil Ihsan

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan berbuat ihsanlah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. Al Baqarah: 195)

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan," (QS. An Nahl: 90)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang ihsan oleh malaikat Jibril 'alaihis salam, maka Beliau bersabda,

الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, maka (ketahuilah) Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rukun Ihsan

Ihsan rukunnya satu, yaitu seseorang beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika tidak bisa merasa begitu, maka dengan merasakan bahwa Dia melihatnya.

Pembagian Ihsan

Ihsan ada beberapa macamnya, yaitu:

1.    Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala

Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala adalah seseorang menjalankan ibadah baik shalat, puasa, haji, maupun ibadah lainnya secara benar dengan menyempurnakan syaratnya, rukunnya, sunah-sunahnya, dan adab-adabnya, dan ini tidak akan sempurna kecuali apabila ia menjalankan ibadah itu dengan merasakan diawasi Allah Ta'ala sehingga seakan-akan ia melihat-Nya, atau minimal merasakan bahwa Allah Azza wa Jalla melihatnya. Dengan cara seperti ini, ia dapat berbuat ihsan dalam beribadah.

Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala memiliki dua tingkatan:

Pertama, tingkatan musyahadah, yakni beribadah seakan-akan melihat-Nya. Tingkatan ini lebih tinggi, di dalamnya terdapat ibadah yang dilakukan dengan rasa rindu.

Kedua, tingkatan iththila' wal muraqabah, yaitu merasakan diawasi Allah. Dalam tingkatan ini terdapat ibadah dengan rasa takut dan cemas.

Kedua keadaan ini dapat mewujudkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Termasuk kesempurnaan ikhlas adalah seseorang berusaha agar ibadahnya tidak dilihat oleh manusia kecuali jika ada maslahatnya, misalnya untuk mengajarkan orang lain, agar diikuti, atau untuk menampakkan syi’ar Islam, dan sebagainya. Dan seorang muslim dalam hal ini melihat yang lebih bermaslahat dan bermanfaat dalam beribadah, kemudian ia mengerjakannya.

2.    Ihsan dalam hal yang kita miliki,

Yaitu memberikan hal yang ma’ruf dalam hal yang kita miliki. Hal ini dapat dilakukan dalam empat hal:

a.    Harta

Contoh: berzakat, berinfak, bersedekah yang wajib dan yang sunat.

b.    Kedudukan

Contoh: memberikan syafa’at (membantu orang lain dengan kedudukannya).

c.    Ilmu

Contoh: mengajarkan agama dan menyebarkan ilmu kepada hamba-hamba Allah baik dalam halaqah, majlis khusus maupun umum dengan cara hikmah dan tidak menyusahkan manusia.

d.   Badan

Contoh: misalnya dengan membantu orang lain mengangkutkan barang, menunjukkan jalan, dsb.

3.    Ihsan kepada semua makhluk, yaitu memberikan hal yang ma’ruf dan menghindarkan sesuatu yang mengganggu orang lain.

Hal ini ada beberapa macam:

Kepada diri sendiri, yaitu menjauhkan dirinya dari yang haram dan tidak mengerjakan selain yang mendatangkan keridhaan Allah. Oleh karena itu, ia membina dirinya dengan ilmu dan amal, menyucikan dirinya, serta mejauhkannya dari kesesatan di dunia, serta dari kecelakaan dan azab di akhirat. Allah Ta'ala berfirman, "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri." (Terj. QS. Al Israa': 7)

Kepada ibu-bapak, yaitu dengan berbakti kepada keduanya, menaati keduanya, memberikan kebaikan kepada keduanya, menghindarkan gangguan yang mungkin menimpa keduanya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, menjalankan pesan keduanya, dan memuliakan kawan keduanya.

Kepada kerabat, yaitu dengan berbuat baik kepada mereka dan tidak menyakitinya, berkasih-sayang dengan mereka, mengunjungi mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, membantu mereka, serta tidak berkata dan berbuat yang buruk terhadap mereka.

Kepada anak yatim, yaitu dengan menjaga harta mereka, menjaga hak-hak mereka, mendidik mereka, tidak menyakiti mereka, ceria di hadapan mereka, dan menghibur mereka.

Kepada orang-orang miskin, yaitu dengan menghilangkan lapar mereka, menutupi aurat mereka, mendorong orang lain memberikan makan kepada mereka, tidak menodai kehormatan mereka, dan tidak menimpakan sesuatu yang buruk kepada mereka.

Kepada Ibnussabil (musafir yang kehabisan bekal), yaitu dengan memenuhi kebutuhannya, menjaga kehormatannya, memberikan bantuan untuk melanjutkan perjalanannya, menunjukinya jika ia meminta petunjuk, dan mengarahkannya ketika ia tersesat.

Kepada pekerja, yaitu dengan memberikan upah sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya di luar kesanggupannya, dan menjaga kehormatannya.

Kepada pembantu rumah tangga, yaitu dengan memberikan makan sebagaimana ia memberikan makan kepada keluarganya, memberinya pakaian sebagaimana ia memberikan pakaian kepada keluarganya, dan tidak membebaninya di luar kesanggupannya.

Kepada semua manusia, yaitu dengan berlemah lembut dalam berbicara kepada mereka, bergaul baik dengan mereka, mendakwahi mereka, beramar ma'ruf dan bernahi munkar, menunjukkan mereka yang tersesat, mengajarkan yang jahil di antara mereka, mengakui hak-hak mereka, menghindarkan gangguan dari mereka, dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan mereka.

Kepada hewan, yaitu dengan memberinya makan ketika lapar, mengobatinya ketika sakit, tidak membebaninya di luar kesanggupannya, bersikap lembut kepadanya ketika dimanfaatkan, dan mengistirahatkannya ketika lelah.

Dalam bekerja, yaitu dengan memperbagus amalan dan membersihkannya dari sifat ghisy (keinginan untuk menipu orang lain dan berkhianat).

Keutamaan ihsan

1.    Orang yang berbuat ihsan kepada manusia, maka Allah akan berbuat ihsan kepadanya, lihat QS. Ar Rahmaan: 60.

2.    Orang yang berbuat ihsan akan memperoleh balasan yang baik di dunia, lihat QS. An Nahl: 30.

3.    Rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan, lihat QS. Al A'raaf: 56.

4.    Orang yang berbuat ihsan akan memperoleh surga dan tambahannya, lihat QS. Yunus: 26.

5.    Orang yang berbuat ihsan berhak mendapatkan kabar gembira, lihat QS. Al Hajj: 37.

6.    Allah Subhaanahu wa Ta'ala mencintai orang-orang yang berbuat ihsan, lihat QS. Al Baqarah: 195.

7.    Allah Subhaanahu wa Ta'ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat ihsan, lihat QS. Huud: 115.

8.    Ihsan merupakan sebab seorang masuk ke surga, lihat QS. Adz Dzaariyat: 16.

Contoh-contoh ihsan

1.         Kaum musyrik pernah menyakiti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Uhud, paman Beliau dibunuh dan dicincang, gigi Beliau pecah, dan mengalir darah dari wajah Beliau, lalu salah seorang sahabat meminta Beliau mendoakan keburukan kepada kaum musyrik itu, namun Beliau mengatakan, "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui."

2.         Suatu hari Umar bin Abdul ‘Aziz pernah berkata kepada pelayannya, “Kipasilah aku, agar aku bisa tidur,” maka pelayannya mengipasinya hingga ia tertidur, si pelayan juga akhirnya tertidur. Ketika Umar bangun, segeralah ia mengambil kipas dan mengipasi pelayannya, ketika pelayannya bangun ia pun kaget, lalu Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Kamu manusia sebagaimana aku, kamu layak mendapatkan kebaikan sebagaimana diriku, oleh karena itu aku ingin mengipasimu sebagaimana kamu mengipasiku.

3.         Dahulu seorang majikan pernah dibuat marah oleh budaknya, majikannya pun marah hendak menghukumnya, maka budaknya membacakan ayat, “Wal kaazhimiinal ghaizh” (Dan orang-orang yang menahan marahnya) (QS. Ali Imran: 134)

Maka majikannya berkata, “Ya, saya tahan marah saya.”

Budaknya membacakan lagi ayat, “Wal ‘aafiina ‘anin naas” (Serta memaafkan orang lain), maka majikannya berkata, “Ya, kamu saya maafkan.”

Budaknya lalu membacakan lagi, “Wallahu yuhibbul muhsininiin” (Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan), maka majikannya berkata, “Sudah pergi sana, kamu merdeka karena Allah Ta’ala.”


[i] Urutan tanda-tanda tersebut –menurut sebagian ulama- adalah sbb.:

1.          Keluarnya Dajjal

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ اْلكَذَّابَ، أَلَا إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر

"Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah memperingatkan umatnya dari seorang yang buta sebelah lagi pendusta (Dajjal). Ketahuilah, sesungguhnya dia buta sebelah dan sesungguhnya Tuhanmu tidak buta sebelah, di antara kedua mata Dajjal itu tertulis ka-fa-ra (kafir)." (Hr. Bukhari dan Muslim).

Dajjal adalah seorang manusia pembohong besar yang akan muncul pada akhir zaman, mengaku sebagai tuhan yang disembah. Kehadirannya di dunia termasuk tanda besar hari kiamat. Keajaiban-keajaiban yang diperlihatkannya merupakan cobaan dari Allah untuk umat manusia yang masih hidup pada masa itu. Para pengikutnya kebanyakan orang-orang yahudi.

Di antara keajaibannya adalah ia dapat berjalan cepat seperti air hujan yang didorong angin, ia mengajak orang-orang untuk mengikuti ajakannya, lalu bagi orang-orang yang mau mengikutinya ia menyuruh langit untuk menurunkan hujan sehingga turunlah hujan, disuruhnya bumi menumbuhkan tanaman, maka tumbuhlah tanaman-tanaman, dan keajaiban-keajaiban lainnya yang ditunjukkan sehingga banyak yang percaya kepadanya.

Dajjal tinggal di dunia selama 40 hari, di antara hari-hari tersebut; sehari seperti setahun, sehari berikutnya seperti sebulan, sehari berikutnya seperti sepekan, kemudian hari-hari lainnya sebagaimana biasa, dan nantinya ia akan dibunuh oleh Nabi Isa ‘alaihis salam setelah Beliau turun ke bumi.

Dajjal sudah ada sekarang, hal ini berdasarkan hadits shahih riwayat Muslim dari Tamim Ad Daariy, bahwa ketika ia bersama para sahabatnya menaiki perahu, tiba-tiba ia dipermainkan oleh ombak selama satu bulan, sampai mereka mendekat ke sebuah pulau di tengah lautan hingga saat tenggelamnya matahari. Mereka ditemui oleh Jassasah, makhluk berbulu lebat. Kemudian Jassasah membawa mereka menemui Dajjal yang berada di dalam biara. Ternyata di dalamnya terdapat seorang pria besar posturnya dalam keadaan terikat dengan ikatan yang sangat kuat, kedua tangannya disatukan ke leher yang terletak antara kedua lutut hingga mata kakinya dengan belenggu besi. Kemudian ia bertanya kepada mereka (Tamim dan kawan-kawannya) tentang pohon kurma Bisan, Danau Thabariyyah, Mata Air Zaghr, Nabi kaum buta huruf dan apakah ia telah diperangi oleh orang-orang Arab dan bagaimana perlakuannya terhadap mereka? Kemudian ia berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya lebih baik jika mereka menaatinya. Aku beritahukan kepadamu tentang diriku; aku adalah al Masih, aku tidak lama lagi diizinkan keluar, aku akan keluar dan berjalan di bumi, maka aku tidak membiarkan satu perkampungan pun kecuali aku singgahi dalam tempo empat puluh hari, selain kota Makkah dan Madinah. Keduanya diharamkan bagiku, setiap kali aku akan memasuki salah satu darinya, aku dihadang oleh malaikat dengan pedang tehunus untuk mencegahku memasukinya. Sungguh, di setiap jalan kota itu terdapat malaikat yang menjaganya..dst." (Lihat Shahih Muslim 7572)

Tidaklah bisa selamat dari fitnah Dajjal kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun dengan ilmu, yaitu harus diketahui bahwa Dajjal itu matanya buta sebelah, dan terukir di antara kedua matanya tulisan Ka fa ra (kafir). Adapun dengan amal, yaitu dengan berlindung kepada Allah dari fitnahnya ketika tasyahhud akhir setiap shalat, dan hendaknya dihapal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

« مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » . 

"Barang siapa hapal sepuluh ayat dari awal surat Al-Kahfi, niscaya dia akan diperlihara dari (fitnah) Dajjal." (HR. Muslim).

2.          Turunnya Isa putera Maryam dari langit.

Nabi Isa 'alaihis salam sekarang masih hidup di langit kedua. Ia akan turun di menara putih sebelah timur Damaskus. Dia akan membawa syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan akan mematahkan salib dan membunuh babi. Beliaulah yang membunuh Dajjal di pintu Lud yang berada di negeri Palestina. Di zaman Nabi Isa ‘alaihis salam manusia hidup tenteram, harta melimpah, dan kedamaian di mana-mana (hal ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih).

Menurut sebagian ulama, Isa putera Maryam turun ketika kaum muslimin dipimpin oleh Imam Mahdi.

3.          Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,

Ya'juj dan Ma'juj adalah manusia ganas, kuat, dan pembunuh. Ia keluar dari tempat-tempat tinggi. Saat rombongan pertama keluar melewati sebuah danau, mereka meminumnya hingga kering dan tidak ada makanan kecuali dihabiskannya. Manusia banyak melarikan diri karena takut kepada mereka, sampai-sampai Nabi Isa dan kaum muslimin berlindung di sebuah bukit, lalu Nabi Isa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Ta’ala, maka Allah mengirimkan ulat-ulat dalam jumlah banyak yang mengenai leher mereka sehingga semuanya mati.

Ya'juj dan Ma'juj sudah ada sekarang, mereka dikurung dalam dinding besar yang dibangun oleh Raja Dzulqarnain. Dalam Al Qur'an disebutkan:

فَمَا اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْباً- قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقّاً

"Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.-- Dzulkarnain berkata, "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar". (Terj. QS. Al Kahfi: 97-98)

Tentang tembok itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Mereka melubanginya setiap hari, sehingga ketika mereka hampir berhasil melubanginya, pemimpin mereka berkata, "Kembalilah! Kalian bisa melubanginya besok!", lantas Allah mengembalikan tembok itu tertutup dan lebih keras daripada kemarin. Sampai apabila masa mereka sudah tiba, dan Allah hendak membangkitkan mereka di tengah-tengah manusia, maka pemimpin mereka berkata, "Kembalilah kalian! Kalian akan bisa melubanginya besok, insya Allah!" ia mengucapkan insya Allah. Besoknya mereka kembali, sedangkan tembok itu masih seperti keadaan ketika mereka tinggalkan kemarin, maka mereka pun berhasil melubanginya dan bisa berbaur dengan manusia. Mereka pun meminum banyak air dan orang-orang lari karena takut kepada mereka." (Hr. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, hadits ini shahih)

4.          Terjadinya khasf (penenggelaman bumi) yang terjadi di timur,

5.          Khasf di barat dan,

6.          Khasf di jazirah Arab.

Ibnu Hajar berkata, "Di beberapa tempat terjadi gempa yang menenggelamkan bumi, tetapi bisa jadi yang dimaksudkan dengan tiga penenggelaman bumi ini lebih daripada gempa-gempa itu, mungkin wilayah yang tenggelam lebih luas dan skalanya lebih besar."

7.          Muncul dukhaan (asap).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ أَنْذَرَكُمْ ثَلاَثاً: الدُّخَانَ يَأْخُذُ الْمُؤْمِنَ كَالزَّكْمَةِ، وَيأْخُذُ الْكَافِرَ، فَيَنْتَفِخُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ كُلِّ مِسْمَعٍ مِنْهُ، وَالثَّانِيَةَ الدَّابَّةَ، وَالثَّالِثَةَ الدَّجَّالِ"

"Sesungguhnya Tuhanmu memperingatkan tiga hal: Dukhan (asap) yang menimpa orang mukmin sehingga ia seperti terkena flu, dan menimpa orang kafir sampai membengkak, sehingga keluar dari setiap telinganya. Demikian pula memperingatkan Dabbah dan Dajjal.” (Hr. Ibnu Jarir dan Thabrani, isnadnya jayyid)

8.          Terbitnya matahari dari barat

Pada saat ini pintu tobat sudah ditutup.

9.          Keluarnya Dabbah (binatang melata).

Binatang melata ini akan berbicara kepada manusia, atau menandai, atau melukai (menurut qiraa't Ibnu Abbas "taklimuhum"), lihat surat An Naml: 82, sehingga akan membedakan antara orang mukmin dan orang kafir. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, "Zhahir Al Qur'an menunjukkan bahwa binatang itu akan memperingatkan manusia tentang dekatnya azab dan kebinasaan."

10.      Keluarnya api yang muncul pertama di sebelah selatan jazirah dari dataran rendah ‘Adn (kawasan di Yaman).

Api tersebut menyebar ke mana-mana dan mengumpulkan manusia ke tempat berkumpulnya. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan malaikat Israfil untuk meniup sangkakala yang menghancurkan alam semesta. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...