Mukadimah (22)
Penjelasan Singkat Rukun
Iman
Iman secara istilah
artinya pengikraran di lisan, pembenaran di hati dan pengamalan dengan anggota
badan. Iman bisa
bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan.
Pengikraran di
lisan misalnya mengucapkan kalimat syahadatain.
Pembenaran di
hati adalah dengan tidak ragu-ragu, ikhlas mengucapkannya, jujur hatinya,
mencintai dan menerima apa yang diikrarkan oleh lisannya.
Sedangkan
pengamalan dengan anggota badan adalah mengamalkan konsekwensi syahadatain yang
telah diikrarkan.
Konsekwensi dari
syahadat Laailaahaillallah adalah meniadakan sesembahan selain Allah dan
menetapkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah saja. Contoh ibadah adalah berdoa,
ruku’ dan sujud, meminta pertolongan dan perlindungan, tawakkal dan berkurban.
Ini semua harus ditujukan kepada Allah saja.
Sedangkan konsekwensi dari syahadat
Muhammad Rasulullah adalah menaati perintahnya, menjauhi larangannya,
membenarkan sabdanya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.
Berikut penjelasan singkat maksud beriman kepada
Allah, malaikat, kitab-kitab, dst.
Makna beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah adalah kita mengimani
semua penjelasan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam tentang Allah
‘Azza wa Jalla, termasuk ke dalam beriman kepada Allah adalah beriman
kepada apa yang kami sebutkan di bawah ini:
1. Beriman kepada wujud
Allah.
Kita mengetahui bahwa manusia
bukanlah yang menciptakan dirinya sendiri, karena sebelumnya ia tidak ada.
Sesuatu yang tidak ada tidak bisa mengadakan sesuatu. Manusia tidak pula
diciptakan oleh ibunya dan tidak pula oleh bapaknya serta tidak pula muncul secara
tiba-tiba. Dan sesuatu yang terwujud sudah pasti ada yang mewujudkannya. Dari
sini kita mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta kita dan
Pencipta alam semesta.
2. Beriman
bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamiin.
Maksudnya adalah
beriman bahwa Allah adalah Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam semesta serta
Pemberi rezekinya. Beriman bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamin, disebut juga
beriman kepada rububiyyah Allah.
3. Beriman bahwa Allah
adalah Al Ilaah (Al Ma’buud bihaqq).
Yakni beriman bahwa hanya
Allah-lah yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah. Beriman
bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah disebut juga beriman kepada
Uluhiyyah Allah.
4. Beriman
kepada nama-nama Allah dan sifat-Nya.
Yakni kita
mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah
dalam Al Qur’an dan Rasul-Nya dalam As Sunnah, tanpa tamtsil (menyamakan dengan
sifat makhluk), takyif (menanyakan “Bagaimana hakikat sifat Allah?”), ta’thil (meniadakan) dan tanpa ta’wil
(mengartikan lain, seperti mengartikan “Tangan” dengan “Kekuasaan”).
Makna beriman kepada malaikat Allah
Beriman kepada malaikat maksudnya kita
mengimani segala penjelasan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam tentang
malaikat.
Malaikat adalah makhluk Allah yang berada di alam ghaib yang senantiasa
beribadah kepada Allah. Mereka tidak memiliki sedikit pun sifat-sifat ketuhanan
dan tidak berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan
mengaruniakan kepada mereka sikap selalu tunduk kepada perintah-Nya serta
diberikan kesanggupan untuk menjalankan perintah-Nya.
Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang
mengetahuinya selain Allah Azza wa Jalla sendiri (lihat Qs. Al Muddatstsir:
311), disebutkan dalam hadits Israa’-Mi’raj bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ
فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ
يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا
عَلَيْهِمْ
“Lalu ditampakkan kepadaku Al Baitul Ma’mur (ka’bah penghuni
langit ketujuh), aku pun bertanya kepada Jibril (tentangnya), maka ia menjawab,
“Ini adalah Al Baitul Ma’mur, setiap harinya 70.000 malaikat shalat di situ,
setelah keluar mereka tidak kembali lagi sebagai kewajiban terakhir mereka.” (Hr. Bukhari)
Termasuk ke dalam beriman kepada malaikat adalah:
1. Mengimani wujud mereka
2. Mengimani malaikat yang
telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak kita ketahui
namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).
3. Mengimani sifat malaikat
yang telah diberitahukan kepada kita sifatnya. Misalnya malaikat Jibril,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melihatnya dalam wujud aslinya,
dimana ia memiliki 600 sayap (sebagaimana dalam hadits
riwayat Bukhari).
4. Mengimani
tugas malaikat yang telah diberitahukan kepada kita. Di antara tugas mereka
adalah bertasbih malam dan siang, menyampaikan wahyu, mencatat amal, bertanya
kepada manusia di alam kubur, beribadah, dll.
Makna beriman kepada
kitab-kitab Allah
Kita juga wajib beriman bahwa Allah
Subhaanahu wa Ta'aala telah menurunkan kitab-kitab dan telah memberikan kepada
beberapa rasul suhuf (lembaran-lembaran berisi wahyu).
Semuanya adalah firman Allah yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya agar mereka
menyampaikan kepada manusia syari’at-Nya. Firman Allah bukanlah makhluk karena firman
termasuk sifat-sifat-Nya sedangkan sifat-sifat-Nya bukanlah makhluk.
Termasuk ke dalam beriman kepada
kitab-kitab Allah adalah:
1. Beriman bahwa
kitab-kitab itu turun dari sisi Allah.
2. Beriman
kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal
(garis besar). Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan
As Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci
seperti namanya adalah kitab ini dan diberikan kepada nabi yang bernama itu
dsb. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah
menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan
namanya.
3. Membenarkan
berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti
berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah.
Kami katakan “yang masih murni” karena
kitab-kitab selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an
yang dijaga kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sedangkan kitab-kitab
selain Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan
manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau dihilangkan sehingga
tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah berfirman,
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ
عَنْ مَوَاضِعِهِ
“Yaitu orang-orang Yahudi,
mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (Terj. Qs. An Nisaa’: 46)
4. Mengamalkan hukum yang
terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai dengan
sikap ridha dan menerima. Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab
sebelumnya sudah mansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya
Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.
Sulaiman bin Habib pernah berkata, “Kita
hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak diperintah
mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.”
Makna beriman kepada rasul-rasul Allah
Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dengan
membawa syariat yang baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus dengan
membawa syariat rasul yang datang sebelumnya. Ada pula yang berpendapat, bahwa rasul diperintahkan
menyampaikan wahyu kepada umatnya, sedangkan nabi tidak.
Para rasul adalah manusia, mereka tidak memiliki sedikit pun sifat
rububiyyah (mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta), mereka tidak
mengetahui yang ghaib, dan tidak mampu mendatangkan manfaat atau pun menolak
madharrat (bahaya), Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam –dimana Beliau adalah pemimpin para rasul dan rasul yang paling
tinggi kedudukannya- untuk mengatakan,
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ
السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan
tidak pula menolak kemadharratan kecuali yang diikehendaki Allah. Sekiranya aku
mengetahui yang ghaib, tentulah aku banyak memperoleh kemanfaatan dan sedikit
pun aku tidak ditimpa kemadharratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan
dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Terj. Qs. Al A’raaf : 188)
Di antara sebab yang
menghalangi orang-orang kafir beriman kepada Nabi Muhammad hallallahu
‘alaihi wa sallam adalah karena Beliau manusia, mereka mengatakan “Mengapa
Allah mengutus rasul dari kalangan manusia?’, Kalau seandainya mereka mau
berfikir tentu mereka akan mengetahui bahwa di antara hikmah Allah mengutus
rasul dari kalangan manusia adalah agar dapat diteladani, ditiru dan diikuti
perbuatannya. Karena kalau dari kalangan malaikat bagaimana dapat diikuti,
bukankah malaikat itu tidak makan dan tidak minum, juga tidak menikah, dsb.
Termasuk ke dalam beriman kepada rasul-rasul
Allah adalah:
1. Beriman bahwa risalah
mereka benar-benar dari sisi Allah. Oleh karena itu siapa saja yang ingkar
kepada salah seorang rasul, maka sama saja telah ingkar kepada semua rasul.
2. Mengimani rasul yang telah
diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak diberitahukan namanya,
maka kita imani secara ijmal (garis besar).
3. Membenarkan
berita mereka yang shahih.
4. Mengamalkan
syariat rasul yang diutus kepada kita. Rasul yang diutus kepada kita sekarang
adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau adalah penutup para
rasul, tidak ada lagi nabi setelahnya.
Makna beriman kepada hari
akhir
Beriman kepada hari akhir maksudnya adalah
mengimani semua penjelasan Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam yang
menyebutkan tentang keadaan setelah mati, seperti: Fitnah kubur, azab kubur dan
nikmat kubur, Ba’ts (kebangkitan manusia), Hasyr (pengumpulan manusia),
bertebarannya catatan amal, Hisab, Mizan (timbangan), Haudh (telaga), Shirat
(jembatan), syafa’at, surga, neraka dsb.
Termasuk beriman kepada hari akhir adalah
beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi
Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj-Ma’juj, dan terbitnya matahari dari barat.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ
قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ
وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى
اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ
بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ
ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ *
“Sesungguhnya kiamat tidak
akan tegak sampai kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan
sebagai berikut, “Adanya Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah (binatang melata),
terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa putera Maryam, Ya’juj dan Ma’juj,
adanya tiga khasf (penenggelaman bumi) di timur, di barat, dan di jazirah Arab,
dan yang terakhir dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman menggiring
manusia ke tempat berkumpulnya[i].”
(Hr. Muslim)
Sebelum tibanya tanda-tanda tersebut, akan
didahului tanda-tanda kecilnya di antaranya adalah diangkatnya
ilmu (yakni dengan banyak diwafatkannya para ulama), perzinaan banyak
dilakukan, wanita lebih banyak daripada laki-laki, amanah akan disia-siakan
dengan diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, banyaknya pembunuhan dan
banyaknya gempa bumi (berdasarkan hadits yang shahih).
Di antara hikmah mengapa Allah sering
menyebutkan hari akhir dalam Al Qur’an adalah karena beriman kepada hari akhir
memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia
akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk
mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari akhir
itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan
kemaksiatan apalagi sampai merasa tentram dengannya. Beriman
kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia
dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga
adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia karena
di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.
Makna beriman kepada qadar Allah
Maksud beriman kepada qadar adalah kita mengimani bahwa semua yang
terjadi di alam semesta ini yang baik mapun yang buruk adalah dengan qadha’
Allah dan qadar-Nya. Semuanya telah diketahui Allah, telah ditulis, telah dikehendaki
dan diciptakan Allah.
Allah Ta’ala berbuat adil dalam qadha’ dan qadar-Nya. Semua yang
ditaqdirkan-Nya adalah sesuai hikmah yang sempurna yang diketahui-Nya.
Allah tidaklah menciptakan keburukan
tanpa adanya maslahat, namun keburukan dari sisi buruknya tidak bisa
dinisbatkan kepada-Nya. Tetapi keburukan masuk ke dalam ciptaan-Nya. Jika
dihubungkan kepada Allah Ta’ala, maka hal itu adalah keadilan, kebijaksanaan
dan sebagai rahmat/kasih-sayang-Nya.
Allah
telah menciptakan kemampuan dan iradah (keinginan) untuk hamba-hamba-Nya, dimana
ucapan yang keluar dan perbuatan yang dilakukan sesuai kehendak mereka, Allah
tidak memaksa mereka, bahkan mereka berhak memilih.
Manusia merasakan bahwa dirinya memiliki
kehendak dan kemampuan, yang dengannya ia akan berbuat atau tidak, ia juga bisa
membedakan antara hal yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan
yang tidak diinginkannya seperti bergemetar. Akan tetapi, tetap bahwa kehendak
dan kemampuan seseorang tidak akan melahirkan ucapan atau perbuatan kecuali
dengan kehendak Allah, namun ucapan atau perbuatan tersebut tidak mesti
dicintai Allah meskipun terwujud, karena yang dicintai-Nya adalah jika sesuai
dengan syari'at-Nya.
Penjelasan Singkat
Tentang Ihsan
Ihsan
bagi seorang muslim tidaklah sekedar akhlak utama yang perlu dimilikinya,
bahkan ia memandangnya sebagai bagian dari akidah dan agamanya, karena
tingkatan agama itu tiga, yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan.
Ta'rif
(definisi) ihsan
Ihsan
secara bahasa artinya berbuat baik, lawan dari kata isaa'ah (berbuat
buruk). Sedangkan secara istilah, ihsan artinya merasakan pengawasan
Allah baik di saat rahasia maupun terang-terangan, baik dalam ucapan maupun
perbuatan. Oleh karenanya, ia mengerjakan kebaikan dengan cara yang paling baik
dan mencari keridhaan Allah.
Dalil
Ihsan
Allah
Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ
"Dan
berbuat ihsanlah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat
ihsan." (QS. Al Baqarah: 195)
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat ihsan," (QS. An Nahl: 90)
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang ihsan oleh malaikat Jibril
'alaihis salam, maka Beliau bersabda,
الْإِحْسَانُ أَنْ
تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan
adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu
tidak merasa begitu, maka (ketahuilah) Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rukun
Ihsan
Ihsan
rukunnya satu, yaitu seseorang beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya,
dan jika tidak bisa merasa begitu, maka dengan merasakan bahwa Dia melihatnya.
Pembagian
Ihsan
Ihsan
ada beberapa macamnya, yaitu:
1.
Ihsan dalam beribadah
kepada Allah Ta'ala
Ihsan
dalam beribadah kepada Allah Ta'ala adalah seseorang menjalankan ibadah baik
shalat, puasa, haji, maupun ibadah lainnya secara benar dengan menyempurnakan
syaratnya, rukunnya, sunah-sunahnya, dan adab-adabnya, dan ini tidak akan
sempurna kecuali apabila ia menjalankan ibadah itu dengan merasakan diawasi
Allah Ta'ala sehingga seakan-akan ia melihat-Nya, atau minimal merasakan bahwa
Allah Azza wa Jalla melihatnya. Dengan cara seperti ini, ia dapat berbuat ihsan
dalam beribadah.
Ihsan
dalam beribadah kepada Allah Ta'ala memiliki dua tingkatan:
Pertama,
tingkatan musyahadah, yakni beribadah seakan-akan melihat-Nya. Tingkatan
ini lebih tinggi, di dalamnya terdapat ibadah yang dilakukan dengan rasa rindu.
Kedua,
tingkatan iththila' wal muraqabah, yaitu merasakan diawasi Allah.
Dalam tingkatan ini terdapat ibadah dengan rasa takut dan cemas.
Kedua
keadaan ini dapat mewujudkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Termasuk
kesempurnaan ikhlas adalah seseorang berusaha agar ibadahnya tidak dilihat oleh
manusia kecuali jika ada maslahatnya, misalnya untuk mengajarkan orang lain,
agar diikuti, atau untuk menampakkan syi’ar Islam, dan sebagainya. Dan seorang
muslim dalam hal ini melihat yang lebih bermaslahat dan bermanfaat dalam
beribadah, kemudian ia mengerjakannya.
2.
Ihsan dalam hal yang kita
miliki,
Yaitu
memberikan hal yang ma’ruf dalam hal yang kita miliki. Hal ini dapat
dilakukan dalam empat hal:
a.
Harta
Contoh:
berzakat, berinfak, bersedekah yang wajib dan yang sunat.
b.
Kedudukan
Contoh:
memberikan syafa’at (membantu orang lain dengan kedudukannya).
c.
Ilmu
Contoh:
mengajarkan agama dan menyebarkan ilmu kepada hamba-hamba Allah baik dalam
halaqah, majlis khusus maupun umum dengan cara hikmah dan tidak menyusahkan manusia.
d.
Badan
Contoh:
misalnya dengan membantu orang lain mengangkutkan barang, menunjukkan jalan,
dsb.
3.
Ihsan kepada semua makhluk,
yaitu memberikan hal yang ma’ruf dan menghindarkan sesuatu yang
mengganggu orang lain.
Hal
ini ada beberapa macam:
Kepada
diri sendiri, yaitu menjauhkan dirinya dari yang haram dan tidak
mengerjakan selain yang mendatangkan keridhaan Allah. Oleh karena itu, ia
membina dirinya dengan ilmu dan amal, menyucikan dirinya, serta mejauhkannya
dari kesesatan di dunia, serta dari kecelakaan dan azab di akhirat. Allah
Ta'ala berfirman, "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik
bagi dirimu sendiri." (Terj. QS. Al Israa': 7)
Kepada
ibu-bapak, yaitu dengan berbakti kepada keduanya, menaati keduanya,
memberikan kebaikan kepada keduanya, menghindarkan gangguan yang mungkin
menimpa keduanya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, menjalankan
pesan keduanya, dan memuliakan kawan keduanya.
Kepada
kerabat, yaitu dengan berbuat baik kepada mereka dan tidak menyakitinya,
berkasih-sayang dengan mereka, mengunjungi mereka, menyambung tali silaturrahim
dengan mereka, membantu mereka, serta tidak berkata dan berbuat yang buruk
terhadap mereka.
Kepada
anak yatim, yaitu dengan menjaga harta mereka, menjaga hak-hak mereka,
mendidik mereka, tidak menyakiti mereka, ceria di hadapan mereka, dan menghibur
mereka.
Kepada
orang-orang miskin, yaitu dengan menghilangkan lapar mereka, menutupi aurat
mereka, mendorong orang lain memberikan makan kepada mereka, tidak menodai
kehormatan mereka, dan tidak menimpakan sesuatu yang buruk kepada mereka.
Kepada
Ibnussabil (musafir yang kehabisan bekal), yaitu dengan memenuhi
kebutuhannya, menjaga kehormatannya, memberikan bantuan untuk melanjutkan
perjalanannya, menunjukinya jika ia meminta petunjuk, dan mengarahkannya ketika
ia tersesat.
Kepada
pekerja, yaitu dengan memberikan upah sebelum keringatnya kering, tidak
membebaninya di luar kesanggupannya, dan menjaga kehormatannya.
Kepada
pembantu rumah tangga, yaitu dengan memberikan makan sebagaimana ia memberikan
makan kepada keluarganya, memberinya pakaian sebagaimana ia memberikan pakaian
kepada keluarganya, dan tidak membebaninya di luar kesanggupannya.
Kepada
semua manusia, yaitu dengan berlemah lembut dalam berbicara kepada mereka,
bergaul baik dengan mereka, mendakwahi mereka, beramar ma'ruf dan bernahi
munkar, menunjukkan mereka yang tersesat, mengajarkan yang jahil di antara
mereka, mengakui hak-hak mereka, menghindarkan gangguan dari mereka, dan tidak
melakukan tindakan yang membahayakan mereka.
Kepada
hewan, yaitu dengan memberinya makan ketika lapar, mengobatinya ketika
sakit, tidak membebaninya di luar kesanggupannya, bersikap lembut kepadanya
ketika dimanfaatkan, dan mengistirahatkannya ketika lelah.
Dalam
bekerja, yaitu dengan memperbagus amalan dan membersihkannya dari sifat
ghisy (keinginan untuk menipu orang lain dan berkhianat).
Keutamaan
ihsan
1.
Orang yang berbuat ihsan kepada
manusia, maka Allah akan berbuat ihsan kepadanya, lihat QS. Ar Rahmaan: 60.
2.
Orang yang berbuat ihsan akan
memperoleh balasan yang baik di dunia, lihat QS. An Nahl: 30.
3.
Rahmat Allah dekat dengan
orang-orang yang berbuat ihsan, lihat QS. Al A'raaf: 56.
4.
Orang yang berbuat ihsan akan
memperoleh surga dan tambahannya, lihat QS. Yunus: 26.
5.
Orang yang berbuat ihsan berhak
mendapatkan kabar gembira, lihat QS. Al Hajj: 37.
6.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala
mencintai orang-orang yang berbuat ihsan, lihat QS. Al Baqarah: 195.
7.
Allah Subhaanahu wa Ta'ala tidak
akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat ihsan, lihat QS. Huud: 115.
8.
Ihsan merupakan sebab seorang
masuk ke surga, lihat QS. Adz Dzaariyat: 16.
Contoh-contoh
ihsan
1.
Kaum musyrik pernah menyakiti Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam pada perang Uhud, paman Beliau dibunuh dan
dicincang, gigi Beliau pecah, dan mengalir darah dari wajah Beliau, lalu salah
seorang sahabat meminta Beliau mendoakan keburukan kepada kaum musyrik itu,
namun Beliau mengatakan, "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka
tidak mengetahui."
2.
Suatu hari Umar bin Abdul ‘Aziz
pernah berkata kepada pelayannya, “Kipasilah aku, agar aku bisa tidur,” maka
pelayannya mengipasinya hingga ia tertidur, si pelayan juga akhirnya tertidur.
Ketika Umar bangun, segeralah ia mengambil kipas dan mengipasi pelayannya,
ketika pelayannya bangun ia pun kaget, lalu Umar bin Abdul ‘Aziz berkata, “Kamu
manusia sebagaimana aku, kamu layak mendapatkan kebaikan sebagaimana diriku,
oleh karena itu aku ingin mengipasimu sebagaimana kamu mengipasiku.”
3.
Dahulu seorang majikan pernah
dibuat marah oleh budaknya, majikannya pun marah hendak menghukumnya, maka
budaknya membacakan ayat, “Wal kaazhimiinal ghaizh” (Dan orang-orang
yang menahan marahnya) (QS. Ali Imran: 134)
Maka majikannya
berkata, “Ya, saya tahan marah saya.”
Budaknya
membacakan lagi ayat, “Wal ‘aafiina ‘anin naas” (Serta memaafkan orang
lain), maka majikannya berkata, “Ya, kamu saya maafkan.”
[i]
Urutan tanda-tanda
tersebut –menurut sebagian ulama- adalah sbb.:
1.
Keluarnya Dajjal
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَا
مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ اْلكَذَّابَ، أَلَا
إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، مَكْتُوْبٌ بَيْنَ
عَيْنَيْهِ ك ف ر
"Tidak ada seorang Nabi pun
kecuali telah memperingatkan umatnya dari seorang yang buta sebelah lagi
pendusta (Dajjal). Ketahuilah, sesungguhnya dia buta sebelah dan sesungguhnya Tuhanmu
tidak buta sebelah, di antara kedua mata Dajjal itu tertulis ka-fa-ra (kafir)."
(Hr. Bukhari dan Muslim).
Dajjal adalah seorang manusia
pembohong besar yang akan muncul pada akhir zaman, mengaku sebagai tuhan yang
disembah. Kehadirannya di dunia termasuk tanda besar hari kiamat.
Keajaiban-keajaiban yang diperlihatkannya merupakan cobaan dari Allah untuk
umat manusia yang masih hidup pada masa itu.
Di
antara keajaibannya adalah ia dapat berjalan cepat seperti air hujan yang
didorong angin, ia mengajak orang-orang untuk mengikuti ajakannya, lalu bagi
orang-orang yang mau mengikutinya ia menyuruh langit untuk menurunkan hujan
sehingga turunlah hujan, disuruhnya bumi menumbuhkan tanaman, maka tumbuhlah
tanaman-tanaman, dan keajaiban-keajaiban lainnya yang ditunjukkan sehingga
banyak yang percaya kepadanya.
Dajjal
tinggal di dunia selama 40 hari, di antara hari-hari tersebut; sehari seperti
setahun, sehari berikutnya seperti sebulan, sehari berikutnya seperti sepekan,
kemudian hari-hari lainnya sebagaimana biasa, dan nantinya ia akan dibunuh oleh
Nabi Isa ‘alaihis salam setelah Beliau turun ke bumi.
Dajjal
sudah ada sekarang, hal ini berdasarkan hadits shahih riwayat Muslim dari Tamim
Ad Daariy, bahwa ketika ia bersama para sahabatnya menaiki perahu, tiba-tiba ia
dipermainkan oleh ombak selama satu bulan, sampai mereka mendekat ke sebuah
pulau di tengah lautan hingga saat tenggelamnya matahari. Mereka ditemui oleh
Jassasah, makhluk berbulu lebat. Kemudian Jassasah membawa mereka menemui
Dajjal yang berada di dalam biara. Ternyata di dalamnya terdapat seorang pria
besar posturnya dalam keadaan terikat dengan ikatan yang sangat kuat, kedua
tangannya disatukan ke leher yang terletak antara kedua lutut hingga mata
kakinya dengan belenggu besi. Kemudian ia bertanya kepada mereka (Tamim dan
kawan-kawannya) tentang pohon kurma Bisan, Danau Thabariyyah, Mata Air Zaghr,
Nabi kaum buta huruf dan apakah ia telah diperangi oleh orang-orang Arab dan
bagaimana perlakuannya terhadap mereka? Kemudian ia berkata, "Ketahuilah,
sesungguhnya lebih baik jika mereka menaatinya. Aku beritahukan kepadamu
tentang diriku; aku adalah al Masih, aku tidak lama lagi diizinkan keluar, aku
akan keluar dan berjalan di bumi, maka aku tidak membiarkan satu perkampungan
pun kecuali aku singgahi dalam tempo empat puluh hari, selain kota Makkah dan
Madinah. Keduanya diharamkan bagiku, setiap kali aku akan memasuki salah satu
darinya, aku dihadang oleh malaikat dengan pedang tehunus untuk mencegahku
memasukinya. Sungguh, di setiap jalan
Tidaklah
bisa selamat dari fitnah Dajjal kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun dengan
ilmu, yaitu harus diketahui bahwa Dajjal itu matanya buta sebelah, dan terukir
di antara kedua matanya tulisan Ka fa ra (kafir). Adapun dengan amal, yaitu
dengan berlindung kepada Allah dari fitnahnya ketika tasyahhud akhir setiap
shalat, dan hendaknya dihapal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi,
sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
« مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ
سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » .
"Barang siapa hapal sepuluh
ayat dari awal surat Al-Kahfi, niscaya dia akan diperlihara dari (fitnah) Dajjal."
(HR. Muslim).
2.
Turunnya Isa putera Maryam dari langit.
Nabi
Isa 'alaihis salam sekarang masih hidup di langit kedua. Ia akan turun di
menara putih sebelah timur Damaskus. Dia akan membawa syariat Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam dan akan mematahkan salib dan membunuh babi.
Beliaulah yang membunuh Dajjal di pintu Lud yang berada di negeri Palestina. Di
zaman Nabi Isa ‘alaihis salam manusia hidup tenteram, harta melimpah, dan
kedamaian di mana-mana (hal ini berdasarkan hadits-hadits yang shahih).
Menurut
sebagian ulama, Isa putera Maryam turun ketika kaum muslimin dipimpin oleh Imam
Mahdi.
3.
Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
Ya'juj
dan Ma'juj adalah manusia ganas, kuat, dan pembunuh. Ia keluar dari
tempat-tempat tinggi. Saat rombongan pertama keluar melewati sebuah danau,
mereka meminumnya hingga kering dan tidak ada makanan kecuali dihabiskannya.
Manusia banyak melarikan diri karena takut kepada mereka, sampai-sampai Nabi
Isa dan kaum muslimin berlindung di sebuah bukit, lalu Nabi Isa ‘alaihis salam
berdoa kepada Allah Ta’ala, maka Allah mengirimkan ulat-ulat dalam jumlah
banyak yang mengenai leher mereka sehingga semuanya mati.
Ya'juj
dan Ma'juj sudah ada sekarang, mereka dikurung dalam dinding besar yang
dibangun oleh Raja Dzulqarnain. Dalam Al Qur'an disebutkan:
فَمَا
اسْطَاعُوا أَن يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْباً- قَالَ هَذَا
رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاء وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاء وَكَانَ
وَعْدُ رَبِّي حَقّاً
"Maka
mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.-- Dzulkarnain
berkata, "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah
datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku
itu adalah benar". (Terj. QS. Al Kahfi: 97-98)
Tentang
tembok itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Mereka
melubanginya setiap hari, sehingga ketika mereka hampir berhasil melubanginya,
pemimpin mereka berkata, "Kembalilah! Kalian bisa melubanginya
besok!", lantas Allah mengembalikan tembok itu tertutup dan lebih keras
daripada kemarin. Sampai apabila masa mereka sudah tiba, dan Allah hendak
membangkitkan mereka di tengah-tengah manusia, maka pemimpin mereka berkata,
"Kembalilah kalian! Kalian akan bisa melubanginya besok, insya
Allah!" ia mengucapkan insya Allah. Besoknya mereka kembali, sedangkan
tembok itu masih seperti keadaan ketika mereka tinggalkan kemarin, maka mereka
pun berhasil melubanginya dan bisa berbaur dengan manusia. Mereka pun meminum
banyak air dan orang-orang lari karena takut kepada mereka." (Hr.
Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, hadits ini shahih)
4.
Terjadinya khasf (penenggelaman bumi) yang
terjadi di timur,
5.
Khasf di barat dan,
6.
Khasf di jazirah Arab.
Ibnu
Hajar berkata, "Di beberapa tempat terjadi gempa yang menenggelamkan bumi,
tetapi bisa jadi yang dimaksudkan dengan tiga penenggelaman bumi ini lebih
daripada gempa-gempa itu, mungkin wilayah yang tenggelam lebih luas dan
skalanya lebih besar."
7.
Muncul dukhaan (asap).
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
رَبَّكُمْ أَنْذَرَكُمْ ثَلاَثاً: الدُّخَانَ يَأْخُذُ الْمُؤْمِنَ كَالزَّكْمَةِ،
وَيأْخُذُ الْكَافِرَ، فَيَنْتَفِخُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ كُلِّ مِسْمَعٍ مِنْهُ،
وَالثَّانِيَةَ الدَّابَّةَ، وَالثَّالِثَةَ الدَّجَّالِ"
"Sesungguhnya
Tuhanmu memperingatkan tiga hal: Dukhan (asap) yang menimpa orang mukmin
sehingga ia seperti terkena flu, dan menimpa orang kafir sampai membengkak,
sehingga keluar dari setiap telinganya. Demikian pula memperingatkan Dabbah dan
Dajjal.” (Hr. Ibnu Jarir dan Thabrani, isnadnya jayyid)
8.
Terbitnya matahari dari barat
Pada
saat ini pintu tobat sudah ditutup.
9.
Keluarnya Dabbah (binatang melata).
Binatang
melata ini akan berbicara kepada manusia, atau menandai, atau melukai (menurut
qiraa't Ibnu Abbas "taklimuhum"), lihat
10. Keluarnya
api yang muncul pertama di sebelah selatan jazirah dari dataran rendah ‘Adn
(kawasan di Yaman).
Api
tersebut menyebar ke mana-mana dan mengumpulkan manusia ke tempat berkumpulnya.
Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan malaikat Israfil untuk
meniup sangkakala yang menghancurkan alam semesta. Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar