Minggu, 10 Mei 2026

Mukadimah (21)

 

Mukadimah (21)



Tingkatan Agama Islam

 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . [رواه مسلم]

Dari Umar radhiyallahu anhu dia berkata, “Suatu hari, ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, kemudian dia duduk di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di pahanya sendiri sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah aku tentang Islam?” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” Dia berkata, “Engkau benar“. Kami semua heran, dia yang bertanya, dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah aku tentang Iman!” Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.”  Dia bertanya lagi, “Beritahukanlah aku tentang ihsan!” Beliau bersabda, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, maka (ketahuilah) Dia melihatmu.” Dia bertanya lagi, “Beritahukan aku tentang hari Kiamat (kapan terjadinya)?” Beliau bersabda, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata,  “(Kalau begitu) beritahukanlah aku tentang tanda-tandanya!” Beliau bersabda,  “Jika seorang hamba melahirkan tuannya[i] dan jika kamu melihat seorang yang tidak beralas kaki dan tidak berbaju, miskin lagi sebagai penggembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunannya,” Orang itu pun pergi dan aku berdiam cukup lama. Kemudian Beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, “Wahai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan agama kamu.” (Hr. Muslim)

Kandungan Hadits:

1.     Tingkatan agama itu tiga; Islam, iman, dan ihsan, dimana yang paling tinggi adalah ihsan.

2.     Anjuran bertanya tentang ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat, dan meninggalkan pertanyaan yang tidak bermanfaat.

3.     Perbedaan antara yang disebut sebagai Islam dengan yang disebut sebagai iman, dimana Islam dalam hadits tersebut dijadikan sebagai istilah untuk amal yang tampak, sedangkan iman dijadikan sebagai istilah untuk amal yang tidak tampak. Tetapi apabila disebutkan satu saja, maka yang lain ikut masuk ke dalamnya.

4.     Bahwa bergaul dengan manusia lebih utama daripada beruzlah (mengasingkan diri) selama ia tidak mengkhawatirkan bahaya terhadap agamanya. Jika ia khawatir terhadap agamanya, maka uzlah lebih utama.

5.     Waktu terjadinya hari Kiamat termasuk sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja.

6.     Bahwa di antara tanda Kiamat adalah terbaliknya keadaan, sehingga yang diasuh menjadi pengasuh, dan orang yang hina menjadi orang besar.

7.     Rukun Islam ada 5, rukun iman ada 6, dan rukun ihsan ada satu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

8.     Seseorang jika ditanya tentang hal yang tidak diketahui, hendaknya mengatakan, "Wallahu a'lam," (Allah lebih mengetahui), dan bahwa hal itu adalah separuh ilmu.

9.     Adab menuntut ilmu, yaitu mendekat kepada ulama.

 

 

Penjelasan Singkat Rukun Islam

Rukun Islam berjumlah lima, yaitu:

1.    Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

2.    Mendirikan shalat

3.    Menunaikan zakat

4.    Berpuasa Ramadhan

5.    Pergi Haji jika mampu.

Dalil Rukun Islam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ، عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللهُ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَالْحَجِّ»

"Islam dibangun di atas lima dasar, yaitu seorang mentauhidkan Allah (bersyahadat), mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji." (Hr. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, namun lafaz ini milik Muslim).

Makna Rukun

Rukun artinya tiang penopang. Oleh karena itu, rukun Islam berarti tiang penopang agama Islam. Hal itu, karena agama Islam berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas seperti sebuah bangunan, dimana tiang-tiang penopang atau penegaknya adalah rukun Islam yang lima itu. Di antara rukun ini ada yang menjadi rukun asasi (dasar), yaitu syahadat dan mendirikan shalat, dan ada pula rukun yang menjadi rukun tamami (penyempurna), yaitu menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu.

Dari sini kita ketahui tingginya kedudukan lima rukun tersebut dalam Islam dan tidak patutnya bagi seorang muslim meremehkannya.

Penjelasan Singkat Rukun Islam

1.    Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah maksudnya mengikrarkan/menyatakan dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah saja. Hal ini mengharuskan dia meniadakan sesembahan selain-Nya dan menetapkan bahwa semua ibadah hanya ditujukan kepada Allah Subhaaahu wa Ta'ala saja.

Oleh karena itu, dia tidak boleh menyembah atau mengarahkan ibadah kepada selain Allah, dia tidak boleh ruku’ dan sujud kepada selain Allah, dia tidak boleh berdoa kepada selain Allah, dia tidak boleh bertawakkal kepada selain Allah, dia tidak boleh meminta pertolongan (dalam hal yang tidak disanggupi makhluk) kepada selain Allah, dia tidak boleh berharap kepada selain Allah, dia tidak boleh berkurban/menyembelih untuk selain Allah dan mengarahkan ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala.

Bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Allah maksudnya kita tidak boleh bersikap ifrath (berlebih-lebihan terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam); kita  tidak boleh menempatkan Beliau melebihi penempatan Allah terhadap Beliau, yaitu sebagai “hamba-Nya”, sehingga kita tidak menjadikan Beliau sebagai tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada Isa putra Maryam, kita tidak boleh berdoa kepada Beliau, meminta kepada Beliau, ruku’-sujud kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dsb, karena Beliau adalah hamba (manusia seperti halnya kita). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (Hr. Bukhari)

Sedangkan maksud bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah kita meyakini dan mengakui bahwa Beliau adalah seorang yang diutus Allah kepada manusia semuanya untuk mengajak mereka kepada-Nya sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Di dalam persaksian ini terdapat larangan bersikap tafrith (meremehkan) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena Beliau adalah utusan Allah, maka sikap kita adalah menaati perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya,  menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

Syahadat ini dianggap satu rukun meskipun yang ia saksikan tidak satu perkara saja, bisa karena Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang menyampaikan dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya termasuk kesempurnaan persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, bisa juga karena kedua syahadat itu merupakan dasar sah dan diterimanya sebuah amal, karena tidaklah sah dan diterima sebuah amal kecuali dengan ikhlas karena Allah Ta'ala dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka dari itu, dengan ikhlas terwujud persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terwujud persaksian bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

Di antara manfaat dari persaksian yang agung ini adalah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan kepada makhluk, dan dari mengikuti selain para rasul.

2.    Mendirikan shalat,

Shalat adalah ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Shalat adalah ibadah yang paling utama dan paling dicintai Allah Ta'ala. Ia merupakan tiang utama bangunan Islam setelah syahadat, dimana jika seseorang meninggalkannya, maka bangunan agama dalam diri seseorang akan segera roboh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

"Pokok perkara adalah Islam, tiangnya shalat, dan puncaknya adalah berjihad." (Hr. Tirmidzi, ia berkata, "Hasan shahih,")

Mendirikan shalat tidaklah sekedar mengerjakan shalat atau menunaikannya, tetapi menghendaki seseorang untuk mendirikan shalat baik zhahir(luar)nya maupun batin(dalam)nya. Zhahirnya adalah dengan memenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya, dan lebih sempurna lagi jika ditambah dengan sunnah-sunnahnya. Sedangkan batinnya adalah dengan melakukan khusyu' di dalamnya.

Di antara hikmah shalat adalah sebagai bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla, menjalin hubungan baik antara hamba dengan Tuhannya, membuat manusia ingat kepada Tuhannya, membuat dada menjadi lapang, pandangan mata menjadi sejuk, dan terhindar dari perbuatan keji dan munkar, mendapat bimbingan Allah dalam hidup, dan lain-lain.

3.    Menunaikan zakat,

Zakat adalah beribadah kepada Allah Ta'ala dengan mengorbankan harta yang terkena zakat dalam ukuran tertentu.

Dalam zakat terdapat bentuk ihsan kepada orang lain, sedangkan dalam shalat terdapat bentuk ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itu, hubungan seseorang menjadi baik dengan Allah Ta'ala ketika ia mendirikan shalat, dan hubungannya dengan manusia menjadi baik dengan menunaikan zakat.

Di antara hikmah zakat adalah menyucikan jiwa dari akhlak rendah (bakhil dan kikir), membersihkan hartanya dan agar diberi keberkahan, menutupi kebutuhan kaum muslim, mewujudkan kerukunan antara orang kaya dengan orang miskin, menegakkan maslahat umat, dan lain-lain.

4.    Berpuasa Ramadhan,

Yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga tenggelam matahari.

Di antara hikmah berpuasa Ramadhan adalah membiasakan jiwa meninggalkan hal-hal yang disukainya karena mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla, merasakan penderitaan kaum fakir-miskin sehingga ia mudah bersedekah, melatih seseorang untuk bersabar dan mengendalikan diri, membuat seseorang mudah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan lain-lain.

5.    Berhaji ke Baitullah,

Yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menuju ke Baitullah untuk menegakkan syiar-syiar haji.

Di antara hikmah berhaji adalah melatih jiwa mengorbankan harta dan badan dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itu, haji termasuk bagian jihad fii sabilillah. Hikmah lainnya adalah mempertemukan kaum muslim dari berbagai penjuru di tempat yang paling dicintai Allah, tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa, saling kenal-mengenal, menyatukan mereka, dan lain-lain. Termasuk juga agar manusia mengetahui bahwa tidak ada kelebihan antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain, suku yang satu dengan suku yang lain, dan bahwa yang paling mulia di antara mereka adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.

Hikmah Urutan Rukun Islam

Siapa saja yang memperhatikan urutan rukun Islam ini, maka ia akan menemukan kesesuan dan tepatnya urutan tersebut serta mengetahui kebijaksanaan syariat.

Dalam rukun yang pertama terdapat pernyataan tauhid (beribadah kepada Allah Ta'ala saja), dimana untuk itulah Allah menciptakan semua manusia, kemudian tatacaranya diterangkan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam rukun yang kedua, terdapat perwujudan mereka dalam mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala dalam keseharian hidup mereka. Dengan shalat, mereka mengarahkan doa, ruku dan sujud mereka kepada Allah Ta'ala. Dengan shalat hubungan mereka dengan Tuhannya menjadi baik.

Setelah hubungan hamba dengan Tuhannya menjadi baik dengan ibadah shalat, maka  ia memperbaiki hubungannya dengan manusia dengan ibadah zakat. Sungguh sangat tepat sekali, yakni hendaknya ia perbaiki hubungan dulu dengan Tuhannya, baru kemudian ia perbaiki hubungannya dengan manusia yang lain.

Selanjutnya ada ibadah puasa, dimana dengan adanya ibadah tersebut, manusia semakin dapat bersabar di atas ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan karena telah dilatih dengan menahan diri dari hal-hal yang disukainya pada bulan Ramadhan.

Setelah seorang muslim mentauhidkan Allah, beriman kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan, maka pantaslah ia mendapat undangan Allah Azza wa Jalla menuju rumah-Nya, dan yang mengundangnya adalah Tuhan alam semesta. Akan tetapi, karena rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka Dia memberikan udzur kepada hamba-Nya yang tidak sanggup mendatangi undangan-Nya.

 

Keutamaan menjaga rukun Islam yang lima

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah,

أَتَى أَعْرَابِيٌّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ. قَالَ: تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وتُؤدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ. قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا أَزِيدُ عَلَى هَذا شَيْئًا وَلَا أنْقُصُ مِنْهُ. فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَرَّه أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا

Bahwa ada seorang Arab badui pernah datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Tunjukkanlah kepadaku amalan yang jika aku kerjakan, maka aku akan masuk surga.” Beliau bersabda, “Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan shalat yang wajib, menunaikan zakat yang wajib, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Ia (orang Arab badui) berkata, “Demi Allah yang jiwaku di Tangan-Nya, aku tidak menambah sedikit pun dan tidak mengurangi.” Ketika orang itu telah pergi, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang ingin melihat salah seorang penghuni surga, maka lihatlah orang ini.” (Muttafaq ‘alaih)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keistimewaan Agama Islam

Agama Islam memiliki banyak keistimewaan, di antaranya adalah:

1.  Hanya Islam agama yang diridhai Allah dan diterima-Nya.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Qs. Ali Imran: 85)

Lihat juga surah Ali Imran: 19.

Allah hanya ridha dengan agama Islam, karena dalam Islam Allah Azza wa Jalla diesakan, sedangkan dalam agama-agama selain Islam, Allah Subhanahu wa Ta‘ala disekutukan, sedangkan Dia tidak ridha disekutukan.

2.  Islam adalah agama yang lengkap

Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “ (Qs. Al Ma’idah: 3)

Dengan turunnya ayat ini, maka menjadi lengkaplah agama Islam sehingga tidak butuh lagi kepada penambahan. Imam Malik rahimahullah berkata, “Barang siapa yang berbuat bid’ah dalam Islam yang dipandangnya baik, maka sesungguhnya ia telah menyangka bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhianati risalahnya, karena Allah berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu”, oleh karenanya sesuatu yang pada waktu itu tidak termasuk agama, sekarang pun sama tidak termasuk agama.”

Di antara bukti lengkapnya Islam adalah Islam sampai mengatur masalah buang air. Salman radhiyallahu 'anhu pernah ditanya:

قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صلى الله عليه وسلم كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ . قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ . 

“(Apakah) Nabi kalian shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan semuanya sampai masalah buang air?” Salman menjawab, “Ya, Beliau melarang kami buang air besar maupun kecil menghadap kiblat, beristinja’ (cebok) dengan tangan kanan, beristinja’ dengan batu yang kurang dari tiga dan beristinja’ menggunakan kotoran binatang maupun dengan tulang.” (Hr. Muslim)

Dalam Islam, permasalahan-permasalahan yang tidak berubah di setiap waktu dan tempat seperti masalah akidah dan ibadah diterangkan secara tafshil (rinci) dan banyak sekali dalil yang datang, sehingga seseorang tidak bisa menambah-nambah atau mengurangi. Adapun dalam masalah yang berubah-ubah karena perbedaan tempat atau kurun waktu, seperti masalah peradaban, politik, mu'amalah maka Islam menerangkannya secara ijmal (garis besar) agar sejalan dengan maslahat manusia di setiap zaman dan setiap tempat.

3.  Risalah Islam diperuntukkan untuk semua manusia

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« وَالَّذِى نَفْسُ {مُحَمَّدٍ} بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ » . 

“Demi Allah yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang diriku dari umat ini; baik orang Yahudi maupun Nasrani, lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada yang kubawa (yakni agama Islam) kecuali ia pasti termasuk penghuni neraka.” (Hr. Muslim)

4.  Islam adalah agama para nabi

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ. 

"Saya adalah manusia paling dekat dengan Isa putera Maryam di dunia dan akhirat. Para nabi itu saudara sebapak, namun ibu mereka berlainan, agama mereka sama." (HR. Bukhari)

Maksud ‘saudara sebapak, namun ibu mereka berlainan’ adalah bahwa pokok ajaran mereka adalah sama, yaitu Tauhid, sedangkan syariat mereka berbeda-beda sesuai situasi dan kondisi ketika itu.

Islam sebagai agama para nabi, karena Islam jika dimaknakan secara umum adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan menjauhi sesembahan selain Allah sesuai syariat rasul yang diutus. Oleh karena itulah, agama para nabi adalah Islam. Orang-orang yang mengikuti rasul di zaman rasul tersebut diutus adalah orang Islam (muslim). Orang-orang Yahudi adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam diutus dan orang-orang Nasrani adalah muslim di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis salam diutus, adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang muslim adalah orang yang mengikuti (memeluk) agama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan yang tidak mau memeluk agama Beliau adalah orang-orang kafir. Lihat juga penjelasan sejarawan Yahudi, bahwa agama para nabi adalah Islam di sini: https://youtu.be/m6Q9P4Fz53o

 

5.  Agama Islam penuh dengan maslahat dan cocok di setiap zaman, di setiap tempat dan setiap umat.

Yakni orang yang berpegang dengan agama Islam pasti berada di atas kebaikan dan kemajuan. Hal itu, karena memang Islam tidak menghalangi kemajuan bahkan mendorong untuk maju; mendorong mereka berfikir, bekerja dan berusaha. Sebaliknya, Islam mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, bersikap taqlid (mengekor) serta malas bekerja dan berusaha. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِىَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

"Sungguh, jika salah seorang di antara kamu mengambil talinya, lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian dijualnya sehingga Allah menjaga kehormatannya, lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia, terkadang mereka memberi dan terkadang tidak." (Hr. Bukhari dan Muslim)

6.  Islam adalah agama yang mudah

Di dalam Agama Islam, tidak ada sesuatu yang menyulitkan manusia baik dalam masalah keyakinan maupun dalam masalah amalan, semuanya mudah diyakini dan diamalkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah.” (Hr. Bukhari)

Di antara prinsip Islam adalah 'adamul haraj (meniadakan kesulitan). Oleh karena itu, Islam meringankan hukum-hukum untuk memudahkan manusia dengan beberapa cara, di antaranya:

-   Pengguguran kewajiban dalam keadaan tertentu, misalnya tidak wajibnya melakukan ibadah haji jika perjalanan tidak aman.

-   Pengurangan kadar dari yang telah ditentukan, seperti mengqashar (mengurangi jumlah rakaat dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat) shalat bagi orang yang sedang melakukan perjalanan.

-   Penukaran kewajiban yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, kewajiban wudhu' dan mandi diganti dengan tayammum.

-   Mendahulukan, yaitu mengerjakan sesuatu sebelum waktu yang telah ditentukan secara umum (asal), seperti jama' taqdim, melaksanakan shalat 'Ashar di waktu Zhuhur.

-   Menangguhkan, yaitu mengerjakan sesuatu setelah lewat waktu asalnya, seperti jama' ta'khir, misalnya melaksanakan shalat Zhuhur di waktu 'Ashar.

-   Perubahan, yaitu bentuk perbuatan berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi, seperti dalam shalat khauf (ketika perang). Allah Ta'ala berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

   “Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Qs. Al Baqarah: 239)

   Demikian juga ketika sakit yang membuat seseorang tidak sanggup berdiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak sanggup, maka sambil duduk. Jika tidak sanggup, maka sambil berbaring.” (Hr. Bukhari)

7.  Perintah dan larangan yang ada dalam agama Islam tujuannya adalah untuk menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harta, bahkan secara umum untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia.

Contoh menjaga agama adalah dilarangnya perbuatan syirik dan diperintahkannya tauhid. Contoh menjaga jiwa adalah dilarangnya membunuh dan adanya syariat Qishas. Contoh menjaga akal adalah dilarangnya meminum minuman keras. Contoh menjaga harta adalah dilarangnya mencuri, merampas dsb.

8.  Islam datang untuk membersihkan manusia luar dan dalam.

Contoh membersihkan bagian luar manusia adalah dengan diperintahkannya bersuci dari hadats (yakni dengan wudhu’, mandi atau tayammum) dan membersihkan diri dari najis. Sedangkan contoh membersihkan bagian dalam adalah dengan diperintahkannya bertobat dari segala macam dosa dan maksiat yang menodai batin seseorang. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Qs. Al Baqarah: 222)

9.  Islam memerintahkan berakhlak mulia dan melarang berakhlak tercela

Diperintahkannya oleh Islam berbakti kepada orang tua dan dilarang mendurhakainya. Diperintahkannya berbuat baik kepada tetangga dan dilarang menyakitinya. Diperintahkannya berkata jujur dan dilarang berdusta, diperintahkannya menepati janji dan dilarang mengingkarinya, diperintahkannya menyambung tali silaturrahim dan dilarang memutuskannya, serta diperintahnya bersikap adil dan dilarang berbuat zhalim. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An Nahl: 90)

10.           Islam dan pembawanya datang sebagai rahmat bagi alam semesta

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

  “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al Anbiya’: 107)

Tidak hanya bagi manusia, bahkan hewan pun memperoleh rahmat Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

"Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang berada di atas langit (Allah) akan menyayangimu." (Hr. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami' no. 3522)

11.Islam tidak hanya memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, tetapi memperbaiki hubungan manusia dengan Allah Tuhannya dan dengan dirinya sendiri

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik akan menghapusnya dan bergaullah dengan manusia memakai akhlak yang baik.” (Hasan shahih, Hr. Tirmidzi)

Dari hadits ini dapat diketahui bahwa:

1.  Cara agar hubungan kita dengan Allah menjadi baik adalah dengan bertakwa kepada-Nya di mana saja kita berada.

2.  Cara agar hubungan kita dengan diri kita sendiri menjadi baik adalah dengan mengiringi perbuatan buruk yang kita lakukan dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik akan menghapusnya.

3.  Cara untuk memperbaiki hubungan kita dengan orang lain agar menjadi baik adalah dengan bergaul dengan mereka menggunakan akhlak yang baik.

12.           Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya

Rib’iy bin ‘Amir, salah seorang dari generasi salaf pernah ditanya oleh Rustum komandan pasukan Persia, “Siapa yang mengirim anda?” Ia menjawab,

اَلله ُانْبَعَثَنَا وَ اللهُ جَاءَ بِنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ اِلَى عِبَادَةِ اللهِ وَمِنْ ضِيْقِ الدُّنْيَا اِلَى سَعَتِهَا وَمِنْ جُوْرِ الْأَدْيَانِ اِلَى عَدْلِ اْلِإسْلاَمِ فَأَرْسَلَنَا بِدِيْنِهِ اِلىَ خَلْقِهِ لِنَدْعُوَهُمْ اِلَيْهِ

“Allah yang mengirim dan membawa kami agar Dia membebaskan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, dari sempitnya dunia menuju kelapangannya dan dari kezaliman berbagai agama menuju keadilan Islam. Dia mengutus kami membawa agama-Nya kepada makhluk-Nya agar kami mengajak mereka kepada-Nya.”

Oleh karena itu, Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya kekafiran menuju cahaya iman, gelapnya syirik menuju cahaya tauhid, gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu dan dari gelapnya maksiat menuju cahaya taat.

13.           Islam juga sebagai agama yang wasath (pertengahan) antara melewati batas dan meremehkan

Misalnya dalam beriman kepada para nabi dan rasul, Islam pertengahan antara orang-orang Yahudi yang meremehkan para nabi bahkan sampai mendustakan, menyakiti dan membunuh para nabi; dan berbeda dengan orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi sampai menuhankan. Bahkan agama Islam pertengahan antara orang-orang Yahudi dan Nasrani, agama Islam memerintahkan memuliakan para nabi dengan menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan membenarkan sabdanya, beribadah sesuai contohnya, dan tidak berlebihan sampai menuhankan nabi. Bahkan keyakinan kita terhadap nabi dan rasul adalah meyakininya sebagai hamba dan rasul. Hamba menghendaki untuk tidak berlebihan sampai menuhankan, sedangkan rasul menghendaki untuk tidak meremehkan bahkan memuliakannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.” (Hr. Bukhari)

Contoh lainnya adalah dalam masalah ekonomi, Islam pertengahan antara kapitalisme yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara tanpa melihat halal dan haramnya, dengan komunisme yang tidak menghormati harta orang lain, tidak peduli meskipun untuk mendapatkannya harus menekan dan menzalimi manusia. Islam berada di tengah-tengah dalam berekonomi; Islam datang untuk menjaga harta dan mencarinya dengan cara-cara yang benar, jauh dari kezaliman, penipuan, gharar dan riba.

14.           Islam adalah agama yang sesuai fitrah manusia

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Qs. Ar Ruum: 30)

Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid (Islam). Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak bertauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan.

15.           Prinsip tasyri' (ajaran) Islam adalah menegakkan maslahat, menjunjung nilai-nilai keadilan, tidak menyulitkan, sedikit tuntutan, lebih memperhatikan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan tadarruj/bertahap dalam tasyri' (menetapkan undang-undang/aturan)

Semua prinsip ini ada dalam hukum Islam, namun karena keterbatasan risalah sehingga kami tidak dapat berpanjang lebar.


[i] Sabda Beliau, “Jika seorang budak melahirkan tuannya” ada beberapa tafsiran, yaitu: (1) Maksudnya akan banyaknya budak-budak wanita yang melahirkan anak, seakan-akan budak-budak wanita itu adalah budak milik si anak, karena budak-budak itu milik bapak si anak. Di sini terdapat isyarat akan banyaknya penaklukkan negeri. (2) Maksudnya budak-budak wanita melahirkan anak yang akan menjadi raja-raja, hingga akhirnya si budak wanita selaku ibu menjadi rakyatnya, (3) Maksudnya menunjukkan sudah rusaknya zaman, dimana ummahaatul aulaad (budak-budak yang melahirkan anak) banyak yang dijual, lalu ada seorang anak yang membeli ibunya sedangkan ia tidak tahu kalau itu ibunya, (4) Maksudnya adalah banyaknya pembangkangan/durhaka anak terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan budaknya. Wallahu alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...