Mukadimah (21)
Tingkatan Agama Islam
عَنْ عُمَرَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ
شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ
أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ
وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ
اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ
تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ
إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ،
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ
وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ
اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا
الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ
أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ
الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ
انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ
السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ
أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . [رواه مسلم]
Dari Umar radhiyallahu anhu dia berkata, “Suatu
hari, ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih
dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak
ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, kemudian dia duduk di hadapan
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut
Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di pahanya sendiri sambil
berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah aku tentang Islam?” Maka Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak
ada ilah (tuhan yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad
adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan
dan pergi haji jika mampu.” Dia berkata, “Engkau benar“. Kami semua heran, dia
yang bertanya, dia pula yang
membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah aku tentang
Iman!” Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta kamu beriman kepada
takdir yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi, “Beritahukanlah aku
tentang ihsan!” Beliau bersabda, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah
seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, maka (ketahuilah)
Dia melihatmu.” Dia bertanya lagi, “Beritahukan aku tentang hari Kiamat (kapan
terjadinya)?” Beliau bersabda, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari
yang bertanya.” Dia berkata, “(Kalau
begitu) beritahukanlah aku tentang tanda-tandanya!” Beliau bersabda, “Jika seorang hamba melahirkan tuannya[i] dan
jika kamu melihat seorang yang tidak beralas kaki dan tidak berbaju, miskin
lagi sebagai penggembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunannya,” Orang
itu pun pergi dan aku berdiam cukup lama. Kemudian Beliau (Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, “Wahai Umar, tahukah kamu siapa yang
bertanya?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau
bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan agama
kamu.” (Hr. Muslim)
Kandungan Hadits:
1.
Tingkatan agama itu tiga;
Islam, iman, dan ihsan, dimana yang paling tinggi adalah ihsan.
2.
Anjuran bertanya tentang ilmu yang bermanfaat di dunia dan
akhirat, dan meninggalkan pertanyaan yang tidak bermanfaat.
3.
Perbedaan antara yang disebut sebagai Islam
dengan yang disebut sebagai iman, dimana Islam dalam hadits tersebut dijadikan
sebagai istilah untuk amal yang tampak, sedangkan iman dijadikan sebagai
istilah untuk amal yang tidak tampak. Tetapi apabila disebutkan satu saja, maka
yang lain ikut masuk ke dalamnya.
4.
Bahwa bergaul dengan manusia lebih utama
daripada beruzlah (mengasingkan diri) selama ia tidak mengkhawatirkan bahaya
terhadap agamanya. Jika ia khawatir terhadap agamanya, maka uzlah lebih utama.
5.
Waktu terjadinya hari Kiamat termasuk
sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja.
6.
Bahwa di antara tanda Kiamat adalah
terbaliknya keadaan, sehingga yang diasuh menjadi pengasuh, dan orang yang hina
menjadi orang besar.
7.
Rukun Islam ada 5, rukun iman ada 6, dan rukun ihsan ada
satu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.
8.
Seseorang jika ditanya tentang hal yang tidak diketahui,
hendaknya mengatakan, "Wallahu a'lam," (Allah lebih mengetahui), dan
bahwa hal itu adalah separuh ilmu.
9.
Adab menuntut ilmu, yaitu mendekat kepada ulama.
Penjelasan Singkat Rukun
Islam
Rukun Islam berjumlah lima, yaitu:
1.
Bersaksi
bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad
adalah utusan Allah.
2.
Mendirikan
shalat
3.
Menunaikan
zakat
4.
Berpuasa
Ramadhan
5.
Pergi
Haji jika mampu.
Dalil Rukun
Islam
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى
خَمْسَةٍ، عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللهُ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ،
وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَالْحَجِّ»
"Islam
dibangun di atas lima dasar, yaitu seorang mentauhidkan Allah (bersyahadat),
mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji." (Hr. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, namun lafaz ini
milik Muslim).
Makna Rukun
Rukun artinya
tiang penopang. Oleh karena itu, rukun Islam berarti tiang penopang agama
Islam. Hal itu, karena agama Islam berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas seperti
sebuah bangunan, dimana tiang-tiang penopang atau penegaknya adalah rukun Islam
yang lima itu. Di antara rukun ini ada yang menjadi rukun asasi (dasar), yaitu
syahadat dan mendirikan shalat, dan ada pula rukun yang menjadi rukun tamami
(penyempurna), yaitu menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji bagi yang
mampu.
Dari sini kita
ketahui tingginya kedudukan lima rukun tersebut dalam Islam dan tidak patutnya
bagi seorang muslim meremehkannya.
Penjelasan
Singkat Rukun Islam
1.
Bersaksi
bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad
adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain
Allah maksudnya mengikrarkan/menyatakan
dengan lisan dan meyakini dengan hati bahwa tidak ada tuhan yang berhak
disembah selain Allah saja. Hal ini mengharuskan dia meniadakan
sesembahan selain-Nya dan menetapkan bahwa semua ibadah hanya ditujukan kepada
Allah Subhaaahu wa Ta'ala saja.
Oleh karena itu, dia
tidak boleh menyembah atau mengarahkan ibadah kepada selain Allah, dia tidak
boleh ruku’ dan sujud kepada selain Allah, dia tidak boleh berdoa kepada selain
Allah, dia tidak boleh bertawakkal kepada selain Allah, dia tidak boleh meminta
pertolongan (dalam hal yang tidak disanggupi makhluk) kepada selain Allah, dia
tidak boleh berharap kepada selain Allah, dia tidak boleh berkurban/menyembelih
untuk selain Allah dan mengarahkan ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala.
Bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Allah maksudnya kita tidak
boleh bersikap ifrath (berlebih-lebihan terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam); kita tidak boleh menempatkan
Beliau melebihi penempatan Allah terhadap Beliau, yaitu sebagai “hamba-Nya”,
sehingga kita tidak menjadikan Beliau sebagai tuhan sebagaimana yang dilakukan
oleh orang-orang Nasrani kepada Isa putra Maryam, kita tidak boleh berdoa
kepada Beliau, meminta kepada Beliau, ruku’-sujud kepada Beliau shallallahu
'alaihi wa sallam dsb, karena Beliau adalah hamba (manusia seperti halnya
kita). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَا تُطْرُونِي
كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian
memujiku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada
putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.”
(Hr. Bukhari)
Sedangkan maksud bersaksi
bahwa Muhammad adalah utusan Allah adalah kita meyakini dan mengakui bahwa
Beliau adalah seorang yang diutus Allah kepada manusia semuanya untuk mengajak
mereka kepada-Nya sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi
peringatan). Di dalam persaksian ini terdapat larangan bersikap tafrith
(meremehkan) Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena Beliau adalah
utusan Allah, maka sikap kita adalah menaati perintahnya, membenarkan berita
yang disampaikannya, menjauhi
larangannya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.
Syahadat ini dianggap satu rukun meskipun yang ia saksikan
tidak satu perkara saja, bisa karena Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
orang yang menyampaikan dari Allah Ta'ala. Oleh karena itu, bersaksi bahwa
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya termasuk
kesempurnaan persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain
Allah, bisa juga karena kedua syahadat itu merupakan dasar sah dan diterimanya
sebuah amal, karena tidaklah sah dan diterima sebuah amal kecuali dengan ikhlas
karena Allah Ta'ala dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka
dari itu, dengan ikhlas terwujud persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak
disembah kecuali Allah, dan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam terwujud persaksian bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Di antara manfaat dari persaksian yang agung ini adalah
membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan kepada makhluk, dan dari mengikuti
selain para rasul.
2.
Mendirikan
shalat,
Shalat adalah ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan
tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
Shalat adalah ibadah yang paling utama dan paling dicintai
Allah Ta'ala. Ia merupakan tiang utama bangunan Islam setelah syahadat, dimana
jika seseorang meninggalkannya, maka bangunan agama dalam diri seseorang akan
segera roboh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ،
وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
"Pokok perkara
adalah Islam, tiangnya shalat, dan puncaknya adalah berjihad." (Hr.
Tirmidzi, ia berkata, "Hasan shahih,")
Mendirikan shalat tidaklah sekedar mengerjakan shalat atau
menunaikannya, tetapi menghendaki seseorang untuk mendirikan shalat baik
zhahir(luar)nya maupun batin(dalam)nya. Zhahirnya adalah dengan memenuhi
syarat, rukun, dan kewajibannya, dan lebih sempurna lagi jika ditambah dengan
sunnah-sunnahnya. Sedangkan batinnya adalah dengan melakukan khusyu' di
dalamnya.
Di antara hikmah shalat adalah sebagai bentuk ibadah
seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla, menjalin hubungan baik antara hamba
dengan Tuhannya, membuat manusia ingat kepada Tuhannya, membuat dada menjadi
lapang, pandangan mata menjadi sejuk, dan terhindar dari perbuatan keji dan
munkar, mendapat bimbingan Allah dalam hidup, dan lain-lain.
3.
Menunaikan
zakat,
Zakat adalah beribadah kepada Allah Ta'ala dengan
mengorbankan harta yang terkena zakat dalam ukuran tertentu.
Dalam zakat terdapat bentuk ihsan kepada orang lain,
sedangkan dalam shalat terdapat bentuk ihsan dalam beribadah kepada Allah
Ta'ala. Oleh karena itu, hubungan seseorang menjadi baik dengan Allah Ta'ala
ketika ia mendirikan shalat, dan hubungannya dengan manusia menjadi baik dengan
menunaikan zakat.
Di antara hikmah zakat adalah menyucikan jiwa dari akhlak
rendah (bakhil dan kikir), membersihkan hartanya dan agar diberi keberkahan,
menutupi kebutuhan kaum muslim, mewujudkan kerukunan antara orang kaya dengan
orang miskin, menegakkan maslahat umat, dan lain-lain.
4.
Berpuasa
Ramadhan,
Yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menahan diri
dari hal-hal yang membatalkan dari terbit fajar hingga tenggelam matahari.
Di antara hikmah berpuasa Ramadhan adalah membiasakan jiwa
meninggalkan hal-hal yang disukainya karena mencari keridhaan Allah Azza wa
Jalla, merasakan penderitaan kaum fakir-miskin sehingga ia mudah bersedekah,
melatih seseorang untuk bersabar dan mengendalikan diri, membuat seseorang
mudah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan lain-lain.
5.
Berhaji
ke Baitullah,
Yaitu beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menuju ke
Baitullah untuk menegakkan syiar-syiar haji.
Di antara hikmah
berhaji adalah melatih jiwa mengorbankan harta dan badan dalam ketaatan kepada
Allah Ta'ala. Oleh karena itu, haji termasuk bagian jihad fii sabilillah.
Hikmah lainnya adalah mempertemukan kaum muslim dari berbagai penjuru di tempat
yang paling dicintai Allah, tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa, saling
kenal-mengenal, menyatukan mereka, dan lain-lain. Termasuk juga agar manusia
mengetahui bahwa tidak ada kelebihan antara bangsa yang satu dengan bangsa yang
lain, suku yang satu dengan suku yang lain, dan bahwa yang paling mulia di
antara mereka adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.
Hikmah Urutan
Rukun Islam
Siapa saja yang
memperhatikan urutan rukun Islam ini, maka ia akan menemukan kesesuan dan
tepatnya urutan tersebut serta mengetahui kebijaksanaan syariat.
Dalam rukun yang
pertama terdapat pernyataan tauhid (beribadah kepada Allah Ta'ala saja), dimana
untuk itulah Allah menciptakan semua manusia, kemudian tatacaranya diterangkan
oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dalam rukun yang
kedua, terdapat perwujudan mereka dalam mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'ala
dalam keseharian hidup mereka. Dengan shalat, mereka mengarahkan doa, ruku dan
sujud mereka kepada Allah Ta'ala. Dengan shalat hubungan mereka dengan Tuhannya
menjadi baik.
Setelah hubungan hamba
dengan Tuhannya menjadi baik dengan ibadah shalat, maka ia memperbaiki hubungannya dengan manusia
dengan ibadah zakat. Sungguh sangat tepat sekali, yakni hendaknya ia perbaiki
hubungan dulu dengan Tuhannya, baru kemudian ia perbaiki hubungannya dengan
manusia yang lain.
Selanjutnya ada
ibadah puasa, dimana dengan adanya ibadah tersebut, manusia semakin dapat
bersabar di atas ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan karena telah
dilatih dengan menahan diri dari hal-hal yang disukainya pada bulan Ramadhan.
Setelah seorang
muslim mentauhidkan Allah, beriman kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan berpuasa Ramadhan, maka pantaslah ia mendapat undangan
Allah Azza wa Jalla menuju rumah-Nya, dan yang mengundangnya adalah Tuhan alam
semesta. Akan tetapi, karena rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka Dia
memberikan udzur kepada hamba-Nya yang tidak sanggup mendatangi undangan-Nya.
Keutamaan
menjaga rukun Islam yang lima
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari
Abu Hurairah,
أَتَى
أَعْرَابِيٌّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا
عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ. قَالَ: تَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهِ
شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وتُؤدِّي الزَّكَاةَ
الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ. قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا
أَزِيدُ عَلَى هَذا شَيْئًا وَلَا أنْقُصُ مِنْهُ. فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ
النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَرَّه أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا
Bahwa ada seorang Arab badui pernah datang
kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Tunjukkanlah kepadaku
amalan yang jika aku kerjakan, maka aku akan masuk surga.” Beliau bersabda,
“Kamu beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu,
mendirikan shalat yang wajib, menunaikan zakat yang wajib, dan berpuasa di
bulan Ramadhan.” Ia (orang Arab badui) berkata, “Demi Allah yang jiwaku di
Tangan-Nya, aku tidak menambah sedikit pun dan tidak mengurangi.” Ketika orang
itu telah pergi, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barang
siapa yang ingin melihat salah seorang penghuni surga, maka lihatlah orang
ini.” (Muttafaq ‘alaih)
Keistimewaan Agama Islam
Agama Islam memiliki banyak keistimewaan, di antaranya adalah:
1. Hanya Islam agama
yang diridhai Allah dan diterima-Nya.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
وَمَنْ
يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي
الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barang siapa mencari
agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima (agama itu) dari
padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Qs. Ali
Imran: 85)
Lihat juga surah Ali Imran: 19.
Allah hanya ridha dengan agama Islam, karena dalam Islam Allah Azza wa
Jalla diesakan, sedangkan dalam agama-agama selain Islam, Allah Subhanahu wa
Ta‘ala disekutukan, sedangkan Dia tidak ridha disekutukan.
2. Islam adalah
agama yang lengkap
Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga berfirman:
الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ
الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. “ (Qs. Al
Ma’idah: 3)
Dengan turunnya ayat ini, maka menjadi lengkaplah agama Islam sehingga
tidak butuh lagi kepada penambahan. Imam Malik rahimahullah berkata,
“Barang siapa yang berbuat bid’ah dalam Islam yang dipandangnya baik, maka
sesungguhnya ia telah menyangka bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
telah mengkhianati risalahnya, karena Allah berfirman, “Pada hari ini telah
Aku sempurnakan untuk kamu agamamu”, oleh karenanya sesuatu yang pada waktu
itu tidak termasuk agama, sekarang pun sama tidak termasuk agama.”
Di antara bukti lengkapnya Islam adalah
Islam sampai mengatur masalah buang air. Salman radhiyallahu 'anhu pernah
ditanya:
قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صلى الله عليه وسلم كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ . قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ .
“(Apakah) Nabi kalian shallallahu 'alaihi
wa sallam mengajarkan semuanya sampai masalah buang air?” Salman menjawab, “Ya,
Beliau melarang kami buang air besar maupun kecil menghadap kiblat, beristinja’
(cebok) dengan tangan kanan, beristinja’ dengan batu yang kurang dari tiga dan
beristinja’ menggunakan kotoran binatang maupun dengan tulang.” (Hr. Muslim)
Dalam Islam, permasalahan-permasalahan yang tidak berubah di setiap waktu
dan tempat seperti masalah akidah dan ibadah diterangkan secara tafshil (rinci)
dan banyak sekali dalil yang datang, sehingga seseorang tidak bisa
menambah-nambah atau mengurangi. Adapun dalam masalah yang berubah-ubah karena
perbedaan tempat atau kurun waktu, seperti masalah peradaban, politik,
mu'amalah maka Islam menerangkannya secara ijmal (garis besar) agar sejalan
dengan maslahat manusia di setiap zaman dan setiap tempat.
3. Risalah Islam
diperuntukkan untuk semua manusia
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
«
وَالَّذِى نَفْسُ {مُحَمَّدٍ} بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ » .
“Demi Allah yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya,
tidak ada seorang pun yang mendengar tentang diriku dari umat ini; baik orang
Yahudi maupun Nasrani, lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada
yang kubawa (yakni agama Islam) kecuali ia pasti termasuk penghuni neraka.” (Hr.
Muslim)
4. Islam adalah
agama para nabi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ.
"Saya
adalah manusia paling dekat dengan Isa putera Maryam di dunia dan akhirat.
Maksud ‘saudara sebapak, namun ibu mereka
berlainan’ adalah bahwa pokok ajaran mereka adalah sama, yaitu Tauhid,
sedangkan syariat mereka berbeda-beda sesuai situasi dan kondisi ketika itu.
Islam sebagai agama para nabi, karena Islam
jika dimaknakan secara umum adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan
menjauhi sesembahan selain Allah sesuai syariat rasul yang diutus. Oleh
karena itulah, agama para nabi adalah Islam. Orang-orang yang mengikuti rasul
di zaman rasul tersebut diutus adalah orang Islam (muslim). Orang-orang Yahudi
adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam diutus dan orang-orang Nasrani
adalah muslim di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis salam diutus, adapun setelah diutusnya
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang muslim adalah orang
yang mengikuti (memeluk) agama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan
yang tidak mau memeluk agama Beliau adalah orang-orang kafir. Lihat juga penjelasan sejarawan Yahudi, bahwa agama para
nabi adalah Islam di sini: https://youtu.be/m6Q9P4Fz53o
5. Agama Islam penuh dengan maslahat dan cocok di setiap
zaman, di setiap tempat dan setiap umat.
Yakni orang yang berpegang dengan agama Islam pasti berada di atas kebaikan
dan kemajuan. Hal itu, karena memang Islam tidak menghalangi kemajuan bahkan
mendorong untuk maju; mendorong mereka berfikir, bekerja dan berusaha.
Sebaliknya, Islam mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, bersikap taqlid
(mengekor) serta malas bekerja dan berusaha. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِىَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ
"Sungguh,
jika salah seorang di antara kamu mengambil talinya, lalu membawa seikat kayu
bakar di atas punggungnya, kemudian dijualnya sehingga Allah menjaga
kehormatannya, lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia, terkadang
mereka memberi dan terkadang tidak." (Hr. Bukhari dan Muslim)
6. Islam adalah
agama yang mudah
Di dalam Agama Islam, tidak ada sesuatu yang menyulitkan manusia baik dalam
masalah keyakinan maupun dalam masalah amalan, semuanya mudah diyakini dan
diamalkan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak
ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam)
kecuali ia akan kalah.” (Hr. Bukhari)
Di antara prinsip Islam adalah 'adamul
haraj (meniadakan kesulitan). Oleh karena itu, Islam meringankan hukum-hukum
untuk memudahkan manusia dengan beberapa cara, di antaranya:
-
Pengguguran kewajiban dalam
keadaan tertentu, misalnya tidak wajibnya melakukan ibadah haji jika perjalanan
tidak aman.
-
Pengurangan kadar dari yang
telah ditentukan, seperti mengqashar (mengurangi jumlah rakaat dari 4 rakaat
menjadi 2 rakaat) shalat bagi orang yang sedang melakukan perjalanan.
-
Penukaran kewajiban yang
satu dengan yang lainnya. Misalnya, kewajiban wudhu' dan mandi diganti dengan
tayammum.
-
Mendahulukan, yaitu
mengerjakan sesuatu sebelum waktu yang telah ditentukan secara umum (asal),
seperti jama' taqdim, melaksanakan shalat 'Ashar di waktu Zhuhur.
-
Menangguhkan, yaitu
mengerjakan sesuatu setelah lewat waktu asalnya, seperti jama' ta'khir,
misalnya melaksanakan shalat Zhuhur di waktu 'Ashar.
-
Perubahan, yaitu bentuk
perbuatan berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi, seperti dalam shalat khauf
(ketika perang). Allah Ta'ala berfirman:
فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَا أَمِنْتُمْ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Jika
kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau
berkendaraan. kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah
(shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum
kamu ketahui.” (Qs.
Al Baqarah: 239)
Demikian juga ketika sakit yang membuat
seseorang tidak sanggup berdiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, “Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak sanggup, maka sambil duduk.
Jika tidak sanggup, maka sambil berbaring.” (Hr. Bukhari)
7. Perintah dan larangan yang ada dalam agama Islam tujuannya
adalah untuk menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan dan
menjaga harta, bahkan secara umum untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia.
Contoh menjaga agama adalah dilarangnya perbuatan syirik dan
diperintahkannya tauhid. Contoh menjaga jiwa adalah dilarangnya membunuh dan
adanya syariat Qishas. Contoh menjaga akal adalah dilarangnya meminum minuman
keras. Contoh menjaga harta adalah dilarangnya mencuri, merampas dsb.
8. Islam datang untuk membersihkan manusia luar dan dalam.
Contoh membersihkan bagian luar manusia adalah dengan diperintahkannya
bersuci dari hadats (yakni dengan wudhu’, mandi atau tayammum) dan membersihkan
diri dari najis. Sedangkan contoh membersihkan bagian dalam adalah
dengan diperintahkannya bertobat dari segala macam dosa dan maksiat yang
menodai batin seseorang. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.” (Qs. Al Baqarah: 222)
9. Islam memerintahkan
berakhlak mulia dan melarang berakhlak tercela
Diperintahkannya oleh Islam berbakti kepada orang tua dan dilarang
mendurhakainya. Diperintahkannya berbuat baik kepada tetangga dan dilarang
menyakitinya. Diperintahkannya berkata jujur dan dilarang berdusta,
diperintahkannya menepati janji dan dilarang mengingkarinya, diperintahkannya
menyambung tali silaturrahim dan dilarang memutuskannya, serta diperintahnya
bersikap adil dan dilarang berbuat zhalim. Allah Subhaanahu wa Ta'aala
berfirman,
إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs.
An Nahl: 90)
10.
Islam dan pembawanya datang sebagai rahmat
bagi alam semesta
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan
tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.” (Qs. Al
Anbiya’: 107)
Tidak hanya
bagi manusia, bahkan hewan pun memperoleh rahmat Islam. Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
"Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang
berada di atas langit (Allah) akan menyayangimu." (Hr. Ahmad, Abu Dawud,
Tirmidzi dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami'
no. 3522)
11.Islam tidak
hanya memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, tetapi memperbaiki hubungan
manusia dengan Allah Tuhannya dan dengan dirinya sendiri
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu
berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik
akan menghapusnya dan bergaullah dengan manusia memakai akhlak yang baik.”
(Hasan shahih, Hr. Tirmidzi)
Dari hadits ini dapat diketahui bahwa:
12.
Islam datang untuk mengeluarkan
manusia dari kegelapan kepada cahaya
Rib’iy bin ‘Amir, salah seorang dari generasi salaf pernah ditanya oleh
Rustum komandan pasukan Persia, “Siapa yang mengirim anda?” Ia menjawab,
اَلله ُانْبَعَثَنَا وَ اللهُ جَاءَ بِنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ اِلَى عِبَادَةِ اللهِ وَمِنْ ضِيْقِ الدُّنْيَا اِلَى سَعَتِهَا وَمِنْ جُوْرِ الْأَدْيَانِ اِلَى عَدْلِ اْلِإسْلاَمِ فَأَرْسَلَنَا بِدِيْنِهِ اِلىَ خَلْقِهِ لِنَدْعُوَهُمْ اِلَيْهِ
“Allah yang mengirim dan membawa kami agar
Dia membebaskan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari penyembahan kepada manusia
menuju penyembahan kepada Allah, dari sempitnya dunia menuju kelapangannya dan
dari kezaliman berbagai agama menuju keadilan Islam. Dia mengutus kami membawa
agama-Nya kepada makhluk-Nya agar kami mengajak mereka kepada-Nya.”
Oleh karena itu,
Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya kekafiran menuju cahaya
iman, gelapnya syirik menuju cahaya tauhid, gelapnya kebodohan menuju cahaya
ilmu dan dari gelapnya maksiat menuju cahaya taat.
13.
Islam juga
sebagai agama yang wasath (pertengahan) antara melewati batas dan meremehkan
Misalnya dalam
beriman kepada para nabi dan rasul, Islam pertengahan antara orang-orang Yahudi
yang meremehkan para nabi bahkan sampai mendustakan, menyakiti dan membunuh
para nabi; dan berbeda dengan orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi
sampai menuhankan. Bahkan agama Islam pertengahan antara orang-orang Yahudi dan
Nasrani, agama Islam memerintahkan memuliakan para nabi dengan menaati
perintahnya, menjauhi larangannya, dan membenarkan sabdanya, beribadah sesuai
contohnya, dan tidak berlebihan sampai menuhankan nabi. Bahkan keyakinan kita
terhadap nabi dan rasul adalah meyakininya sebagai hamba dan rasul. Hamba
menghendaki untuk tidak berlebihan sampai menuhankan, sedangkan rasul
menghendaki untuk tidak meremehkan bahkan memuliakannya. Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
لَا تُطْرُونِي
كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian
memujiku berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani kepada
putra Maryam, aku hanyalah hamba-Nya, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.”
(Hr. Bukhari)
Contoh lainnya adalah dalam masalah ekonomi, Islam
pertengahan antara kapitalisme yang mengumpulkan harta
sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara tanpa melihat halal dan haramnya,
dengan komunisme yang tidak menghormati harta orang lain, tidak peduli
meskipun untuk mendapatkannya harus menekan dan menzalimi manusia. Islam berada
di tengah-tengah dalam berekonomi; Islam datang untuk menjaga harta dan
mencarinya dengan cara-cara yang benar, jauh dari kezaliman, penipuan, gharar
dan riba.
14.
Islam adalah agama yang sesuai fitrah
manusia
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي
فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ
الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Qs. Ar Ruum: 30)
Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama, yaitu agama tauhid (Islam). Kalau ada manusia yang tidak beragama
tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak bertauhid itu hanyalah karena
pengaruh lingkungan.
15.
Prinsip tasyri' (ajaran) Islam adalah
menegakkan maslahat, menjunjung nilai-nilai keadilan, tidak menyulitkan,
sedikit tuntutan, lebih memperhatikan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi
dan tadarruj/bertahap dalam tasyri' (menetapkan undang-undang/aturan)
[i] Sabda Beliau, “Jika
seorang budak melahirkan tuannya” ada
beberapa tafsiran, yaitu: (1) Maksudnya akan banyaknya budak-budak
wanita yang melahirkan anak, seakan-akan budak-budak wanita itu adalah budak
milik si anak, karena budak-budak itu milik bapak si anak. Di sini terdapat
isyarat akan banyaknya penaklukkan negeri. (2) Maksudnya budak-budak wanita
melahirkan anak yang akan menjadi raja-raja, hingga akhirnya si budak wanita
selaku ibu menjadi rakyatnya, (3) Maksudnya menunjukkan sudah rusaknya zaman,
dimana ummahaatul aulaad (budak-budak yang melahirkan anak) banyak yang dijual,
lalu ada seorang anak yang membeli ibunya sedangkan ia tidak tahu kalau itu
ibunya, (4) Maksudnya adalah banyaknya
pembangkangan/durhaka anak terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak
memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan
budaknya. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar