Seri (1)
بسم
الله الرحمن الرحيم
وبه
أستعين رب يسر يا كريم . رب يسر وأعن وتمم يا كريم.
Tafsir Isti’adzah
Sebelum membaca Al
Qur’an, kita diperintahkan membaca isti’adzah, yaitu mengucapkan:
أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang
terkutuk.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah
kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (Qs. An
Nahl: 98)
Maksudnya apabila kamu hendak
membaca Al Qur’an. Hal ini seperti pada ayat “Idzaa qumtum ilash shalaah…dst.
(Qs. Al Maa’idah: 6), maksudnya apabila kamu hendak mendirikan shalat.
Adapun dalil dalam hadits yang
menunjukkan demikian salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudriy ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam apabila bangun malam, memulai shalatnya dan bertakbir, lalu mengucapkan:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ
اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan
memuji-Mu. Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan yang
berhak disembah kecuali Engkau.”
Selanjutnya Beliau mengucapkan,
“Laailaahaillallah.” Sebanyak tiga kali. Lalu mengucapkan:
أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk; dari godaannya,
kesombongan, dan syairnya.” (Diriwayatkan pula oleh pemilik kitab sunan yang
empat. Tirmidzi berkata, “Ia merupakan hadits paling masyhur dalam bab ini.”
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi
dan Shahih Ibnu Majah (804))
Al Hamz dalam
hadits tersebut adalah mautah, yakni cekiknya atau penyakit gila yang
ditimpakannya, nafkh adalah kesombongannya, sedangkan nafts adalah syairnya
(yang tercela) sebagaimana dikatakan ‘Amr; rawi hadits tersebut.
Jumhur (mayoritas) ulama
berpendapat bahwa isti’adzah hukumnya sunah; tidak wajib. Ar Raaziy menukilkan
dari ‘Athaa’ bin Abi Rabaah bahwa isti’adzah wajib dibaca dalam shalat dan di
luar shalat setiap hendak membaca Al Qur’an. Ar Raaziy berhujjah untuk ‘Atha’
dengan zhahir ayat, “Fasta’idz,” dimana ia merupakan perintah yang
zhahirnya adalah wajib, dan lagi karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
selalu merutinkannya, ia juga dapat menolak kejahatan setan, sedangkan suatu
kewajiban jika tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu yang
menyempurnakan itu menjadi wajib. Di samping itu, membaca isti’adzah itu lebih
hati-hati.
Ucapan, “أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ,” dianggap cukup dalam
beristi’adzah. Di samping shighat ini, ada beberapa shighat (bentuk kalimat)
isti’adzah lainnya, di antaranya:
1- أَعُوْذُ
بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Artinya: Aku berlindung kepada
Allah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari godaan setan yang terkutuk
(berdasarkan hadits Abu Saíd Al Khudri radhiyallahu anhu).
2- أَعُوْذُ
بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
Artinya: Aku berlindung kepada
Allah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari godaan setan yang terkutuk,
dari penyakit gila yang ditimpakannya, kesombongannya, dan syairnya
(berdasarkan hadits Abu Said Al Khudri pula yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud,
Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).
3- اَللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ
وَنَفْثِهِ
Artinya: Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari godaan setan yang terkutuk, dari penyakit gila yang
ditimpakannya, kesombongannya, dan syairnya (Shighat ini berdasarkan hadits
Ibnu Masúd yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah, dishahihkan
oleh Al Albani).
4- أَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya: Aku berlindung kepada
Allah dari godaan setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui (Shighat
ini menggabungkan dalil-dalil yang ada, dimana Nafi, Ibnu Amir, dan Kisa’i
membaca dengannya).
5- «أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ
الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»
Artinya: Aku berlindung kepada
Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya yang mulia dan kekuasaan-Nya yang kekal
dari godaan setan yang terkutuk (Shighat ini berdasarkan hadits yang
menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika masuk masjid membaca
doa ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanadnya dari Abdullah
bin Amr, dan dishahihkan oleh Al Albani).
Dan masih banyak shighat lainnya
dari sebagian para qari dan ahli ilmu atau dari sebagian kaum salaf, namun yang
berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentu lebih layak diikuti.
Di antara rahasia isti’adzah adalah
membersihkan mulut yang sebelumnya dipenuhi laghw (ucapan sia-sia) dan rafts
(ucapan kotor), membuat mulut menjadi baik untuk membaca firman Allah Azza wa
Jalla. Isti’adzah juga merupakan permintaan pertolongan kepada Allah Subhaanahu
wa Ta'aala, mengakui kekuasaan-Nya dan menyadari keadaan dirinya yang lemah
untuk melawan musuh yang nyata yaitu setan, dimana untuk menghadapinya hanya
dengan pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata, "Seseorang ketika membaca Al Qur'an diuji dengan dua hal; (1)
sikap malas dan tidak mau melanjutkan, (2) tidak mau mentadabburi (memikirkan
kandungan). Ketika engkau meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan
yang terkutuk (membaca isti'adzah), maka Allah akan menjagamu dari sikap malas
dan engkau akan diberi taufik untuk melanjutkan dan mentadabburi." (Syarh
Bulugh Al Maram 2/50)
Makna “A’udzu billahi minasy
syaithaanir rajiim” adalah aku berlindung kepada Allah dari setan yang
terkutuk agar dia (setan) tidak membahayakanku baik pada agamaku, duniaku, atau
menghalangiku dari mengerjakan perkara yang diperintahkan kepadaku, demikian
pula agar dia tidak mendorongku untuk mengerjakan perkara yang dilarang.
Menurut Abu Bakar Al Jazairiy, maksud isti’adzah adalah aku berlindung kepada
Allah Rabbku dari godaan setan yang terkutuk dari mengacaukan bacaanku atau
menyesatkanku sehingga aku binasa dan celaka. Dalam Tafsir Al Muyassar
disebutkan, bahwa Allah Ta’ala memerintahkan setiap pembaca Al Qur’anul ‘Azhim
untuk meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk sebagaimana
firman-Nya, “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta
perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (Terj. Qs. An Nahl:
98) adalah karena Al Qur’anul Karim merupakan hidayah bagi manusia dan obat
terhadap penyakit hati, sedangkan setan adalah sebab keburukan dan kesesatan,
maka Allah memerintahkan setiap pembaca Al Qur’an berlindung kepada-Nya dari
setan yang terkutuk, dari was-wasnya, dan golongannya.
Setan dalam bahasa Arab berasal
dari kata “syathana” yang artinya jauh, sehingga setan itu artinya jauh dengan
tabiatnya dari tabiat wajar manusia dan jauh dengan kefasikannya dari setiap
kebaikan.
Sibawaih berkata, “Orang-orang Arab
mengatakan, “Tasyaithana fulaan” apabila orang tersebut melakukan
perbuatan setan. Kalau setan berasal dari kata syaatha, tentu mereka mengatakan
“Tasyayyatha.”
Dengan demikian, setan menurut
pendapat yang shahih berasal dari kata syathana yang berarti jauh. Oleh karena
itulah, mereka menyebut setiap yang durhaka dari kalangan jin, manusia maupun
hewan dengan sebutan “setan.”
Allah Subhaanahu wa Ta'aala
berfirman,
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ
إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ
وَمَا يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap
Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin,
sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu (manusia).” (Qs. Al An’aam: 112)
Adapun hewan bisa disebut setan
adalah seperti pada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Akan
memutuskan shalat, yaitu wanita, keledai dan anjing hitam.” Maka Abu Dzar
berkata, “Wahai Rasulullah. Mengapa anjing hitam; tidak (anjing) merah atau
kuning?” Beliau menjawab, “Anjing hitam adalah setan.” (Hr. Muslim)
لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَيُقْذَفُونَ
مِنْ كُلِّ جَانِبٍ
“Setan-setan itu tidak dapat mendengarkan
(pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.”
Isti’adzah di samping dianjurkan
diucapkan ketika hendak membaca Al Qur’an, demikian juga dianjurkan diucapkan
bagi seorang yang marah. Hal ini berdasarkan hadits berikut,
عَنْ
سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ، قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ،
وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
" إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ
قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ "
Dari
Sulaiman bin Shurad ia berkata, “Aku pernah duduk bersama Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, ketika itu ada dua orang yang saling memaki; yang satu
wajahnya merah dan urat lehernya tampak, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui kalimat yang jika diucapkannya akan
hilang marahnya. Jika ia mengucapkan ‘A’udzubillahi minasy syaithanirr rajim’
tentu akan hilang marahnya.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Demikian pula sehabis bermimpi
buruk, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
الرُّؤْيَا
مِنَ اللَّهِ وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا
يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَلْيَتَعَوَّذْ
بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ » .
“Mimpi yang baik
itu berasal dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Apabila
salah seorang di antara kamu mimpi buruk, maka meludah (tipis)lah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah dari keburukan
mimpi itu, karena dengan begitu, mimpi itu tidak membahayakannya.” (HR. Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar