Senin, 01 Juni 2026

Seri (4) Tafsir Surah Al Fatihah : 5-7

 

Seri (4)


 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)  

5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah[1], dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[2].

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) 

6. Tunjukkanlah kami[3] jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)  

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka[4]; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[5]



[1] Na'budu diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang berhak disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya disertai rasa cinta, takut, dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan rasa cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga: rasa cinta kepada Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala, dan rasa berharap. Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala semata.

Dalam ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah (seperti berdoa, ruku', sujud, thawaf, istighatsah/meminta pertolongan, berkurban, dan bertawakkal) kepada selain Allah Ta'ala. Disebutkan ibadah sebelum isti'anah (meminta pertolongan) adalah untuk mendahulukan hak Allah di atas hamba-Nya.

Faedah didahulukan maf’ul (obyek) dan faedah iltifat (pengalihan)

Didahulukannya maf’ul (obyek), yaitu kata “Iyyaaka” (hanya kepada-Mu) dan diulanginya memberikan faedah ihtimam dan hashr, yakni untuk diperhatikan dan untuk membatasi ibadah hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Sedangkan faedah adanya iltifat (pengalihan) dari kalimat yang susunannya gaib (kata ganti ketiga, seperti: dia, mereka, dsb.) menjadi mukhathab (k. ganti  kedua, seperti: kamu, engkau, kalian.) adalah karena ketika seseorang memuji Allah, maka seakan-akan ia semakin dekat dan berada di hadapan-Nya. Oleh karena itulah, ia mengatakan “Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.

[2] Nasta'iin (kami meminta pertolongan), diambil dari kata isti'aanah yang artinya mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri. Dalam ayat ini terdapat obat terhadap penyakit ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala, demikian juga obat terhadap penyakit riya', 'ujub (bangga diri), dan sombong. Disebutkannya isti'anah kepada Allah Ta'ala setelah ibadah memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat menjalankan ibadah secara sempurna kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan diri kepada-Nya, dan bahwa ibadah adalah maksud atau tujuannya, sedangkan isti’anah adalah wasilah(sarana) kepadanya.

Qatadah berkata tentang Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, “Dia (Allah) memerintahkan kamu untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya dan agar kamu meminta pertolongan-Nya dalam semua urusan kamu.”

Inti makna ‘wa iyyaka nasta’iin’ adalah hanya kepada Engkau ya Allah kami meminta pertolongan untuk dapat menaati-Mu dan dan untuk melakukan semua urusan kami.

Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan demikian, maksud Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami bertawakkal. Makna seperti ini sama seperti yang disebutkan dalam surat Huud: 123, Al Mulk: 29, dan Al Muzzammil: 9.

Sebagian kaum salaf berkata, “Al Fatihah adalah rahasia Al Qur’an. Rahasianya adalah pada kalimat “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” dimana yang pertama (Iyyaaka na’budu)  terdapat sikap berlepas diri dari syirk, sedangkan pada yang kedua (wa iyyaka nasta’iin) terdapat sikap berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri serta menyerahkannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Seorang hamba bisa berada dalam kenikmatan, sehingga dia butuh bersyukur, atau berada dalam ketaatan sehingga butuh memohon pertolongan dari Allah, atau terjatuh ke dalam maksiat sehingga butuh istighfar. Oleh karena itulah kalimat yang bermanfaat dan mencakup adalah ucapan Alhamdulillah, hauqalah (Laa haula wala quwwata illa billah), dan kalimat istighfar." (Majmu Fatawa juz 18 hal. 285)

Ia juga berkata, “Seorang hamba butuh di setiap waktu memohon pertolongan kepada Allah untuk dapat menaati-Nya, meneguhkan hatinya, dan tidak ada upaya untuk melaksanakan perintah Allah serta kekuatan untuk menjauhi larangan Allah kecuali dengan pertolongan Allah." (Jami'ul Masa'il 2/250).

Berdasarkan ayat ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana memperoleh kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan. Demikian juga bahwa sempurnanya keimanan adalah dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Perlu diketahui, bahwa perbuatan dikatakan ibadah jika diambil dari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diniatkan ikhlas karena Allah Ta'ala.

Demikian pula perlu diketahui, bahwa isti'anah (meminta pertolongan) terbagi dua:

-  Isti’anah Tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan kehinaan, pasrah dan sikap harap. Hal ini hanya boleh kepada Allah saja, dan syirik hukumnya jika mengarahkan kepada selain Allah.

-  Isti’anah Musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta keikut-sertaan orang lain untuk turut membantu, maka tidak mengapa kepada makhluk, namun dengan syarat dalam hal yang mereka mampu membantunya.

Dalam ayat di atas juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepada kita bagaimana bertawassul (menggunakan sarana) agar doa kita mustajab, yaitu memuji Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, serta hanya meminta pertolongan kepada-Nya; tidak kepada selain-Nya. Inilah di antara adab berdoa. Dalam As Sunnah diterangkan pula adabnya, yaitu menambah pula dengan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Faedah:

Setelah Imam Al Baidhawi menulis kitab Tafsirnya yang bernama ‘Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil’ maka ia pergi ke Bagdad untuk menunjukkan kitab itu kepada Sultan dengan harapan boleh jadi ia mendapatkan sedikit pemberian darinya untuk meringankan beban hidup dan musibah yang menimpanya. Saat di perjalanan menuju ke sana ia berjumpa dengan salah seorang syaikh di sebuah kampung dan singgah bertamu di sisinya, lalu Syaikh itu bertanya, “Ke mana kamu hendak pergi?” Ia (Al Baidhawi) menjawab, “Ke Bagdad.” Ia ditanya lagi, “Apa yang engkau inginkan di sana?” Ia menjawab, “Aku telah menulis kitab tafsir dan telah mengerahkan kemampuan untuk merapihkan dan menatanya, dan aku punya beberapa putri yang sudah dewasa, aku butuh menyiapkan pernikahannya namun aku tidak punya harta, maka aku hendak pergi ke Sultan dengan harapan ia mau memberiku sesuatu yang bisa kugunakan untuk persiapaan pernikahan mereka.” Lalu syaikh itu bertanya kepadanya, “Apa tafsirmu terhadap firman Allah Ta’ala, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in?” Al Baidhawi menjawab, “Kami menafsirkannya dengan ‘kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu saja dan tidak memohon pertolongan kecuali kepada-Mu.” Maka Syaikh itu balik berkata, “Lalu mengapa engkau malah meminta pertolongan kepada selain-Nya?!” Ternyata nasihatnya itu menyentuh hati Imam Al Baidhawi, ia pun sadar dan pulang dan tidak melanjutkan ke Bagdad.”

Para ulama berkata, “Oleh karena itulah, Allah jadikan tafsirnya diterima, sehingga para ulama mendatanginya dari berbagai penjuru baik di masa hidupnya maupun setelah wafatnya, dan mereka menyempatkan memberikan ta’liq (komentar) dan catatan pinggir terhadapnya, sehingga memperoleh manfaat yang besar.”

Renungan

Ibnu Uyaynah rahimahullah berkata, "Suatu ketika Hisyam masuk ke Ka'bah, ternyata ditemuinya Salim bin Abdullah, lalu ia berkata, "Mintalah kepadaku kebutuhanmu!" Salim menjawab, "Aku malu kepada Allah meminta kepada selain-Nya di rumah-Nya." Ketika keduanya keluar, maka Hisyam berkata, "Sekarang, mintalah kepadaku hajatmu!" Salim berkata, "Äpakah terkait kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?" Hisyam menjawab, "Terkait kebutuhan dunia."Salim menjawab, "Demi Allah, aku saja tidak meminta terkait kebutuhan dunia kepada yang memilikinya (Allah), lalu bagaimana aku meminta kepada orang yang tidak memilikinya." (Siyar A'laamin Nubala karya Adz Dzahabi 4/466)

[3]  Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayah yang artinya memberi petunjuk ke suatu jalan yang lurus (irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar meminta diberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad), tetapi juga meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus). Oleh karenanya kata ‘ihdinaa’ langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah dengan kata "ilaa" (ke) yang berarti "tunjukkanlah kami ke ….." karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq). Oleh karena itu, maksud ayat ini adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami di atasnya sampai kami berjumpa dengan-Mu."

Jalan yang lurus artinya jalan yang tidak bengkok, yaitu agama Islam; sebagai jalan yang dapat mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya.

Ibnu 'Abbas berkata tentang tafsir Ash Shirat (jalan), "Yaitu Islam."

Ibnu Mas'ud berkata, "Yaitu Al Qur'an."

Bakr bin Abdullah Al Muzanniy berkata, "Yaitu jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

Sa’id bin Jubair berkata, “Jalan menuju surga.”

Sahl bin Abdullah berkata, “Jalan Ahlussunnah wal Jama’ah.”

Dalam ayat di atas terdapat dalil, bahwa jalan yang bisa mengantarkan seseorang kepada Allah dan surga-Nya adalah jalan atau agama Islam, dan bahwa agama-agama selain Islam tidak dapat mengantarkan pemeluknya menuju Allah dan surga-Nya.

Jika seseorang berkata, “Bukankah di dunia saja, jika kita ingin ke sebuah tempat, maka kita bisa melalui jalan mana saja yang bisa mengantarkan ke tempat tersebut?” Jawab, “Ya. Itu jalan-jalan di dunia, karena semua jalan itu tidak ditutup. Akan tetapi untuk menuju Allah dan surga-Nya, Dia telah menutup semua jalan, dan hanya membuka satu jalan, yaitu Islam saja. Lebih jelasnya adalah apabila seseorang hendak pergi ke sebuah kerajaan, dimana seebelumnya jalan dan pintu ke arah sana banyak jumlahnya, namun raja itu menutup semua jalan dan pintu kecuali satu saja, maka kita tidak bisa melewati jalan dan pintu yang lain selain jalan dan pintu yang dibukanya saja.

Tentang tafsiran Islam sebagai jalan yang lurus disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Nawwas bin Sam'an Al Anshariy dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau bersabda, "Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang menjulur ke bawah. Di atas pintu jalan itu terdapat penyeru yang berkata, 'Wahai manusia! Masuklah kalian semua mengikuti shirath dan janganlah menoleh kesana-kemari.” Sementara itu di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, “'Celaka kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk ke dalamnya.” Ash Shirath itu adalah Islam. kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta'ala. Sedangkan pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) 'Azza wa Jalla, sedangkan penyeru di dalam shirath adalah penasihat dari Allah (naluri) yang terdapat pada setiap hati seorang mukmin." (Hr. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib)

Syaikh Abdullah Al Qar'awiy dalam risalahnya "Tafsir suratil Fatihah" berkata tentang pendapat-pendapat yang ada tentang tafsir Ash Shirat,  "Semua tafsiran tentang Ash Shirat tersebut adalah benar. Shirat adalah Islam, Al Qur'an dan Rasul, karena orang yang mengikuti Islam, maka ia mengikuti Al Qur'an dan mengikuti Rasul. Orang yang mengikuti Al Qur'an, maka ia mengikuti Islam dan Rasul. Orang yang mengikuti Rasul, maka ia mengikuti Islam dan Al Qur'an. Oleh karena itu, barang siapa yang istiqamah dan tetap di atas jalan yang lurus (yang maknawi) di dunia, maka dia akan tetap dan istiqamah di atas shirat (yang hissiy/dapat dirasakan) di akhirat."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sejauh keteguhan seorang hamba di atas jalan yang Allah gariskan dalam kehidupan di dunia, maka sejauh itu pula keteguhannya di atas jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Bagaimana perjalanan seorang hamba di atas jalan yang Allah gariskan, maka sesuai itu pula perjalanannya di atas jembatan nanti. Oleh karena itu, di antara mereka ada yang melewatinya secepat kilat, dan ada yang sekejap mata…dst. Maka hendaknya seorang hamba memperhatikan dirinya di atas jalan yang Allah gariskan dan membandingkan dirinya ketika nanti melintasi jembatan yang dibentangkan itu karena keadaannya sama persis sebagai balasan yang sesuai. Bukankah kalian dibalas sesuai yang kalian kerjakan?” (Madarijus Salikin 1/35)

Dengan demikian, di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar dapat istiqamah di atas jalan yang lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati ini lemah mudah berbalik dan karena hidup di dunia penuh dengan liku-liku dan godaan, penuh dengan gelombang cobaan dan fitnah yang begitu dahsyat yang dapat menjatuhkan seorang mukmin ke dalam fitnah. Ali dan Ubay bin Ka’ab berkata tentang kata “Ihdina,” yakni teguhkanlah kami.

Sungguh berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena doa yang dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak lagi memanjatkan doa ini sehingga mudah sekali terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat dirinya binasa –wal 'iyaadz billah-.

Disebutkan permintaan setelah pujian sungguh sangat sesuai sekali dan seperti inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba ketika hendak meminta, yaitu memuja dan memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala dahulu, kemudian ia meminta kepada-Nya agar doa dan permintaannya lebih mustajab.

Dalam ayat di atas terdapat dorongan kepada kita agar berdoa dan meminta kepada Allah Azza wa Jalla.

[4] Dalam membaca lafaz ini ' عليهم  ' jika mengikuti bacaan Ashim melalui dua perawinya, yaitu Hafsh dan Syu’bah adalah dengan tidak berhenti di sini, karena mereka mengikuti penghitungan ayat ala Kufah, bahwa ayat ini adalah ayat ketujuh hingga akhirnya, dimana penghitungan ala Kufah menjadikan basmalah sebagai ayat pertama. Di samping itu, kaedah menyatakan tidak dibenarkan memulai dari kata yang berakhiran kasrah kecuali jika sebagai awal ayat, sedangkan lafaz ‘غيرِ ’ bukan sebagai awal ayat, sehingga tidak memulai dari lafaz ini ‘غيرِ ’. Adapun jika mengikuti penghitungan ala Madinah, maka lafaz ‘غيرِ ’ sebagai awal ayat ketujuh, karena penghitungan ala Madinah tidak menjadikan basmalah sebagai ayat pertama, demikian penjelasan guru kami Syaikh Ahmad Nafi hafizhahullah.

[5] Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh berdasarkan surat An Nisaa': 69. Jalan merekalah yang kita minta. Mereka adalah ahlul hidayah wal istiqamah (orang-orang yang memperoleh hidayah dan dapat beristiqamah), ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan beramal) atau mengedepankan ilmu lalu beramal.

Sungguh indah sekali ketika dalam ayat ini disebutkan fa’il (pelaku)nya, yaitu dalam firman-Nya, “Engkau berikan nikmat kepada mereka,” sedangkan untuk orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat tidak disebutkan fa’il (pelakunya) meskipun sebenarnya fa’ilnya adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Ayat ini sama seperti dalam surah Al Jin: 10.

Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum mukminin) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak, mereka tidak mau mengamalkan sehingga mereka dimurkai (mengetahui namun tidak mau beramal).

Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak sehingga mereka tersesat (beramal tanpa ilmu).

Dalam ayat di atas juga terdapat peringatan bagi kaum muslimin agar tidak meremehkan mencari yang hak (kebenaran) seperti orang-orang Nasrani yang tersesat, dan agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi yang dimurkai yang tidak mau mengamalkan yang hak yang telah diketahui.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sepatutnya seseorang belajar agama agar tidak termasuk orang-orang yang tersesat (Nasrani),  serta menjalankan ibadah agar tidak termasuk orang-orang yang dimurkai (Yahudi)." (Akham minal Quran (1/51))

Perumpamaan tiga golongan di atas adalah seperti seperti tiga orang yang hendak menuju sebuah lokasi. Golongan pertama (yang Allah berikan nikmat), mempelajari rute ke lokasi yang dituju, lalu mengikuti rute tersebut sehingga sampai ke lokasi, golongan yang kedua mengetahui rute ke lokasi, namun ia tidak mengikuti rute tersebut sehingga tidak sampai ke lokasi, sedangkan golongan yang ketiga ingin ke lokasi, namun tidak mempelajari rute ke sana sehingga salah jalan (tersesat).  

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sesungguhnya sebagai orang-orang yang dimurkai dan sesat, akan tetapi orang-orang Yahudi lebih khusus lagi sebagai orang-orang yang dimurkai sebagaimana firman Allah Ta’ala di surat Al Maa’idah: 60, sedangkan orang-orang Nasrani lebih khusus lagi sebagai orang-orang yang sesat sebagaimana firman Allah Ta’ala di surat Al Maa’idah: 77.

Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl (kebodohan), dan dhalaal (tersesat). Demikian pula terdapat perintah agar kita mengakui nikmat Allah, meminta ditunjukkan teladan yang baik, dorongan menempuh jalan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat serta peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang yang menyimpang.

Kata shirat bisa dibaca dengan sin, dan bisa dibaca dengan zay. Hamzah membacanya dengan mengiymamkan zay, semua itu merupakan lughat (bahasa) yang benar, akan tetapi yang terpilih menurut kebanyakan para qari adalah membaca dengan shad karena sesuai dengan mushaf.

Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan "aamiiiiiin," atau boleh juga dipendekkan alifnya menjadi “Amiin,” arti Amin adalah, "Ya Allah, kabulkanlah.” Menurut Imam Tirmidzi, arti amin adalah, “Ya Allah, janganlah Engkau kecewakan harapan kami.” Dalil dianjurkannya mengucapkan aamiin adalah hadits berikut:

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ{ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

Dari Wa`il bin Hujr ia berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca, "Ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaaaalliiiiin” (artinya: Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat), Beliau lalu mengucapkan, "Aamiiiiin” (artinya: kabulkanlah ya Allah.),” dengan memanjangkan suaranya." (Hr. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadits Wa’il bin Hujr adalah hadits hasan.”)

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Kawan-kawan kami (yang semadzhab) dan lainnya mengatakan, “Dianjurkan juga hal itu (mengucapkan amin) bagi orang yang berada di luar shalat dan lebih ditekankan lagi bagi orang yang shalat, baik ia shalat sendiri, sebagai imam, sebagai makmum, dan dalam semua keadaan.” (Al Mishbahul Munir fii Tahdzib tafsir Ibni Katsir hal. 28)

Imam Al Baghawi menjelaskan, bahwa disunahkan bagi orang yang selesai membaca Al Fatihah untuk mengucapkan “Aamiiin” yang terpisah dari surat Al Fatihah dengan adanya saktah (diam sejenak tanpa melepaskan nafas).

Kata Aamiin tidaklah termasuk ayat dari surat Al Fatihah berdasarkan kesepakatan para ulama, oleh karena itu mereka tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf.

Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata, "Tidak dianjurkan menambahkan kata amin dengan kata lainnya seperti mengucapkan Amin ya Robbal alamin karena tidak disebutkan dalam As Sunnah." (Syarh Bukhari 4/389)

Faedah:

Syaikh As Sam'ani rahimahullah berkata, "Orang-orang pernah bermimpi bertemu beliau (Manshur Al Khayyath yang wafat 499 H) setelah wafatnya. Ada seorang yang berkata kepadanya, "Apa yang Allah lakukan terhadapmu?" Beliau (Imam Manshur) menjawab, "Allah mengampuni dosaku karena aku mengajarkan  surah Al Fatihah kepada anak-anak." (Ma'rifatul Qurra Al Kibar (1/256) dan Ghayatun Nihayah (2/75))

Di kalangan umat ini ada orang yang mendapatkan ilham dan mimpi yang benar serta firasat. Itu semua merupakan karamah dan kabar gembira selama sesuai syari'at. Namun ilham, mimpi dan firasat bukanlah sumber rujukan Akidah dan hukum Islam. Oleh karena itu, kita tidak mengatakan bahwa semua itu merupakan hujjah syar'i, ia adalah cahaya dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Jika sesuai syariat, maka syariat itulah yang menjadi hujjah.

Kandungan surat Al Fatihah

Surat Al Fatihah meskipun singkat, namun mengandung banyak ilmu. Di dalamnya terdapat tiga tauhid yang diperintahkan; tauhid rububiyyah (dari ayat "Rabbil 'aalmiin"), tauhid uluhiyyah (dari ayat "iyyaaka na'budu") dan tauhid asmaa' wash shifat dengan menetapkan semua sifat sempurna bagi Allah yang telah ditetapkan oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat "Al Hamdulillah,” karena nama-nama dan sifat-sifat Allah semuanya terpuji dan merupakan pujian bagi Allah Ta'ala.

Demikian juga menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diambil dari ayat "Ihdinash shiraathal mustaqiim", karena jalan yang lurus tersebut adalah jalan yang diterangkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Surat ini juga menetapkan adanya jazaa' (pembalasan amal) dan bahwa hal itu dilakukan dengan adil berdasarkan ayat "Maaliki yaumiddiin". Surat ini juga menguatkan Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah tentang masalah qadar, yakni bahwa semua terjadi dengan qadar Allah dan qadhaa'-Nya, dan bahwa seorang hamba melakukan perbuatannya secara hakikat; tidak dipaksa dalam berbuat. Hal ini dapat diketahui dari ayat "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin". Surat ini juga menerangkan pokok kebaikan, yaitu ikhlas, sebagaimana diambil dari ayat "Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin".

Karena surat ini begitu agung dan mulia, Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya membacanya di setiap rakat dalam shalat mereka baik shalat fardhu maupun sunat. Di surat tersebut juga Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana mereka memuji dan menyanjung-Nya, lalu mereka meminta kepada Tuhan mereka segala yang mereka butuhkan. Di surat ini pun terdapat bukti butuhnya mereka kepada Tuhan mereka, baik butuhnya hati mereka untuk dipenuhi rasa cinta dan pengenalan kepada-Nya dan butuhnya mereka agar dibantu dalam menyelesaikan urusan mereka serta diberi taufiq agar dapat mengabdi kepada-Nya.

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Surat yang mulia ini yang berjumlah tujuh ayat mengandung pujian dan pengagungan bagi Allah serta sanjungan untuk-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang indah yang menunjukkan sifat-sifat-Nya yang tinggi, menyebutkan akhirat yaitu hari pembalasan, membimbing hamba agar meminta dan merendahkan diri kepada-Nya serta berlepas diri dari kemampuan dan kekuatannya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam beribadah kepada-Nya Tabaaraka wa Ta'aala, mensucikan-Nya dari sekutu, serupa dan sebanding, serta agar mereka meminta kepada-Nya hidayah kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, meneguhkan mereka di atasnya sampai melewati shirath (jembatan) yang dapat dirasakan pada hari Kiamat yang dapat membawa mereka ke surga yang penuh kenikmatan di dekat para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Surat ini juga mengandung dorongan beramal saleh agar mereka termasuk orang-orangnya pada hari Kiamat serta peringatan agar menjauhi jalan-jalan yang batil agar mereka tidak dikumpulkan bersama mereka yang menempuhnya pada hari Kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat.” (Al Mishbahul Munir fii tahdzib tafsir Ibni Katsir hal. 27 cet. Darussalam)

Contoh ayat-ayat yang menerangkan lebih lanjut surat Al Fatihah

Perlu diketahui, bahwa semua isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah. Berikut ini contohnya:

Firman Allah, "Al hamdulillahi." diterangkan oleh surat Al Baqarah: 186 dan 286.

Firman Allah, "Rabbil 'aalamiin" diterangkan oleh surat Al Baqarah: 21-22 dan 29.

Firman Allah, "Ar Rahmaanir rahiim" diterangkan oleh surat Al Baqarah: 37 dan 126

Firman Allah, "Maaliki yaumiddin." diterangkan oleh surat Al Baqarah: 284.

Firman Allah, "Iyyaaka na'budu." diterangkan oleh surat Al Baqarah secara lebih rinci, dimana di sana diterangkan masalah bersuci, shalat lima waktu, shalat jama'ah, shalat khauf, shalat Ied, zakat, puasa, I'tikaf, sedekah, umrah dan haji, mu'amalah secara Islam, warisan, wasiat, berbagai masalah pernikahan, penyusuan anak, nafkah, tentang hukum qishas, diyat, memerangi pemberontak dan orang yang murtad, tentang jihad, tentang makanan, sembelihan, sumpah, nadzar, peradilan (qadhaa'), persaksian, memerdekakan budak, dsb. Semua ini merupakan bab-bab syari'at yang diterangkan dalam surat Al Baqarah.

Firman Allah, "Wa iyyaka nasta'iin" mewakili ilmu tentang akhlak.

Firman Allah, "Ihdinash shiraathal mustaqiim," diterangkan dalam surat-surat setelahnya yang menyebutkan jalannya para nabi dan jalan orang-orang yang menyelisihinya. wal hamdulillahi rabbil 'aalamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...