Seri (4)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)
5.
Hanya Engkaulah yang Kami sembah[1],
dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan[2].
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)
6.
Tunjukkanlah kami[3]
jalan yang lurus,
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
وَلَا الضَّالِّينَ (7)
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat
kepada mereka[4]; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[5]
[1] Na'budu
diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang
ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang berhak disembah,
karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya
disertai rasa cinta, takut, dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan rasa cinta,
karena landasan
yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga:
rasa cinta
kepada Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala, dan rasa
berharap. Oleh karena itu, kecintaan
saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap
makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja
tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak
termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan
cinta maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada
Allah Ta'ala semata.
Dalam ayat ini
terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah (seperti berdoa,
ruku', sujud, thawaf, istighatsah/meminta pertolongan, berkurban, dan
bertawakkal) kepada selain Allah Ta'ala. Disebutkan ibadah sebelum isti'anah
(meminta pertolongan) adalah untuk mendahulukan hak Allah di atas hamba-Nya.
Faedah
didahulukan maf’ul (obyek) dan faedah iltifat (pengalihan)
Didahulukannya
maf’ul (obyek), yaitu kata “Iyyaaka” (hanya kepada-Mu) dan diulanginya
memberikan faedah ihtimam dan hashr, yakni untuk diperhatikan dan untuk
membatasi ibadah hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Sedangkan faedah
adanya iltifat (pengalihan) dari kalimat yang susunannya gaib (kata ganti
ketiga, seperti: dia, mereka, dsb.) menjadi mukhathab (k. ganti kedua, seperti: kamu, engkau, kalian.) adalah
karena ketika seseorang memuji Allah, maka seakan-akan ia semakin dekat dan
berada di hadapan-Nya. Oleh karena itulah, ia mengatakan “Iyyaaka na’budu wa
iyyaka nasta’iin.”
[2] Nasta'iin (kami meminta pertolongan),
diambil dari kata isti'aanah yang artinya mengharapkan bantuan untuk dapat
menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga
sendiri. Dalam ayat ini terdapat obat
terhadap penyakit ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala, demikian juga obat
terhadap penyakit riya', 'ujub (bangga diri), dan sombong. Disebutkannya
isti'anah kepada Allah Ta'ala setelah ibadah memberikan pengertian bahwa
seseorang tidak dapat menjalankan ibadah secara sempurna kecuali dengan
pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan diri kepada-Nya, dan bahwa ibadah
adalah maksud atau tujuannya, sedangkan isti’anah adalah wasilah(sarana)
kepadanya.
Qatadah berkata tentang Iyyaka na’budu wa
iyyaaka nasta’iin, “Dia (Allah) memerintahkan kamu untuk mengikhlaskan
ibadah hanya kepada-Nya dan agar kamu meminta pertolongan-Nya dalam semua
urusan kamu.”
Inti makna ‘wa iyyaka nasta’iin’
adalah hanya kepada Engkau ya Allah kami meminta pertolongan untuk dapat menaati-Mu
dan dan untuk melakukan semua urusan kami.
Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia
mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan
kepada-Nya. Dengan demikian, maksud Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
adalah hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami bertawakkal.
Makna seperti ini sama seperti yang disebutkan dalam
Sebagian kaum
salaf berkata, “Al Fatihah adalah rahasia Al Qur’an. Rahasianya adalah pada kalimat
“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” dimana yang pertama (Iyyaaka
na’budu) terdapat sikap berlepas diri
dari syirk, sedangkan pada yang kedua (wa iyyaka nasta’iin) terdapat sikap
berlepas diri dari kemampuan dan kekuatan diri serta menyerahkannya kepada
Allah ‘Azza wa Jalla.”
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Seorang hamba bisa berada
dalam kenikmatan, sehingga dia butuh bersyukur, atau berada dalam ketaatan
sehingga butuh memohon pertolongan dari Allah, atau terjatuh ke dalam maksiat
sehingga butuh istighfar. Oleh karena itulah kalimat yang bermanfaat dan
mencakup adalah ucapan Alhamdulillah, hauqalah (Laa haula wala quwwata illa
billah), dan kalimat istighfar." (Majmu Fatawa juz 18 hal. 285)
Ia juga berkata, “Seorang
hamba butuh di setiap waktu memohon pertolongan kepada Allah untuk dapat
menaati-Nya, meneguhkan hatinya, dan tidak ada upaya untuk melaksanakan
perintah Allah serta kekuatan untuk menjauhi larangan Allah kecuali dengan
pertolongan Allah." (Jami'ul Masa'il 2/250).
Berdasarkan ayat ini juga bahwa beribadah
dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana memperoleh kebahagiaan yang
kekal dan terhindar dari keburukan. Demikian juga bahwa sempurnanya keimanan
adalah dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memohon
pertolongan kepada-Nya.
Perlu diketahui, bahwa perbuatan dikatakan
ibadah jika diambil dari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
diniatkan ikhlas karena Allah Ta'ala.
Demikian pula perlu diketahui, bahwa
isti'anah (meminta pertolongan) terbagi dua:
- Isti’anah Tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan
kehinaan, pasrah dan sikap harap. Hal ini hanya boleh kepada Allah saja, dan syirik
hukumnya jika mengarahkan kepada selain Allah.
- Isti’anah
Musyarakah, meminta
pertolongan dalam arti meminta keikut-sertaan orang lain untuk turut membantu,
maka tidak mengapa kepada makhluk, namun dengan syarat dalam hal yang mereka
mampu membantunya.
Dalam ayat di atas juga, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepada
kita bagaimana bertawassul (menggunakan sarana) agar doa kita mustajab, yaitu
memuji Allah, menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, serta hanya meminta pertolongan
kepada-Nya; tidak kepada selain-Nya. Inilah di antara adab berdoa. Dalam As
Sunnah diterangkan pula adabnya, yaitu menambah pula dengan bershalawat kepada
Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Faedah:
Setelah Imam Al Baidhawi menulis kitab Tafsirnya
yang bernama ‘Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil’ maka ia pergi ke Bagdad
untuk menunjukkan kitab itu kepada Sultan dengan harapan boleh jadi ia
mendapatkan sedikit pemberian darinya untuk meringankan beban hidup dan musibah
yang menimpanya. Saat di perjalanan menuju ke sana ia berjumpa dengan salah
seorang syaikh di sebuah kampung dan singgah bertamu di sisinya, lalu Syaikh
itu bertanya, “Ke mana kamu hendak pergi?” Ia (Al Baidhawi) menjawab, “Ke
Bagdad.” Ia ditanya lagi, “Apa yang engkau inginkan di sana?” Ia menjawab, “Aku
telah menulis kitab tafsir dan telah mengerahkan kemampuan untuk merapihkan dan
menatanya, dan aku punya beberapa putri yang sudah dewasa, aku butuh menyiapkan
pernikahannya namun aku tidak punya harta, maka aku hendak pergi ke Sultan
dengan harapan ia mau memberiku sesuatu yang bisa kugunakan untuk persiapaan
pernikahan mereka.” Lalu syaikh itu bertanya kepadanya, “Apa tafsirmu terhadap
firman Allah Ta’ala, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in?” Al Baidhawi menjawab,
“Kami menafsirkannya dengan ‘kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu saja dan
tidak memohon pertolongan kecuali kepada-Mu.” Maka Syaikh itu balik berkata,
“Lalu mengapa engkau malah meminta pertolongan kepada selain-Nya?!” Ternyata
nasihatnya itu menyentuh hati Imam Al Baidhawi, ia pun sadar dan pulang dan
tidak melanjutkan ke Bagdad.”
Para ulama berkata, “Oleh karena itulah, Allah
jadikan tafsirnya diterima, sehingga para ulama mendatanginya dari berbagai
penjuru baik di masa hidupnya maupun setelah wafatnya, dan mereka menyempatkan
memberikan ta’liq (komentar) dan catatan pinggir terhadapnya, sehingga
memperoleh manfaat yang besar.”
Renungan
Ibnu Uyaynah rahimahullah berkata,
"Suatu ketika Hisyam masuk ke Ka'bah, ternyata ditemuinya Salim bin Abdullah,
lalu ia berkata, "Mintalah kepadaku kebutuhanmu!" Salim menjawab,
"Aku malu kepada Allah meminta kepada selain-Nya di rumah-Nya." Ketika keduanya keluar, maka Hisyam berkata,
"Sekarang, mintalah kepadaku hajatmu!" Salim berkata, "Äpakah
terkait kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?" Hisyam menjawab,
"Terkait kebutuhan dunia."Salim menjawab, "Demi Allah, aku saja
tidak meminta terkait kebutuhan dunia kepada yang memilikinya (Allah), lalu
bagaimana aku meminta kepada orang yang tidak memilikinya." (Siyar
A'laamin Nubala karya Adz Dzahabi 4/466)
[3] Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayah yang artinya memberi petunjuk ke
suatu jalan yang lurus (irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar
meminta diberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad), tetapi juga
meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus). Oleh karenanya kata
‘ihdinaa’ langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak
dipisah dengan kata "ilaa" (ke) yang berarti "tunjukkanlah kami ke
….." karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq). Oleh karena itu,
maksud ayat ini adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah
kami menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami di atasnya sampai kami berjumpa
dengan-Mu."
Jalan yang lurus artinya jalan yang tidak bengkok, yaitu agama Islam;
sebagai jalan yang dapat mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan
yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya.
Ibnu 'Abbas
berkata tentang tafsir Ash Shirat (jalan), "Yaitu Islam."
Ibnu Mas'ud
berkata, "Yaitu Al Qur'an."
Bakr bin Abdullah
Al Muzanniy berkata, "Yaitu jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam."
Sa’id bin Jubair
berkata, “Jalan menuju surga.”
Sahl bin Abdullah
berkata, “Jalan Ahlussunnah wal Jama’ah.”
Dalam ayat di atas terdapat dalil, bahwa
jalan yang bisa mengantarkan seseorang kepada Allah dan surga-Nya adalah jalan
atau agama Islam, dan bahwa agama-agama selain Islam tidak dapat mengantarkan pemeluknya
menuju Allah dan surga-Nya.
Jika seseorang berkata, “Bukankah di dunia
saja, jika kita ingin ke sebuah tempat, maka kita bisa melalui jalan mana saja
yang bisa mengantarkan ke tempat tersebut?” Jawab, “Ya. Itu jalan-jalan di
dunia, karena semua jalan itu tidak ditutup. Akan tetapi untuk menuju Allah dan
surga-Nya, Dia telah menutup semua jalan, dan hanya membuka satu jalan, yaitu
Islam saja. Lebih jelasnya adalah apabila seseorang hendak pergi ke sebuah
kerajaan, dimana seebelumnya jalan dan pintu ke arah sana banyak jumlahnya,
namun raja itu menutup semua jalan dan pintu kecuali satu saja, maka kita tidak
bisa melewati jalan dan pintu yang lain selain jalan dan pintu yang dibukanya
saja.
Tentang tafsiran
Islam sebagai jalan yang lurus disebutkan dalam hadits berikut:
عَنْ
النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَعَلَى
جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الْأَبْوَابِ
سُتُورٌ مُرْخَاةٌ وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ
ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ جَوْفِ
الصِّرَاطِ فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ
وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ وَالصِّرَاطُ
الْإِسْلَامُ وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ تَعَالَى وَالْأَبْوَابُ
الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ تَعَالَى وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ
الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدَّاعِي فَوْقَ الصِّرَاطِ وَاعِظُ
اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
Dari Nawwas bin
Sam'an Al Anshariy dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau
bersabda, "Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian
di kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu
terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat
tabir penutup yang menjulur ke bawah. Di atas pintu jalan itu terdapat penyeru
yang berkata, 'Wahai manusia! Masuklah kalian semua mengikuti shirath dan
janganlah menoleh kesana-kemari.” Sementara itu di bagian dalam dari Shirath
juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika
seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia
berkata, “'Celaka kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu
membukanya maka kamu akan masuk ke dalamnya.” Ash Shirath itu adalah Islam.
kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta'ala. Sedangkan pintu-pintu
yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Adapun penyeru di depan
shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) 'Azza wa Jalla, sedangkan penyeru di
dalam shirath adalah penasihat dari Allah (naluri) yang terdapat pada setiap hati
seorang mukmin." (Hr. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih
At Targhib wat Tarhib)
Syaikh Abdullah Al
Qar'awiy dalam risalahnya "Tafsir suratil Fatihah" berkata tentang
pendapat-pendapat yang ada tentang tafsir Ash Shirat, "Semua tafsiran tentang Ash Shirat
tersebut adalah benar. Shirat adalah Islam, Al Qur'an dan Rasul, karena orang
yang mengikuti Islam, maka ia mengikuti Al Qur'an dan mengikuti Rasul. Orang
yang mengikuti Al Qur'an, maka ia mengikuti Islam dan Rasul. Orang yang
mengikuti Rasul, maka ia mengikuti Islam dan Al Qur'an. Oleh karena itu, barang
siapa yang istiqamah dan tetap di atas jalan yang lurus (yang maknawi) di
dunia, maka dia akan tetap dan istiqamah di atas shirat (yang hissiy/dapat
dirasakan) di akhirat."
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Sejauh keteguhan seorang hamba di atas jalan yang Allah gariskan
dalam kehidupan di dunia, maka sejauh itu pula keteguhannya di atas jembatan
yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Bagaimana perjalanan seorang hamba
di atas jalan yang Allah gariskan, maka sesuai itu pula perjalanannya di atas
jembatan nanti. Oleh karena itu, di antara mereka ada yang melewatinya secepat
kilat, dan ada yang sekejap mata…dst. Maka hendaknya seorang hamba
memperhatikan dirinya di atas jalan yang Allah gariskan dan membandingkan
dirinya ketika nanti melintasi jembatan yang dibentangkan itu karena keadaannya
sama persis sebagai balasan yang sesuai. Bukankah kalian dibalas sesuai yang
kalian kerjakan?” (Madarijus Salikin 1/35)
Dengan demikian,
di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar dapat istiqamah di atas
jalan yang lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati ini lemah mudah berbalik
dan karena hidup di dunia penuh dengan liku-liku dan godaan, penuh dengan
gelombang cobaan dan fitnah yang begitu dahsyat yang dapat menjatuhkan seorang
mukmin ke dalam fitnah. Ali dan Ubay bin Ka’ab berkata tentang kata “Ihdina,”
yakni teguhkanlah kami.
Sungguh
berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena doa yang dipanjatkannya
ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak lagi memanjatkan
doa ini sehingga mudah sekali terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat dirinya
binasa –wal 'iyaadz billah-.
Disebutkan
permintaan setelah pujian sungguh sangat sesuai sekali dan seperti inilah yang
sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba ketika hendak meminta, yaitu memuja dan
memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala dahulu, kemudian ia meminta kepada-Nya agar
doa dan permintaannya lebih mustajab.
Dalam ayat di atas
terdapat dorongan kepada kita agar berdoa dan meminta kepada Allah Azza wa
Jalla.
[4] Dalam membaca lafaz ini '
عليهم ' jika mengikuti bacaan Ashim melalui dua
perawinya, yaitu Hafsh dan Syu’bah adalah dengan tidak berhenti di sini, karena
mereka mengikuti penghitungan ayat ala Kufah, bahwa ayat ini adalah ayat
ketujuh hingga akhirnya, dimana penghitungan ala Kufah menjadikan basmalah
sebagai ayat pertama. Di samping itu, kaedah
menyatakan tidak dibenarkan memulai dari kata yang berakhiran kasrah kecuali
jika sebagai awal ayat, sedangkan lafaz ‘غيرِ ’ bukan sebagai awal ayat, sehingga
tidak memulai dari lafaz ini ‘غيرِ ’. Adapun jika mengikuti
penghitungan ala Madinah, maka lafaz ‘غيرِ ’ sebagai awal ayat ketujuh, karena
penghitungan ala Madinah tidak menjadikan basmalah sebagai ayat pertama,
demikian penjelasan guru kami Syaikh Ahmad Nafi hafizhahullah.
[5] Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para
nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang saleh berdasarkan
Sungguh indah sekali ketika dalam ayat ini
disebutkan fa’il (pelaku)nya, yaitu dalam firman-Nya, “Engkau berikan nikmat
kepada mereka,” sedangkan untuk orang-orang yang dimurkai dan orang-orang
yang sesat tidak disebutkan fa’il (pelakunya) meskipun sebenarnya fa’ilnya
adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Ayat ini sama seperti dalam surah Al Jin:
10.
Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh
Allah maupun oleh kaum mukminin) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang
mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak,
mereka tidak mau mengamalkan sehingga mereka dimurkai (mengetahui namun tidak mau
beramal).
Sedangkan orang-orang yang sesat adalah
orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan
mereka adalah tidak mengenal yang hak sehingga mereka tersesat (beramal tanpa
ilmu).
Dalam ayat di atas juga terdapat peringatan
bagi kaum muslimin agar tidak meremehkan mencari yang hak (kebenaran) seperti
orang-orang Nasrani yang tersesat, dan agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi
yang dimurkai yang tidak mau mengamalkan yang hak yang telah diketahui.
Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullah berkata, "Sepatutnya seseorang belajar agama
agar tidak termasuk orang-orang yang tersesat (Nasrani), serta menjalankan ibadah agar tidak termasuk
orang-orang yang dimurkai (Yahudi)." (Akham minal Quran (1/51))
Perumpamaan
tiga golongan di atas adalah seperti seperti tiga orang yang hendak menuju
sebuah lokasi. Golongan pertama (yang Allah berikan nikmat), mempelajari rute
ke lokasi yang dituju, lalu mengikuti rute tersebut sehingga sampai ke lokasi,
golongan yang kedua mengetahui rute ke lokasi, namun ia tidak mengikuti rute
tersebut sehingga tidak sampai ke lokasi, sedangkan golongan yang ketiga ingin
ke lokasi, namun tidak mempelajari rute ke sana sehingga salah jalan
(tersesat).
Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani
sesungguhnya sebagai orang-orang yang dimurkai dan sesat, akan tetapi orang-orang
Yahudi lebih khusus lagi sebagai orang-orang yang dimurkai sebagaimana firman
Allah Ta’ala di
Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit
juhud (membangkang), jahl (kebodohan), dan dhalaal (tersesat). Demikian pula
terdapat perintah agar kita mengakui nikmat Allah, meminta ditunjukkan teladan
yang baik, dorongan menempuh jalan orang-orang yang beruntung di dunia dan
akhirat serta peringatan agar tidak mengikuti jalan orang-orang yang
menyimpang.
Kata shirat bisa dibaca dengan sin,
dan bisa dibaca dengan zay. Hamzah membacanya dengan mengiymamkan zay,
semua itu merupakan lughat (bahasa) yang benar, akan tetapi yang terpilih
menurut kebanyakan para qari adalah membaca dengan shad karena sesuai
dengan mushaf.
Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam
shalat mengucapkan "aamiiiiiin," atau boleh juga dipendekkan alifnya
menjadi “Amiin,” arti Amin adalah, "Ya Allah, kabulkanlah.” Menurut Imam
Tirmidzi, arti amin adalah, “Ya Allah, janganlah Engkau kecewakan harapan
kami.” Dalil dianjurkannya mengucapkan aamiin adalah hadits berikut:
عَنْ وَائِلِ بْنِ
حُجْرٍ قَالَ
سَمِعْتُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ{ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Kawan-kawan
kami (yang semadzhab) dan lainnya mengatakan, “Dianjurkan juga hal itu
(mengucapkan amin) bagi orang yang berada di luar shalat dan lebih ditekankan
lagi bagi orang yang shalat, baik ia shalat sendiri, sebagai imam, sebagai
makmum, dan dalam semua keadaan.” (Al Mishbahul Munir fii Tahdzib tafsir
Ibni Katsir hal. 28)
Imam Al Baghawi menjelaskan, bahwa disunahkan
bagi orang yang selesai membaca Al Fatihah untuk mengucapkan “Aamiiin” yang
terpisah dari surat Al Fatihah dengan adanya saktah (diam sejenak tanpa
melepaskan nafas).
Kata Aamiin tidaklah termasuk ayat
dari
Imam Ibnu Rajab
Al Hanbali rahimahullah berkata, "Tidak dianjurkan menambahkan kata
amin dengan kata lainnya seperti mengucapkan Amin ya Robbal alamin
karena tidak disebutkan dalam As Sunnah." (Syarh Bukhari 4/389)
Faedah:
Syaikh As
Sam'ani rahimahullah berkata, "Orang-orang pernah bermimpi bertemu
beliau (Manshur Al Khayyath yang wafat 499 H) setelah wafatnya. Ada seorang yang berkata kepadanya, "Apa yang
Allah lakukan terhadapmu?" Beliau (Imam Manshur) menjawab, "Allah
mengampuni dosaku karena aku mengajarkan
surah Al Fatihah kepada anak-anak." (Ma'rifatul Qurra Al Kibar
(1/256) dan Ghayatun Nihayah (2/75))
Di kalangan umat ini ada orang yang
mendapatkan ilham dan mimpi yang benar serta firasat. Itu semua merupakan
karamah dan kabar gembira selama sesuai syari'at. Namun ilham, mimpi dan
firasat bukanlah sumber rujukan Akidah dan hukum Islam. Oleh karena itu, kita
tidak mengatakan bahwa semua itu merupakan hujjah syar'i, ia adalah cahaya dari
Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.
Jika sesuai syariat, maka syariat itulah yang menjadi hujjah.
Kandungan
Surat Al Fatihah meskipun singkat, namun
mengandung banyak ilmu. Di dalamnya terdapat tiga tauhid yang diperintahkan;
tauhid rububiyyah (dari ayat "Rabbil 'aalmiin"), tauhid uluhiyyah
(dari ayat "iyyaaka na'budu") dan tauhid asmaa' wash shifat dengan
menetapkan semua sifat sempurna bagi Allah yang telah ditetapkan oleh-Nya dan
oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan
oleh ayat "Al Hamdulillah,” karena nama-nama dan sifat-sifat Allah
semuanya terpuji dan merupakan pujian bagi Allah Ta'ala.
Demikian juga menetapkan kenabian dan
kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang diambil dari ayat
"Ihdinash shiraathal mustaqiim", karena jalan yang lurus tersebut
adalah jalan yang diterangkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Karena
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Surat yang
mulia ini yang berjumlah tujuh ayat mengandung pujian dan pengagungan bagi
Allah serta sanjungan untuk-Nya dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang indah
yang menunjukkan sifat-sifat-Nya yang tinggi, menyebutkan akhirat yaitu hari
pembalasan, membimbing hamba agar meminta dan merendahkan diri kepada-Nya serta
berlepas diri dari kemampuan dan kekuatannya, mengikhlaskan ibadah hanya
kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam beribadah kepada-Nya Tabaaraka wa Ta'aala,
mensucikan-Nya dari sekutu, serupa dan sebanding, serta agar mereka meminta
kepada-Nya hidayah kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, meneguhkan
mereka di atasnya sampai melewati shirath (jembatan) yang dapat dirasakan pada
hari Kiamat yang dapat membawa mereka ke surga yang penuh kenikmatan di dekat
para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Contoh ayat-ayat yang menerangkan lebih
lanjut
Perlu diketahui, bahwa semua
isi Al Qur'an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang yang
disebutkan secara garis besar dalam
Firman Allah, "Al hamdulillahi."
diterangkan oleh
Firman Allah, "Rabbil 'aalamiin"
diterangkan oleh
Firman Allah, "Ar Rahmaanir rahiim"
diterangkan oleh
Firman Allah, "Maaliki yaumiddin."
diterangkan oleh
Firman Allah, "Iyyaaka na'budu."
diterangkan oleh surat Al Baqarah secara lebih rinci, dimana di sana
diterangkan masalah bersuci, shalat lima waktu, shalat jama'ah, shalat khauf,
shalat Ied, zakat, puasa, I'tikaf, sedekah, umrah dan haji, mu'amalah secara
Islam, warisan, wasiat, berbagai masalah pernikahan, penyusuan anak, nafkah, tentang
hukum qishas, diyat, memerangi pemberontak dan orang yang murtad, tentang
jihad, tentang makanan, sembelihan, sumpah, nadzar, peradilan (qadhaa'),
persaksian, memerdekakan budak, dsb. Semua ini merupakan bab-bab syari'at yang
diterangkan dalam
Firman Allah, "Wa iyyaka nasta'iin"
mewakili ilmu tentang akhlak.
Firman Allah, "Ihdinash shiraathal
mustaqiim," diterangkan dalam surat-surat setelahnya yang menyebutkan
jalannya para nabi dan jalan orang-orang yang menyelisihinya. wal hamdulillahi
rabbil 'aalamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar