Jumat, 05 Juni 2026

Seri (6) Surah Al Baqarah : 6-12

 

Seri (6)


 

Ayat 6-7: Menyebutkan sifat orang-orang kafir, menerangkan hakikat kekafiran, dan balasan untuk orang-orang kafir.

 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6)  

6. [1]Sesungguhnya orang-orang kafir[2], sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan[3], mereka tidak juga akan beriman[4].

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (7)  

7. Allah telah mengunci-mati hati[5] dan pendengaran mereka[6], penglihatan mereka ditutup[7]. dan bagi mereka siksa yang sammiminnngat berat[8].

 

Ayat 8-16: Menerangkan sifat orang-orang munafik, keadaan mereka, hakikat kemunafikan dan balasan untuk orang-orang munafik.

 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8)  

8. [9]Di antara manusia[10] ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman[11].

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9)  

9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman[12], padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari[13].

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)  

10. Dalam hati mereka ada penyakit[14], lalu Allah menambah penyakitnya itu[15]; mereka mendapat siksa yang pedih, karena mereka berdusta[16].

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11)  

11. [17]Dan apabila dikatakan kepada mereka[18],"Janganlah berbuat kerusakan di bumi[19].” Mereka menjawab[20], "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan[21]."

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12) 

12. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan[22], tetapi mereka tidak menyadari[23].


[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan sifat orang-orang yang beriman, maka Allah Azza wa Jalla menyebutkan sifat orang-orang kafir. Demikian yang biasa disebutkan dalam Al Qur’an, ketika menyebutkan orang-orang beriman maka dilanjutkan dengan menyebutkan orang-orang kafir agar sempurna perbandingan antara dua keadaan.

[2] Yakni orang-orang yang mengingkari apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Termasuk juga orang-orang yang kafir terhadap rukun iman yang enam (iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Kiamat, dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk).

Kata kafir berasal dari kata ‘kufr’ yang artinya menutupi, sehingga orang-orang kafir adalah orang-orang yang menutupi kebenaran.

[3] Baik engkau memperingatkan mereka dengan azab Allah atau pun tidak.

[4] Kepada mereka hanyalah ditegakkan hujjah agar mereka tidak dapat beralasan lagi di hadapan Allah Ta'ala pada hari kiamat. Oleh karena itu, janganlah engkau bersedih karenanya. Ayat ini sama seperti firman Allah dalam surat Yunus: 96-97.

Ali bin Abi Thalhah berkata, “Dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah Ta’ala, “Innalladziina kafaruu…dst.” Ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat berharap semua orang beriman dan mengikutinya dalam petunjuk, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan kepada Beliau, bahwa tidak ada yang beriman kecuali orang yang telah ditetapkan oleh Allah dahulu mendapatkan kebahagiaan di awal ketika disebutkan, dan tidak ada yang sesat kecuali orang yang telah ditetapkan oleh Allah dahulu mendapatkan kesengsaraan di awal ketika disebutkan.”

Imam Al Baghawi menerangkan, bahwa ayat di atas berkenaan dengan orang-orang yang telah ditetapkan sebagai orang-orang celaka dalam ilmu Allah sejak dahulu, dan pada ayat selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sebab mereka tidak beriman.

[5] Karena pendustaan mereka dan bersikeras di atas kekafiran.

[6] Yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehat tidak akan berbekas kepadanya disebabkan kekafiran dan kerasnya hati mereka setelah tampak kebenaran bagi mereka. Oleh karena itu, Allah tidak memberi mereka taufiq untuk mengikuti petunjuk itu.

Qatadah berkata tentang ayat ini, “Setan telah menguasai mereka karena mereka (selalu) menaatinya, maka Allah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. Penglihatan mereka juga ditutup, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat mendengar, tidak memahami dan tidak mengerti.”

Al A’masy berkata, “Mujahid memperlihatkan kepada kami telapak tangannya (untuk permisalan), ia berkata, “Mereka (generasi salaf terdahulu) memandang bahwa hati itu seperti ini,” maksudnya seperti telapak tangan. Ketika seorang hamba melakukan dosa, maka akan terlipat daripadanya, ia berbuat dengan kelingkingnya seperti ini dan berbuat seperti ini dengan jarinya yang lain sehingga jari-jari semuanya terlipat, selanjutnya ia berkata, “Lalu dicap dengan sebuah cap.” Mujahid juga berkata, “Mereka (generasi salaf terdahulu) memandang, itulah yang disebut Rain.”

Lihat pula surat Al Muthaffifin: 14, tentang Raan atau Rain.

[7] Maksudnya, mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Quran yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri. Sarana-sarana untuk memperoleh petunjuk dan kebaikan telah ditutup bagi mereka. Ini merupakan hukuman yang disegerakan dan hukuman yang akan datang kepada mereka adalah azab yang sangat pedih berupa azab neraka dan kemurkaan Allah Ta'ala di samping dibangkitkan dalam keadaan tuli dan buta. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta"—Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?--Allah berfirman, "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (Qs. Thaha: 124-126)

[8] Kedua ayat di atas (6 dan 7) menjelaskan tentang Sunnatullah (ketetapan Allah) yang Dia berlakukan kepada orang-orang yang sombong dan keras kepala setelah kebenaran tampak bagi mereka, yaitu Dia halangi mereka dari memperoleh hidayah taufiq, Dia jadikan panca indera mereka tidak berguna lagi bagi mereka sehingga mereka tidak beriman dan tidak memperoleh petunjuk. Demikian pula pada kedua ayat ini terdapat peringatan agar berhenti dari kekafiran, kezaliman, dan melakukan kerusakan, dimana itu semua mengharuskan pelakunya mendapatkan azab yang pedih.

Imam Al Baghawi berkata, “Ahlussunnah berkata, “Allah menghukumi kafir terhadap hati mereka karena pengetahuan-Nya sejak awal tentang mereka.”

[9] Ibnu Katsir menjelaskan, “Sesungguhnya turun ayat tentang sifat orang-orang munafik hanya pada surat-surat yang Madaniyyah, karena di Mekah tidak ada kemunafikan, bahkan yang ada sebaliknya, yaitu di antara manusia ada yang menampakkan kekafiran karena terpaksa padahal batinnya sebagai mukmin. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, sedangkan di sana terdapat orang-orang Anshar yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj, dimana mereka di zaman Jahiliyah menyembah patung mengikuti jalannya kaum musyrik Arab. Di sana juga terdapat orang-orang Yahudi dari kalangan Ahli Kitab yang mengikuti pendahulu mereka. Mereka (orang-orang Yahudi) terdiri dari tiga suku; Bani Qainuqa’ yang menjadi sekutu suku Khazraj, dan Bani Nadhir dan Quraizhah yang keduanya menjadi sekutu suku Aus. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah dan masuk Islam orang-orang Anshar dari suku Aus dan Khazraj, sedangkan yang masuk Islam dari kalangan Yahudi hanya Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu. Ketika itu belum ada kemunafikan, karena kaum muslimin tidak lagi mempunyai kekuatan yang perlu dikhawatirkan, bahkan Beliau mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi dan beberapa banyak suku di perkampungan Arab sekitar Madinah. Ketika terjadi perang Badar dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala memenangkan kalimat-Nya, memuliakan Islam dan para pemeluknya, maka Abdullah bin Ubay bin Salul seorang yang terkemuka di Madinah yang berasal dari suku Khazraj dan menjadi tokoh dari dua suku di zaman Jahiliyah, dimana mereka telah berniat untuk mengangkatnya sebagai raja mereka, lalu mereka didatangi kebaikan, mereka masuk ke dalam Islam dan sibuk sehingga melupakannya (Abdullah bin Ubay), maka tinggallah di hadapannya Islam dan para pemeluknya. Saat tiba perang Badar, ia pun berkata, “Ketetapan Allah ini telah datang,” maka ia menampakkan diri masuk Islam dan ikut pula bersamanya beberapa golongan yang mengikuti jalan dan pandangannya, demikian pula Ahli Kitab yang lain. Dari sini muncullah kemunafikan di penduduk Madinah dan sekelilingnya yang terdiri dari orang-orang Arab baduwi. Adapun kaum muhajirin, maka tidak ada seorang pun yang melakukan kemunafikan, karena tidak ada yang berhijrah karena dipaksa, bahkan ia berhijrah meninggalkan harta dan anaknya serta tanah airnya karena mencari apa yang ada di sisi Allah di kampung Akhirat.”

[10] Kata “An Naas” adalah bentuk jamak dari kata insan. Manusia disebut insan adalah karena ia pernah mendapatkan perintah, namun lupa terhadap perintah itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala, Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Qs. Thaahaa: 115). Perintah Allah ini tersebut dalam ayat 35 surat Al Baqarah.

[11] Mereka pada saat itu adalah orang-orang munafik dari kalangan Aus dan Khazraj dan orang-orang yang sama dengan mereka yang luarnya menampakkan keislaman, namun batinnya kafir. Oleh karena perkara mereka samar bagi sebagian besar kaum mukmin dan berbahaya bagi mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membicarakan mereka secara panjang lebar dengan menyebutkan sifat-sifatnya, dimana masing-masing sifat itu merupakan sebuah kemunafikan, sebagaimana Dia menurunkan pula ayat berkenaan dengan mereka di surat At Taubah, di surat An Nuur dan sebuah surah tentang mereka, yaitu surah Al Munafiqun. Kemunafikan mereka adalah kemunafikan besar yang terkait dengan akidah dan mengeluarkan pelakunya dari Islam. Berbeda dengan kemunafikan kecil yang terkait dengan amalan, ia tidaklah mengeluarkan pelakunya dari Islam namun menjadi wasilah/sarana yang bisa mengarah kepada kemunafikan besar, misalnya jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, jika diamanahkan berkhianat, malas beribadah, berat melaksanakan shalat berjama'ah, dsb. Di antara kelembutan Allah Ta'ala kepada kaum mukminin adalah ditampakkan-Nya kepada kaum mukminin hal-ihwal serta sifat mereka yang membedakan dengan yang lain agar kaum mukmin tidak tertipu oleh mereka. Mereka dikatakan "tidak beriman" karena iman yang sesungguhnya adalah pengakuan lisan yang dibenarkan oleh hati dan dipraktekkan oleh anggota badan, jika tidak seperti itu sama saja hendak menipu. Ayat ini sama seperti yang disebutkan di surat Al Munafiqun ayat 1.

[12] Dengan mengucapkan “Laailaahaillallah” agar darah dan harta mereka terjaga, padahal hati mereka tidak mengakuinya. Demikianlah menurut Ibnu Juraij yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

[13] Karena akibat penipuan itu kembalinya tidak kepada siapa-siapa selain kepada diri mereka sendiri. Padahal Allah akan memberitahukan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tentang kemunafikan mereka, sehingga terbuka aib mereka di dunia, dan di akhirat mereka berhak mendapatkan siksa.

Namun sayangnya karena kebodohan mereka yang sangat membuat mereka tidak menyadari bahwa akibat kemunafikan itu kembalinya kepada diri mereka sendiri. Karena bodohnya mereka, mereka menganggap bahwa pernyataan beriman dan sumpah mereka ini bermanfaat bagi mereka di sisi Allah dan dapat diterima-Nya sebagaimana pernyataan dan sumpah itu terkadang diterima oleh sebagian kaum mukmin, padahal pernyataan dan sumpah mereka itu tidak bermanfaat apa-apa sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang-orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu (di dunia); dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.” (Terj. Qs. Al Mujadilah: 18).

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.--Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) sambil berkata, "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab, "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang sangat penipu. (Terj. Qs. Al Hadid: 13-14)

Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengatakan, “Padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.”

Dalam ayat di atas terdapat peringatan terhadap dusta, kemunafikan, dan penipuan. Demikian pula menunjukkan, bahwa akibat dari penipuan itu kembalinya kepada pelakunya.

Faedah:

Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Tidak ada yang takut kepada perbuatan nifak (munafik) kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang merasa aman daripadanya kecuali orang munafik.”

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku mendapatkan 30 sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua takut jika nifak menimpa dirinya.”

Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, “Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutku termasuk golongan mereka (orang-orang munafik)?” Ia menjawab, “Tidak, dan aku tidak akan mentazkiah (menyatakan bersih) lagi seorang pun setelahmu.”

[14] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam lemah dan mereka masih ragu-ragu. Kelemahan dan keragu-raguan keyakinan itu menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, agama Islam dan kaum muslim, lalu tidak diobati sehingga Allah menambah lagi penyakit terebut.

Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat menyatakan, bahwa penyakit di ayat ini adalah  ‘Syak’ (keraguan). Pernyataan ini dikatakan juga oleh Mujahid, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’ bin Anas dan Qatadah.

Penyakit yang menimpa hati ada dua; penyakit syubhat dan penyakit syahwat. Kekafiran, kemunafikan, keraguan dan bid'ah merupakan penyakit syubhat, sedangkan kecintaan terhadap perbuatan keji dan maksiat merupakan penyakit syahwat.

Di antara obat penyakit syak atau ragu-ragu adalah:

Obat pertama, memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang memohon kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Terj. Qs. Al Mu’min: 60)

Obat kedua, bersikap adil, obyektif atau inshaf dan membuang semua sikap berat sebelah yang membuatnya tidak bersikap obyektif. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Katakanlah, "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan adil) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu berfikir.” (Qs. Saba’: 46)

Jika seseorang memperhatikan keadaan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang ummi (tidak bisa baca-tulis), namun membawa kitab yang memuat berita yang benar tentang orang-orang terdahulu, para nabi, dan membawa ajaran yang bijaksana dan benar, maka dia akan mengetahui bahwa Beliau adalah utusan Allah Azza wa Jalla, karena dari mana berita itu Beliau peroleh jika bukan dari Allah Azza wa jalla? Terlebih akhlak Beliau yang begitu mulia, yang sebelum diutus sudah dikenal sebagai Al Amin, maka tidak mungkin jika sebelumnya terkenal sebagai orang terpercaya dan jujur, kemudian berdusta terhadap Allah Azza wa Jalla.

Obat ketiga, mujahadah (usaha dan keinginan mencari kebenaran). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sunguh untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al Ankabut: 69)

Obat keempat, mengfungsikan anggota tubuh pemberian Allah yang dapat digunakan untuk membantu meraih hidayah dan kebenaran, seperti akal, pendengaran, dan penglihatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (dengan matanya).” (Terj. Qs. Qaaf: 37)

Obat kelimat, dengan melihat kebenaran Islam.

Lihat kebenaran konsep ketuhanan dalam Islam yang sejalan dengan akal dan fitrah manusia, seperti dalam surat Al Ikhlas 1-4 ini, Katakanlah, "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.--Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.--Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,--Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (Terj. Qs. Al Ikhlas: 1-4)

Demikian pula lihat kebenaran pernyataan Allah,  “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Terj. Qs. Al Hijr: 9)

Ternyata dari sejak diturunkan hingga sekarang dan seterusnya, Al Qur’an tetap terpelihara, tidak terjadi penambahan, pengurangan, dan perubahan seperti halnya yang terjadi pada kitab-kitab sebelumnya.

Lihat pula kebenaran berita Al Qur’an, misalnya tentang dikalahkannya banga Romawi oleh bangsa Persia (sebagaimana dalam Qs. Ar Ruum: 1-5), kemudian Al Qur’an menyatakan, bahwa setelah dikalahkan itu, maka bangsa Romawi akan kembali mengalahkan banga Persia, dan ternyata terjadi sesuai dengan yang disampaikan oleh Al Qur’an.

Faedah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hati ketika sakit, maka lebih suka hal yang membahayakannya dan tidak suka hal yang bermanfaat baginya." (Jami'ul Masail 1/133)

[15]  Ayat di atas menunjukkan bahwa penangguhan dari Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang zalim dan mendustakan, bukanlah karena lalai atau lemah, bahkan untuk menambahkan lagi dosa mereka sehingga hukumannya lebih besar lagi.

[16] Firman-Nya, “Yakdzibuun” (artinya: berdusta) boleh dibaca “Yukadzdzibuun” (artinya: mendustakan), yakni karena keadaan mereka adalah sebagai pendusta, demikian juga karena mereka sebagai orang-orang yang mendustakan yang gaib.

[17]  Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan keadaan batin orang-orang munafik, maka Dia melanjutkan dengan menyebutkan keadaan zhahir yang menunjukkan batin mereka, dan bahwa ketika mereka dilarang melakukan kerusakan, maka mereka mengaku mengadakan perbaikan.

[18]  Yakni ketika mereka dinasehati. Mereka di sini adalah kaum munafik. Ada pula yang mengatakan, kaum Yahudi.

[19] Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan dengan melakukan kekafiran dan kemaksiatan, menyebarkan rahasia kaum muslimin kepada musuh mereka, menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang kaum muslimin, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghias kebatilan. Intinya, bahwa mengadakan kerusakan adalah melakukan perbuatan yang tidak diridhai Allah dan membahayakan manusia, termasuk pula di zaman sekarang adalah mengajak atau menyeru kepada hal yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam seperti seruan kepada liberalisme, pluralisme, sekularisme, komunisme, kapitalisme, dsb.

Tentang firman Allah ini, “Dan apabila dikatakan kepada mereka,"Janganlah berbuat kerusakan di bumi.” Abul ‘Aliyah berkata, “Maksudnya janganlah kamu bermaksiat di bumi, dan kerusakan yang mereka lakukan adalah dengan bermaksiat kepada Allah, karena barang siapa yang bermaksiat kepada Allah di bumi atau memerintahkan kemaksiatan, maka sesungguhnya ia telah mengadakan kerusakan di bumi, karena baiknya bumi dan langit adalah dengan ketaatan.” Hal ini diungkapkan pula oleh Ar Rabii’ bin Anas dan Qatadah.

Adapun bentuk kerusakan yang dilakukan oleh kaum munafik menurut Ibnu Jarir adalah dengan bermaksiat kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang dilarang untuk dikerjakan, menyia-nyiakan kewajiban-Nya, meragukan agama-Nya yang amalan tidaklah diterima dari seseorang kecuali apabila membenarkannya dan meyakini hakikatnya, demikian juga dusta mereka kepada kaum mukmin dengan menampakkan pengakuan yang berbeda dengan pendirian mereka selama ini, yaitu syak dan keraguan, demikian juga membantu orang-orang yang mendustakan Allah, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya melawan para wali-Nya ketika mereka menemukan jalan untuk melakukannya, itulah pengrusakan kaum munafik di bumi, namun mereka mengira bahwa dengan melakukan perbuatan itu mereka mengadakan perbaikan di bumi (lihat Tafsir Ath Thabari 1/289).

Ibnu Katsir berkata, “Apa yang disampaikan beliau (Ibnu Jarir) cukup bagus, karena termasuk kerusakan di bumi adalah kaum mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali-walinya sebagaimana firman Allah Ta’ala, Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Terj. Qs. Al Anfaal: 73)

[20] Secara dusta dan bermaksud membantah.

[21] Perbuatan yang mereka lakukan itu dengan anggapan mengadakan perbaikan sesungguhnya adalah kerusakan, akan tetapi karena kebodohan dan penentangan mereka membuat mereka tidak menyadari bahwa yang demikian merupakan kerusakan. Perlu diketahui, bahwa kemaksiatan yang besar adalah kemaksiatan yang dilakukan dengan meyakini benarnya perbuatan itu dan seperti inilah keadaan mereka sehingga sangat sulit untuk rujuk, berbeda dengan kemaksiatan yang dilakukan dengan meyakini salahnya perbuatan itu, orang yang seperti ini lebih mudah untuk rujuk.

[22]  Karena tidak ada kerusakan yang paling besar daripada mengingkari ayat-ayat Allah, menghalangi manusia dari jalan-Nya, hendak menipu Allah dan para wali-Nya dan menolong orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya ditambah dengan anggapan bahwa hal itu merupakan perwujudan mengadakan perbaikan. Perbuatan maksiat dikatakan sebagai kerusakan karena rusaknya bumi diakibatkan oleh maksiat, sebaliknya bumi hanya akan menjadi baik dengan iman dan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Untuk itulah Allah menciptakan manusia dan melimpahkan rezeki kepada mereka, yakni agar mereka gunakan untuk ketaatan dan beribadah kepada-Nya, jika yang dilakukan malah kebalikannya maka sama saja berusaha merusak bumi.

Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada penduduk bumi sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah memperbaiki kondisi mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, barang siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang mengadakan kerusakan.”

Maka berbagai ideologi dan pemikiran yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah batil dan sebagai ajakan kepada kerusakan, seperti liberalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, kapitalisme, sekularisme, dan sebagainya. 

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Pendapat sudah tidak dianggap lagi ketika berhadapan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

[23] Dalam ayat di atas terdapat celaan terhadap pernyataan dusta, demikian pula menunjukkan, bahwa baiknya bumi adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, sebaliknya rusaknya bumi karena maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...