Seri (6)
Ayat 6-7: Menyebutkan sifat orang-orang
kafir, menerangkan hakikat kekafiran, dan balasan untuk orang-orang kafir.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ
أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (6)
6. [1]Sesungguhnya
orang-orang kafir[2],
sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan[3],
mereka tidak juga akan beriman[4].
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ
غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (7)
7. Allah telah mengunci-mati hati[5] dan pendengaran mereka[6],
penglihatan mereka ditutup[7].
dan bagi mereka siksa yang sammiminnngat berat[8].
Ayat 8-16: Menerangkan sifat orang-orang
munafik, keadaan mereka, hakikat kemunafikan dan balasan untuk orang-orang
munafik.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ
وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8)
8. [9]Di
antara manusia[10] ada yang berkata, "Kami beriman kepada
Allah dan hari akhir," padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang
beriman[11].
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ
وَمَا يَشْعُرُونَ (9)
9. Mereka hendak menipu Allah dan
orang-orang yang beriman[12], padahal
mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari[13].
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)
10. Dalam hati mereka ada penyakit[14],
lalu Allah menambah penyakitnya itu[15];
mereka mendapat siksa yang pedih, karena mereka berdusta[16].
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا
نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11)
11. [17]Dan
apabila dikatakan kepada mereka[18],"Janganlah
berbuat kerusakan di bumi[19].”
Mereka menjawab[20],
"Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan[21]."
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12)
[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan sifat
orang-orang yang beriman, maka Allah Azza wa Jalla menyebutkan sifat
orang-orang kafir. Demikian yang biasa disebutkan dalam Al Qur’an, ketika
menyebutkan orang-orang beriman maka dilanjutkan dengan menyebutkan orang-orang
kafir agar sempurna perbandingan antara dua keadaan.
[2] Yakni orang-orang yang mengingkari apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu. Termasuk juga orang-orang yang kafir terhadap rukun iman
yang enam (iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari Kiamat, dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk).
Kata kafir berasal dari kata ‘kufr’ yang
artinya menutupi, sehingga orang-orang kafir adalah orang-orang yang menutupi
kebenaran.
[3] Baik engkau memperingatkan mereka dengan azab Allah atau
pun tidak.
[4] Kepada mereka hanyalah ditegakkan hujjah agar mereka
tidak dapat beralasan lagi di hadapan Allah Ta'ala pada hari kiamat. Oleh
karena itu, janganlah engkau bersedih karenanya. Ayat ini sama seperti firman
Allah dalam
Ali bin Abi Thalhah berkata, “Dari Ibnu
Abbas, tentang firman Allah Ta’ala, “Innalladziina kafaruu…dst.” Ia
berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat berharap semua orang
beriman dan mengikutinya dalam petunjuk, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala
memberitahukan kepada Beliau, bahwa tidak ada yang beriman kecuali orang yang
telah ditetapkan oleh Allah dahulu mendapatkan kebahagiaan di awal ketika
disebutkan, dan tidak ada yang sesat kecuali orang yang telah ditetapkan oleh
Allah dahulu mendapatkan kesengsaraan di awal ketika disebutkan.”
Imam Al Baghawi menerangkan, bahwa ayat di
atas berkenaan dengan orang-orang yang telah ditetapkan sebagai orang-orang
celaka dalam ilmu Allah sejak dahulu, dan pada ayat selanjutnya, Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sebab mereka tidak beriman.
[5] Karena pendustaan mereka dan bersikeras di atas
kekafiran.
[6] Yakni orang itu tidak dapat
menerima petunjuk, dan segala macam nasehat tidak akan berbekas kepadanya
disebabkan kekafiran dan kerasnya hati mereka setelah tampak kebenaran bagi
mereka. Oleh karena itu, Allah tidak memberi mereka taufiq untuk mengikuti
petunjuk itu.
Qatadah berkata
tentang ayat ini, “Setan telah menguasai mereka karena mereka (selalu)
menaatinya, maka Allah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. Penglihatan
mereka juga ditutup, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat
mendengar, tidak memahami dan tidak mengerti.”
Al A’masy berkata,
“Mujahid memperlihatkan kepada kami telapak tangannya (untuk permisalan), ia
berkata, “Mereka (generasi salaf terdahulu) memandang bahwa hati itu seperti
ini,” maksudnya seperti telapak tangan. Ketika seorang hamba melakukan dosa,
maka akan terlipat daripadanya, ia berbuat dengan kelingkingnya seperti ini dan
berbuat seperti ini dengan jarinya yang lain sehingga jari-jari semuanya
terlipat, selanjutnya ia berkata, “Lalu dicap dengan sebuah cap.” Mujahid juga
berkata, “Mereka (generasi salaf terdahulu) memandang, itulah yang disebut
Rain.”
Lihat pula surat
Al Muthaffifin: 14, tentang Raan atau Rain.
[7] Maksudnya, mereka tidak
dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Quran yang mereka dengar dan
tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka
lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri. Sarana-sarana untuk memperoleh petunjuk dan kebaikan
telah ditutup bagi mereka. Ini merupakan hukuman yang disegerakan dan hukuman
yang akan datang kepada mereka adalah azab yang sangat pedih berupa azab neraka
dan kemurkaan Allah Ta'ala di samping dibangkitkan dalam keadaan tuli dan buta. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan
buta"—Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku
dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?--Allah
berfirman, "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu
melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (Qs.
Thaha: 124-126)
[8] Kedua ayat di atas (6 dan 7) menjelaskan tentang
Sunnatullah (ketetapan Allah) yang Dia berlakukan kepada orang-orang yang
sombong dan keras kepala setelah kebenaran tampak bagi mereka, yaitu Dia
halangi mereka dari memperoleh hidayah taufiq, Dia jadikan panca indera mereka
tidak berguna lagi bagi mereka sehingga mereka tidak beriman dan tidak
memperoleh petunjuk. Demikian pula pada kedua ayat ini terdapat peringatan agar
berhenti dari kekafiran, kezaliman, dan melakukan kerusakan, dimana itu semua
mengharuskan pelakunya mendapatkan azab yang pedih.
Imam Al Baghawi berkata, “Ahlussunnah
berkata, “Allah menghukumi kafir terhadap hati mereka karena pengetahuan-Nya
sejak awal tentang mereka.”
[9] Ibnu Katsir menjelaskan, “Sesungguhnya turun ayat
tentang sifat orang-orang munafik hanya pada surat-surat yang Madaniyyah,
karena di Mekah tidak ada kemunafikan, bahkan yang ada sebaliknya, yaitu di
antara manusia ada yang menampakkan kekafiran karena terpaksa padahal batinnya
sebagai mukmin. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke
Madinah, sedangkan di
[10] Kata “An Naas” adalah bentuk jamak dari kata insan.
Manusia disebut insan adalah karena ia pernah mendapatkan perintah, namun lupa
terhadap perintah itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya telah Kami
perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak
Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Qs. Thaahaa:
115). Perintah
Allah ini tersebut dalam ayat 35 surat Al Baqarah.
[11] Mereka pada saat itu adalah orang-orang munafik dari
kalangan Aus dan Khazraj dan orang-orang yang sama dengan mereka yang luarnya
menampakkan keislaman, namun batinnya kafir. Oleh karena perkara mereka samar
bagi sebagian besar kaum mukmin dan berbahaya bagi mereka, maka Allah Subhaanahu
wa Ta'aala membicarakan mereka secara panjang lebar dengan menyebutkan
sifat-sifatnya, dimana masing-masing sifat itu merupakan sebuah kemunafikan, sebagaimana
Dia menurunkan pula ayat berkenaan dengan mereka di surat At Taubah, di surat
An Nuur dan sebuah surah tentang mereka, yaitu surah Al Munafiqun. Kemunafikan mereka
adalah kemunafikan besar yang terkait dengan akidah dan mengeluarkan pelakunya
dari Islam. Berbeda dengan kemunafikan kecil yang terkait dengan amalan, ia
tidaklah mengeluarkan pelakunya dari Islam namun menjadi wasilah/sarana yang
bisa mengarah kepada kemunafikan besar, misalnya jika berbicara berdusta, jika
berjanji mengingkari, jika diamanahkan berkhianat, malas beribadah, berat
melaksanakan shalat berjama'ah, dsb. Di antara kelembutan Allah Ta'ala kepada
kaum mukminin adalah ditampakkan-Nya kepada kaum mukminin hal-ihwal serta sifat
mereka yang membedakan dengan yang lain agar kaum mukmin tidak tertipu oleh
mereka. Mereka dikatakan "tidak beriman" karena iman yang
sesungguhnya adalah pengakuan lisan yang dibenarkan oleh hati dan dipraktekkan
oleh anggota badan, jika tidak seperti itu sama saja hendak menipu. Ayat ini
sama seperti yang disebutkan di
[12] Dengan mengucapkan “Laailaahaillallah” agar darah dan
harta mereka terjaga, padahal hati mereka tidak mengakuinya. Demikianlah
menurut Ibnu Juraij yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
[13] Karena akibat penipuan itu kembalinya tidak kepada
siapa-siapa selain kepada diri mereka sendiri. Padahal Allah akan
memberitahukan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tentang
kemunafikan mereka, sehingga terbuka aib mereka di dunia, dan di akhirat mereka
berhak mendapatkan siksa.
Namun sayangnya karena kebodohan mereka yang
sangat membuat mereka tidak menyadari bahwa akibat kemunafikan itu kembalinya
kepada diri mereka sendiri. Karena bodohnya mereka, mereka menganggap bahwa
pernyataan beriman dan sumpah mereka ini bermanfaat bagi mereka di sisi Allah
dan dapat diterima-Nya sebagaimana pernyataan dan sumpah itu terkadang diterima
oleh sebagian kaum mukmin, padahal pernyataan dan sumpah mereka itu tidak
bermanfaat apa-apa sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“(Ingatlah)
hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya
(bahwa mereka bukan orang-orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu
(di dunia); dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat).
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.” (Terj. Qs. Al Mujadilah:
18).
Pada hari ketika
orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang
beriman: "Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu."
Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah
sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang
mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari
situ ada siksa.--Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) sambil
berkata, "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka
menjawab, "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu
(kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong
sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan)
yang sangat penipu. (Terj. Qs. Al Hadid: 13-14)
Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa
Ta'aala mengatakan, “Padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa
mereka sadari.”
Dalam
ayat di atas terdapat peringatan terhadap dusta, kemunafikan, dan penipuan.
Demikian pula menunjukkan, bahwa akibat dari penipuan itu kembalinya kepada
pelakunya.
Faedah:
Imam
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Tidak ada yang takut kepada
perbuatan nifak (munafik) kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang merasa aman
daripadanya kecuali orang munafik.”
Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku mendapatkan 30
sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua takut jika nifak
menimpa dirinya.”
Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya
kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, “Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah,
apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutku termasuk golongan
mereka (orang-orang munafik)?” Ia menjawab, “Tidak, dan aku tidak akan
mentazkiah (menyatakan bersih) lagi seorang pun setelahmu.”
[14] Yakni
keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
lemah dan mereka masih ragu-ragu. Kelemahan dan keragu-raguan keyakinan itu
menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, agama Islam dan kaum muslim, lalu tidak diobati sehingga Allah
menambah lagi penyakit terebut.
Ibnu
Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat menyatakan, bahwa penyakit di
ayat ini adalah ‘Syak’ (keraguan).
Pernyataan ini dikatakan juga oleh Mujahid, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Abul
‘Aliyah, Ar Rabii’ bin Anas dan Qatadah.
Penyakit yang menimpa hati ada dua; penyakit
syubhat dan penyakit syahwat. Kekafiran, kemunafikan, keraguan dan bid'ah
merupakan penyakit syubhat, sedangkan kecintaan terhadap perbuatan keji dan
maksiat merupakan penyakit syahwat.
Di antara obat penyakit syak atau ragu-ragu
adalah:
Obat
pertama,
memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan
orang yang memohon kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, "Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Terj. Qs. Al Mu’min: 60)
Obat
kedua,
bersikap adil, obyektif atau inshaf dan membuang semua sikap berat sebelah yang
membuatnya tidak bersikap obyektif. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Katakanlah, "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal
saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan adil) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu berfikir.” (Qs. Saba’: 46)
Jika
seseorang memperhatikan keadaan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang
ummi (tidak bisa baca-tulis), namun membawa kitab yang memuat berita yang benar
tentang orang-orang terdahulu, para nabi, dan membawa ajaran yang bijaksana dan
benar, maka dia akan mengetahui bahwa Beliau adalah utusan Allah Azza wa Jalla,
karena dari mana berita itu Beliau peroleh jika bukan dari Allah Azza wa jalla?
Terlebih akhlak Beliau yang begitu mulia, yang sebelum diutus sudah dikenal
sebagai Al Amin, maka tidak mungkin jika sebelumnya terkenal sebagai orang
terpercaya dan jujur, kemudian berdusta terhadap Allah Azza wa Jalla.
Obat
ketiga,
mujahadah (usaha dan keinginan mencari kebenaran). Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sunguh untuk (mencari
keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat
baik.” (Qs. Al Ankabut: 69)
Obat
keempat,
mengfungsikan anggota tubuh pemberian Allah yang dapat digunakan untuk membantu
meraih hidayah dan kebenaran, seperti akal, pendengaran, dan penglihatan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang
menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (dengan matanya).”
(Terj. Qs. Qaaf: 37)
Obat kelimat, dengan melihat kebenaran Islam.
Lihat
kebenaran konsep ketuhanan dalam Islam yang sejalan dengan akal dan fitrah
manusia, seperti dalam surat Al Ikhlas 1-4 ini, Katakanlah, "Dia-lah
Allah, yang Maha Esa.--Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu.--Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,--Dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia." (Terj. Qs. Al Ikhlas: 1-4)
Demikian
pula lihat kebenaran pernyataan Allah, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al
Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Terj. Qs. Al Hijr: 9)
Ternyata
dari sejak diturunkan hingga sekarang dan seterusnya, Al Qur’an tetap
terpelihara, tidak terjadi penambahan, pengurangan, dan perubahan seperti
halnya yang terjadi pada kitab-kitab sebelumnya.
Lihat pula kebenaran berita Al Qur’an,
misalnya tentang dikalahkannya banga Romawi oleh bangsa Persia (sebagaimana
dalam Qs. Ar Ruum: 1-5), kemudian Al Qur’an menyatakan, bahwa setelah
dikalahkan itu, maka bangsa Romawi akan kembali mengalahkan banga Persia, dan
ternyata terjadi sesuai dengan yang disampaikan oleh Al Qur’an.
Faedah:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, “Hati ketika sakit, maka lebih suka hal yang membahayakannya dan tidak
suka hal yang bermanfaat baginya." (Jami'ul Masail 1/133)
[15] Ayat di atas menunjukkan bahwa penangguhan
dari Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang zalim dan mendustakan,
bukanlah karena lalai atau lemah, bahkan untuk menambahkan lagi dosa mereka
sehingga hukumannya lebih besar lagi.
[16] Firman-Nya, “Yakdzibuun” (artinya: berdusta)
boleh dibaca “Yukadzdzibuun” (artinya: mendustakan), yakni karena
keadaan mereka adalah sebagai pendusta, demikian juga karena mereka sebagai orang-orang
yang mendustakan yang gaib.
[17] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan
keadaan batin orang-orang munafik, maka Dia melanjutkan dengan menyebutkan
keadaan zhahir yang menunjukkan batin mereka, dan bahwa ketika mereka dilarang
melakukan kerusakan, maka mereka mengaku mengadakan perbaikan.
[18] Yakni ketika mereka dinasehati. Mereka di sini
adalah kaum munafik. Ada pula yang mengatakan, kaum Yahudi.
[19] Kerusakan
yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan
dengan melakukan kekafiran dan kemaksiatan, menyebarkan rahasia kaum muslimin
kepada musuh mereka, menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang kaum
muslimin, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghias kebatilan.
Intinya, bahwa mengadakan kerusakan adalah melakukan perbuatan yang tidak
diridhai Allah dan membahayakan manusia, termasuk pula di zaman
sekarang adalah mengajak atau
menyeru kepada hal yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya
shallallahu alaihi wa sallam seperti seruan kepada liberalisme, pluralisme,
sekularisme, komunisme, kapitalisme, dsb.
Tentang
firman Allah ini, “Dan
apabila dikatakan kepada mereka,"Janganlah berbuat kerusakan di bumi.” Abul ‘Aliyah
berkata, “Maksudnya janganlah kamu bermaksiat di bumi, dan kerusakan yang
mereka lakukan adalah dengan bermaksiat kepada Allah, karena barang siapa yang
bermaksiat kepada Allah di bumi atau memerintahkan kemaksiatan, maka
sesungguhnya ia telah mengadakan kerusakan di bumi, karena baiknya bumi dan
langit adalah dengan ketaatan.” Hal ini diungkapkan pula oleh Ar Rabii’ bin
Anas dan Qatadah.
Adapun
bentuk kerusakan yang dilakukan oleh kaum munafik menurut Ibnu Jarir adalah
dengan bermaksiat kepada Allah, mengerjakan perbuatan yang dilarang untuk
dikerjakan, menyia-nyiakan kewajiban-Nya, meragukan agama-Nya yang amalan
tidaklah diterima dari seseorang kecuali apabila membenarkannya dan meyakini
hakikatnya, demikian juga dusta mereka kepada kaum mukmin dengan menampakkan
pengakuan yang berbeda dengan pendirian mereka selama ini, yaitu syak dan
keraguan, demikian juga membantu orang-orang yang mendustakan Allah,
kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya melawan para wali-Nya ketika mereka
menemukan jalan untuk melakukannya, itulah pengrusakan kaum munafik di bumi,
namun mereka mengira bahwa dengan melakukan perbuatan itu mereka mengadakan
perbaikan di bumi (lihat Tafsir Ath Thabari 1/289).
Ibnu Katsir berkata, “Apa yang disampaikan
beliau (Ibnu Jarir) cukup bagus, karena termasuk kerusakan di bumi adalah kaum
mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali-walinya sebagaimana firman
Allah Ta’ala, “Adapun orang-orang yang kafir,
sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (wahai
kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu,
niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(Terj. Qs. Al Anfaal: 73)
[20] Secara dusta dan bermaksud membantah.
[21] Perbuatan yang mereka lakukan itu dengan anggapan mengadakan
perbaikan sesungguhnya adalah kerusakan, akan tetapi karena kebodohan dan
penentangan mereka membuat mereka tidak menyadari bahwa yang demikian merupakan
kerusakan. Perlu diketahui, bahwa kemaksiatan yang besar adalah kemaksiatan
yang dilakukan dengan meyakini benarnya perbuatan itu dan seperti inilah
keadaan mereka sehingga sangat sulit untuk rujuk, berbeda dengan kemaksiatan
yang dilakukan dengan meyakini salahnya perbuatan itu, orang yang seperti ini
lebih mudah untuk rujuk.
[22] Karena tidak ada kerusakan yang paling besar
daripada mengingkari ayat-ayat Allah, menghalangi manusia dari jalan-Nya,
hendak menipu Allah dan para wali-Nya dan menolong orang-orang yang memerangi
Allah dan rasul-Nya ditambah dengan anggapan bahwa hal itu merupakan perwujudan
mengadakan perbaikan. Perbuatan maksiat dikatakan sebagai kerusakan karena
rusaknya bumi diakibatkan oleh maksiat, sebaliknya bumi hanya akan menjadi baik
dengan iman dan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Untuk itulah Allah menciptakan
manusia dan melimpahkan rezeki kepada mereka, yakni agar mereka gunakan untuk
ketaatan dan beribadah kepada-Nya, jika yang dilakukan malah kebalikannya maka
sama saja berusaha merusak bumi.
Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy rahimahullah
berkata, “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada penduduk bumi sedangkan mereka berada dalam kerusakan, maka Allah
memperbaiki kondisi mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh
karena itu, barang siapa yang mengajak untuk mengikuti selain petunjuk yang
dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia
termasuk orang-orang yang mengadakan kerusakan.”
Maka
berbagai ideologi dan pemikiran yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah batil dan sebagai ajakan kepada
kerusakan, seperti liberalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, kapitalisme,
sekularisme, dan sebagainya.
Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah
berkata, “Pendapat sudah tidak dianggap lagi ketika berhadapan dengan Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
[23] Dalam ayat di atas
terdapat celaan terhadap pernyataan dusta, demikian pula menunjukkan, bahwa
baiknya bumi adalah dengan menaati Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa
sallam, sebaliknya rusaknya bumi karena maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya
shallallahu alaihi wa sallam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar