Seri (7)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ
كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
(13)
13. Dan apabila dikatakan kepada mereka,
"Berimanlah kamu sebagaimana orang lain[1]
telah beriman." Mereka menjawab, "Apakah kami akan beriman seperti
orang-orang yang kurang akal itu beriman?" [2]
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal; tetapi
mereka tidak tahu.
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى
شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14)
14. Dan apabila mereka[3]
berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, "Kami telah
beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka[4],
mereka berkata, "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu[5], kami
hanyalah berolok-olok."
اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
(15)
15. Allah akan memperolok-olokan mereka[6]
dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan[7].
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ
تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (16)
[1] Yakni sebagaimana para
sahabat Nabi radhiyallahu 'ahum beriman (seperti yang dikatakan Ibnu Abbas,
Ibnu Mas’ud, dan lebih dari seorang sahabat lainnya, demikian pula yang
dikatakan Ar Rabii’ bin Anas dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam), dimana iman
mereka (para sahabat) tidak sekedar di lisan tetapi masuk ke hati dan diamalkan
oleh anggota badan, namun mereka membantah dengan mengatakan, "Apakah kami
akan beriman sebagaimana orang-orang yang kurang akal beriman?" Maka Allah
membantah bahwa merekalah yang kurang akal, karena hakikat kurang akal adalah
tidak mengetahui hal yang bermaslahat untuk dirinya dan mengerjakan sesuatu
yang merugikannya.
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, "Tidaklah seseorang menentang Wahyu dengan akalnya, melainkan
Allah akan rusak akalnya, sehingga ia menyampaikan pernyataan yang membuat
orang-orang berakal tertawa." (Ash Shawa'iqul Mursalah 3/1002)
[2] Ada yang berpendapat,
bahwa mereka mengucapkan kata-kata di atas adalah antara sesama mereka (kaum
munafik), lalu Allah memberitahukan pernyataan mereka itu kepada Nabi-Nya
shallallahu alaihi wa sallam dan kaum mukmin.
[3] Yakni orang-orang
munafik.
[4] Maksudnya, pemimpin-pemimpin mereka yang kafir, yang
terdiri dari tokoh agama orang-orang Yahudi, tokoh kaum musyrik, dan tokoh kaum
munafik. Ibnu Jarir berkata, “Setan-setan bagi
sesuatu maksudnya para pendurhakanya. Dan setan itu bisa dari kalangan manusia
maupun jin sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan
demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari
jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian
yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).”
(Terj. Qs. Al An’aam: 112)
[5] Yakni masih tetap di atas agamamu.
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
إنَّ شَرَّ
النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ
“Seburuk-buruk
manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika
datang ke sekelompok orang menampakkan suatu wajah, namun ketika mendatangi
sekelompok yang lain ia menampakkan wajah yang lain." (Hr. Bukhari no.
7179, Muslim no. 2526).
Bilal bin Sa'ad rahimahullah berkata,
"Janganlah engkau menjadi orang yang punya dua wajah dan dua lisan. Engkau
menampakkan hal-hal terpuji di hadapan manusia, padahal hatimu fajir (penuh
kemaksiatan). (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al Ikhlash wan Niyyah,
25).
[6] Sifat tersebut "mengolok-olok" menjadi
sifat sempurna dalam keadaan "jika menghadapi orang-orang yang melakukan
perbuatan seperti itu,” karena yang demikian menunjukkan bahwa yang memilikinya
juga memiliki kemampuan untuk membalas musuhnya dengan melakukan tindakan yang
sama atau lebih, dan sifat tersebut tentu akan menjadi sifat kekurangan dalam
keadaan selain ini. Oleh karena itu, ia
sebagai sifat bagi Allah Ta'ala namun tidak secara mutlak dan tidak menjadi
nama-Nya.
[7] Allah Ta'ala membiarkan mereka agar bertambah sesat,
bingung dan bimbang serta memberikan balasan olok-olokkan yang mereka lakukan
kepada kaum mukmin. Di antara
olok-olokkan-Nya kepada mereka (kaum munafik) adalah dengan dihiasnya perbuatan
yang menyebabkan mereka sengsara dan dihiasnya keadaan yang buruk, termasuk
olok-olokkan-Nya kepada mereka pada hari kiamat adalah dengan diberikan-Nya
kepada mereka dan kepada kaum mukmin cahaya yang tampak, ketika kaum mukmin
berjalan dengan cahayanya, tiba-tiba cahaya mereka (kaum munafik) padam
sehingga mereka dalam kegelapan lagi bingung (lihat surat Al Hadiid: 13).
Alangkah besarnya putus asa jika awalnya didahului oleh harapan yang berada di
depan mata, lalu tiba-tiba harapan itu hilang. Memang, orang-orang munafik
memperoleh manfaat dari kekafiran yang mereka sembunyikan; darah dan harta
mereka selamat, demikian juga memperoleh keamanan, namun bisa saja maut datang
menjemput sehingga yang mereka peroleh hanyalah kegelapan kubur, kegelapan
kufur, kegelapan nifak (kemunafikan) dan kegelapan maksiat sesuai jenisnya,
setelah itu adalah neraka dan neraka itulah tempat kembali yang paling buruk.
[8] Mereka membeli kekafiran dengan iman; membeli
kesesatan dengan petunjuk, sehingga mereka tidak memperoleh apa-apa, bahkan
hanya memperoleh kerugian karena tidak mendapat petunjuk dan akan membawanya
kepada neraka, yang demikian itulah kerugian yang sesungguhnya. Jika seorang
membeli uang satu dirham dengan harga satu dinar atau mengeluarkan modal untuk
usaha sejumlah sepuluh juta sisanya tinggal satu juta tanpa keuntungan sudah
dianggap rugi, lalu bagaimana dengan orang yang membeli kesesatan dengan
petunjuk, membeli kekafiran dengan keimanan dan membeli kesengsaraan dengan
kebahagiaan, alangkah ruginya perdagangan itu.
As
Suddiy meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa
orang sahabat tentang firman Allah Ta’ala, “Mereka
itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk,” bahwa
mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk. Menurut Mujahid, mereka
beriman kemudian kafir. Menurut Qatadah, mereka mencintai kesesatan daripada
petunjuk. Apa yang diungkapkan Qatadah mirip dengan ayat tentang kaum Tsamud, “Dan
adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih
menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.” (Terj. Qs. Fushshilat: 17)
Kesimpulannya,
bahwa kaum munafik berpaling dari petunjuk kepada kesesatan dan mengganti
petunjuk dengan kesesatan.
[9] Yakni perdagangan mereka rugi dan perbuatan mereka ini
tidak di atas petunjuk atau kecerdasan. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah
tentang firman Allah Ta’ala, “Maka perdagangan mereka itu tidak
beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” Ia berkata, “Sungguh,
demi Allah, kalian telah melihat mereka keluar dari petunjuk kepada kesesatan,
dari persatuan kepada perpecahan, dari keamanan kepada ketakutan, dari Sunnah
kepada bid’ah.”
Dari ayat 13-16 kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) celaan terhadap kaum munafik
dan peringatan agar tidak mengikuti jalan mereka, (2) di antara manusia ada
yang menjadi setan sebagaimana di kalangan jin, dimana mereka mengajak kepada
kekafiran dan kemaksiatan, menyeru kepada kemungkaran dan melarang perkara yang
ma’ruf, (3) menerangkan tentang hukuman Allah terhadap musuh-musuh-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar