Minggu, 07 Juni 2026

Seri 7 (Surah Al Baqarah ayat 13-16)

 

Seri (7)

 


وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ (13) 

13. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang lain[1] telah beriman." Mereka menjawab, "Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?" [2] Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal; tetapi mereka tidak tahu.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14) 

14. Dan apabila mereka[3] berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, "Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka[4], mereka berkata, "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu[5], kami hanyalah berolok-olok."

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ (15) 

15. Allah akan memperolok-olokan mereka[6] dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan[7].

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (16)  

16. Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk[8], maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk[9].


[1] Yakni sebagaimana para sahabat Nabi radhiyallahu 'ahum beriman (seperti yang dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan lebih dari seorang sahabat lainnya, demikian pula yang dikatakan Ar Rabii’ bin Anas dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam), dimana iman mereka (para sahabat) tidak sekedar di lisan tetapi masuk ke hati dan diamalkan oleh anggota badan, namun mereka membantah dengan mengatakan, "Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang yang kurang akal beriman?" Maka Allah membantah bahwa merekalah yang kurang akal, karena hakikat kurang akal adalah tidak mengetahui hal yang bermaslahat untuk dirinya dan mengerjakan sesuatu yang merugikannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Tidaklah seseorang menentang Wahyu dengan akalnya, melainkan Allah akan rusak akalnya, sehingga ia menyampaikan pernyataan yang membuat orang-orang berakal tertawa." (Ash Shawa'iqul Mursalah 3/1002)

[2] Ada yang berpendapat, bahwa mereka mengucapkan kata-kata di atas adalah antara sesama mereka (kaum munafik), lalu Allah memberitahukan pernyataan mereka itu kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam dan kaum mukmin.

[3] Yakni orang-orang munafik.

[4] Maksudnya, pemimpin-pemimpin mereka yang kafir, yang terdiri dari tokoh agama orang-orang Yahudi, tokoh kaum musyrik, dan tokoh kaum munafik. Ibnu Jarir berkata, “Setan-setan bagi sesuatu maksudnya para pendurhakanya. Dan setan itu bisa dari kalangan manusia maupun jin sebagaimana firman Allah Ta’ala, Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Terj. Qs. Al An’aam: 112)

[5] Yakni masih tetap di atas agamamu.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,  “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ

“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika datang ke sekelompok orang menampakkan suatu wajah, namun ketika mendatangi sekelompok yang lain ia menampakkan wajah yang lain." (Hr. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526).

Bilal bin Sa'ad rahimahullah berkata, "Janganlah engkau menjadi orang yang punya dua wajah dan dua lisan. Engkau menampakkan hal-hal terpuji di hadapan manusia, padahal hatimu fajir (penuh kemaksiatan). (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al Ikhlash wan Niyyah, 25).

[6]  Sifat tersebut "mengolok-olok" menjadi sifat sempurna dalam keadaan "jika menghadapi orang-orang yang melakukan perbuatan seperti itu,” karena yang demikian menunjukkan bahwa yang memilikinya juga memiliki kemampuan untuk membalas musuhnya dengan melakukan tindakan yang sama atau lebih, dan sifat tersebut tentu akan menjadi sifat kekurangan dalam keadaan selain ini. Oleh karena itu, ia sebagai sifat bagi Allah Ta'ala namun tidak secara mutlak dan tidak menjadi nama-Nya.

[7] Allah Ta'ala membiarkan mereka agar bertambah sesat, bingung dan bimbang serta memberikan balasan olok-olokkan yang mereka lakukan kepada kaum mukmin.  Di antara olok-olokkan-Nya kepada mereka (kaum munafik) adalah dengan dihiasnya perbuatan yang menyebabkan mereka sengsara dan dihiasnya keadaan yang buruk, termasuk olok-olokkan-Nya kepada mereka pada hari kiamat adalah dengan diberikan-Nya kepada mereka dan kepada kaum mukmin cahaya yang tampak, ketika kaum mukmin berjalan dengan cahayanya, tiba-tiba cahaya mereka (kaum munafik) padam sehingga mereka dalam kegelapan lagi bingung (lihat surat Al Hadiid: 13). Alangkah besarnya putus asa jika awalnya didahului oleh harapan yang berada di depan mata, lalu tiba-tiba harapan itu hilang. Memang, orang-orang munafik memperoleh manfaat dari kekafiran yang mereka sembunyikan; darah dan harta mereka selamat, demikian juga memperoleh keamanan, namun bisa saja maut datang menjemput sehingga yang mereka peroleh hanyalah kegelapan kubur, kegelapan kufur, kegelapan nifak (kemunafikan) dan kegelapan maksiat sesuai jenisnya, setelah itu adalah neraka dan neraka itulah tempat kembali yang paling buruk.

[8]  Mereka membeli kekafiran dengan iman; membeli kesesatan dengan petunjuk, sehingga mereka tidak memperoleh apa-apa, bahkan hanya memperoleh kerugian karena tidak mendapat petunjuk dan akan membawanya kepada neraka, yang demikian itulah kerugian yang sesungguhnya. Jika seorang membeli uang satu dirham dengan harga satu dinar atau mengeluarkan modal untuk usaha sejumlah sepuluh juta sisanya tinggal satu juta tanpa keuntungan sudah dianggap rugi, lalu bagaimana dengan orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli kekafiran dengan keimanan dan membeli kesengsaraan dengan kebahagiaan, alangkah ruginya perdagangan itu.

As Suddiy meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat tentang firman Allah Ta’ala, “Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk,” bahwa mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk. Menurut Mujahid, mereka beriman kemudian kafir. Menurut Qatadah, mereka mencintai kesesatan daripada petunjuk. Apa yang diungkapkan Qatadah mirip dengan ayat tentang kaum Tsamud, Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.”  (Terj. Qs. Fushshilat: 17)

Kesimpulannya, bahwa kaum munafik berpaling dari petunjuk kepada kesesatan dan mengganti petunjuk dengan kesesatan.

[9] Yakni perdagangan mereka rugi dan perbuatan mereka ini tidak di atas petunjuk atau kecerdasan. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah tentang firman Allah Ta’ala, “Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.” Ia berkata, “Sungguh, demi Allah, kalian telah melihat mereka keluar dari petunjuk kepada kesesatan, dari persatuan kepada perpecahan, dari keamanan kepada ketakutan, dari Sunnah kepada bid’ah.”

Dari ayat 13-16 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) celaan terhadap kaum munafik dan peringatan agar tidak mengikuti jalan mereka, (2) di antara manusia ada yang menjadi setan sebagaimana di kalangan jin, dimana mereka mengajak kepada kekafiran dan kemaksiatan, menyeru kepada kemungkaran dan melarang perkara yang ma’ruf, (3) menerangkan tentang hukuman Allah terhadap musuh-musuh-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...