Rabu, 09 September 2026

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

 

Seri (38)




 

Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) 

168. [1]Wahai manusia! Makanlah yang halal[2] lagi baik[3] yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan[4], sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu[5].

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (169)  

169. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat[6] dan keji[7], dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah[8].

 

 Ayat 170-171: Keadaan kaum musyrik yang taqlid (ikut-ikutan) dan tidak berbedanya mereka dengan hewan.

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (170)  

170. Dan apabila dikatakan kepada mereka[9], "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah[10]," mereka menjawab, "(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.” "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"[11].

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (171) 

171. [12]Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang meneriaki binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan saja[13]. (Mereka) tuli[14], bisu[15] dan buta[16], maka mereka tidak mengerti[17].


[1] Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, dan bahwa Dia yang sendiri menciptakan, maka Dia mulai menerangkan, bahwa Dialah yang memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya, maka Dia sebutkan sebagai pemberian karunia kepada mereka, bahwa Dia membolehkan untuk mereka memakan apa yang ada di bumi, yaitu yang dihalalkan oleh Allah lagi baik, yakni yang dipandang baik oleh jiwanya, tidak membahayakan badan dan akal, dan Dia juga melarang mereka mengikuti langkah-langkah setan, yaitu jalan dan langkah yang ditempuhnya untuk menyesatkan pengikutnya seperti mengharamkan unta bahirah, sa’ibah wasilah (lihat Qs. Al Ma’idah: 103), dan semisalnya yang telah dihiasnya kepada mereka di masa jahiliyyah sebagaimana dalam hadits ‘Iyadh bin Himar yang disebutkan dalam Shahih Muslim dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ كُلَّ مَالٍ مَنَحْتُهُ عِبَادِيْ فَهُوَ لَهُمْ حَلَالٌ – وَفِيْهِ - وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ فَجَائَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya semua harta yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal bagi mereka.” Di hadits itu juga disebutkan, “Dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, lalu mereka didatangi oleh setan dan setan menarik mereka dari agama mereka serta mengharamkan apa yang Aku halalkan kepada mereka.”(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 123)

[2] Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan mu'amalah yang haram, atau cara yang haram, dan tidak membantu perkara yang haram.

[3] Yaitu yang suci tidak bernajis, bermanfaat dan tidak membahayakan. Ada yang mengartikan ‘thayyib’ di ayat ini dengan "tidak kotor" seperti halnya bangkai, darah, daging babi, dan segala yang kotor lainnya.

Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa yang haram itu ada dua: yang haram zatnya dan yang haram karena ada sebab luar, seperti karena terkait dengan hak Allah atau hak hamba-Nya. Demikian juga bahwa hukum makan agar dapat melangsungkan kehidupan adalah wajib.

[4] Seperti menghalalkan dan mengharamkan dari pihak dirinya sendiri, segala nadzar maksiat, melakukan bid'ah, dan kemaksiatan. Termasuk juga mengkonsumsi barang-barang haram. Qatadah dan As Suddiy berpendapat bahwa semua kemaksiatan kepada Allah termasuk mengikuti langkah-langkah setan. ‘Abd bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Sumpah atau nadzar yang dilakukan pada saat marah termasuk langkah-langkah setan, dan kaffaratnya adalah kaffarat yamin.”

Dalam ayat ini terdapat peringatan agar tidak tertipu oleh tipu daya setan karena banyak cara yang dilakukannya, di samping keadaannya yang samar, dan dekatnya dengan selera hawa nafsu.

[5] Maksudnya, setan adalah musuh yang jelas bagi kita (lihat pula surat Fathir: 6 dan Al Kahfi: 50). Oleh karenanya, tidak ada yang diinginkannya selain menipu dan mencelakakan kita. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak cukup menyebutkan "jangan mengikuti langkah-langkah setan" tetapi menerangkan bahwa dia adalah musuh yang nyata bagi kita, dan tidak sampai di situ, Dia menerangkan lebih rinci apa yang diserukan setan, yaitu menyuruh berbuat jahat dan keji seperti yang disebutkan pada ayat ssetelahnya.

[6] Mencakup semua maksiat.

[7] Yaitu maksiat yang dianggap jelek sekali oleh syara', uruf (kebiasaan yang berlaku), maupun akal baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh: zina, meminum khamr, membunuh, menuduh zina, dsb.

Ada juga yang berpendapat bahwa "as suuu'" (jahat) adalah kemaksiatan yang tidak ada hadnya, sedangkan "al fahsyaa'" (keji) adalah kemaksiatan yang ada hadnya, wallahu a’lam.

[8] Termasuk mengatakan tentang Allah tanpa ilmu adalah:

-     Berkata tentang syari'at Allah tanpa ilmu (tanpa dasar dalil).

-     Berkata tentang taqdir Allah tanpa ilmu, padahal taqdir-Nya masih tersembunyi.

-     Menyifati Allah tanpa dalil.

-     Mengatakan bahwa Allah punya tandingan.

-     Mengatakan bahwa Allah menghalalkan barang ini, mengharamkan barang itu, atau memerintahkan hal ini dan melarang hal itu, ia menyatakan semua itu tanpa dalil.

-     Menafsirkan firman Allah dengan tafsir batil atau sesuai hawa nafsunya, lalu ia mengatakan "inilah maksud firman Allah ini.”

-     Dsb.

[9] Yakni orang-orang kafir atau orang-orang yang sesat.

[10] Seperti mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, menghalalkan yang baik-baik dan meninggalkan tradisi yang menyalahi ajaran agama.

[11] Ayat ini menunjukkan tercelanya sikap taqlid (ikut-ikutan) dan bahwa taqlid merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Demikian pula menunjukkan bahwa kebanyakan manusia tersesat karena tidak menggunakan akal sehatnya, ikut-ikutan dengan orang-orang yang tersesat, dan taqlid buta.

Dari ayat 168-170 kita dapat menari banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajibnya mencari yang halal dan membatasi diri dengannya meskipun kehidupannya kekurangan, (2) yang halal adalah yang Allah halalkan, sedangkan yang haram adalah yang Allah haramkan, (3) haramnya mengikuti jejak langkah setan, yaitu semua keyakinan, ucapan, atau perbuatan yang dilarang Allah, (4) wajibnya menjauhi diri dari perbuatan buruk dan keji, karena keduanya termasuk ajakan setan, (5) haramnya taqlid buta, (6) bolehnya mengikuti Ahli Ilmu dan berpegang dengan pendapat mereka jika bersandar kepada wahyu, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Faedah:

Tingkatan manusia

Tidak semua orang mampu menggali hukum sehingga berijtihad sendiri, karena yang demikian dapat membuat rusaknya syari'at dan rusaknya masyarakat. Bahkan untuk ijtihad dibutuhkan ilmu, dan dalam hal ini yang memilikinya adalah ulama. Dengan demikian ada tiga keadaan manusia dalam masalah ini, yaitu:

1. Ulama sebagai orang yang diberi ilmu dan pemahaman oleh Allah Ta'ala.

2. Penuntut ilmu, dimana ia memiliki ilmu namun belum begitu dalam sebagaimana ulama.

3. Orang awam.

Ulama berhak ijtihad, ia berhak menggali hukum dari dalil itu meskipun hasil istinbat(penggalian)nya menyelisihi yang lain. Jika ijtihadnya betul, maka ia akan memperoleh dua pahala dan jika salah maka ia memperoleh satu pahala karena niatnya mencari yang hak setelah melalui jalur-jalurnya (seperti melalui Ushul Fiqh yang dimiliknya, pengetahuannya yang luas terhadap dalil, Qawaa'id fiqhiyyah, dsb). Mereka tidak bisa disalahkan jika ijtihadnya keliru, karena "Maa 'alal muhsiniin min sabiil", yakni orang yang telah bersusah payah dengan niat yang baik untuk memperoleh yang hak tidaklah bisa disalahkan.

Penuntut ilmu, ia hendaknya ittiba' (tidak asal mengikuti tanpa mengetahui dalilnya), ia bisa berpegang dengan keumuman dalil dan kemutlakannya serta berdasarkan dalil yang sampai, akan tetapi ia tetap harus berhati-hati, jangan lupa bertanya kepada orang yang lebih alim agar tidak tergelincir. Dan jika dihadapkan perbedaan para ulama, hendaknya dipilih pendapat yang yang lebih rajih atau lebih dekat kepada kebenaran. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya…dst.” (Terj. Qs. Az Zumar: 18)

Orang awam, kewajibannya adalah bertanya kepada ulama yang dipandangnya berilmu, itulah tugasnya, Allah Ta'ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Terj. Qs. An Nahl: 43)

Mereka boleh bertaklid, namun tidak sembarangan, bahkan yang diikutinya adalah Ahli Ilmu, wallahu a’lam.

[12] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan keadaan orang-orang kafir yang tidak mau mengikuti kebenaran karena taklid (ikut-ikutan) dengan nenek moyang mereka tanpa dalil naqli maupun aqli, maka selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala membuatkan perumpamaan untuk mereka sebagaimana firman-Nya di ayat lain, “Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”(Terj. Qs. An Nahl: 60)

[13] Penyeru orang-orang kafir adalah orang-orang yang berdakwah kepada mereka, mengajak mereka beriman dan mengikuti petunjuk. Dalam ayat ini, penyeru tersebut diumpamakan seperti penggembala, sedangkan orang-orang kafir diumpamakan seperti binatang ternak yang tidak memahami kata-kata si penggembala selain mendengar suara sebagai penegak hujjah, namun mereka tidak memahaminya.

Berdasarkan ayat ini, bahwa ketika seseorang tidak menggunakan nikmat Allah Azza wa Jalla berupa akal, pendengaran, dan penglihatan membuatnya seperti orang yang tidak berakal, tuli, dan buta.

[14] Mereka tidak mendengarkan yang hak dengan pendengaran yang membuahkan pemahaman dan sikap menerima.

[15] Bisu dari mengatakan yang hak (benar).

[16] Penglihatan mereka tidak mampu melihat bukti-bukti yang jelas.

[17] Mereka tidak mengerti nasehat yang disampaikan. Inilah sebab mereka bersikap seperti itu, yakni mereka tidak memiliki akal yang sehat, dan tidak mengerti hal-hal yang bermaslahat bagi mereka padahal penyeru itu mengajak kepada keselamatan dan agar jauh dari kesengsaraan, mengajak masuk ke dalam surga, dan jauh dari neraka.

Dari ayat di atas kita juga dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) hiburan bagi para da’i saat menghadapi kaum muqallid (pelaku taqlid buta), (2) haramnya bertaklid kepada Ahli Bid’ah, (3) wajibnya menuntut ilmu syar’i agar tindakan seorang mukmin di atas ilmu, (4) tidak boleh diikuti kecuali Ahli Ilmu, karena mengikuti orang jahil juga merupakan taklid buta.

Rabu, 02 September 2026

Seri 37 (Surah Al Baqarah ayat 163-167)

 

Seri (37)




 

Ayat 163-165: Bukti dan dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah, keesaan-Nya, dan penjelasan cinta yang tinggi orang-orang mukmin kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

 

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (163)  

163. [1]Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Mahaesa[2]; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih[3] lagi Maha Penyayang.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)  

164. [4]Sesungguhnya pada penciptaan langit[5] dan bumi[6], silih bergantinya malam dan siang[7], kapal yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia[8], dan apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering)[9], dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan[10], dan perkisaran angin[11] dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi[12]; (semua itu) sungguh, (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti[13].

 

 Ayat 165-167: Keadaan kaum musyrik di dunia dan di akhirat, dan berlepasnya orang yang diikuti dengan orang yang mengikuti pada hari Kiamat.

 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ (165)  

165. [14]Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan[15], mereka mencintainya seperti mencintai Allah[16]. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah[17]. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu[18] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)[19].

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166)  

166. [20](Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya[21],  mereka melihat azab; dan (ketika) segala hubungan[22] antara mereka terputus[23].

وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (167)  

167. Dan orang-orang yang mengikuti berkata, "Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka[24], sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami[25]." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka yang menjadi penyesalan mereka[26], dan mereka tidak akan keluar dari api neraka[27].


[1] Ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun ketika kaum kafir mengatakan, "Beritahukanlah kepada kami sifat Tuhanmu!", maka turunlah ayat di atas. Setelah turun ayat di atas, mereka meminta lagi bukti, maka turunlah ayat setelahnya, yaitu ayat 164. Wallahu a'lam.

[2] Yakni Dia Mahaesa baik pada Dzat-Nya, nama-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Tidak ada yang sebanding atau sama dengan-Nya dan tidak ada pencipta dan pengatur selain-Nya. Oleh karena itu, Dialah yang berhak diibadahi dan ditujukan berbagai bentuk ibadah serta tidak boleh disekutukan dengan sesuatu apa pun.

[3] Yang memiliki sifat rahmah (kasih-sayang) yang besar, mengena kepada segala sesuatu. Dengan rahmat-Nya, makhluk-makhluk terwujud, dengan rahmat-Nya tercapai berbagai kesempurnaan, dengan rahmat-Nya terhindar bencana, dengan rahmat-Nya Dia memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya baik dengan sifat maupun nikmat-Nya, dan dengan rahmat-Nya Dia menerangkan kepada makhluk segala yang mereka butuhkan yang memberi maslahat bagi agama dan dunia mereka, yaitu dengan mengutus para rasul dan  menurunkan kitab-kitab. Demikian juga Dia rahiim (sayang) kepada kaum mukmin.

Apabila seorang hamba mengetahui bahwa nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah, dan bahwa seorang makhluk pada hakikatnya tidak memberikan manfaat kepada yang lain, tentu dia akan mengetahui bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah serta ditujukan berbagai bentuk ibadah, dan merupakan kezaliman yang paling besar adalah jika sampai beribadah kepada makhluk.

Di dalam ayat ini terdapat penetapan keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan keberhakan-Nya untuk diibadahi, juga menerangkan bukti utamanya yaitu sifat rahmat-Nya, dimana atsar/pengaruh dari sifat itu terwujud berbagai jenis kenikmatan dan terhindar berbagai malapetaka. Sifat rahmat-Nya  merupakan dalil secara ijmal (garis besar) yang menunjukkan keesaan-Nya. Kemudian di ayat selanjutnya disebutkan dalil tentang keesaan-Nya secara rinci.

Abu Dawud meriwayatkan dari Asma’ binti Yazid, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ { وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ } وَفَاتِحَةِ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ { الم اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }

“Nama Allah yang agung ada pada kedua ayat ini,

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Baqarah: 163)

dan awal surat Ali Imran,

“Alif Laam Miim--Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (Qs. Ali Imran: 1-2). (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud dan Shahihul Jami’ no.980. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

[4] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang keesaan-Nya, maka di ayat ini Dia menyebutkan dalil yang menunjukkan keesaan-Nya.

[5] Seperti tinggi dan luasnya langit, tidak ada celah di sana, serta tampak hal-hal yang menakjubkan di sana, ada matahari, bulan, bintang dan diaturnya sedemikian rupa untuk maslahat manusia.

[6] Seperti pada gunung-gunungnya, daratan, lautan, dan lain-lain. Di sana terdapat dalil tentang keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam mencipta dan mengatur, demikian juga menunjukkan kemahakuasaan Allah, hikmah (kebijaksanaan)-Nya, dimana dengan hikmah tersebut semuanya tersusun rapi dan indah. Menunjukkan pula pengetahuan dan rahmat-Nya yang luas dimana Dia telah menyiapkan di bumi itu segala yang dibutuhkan makhluk yang tinggal di sana. Hal ini menunjukkan juga kesempurnaan Allah Azza wa Jalla dan keberhakan-Nya untuk diibadahi.

[7] Termasuk adanya panas, dingin, dan keadaan sedang antara panas dan dingin, adanya cahaya dan adanya kegelapan, dan lain-lain, dimana dengan adanya pergantian itu terdapat maslahat yang banyak bagi manusia, hewan dan makhluk yang tinggal di bumi, termasuk pepohonan. Semua itu berjalan dengan teratur, rapi dan mengagumkan. Di sana terdapat dalil kemahakuasaan Allah, ilmu-Nya yang meliputi, hikmah-Nya yang dalam, rahmat-Nya yang luas, menunjukkan kebesaran-Nya dan kebesaran kerajaan dan kekuasaan-Nya. Ini semua menghendaki agar kita hanya beribadah kepada-Nya saja, mencintai-Nya dan mengagungkan-Nya serta mengarahkan rasa takut dan harap kepada-Nya juga berusaha menggapai kecintaan dan keridhaan-Nya.

[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga menundukkan laut dan angin untuk kapal tersebut, bahkan Dia pula yang memberi ilham kepada manusia cara membuat kapal sehingga dengan kapal itu manusia dapat dengan mudah memindahkan barang ke tempat yang jauh. Tanpa pertolongan Allah, tentu manusia tidak akan mampu, bagaimana mungkin akan mampu, padahal dia lahir dari perut ibunya dengan tidak mengenal apa-apa, lalu Allah memberikan kemampuan kepadanya dan mengajarkan apa yang dikehendaki-Nya. Hal ini merupakan bukti kasih sayang Allah dan perhatian-Nya kepada makhluk, dimana semua itu menghendaki agar kita mencintai-Nya, mengarahkan rasa takut dan harap kepada-Nya, mengarahkan kepada-Nya semua ketaatan, ibadah, sikap tunduk, dan pengagungan.

[9] Dari hujan yang diturunkan-Nya tumbuh berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang dibutuhkan manusia. Hal ini pun sama, menunjukkan kekuasaan Allah, rahmat dan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, Dia mengurus semua kebutuhan makhluk-Nya, dan menunjukkan butuhnya makhluk kepada-Nya dari berbagai sisi. Bukankah semua itu menunjukkan agar Dia saja yang disembah oleh mereka, dan bukankah hal itu menunjukkan pula bahwa Dia mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memberikan balasan terhadap amal mereka?!

[10] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebarkan di bumi berbagai jenis binatang dengan berbagai bentuknya, warnanya, ukurannya, dan manfaatnya. Hal ini juga menunjukkan kekuasaan-Nya, kebesaran-Nya, keesaan-Nya dan kerajaan-Nya yang besar. Dia menundukkan hewan-hewan itu untuk manusia sehingga mereka bisa memanfaatkannya. Ada di antara hewan itu yang mereka makan, mereka minum susunya, ada yang mereka tunggangi dan membantu maslahat mereka. Selain disebarkan-Nya berbagai jenis binatang untuk maslahat manusia, Dia pula yang menanggung rezekinya. Tidak ada satu hewan pun kecuali atas tanggungan Allah-lah rezeki-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Terj. Qs. Hud: 6)

[11] Yakni pengarahan angin ke beberapa arah seperti ke utara dan selatan. Ada angin yang panas dan ada angin yang dingin, ada yang menggiring awan ke tempat tertentu yang nantinya akan turun hujan, dan ada yang menerbangkan benih tumbuhan sehingga tumbuh lagi pohon yang baru. Siapakah yang mengarahkan angin tersebut dan menyimpankan di dalamnya berbagai manfaat bagi manusia kalau bukan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang Mahabijaksana lagi Maha Penyayang dan Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya?!

Bukankah termasuk hal yang sangat tidak pantas dan tidak masuk akal jika manusia bersenang-senang dengan rezeki yang diberikan-Nya dan hidup dengan ihsan dari-Nya, namun mereka malah menggunakan semua itu untuk mengerjakan maksiat dan hal-hal hal yang dimurkai-Nya? Dan bukankah hal ini menunjukkan hilm(santun), sabar, pemaaf dan lembut sekali Tuhannya?!

Oleh karena itu, segala puji bagi Allah awal dan akhir, zhahir maupun batin. Al Hasil, apabila orang yang berakal memikirkan lebih lanjut makhluk ciptaan-Nya, tentu Dia akan mengetahui bahwa makhluk itu diciptakan untuk yang hak dan dengan alasan yang hak, sekaligus sebagai bukti dan saksi nyata terhadap kebenaran apa yang Allah sampaikan tentang keesaan-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampaikan tentang hari akhir, dan bahwa semua makhluk tersebut ditundukkan oleh-Nya. Dari sini kita juga mengetahui bahwa alam langit maupun alam bumi semuanya butuh dan bergantung kepada-Nya, sedangkan Dia Maha Kaya tidak memerlukan apa-apa terhadap alam semesta, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.

[12] Awan itu dikendalikan dan diarahkan ke tempat atau daerah yang dikehendaki Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[13] Yakni dengan akal, mereka bisa mengerti bahwa pada semua itu terdapat tanda-tanda keesaan Allah, keberhakan-Nya untuk diibadahi, besarnya kekuasaan Allah, tanda-tanda rahmat(kasih sayang)-Nya dan mereka dapat mengenal sifat-sifat-Nya. Lihat pula surat Ali Imran: 190-191.

[14] Ayat ini dengan ayat sebelumnya terkait, ayat sebelumnya menerangkan tentang bukti-bukti keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala di alam semesta, dimana bukti tersebut membuahkan ilmu yang yakin akan kebenaran keesaan Allah. Namun anehnya, masih saja ada di antara manusia yang menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala, padahal jelas sekali bukti keesaan-Nya.

Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan kaum musyrik di dunia dan keadaan mereka di akhirat, dimana mereka ketika di dunia mengadakan tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala; mereka menyembah dan mencintainya seperti mencintai Allah, padahal Allah Mahaesa, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, Dia tidak memiliki tandingan dan sekutu. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ

Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Dosa apa yang lebih besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Engkau mengadakan tandingan bagi Allah, padahal Dia menciptakanmu.” Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya hal itu benar-benar besar. Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda, “Kamu membunuh anakmu karena kamu takut ia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau bersabda, “Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”

[15] Tandingan dalam mengarahkan ibadah, bukan tandingan dalam menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur, karena mereka (tandingan-tandingan) itu tidak bisa apa-apa, mereka sendiri dicipta dan lemah. Makhluk tidaklah sebanding dengan Pencipta, Allah yang memberikan rezeki, sedangkan selain-Nya diberi rezeki, Allah Yang Maha Kaya, sedangkan selain-Nya butuh kepada-Nya, Dia Maha Sempurna dari berbagai sisi, sedangkan selain-Nya memiliki kekurangan dari berbagai sisi. Allah yang memberikan manfaat dan madharat, ssedangkan selain-Nya tidak berkuasa apa-apa. Dengan demikian, batil sekali orang yang mengadakan tandingan bagi Allah, baik tandingan itu berupa malaikat, nabi, orang saleh, berhala, dsb. Allah-lah yang berhak dicintai secara sempurna dan disikapi dengan sikap tunduk menghinakan diri secara sempurna.

[16] Mereka menyembah dan mengagungkan tandingan tersebut serta mencintainya seperti halnya menyembah Allah, mengagungkan-Nya, dan mencintai-Nya. Jika seperti ini keadaannya, yakni hujjah tentang keesaan Allah dan bukti telah tegak maka orang tersebut adalah penentang Allah, berpaling dari memikirkan ayat-ayat-Nya baik pada dalil yang disampaikan maupun pada alam semesta. Ia tidak lagi memiliki udzur sehingga pantas untuk mendapat siksa.

[17] Melebihi cinta orang-orang musyrik kepada sesembahan mereka selain Allah. Hal itu, karena orang-orang mukmin mengikhlaskan cinta kepada-Nya, sedangkan orang-orang musyrik menyekutukan-Nya. Mereka (orang-orang mukmin) mencintai Tuhan yang berhak dicintai, dimana mencintai-Nya adalah sumber kebaikan dan kebahagiaan seorang hamba. Sebaliknya, orang-orang musyrik mencintai sesuatu yang tidak berhak dicintai, jelas sekali mencintainya merupakan sumber celaka seorang hamba dan penyebab rusak kehidupannya.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Barang siapa yang temannya adalah Allah di tengah kesendirian ketika di dunia, maka diharapkan akan menjadi temannya nanti di kegelapan liang lahat ketika berpisah dengan dunia."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada kesenangan dan kenikmatan yang sempurna di hati kecuali dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal yang dicintai-Nya. Tidak sempurna kecintaan kepada Allah kecuali dengan berpaling dari semua yang dicintai selain-Nya, dan inilah hakikat Laailaahaillallah.” (Majmu Fatawa 28/32)

Shiddiq Hasan Khan rahimahullah berkata, “Kecintaan kepada Allah apabila menancap dalam hati dan menguasainya, maka tidak menggerakkan anggota badan kecuali untuk hal-hal yang diridhai Allah. Ketika itulah jiwa tenang dengan keingan Rabbnya daripada memperturutkan keinginan dan hawa nafsunya.”

Ia juga berkata, “Barang siapa yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah, maka tidak ada ruang untuk keinginan jiwa dan nafsunya.” (Ad Dinul Khalish 1/167).

Ibnu Utsaimin berkata, "Beberapa perkara yang membantu untuk Istiqamah melakukan amal saleh, di antaranya dan merupakan perkara yang paling utama adalah mencintai Allah subhanahu wa ta'ala dan mengagungkan-Nya. Apabila hati telah dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan mengagungkan-Nya, maka dia akan senang menaati Allah subhanahu wa ta'ala dan akan menjauhi maksiat kepada-Nya. Oleh karena itu, dengan cinta kepada Allah maka terwujud ketaatan dan melaksanakan perintah-Nya, dan dengan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala maka terwujudlah menjauhi maksiat dan dosa-dosa." (Fatawa Su'al alal Hatif juz 1 hal. 57)

[18] Orang yang zalim di sini adalah orang-orang yang menyembah selain Allah atau orang-orang musyrik. Maksudnya, ketika orang yang zalim tersebut melihat sesembahan mereka tidak memberikan manfaat sama sekali pada hari Kiamat, mereka pasti akan mengetahui secara jelas kelemahan berhala dan apa yang mereka sembah selain Allah, dan meyakini bahwa seluruh kekuatan hanya milik Allah. Tidak seperti ketika di dunia, mereka (orang-orang musyrik) menyangka bahwa sesembahan mereka memiliki kekuatan dan kemampuan, padahal sesembahan itu tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi sampai menyelamatkan mereka dari siksa Allah pada hari Kiamat.

[19] Dan tentu mereka tidak akan mengadakan tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala ketika di dunia.

[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang keadaan mereka nanti pada hari Kiamat, yaitu sikap mengingkari dengan keras sesembahan-sesembahan yang dulu mereka sembah di dunia, dan bagaimana pengikut akan berlepas diri dari orang yang diikuti.

[21] Hal ini terjadi pada hari kiamat ketika Allah mengumpulkan antara para pemimpin dan para pengikut, lalu mereka saling berlepas tangan. Para pemimpin tidak mau bertanggung jawab terhadap tindakan mereka mengajak kepada kesesatan sehingga para pengikut marah dan kesal serta mengungkapkan kata-kata sebagaimana yang disebutkan pada ayat selanjutnya.

[22] Yakni hubungan yang terjalin selama di dunia mereka terputus, bahkan teman akrab menjadi musuh (lihat Qs. Az Zukhruf: 67), demikian pula hubungan kasih-sayang. Hal ini, karena hubungan mereka di dunia tidak dibangun karena Allah, tetapi karena sesuatu yang batil yang tidak ada hakikatnya dan ketika hal itu tampak jelas bahwa orang-orang yang mereka ikuti dalam keadaan dusta, perbuatan yang sebelumnya mereka kira dapat diharapkan manfaat ternyata hasilnya sia-sia, berubah menjadi penyesalan, mereka akan masuk ke dalam neraka lagi kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. Sebagian mufassir ada yang mengartikan "asbaab" di ayat tersebut dengan sebab untuk meloloskan diri, yakni segala sebab dan upaya untuk meloloskan diri terputus.

Hal itu disebabkan karena yang mereka ikuti adalah hal yang batil, mereka mengerjakan amalan yang batil, berharap kepada sesuatu yang tidak bisa diharap serta bergantung kepada tempat yang tidak bisa dipakai bergantung (seperti berhala dan sesembahan lainnya selain Allah), sehingga amal mereka sia-sia dan terjadilah penyesalan karena apa yang diharapkan ternyata tidak bisa diharap. Berbeda dengan orang yang bergantung kepada Allah, mengikhlaskan amalan karena-Nya dan mengharap manfaatnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sehingga amalnya adalah hak karena bergantung kepada yang hak, ia akan memperoleh hasil dari amalnya dan mendapatkan balasan di sisi Tuhannya (lihat surat Muhammad: 1-2).

[23] Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari Kiamat semua hubungan terputus, kekasih berlepas diri dari orang yang dikasihi, dan tidak tersisa selain yang dilakukan karena Allah Azza wa Jalla.

[24] Baik berlepas diri dari diri mereka (para pemimpin) maupun sesembahan yang mereka sembah selain Allah, dan mereka akan beribadah kepada Allah saja.

Para malaikat yang disembah oleh sebagian mereka akan berlepas diri dan berkata, “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".(Terj. Qs. Saba’: 41)

Demikian pula jin yang pernah mereka sembah, ia juga akan berlepas diri dari para penyembahnya (Lihat surat Al Ahqaaf: 5-6, Maryam: 81-82, Al ‘Ankabut: 25, Ibrahim: 22, dan Saba’: 32-33).

[25] Ketika itu, orang-orang yang mengikuti berangan-angan agar kembali ke dunia, lalu mereka berlepas tangan dengan orang yang mereka ikuti, seperti tidak mau mengikuti syirik yang dilakukan mereka, mengikhlaskan amalan karena Allah, namun hal itu mustahil, saat itu bukanlah waktu pemberian tangguh, di samping itu mereka juga berdusta dalam pernyataan ini. Kalau pun mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan mengulangi perbuatan yang dahulu mereka dilarang melakukannya (lihat surat Al An’aam: 28). Permintaan mereka hanyalah ucapan dan angan-angan semata karena marah dan kesal kepada orang-orang yang mereka ikuti. Tokoh utama yang mereka ikuti dalam keburukan adalah Iblis, namun Iblis tidak mau bertanggung jawab, bahkan menurutnya bahwa dirinya tidak berkuasa apa-apa selain hanya bisa mengajak sehingga menurutnya ia tidak bisa disalahkan (lihat surat Ibrahim: 22). Kemudian tokoh-tokoh yang mereka ikuti dalam keburukan lainnya yang juga sama tidak mau bertanggung jawab, ketika itu terjadi laknat-melaknat, masing-masing mendoakan keburukan kepada yang lain dan menampakkan kekecewaan (lihat surat Al A'raaf: 38-39).

[26] Amal saleh yang mereka kerjakan juga menjadi sia-sia, dijadikan sebagai debu yang berhamburan serta seperti fatamorgana, lihat surat Al Furqan: 23, Ibrahim: 18, dan surat An Nuur: 39.

[27] Dari ayat 165-167 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajibnya mencintai Allah dan mencintai semua yang dicintai-Nya, (2) cinta terbagi dua: pertama, cinta yang menjadi ibadah, yaitu yang di dalamnya terdapat sikap tunduk dan menghinakan diri disertai cinta, dimana hati seseorang dipenuhi cinta dan pengagungan yang membuatnya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka hal ini tidak diperuntukkan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla, kedua, cinta karena tabiat, seperti cinta terhadap makanan dan minuman serta berbagai kenikmatan, maka dalam hal ini harus sederhana dan tidak berlebihan, dan sebaik-baik cinta adalah ketika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla, (3) pada hari Kiamat semua hubungan terputus baik hubungan pertemanan maupun hubungan nasab, yang ada hanyalah hubungan keimanan dan persaudaraan di atasnya, dan (4) berlepas dirinya para pemimpin kaum musyrik dan penyeru kesesatan dari para pengikutnya.

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...