Seri (37)
Ayat
163-165: Bukti dan dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah, keesaan-Nya, dan
penjelasan cinta yang tinggi orang-orang mukmin kepada Allah Subhaanahu wa
Ta'aala.
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (163)
163. [1]Dan
Tuhanmu adalah Tuhan yang Mahaesa[2];
tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih[3]
lagi Maha Penyayang.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ
فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)
164. [4]Sesungguhnya
pada penciptaan langit[5]
dan bumi[6],
silih bergantinya malam dan siang[7], kapal
yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia[8], dan
apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkan-Nya
bumi setelah mati (kering)[9],
dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan[10],
dan perkisaran angin[11]
dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi[12]; (semua
itu) sungguh, (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi orang-orang
yang mengerti[13].
Ayat 165-167: Keadaan kaum musyrik di dunia
dan di akhirat, dan berlepasnya
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ
كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ
ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ
شَدِيدُ الْعَذَابِ (165)
165. [14]Dan
di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan[15],
mereka mencintainya seperti mencintai Allah[16].
Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah[17].
Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu[18]
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya
milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)[19].
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا
الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166)
166. [20](Yaitu)
ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya[21], mereka melihat azab; dan (ketika) segala
hubungan[22]
antara mereka terputus[23].
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ
مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ
عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (167)
[1]
[2] Yakni Dia Mahaesa baik pada Dzat-Nya, nama-Nya,
sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Tidak ada yang sebanding atau sama dengan-Nya dan
tidak ada pencipta dan pengatur selain-Nya. Oleh karena itu, Dialah yang berhak
diibadahi dan ditujukan berbagai bentuk ibadah serta tidak boleh disekutukan
dengan sesuatu apa pun.
[3] Yang memiliki sifat rahmah (kasih-sayang) yang besar,
mengena kepada segala sesuatu. Dengan rahmat-Nya, makhluk-makhluk terwujud,
dengan rahmat-Nya tercapai berbagai kesempurnaan, dengan rahmat-Nya terhindar
bencana, dengan rahmat-Nya Dia memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya
baik dengan sifat maupun nikmat-Nya, dan dengan rahmat-Nya Dia menerangkan
kepada makhluk segala yang mereka butuhkan yang memberi maslahat bagi agama dan
dunia mereka, yaitu dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Demikian juga Dia
rahiim (sayang) kepada kaum mukmin.
Apabila seorang hamba mengetahui bahwa
nikmat yang ia peroleh berasal dari Allah, dan bahwa seorang makhluk pada
hakikatnya tidak memberikan manfaat kepada yang lain, tentu dia akan mengetahui
bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah serta ditujukan berbagai bentuk
ibadah, dan merupakan kezaliman yang paling besar adalah jika sampai beribadah
kepada makhluk.
Di dalam ayat ini terdapat penetapan keesaan
Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan keberhakan-Nya untuk diibadahi, juga
menerangkan bukti utamanya yaitu sifat rahmat-Nya, dimana atsar/pengaruh dari
sifat itu terwujud berbagai jenis kenikmatan dan terhindar berbagai malapetaka.
Sifat rahmat-Nya merupakan dalil secara
ijmal (garis besar) yang menunjukkan keesaan-Nya. Kemudian di ayat selanjutnya
disebutkan dalil tentang keesaan-Nya secara rinci.
Abu Dawud meriwayatkan dari Asma’ binti
Yazid, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ { وَإِلَهُكُمْ
إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ } وَفَاتِحَةِ سُورَةِ
آلِ عِمْرَانَ { الم اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }
“Nama
Allah yang agung ada pada kedua ayat ini,
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahaesa; tidak ada
Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
(Qs. Al Baqarah: 163)
dan
awal surat Ali Imran,
“Alif
Laam Miim--Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang
hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (Qs. Ali Imran: 1-2). (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shahih Abi Dawud dan Shahihul Jami’ no.980. Hadits ini diriwayatkan
pula oleh Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
[4] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang
keesaan-Nya, maka di ayat ini Dia menyebutkan dalil yang menunjukkan
keesaan-Nya.
[5] Seperti tinggi dan luasnya langit, tidak ada celah di
sana, serta tampak hal-hal yang menakjubkan di
[6] Seperti pada gunung-gunungnya, daratan, lautan, dan
lain-lain. Di
[7] Termasuk adanya panas, dingin, dan keadaan sedang
antara panas dan dingin, adanya cahaya dan adanya kegelapan, dan lain-lain, dimana
dengan adanya pergantian itu terdapat maslahat yang banyak bagi manusia, hewan
dan makhluk yang tinggal di bumi, termasuk pepohonan. Semua itu berjalan dengan
teratur, rapi dan mengagumkan. Di
[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga menundukkan laut dan
angin untuk kapal tersebut, bahkan Dia pula yang memberi ilham kepada manusia
cara membuat kapal sehingga dengan kapal itu manusia dapat dengan mudah memindahkan
barang ke tempat yang jauh. Tanpa pertolongan Allah, tentu manusia tidak akan
mampu, bagaimana mungkin akan mampu, padahal dia lahir dari perut ibunya dengan
tidak mengenal apa-apa, lalu Allah memberikan kemampuan kepadanya dan
mengajarkan apa yang dikehendaki-Nya. Hal ini merupakan bukti kasih sayang
Allah dan perhatian-Nya kepada makhluk, dimana semua itu menghendaki agar kita
mencintai-Nya, mengarahkan rasa takut dan harap kepada-Nya, mengarahkan
kepada-Nya semua ketaatan, ibadah, sikap tunduk,
dan pengagungan.
[9] Dari hujan yang diturunkan-Nya tumbuh berbagai jenis
tumbuh-tumbuhan yang dibutuhkan manusia. Hal ini pun sama, menunjukkan
kekuasaan Allah, rahmat dan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, Dia mengurus
semua kebutuhan makhluk-Nya, dan menunjukkan butuhnya makhluk kepada-Nya dari
berbagai sisi. Bukankah semua itu menunjukkan agar Dia saja yang disembah oleh
mereka, dan bukankah hal itu menunjukkan pula bahwa Dia mampu menghidupkan
orang-orang yang telah mati dan memberikan balasan terhadap amal mereka?!
[10] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebarkan di bumi
berbagai jenis binatang dengan berbagai bentuknya, warnanya, ukurannya, dan
manfaatnya. Hal ini juga menunjukkan kekuasaan-Nya, kebesaran-Nya, keesaan-Nya
dan kerajaan-Nya yang besar. Dia menundukkan hewan-hewan itu untuk manusia
sehingga mereka bisa memanfaatkannya.
[11] Yakni pengarahan angin ke beberapa arah seperti ke
utara dan selatan.
Bukankah termasuk hal yang sangat tidak
pantas dan tidak masuk akal jika manusia bersenang-senang dengan rezeki yang
diberikan-Nya dan hidup dengan ihsan dari-Nya, namun mereka malah menggunakan
semua itu untuk mengerjakan maksiat dan hal-hal hal yang dimurkai-Nya? Dan
bukankah hal ini menunjukkan hilm(santun), sabar, pemaaf dan lembut sekali
Tuhannya?!
Oleh karena itu, segala puji bagi Allah awal
dan akhir, zhahir maupun batin. Al Hasil, apabila orang yang berakal
memikirkan lebih lanjut makhluk ciptaan-Nya, tentu Dia akan mengetahui bahwa
makhluk itu diciptakan untuk yang hak dan dengan alasan yang hak, sekaligus
sebagai bukti dan saksi nyata terhadap kebenaran apa yang Allah sampaikan
tentang keesaan-Nya dan apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
sampaikan tentang hari akhir, dan bahwa semua makhluk tersebut ditundukkan
oleh-Nya. Dari sini kita juga mengetahui bahwa alam langit maupun alam bumi
semuanya butuh dan bergantung kepada-Nya, sedangkan Dia Maha Kaya tidak
memerlukan apa-apa terhadap alam semesta, tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Dia.
[12] Awan itu dikendalikan dan diarahkan ke tempat atau
daerah yang dikehendaki Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[13] Yakni dengan akal, mereka bisa mengerti bahwa pada
semua itu terdapat tanda-tanda keesaan Allah, keberhakan-Nya untuk diibadahi,
besarnya kekuasaan Allah, tanda-tanda rahmat(kasih sayang)-Nya dan mereka dapat
mengenal sifat-sifat-Nya. Lihat pula surat Ali Imran: 190-191.
[14] Ayat ini dengan ayat sebelumnya terkait, ayat
sebelumnya menerangkan tentang bukti-bukti keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala
di alam semesta, dimana bukti tersebut membuahkan ilmu yang yakin akan
kebenaran keesaan Allah. Namun anehnya, masih saja ada di antara manusia yang
menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala, padahal
jelas sekali bukti keesaan-Nya.
Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala
menyebutkan keadaan kaum musyrik di dunia dan keadaan mereka di akhirat, dimana
mereka ketika di dunia mengadakan tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala;
mereka menyembah dan mencintainya seperti mencintai Allah, padahal Allah
Mahaesa, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, Dia tidak memiliki
tandingan dan sekutu. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ
اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ
قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ
ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
Dari Abdullah (bin Mas’ud) ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
“Dosa apa yang lebih besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Engkau mengadakan
tandingan bagi Allah, padahal Dia menciptakanmu.” Aku bertanya lagi,
“Sesungguhnya hal itu benar-benar besar. Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda,
“Kamu membunuh anakmu karena kamu takut ia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi,
“Kemudian apa?” Beliau bersabda, “Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”
[15] Tandingan dalam mengarahkan ibadah, bukan tandingan
dalam menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur, karena mereka
(tandingan-tandingan) itu tidak bisa apa-apa, mereka sendiri dicipta dan lemah.
Makhluk tidaklah sebanding dengan Pencipta, Allah yang memberikan rezeki,
sedangkan selain-Nya diberi rezeki, Allah Yang Maha Kaya, sedangkan selain-Nya
butuh kepada-Nya, Dia Maha Sempurna dari berbagai sisi, sedangkan selain-Nya
memiliki kekurangan dari berbagai sisi. Allah yang memberikan manfaat dan
madharat, ssedangkan selain-Nya tidak berkuasa apa-apa. Dengan demikian, batil
sekali orang yang mengadakan tandingan bagi Allah, baik tandingan itu berupa
malaikat, nabi, orang saleh, berhala, dsb. Allah-lah yang berhak dicintai
secara sempurna dan disikapi dengan sikap tunduk menghinakan diri secara
sempurna.
[16] Mereka menyembah dan mengagungkan tandingan tersebut
serta mencintainya seperti halnya menyembah Allah, mengagungkan-Nya, dan
mencintai-Nya. Jika seperti ini keadaannya, yakni hujjah tentang keesaan Allah
dan bukti telah tegak maka orang tersebut adalah penentang Allah, berpaling
dari memikirkan ayat-ayat-Nya baik pada dalil yang disampaikan maupun pada alam
semesta. Ia tidak lagi memiliki udzur sehingga pantas untuk mendapat siksa.
[17] Melebihi cinta orang-orang musyrik kepada sesembahan
mereka selain Allah. Hal itu, karena orang-orang mukmin mengikhlaskan cinta
kepada-Nya, sedangkan orang-orang musyrik menyekutukan-Nya. Mereka (orang-orang
mukmin) mencintai Tuhan yang berhak dicintai, dimana mencintai-Nya adalah
sumber kebaikan dan kebahagiaan seorang hamba. Sebaliknya, orang-orang musyrik
mencintai sesuatu yang tidak berhak dicintai, jelas sekali mencintainya
merupakan sumber celaka seorang hamba dan penyebab rusak kehidupannya.
Ibnu Rajab rahimahullah
berkata, “Barang siapa yang temannya adalah Allah di tengah kesendirian ketika
di dunia, maka diharapkan akan menjadi temannya nanti di kegelapan liang lahat
ketika berpisah dengan dunia."
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada kesenangan dan kenikmatan
yang sempurna di hati kecuali dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala dan
mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal yang dicintai-Nya. Tidak sempurna kecintaan kepada Allah kecuali dengan
berpaling dari semua yang dicintai selain-Nya, dan inilah hakikat Laailaahaillallah.”
(Majmu Fatawa 28/32)
Shiddiq Hasan Khan rahimahullah
berkata, “Kecintaan kepada Allah apabila menancap dalam hati dan menguasainya,
maka tidak menggerakkan anggota badan kecuali untuk hal-hal yang diridhai
Allah. Ketika itulah jiwa tenang dengan keingan Rabbnya daripada memperturutkan
keinginan dan hawa nafsunya.”
Ia juga berkata, “Barang siapa yang hatinya
dipenuhi rasa cinta kepada Allah, maka tidak ada ruang untuk keinginan jiwa dan
nafsunya.” (Ad Dinul Khalish 1/167).
Ibnu Utsaimin berkata, "Beberapa
perkara yang membantu untuk Istiqamah melakukan amal saleh, di antaranya dan
merupakan perkara yang paling utama adalah mencintai Allah subhanahu wa ta'ala
dan mengagungkan-Nya. Apabila hati telah dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan
mengagungkan-Nya, maka dia akan senang menaati Allah subhanahu wa ta'ala dan
akan menjauhi maksiat kepada-Nya. Oleh karena itu, dengan cinta kepada Allah
maka terwujud ketaatan dan melaksanakan perintah-Nya, dan dengan mengagungkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala maka terwujudlah menjauhi maksiat dan
dosa-dosa." (Fatawa Su'al alal Hatif juz 1 hal. 57)
[18] Orang
yang zalim di sini adalah orang-orang yang menyembah selain Allah atau
orang-orang musyrik. Maksudnya, ketika orang yang zalim tersebut melihat
sesembahan mereka tidak memberikan manfaat sama sekali pada hari Kiamat, mereka
pasti akan mengetahui secara jelas kelemahan berhala dan apa yang mereka sembah
selain Allah, dan meyakini bahwa seluruh kekuatan hanya milik Allah. Tidak seperti ketika di dunia, mereka (orang-orang
musyrik) menyangka bahwa sesembahan mereka memiliki kekuatan dan kemampuan,
padahal sesembahan itu tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi sampai menyelamatkan
mereka dari siksa Allah pada hari Kiamat.
[19] Dan tentu mereka tidak akan mengadakan tandingan bagi
Allah Subhaanahu wa Ta'aala ketika di dunia.
[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan
tentang keadaan mereka nanti pada hari Kiamat, yaitu sikap mengingkari dengan
keras sesembahan-sesembahan yang dulu mereka sembah di dunia, dan bagaimana
pengikut akan berlepas diri dari orang yang diikuti.
[21] Hal ini terjadi pada hari kiamat ketika Allah
mengumpulkan antara para pemimpin dan para pengikut, lalu mereka saling
berlepas tangan.
[22] Yakni hubungan yang terjalin selama di dunia mereka
terputus, bahkan teman akrab menjadi musuh (lihat Qs. Az Zukhruf: 67), demikian
pula hubungan kasih-sayang. Hal ini, karena hubungan mereka di dunia tidak
dibangun karena Allah, tetapi karena sesuatu yang batil yang tidak ada
hakikatnya dan ketika hal itu tampak jelas bahwa orang-orang yang mereka ikuti
dalam keadaan dusta, perbuatan yang sebelumnya mereka kira dapat diharapkan
manfaat ternyata hasilnya sia-sia, berubah menjadi penyesalan, mereka akan
masuk ke dalam neraka lagi kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. Sebagian
mufassir ada yang mengartikan "asbaab" di ayat tersebut dengan sebab
untuk meloloskan diri, yakni segala sebab dan upaya untuk meloloskan diri
terputus.
Hal itu disebabkan karena yang mereka ikuti
adalah hal yang batil, mereka mengerjakan amalan yang batil, berharap kepada
sesuatu yang tidak bisa diharap serta bergantung kepada tempat yang tidak bisa
dipakai bergantung (seperti berhala dan sesembahan lainnya selain Allah),
sehingga amal mereka sia-sia dan terjadilah penyesalan karena apa yang
diharapkan ternyata tidak bisa diharap. Berbeda dengan orang yang bergantung
kepada Allah, mengikhlaskan amalan karena-Nya dan mengharap manfaatnya, maka
sesungguhnya orang tersebut telah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sehingga
amalnya adalah hak karena bergantung kepada yang hak, ia akan memperoleh hasil
dari amalnya dan mendapatkan balasan di sisi Tuhannya (lihat surat Muhammad:
1-2).
[23] Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari Kiamat semua
hubungan terputus, kekasih berlepas diri dari orang yang dikasihi, dan tidak
tersisa selain yang dilakukan karena Allah Azza wa Jalla.
[24] Baik berlepas diri dari diri mereka (para pemimpin)
maupun sesembahan yang mereka sembah selain Allah, dan mereka akan beribadah
kepada Allah saja.
Para
malaikat yang disembah oleh sebagian mereka akan berlepas diri dan berkata, “Mahasuci Engkau. Engkaulah
pelindung Kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan
mereka beriman kepada jin itu".(Terj. Qs. Saba’: 41)
Demikian pula jin yang pernah mereka sembah, ia juga
akan berlepas diri dari para penyembahnya (Lihat surat Al Ahqaaf: 5-6, Maryam:
81-82, Al ‘Ankabut: 25, Ibrahim: 22, dan Saba’: 32-33).
[25] Ketika itu, orang-orang yang mengikuti berangan-angan
agar kembali ke dunia, lalu mereka berlepas tangan dengan orang yang mereka
ikuti, seperti tidak mau mengikuti syirik yang dilakukan mereka, mengikhlaskan
amalan karena Allah, namun hal itu mustahil, saat itu bukanlah waktu pemberian
tangguh, di samping itu mereka juga berdusta dalam pernyataan ini. Kalau pun mereka
dikembalikan ke dunia, mereka akan mengulangi perbuatan yang dahulu mereka
dilarang melakukannya (lihat surat Al An’aam: 28). Permintaan mereka hanyalah
ucapan dan angan-angan semata karena marah dan kesal kepada orang-orang yang
mereka ikuti. Tokoh utama yang mereka ikuti dalam keburukan adalah Iblis, namun
Iblis tidak mau bertanggung jawab, bahkan menurutnya bahwa dirinya tidak
berkuasa apa-apa selain hanya bisa mengajak sehingga menurutnya ia tidak bisa
disalahkan (lihat
[26] Amal saleh yang mereka kerjakan juga menjadi sia-sia,
dijadikan sebagai debu yang berhamburan serta seperti fatamorgana, lihat surat
Al Furqan: 23, Ibrahim: 18, dan surat An Nuur: 39.
[27] Dari ayat 165-167 kita dapat
menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajibnya mencintai Allah dan
mencintai semua yang dicintai-Nya, (2) cinta terbagi dua: pertama, cinta
yang menjadi ibadah, yaitu yang di dalamnya terdapat sikap tunduk dan
menghinakan diri disertai cinta, dimana hati seseorang dipenuhi cinta dan
pengagungan yang membuatnya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya, maka hal ini tidak diperuntukkan kecuali kepada Allah Azza wa
Jalla, kedua, cinta karena tabiat, seperti cinta terhadap makanan dan
minuman serta berbagai kenikmatan, maka dalam hal ini harus sederhana dan tidak
berlebihan, dan sebaik-baik cinta adalah ketika dilakukan karena Allah Azza wa
Jalla, (3) pada hari Kiamat semua hubungan terputus baik hubungan pertemanan
maupun hubungan nasab, yang ada hanyalah hubungan keimanan dan persaudaraan di
atasnya, dan (4) berlepas dirinya para pemimpin kaum musyrik dan penyeru
kesesatan dari para pengikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar