Pengantar Tafsir Al Qur’an
Contoh
Istidlal bil Qur’an (Berdalil dengan Al Qur’an)
130.Di antara adab menuntut ilmu
adalah (1) ikhlas, dalilnya surah Al Bayyinah ayat 5; tentang perintah
beribadah kepada Allah dengan ikhlas, (2) berdoa, dalilnya surah Thaaha
ayat 114; tentang perintah berdoa kepada Allah diberikan ilmu yang bermanfaat,
(3) takwa dan menjauhi maksiat, dalilnya di bagian akhir ayat surah Al
Baqarah: 282; tentang perintah bertakwa kepada Allah dan bahwa Dia akan
menambahkan lagi ilmu, (4) kecerdasan, dalilnya di surah Al Anbiya ayat
79; tentang pemahaman yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman alaihis salam,
(5) hirsh (haus terhadap ilmu); dalilnya surah Al Qiyamah ayat 16-17,
tentang semangatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengikuti
bacaan malaikat Jibril, (6) sungguh-sungguh, dalilnya surah Maryam ayat
12; tentang perintah kepada Nabi Yahya mempelajari kitab dengan
sungguh-sungguh, (7) pengorbanan (baik waktu, harta, maupun tenaga),
dalilnya di surah Al Kahfi ayat 60; tentang perjalanan Nabi Musa alaihis salam
untuk menuntut ilmu kepada Khidhir, (8) didampingi guru, di surah Al
Kahfi ayat 66; tentang permintaan Nabi Musa alaihis salam kepada Khidir untuk
menemaninya, (9) waktu yang lama, di surah Al Kahfi ayat 78; tentang
perpisahan Nabi Musa alaihis salam dengan Khidir,
(10) tidak malu bertanya, di surah An Nahl ayat 43; tentang perintah
bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui, (11) bersyukur kepada Allah
atas nikmat ilmu, dalilnya di surah An Naml: 15, tentang syukur yang
dipanjatkan Nabi Sulaiman alaihis salam dll.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,
أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّئُكَ عَنْ
تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَدِرْهَمٍ وَصُحْبَةِ
أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
“Saudaraku, kamu tidak akan mencapai ilmu kecuali dengan enam perkara,
aku akan terangkan dengan jelas, yaitu: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh,
ada dirham (biaya), didampingi guru, dan waktu yang lama.” [1]
Ia juga berkata,
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ
فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِى
فَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ
وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُعْطَى لِعَاصِى
Aku pernah mengeluh kepada Waki’
tentang buruknya hapalanku,
maka ia membimbingku agar meninggalkan maksiat
karena hafalan adalah karunia Allah
dan karunia Allah itu tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Benarlah
firman Allah Ta’ala ketika Dia berfirman,
وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى
لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri.” (Qs. An Nahl: 89)
Dan kami menjadi saksi terhadap hal itu.
131.Istidal bil Qur’an terhadap
suatu yang hak (benar) adalah benar, karena memang Al Qur’an membawa kebenaran
dan menguatkan kebenaran serta meruntuhkan kebatilan.
132.Al Qur’an
tidak dapat didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang,
turun dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji (lihat Qs. Fushshilat: 42).
133.Tidak
dibenarkan melakukan perbuatan dulu lalu mencari pembenaran dari ayat, bahkan
ayat atau ilmu didahulukan sebelum berkata dan berbuat. Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata, “Wajib bagi orang yang membaca dalil untuk menyingkirkan hawa nafsu
dan sikap ta’ashshub (fanatik) agar ia dapat menghukumi sesuai yang ditunjukkan
oleh dalil. Oleh karena itu dikatakan, “Berdalillah, lalu yakinilah kemudian
amalkannya, jangan yakini dulu kemudian mencari dalil.” Hal itu karena jika
engkau meyakini dulu lalu mencari dalilnya, maka boleh jadi engkau lebih
cenderung kepada keyakinanmu, lalu engkau arahkan nash-nash Al Qur’an dan As
Sunnah kepadanya.” (Syarh Al Kafiyah Asy Syafiyah 3/557)
Faedah Dibuangnya
Kata Yang Terkait
134.Dibuangnya
kata yang terkait seperti maf’ul (objek) dan sebagainya, menunjukkan umumnya
makna, karena hal ini termasuk faedah dari hadzaf (dibuangnya kata), dan bahwa
tidak boleh dibuang sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh siyaq (susunan)
lafaznya serta qarinah (tanda) yang ada, sebagaimana hukum-hukum yang dibatasi
dengan syarat atau sifat menujukkan bahwa semua itu adalah batasn-batasannya,
dan harus ada untuk tetapnya hukum.
Perintah Terhadap Sesuatu Adalah
Larangan Terhadap Kebalikannya
135.Apabila Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan sesuatu, maka berarti Dia melarang
kebalikannya, dan apabila Dia melarang sesuatu, maka berarti Dia memerintahkan
kebalikannya.
Hakikat Pujian
136.Apabila Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memuji Diri-Nya dengan menafikan (meniadakan) sesuatu
dari sifat kekurangan, maka berarti menetapkan sifat kesempurnaan yang
menafikan sifat kekurangan itu. Demikian pula apabila Dia memuji rasul-Nya dan
para wali-Nya serta membersihkan mereka dari sesuatu sifat kekurangan, maka
berarti Dia memuji mereka dengan sesuatu yang menjadi lawan dari sifat
kekurangan itu. Termasuk pula ketika dinafikan kekurangan pada surga, maka
berarti menetapkan kebalikannya, yaitu kesempurnaan.
Tidak Ada Faedahnya Perdebatan Setelah
Jelas Kebenaran
137.Termasuk
kulliyyat (keumuman) Al Qur’an adalah, apabila kebenaran telah jelas
sejelas-jelasnya, maka tidak ada tempat lagi untuk perdebatan dan penentangan,
bahkan perdebatan dan penentangan itu batil dengan sendirinya.
Faedah Tentang Yang Dinafikan Al Qur'an
138.Apa yang
dinafikan (ditiadakan) Al Qur’an, maka bisa karena tidak ada wujudnya, atau ada
wujudnya, namun kurang berfaedah dan kurang bermanfaat.
Zhan (kira-kira) Tidak Dapat Mengalahkan
Yang Yakin
139.Yang masih
dikira-kira tidaklah dapat menyingkirkan yang telah maklum (jelas diketahui),
dan yang masih majhul (tidak jelas) tidak dapat melawan yang telah terbukti,
dan tidak ada setelah kebenaran itu selain kesesatan.
Al Qur’an Sebagai Akbar Wasilah Lits Tsabat
(Sarana paling besar yang membantu seseorang istiqamah dalam Islam)
140.Semua sebab
untuk istiqamah di atas agama disebutkan dalam Al Qur’an, di antaranya dengan
berdoa (lihat Qs. Ali Imran: 8), berpegang dengan kitabullah dan sunnah
Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam (lihat Qs. Ali Imran: 101), mengamalkan
ilmu (lihat Qs. An Nisaa: 66), membaca kisah para nabi dan orang-orang
terdahulu (lihat Qs. Huud: 20), dan bergaul dengan orang-orang saleh (lihat Qs.
Al Kahf: 28).
141.Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, "Orang-orang yang mengenal Allah sepakat bahwa dosa di saat sepi
merupakan sebab berbaliknya keadaan seseorang ke belakang, dan bahwa beribadah
di saat sepi merupakan sebab terbesar untuk Istiqamah."
Maksud Gharibul Qur’an (kata yang asing
dalam Al Qur’an)
142.Ar Rafi’i
berkata, “Dalam Al Qur’an terdapat lafaz-lafaz yang diistilahkan oleh para
ulama dengan sebutan ‘gharaa’ib’ (kata-kata yang asing), namun maksud gharib di
sini bukan karena tidak dikenal, aneh, atau janggal, karena Al Qur’an bersih dari itu semua, bahkan
maksud lafaz yang gharib adalah lafaz yang indah namun dianggap asing
tafsirnya, dimana tidak ada yang sama dalam mengilmuinya antara orang yang menjadi
ahlinya dengan orang-orang yang lain.”
Kalimat yang menunjukkan Qashr atau
Hashr (Pembatasan/Pengkhususan)
143.Kalimat yang
menunjukkan qashr adalah ketika berupa:
a.
Huruf nafyu (peniadaan) ditambah
istitsna (pengecualian), dimana maqshur ‘alaihi (yang dibatasi) adalah kata
setelah huruf istitsna. Contoh:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ
“Tidak ada tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah.”
مَا اْلفَرَاغُ
إِلاَّ مَفْسَدَةُ
“Tidak ada pengangguran kecuali adanya
mafsadat (kerusakan).”
b.
Diawali kata ‘ إِنَّمَا ’ (tidak lain atau hanya saja). Contoh:
إِنَّمَا
يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابِ
“Tidak lain orang yang dapat mengambil
pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal.”
Maqshur ‘alaihi
adalah kalimat akhirnya.
Perbedaan antara nafyu-istitsna dengan ‘
إِنَّمَا
‘ adalah bahwa nafyu-istitsna dipakai dalam hal yang tidak diketahui
lawan bicara dan diingkarinya, sedangkan pemakaian ‘ إِنَّمَا
‘ adalah untuk hal yang diketahui lawan bicara dan tidak diingkarinya.
c.
Mendahulukan kata yang seharusnya
diakhirkan. Contoh:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya
Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan.” (Qs. Al
Fatihah: 5)
Maqshur alaihi adalah kata yang
didahulukan (objek)
d.
Kata ‘ لا
, بل لكن ,’ athaf (yang dihubungkan dengan pernyataan
sebelumnya). Contoh:
عُمْرُ
الْفَتَى ذِكْرُهُ لاَ طُوْلُ مُدَّتِهِ -- وَمَوتُهُ خِزْيُهُ لاَ
يَوْمُه الدَّاِنْي
“Usia pemuda adalah ketika disebut namanya,
sedangkan kematiannya adalah ketika terhina bukan ajal yang dekat.”
إِنَّ
الجَدِيْدَيْنِ فِي طُوْلِ اخْتِلاَفِهِمَا- لاَ يَفْسُدَانِ وَلَكِنْ
يَفْسُدُ النَّاسُ
“Sesungguhnya malam dan siang dengan lama
pergantiannya tidaklah rusak, akan tetapi yang rusak adalah manusia.”
لَيْسَ
الْيَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ – بَلِ الْيَتِيْمُ يَتِيْمُ
الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ
“Anak yatim bukanlah orang yang ditinggal
wafat ayahnya, bahkan anak yatim adalah orang yang kehilangan ilmu dan adab.”
Untuk ‘بل لكن , ’ harus diawali kata nafyu (peniadaan) atau
larangan, sedangkan untuk ‘ لا
’ harus diawali kalimat itsbat (positif, bukan nafyu/negative).
Hakikat Iman, Amal Saleh, Takwa, Huda,
Ihsan, Islah, Yakin, Sabar, Khauf, Rajaa', Inabah, Ikhlas, Tawadhu', Adil,
Zalim, Shidq, Hudud, Amanah, 'Uhud dan Uqud, Hikmah, Qawam, Israf dan Tabdzir,
Ma'ruf, Istiqamah, Penyakit Hati, dan Nifak.
144.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala telah menyebutkan dalam Al Qur’an iman dan amal saleh,
dan menyebutkan balasan terhadapnya di dunia dan di akhirat serta aatsaar
(pengaruh-pengaruh) yang dihasilkannya, maka maksud iman adalah pembenaran yang
pasti kepada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya untuk dibenarkan yang
mengandung amal dengan anggota badan (meliputi pengakuan di lisan, pembenaran
di hati, dan pengamalan dengan anggota badan). Sedangkan maksud amal saleh
adalah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hamba-Nya.
145.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bertakwa, memuji orang-orang yang
bertakwa dan menjanjikan berbagai kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa dan
menghindarkannya dari segala yang tidak disukai. Takwa yang sempurna adalah
menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi larangan keduanya dan
membenarkan berita keduanya.
146.Apabila kata
‘takwa’ digandengan dengan kata Al Birr dan semisalnya, maka takwa
merupakan istilah untuk sikap menjauhi semua maksiat, sedangkan Al Birr merupakan
istilah untuk mengerjakan semua kebaikan. Dan apabila disebutkan salah satunya
saja, yakni takwa saja atau Al Birr saja, maka yang lain masuk ke dalamnya
(takwa masuk ke dalam Al Birr atau Al Birr masuk ke dalam takwa).
147.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan huda (petunjuk) di beberapa tempat dalam Al
Qur’an, memuji orang yang mendapat petunjuk, memberitahukan bahwa petunjuk itu
ada di Tangan-Nya dan memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya serta
berusaha mengerjakan segala sebab yang dapat menghasilkan petunjuk, maka
petunjuk tersebut berarti mencakup petunjuk dalam hal ilmu dan amal. Orang yang
mendapat petunjuk adalah orang yang mengetahui yang hak dan mengamalkannya.
Kebalikan dari petunjuk adalah Al Ghay dan Adh Dhalaal (kesesatan). Orang yang mengetahui
kebenaran namun tidak mengamalkannya adalah Al Ghaawiy, sedangkan orang
yang tidak mengetahui kebenaran adalah Adh Dhaal.
148.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan berbuat ihsan, memuji orang-orang yang
berbuat ihsan dan menyebutkan balasan yang beraneka macam untuk mereka dalam
banyak ayat. Ihsan artinya beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya,
namun jika kita tidak merasa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihat
kita, dan kepada makhluk dengan kita memberikan manfaat harta, badan dan ucapan
yang kita sanggup berikan kepada mereka.
149.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan berbuat islah (memperbaiki dan tidak
mengadakan kerusakan), memuji orang-orang yang berbuat islah dan
memberitahukan, bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan balasan dan pahala untuk
mereka. Islah artinya, berusaha memperbaiki akidah manusia dan akhlak
mereka serta semua keadaan mereka sehingga mereka berada di atas kebaikan.
Islah ini bisa dalam perkara agama manusia maupun perkara dunia dan bisa
tertuju kepada individu maupun masyarakat. Kebalikan dari islah adalah fasad
atau ifsad (merusak). Ifsad (melakukan kerusakan) telah dilarang oleh Allah
Subhaanahu wa Ta'aala, Dia mencela orang-orang yang melakukannya serta
menyebutkan hukuman yang beraneka macam untuk mereka, dan Dia memberitahukan
bahwa Dia tidak akan memperbaiki amal mereka baik pada agama maupun dunianya.
150.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memuji perkara yakin, memuji orang-orang yang yakin dan
bahwa merekalah yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al Qur’an dan
ayat-ayat kauniyyah (yang ada di alam semesta). Yakin lebih khusus daripada
ilmu. Yakin artinya, ilmu yang menancap yang membuahkan amal dan ketenangan.
151.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bersabar, memuji orang-orang yang
bersabar serta menyebutkan balasan untuk mereka segera atau nanti dalam banyak
ayat. Sabar tersebut mencakup sabar dalam menjalankan perintah Allah sehingga
ia dapat mengerjakannya secara sempurna dari berbagai sisi, sabar dalam
menjauhi larangan sehingga hawa nafsunya tidak lagi memerintahkan yang buruk,
dan sabar dalam menerima taqdir Allah yang pedih, yaitu dengan menerimanya
tanpa keluh kesah baik pada hati, badan, maupun lisan.
152.Demikian pula
Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji syukur, menyebutkan balasan orang-orang yang
bersyukur dan memberitahukan, bahwa mereka adalah manusia yang paling tinggi
(kedudukannya) di dunia dan akhirat. Hakikat syukur adalah mengakui semua
nikmat berasal dari Allah, memuji Allah terhadapnya, melaksanakan perintah
Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya, serta menggunakan nikmat-nikmat
itu untuk menaati Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang memberikan nikmat itu.
153.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan khauf dan khasy-yah dalam beberapa ayat,
memerintahkannya, memuji orang yang memilikinya serta menyebutkan balasan
mereka, dan bahwa merekalah orang-orang yang dapat mengambil manfaat dari
ayat-ayat-Nya dan yang meninggalkan segala yang diharamkan. Hakikat khauf dan
khasy-yah adalah seorang hamba takut ketika nanti berhadapan dengan Allah Subhaanahu
wa Ta'aala, sehingga ia tahan hawa nafsunya karena takut tersebut dari
melakukan segala yang diharamkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
154.Ar Rajaa’
(berharap) artinya seorang hamba berharap kepada Allah rahmat-Nya yang umum dan
rahmat-Nya yng khusus; dia berharap agar ketaatan yang dilimpahkan Allah
kepadanya diterima-Nya, dan ketergelinciran yang ia telah bertobat darinya
diampuni-Nya serta selalu bergantung dan berharap kepada Tuhannya dalam setiap
keadaan.
155.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan inabah (kembali) dalam banyak tempat, memuji
orang-orang yang melakukan inabah dan memerintahkan manusia melakukannya.
Hakikat inabah adalah tertariknya hati kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam
setiap keadaannya, ia pun kembali kepada Allah ketika mendapatkan nikmat dengan
bersyukur kepada-Nya, dan ketika mendapatkan kesulitan dengan bertadharu’
(merendahkan diri dan berdoa) kepada Allah, dan ketika banyaknya kebutuhan
dengan banyak berdoa kepada-Nya, ia juga kembali kepada Tuhannya dengan tekun
menyebut nama-Nya di setiap waktu.
156.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan berbuat ikhlas, memuji orang-orang yang
ikhlas dan memberitahukan, bahwa Dia tidak menerima selain amal yang ikhlas
karena-Nya. Hakikat ikhlas adalah seseorang mengerjakan amalnya karena mencari
keridhaan Allah dan pahala-Nya. Kebalikan dari ikhlas adalah riya’ (agar
dilihat dan dipuji manusia) dan amal yang tujuannya untuk kepentingan
pribadinya.
157.Allah
Subhaanahu wa Ta'aala melarang bersikap takabbur (sombong), mencela kesombongan
itu dan orang-orang yang bersikap demikian, serta memberitahukan tentang
hukuman-Nya terhadap orang-orang yang sombong baik di dunia dan di akhirat.
Sombong maksudnya menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Kebalikannya
adalah tawadhu’. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan tawadhu’, memuji
orang-orang yang melakukannya dan menyebutkan pahala mereka. Tawadhu’ artinya
menerima kebenaran dari siapa pun yang mengucapkannya, tidak merendahkan
manusia, bahkan ia melihat keutamaan mereka dan mencintai kebaikan mereka
dapatkan sebagaimana ia mencintai jika kebaikan ia dapatkan.
158.Adil
artinya memenuhi hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya. Adil juga maksudnya
menempatkan sesuatu pada tempatnya.
159.Zalim
adalah kebalikan dari adil, dan ia mencakup zalim seorang hamba kepada dirinya
sendiri dengan melakukan berbagai kesyirkkan dan kemaksiatan, dan mencakup
zalim kepada manusia lain baik terkait dengan darah mereka, harta mereka maupun
kehormatan mereka. Zalim juga maksudnya tidak menempatkan sesuatu pada
tempatnya.
160.Shidq
(jujur) artinya sama keadaan antara luar dan dalam ketika istiqamah di atas
jalan yang lurus. Kebalikannya adalah dusta.
161.Hudud
Allah artinya larangan-larangan-Nya, seperti pada firman-Nya:
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu
mendekatinya.” (Qs. Al Baqarah: 187)
Hudud juga bisa berarti batasan-batasan
Allah dan apa yang ditentukan-Nya (lihat Qs. An Nisaa’: 13).
162.Amanah
artinya perkara-perkara yang diamanahkan (dibebankan) kepada seorang hamba agar
mereka pelihara atau mereka kerjakan. Sehingga termasuk ke dalam amanah,
memenuhi hak-hak Allah, demikian pula hak-hak yang tersembunyi yang patut
dijaga dan hak-hak makhluk-Nya.
163.Al ‘Uhud
(perjanjian) dan Al ‘Uqud (akad-akad) bisa antara seorang hamba dengan
Allah, yaitu dengan melaksanakan ibadah dengan ikhlas karena-Nya, dan bisa
antara seorang hamba dengan hamba-hamba Allah lainnya yaitu dengan melakukan
mu’amalah, dsb.
164.Hikmah
dan Qawam maksudnya mengerjakan hal yang patut dikerjakan dengan cara
yang layak (tepat dan sesuai). Bisa juga hikmah diartikan dengan sikap dan
ucapan yang tepat dan bijaksana.
Menurut Ibnu Rajab Al Hanbali, bahwa
hikmah adalah ilmu yang bermanfaat yang diiringi dengan amal yang saleh. Ia
merupakan cahaya yang Allah berikan ke dalam hati, dimana dengannya seseorang
dapat memahami ilmu yang turun dari langit dan mendorongnya untuk mengikuti dan
mengamalkannya. Jika seseorang berkata, bahwa hikmah adalah As Sunnah
(Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka perkataannya adalah
benar, karena As Sunnah merupakan penafsir Al Qur’an, menerangkan
makna-maknanya, dan mendorong untuk mengikutinya.
165.Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullah berkata, "Sesungguhnya hukum-hukum syar'i
didasari hikmah. Akan tetapi hikmahnya terkadang kita ketahui dan terkadang
tidak, dan ada pula yang diketahui oleh semua orang atau diketahui oleh
sebagian orang. Para ulama rahimahumullah menyebut masalah yang tidak diketahui
hikmahnya dengan masalah ta'bbudi (ibadah), yakni tugas kita adalah beribadah
kepada Allah dengan syariat itu; baik kita tahu hikmahnya maupun tidak, karena inilah hakikat ubudiyah (peribadatan)."
(Fathu Dzil Jalali wal Ikram 1/561)
166.Israf
dan Tabdzir artinya melampaui batas dalam mengeluarkan nafkah.
Kebalikannya adalah taqtir dan bakhil, yaitu kurang dan berat mengeluarkan
nafkah yang wajib dikeluarkan.
167.Ma’ruf
adalah istilah yang mencakup semua yang diketahui indah dan manfaatnya menurut
syara’ dan akal, sedangkan kebalikannya adalah munkar. Bisa juga
diartikan bahwa ma’ruf adalah semua yang diperintahkan syariat, sedangkan
munnkar adalah semua yang dilarang.
168.Istiqamah
artinya tetap menaati Allah dan menaati Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam
secara konsisten.
169.Penyakit hati
maksudnya yang menguasainya. Ia terbagi dua; penyakit syak atau ragu-ragu
terhadap kebenaran dan penyakit syahwat (keinginan) untuk mengerjakan
perkara-perkara yang haram.
170.Nifak
artinya menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Nifak ada yang
I’tiqadiy (terkait dengan keyakinan) seperti menampakkan keislaman dan
menyembunyikan kekafiran, dan ada pula nifak yang ‘amali (terkait dengan
amalan) seperti melakukan amalan yang biasa dilakukan orang-orang munafik.
Nifak I’tiqadiy adalah nifak yang besar, sedangkan nifak ‘amali adalah nifak
yang kecil.
[1] Sebagian ulama berpendapat, bahwa ucapan
ini bukan ucapan Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, tetapi ucapan Abul
Ma’aliy Abdul Malik bin Abdillah Al Juwainiy Asy Syafi’i, wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar