Minggu, 05 April 2026

Mukadimah (16)

 


Pengantar Tafsir Al Qur’an



 


Contoh Istidlal bil Qur’an (Berdalil dengan Al Qur’an)

130.Di antara adab menuntut ilmu adalah (1) ikhlas, dalilnya surah Al Bayyinah ayat 5; tentang perintah beribadah kepada Allah dengan ikhlas, (2) berdoa, dalilnya surah Thaaha ayat 114; tentang perintah berdoa kepada Allah diberikan ilmu yang bermanfaat, (3) takwa dan menjauhi maksiat, dalilnya di bagian akhir ayat surah Al Baqarah: 282; tentang perintah bertakwa kepada Allah dan bahwa Dia akan menambahkan lagi ilmu, (4) kecerdasan, dalilnya di surah Al Anbiya ayat 79; tentang pemahaman yang Allah berikan kepada Nabi Sulaiman alaihis salam, (5) hirsh (haus terhadap ilmu); dalilnya surah Al Qiyamah ayat 16-17, tentang semangatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mengikuti bacaan malaikat Jibril, (6) sungguh-sungguh, dalilnya surah Maryam ayat 12; tentang perintah kepada Nabi Yahya mempelajari kitab dengan sungguh-sungguh, (7) pengorbanan (baik waktu, harta, maupun tenaga), dalilnya di surah Al Kahfi ayat 60; tentang perjalanan Nabi Musa alaihis salam untuk menuntut ilmu kepada Khidhir, (8) didampingi guru, di surah Al Kahfi ayat 66; tentang permintaan Nabi Musa alaihis salam kepada Khidir untuk menemaninya, (9) waktu yang lama, di surah Al Kahfi ayat 78; tentang perpisahan Nabi Musa alaihis salam dengan Khidir, (10) tidak malu bertanya, di surah An Nahl ayat 43; tentang perintah bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui, (11) bersyukur kepada Allah atas nikmat ilmu, dalilnya di surah An Naml: 15, tentang syukur yang dipanjatkan Nabi Sulaiman alaihis salam dll.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّئُكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَدِرْهَمٍ وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Saudaraku, kamu tidak akan mencapai ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan terangkan dengan jelas, yaitu: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, ada dirham (biaya), didampingi guru, dan waktu yang lama.” [1]

Ia juga berkata,

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ

فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِى

فَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ

وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُعْطَى لِعَاصِى

Aku pernah mengeluh kepada Waki’ tentang buruknya hapalanku,

maka ia membimbingku agar meninggalkan maksiat

karena hafalan adalah karunia Allah

dan karunia Allah itu tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

            Benarlah firman Allah Ta’ala ketika Dia berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qs. An Nahl: 89)

Dan kami menjadi saksi terhadap hal itu.

131.Istidal bil Qur’an terhadap suatu yang hak (benar) adalah benar, karena memang Al Qur’an membawa kebenaran dan menguatkan kebenaran serta meruntuhkan kebatilan.

132.Al Qur’an tidak dapat didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, turun dari Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji  (lihat Qs. Fushshilat: 42).

133.Tidak dibenarkan melakukan perbuatan dulu lalu mencari pembenaran dari ayat, bahkan ayat atau ilmu didahulukan sebelum berkata dan berbuat. Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang membaca dalil untuk menyingkirkan hawa nafsu dan sikap ta’ashshub (fanatik) agar ia dapat menghukumi sesuai yang ditunjukkan oleh dalil. Oleh karena itu dikatakan, “Berdalillah, lalu yakinilah kemudian amalkannya, jangan yakini dulu kemudian mencari dalil.” Hal itu karena jika engkau meyakini dulu lalu mencari dalilnya, maka boleh jadi engkau lebih cenderung kepada keyakinanmu, lalu engkau arahkan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah kepadanya.” (Syarh Al Kafiyah Asy Syafiyah 3/557)

 

Faedah Dibuangnya Kata Yang Terkait

134.Dibuangnya kata yang terkait seperti maf’ul (objek) dan sebagainya, menunjukkan umumnya makna, karena hal ini termasuk faedah dari hadzaf (dibuangnya kata), dan bahwa tidak boleh dibuang sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh siyaq (susunan) lafaznya serta qarinah (tanda) yang ada, sebagaimana hukum-hukum yang dibatasi dengan syarat atau sifat menujukkan bahwa semua itu adalah batasn-batasannya, dan harus ada untuk tetapnya hukum.

 

Perintah Terhadap Sesuatu Adalah Larangan Terhadap Kebalikannya

135.Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan sesuatu, maka berarti Dia melarang kebalikannya, dan apabila Dia melarang sesuatu, maka berarti Dia memerintahkan kebalikannya.

 

Hakikat Pujian

136.Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji Diri-Nya dengan menafikan (meniadakan) sesuatu dari sifat kekurangan, maka berarti menetapkan sifat kesempurnaan yang menafikan sifat kekurangan itu. Demikian pula apabila Dia memuji rasul-Nya dan para wali-Nya serta membersihkan mereka dari sesuatu sifat kekurangan, maka berarti Dia memuji mereka dengan sesuatu yang menjadi lawan dari sifat kekurangan itu. Termasuk pula ketika dinafikan kekurangan pada surga, maka berarti menetapkan kebalikannya, yaitu kesempurnaan.

 

Tidak Ada Faedahnya Perdebatan Setelah Jelas Kebenaran

137.Termasuk kulliyyat (keumuman) Al Qur’an adalah, apabila kebenaran telah jelas sejelas-jelasnya, maka tidak ada tempat lagi untuk perdebatan dan penentangan, bahkan perdebatan dan penentangan itu batil dengan sendirinya.

 

Faedah Tentang Yang Dinafikan Al Qur'an

138.Apa yang dinafikan (ditiadakan) Al Qur’an, maka bisa karena tidak ada wujudnya, atau ada wujudnya, namun kurang berfaedah dan kurang bermanfaat.

 

Zhan (kira-kira) Tidak Dapat Mengalahkan Yang Yakin

139.Yang masih dikira-kira tidaklah dapat menyingkirkan yang telah maklum (jelas diketahui), dan yang masih majhul (tidak jelas) tidak dapat melawan yang telah terbukti, dan tidak ada setelah kebenaran itu selain kesesatan.

 

Al Qur’an Sebagai Akbar Wasilah Lits Tsabat (Sarana paling besar yang membantu seseorang istiqamah dalam Islam)

140.Semua sebab untuk istiqamah di atas agama disebutkan dalam Al Qur’an, di antaranya dengan berdoa (lihat Qs. Ali Imran: 8), berpegang dengan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam (lihat Qs. Ali Imran: 101), mengamalkan ilmu (lihat Qs. An Nisaa: 66), membaca kisah para nabi dan orang-orang terdahulu (lihat Qs. Huud: 20), dan bergaul dengan orang-orang saleh (lihat Qs. Al Kahf: 28).

141.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Orang-orang yang mengenal Allah sepakat bahwa dosa di saat sepi merupakan sebab berbaliknya keadaan seseorang ke belakang, dan bahwa beribadah di saat sepi merupakan sebab terbesar untuk Istiqamah."

Maksud Gharibul Qur’an (kata yang asing dalam Al Qur’an)

142.Ar Rafi’i berkata, “Dalam Al Qur’an terdapat lafaz-lafaz yang diistilahkan oleh para ulama dengan sebutan ‘gharaa’ib’  (kata-kata yang asing), namun maksud gharib di sini bukan karena tidak dikenal, aneh, atau janggal, karena  Al Qur’an bersih dari itu semua, bahkan maksud lafaz yang gharib adalah lafaz yang indah namun dianggap asing tafsirnya, dimana tidak ada yang sama dalam mengilmuinya antara orang yang menjadi ahlinya dengan orang-orang yang lain.”

 

Kalimat yang menunjukkan Qashr atau Hashr (Pembatasan/Pengkhususan)

143.Kalimat yang menunjukkan qashr adalah ketika berupa:

a.       Huruf nafyu (peniadaan) ditambah istitsna (pengecualian), dimana maqshur ‘alaihi (yang dibatasi) adalah kata setelah huruf istitsna. Contoh:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.”

مَا اْلفَرَاغُ إِلاَّ مَفْسَدَةُ

“Tidak ada pengangguran kecuali adanya mafsadat (kerusakan).”

b.      Diawali kata ‘ إِنَّمَا  ’ (tidak lain atau hanya saja). Contoh:

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو اْلأَلْبَابِ

“Tidak lain orang yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang berakal.”

Maqshur ‘alaihi adalah kalimat akhirnya.

Perbedaan antara nafyu-istitsna dengan ‘ إِنَّمَا ‘ adalah bahwa nafyu-istitsna dipakai dalam hal yang tidak diketahui lawan bicara dan diingkarinya, sedangkan pemakaian ‘ إِنَّمَا ‘ adalah untuk hal yang diketahui lawan bicara dan tidak diingkarinya.

c.       Mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan. Contoh:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Qs. Al Fatihah: 5)

Maqshur alaihi adalah kata yang didahulukan (objek)

d.      Kata ‘ لا , بل  لكن ,’ athaf (yang dihubungkan dengan pernyataan sebelumnya). Contoh:

عُمْرُ الْفَتَى ذِكْرُهُ لاَ طُوْلُ مُدَّتِهِ -- وَمَوتُهُ خِزْيُهُ لاَ يَوْمُه الدَّاِنْي

“Usia pemuda adalah ketika disebut namanya, sedangkan kematiannya adalah ketika terhina bukan ajal yang dekat.”

إِنَّ الجَدِيْدَيْنِ فِي طُوْلِ اخْتِلاَفِهِمَا- لاَ يَفْسُدَانِ وَلَكِنْ يَفْسُدُ النَّاسُ

“Sesungguhnya malam dan siang dengan lama pergantiannya tidaklah rusak, akan tetapi yang rusak adalah manusia.”

لَيْسَ الْيَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ – بَلِ الْيَتِيْمُ يَتِيْمُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ

“Anak yatim bukanlah orang yang ditinggal wafat ayahnya, bahkan anak yatim adalah orang yang kehilangan ilmu dan adab.”

Untuk ‘بل  لكن ,  ’ harus diawali kata nafyu (peniadaan) atau larangan, sedangkan untuk ‘  لا ’ harus diawali kalimat itsbat (positif, bukan nafyu/negative).

Hakikat Iman, Amal Saleh, Takwa, Huda, Ihsan, Islah, Yakin, Sabar, Khauf, Rajaa', Inabah, Ikhlas, Tawadhu', Adil, Zalim, Shidq, Hudud, Amanah, 'Uhud dan Uqud, Hikmah, Qawam, Israf dan Tabdzir, Ma'ruf, Istiqamah, Penyakit Hati, dan Nifak.

144.Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyebutkan dalam Al Qur’an iman dan amal saleh, dan menyebutkan balasan terhadapnya di dunia dan di akhirat serta aatsaar (pengaruh-pengaruh) yang dihasilkannya, maka maksud iman adalah pembenaran yang pasti kepada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya untuk dibenarkan yang mengandung amal dengan anggota badan (meliputi pengakuan di lisan, pembenaran di hati, dan pengamalan dengan anggota badan). Sedangkan maksud amal saleh adalah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hamba-Nya.

145.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bertakwa, memuji orang-orang yang bertakwa dan menjanjikan berbagai kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa dan menghindarkannya dari segala yang tidak disukai. Takwa yang sempurna adalah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, menjauhi larangan keduanya dan membenarkan berita keduanya.

146.Apabila kata ‘takwa’ digandengan dengan kata Al Birr dan semisalnya, maka takwa merupakan istilah untuk sikap menjauhi semua maksiat, sedangkan Al Birr merupakan istilah untuk mengerjakan semua kebaikan. Dan apabila disebutkan salah satunya saja, yakni takwa saja atau Al Birr saja, maka yang lain masuk ke dalamnya (takwa masuk ke dalam Al Birr atau Al Birr masuk ke dalam takwa).

147.Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan huda (petunjuk) di beberapa tempat dalam Al Qur’an, memuji orang yang mendapat petunjuk, memberitahukan bahwa petunjuk itu ada di Tangan-Nya dan memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya serta berusaha mengerjakan segala sebab yang dapat menghasilkan petunjuk, maka petunjuk tersebut berarti mencakup petunjuk dalam hal ilmu dan amal. Orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang mengetahui yang hak dan mengamalkannya. Kebalikan dari petunjuk adalah Al Ghay dan Adh Dhalaal (kesesatan). Orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya adalah Al Ghaawiy, sedangkan orang yang tidak mengetahui kebenaran adalah Adh Dhaal.

148.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan berbuat ihsan, memuji orang-orang yang berbuat ihsan dan menyebutkan balasan yang beraneka macam untuk mereka dalam banyak ayat. Ihsan artinya beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, namun jika kita tidak merasa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita, dan kepada makhluk dengan kita memberikan manfaat harta, badan dan ucapan yang kita sanggup berikan kepada mereka.

149.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan berbuat islah (memperbaiki dan tidak mengadakan kerusakan), memuji orang-orang yang berbuat islah dan memberitahukan, bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan balasan dan pahala untuk mereka. Islah artinya, berusaha memperbaiki akidah manusia dan akhlak mereka serta semua keadaan mereka sehingga mereka berada di atas kebaikan. Islah ini bisa dalam perkara agama manusia maupun perkara dunia dan bisa tertuju kepada individu maupun masyarakat. Kebalikan dari islah adalah fasad atau ifsad (merusak). Ifsad (melakukan kerusakan) telah dilarang oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Dia mencela orang-orang yang melakukannya serta menyebutkan hukuman yang beraneka macam untuk mereka, dan Dia memberitahukan bahwa Dia tidak akan memperbaiki amal mereka baik pada agama maupun dunianya.

150.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji perkara yakin, memuji orang-orang yang yakin dan bahwa merekalah yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al Qur’an dan ayat-ayat kauniyyah (yang ada di alam semesta). Yakin lebih khusus daripada ilmu. Yakin artinya, ilmu yang menancap yang membuahkan amal dan ketenangan.

151.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk bersabar, memuji orang-orang yang bersabar serta menyebutkan balasan untuk mereka segera atau nanti dalam banyak ayat. Sabar tersebut mencakup sabar dalam menjalankan perintah Allah sehingga ia dapat mengerjakannya secara sempurna dari berbagai sisi, sabar dalam menjauhi larangan sehingga hawa nafsunya tidak lagi memerintahkan yang buruk, dan sabar dalam menerima taqdir Allah yang pedih, yaitu dengan menerimanya tanpa keluh kesah baik pada hati, badan, maupun lisan.

152.Demikian pula Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji syukur, menyebutkan balasan orang-orang yang bersyukur dan memberitahukan, bahwa mereka adalah manusia yang paling tinggi (kedudukannya) di dunia dan akhirat. Hakikat syukur adalah mengakui semua nikmat berasal dari Allah, memuji Allah terhadapnya, melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya, serta menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menaati Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang memberikan nikmat itu.

153.Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan khauf dan khasy-yah dalam beberapa ayat, memerintahkannya, memuji orang yang memilikinya serta menyebutkan balasan mereka, dan bahwa merekalah orang-orang yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya dan yang meninggalkan segala yang diharamkan. Hakikat khauf dan khasy-yah adalah seorang hamba takut ketika nanti berhadapan dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sehingga ia tahan hawa nafsunya karena takut tersebut dari melakukan segala yang diharamkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

154.Ar Rajaa’ (berharap) artinya seorang hamba berharap kepada Allah rahmat-Nya yang umum dan rahmat-Nya yng khusus; dia berharap agar ketaatan yang dilimpahkan Allah kepadanya diterima-Nya, dan ketergelinciran yang ia telah bertobat darinya diampuni-Nya serta selalu bergantung dan berharap kepada Tuhannya dalam setiap keadaan.

155.Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan inabah (kembali) dalam banyak tempat, memuji orang-orang yang melakukan inabah dan memerintahkan manusia melakukannya. Hakikat inabah adalah tertariknya hati kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam setiap keadaannya, ia pun kembali kepada Allah ketika mendapatkan nikmat dengan bersyukur kepada-Nya, dan ketika mendapatkan kesulitan dengan bertadharu’ (merendahkan diri dan berdoa) kepada Allah, dan ketika banyaknya kebutuhan dengan banyak berdoa kepada-Nya, ia juga kembali kepada Tuhannya dengan tekun menyebut nama-Nya di setiap waktu.

156.Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan berbuat ikhlas, memuji orang-orang yang ikhlas dan memberitahukan, bahwa Dia tidak menerima selain amal yang ikhlas karena-Nya. Hakikat ikhlas adalah seseorang mengerjakan amalnya karena mencari keridhaan Allah dan pahala-Nya. Kebalikan dari ikhlas adalah riya’ (agar dilihat dan dipuji manusia) dan amal yang tujuannya untuk kepentingan pribadinya.

157.Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang bersikap takabbur (sombong), mencela kesombongan itu dan orang-orang yang bersikap demikian, serta memberitahukan tentang hukuman-Nya terhadap orang-orang yang sombong baik di dunia dan di akhirat. Sombong maksudnya menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Kebalikannya adalah tawadhu’. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan tawadhu’, memuji orang-orang yang melakukannya dan menyebutkan pahala mereka. Tawadhu’ artinya menerima kebenaran dari siapa pun yang mengucapkannya, tidak merendahkan manusia, bahkan ia melihat keutamaan mereka dan mencintai kebaikan mereka dapatkan sebagaimana ia mencintai jika kebaikan ia dapatkan.

158.Adil artinya memenuhi hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya. Adil juga maksudnya menempatkan sesuatu pada tempatnya.

159.Zalim adalah kebalikan dari adil, dan ia mencakup zalim seorang hamba kepada dirinya sendiri dengan melakukan berbagai kesyirkkan dan kemaksiatan, dan mencakup zalim kepada manusia lain baik terkait dengan darah mereka, harta mereka maupun kehormatan mereka. Zalim juga maksudnya tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya.

160.Shidq (jujur) artinya sama keadaan antara luar dan dalam ketika istiqamah di atas jalan yang lurus. Kebalikannya adalah dusta.

161.Hudud Allah artinya larangan-larangan-Nya, seperti pada firman-Nya:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (Qs. Al Baqarah: 187)

Hudud juga bisa berarti batasan-batasan Allah dan apa yang ditentukan-Nya (lihat Qs. An Nisaa’: 13).

162.Amanah artinya perkara-perkara yang diamanahkan (dibebankan) kepada seorang hamba agar mereka pelihara atau mereka kerjakan. Sehingga termasuk ke dalam amanah, memenuhi hak-hak Allah, demikian pula hak-hak yang tersembunyi yang patut dijaga dan hak-hak makhluk-Nya.

163.Al ‘Uhud (perjanjian) dan Al ‘Uqud (akad-akad) bisa antara seorang hamba dengan Allah, yaitu dengan melaksanakan ibadah dengan ikhlas karena-Nya, dan bisa antara seorang hamba dengan hamba-hamba Allah lainnya yaitu dengan melakukan mu’amalah, dsb.

164.Hikmah dan Qawam maksudnya mengerjakan hal yang patut dikerjakan dengan cara yang layak (tepat dan sesuai). Bisa juga hikmah diartikan dengan sikap dan ucapan yang tepat dan bijaksana.

Menurut Ibnu Rajab Al Hanbali, bahwa hikmah adalah ilmu yang bermanfaat yang diiringi dengan amal yang saleh. Ia merupakan cahaya yang Allah berikan ke dalam hati, dimana dengannya seseorang dapat memahami ilmu yang turun dari langit dan mendorongnya untuk mengikuti dan mengamalkannya. Jika seseorang berkata, bahwa hikmah adalah As Sunnah (Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka perkataannya adalah benar, karena As Sunnah merupakan penafsir Al Qur’an, menerangkan makna-maknanya, dan mendorong untuk mengikutinya.

165.Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sesungguhnya hukum-hukum syar'i didasari hikmah. Akan tetapi hikmahnya terkadang kita ketahui dan terkadang tidak, dan ada pula yang diketahui oleh semua orang atau diketahui oleh sebagian orang. Para ulama rahimahumullah menyebut masalah yang tidak diketahui hikmahnya dengan masalah ta'bbudi (ibadah), yakni tugas kita adalah beribadah kepada Allah dengan syariat itu; baik kita tahu hikmahnya maupun tidak,  karena inilah hakikat ubudiyah (peribadatan)." (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 1/561)

166.Israf dan Tabdzir artinya melampaui batas dalam mengeluarkan nafkah. Kebalikannya adalah taqtir dan bakhil, yaitu kurang dan berat mengeluarkan nafkah yang wajib dikeluarkan.

167.Ma’ruf adalah istilah yang mencakup semua yang diketahui indah dan manfaatnya menurut syara’ dan akal, sedangkan kebalikannya adalah munkar. Bisa juga diartikan bahwa ma’ruf adalah semua yang diperintahkan syariat, sedangkan munnkar adalah semua yang dilarang.

168.Istiqamah artinya tetap menaati Allah dan menaati Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam secara konsisten.

169.Penyakit hati maksudnya yang menguasainya. Ia terbagi dua; penyakit syak atau ragu-ragu terhadap kebenaran dan penyakit syahwat (keinginan) untuk mengerjakan perkara-perkara yang haram.

170.Nifak artinya menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Nifak ada yang I’tiqadiy (terkait dengan keyakinan) seperti menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, dan ada pula nifak yang ‘amali (terkait dengan amalan) seperti melakukan amalan yang biasa dilakukan orang-orang munafik. Nifak I’tiqadiy adalah nifak yang besar, sedangkan nifak ‘amali adalah nifak yang kecil.



[1] Sebagian ulama berpendapat, bahwa ucapan ini bukan ucapan Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, tetapi ucapan Abul Ma’aliy Abdul Malik bin Abdillah Al Juwainiy Asy Syafi’i, wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (20)

  Mukadimah (20) Pengantar Tafsir Al Qur’an Pembukuan Tafsir Al Qur’an 266. Pembukuan kitab tafsir telah dimulai di akhir-akhir pemeri...