Pengantar Tafsir Al Qur’an
Perbedaan Beberapa Kata (Ghamm, Hamm,
dan Hazn)
171. Ghamm artinya kesedihan yang menimpa
saat ini, Hamm kerisauan dan kegelisahan terhadap hal yang akan datang,
sedangkan Hazn adalah kesedihan terhadap hal yang telah berlalu. Ada
yang berpendapat bahwa ghamm dan hamm sama artinya.
Perbedaan Beberapa Kata (Abadi, Azali,
Amada, Sarmada, dst.)
172.Abadi
artinya selama-lamanya atau tidak ada akhirnya. Azali artinya tidak ada
awalnya. Amada adalah waktu antara awal dan akhir. Sarmada adalah
waktu yang tidak ada awal dan tidak ada akhirnya.
173.Tahassus
artinya mencari kabar baik orang lain. Tajassus artinya mencari kabar
buruk orang lain (mencari-cari kesalahan).
174.Ash Shamtu
muncul karena adab dan hikmah. As Sukut muncul karena takut.
175.Ka’aabah
artinya kesedihan yang tampak pada wajah. Huzn artinya kesedihan yang
disembunyikan di hati.
176.Syaraqa
artinya terbit. Asyraqa artinya menyinari.
177.Ta’lim artinya
mengajarkan dengan ucapan dan lainnya. Talqin artinya mengajarkan dengan
ucapan saja (menuntun).
178.Jasad artinya
fisik manusia dari atas kepala sampai bawah kaki. Badan artinya fisik
manusia bagian atas.
179.Tadhaadh artinya
pertentangan dalam tindakan. Tanaqudh artinya pertentangan dalam ucapan.
180.Hubuth
artinya singgah untuk tinggal. Nuzul artinya singgah sementara.
181.Mukhktal artinya
memandang diri dengan bangga. Fakhur artinya memandang orang lain dengan
nada menghinakan.
182.Hadhm artinya
mengurangi sebagian hak. Zhulm mengurangi semua hak.
183.Muqsith artinya
adil. Qasith artinya zalim.
Tafsir Beberapa Kata
184.Menurut
Ibnu Abbas, setiap lafaz ‘aliim’ (pedih) dalam Al Qur’an maksudnya menyakitkan.
Lafaz ‘Qutila’ maksudnya ‘Lu’ina’ (dilaknat). Lafaz ‘Rijz’ maksudnya ‘azab’.
Lafaz ‘tasbih’ maksudnya shalat. Lafaz ‘sulthan’ maksudnya hujjah. Lafaz ‘Ad
Din’ maksudnya hisab. Lafaz ‘raib’ maksudnya syak (ragu) kecuali satu ayat di
surah Ath Thur, yaitu ‘Raibal Manun’ yang artinya musibah (Al Itqan
fi Ulumil Qur’an juz 1 hal. 164).
Antara Meninggalkan Perintah dan
Mengerjakan Larangan
185.Mana yang
lebih besar dosanya di sisi Allah Azza wa Jalla antara meninggalkan perintah
dan mengerjakan larangan?
Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah,
bahwa meninggalkan perintah lebih besar dosanya di sisi Allah Azza wa Jalla
daripada mengerjakan larangan karena beberapa alasan, di antaranya:
a.
Sebagaimana dalam kisah Nabi Adam
alaihis salam dengan Iblis yang tidak mau tunduk kepada perintah Allah Azza wa
Jalla.
b.
Mengerjakan larangan biasanya
karena syahwat yang menguat dan karena kebutuhan, sedangkan meninggalkan
perintah biasanya karena kesombongan, dimana orang yang ada kesombongan dalam
hatinya meskipun seberat dzarrah (debu) tidak masuk surga, sebaliknya orang
yang meninggal dunia di atas tauhid akan masuk surga meskipun dia pernah
berzina dan mencuri.
c.
Mengerjakan perintah lebih
dicintai Allah Azza wa Jalla daripada meninggalkan larangan karena adanya
beberapa nash yang menunjukkan demikian, di antaranya sabda Nabi shallallahu
alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah
shalat pada waktunya, demikian pula penjelasan Beliau tentang amal yang paling
baik, paling suci, paling meninggikan derajat dan melebihi bertemu musuh yang
kemudian memenggal leher kalian atau kalian memenggal leher mereka yaitu
dzikrullah, serta pernyataan Beliau amal terbaik kalian adalah shalat, dan
dalil-dalil lainnya (Lihat Al Fawaid 1/171-172).
Sisi Kemukjizatan Al Qur’an
186.Kemukjizatan
Al Qur’an sehingga membuat orang-orang Arab tidak mampu membawakan ayat yang
serupa dengan Al Qur’an adalah karena banyak sisi, di antaranya:
a.
Lafaznya yang sedikit namun
mengandung makna yang banyak.
b.
Jelas dan fasih.
c.
Kalimatnya menarik dan di luar
kebiasaan, padahal lafaz dan hurufnya biasa digunakan dalam kalimat bangsa
Arab.
d.
Pembacanya tidak pernah lelah,
pendengarnya tidak pernah bosan, semakin banyak membaca semakin manis dan sejuk
dalam jiwa.
e.
Beritanya adalah berita yang sudah
diketahui atau belum diketahui. Jika mereka menanyakannya, maka mereka langsung
mengetahui kebenarannya, seperti kisah As-habul Kahfi, kisah Nabi Musa dengan
Khadhir, keadaan Dzulqarnain, kisah para nabi bersama umatnya, serta kisah
generasi-generasi terdahulu.
f.
Memuat pengetahuan yang gaib dan
berita peristiwa yang akan terjadi.
g.
Tidak mampunya para pandai bahasa
membuat yang semisal dengan Al Qur’an.
187.Kemukjizatan
Al Qur’an tampak pada bahasa dan sastranya, syariatnya, dan kebenaran ilmu dan
berita yang disampaikannya. Pada bahasa dan sastranya sudah diterangkan
sebelumnya. Pada syariatnya dapat kita ketahui bagaimana Islam memerintahkan
kita memiliki sifat pemaaf, namun tetap memperhatikan agar kejahatan tetap
diberikan hukuman yang setimpal agar tidak memunculkan kejahatan yang baru.
Islam memerintahkan agar manusia selalu berbuat baik, sekalipun terhadap orang
yang pernah berbuat jahat kepadanya. Islam mengajarkan manusia agar mereka
banyak beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang melupakan hak
diri dan orang lain. Islam memerintahkan manusia berendah hati, namun jangan
melupakan harga diri.
Fasihnya Ayat-Ayat Al Qur’an
188.Dr. Muhammad
Bakr Ismail berkata, “Allah memilih lafaz-lafaz bahasa Arab yang paling
fasihnya, paling mudah di lisan, paling mudah dipahami, paling nikmat didengar
telinga, paling kuat pengaruhnya di hati, paling sempurna menyampaikan makna
dan kandungan, kemudian menyusunnya secara kokoh seperti bangunan, dan
susunannya tidak dapat ditiru oleh ucapan manusia baik dari dekat maupun dari
jauh. Hal itu, karena kandungan lafaznya yang mengandung ilham yang menembus
jiwa dan merasuk ke dalam hati.” (Dirasat
Fii Ulumil Qur’an hal. 328)
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ
قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ
الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ
الْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan
Qabil) menurut kisah yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban,
maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima
dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu!"
Habil menjawab, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari
orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maa’idah: 27)
Dalam ayat ini huruf qaaf diulang 10 kali, tetapi pembaca Al
Qur’an hampir tidak merasakan pengulangan huruf qaaf ini padahal sifatnya
syiddah (tertaham suara), qalqalah (pantulan), jahr (tertahan nafas), dan
isti’la (tebal). Ia tidak merasakan kesulitan membacanya, bahkan mudah dan
ringan lafaznya. Sekarang bandingkan dengan kalimat ini:
وَلَيْسَ قُرْبَ قَبْرِ حَرْبِ قَبْرُ
Artinya: Tidak ada di dekat kuburan
Harb sebuah kuburan.
Kalimat ini sukar diucapkan.
Dari sisi lafaz, banyak sekali saja’
(kesamaan huruf akhirnya) dalam Al Qur’an, misalnya
firman Allah Ta’ala,
فَأَمَّا
الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)
“Oleh
karena itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.-Dan
terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Adh Dhuha: 9-10)
Huruf akhir
kedua ayat tersebut adalah raa.
Dan banyak
sekali saja’ dalam Al Qur’an, seperti pada surat Asy Syams, Al Lail, Al Ikhlas,
An Naas, dan surat-surat lainnya, di samping maknanya yang begitu jelas, tidak
menggunakan kata-kata yang sulit diucapkan, sejalan dengan tatabahasa Arab, dan tidak menggunakan
kata-kata yang gharib (tidak jelas artinya).
Dengan
demikian, Al Qur’an memiliki sastra paling tinggi sehingga tidak dapat
tertandingi. Ia menyampaikan maksud ke dalam jiwa manusia dengan susunan
kalimat yang paling indah.
Mengenal Wau Tsamaniyah (wau yang
menunjukkan urutan kedelapan)
189.Di antara
uslub (jalan bahasa) Arab adalah menggunakan huruf wau setelah
menyebutkan tujuh perkara, seperti di surat At Taubah ayat 112 pada kata “Wan
naahuuna ‘anil munkar,” dan surat At Tahrim ayat 5 pada kata “Wa
abkaaraa,” dimana urutan kedelapan ditambahkan huruf wau. Bahkan lafaz tsamaniyah
(delapan) ditambahkan wau juga sebagaimana di surat Al Kahfi ayat 22 pada kata
“Wa tsaaminuhum kalbuhum,” sedangkan pada kata sebelumnya tidak
ditambahkan huruf wau. Contoh lainnya adalah di surat Al Haaqqah ayat 7,
di sana disebutkan “Wa tsamaaniyata ayyaam.” Oleh karena itu, pada surat
Az Zumar ayat 73, saat Allah menyebutkan pintu surga, maka Dia menambahkan
huruf ‘wau’ yang menunjukkan, bahwa pintu surga berjumlah delapan,
sedangkan saat Allah menyebutkan pintu neraka (QS. Az Zumar ayat 71), maka Dia
tidak menambahkan huruf wau, karena sudah maklum, bahwa pintu neraka ada tujuh
(Lihat QS. Al Hijr: 44). Hal ini termasuk keajaiban Al Qur’an.
Muhkamnya Al Qur'an
190.Al Qur’an
seluruhnya muhkam (jelas), ayat-ayatnya jelas karena sejalan dengan hikmah, dan
bahwa berita-beritanya berada di tingkatan paling atas dalam kebenaran,
sedangkan hukum-hukumnya berada pada keadaan yang paling baik. Semuanya
mutasyaabih (serupa) karena sama dalam hal balaghah (kefasihan) dan indahnya,
dan karena yang satu dengan yang lain saling membenarkan serta karena sempurna
sekali kesamaannya. Di antara ayat-ayat itu ada yang muhkamat (jelas), dan ada
pula yang mutasyabihat (masih samar). Samarnya karena uraiannya masih ijmal
(secara garis besar) dan masih mengandung kemungkinan makna yang lain,
sedangkan muhkamnya adalah karena jelas dan terang maknanya, dimana apabila
yang mutasyabihat dikembalikan kepada yang muhkamat, maka semuanya menjadi
sejalan dan maknanya menjadi lurus dan jelas.
Hakikat Kebersamaan Allah Subhaanahu wa
Ta'ala
191.Kebersamaan
Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an ada dua:
a.
Ma’iyyah ‘Aammah
(kebersamaan umum) yaitu dengan ilmu dan liputan-Nya, dimana Dia bersama hamba-hamba-Nya dengan
ilmu dan liputan-Nya dimana saja mereka berada.
b.
Ma’iyyah Khaashshah
(kebersamaan khusus), yaitu dengan pertolongan-Nya, kelembutan-Nya dan
penguatan-Nya. Dia bersama dengan makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan memperikan
pertolongan, kelembutan dan penguatan-Nya.
Pembagian Doa
192.Doa terbagi
dua; Pertama, Doa Ibadah (doa dalam arti ibadah), yaitu semua
ibadah yang diperintahkan Allah, seperti shalat, puasa, sedekah, haji, dan
sebagainya. Disebut doa ini dengan doa ibadah adalah, karena orang yang
melakukan ibadah pada hakikatnya berdoa kepada Allah agar dimasukkan ke dalam
surga-Nya dan dihindarkan dari neraka-Nya, ia juga berharap pahala-Nya dan
takut terhadap siksa-Nya. Doa Ibadah ini apabila ditujukan kepada selain Allah
adalah syirk akbar dan dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Yang kedua adalah Doa Mas’alah
(doa dalam arti meminta), yaitu meminta kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala agar
dipenuhi kebutuhannya. Ia menjadi ibadah apabila dari seorang hamba kepada
Tuhannya karena di dalamnya terdapat rasa butuh kepada Allah Subhaanahu wa
Ta'aala dan kembali kepada-Nya serta meyakini bahwa Dia Mahakuasa lagi
Mahamulia yang luas karunia dan rahmat-Nya. Doa Mas’alah ini boleh dilakukan
dari seorang hamba kepada hamba yang sepertinya apabila orang yang diminta ini
mengerti permintaannya dan mampu memenuhi permintaannya, seperti pada kata-kata
seseorang, “Wahai fulan, berilah saya makan.”
Makna Thayyibat, Nafkah, dan Tawakkal
193.Thayyibat
adalah istilah yang mencakup semua yang baik dan bermanfaat, baik terkait
dengan ‘aqidah (keyakinan), akhlak, amal, makanan, minuman, usaha, dsb.
Kebalikannya adalah khabitsat.
194.Nafkah
mencakup nafkah yang wajib dan yang sunah. Yang wajib seperti zakat, kaffarat,
menafkahi diri, keluarga, dan budak yang dimilikinya. Sedangkan yang sunah
seperti nafkah di semua jalur kebaikan.
195.Bertawakkal
kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya adalah diperintahkan, bahkan
Dia memuji orang-orang yang bertawakkal dalam banyak ayat. Hakikat tawakkal itu
adalah kuatnya hati bersandar kepada Allah dalam mendatangkan maslahat dan
menghindarkan madharrat dengan kepercayaan yang teguh kepada-Nya untuk
memperoleh hal itu. Tentunya tawakkal disertai usaha atau melakukan sebab.
Hakikat Akal Yang Sehat
196.Akal yang
dipuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan dipuji-Nya orang-orang yang memilikinya
serta diberitahukan-Nya bahwa merekalah yang dapat mengambil manfaat dari
ayat-ayat-Nya adalah akal yang dapat memahami, mengerti hakikat yang bermanfaat
serta mengamalkannya, demikian pula mengikat atau menahan pemiliknya dari
perkara-perkara yang membahayakan. Oleh karena itulah akal disebut hijr,
lubb dan nuha karena mencegah pemiliknya dari bertindak atau
melakukan hal yang membahayakannya.
197.Akal yang sehat selamanya tidak akan
bertentangan dengan wahyu. Hubungan akal dengan wahyu seperti hubungan antara
mata dengan cahaya, dimana mata tidak dapat melihat sesuatu jika tidak ada
cahaya.
198.Akal yang benar akan selalu sama
dengan nash/dalil yang shahih. Keduanya jika qath'i (pasti) tidak akan
bertentangan selama-lamanya, dan jika dikira bertentangan, maka dalil harus
didahulukan.
199.Tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya
shallallahu 'alaihi wa sallam baik zhahir maupun batin, sehingga tidak boleh mempertentangkan
satu pun bagian dari Al Qur'an atau As Sunnah yang shahih dengan qiyas, dzauq
(perasaan), kasyf (penyingkapan tabir rahasia), pendapat syaikh, pendapat imam
dsb.
Makna Ilmu Syar’i dan Ummat
200.Ilmu maksudnya mengetahui
petunjuk atau kebenaran dengan dalilnya, ia adalah mengetahui masalah-masalah
yang bermanfaat yang memang dituntut, mengetahui dalil-dalil dan cara-cara yang
dapat menunjukkan kepadanya (kebenaran). Ilmu yang bermanfaat adalah
mengetahui yang hak dan mengamalkannya, kebalikannya adalah Al Jahl.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar