Rabu, 08 April 2026

Mukadimah (17)

 Pengantar Tafsir Al Qur’an

 


Perbedaan Beberapa Kata (Ghamm, Hamm, dan Hazn)

171. Ghamm artinya kesedihan yang menimpa saat ini, Hamm kerisauan dan kegelisahan terhadap hal yang akan datang, sedangkan Hazn adalah kesedihan terhadap hal yang telah berlalu. Ada yang berpendapat bahwa ghamm dan hamm sama artinya.

 

Perbedaan Beberapa Kata (Abadi, Azali, Amada, Sarmada, dst.)

172.Abadi artinya selama-lamanya atau tidak ada akhirnya. Azali artinya tidak ada awalnya. Amada adalah waktu antara awal dan akhir. Sarmada adalah waktu yang tidak ada awal dan tidak ada akhirnya.

173.Tahassus artinya mencari kabar baik orang lain. Tajassus artinya mencari kabar buruk orang lain (mencari-cari kesalahan).

174.Ash Shamtu muncul karena adab dan hikmah. As Sukut muncul karena takut.

175.Ka’aabah artinya kesedihan yang tampak pada wajah. Huzn artinya kesedihan yang disembunyikan di hati.

176.Syaraqa artinya terbit. Asyraqa artinya menyinari.

177.Ta’lim artinya mengajarkan dengan ucapan dan lainnya. Talqin artinya mengajarkan dengan ucapan saja (menuntun).

178.Jasad artinya fisik manusia dari atas kepala sampai bawah kaki. Badan artinya fisik manusia bagian atas.

179.Tadhaadh artinya pertentangan dalam tindakan. Tanaqudh artinya pertentangan dalam ucapan.

180.Hubuth artinya singgah untuk tinggal. Nuzul artinya singgah sementara.

181.Mukhktal artinya memandang diri dengan bangga. Fakhur artinya memandang orang lain dengan nada menghinakan.

182.Hadhm artinya mengurangi sebagian hak. Zhulm mengurangi semua hak.

183.Muqsith artinya adil. Qasith artinya zalim.

 

Tafsir Beberapa Kata

184.Menurut Ibnu Abbas, setiap lafaz ‘aliim’ (pedih) dalam Al Qur’an maksudnya menyakitkan. Lafaz ‘Qutila’ maksudnya ‘Lu’ina’ (dilaknat). Lafaz ‘Rijz’ maksudnya ‘azab’. Lafaz ‘tasbih’ maksudnya shalat. Lafaz ‘sulthan’ maksudnya hujjah. Lafaz ‘Ad Din’ maksudnya hisab. Lafaz ‘raib’ maksudnya syak (ragu) kecuali satu ayat di surah Ath Thur, yaitu ‘Raibal Manun’ yang artinya musibah (Al Itqan fi Ulumil Qur’an juz 1 hal. 164).

 

Antara Meninggalkan Perintah dan Mengerjakan Larangan

185.Mana yang lebih besar dosanya di sisi Allah Azza wa Jalla antara meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan?

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa meninggalkan perintah lebih besar dosanya di sisi Allah Azza wa Jalla daripada mengerjakan larangan karena beberapa alasan, di antaranya:

a.       Sebagaimana dalam kisah Nabi Adam alaihis salam dengan Iblis yang tidak mau tunduk kepada perintah Allah Azza wa Jalla.

b.      Mengerjakan larangan biasanya karena syahwat yang menguat dan karena kebutuhan, sedangkan meninggalkan perintah biasanya karena kesombongan, dimana orang yang ada kesombongan dalam hatinya meskipun seberat dzarrah (debu) tidak masuk surga, sebaliknya orang yang meninggal dunia di atas tauhid akan masuk surga meskipun dia pernah berzina dan mencuri.

c.       Mengerjakan perintah lebih dicintai Allah Azza wa Jalla daripada meninggalkan larangan karena adanya beberapa nash yang menunjukkan demikian, di antaranya sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya, demikian pula penjelasan Beliau tentang amal yang paling baik, paling suci, paling meninggikan derajat dan melebihi bertemu musuh yang kemudian memenggal leher kalian atau kalian memenggal leher mereka yaitu dzikrullah, serta pernyataan Beliau amal terbaik kalian adalah shalat, dan dalil-dalil lainnya (Lihat Al Fawaid 1/171-172).

 

Sisi Kemukjizatan Al Qur’an

186.Kemukjizatan Al Qur’an sehingga membuat orang-orang Arab tidak mampu membawakan ayat yang serupa dengan Al Qur’an adalah karena banyak sisi, di antaranya:

a.              Lafaznya yang sedikit namun mengandung makna yang banyak.

b.             Jelas dan fasih.

c.              Kalimatnya menarik dan di luar kebiasaan, padahal lafaz dan hurufnya biasa digunakan dalam kalimat bangsa Arab.

d.             Pembacanya tidak pernah lelah, pendengarnya tidak pernah bosan, semakin banyak membaca semakin manis dan sejuk dalam jiwa.

e.              Beritanya adalah berita yang sudah diketahui atau belum diketahui. Jika mereka menanyakannya, maka mereka langsung mengetahui kebenarannya, seperti kisah As-habul Kahfi, kisah Nabi Musa dengan Khadhir, keadaan Dzulqarnain, kisah para nabi bersama umatnya, serta kisah generasi-generasi terdahulu.

f.              Memuat pengetahuan yang gaib dan berita peristiwa yang akan terjadi.

g.             Tidak mampunya para pandai bahasa membuat yang semisal dengan Al Qur’an.

187.Kemukjizatan Al Qur’an tampak pada bahasa dan sastranya, syariatnya, dan kebenaran ilmu dan berita yang disampaikannya. Pada bahasa dan sastranya sudah diterangkan sebelumnya. Pada syariatnya dapat kita ketahui bagaimana Islam memerintahkan kita memiliki sifat pemaaf, namun tetap memperhatikan agar kejahatan tetap diberikan hukuman yang setimpal agar tidak memunculkan kejahatan yang baru. Islam memerintahkan agar manusia selalu berbuat baik, sekalipun terhadap orang yang pernah berbuat jahat kepadanya. Islam mengajarkan manusia agar mereka banyak beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang melupakan hak diri dan orang lain. Islam memerintahkan manusia berendah hati, namun jangan melupakan harga diri.

 

Fasihnya Ayat-Ayat Al Qur’an

188.Dr. Muhammad Bakr Ismail berkata, “Allah memilih lafaz-lafaz bahasa Arab yang paling fasihnya, paling mudah di lisan, paling mudah dipahami, paling nikmat didengar telinga, paling kuat pengaruhnya di hati, paling sempurna menyampaikan makna dan kandungan, kemudian menyusunnya secara kokoh seperti bangunan, dan susunannya tidak dapat ditiru oleh ucapan manusia baik dari dekat maupun dari jauh. Hal itu, karena kandungan lafaznya yang mengandung ilham yang menembus jiwa dan merasuk ke dalam hati.” (Dirasat Fii Ulumil Qur’an hal. 328)

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut kisah yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu!" Habil menjawab, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maa’idah: 27)

Dalam ayat ini huruf qaaf diulang 10 kali, tetapi pembaca Al Qur’an hampir tidak merasakan pengulangan huruf qaaf ini padahal sifatnya syiddah (tertaham suara), qalqalah (pantulan), jahr (tertahan nafas), dan isti’la (tebal). Ia tidak merasakan kesulitan membacanya, bahkan mudah dan ringan lafaznya. Sekarang bandingkan dengan kalimat ini:

وَلَيْسَ قُرْبَ قَبْرِ حَرْبِ قَبْرُ

Artinya: Tidak ada di dekat kuburan Harb sebuah kuburan.

Kalimat ini sukar diucapkan.

Dari sisi lafaz, banyak sekali saja’ (kesamaan huruf akhirnya) dalam Al Qur’an, misalnya firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)

“Oleh karena itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.-Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Adh Dhuha: 9-10)

Huruf akhir kedua ayat tersebut adalah raa.

Dan banyak sekali saja’ dalam Al Qur’an, seperti pada surat Asy Syams, Al Lail, Al Ikhlas, An Naas, dan surat-surat lainnya, di samping maknanya yang begitu jelas, tidak menggunakan kata-kata yang sulit diucapkan, sejalan dengan tatabahasa Arab, dan tidak menggunakan kata-kata yang gharib (tidak jelas artinya). 

Dengan demikian, Al Qur’an memiliki sastra paling tinggi sehingga tidak dapat tertandingi. Ia menyampaikan maksud ke dalam jiwa manusia dengan susunan kalimat yang paling indah.

Mengenal Wau Tsamaniyah (wau yang menunjukkan urutan kedelapan)

189.Di antara uslub (jalan bahasa) Arab adalah menggunakan huruf wau setelah menyebutkan tujuh perkara, seperti di surat At Taubah ayat 112 pada kata “Wan naahuuna ‘anil munkar,” dan surat At Tahrim ayat 5 pada kata “Wa abkaaraa,” dimana urutan kedelapan ditambahkan huruf wau. Bahkan lafaz tsamaniyah (delapan) ditambahkan wau juga sebagaimana di surat Al Kahfi ayat 22 pada kata “Wa tsaaminuhum kalbuhum,” sedangkan pada kata sebelumnya tidak ditambahkan huruf wau. Contoh lainnya adalah di surat Al Haaqqah ayat 7, di sana disebutkan “Wa tsamaaniyata ayyaam.” Oleh karena itu, pada surat Az Zumar ayat 73, saat Allah menyebutkan pintu surga, maka Dia menambahkan huruf ‘wau’ yang menunjukkan, bahwa pintu surga berjumlah delapan, sedangkan saat Allah menyebutkan pintu neraka (QS. Az Zumar ayat 71), maka Dia tidak menambahkan huruf wau, karena sudah maklum, bahwa pintu neraka ada tujuh (Lihat QS. Al Hijr: 44). Hal ini termasuk keajaiban Al Qur’an.

 

Muhkamnya Al Qur'an

190.Al Qur’an seluruhnya muhkam (jelas), ayat-ayatnya jelas karena sejalan dengan hikmah, dan bahwa berita-beritanya berada di tingkatan paling atas dalam kebenaran, sedangkan hukum-hukumnya berada pada keadaan yang paling baik. Semuanya mutasyaabih (serupa) karena sama dalam hal balaghah (kefasihan) dan indahnya, dan karena yang satu dengan yang lain saling membenarkan serta karena sempurna sekali kesamaannya. Di antara ayat-ayat itu ada yang muhkamat (jelas), dan ada pula yang mutasyabihat (masih samar). Samarnya karena uraiannya masih ijmal (secara garis besar) dan masih mengandung kemungkinan makna yang lain, sedangkan muhkamnya adalah karena jelas dan terang maknanya, dimana apabila yang mutasyabihat dikembalikan kepada yang muhkamat, maka semuanya menjadi sejalan dan maknanya menjadi lurus dan jelas.

Hakikat Kebersamaan Allah Subhaanahu wa Ta'ala

191.Kebersamaan Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an ada dua:

a.         Ma’iyyah ‘Aammah (kebersamaan umum) yaitu dengan ilmu dan liputan-Nya,  dimana Dia bersama hamba-hamba-Nya dengan ilmu dan liputan-Nya dimana saja mereka berada.

b.         Ma’iyyah Khaashshah (kebersamaan khusus), yaitu dengan pertolongan-Nya, kelembutan-Nya dan penguatan-Nya. Dia bersama dengan makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan memperikan pertolongan, kelembutan dan penguatan-Nya.

Pembagian Doa

192.Doa terbagi dua; Pertama, Doa Ibadah (doa dalam arti ibadah), yaitu semua ibadah yang diperintahkan Allah, seperti shalat, puasa, sedekah, haji, dan sebagainya. Disebut doa ini dengan doa ibadah adalah, karena orang yang melakukan ibadah pada hakikatnya berdoa kepada Allah agar dimasukkan ke dalam surga-Nya dan dihindarkan dari neraka-Nya, ia juga berharap pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. Doa Ibadah ini apabila ditujukan kepada selain Allah adalah syirk akbar dan dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.  Yang kedua adalah Doa Mas’alah (doa dalam arti meminta), yaitu meminta kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala agar dipenuhi kebutuhannya. Ia menjadi ibadah apabila dari seorang hamba kepada Tuhannya karena di dalamnya terdapat rasa butuh kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kembali kepada-Nya serta meyakini bahwa Dia Mahakuasa lagi Mahamulia yang luas karunia dan rahmat-Nya. Doa Mas’alah ini boleh dilakukan dari seorang hamba kepada hamba yang sepertinya apabila orang yang diminta ini mengerti permintaannya dan mampu memenuhi permintaannya, seperti pada kata-kata seseorang, “Wahai fulan, berilah saya makan.

Makna Thayyibat, Nafkah, dan Tawakkal

193.Thayyibat adalah istilah yang mencakup semua yang baik dan bermanfaat, baik terkait dengan ‘aqidah (keyakinan), akhlak, amal, makanan, minuman, usaha, dsb. Kebalikannya adalah khabitsat.

194.Nafkah mencakup nafkah yang wajib dan yang sunah. Yang wajib seperti zakat, kaffarat, menafkahi diri, keluarga, dan budak yang dimilikinya. Sedangkan yang sunah seperti nafkah di semua jalur kebaikan.

195.Bertawakkal kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya adalah diperintahkan, bahkan Dia memuji orang-orang yang bertawakkal dalam banyak ayat. Hakikat tawakkal itu adalah kuatnya hati bersandar kepada Allah dalam mendatangkan maslahat dan menghindarkan madharrat dengan kepercayaan yang teguh kepada-Nya untuk memperoleh hal itu. Tentunya tawakkal disertai usaha atau melakukan sebab.

 

Hakikat Akal Yang Sehat

196.Akal yang dipuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan dipuji-Nya orang-orang yang memilikinya serta diberitahukan-Nya bahwa merekalah yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya adalah akal yang dapat memahami, mengerti hakikat yang bermanfaat serta mengamalkannya, demikian pula mengikat atau menahan pemiliknya dari perkara-perkara yang membahayakan. Oleh karena itulah akal disebut hijr, lubb dan nuha karena mencegah pemiliknya dari bertindak atau melakukan hal yang membahayakannya.

197.Akal yang sehat selamanya tidak akan bertentangan dengan wahyu. Hubungan akal dengan wahyu seperti hubungan antara mata dengan cahaya, dimana mata tidak dapat melihat sesuatu jika tidak ada cahaya.

198.Akal yang benar akan selalu sama dengan nash/dalil yang shahih. Keduanya jika qath'i (pasti) tidak akan bertentangan selama-lamanya, dan jika dikira bertentangan, maka dalil harus didahulukan.

199.Tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam baik zhahir maupun batin, sehingga tidak boleh mempertentangkan satu pun bagian dari Al Qur'an atau As Sunnah yang shahih dengan qiyas, dzauq (perasaan), kasyf (penyingkapan tabir rahasia), pendapat syaikh, pendapat imam dsb.

Makna Ilmu Syar’i dan Ummat

200.Ilmu maksudnya mengetahui petunjuk atau kebenaran dengan dalilnya, ia adalah mengetahui masalah-masalah yang bermanfaat yang memang dituntut, mengetahui dalil-dalil dan cara-cara yang dapat menunjukkan kepadanya (kebenaran). Ilmu yang bermanfaat adalah mengetahui yang hak dan mengamalkannya, kebalikannya adalah Al Jahl.

201. Lafaz ‘ummat’ dalam Al Qur’an ada empat maksud: (1) Segolongan dari manusia, dan inilah yang sering, (2) Waktu, (4) Agama, dan (4) Imam (pemimpin) dalam kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mukadimah (20)

  Mukadimah (20) Pengantar Tafsir Al Qur’an Pembukuan Tafsir Al Qur’an 266. Pembukuan kitab tafsir telah dimulai di akhir-akhir pemeri...