Senin, 29 Juni 2026

Seri 18 (surah Al Baqarah ayat 62-66)

 

Seri (18)


 

Ayat 62: Iman (masuk Islam) dan beramal saleh merupakan asas keselamatan dan kebahagiaan di setiap zaman.

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)  

62. [1]Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi[2], orang-orang Nasrani[3] dan orang-orang Shabiin[4], siapa saja (di antara) mereka yang benar beriman kepada Allah[5] dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati[6].

 

Ayat 63-66: Mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap sejarah nenek moyang mereka yang kelam, bagaimana mereka mendapatkan hukuman karena durhaka kepada Allah ‘Azza wa Jalla, melanggar perjanjian dengan Allah, dan enggan melaksanakan syariat-Nya yang telah diturunkan.

 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (63) 

63. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu[7] dan Kami angkat gunung di atasmu[8] (seraya berfirman), "Pegang teguhlah[9] apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya[10], agar kamu bertakwa."

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (64)  

64. Kemudian setelah itu kamu berpaling[11]. Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya bagimu, pasti kamu termasuk orang yang rugi[12].

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65)    

65. [13]Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat[14], lalu Kami katakan kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina."[15]

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66)  

66. Maka Kami jadikan (yang demikian) itu sebagai peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian[16], serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa[17].


[1] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah Ta’ala telah menerangkan tentang orang-orang yang menyelisihi perintah-perintah-Nya dan mengerjakan larangan-larangan-Nya, dan melampaui batas dengan mengerjakan perbuatan yang tidak diizinkan serta melanggar kehormatan, demikian pula menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan bahwa barang siapa yang berbuat ihsan (beriman dan beramal saleh) dari kalangan umat-umat terdahulu dan melakukan ketaatan, maka dia akan memperoleh balasan yang terbaik (surga). Hal ini juga berlaku sampai hari Kiamat, yakni setiap orang yang mengikuti Rasul Nabi yang ummi, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dimana mereka tidak akan khawatir terhadap perkara yang akan datang di hadapan mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih terhadap perkara yang mereka tinggalkan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Terj. QS. Yunus: 62) demikian pula seperti yang dikatakan para malaikat kepada orang mukmin ketika ia akan wafat, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Terj. QS. Fushshilat: 30) (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67).

[2] Yahudi berasal dari kata ‘Hawadah’, yang artinya belas kasih dan tobat, seperti perkataan Nabi Musa ‘alaihis salam, “Innaa hudnaa ilaik.” (artinya: Sesungguhnya kami bertobat kepada-Mu). Mungkin mereka disebut demikian karena tobat mereka dan saling kasing-sayang antara sesama mereka. Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka disebut demikian karena nisbat mereka kepada Yahuda, yaitu anak paling besar di antara anak-anak Ya’qub. Adapun menurut Abu ‘Amr bin Al ‘Alaa’, bahwa mereka disebut Yahudi karena mereka bergerak-gerak ketika membaca Taurat. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67).

[3] Ketika Nabi Isa ‘alaihis salam diutus, maka orang-orang Bani Israil wajib mengikutinya, para pengikutnya dan para pemeluk agamanya disebut Nashara, bentuk jamak dari kata Nasrani. Mereka disebut demikian karena tolong-menolong yang dilakukan antar sesama mereka. Mereka juga disebut Anshar sebagaimana ucapan Nabi Isa ‘alaihis salam, Siapakah yang akan menjadi Anshar(penolong-penolong)ku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, "Kamilah penolong-penolong agama Allah," (Terj. Qs. Ash Shaff: 14). Ada pula yang mengatakan, bahwa mereka disebut Nashara karena mereka pernah menempati sebuah tempat yang disebut Nashirah (Nazaret), sebagaimana dikatakan Qatadah dan Ibnu Juraij, dan diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas seperti itu, wallahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67).

Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka disebut Nashara, karena Maryam pernah singgah bersama puteranya Isa di sebuah daerah yang disebut Nashirah (Nazaret).

[4] Tentang Shaabi’in, ada beberapa pendapat: Pertama, mereka adalah segolongan orang Nasrani yang paling lembut perkataannya. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Kedua, mereka adalah kaum antara Nasrani dan Majusi; mereka tidak punya agama. Hal ini dikatakan oleh Mujahid. Ketiga, mereka adalah kaum antara Yahudi dan Nasrani. Hal ini dikatakan oleh Sa’id bin Jubair. Keempat, mereka seperti orang-orang Majusi. Hal ini dikatakan oleh Al Hasan dan Al Hakam. Kelima, mereka adalah segolongan Ahli Kitab yang membaca kitab Zabur. Hal ini dikatakan oleh Abul ‘Aliyah. Keenam, mereka adalah orang-orang yang shalat menghadap kiblat dan menyembah malaikat, dan mereka membaca kitab Zabur. Hal ini dikatakan oleh Qatadah. Ketujuh, mereka adalah orang-orang yang mengucapkan Laailaahaillallah saja, namun mereka tidak punya amalan, kitab maupun nabi. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Lihat Zaadul Masiir oleh Ibnul Jauziy pada tafsir ayat 62 surah Al Baqarah).

Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka adalah orang-orang yang menyembah bintang-bintang. Menurut Ibnu Katsir, bahwa pendapat yang paling kuat -dan Allah yang paling tahu-, adalah pendapat Mujahid, orang-orang yang mengikutinya dan pendapat Wahb bin Munabbih, bahwa mereka adalah kaum yang bukan di atas agama Yahudi, Nasrani, Majusi maupun kaum musyrik, bahkan mereka adalah orang-orang yang masih tetap di atas fitrahnya, namun mereka tidak memiliki agama yang mereka ikuti dan lazimi. Oleh karena itulah, orang-orang musyrik menjuluki orang-orang yang masuk Islam dengan Shabi’. Sebagian ulama berkata, “Bahwa orang-orang shaabiin adalah orang-orang yang tidak sampai kepada mereka dakwah seorang nabi,” walahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 67)

[5] Orang-orang yang beriman dari kalangan umat ini, begitu pula orang-orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang mau beriman kepada Allah, termasuk juga beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beriman kepada hari akhir dan mengerjakan amalan yang saleh, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja (di antara) mereka yang benar beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” Ia berkata, “Kemudian Allah menurunkan ayat setelahnya yang berbunyi, Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran: 85)

Ibnu Katsir berkata, “Yang dikatakan Ibnu Abbas merupakan informasi bahwa tidak diterima suatu jalan hidup atau suatu amal kecuali jika sesuai dengan syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah diutusnya Beliau. Adapun sebelum Beliau diutus, maka setiap orang yang mengikuti Rasul di zamannya, maka ia berada di atas petunjuk dan jalan keselamatan.”

Ia juga berkata, “Ketika Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi dan sebagai rasul kepada manusia secara mutlak, maka mereka semua wajib membenarkan sabdanya, menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Mereka ini adalah orang-orang mukmin yang hakiki, dan disebutkannya umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mukminin (orang-orang yang beriman) karena banyaknya keimanan mereka, kuatnya keyakinan mereka, dan karena mereka beriman kepada semua nabi yang terdahulu dan semua berita gaib yang akan datang.”

Abu Bakar Al Jazairiy berkata, “Keimanan yang benar tidaklah sempurna bagi seseorang kecuali dengan beriman kepada penutup para nabi, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan amal saleh tidaklah terwujud kecuali dengan beriman kepada syariat yang dibawa Beliau yang ada dalam kitabnya dan yang diwahyukan kepadanya (dalam As Sunnah). Hal itu, karena dengan syariat Beliau, Allah menghapus semua syariat sebelumnya, dan karena syariat terdahulu sudah dihapus, maka tidak ada hasilnya, yakni tidak menyucikan jiwa seseorang dan tidak membersihkannya, sedangkan kebahagiaan di akhirat tergantung pada kesucian dan kebersihan jiwa.”

Intinya, untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa Jalla, diamankan dari rasa takut dan tidak bersedih hati adalah dengan beriman atau masuk Islam dan beramal saleh.

[6]  Disebutkannya ayat ini setelah sebelumnya menerangkan tindakan Bani Israil dan akhlak mereka yang buruk serta celaan kepada mereka di antara faedahnya adalah agar mereka (Bani Israil) tidak berputus asa untuk bertobat dan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni jika mereka mau merubah sikap dengan beriman (masuk Islam) dan beramal saleh, maka mereka akan memperoleh kemuliaan di dunia dan di akhirat (lihat juga surat Al Maa'idah: 65). Dalam ayat tersebut, Allah juga ingin menerangkan bahwa celaan tersebut hanyalah bagi mereka yang mengikuti jejak nenek moyang mereka yang salah. Dan agar tidak ada kesan bahwa hal ini khusus mereka, maka Allah menyebutkan juga bahwa tidak hanya mereka, bahkan umat yang lain; baik Yahudi, Nasrani, Shaabi'in dan umat lainnya jika mereka sama mau beriman dengan masuk Islam dan mau beramal saleh, maka mereka akan mendapat pahala dari Allah, mereka tidak perlu takut dengan apa yang akan mereka hadapi berupa perkara akhirat, dan tidak perlu bersedih hati terhadap apa saja yang telah berlalu. Jika rasa takut telah hilang, maka yang ada adalah keamanan, dan ketika kesedihan telah hilang, maka yang ada adalah kebahagiaan.

Dari ayat 62 di atas kita dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) keimanan tidak hanya di lisan, tetapi harus dibenarkan oleh hati dan diamalkan dengan aggota badan, (2) wajibnya semua golongan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan masuk ke dalam Islam, (3) Mereka yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan kabar gembira berupa penyingkiran rasa takut sehingga mebuahkan keamanan, dan penyingkiran rasa sedih sehingga membuahkan kesenangan dan kebahagiaan.

[7]  Janji untuk beriman kepada Allah dan hanya beribadah kepada-Nya serta beriman kepada rasul-rasul-Nya.

[8] Jika mereka menolak, maka akan ditimpakan kepada mereka gunung tersebut.

[9] Yakni bersungguh-sungguh dan bersabarlah dalam menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla.

Mujahid berkata tentang firman-Nya, “Biquwwah,” yakni mengamalkan apa yang ada di dalamnya.

[10] Menurut Abul ‘Aliyah dan Ar Rabii’, bahwa maksudnya adalah, bacalah Taurat itu dan amalkanlah.

[11]  Mereka berpaling untuk kesekian kalinya.

[12] Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang memberikan taufiq untuk bertobat dan mengampuni kesalahan-kesalahan mereka tentu mereka termasuk orang-orang yang rugi di dunia dan akhirat, karena mereka telah melanggar perjanjian.

[13] Setelah Allah menyebutkan sejumlah nikmat-nikmat-Nya kepada Bani Israil, maka Dia menyebutkan peringatan keras kepada mereka, termasuk terkait kisah penyembelihan sapi betina. Yang demikian karena pelanggaran yang mereka lakukan dan sikap menyusahkan diri.

[14] Hari Sabat ialah hari Sabtu, hari khusus bagi orang yahudi untuk beribadah, bukan untuk bekerja; namun mereka memanfaatkannya untuk menjaring ikan.

Ibnu Katsir berkata tentang ayat di atas, “Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, kamu telah mengetahui,” wahai orang-orang Yahudi, hukuman yang menimpa penduduk kampung yang durhaka kepada perintah Allah dan menyelisihi perjanjian-Nya yang diambil-Nya dari mereka, yaitu (keharusan) memuliakan hari Sabtu dan melaksanakan perintah-Nya (dengan beribadah pada hari itu) karena disyariatkan kepada mereka, lalu mereka mencari helat (tipu daya) untuk dapat menjaring ikan yang berkumpul pada hari Sabtu dengan meletakkan perangkap, tali dan galian sebelum hari Sabtu. Ketika tiba hari Sabtu dan seperti biasanya banyak ikan pada hari itu, maka ikan-ikan itu terjaring di perangkap-perangkap itu dan tidak ada satu ikan pun yang lolos. Ketika tiba malam harinya setelah habis hari Sabtu, maka mereka mengambil ikan-ikan itu, saat mereka melakukannya, maka Allah rubah bentuk mereka menjadi bentuk kera, dimana ia adalah binatang yang paling mirip dengan manusia dalam penampilan luarnya, tetapi bukan manusia hakiki. Demikianlah amalan dan tipu daya mereka karena mirip dengan kebenaran di luarnya namun menyelisihi batinnya, maka mereka dibalas sesuai dengan amal yang mereka kerjakan. “ (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 68)

Kisahnya bisa dibaca dalam surat Al A'raaf: 163.

[15] Jumhur (mayoritas) mufassir menafsirkan bahwa mereka betul-betul berubah menjadi kera, hanyasaja tidak beranak, tidak makan dan minum, dan hidupnya tidak lebih dari tiga hari.

Al ‘Aufi menyebutkan tafsir ayat, “Lalu Kami katakan kepada mereka, "Jadilah kamu kera yang hina" dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Maka Allah menjadikan mereka kera dan babi, ia menyebutkan, bahwa yang mudanya menjadi kera, sedangkan yang tua menjadi babi.”

Syaiban An Nahwiy meriwayatkan dari Qatadah tentang ayatLalu Kami katakan kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina," ia berkata, “Orang-orang itu pun menjadi kera yang berkerumun dan memiliki ekor setelah sebelumnya mereka sebagai laki-laki dan wanita.”

Adh Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Maka Allah merubah bentuk mereka menjadi kera karena kemaksiatan mereka,” Ia berkata lagi, “Mereka tidak hidup di bumi selain tiga hari.” Ia juga berkata, “Tidak ada yang dikutuk dengan perubahan bentuk yang dapat hidup lebih dari tiga hari, ia tidak makan, minum dan tidak berketurunan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menciptakan kera, babi dan semua makhluk dalam waktu enam hari seperti yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya, lalu Dia merubah bentuk mereka itu menjadi kera. Demikianlah Dia berbuat yang Dia kehendaki kepada siapa yang Dia kehendaki dan mengubahnya sebagaimana yang Dia kehendaki.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 68)

[16] Sehingga hujjah telah tegak dan agar mereka tidak bermaksiat kepada-Nya.

[17] Sehingga mereka dapat bersabar di atas ketakwaan, dan peringatan itu hanyalah bermanfaat bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa saja.

Imam Abu Abdillah bin Baththah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad bin Ash Shabaah Az Za’faraaniy, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَرْتَكِبُوْا مَا ارْتَكَبَ الْيَهُوْدُ، فَتَسْتَحِلُّوْا مَحَارِمَ اللهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ

“Janganlah kamu melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, mereka menganggap halal larangan Allah dengan helat (tipu daya) yang paling rendah.” (Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Isnad ini jayyid, Ahmad bin Muhammad bin Muslim ini ditsiqahkan oleh Al Hafizh Abu Bakar Al Khathib Al Baghdadi, sedangkan perawi-perawi yang lainnya masyhur sesuai syarat shahih, wallahu a’lam.”)

Dari beberapa ayat di atas (ayat 63-66) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya seperti yang disimpulkan Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy dalam Tafsirnya: (1) wajibnya memenuhi perjanjian, (2) wajibnya berpegang teguh dengan syariat, demikian pula mengingatnya dan tidak melupakannya, (3) ketakwaan seorang hamba tidaklah sempurna sampai ia berpegang teguh dengan syariat, (4) haramnya mencari celah untuk menghalalkan yang haram, dan akibat mereka yang mencari celah lagi melanggar aturan, dan (5) terkadang Allah menyegerakan hukuman kepada sebagian pelaku maksiat di dunia sebelum di akhirat agar menjadi pelajaran bagi manusia sehingga mereka tidak berani mendatangi larangan Allah Azza wa Jalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...