Seri (17)
Ayat 58-61:
Membicarakan tentang watak keras Bani Israil, menyingkap keadaan mereka kepada
kaum muslimin, sejarah mereka yang kelam, dan isi hati mereka yang penuh dengan
keburukan, perkara kotor dan rencana jahat terhadap kaum mukmin, dan
menyebutkan pembalasan terhadap sikap dan perbuatan mereka, serta
balasan bagi orang-orang yang beriman.
وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا
مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ
نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58)
58. [1]Dan
(ingatlah), ketika Kami berfirman, "Masuklah ke negeri ini (Baitulmaqdis),
maka makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di
فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا
عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (59)
59. Lalu orang-orang yang zalim mengganti
perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka[5].
Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu,
karena mereka (selalu) berbuat fasik[6].
وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ
فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ
كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
(60)
60. Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air
untuk kaumnya[7],
lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!"[8] Maka
memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat
minumnya (masing-masing)[9].
Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah[10],
dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan[11].
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ
لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا
وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى
بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ
عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ
كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ
ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (61)
[1] Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala berfirman
mencela Bani Israil karena mundur dari berjihad dan enggan masuk ke negeri suci
ketika mereka baru tiba dari negeri Mesir bersama Nabi Musa ‘alaihis salam,
lalu mereka disuruh masuk ke negeri suci dan memerangi orang-orang yang berada
di dalamnya yang terdiri dari kaum Amaliqah yang kafir, tetapi mereka menolak
maju, merasa lemah dan patah semangat, sehingga Allah menyesatkan mereka di
padang pasir sebagai hukuman bagi mereka sebagaimana yang disebutkan Allah Subhaanahu
wa Ta'aala di surat Al Ma’idah: 21-26. Oleh karena itu, menurut pendapat yang
sahih di antara kedua pendapat, bahwa negeri tersebut adalah negeri
Baitulmaqdis sebagaimana yang disebutkan oleh As Suddiy, Ar Rabii’ bin Anas,
Qatadah, Abu Muslim Al Ashfahaani dan lainnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga
berfirman mengisahkan perkataan Nabi Musa, “Wahai kaumku! Masuklah ke
tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu
lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang
yang merugi.”
(Terj. Qs. Al Ma’idah: 21) menurut yang lain, bahwa negeri tersebut adalah
Ariha, dan pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abdurrahman bin Zaid.
As Suddiy berkata, “Ariha adalah salah satu daerah
di Baitulmaqdis.”
Ibnu Katsir juga menjelaskan, hal ini terjadi ketika
mereka telah keluar dari
[2] Ini termasuk nikmat Allah kepada mereka. Setelah
mereka berbuat maksiat kepada-Nya, Allah memerintahkan mereka masuk ke sebuah
negeri yang di
Al ‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas
tentang firman Allah Ta’ala, “Masukilah pintu
gerbangnya sambil bersujud.” Ia berkata, “Yaitu sambil ruku.”
Ibnu
Jarir juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas
tentang firman Allah Ta’ala, “Masukilah pintu
gerbangnya sambil bersujud.” Ia berkata, “Yaitu sambil ruku’
melalui pintu yang kecil.” Hakim juga meriwayatkan atsar ini, dan Ibnu Abi
Hatim menambahkan, “Maka mereka pun masuk dengan mengesotkan bokong mereka.”
Al
Hasan Al Bashri berkata, “Mereka diperintahkan sujud di atas wajahnya ketika
masuk.”
Sebagian
ulama tafsir berpendapat, bahwa maksud sujud di sini adalah tunduk.
Khashif
meriwayatkan dari Ikrimah, dari
Ibnu
Abbas, Mujahid, As Suddiy, Qatadah dan Adh Dhahhak berkata, bahwa Babulhiththah
adalah salah satu pintu gerbang masuk ke kota Iliya Baitulmaqdis.
Ar
Raziy meriwayatkan dari sebagian ulama, bahwa yang dimaksud dengan pintu
tersebut adalah salah satu dari arah kiblat.
Khashif
meriwayatkan dari Ikrimah, dari
As
Suddiy meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Azdi dari Abu Al Kanud dari Abdullah bin
Mas’ud, ia berkata, “Dikatakan kepada mereka, “Masukilah pintu gerbangnya
sambil bersujud,” maka mereka pun masuk dalam keadaan mengangkat kepala
mereka, tidak sesuai dengan yang diperintahkan.
[3] Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan
katakanlah, "Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami),”
Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa maksudnya adalah mintalah ampunan. Al Hasan dan
Qatadah berkata, “Gugurkanlah kesalahan kami, “niscaya Kami ampuni
kesalahan-kesalahanmu, dan Kami akan menambah (karunia),” ayat ini
merupakan jawab amr(perintah)nya. Dengan kata lain, jika kamu mengerjakan yang
Kami perintahkan, maka Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kamu dan Kami
akan melipatgandakan kebaikan kamu.
Kesimpulannya,
bahwa mereka diperintahkan untuk tunduk kepada Allah Ta’ala ketika memperoleh
kemenangan, baik dengan perbuatan maupun ucapan, mengakui dosa-dosa mereka dan
memohon ampunan darinya, bersyukur terhadap nikmat pada saat itu serta
bersegera melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah Ta’ala, sebagaimana
firman Allah Ta’ala di surah An Nashr: 1-3.
[4] Allah Ta'ala akan menambahkan karunia, balasan
kebaikan di dunia dan akhirat, melipatgandakan kebaikan dan pahala.
[5] Mereka rubah kata-kata dan perbuatan yang
diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak menundukkan diri dalam perbuatan dan
perkataan, tetapi malah mengesotkan bokong mereka ke tanah sambil mengangkat
kepala mereka. Mereka tidak mengucapkan "Bebaskanlah kami dari dosa-dosa,”
bahkan mengatakan "sebutir biji dalam sebuah gandum," meremehkan
perintah Allah dan mempermainkan agama-Nya. Hal ini sebagaimana dalam hadits
berikut, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
قِيلَ لِبَنِي
إِسْرَائِيلَ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ يُغْفَرْ لَكُمْ
خَطَايَاكُمْ فَبَدَّلُوا فَدَخَلُوا الْبَابَ يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاهِهِمْ
وَقَالُوا حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ
"Dikatakan
kepada Bani Israil, “Masuklah pintu itu dalam keadaan sujud dan katakanlah,
'Hitthah' (ampunilah dosa-dosa kami) niscaya akan diampuni kesalahan-kesalahan
kamu, lalu mereka mengganti dan memasuki pintu itu seraya merangkak di atas bokong-bokong
mereka dan mereka berkata, “Habbah (biji) dalam sya’ir (sejenis gandum)."
(Hr. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menurunkan siksa-Nya dan azab-Nya karena kefasikan mereka, yakni
keluarnya mereka dari ketaatan kepada-Nya.
[6] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan azab dari
langit karena mereka selalu berbuat fasik; tidak mau menuruti perintah Allah
Azza wa Jalla.
Adh Dhahhak meriwayatkan dari
Menurut sebagian mufassir, bahwa azab yang
Allah turunkan berupa penyakit tha’un kepada mereka.
Syaikh Abu Bakar Al
Jaza’iriy dalam Aisarut Tafasir menyimpulkan beberapa kandungan dari
ayat di atas, di antaranya: (1) mengingatkan anak keturunan (Bani Israil)
dengan peristiwa yang menimpa nenek moyangnya agar diambil pelajaran, (2) meninggalkan
jihad menyebabkan kehinaan dan kerugian bagi umat, (3) peringatan tentang
akibat dari berbuat zalim, fasik, dan melanggar perintah syariat, (4) haramnya
mentakwil nash-nash syar’i hingga keluar dari maksud syariat, (5) keutamaan
bersikap ihsan (baik) dalam ucapan maupun perbuatan.
[7] Saat mereka kehausan di padang sahara.
Maksud ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah,
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan ingatlah nikmat-Ku kepadamu ketika Aku
mengabulkan doa Nabimu Musa ‘alaihis salam ketika ia meminta air minum
kepada-Ku, demikian pula Aku mudahkan kamu untuk memperoleh air; dikeluarkannya
air itu dari batu yang ada bersamamu, dan Aku pancarkan air untukmu dari 12
mata air, masing-masing suku dari kalangan kamu memiliki mata air yang mereka
kenali, maka makanlah Manna dan Salwa, dan minumlah air ini yang telah Aku
keluarkan untukmu tanpa usaha dan susah payah darimu, dan sembahlah Allah yang
telah menundukkan itu semua bagimu dan janganlah kamu berkeliaran di bumi
melakukan kerusakan, dan jangan pula kamu balas nikmat-nikmat yang ada dengan
kemaksiatan sehingga kenikmatan itu dicabut darimu.” (Lihat Al Mishbahul
Munir hal. 65)
Ibnu
Abbas berkata, “Allah mengadakan di tengah-tengah mereka batu persegi, lalu
memerintahkan Musa untuk memukul batu itu dengan tongkatnya, maka memancarlah
daripadanya 12 mata air, dimana pada masing-masing sudutnya ada 3 mata air,
Musa memberitahukan kepada masing-masing suku mata airnya, mereka pun meminum
daripadanya, dan mereka tidak pindah ke tempat yang lain, kecuali mereka temukan
hal itu sama seperti di tempat yang pertama.”
[8] Yakni
tongkat yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam sejak keluar dari negeri Madyan.
[9] Sesuai
jumlah suku Bani Israil sebagaimana tersebut dalam
[10] Rezeki itu diberikan Allah Ta'ala kepada
mereka tanpa kerja keras dan susah payah.
[11] Berbuat kerusakan adalah dengan mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya dalam semua sisi kehidupan.
[12] Menurut Ibnu Katsir, maksudnya, “Dan ingatlah
nikmat-Ku kepadamu ketika Aku menurunkan Al Mann dan Salwa kepadamu sebagai
makanan yang baik, bermanfaat, enak dan mudah diperoleh, dan ingat pula
berpalingnya kamu dan bosannya kamu kepada rezeki yang Kami karuniakan
kepadamu, dan permintaan kamu kepada Musa makanan-makanan rendah sebagai
gantinya yang berupa sayuran dan semisalnya."
[13] Dengan sikap bosan dan menganggap rendah tanda
tidak bersyukur.
[14] Memanggil Nabi mereka dengan menyebut Musa
tanpa menyebut “wahai Nabi Allah atau wahai Rasulullah” menunjukkan buruknya
adab mereka.
Dalam ayat ini juga terdapat dalil bolehnya
bertawassul dalam berdoa dengan perantaraan orang yang saleh, masih hidup, dan
ada di hadapan.
[15] Maksudnya, "Apakah kalian masih mencari
makanan yang lebih rendah nilainya dan meninggalkan rezeki bermanfaat yang
telah dipilihkan Allah Ta'ala untuk kalian?!" Dalam perkataan ini terdapat
celaan dan teguran keras kepada mereka karena meminta makanan-makanan yang
rendah padahal kehidupan mereka sudah lapang dan makanan mereka adalah makanan
yang enak, baik lagi bermanfaat. Kalimat ini juga mengandung larangan bagi kita
mengganti hal yang baik dengan yang tidak baik, seperti mengganti suatu sunnah
dengan suatu bid'ah.
Oleh karena permintaan mereka ini termasuk
ke dalam kategori keterlaluan, sombong, dan tidak patut sekali maka permintaan
mereka tidak dipenuhi, wallahu a’lam.
[16] Kata Mishr atau
[17] Yakni ditimpakan dan ditetapkan baik secara syara’
maupun taqdir.
[18] Kehinaan yang tampak pada zhahir (lahiriah) mereka.
[19] Karena lebih mengedepankan hawa nafsu daripada apa
yang telah dipilihkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk mereka. Kata ‘Maskanah’
di ayat ini bisa maksudnya kemiskinan sebagaimana dikatakan Abul ‘Aliyah, Ar
Rabii’ bin Anas dan As Suddiy, dan bisa maksudnya mereka dikenakan pajak sebagaimana
dikatakan ‘Athiyyah Al ‘Aufi.
Oleh karena itu, orang yang menjumpai
mereka, maka ia akan menghinakan dan merendahkan mereka, di samping keadaan
mereka yang hina dan rendah. Al Hasan berkata, “Allah menghinakan mereka
sehingga mereka tidak memiliki kewibawaan, dan dijadikan mereka di bawah kaum
muslimin. Sungguh, umat ini telah menemukan mereka, sedangkan orang-orang
Majusi menarik jizyah (pajak) dari mereka.”
Dalam ayat ini juga dapat kita ambil
pelajaran, bahwa barang siapa yang menyelisihi nabi yang diutus kepadanya, maka
dia akan mendapatkan kehinaan dan kerendahan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ
حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي،
وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ
فَهُوَ مِنْهُمْ
"Aku
diutus sebelum hari Kiamat dengan membawa pedang sampai Allah saja yang
disembah tidak ada sekutu bagi-Nya, dijadikan rezekiku di bawah naungan
tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi
perintahku. Dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk
mereka." (Hr. Ahmad, Abu Ya'la, dan Thabrani dari Ibnu Umar, dan
dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2831).
[20] Karena berpaling dari agama Allah, mengingkari
ayat-ayat-Nya, menghina para pemikul syariat (para nabi dan pewarisnya) bahkan
sampai melakukan pembunuhan kepada nabi-nabi mereka. Seperti inilah hati ketika
sudah menjadi keras.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin
Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أَشَدُّ
النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ قَتَلَهُ نَبِيٌّ أَوْ قَتَلَ
نَبِيًّا وَإِمَامُ ضَلَالَةٍ وَمُمَثِّلٌ مِنْ الْمُمَثِّلِينَ
"Manusia
yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang dibunuh oleh Nabi,
atau orang yang membunuh Nabi dan pemimpin yang sesat serta orang yang
menggambar (pelukis makhluk bernyawa)." (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh
Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1000).
[21] Ayat-ayat yang ditunjukkan Allah Ta'ala begitu jelas
bagi mereka, namun mereka ingkari.
[22] Kerasnya hati mereka disebabkan mereka selalu
bermaksiat kepada Allah dan melampaui batas terhadap hamba-hamba Allah dengan
berbuat zalim kepada mereka. Awalnya sikap lalai yang mengakibatkan jatuh ke
dalam dosa-dosa kecil, ketika sering dilakukan bisa mengakibatkan jatuh ke dalam
dosa-dosa besar dan akhirnya bisa mengakibatkan jatuh ke dalam bid'ah,
kekufuran dan penyimpangan lainnya, kita meminta kepada Allah agar
dilindungi dari setiap bala'.
Perlu diketahui, bahwa ayat ini ditujukan
kepada umat Bani Israil yang ada sewaktu diturunkannya Al Qur'an.
Tindakan-tindakan Bani Israil yang disebutkan pada ayat-ayat di atas adalah
tindakan Bani Israil terdahulu, namun dinisbatkan kepada Bani Israil yang ada
pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah karena beberapa faedah, di
antaranya:
Pertama, mereka sebelumnya berbangga diri, memuji dan menganggap lebih tinggi
di atas umat yang lain, maka Allah mengingatkan bahwa nenek moyang mereka
bukanlah orang-orang yang berakhlak mulia, bukanlah orang-orang yang sabar,
bahkan biasa bermaksiat. Dengan begitu, mereka tidak berbangga diri lagi.
Kedua, nikmat yang diberikan Allah kepada nenek moyang mereka merupakan
nikmat juga bagi generasi setelahnya.
Ketiga, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh mereka (Bani Israil) pada
umumnya tidak diingkari, padahal meridhai kemungkaran sama saja ikut serta di
dalamnya.
Dan faedah lainnya yang begitu banyak yang
hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla.
Ayat di atas juga menunjukkan baiknya
memberi nasihat disertai menyebutkan nikmat Allah kepadanya, orang yang
mendapatkan nikmat hendaknya mensyukurinya, celaan terhadap adab dan akhlak
yang buruk, peringatan terhadap dosa-dosa besar seperti kufur, membunuh dengan
tanpa alasan yang benar, apalagi yang dibunuh adalah para nabi atau para
pewarisnya, yaitu para ulama yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar di
tengah umat ini, dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar