Seri (9)
Ayat
21-22: Menetapkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, serta wajibnya beribadah
hanya kepada-Nya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21)
21. [1]Wahai
manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum
kamu, agar kamu bertakwa[2].
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ
مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا
لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)
[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan sifat
orang-orang mukmin yang beruntung, sifat orang-orang kafir yang rugi, dan
menyebutkan orang-orang munafik, maka Allah menyeru mereka secara umum agar
mereka tidak jatuh ke dalam kerugian sambil mengenalkan kepada mereka
sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya agar mereka mau menyambut seruan-Nya
ini, sehingga mereka mau beribadah hanya kepada-Nya yang membuat mereka
terhindar dari neraka dan masuk ke dalam surga-Nya.
[2] Ayat ini merupakan seruan Allah kepada semua manusia
agar beribadah dan menyembah hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang
telah memberikan nikmat kepada mereka dengan mengadakan mereka dari yang
sebelumnya tidak ada dan mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-Nya, dan seruan agar
mereka takut kepada-Nya serta tidak menyelisihi agama-Nya. Menurut Ibnu Abbas,
semua kata ibadah yang disebutkan dalam Al Qur’an maksudnya adalah mentauhidkan
Allah (beribadah hanya kepada-Nya).
Ayat "agar kamu bertakwa" bisa
maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah saja, berarti kita telah
menjaga diri dari kemurkaan dan siksa-Nya, bisa juga maksudnya bahwa jika kita
beribadah kepada Allah, kita dapat menjadi orang-orang yang bertakwa. Kedua
maksud tersebut adalah benar, oleh karena itu barang siapa yang beribadah
kepada Allah Ta'ala secara sempurna maka ia tergolong sebagai orang-orang yang
bertakwa, dan jika tergolong orang-orang yang bertakwa, maka ia akan memperoleh
keselamatan dari azab Allah dan kemurkaan-Nya.
[3] Agar kamu dapat tinggal dengan mudah di
atasnya, demikian pula dapat membuat bangunan di atasnya, menanam tanaman,
menggarap tanahnya, berjalan di atasnya, dan sebagainya.
[4] Langit atau dalam bahasa Arabnya disebut samaa'
artinya semua yang ada di atas kita. Oleh karena itu, ahli tafsir menafsirkan ‘samaa'
atau langit di sini dengan awan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan langit
sebagai atap bagi tempat tinggal manusia serta menyiapkan di dalamnya berbagai
manfaat yang besar bagi manusia, seperti manfaat matahari, bulan, dan bintang. Semua nikmat ini seharusnya disyukuri, seperti
dengan tidak beribadah selain kepada Allah 'Azza wa Jalla.
[5] Demikian pula berbagai jenis tumbuh-tumbuhan.
[6] Dan makanan bagi hewan ternakmu.
[7] Yaitu
segala sesuatu yang disembah selain Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa,
dan sebagainya. Termasuk mengadakan
tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala di samping melakukan syirik besar
juga melakukan syirik kecil seperti yang dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhuma tentang tafsir ayat tersebut:
"Tandingan-tandingan
tersebut adalah perbuatan syirik, dimana ia lebih halus daripada semut di atas
batu yang hitam di kegelapan malam, yaitu kamu mengatakan, "Demi Allah
dan demi hidupmu wahai fulan, demi hidupku,” juga mengatakan, "Jika
seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri,” dan
kata-kata "Jika seandainya tidak ada angsa di rumah ini tentu kita
kedatangan pencuri." Demikian pula pada kata-kata seseorang kepada
kawannya "Atas kehendak Allah dan kehendakmu", dan pada
kata-kata seseorang "Kalau bukan karena Allah dan si fulan (tentu…),”
janganlah kamu tambahkan fulan padanya, semua itu syirik.". (Diriwayatkan oleh Ibnu
Abi Hatim)
Contoh-contoh yang disebutkan Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhuma dianggap sebagai syirik, karena di dalam perkataan itu, seseorang
menyandarkan nikmat kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan lupa
kepada-Nya serta mensejajarkan makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
menggunakan kata ‘dan’.
[8] Yakni mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang
menciptakan dan memberikan rezeki. Oleh karena itu, hanya Dia sajalah yang
berhak disembah, tidak selain-Nya. Ayat ini memerintahkan kita untuk beribadah hanya
kepada Allah Ta'ala saja dan meniadakan sesembahan selain Allah apa pun
bentuknya sebagai cerminan dari kalimat Laailaahaillallah. Dalam ayat ini
terdapat tauhid Rububiyyah (pernyataan bahwa hanya Allah saja yang menciptakan,
mengatur, menguasai, dan memberikan rezeki kepada alam semesta) dan tauhid uluhiyyah
(keberhakan-Nya diibadahi). Jika kita mengetahui bahwa hanya Dia yang
menciptakan dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia pula yang berhak
diibadahi; tidak selain-Nya.
Dari beberapa ayat di
atas (21-22) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajibnya
beribadah kepada Allah, karena untuk inilah kita diciptakan di dunia, (2)
pentingnya mengenal nama-nama Allah dan sifat-Nya, (3) haramnya perbuatan
syirik, baik yang besar maupun yang kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar