Rabu, 10 Juni 2026

Seri 9 (surah Al Baqarah ayat 21-22)

 

Seri (9)

 


Ayat 21-22: Menetapkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, serta wajibnya beribadah hanya kepada-Nya.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) 

21. [1]Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa[2].

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22) 

22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu[3] dan langit[4] sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan[5] sebagai rezeki untukmu[6]. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah[7], padahal kamu mengetahui[8].


[1]  Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan sifat orang-orang mukmin yang beruntung, sifat orang-orang kafir yang rugi, dan menyebutkan orang-orang munafik, maka Allah menyeru mereka secara umum agar mereka tidak jatuh ke dalam kerugian sambil mengenalkan kepada mereka sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya agar mereka mau menyambut seruan-Nya ini, sehingga mereka mau beribadah hanya kepada-Nya yang membuat mereka terhindar dari neraka dan masuk ke dalam surga-Nya.

[2] Ayat ini merupakan seruan Allah kepada semua manusia agar beribadah dan menyembah hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang telah memberikan nikmat kepada mereka dengan mengadakan mereka dari yang sebelumnya tidak ada dan mengurus mereka dengan nikmat-nikmat-Nya, dan seruan agar mereka takut kepada-Nya serta tidak menyelisihi agama-Nya. Menurut Ibnu Abbas, semua kata ibadah yang disebutkan dalam Al Qur’an maksudnya adalah mentauhidkan Allah (beribadah hanya kepada-Nya).

Ayat "agar kamu bertakwa" bisa maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah saja, berarti kita telah menjaga diri dari kemurkaan dan siksa-Nya, bisa juga maksudnya bahwa jika kita beribadah kepada Allah, kita dapat menjadi orang-orang yang bertakwa. Kedua maksud tersebut adalah benar, oleh karena itu barang siapa yang beribadah kepada Allah Ta'ala secara sempurna maka ia tergolong sebagai orang-orang yang bertakwa, dan jika tergolong orang-orang yang bertakwa, maka ia akan memperoleh keselamatan dari azab Allah dan kemurkaan-Nya.

[3]  Agar kamu dapat tinggal dengan mudah di atasnya, demikian pula dapat membuat bangunan di atasnya, menanam tanaman, menggarap tanahnya, berjalan di atasnya, dan sebagainya.

[4]  Langit atau dalam bahasa Arabnya disebut samaa' artinya semua yang ada di atas kita. Oleh karena itu, ahli tafsir menafsirkan ‘samaa' atau langit di sini dengan awan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan langit sebagai atap bagi tempat tinggal manusia serta menyiapkan di dalamnya berbagai manfaat yang besar bagi manusia, seperti manfaat matahari, bulan, dan bintang. Semua nikmat ini seharusnya disyukuri, seperti dengan tidak beribadah selain kepada Allah 'Azza wa Jalla.

[5]  Demikian pula berbagai jenis tumbuh-tumbuhan.

[6]  Dan makanan bagi hewan ternakmu.

[7] Yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya. Termasuk mengadakan tandingan bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala di samping melakukan syirik besar juga melakukan syirik kecil seperti yang dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang tafsir ayat tersebut:

"Tandingan-tandingan tersebut adalah perbuatan syirik, dimana ia lebih halus daripada semut di atas batu yang hitam di kegelapan malam, yaitu kamu mengatakan, "Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, demi hidupku,” juga mengatakan, "Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri,” dan kata-kata "Jika seandainya tidak ada angsa di rumah ini tentu kita kedatangan pencuri." Demikian pula pada kata-kata seseorang kepada kawannya "Atas kehendak Allah dan kehendakmu", dan pada kata-kata seseorang "Kalau bukan karena Allah dan si fulan (tentu…),” janganlah kamu tambahkan fulan padanya, semua itu syirik.". (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim)

Contoh-contoh yang disebutkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dianggap sebagai syirik, karena di dalam perkataan itu, seseorang menyandarkan nikmat kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan lupa kepada-Nya serta mensejajarkan makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menggunakan kata ‘dan’.

[8] Yakni mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang menciptakan dan memberikan rezeki. Oleh karena itu, hanya Dia sajalah yang berhak disembah, tidak selain-Nya. Ayat ini memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepada Allah Ta'ala saja dan meniadakan sesembahan selain Allah apa pun bentuknya sebagai cerminan dari kalimat Laailaahaillallah. Dalam ayat ini terdapat tauhid Rububiyyah (pernyataan bahwa hanya Allah saja yang menciptakan, mengatur, menguasai, dan memberikan rezeki kepada alam semesta) dan tauhid uluhiyyah (keberhakan-Nya diibadahi). Jika kita mengetahui bahwa hanya Dia yang menciptakan dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia pula yang berhak diibadahi; tidak selain-Nya.

Dari beberapa ayat di atas (21-22) kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajibnya beribadah kepada Allah, karena untuk inilah kita diciptakan di dunia, (2) pentingnya mengenal nama-nama Allah dan sifat-Nya, (3) haramnya perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...