Seri (8)
Ayat
17-20: Allah membuat dua permisalan untuk orang-orang munafik, menerangkan
keadaan mereka, kebingungan dan kesesatan mereka.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا
فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ
لَا يُبْصِرُونَ (17)
17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang
yang menyalakan api[1],
setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari)
mereka[2]
dan membiarkan mereka dalam kegelapan[3],
tidak dapat melihat[4].
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18)
18. Mereka tuli, bisu dan buta[5], sehingga
mereka tidak dapat kembali (ke jalan yang benar),
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ
أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ
بِالْكَافِرِينَ (19)
19. Atau[6]
seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan[7], petir
dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara
petir itu karena takut mati[8].
Allah meliputi orang-orang yang kafir[9].
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا
فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ
وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
[1] Dalam ayat ini fi’il (kata kerja) nya “istawqada”
dimufradkan, demikian pula kata “haulahu” melihat kepada sisi lafaznya,
karena kaum munafik semuanya di atas satu kata dan di atas tindakan yang sama.
Adapun dari sisi makna (kandungannya), maka ada pada kata “binuurihim wa
tarakahum” dimana ayat ini sedang membicarakan keadaan mereka yang buruk
serta kesesatan mereka, sehingga menetapkan hukum untuk masing-masing mereka
menjadi terwujud dengan kata-kata tersebut (I’rabul Qur’anil Karim
1/45).
[2] Ibnu Katsir menjelaskan, “Maksud perumpamaan ini
adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpamakan mereka dalam hal membeli
kesesatan dengan petunjuk dan keadaan mereka yang sebelumnya dapat melihat
menjadi buta seperti orang yang menyalakan api. Ketika api itu telah menerangi
apa yang ada di sekelilingnya, ia juga dapat mengambil manfaat darinya, dapat
melihat apa yang ada di kanan dan kirinya dan telah merasa nyaman dengannya
tiba-tiba cahaya itu padam dan keadaan berubah menjadi gelap gulita, sehingga
ia tidak dapat melihat lagi dan tidak mendapat petunjuk. Di samping keadaannya
seperti ini, ia juga tuli; tidak dapat mendengar, bisu; tidak dapat berbicara
dan buta dimana jika ada cahaya tetap saja ia tidak dapat melihat. Demikianlah
kaum munafik itu dalam hal mengambil kesesatan sebagai ganti dari petunjuk dan
senangnya mereka kepada kesesatan daripada petunjuk. Dalam perumpamaan ini
terdapat dalil, bahwa mereka telah beriman lalu kafir sebagaimana Allah Subhaanahu
wa Ta'aala telah memberitakan tentang mereka di tempat lain selain ini, wallahu
a’lam.”
Dalam Tafsir
Al Baghawi (1/68) disebutkan, “Perumpamaan mereka dalam hal kemunafikan
adalah seperti seorang yang menyalakan api di malam yang gelap di
Menurut
Atha’, ayat di atas turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang menunggu
kedatangan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan berharap kemenangan
terhadap kaum musyrik bangsa Arab dengan kehadiran Beliau, namun saat Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah diutus, ternyata mereka malah kafir
kepadanya.
[3] Yaitu apa yang bersemi dalam hati mereka berupa
keraguan, kekafiran, dan kemunafikan.
[4] Mereka tidak dapat melihat jalan kepada kebaikan dan
tidak mengenalnya.
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa
Jalla menelantarkan orang-orang munafik dalam keadaan mereka butuh sekali
bantuan. Yang demikan sebagai balasan kemunafikan mereka dan berpalingnya
mereka dari petunjuk.
[5] Walaupun
pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu, dan buta karena tidak
dapat menerima kebenaran dan tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk
yang datang dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena
itu, mereka tidak dapat kembali kepada keimanan dan kebenaran yang telah mereka
tinggalkan dan mereka ganti dengan kesesatan. Berbeda dengan orang-orang yang meninggalkannya karena tidak
mengetahui, mereka ini lebih mudah kembali.
[6] Ayat ini merupakan perumpamaan lainnya bagi orang-orang
munafik, yang maksudnya, “Engkau bisa memakai perumpamaan ini atau perumpamaan
itu untuk mereka (kaum munafik) karena kedua perumpamaan itu sesuai dengan
keadaan mereka.”
[7] Kegelapan malam dan kegelapan awan.
[8] Keadaan
orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan
adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat
telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Qur’an itu.
[9] Maksudnya
pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir. Mujahid berkata,
“Allah akan menghimpun mereka dan mengazab mereka.”
[10] Ali bin Abi Thalhah berkata, “Dari Ibnu Abbas, tentang
firman Allah Ta’ala, “Hampir saja
kilat itu menyambar penglihatan mereka,” ia berkata, “Hampir saja kejelasan Al Qur’an
menunjukkan aurat (cacat) kaum munafik.”
[11] Ali bin Abi Thaalhah berkata, “Dari Ibnu Abbas tentang
firman Allah Ta’ala, “Setiap
kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila
gelap menimpa mereka, mereka berhenti,” ia berkata, “Setiap kali kaum munafik
mendapat (berita) tentang kemenangan Islam, maka mereka merasa percaya
kepadanya, tetapi ketika Islam mendapatkan musibah, maka mereka bangkit untuk
kembali kafir.” Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan di antara manusia
ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh
kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu
bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang
demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Terj. Qs. Al Hajj: 11)
Menurut Al Baghawi, Allah Ta’ala
mengumpamakan kekafiran dan kemunafikan mereka dengan sebuah kaum yang berada
di padang sahara dengan suasana yang gelap, malam yang gelap, kemudian mereka
ditimpa hujan yang disertai kegelapan. Mereka tidak dapat melanjutkan
perjalanan ketika itu, mereka juga tutup telinga mereka dengan jarinya karena
ada suara petir, di samping adanya kilat yang hampir saja menyambar penglihatan
mereka serta dapat membuatnya buta karena terangnya. Demikianlah Allah
memberikan perumpamaan terhadap Al Qur’an dan sikap kaum kafir serta kaum
munafik terhadapnya. Hujan itu adalah Al Qur’an yang merupakan kehidupan bagi
hati sebagaimana air hujan sebagai kehidupan bagi badan, sedangkan kegelapan
itu adalah kekafiran dan kemusyrikan yang disebutkan dalam Al Qur’an, petirnya
adalah ancaman dan neraka, sedangkan kilat adalah petunjuk, penjelasan, janji,
dan surga yang disebutkan dalam Al Qur’an. Orang-orang kafir menyumbat telinga
mereka saat dibacakan Al Qur’an karena takut tertarik kepadanya. Ada pula yang
berpendapat, bahwa ayat di atas merupakan perumpamaan Allah terhadap Islam.
Hujan maksudnya Islam, kegelapan adalah cobaan dan ujian, petir adalah ancaman
dan sesuatu yang menakutkan di akhirat, sedangkan kilat adalah janji (pahala),
sehingga orang-orang kafir ketika melihat adanya cobaan dan ujian dalam Islam,
maka mereka segera melarikan diri karena takut binasa, padahal Allah meliputi
orang-orang kafir. Wallahu a’lam.
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Demikian
pula keadaan mereka nanti pada hari Kiamat ketika manusia diberikan cahaya
sesuai keimanan mereka. Di antara mereka ada yang diberi cahaya yang menerangi
sampai perjalanan beberapa farsakh (1 farsakh kurang lebih 8 km), ada pula yang
diberikan cahaya lebih dari itu dan ada yang kurang dari itu. Di antara mereka
juga ada yang cahayanya sesekali padam dan sesekali bersinar sehingga ia dapat
berjalan pada satu kesempatan dan berhenti pada kesempatan yang lain, dan di
antara mereka ada yang dipadamkan cahayanya secara keseluruhan, mereka inilah
kaum munafik yang sejati, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman tentang
mereka, “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan
berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami agar kami dapat
mengambil sebagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah
kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)…dst." (Terj. Qs.
Al Hadid: 13), tentang kaum mukmin, Allah Ta’ala berfirman, “(Yaitu) pada
hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya
mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada
meraka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai…dst." (Terj. Qs. Al Hadid: 12) Dia
juga berfirman, “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan
orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan
dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, "Ya Tuhan kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau
Mahakuasa atas segala sesuatu." (Terj. Qs. At Tahrim: 8) (lihat Al
Mishbahul Munir fii Tahdzib rafsir Ibni Katsir hal. 41)
Tentang firman Allah Ta’ala, “Setiap
kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila
gelap menimpa mereka, mereka berhenti,” ada yang berpendapat, bahwa maksudnya
setiap kali mereka mendapatkan ghanimah dan kelapangan dalam Islam, maka mereka
tetap berada di atasnya dan mengatakan, “Kami bersama kalian (kaum
muslimin),” dan ketika mereka merasakan penderitaan dan cobaan dalam Islam,
maka mereka berhenti dan mundur.
[12] Karena mereka telah meninggalkan kebenaran
setelah mengetahuinya. Demikianlah yang dikatakan Ibnu Abbas yang diriwayatkan
oleh Muhammad bin Ishaq.
Dalam ayat ini, Allah menakut-nakuti
orang-orang munafik dengan azab di dunia agar mereka takut sehingga berhenti
dari melakukan keburukan dan berbuat nifak.
[13] Sekiranya Allah tidak memberikan tangguh kepada
mereka, tentu Allah akan menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka
sebagaimana Dia telah menghilangkan pendengaran dan penglihatan batin mereka
(bashirah), dan Dia Mahakuasa terhadapnya kapan saja waktunya, tidak ada
sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya.
Tentang maksud firman Allah Ta’ala ini, “Sesungguhnya Allah
Mahakuasa atas segala sesuatu,” Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah
Mahakuasa jika Dia ingin menimpakan siksa atau ampunan kepada hamba-hamba-Nya.”
Pada ayat ini juga terdapat bantahan terhadap
kaum Qadariyyah (yang mengingkari taqdir) yang mengatakan bahwa perbuatan
mereka tidak di bawah kekuasaan Allah Ta'ala, padahal perbuatan mereka termasuk
yang berada di bawah kekuasaan-Nya.
Dari beberapa ayat di
atas (17-20), kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) perlunya
menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan makna ke dalam akal fikiran, (2) sia-sianya
usaha orang-orang yang berada di atas kebatilan dan buruknya akhir urusan
mereka, (3) Al Qur’an membuat hati hidup sebagaimana bumi yang kering menjadi
hidup dengan siraman hujan, (4) keburukan orang-orang munafik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar