Senin, 08 Juni 2026

Seri 8 (Surah Al Baqarah ayat 17-20)

 

Seri (8)

 


Ayat 17-20: Allah membuat dua permisalan untuk orang-orang munafik, menerangkan keadaan mereka, kebingungan dan kesesatan mereka.

 

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ (17)  

17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[1], setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka[2] dan membiarkan mereka dalam kegelapan[3], tidak dapat melihat[4].

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18) 

18. Mereka tuli, bisu dan buta[5], sehingga mereka tidak dapat kembali (ke jalan yang benar),

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (19)  

19. Atau[6] seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan[7], petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati[8]. Allah meliputi orang-orang yang kafir[9].

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20) 

20. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka[10]. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti[11]. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka[12]. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[13].


[1] Dalam ayat ini fi’il (kata kerja) nya “istawqada” dimufradkan, demikian pula kata “haulahu” melihat kepada sisi lafaznya, karena kaum munafik semuanya di atas satu kata dan di atas tindakan yang sama. Adapun dari sisi makna (kandungannya), maka ada pada kata “binuurihim wa tarakahum” dimana ayat ini sedang membicarakan keadaan mereka yang buruk serta kesesatan mereka, sehingga menetapkan hukum untuk masing-masing mereka menjadi terwujud dengan kata-kata tersebut (I’rabul Qur’anil Karim 1/45).

[2] Ibnu Katsir menjelaskan, “Maksud perumpamaan ini adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpamakan mereka dalam hal membeli kesesatan dengan petunjuk dan keadaan mereka yang sebelumnya dapat melihat menjadi buta seperti orang yang menyalakan api. Ketika api itu telah menerangi apa yang ada di sekelilingnya, ia juga dapat mengambil manfaat darinya, dapat melihat apa yang ada di kanan dan kirinya dan telah merasa nyaman dengannya tiba-tiba cahaya itu padam dan keadaan berubah menjadi gelap gulita, sehingga ia tidak dapat melihat lagi dan tidak mendapat petunjuk. Di samping keadaannya seperti ini, ia juga tuli; tidak dapat mendengar, bisu; tidak dapat berbicara dan buta dimana jika ada cahaya tetap saja ia tidak dapat melihat. Demikianlah kaum munafik itu dalam hal mengambil kesesatan sebagai ganti dari petunjuk dan senangnya mereka kepada kesesatan daripada petunjuk. Dalam perumpamaan ini terdapat dalil, bahwa mereka telah beriman lalu kafir sebagaimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberitakan tentang mereka di tempat lain selain ini, wallahu a’lam.”

Dalam Tafsir Al Baghawi (1/68) disebutkan, “Perumpamaan mereka dalam hal kemunafikan adalah seperti seorang yang menyalakan api di malam yang gelap di padang sahara, lalu ia menghangatkan badan dengannya dan dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya sehingga dapat menjaga dirinya dari apa yang ia takuti. Ketika keadaannya seperti itu, tiba-tiba api pun padam sehingga ia berada dalam kegelapan sambil berkeliling kebingungan. Demikianlah orang-orang munafik itu, mereka tampakkan kalimat iman sehingga mereka dapat menjaga harta dan anak-anak mereka, dapat menikah dengan kaum mukmin, dapat mewarisi harta mereka dan menerima harta ghanimah. Itulah cahaya mereka. Jika mereka telah wafat, maka mereka kembali ke dalam kegelapan dan ketakutan. Ada yang mengatakan, bahwa maksudnya hilangnya cahaya mereka di kubur. Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya adalah pada hari Kiamat ketika mereka berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Agar kami dapat mengambil cahayamu.” (lihat surat Al Hadid: 13). Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya hilangnya cahaya mereka adalah dengan ditampakkan keadaan akidah mereka melalui lisan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu digunakanlah api sebagai perumpamaan.”

Menurut Atha’, ayat di atas turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang menunggu kedatangan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan berharap kemenangan terhadap kaum musyrik bangsa Arab dengan kehadiran Beliau, namun saat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah diutus, ternyata mereka malah kafir kepadanya.

[3] Yaitu apa yang bersemi dalam hati mereka berupa keraguan, kekafiran, dan kemunafikan.

[4] Mereka tidak dapat melihat jalan kepada kebaikan dan tidak mengenalnya.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla menelantarkan orang-orang munafik dalam keadaan mereka butuh sekali bantuan. Yang demikan sebagai balasan kemunafikan mereka dan berpalingnya mereka dari petunjuk.

[5] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu, dan buta karena tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu, mereka tidak dapat kembali kepada keimanan dan kebenaran yang telah mereka tinggalkan dan mereka ganti dengan kesesatan. Berbeda dengan orang-orang yang meninggalkannya karena tidak mengetahui, mereka ini lebih mudah kembali.

[6] Ayat ini merupakan perumpamaan lainnya bagi orang-orang munafik, yang maksudnya, “Engkau bisa memakai perumpamaan ini atau perumpamaan itu untuk mereka (kaum munafik) karena kedua perumpamaan itu sesuai dengan keadaan mereka.”

[7]  Kegelapan malam dan kegelapan awan.

[8] Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Qur’an itu.

[9] Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir. Mujahid berkata, “Allah akan menghimpun mereka dan mengazab mereka.”

[10] Ali bin Abi Thalhah berkata, “Dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah Ta’ala, “Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka,” ia berkata, “Hampir saja kejelasan Al Qur’an menunjukkan aurat (cacat) kaum munafik.”

[11] Ali bin Abi Thaalhah berkata, “Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti,” ia berkata, “Setiap kali kaum munafik mendapat (berita) tentang kemenangan Islam, maka mereka merasa percaya kepadanya, tetapi ketika Islam mendapatkan musibah, maka mereka bangkit untuk kembali kafir.” Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Terj. Qs. Al Hajj: 11)

Menurut Al Baghawi, Allah Ta’ala mengumpamakan kekafiran dan kemunafikan mereka dengan sebuah kaum yang berada di padang sahara dengan suasana yang gelap, malam yang gelap, kemudian mereka ditimpa hujan yang disertai kegelapan. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan ketika itu, mereka juga tutup telinga mereka dengan jarinya karena ada suara petir, di samping adanya kilat yang hampir saja menyambar penglihatan mereka serta dapat membuatnya buta karena terangnya. Demikianlah Allah memberikan perumpamaan terhadap Al Qur’an dan sikap kaum kafir serta kaum munafik terhadapnya. Hujan itu adalah Al Qur’an yang merupakan kehidupan bagi hati sebagaimana air hujan sebagai kehidupan bagi badan, sedangkan kegelapan itu adalah kekafiran dan kemusyrikan yang disebutkan dalam Al Qur’an, petirnya adalah ancaman dan neraka, sedangkan kilat adalah petunjuk, penjelasan, janji, dan surga yang disebutkan dalam Al Qur’an. Orang-orang kafir menyumbat telinga mereka saat dibacakan Al Qur’an karena takut tertarik kepadanya. Ada pula yang berpendapat, bahwa ayat di atas merupakan perumpamaan Allah terhadap Islam. Hujan maksudnya Islam, kegelapan adalah cobaan dan ujian, petir adalah ancaman dan sesuatu yang menakutkan di akhirat, sedangkan kilat adalah janji (pahala), sehingga orang-orang kafir ketika melihat adanya cobaan dan ujian dalam Islam, maka mereka segera melarikan diri karena takut binasa, padahal Allah meliputi orang-orang kafir. Wallahu a’lam.

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Demikian pula keadaan mereka nanti pada hari Kiamat ketika manusia diberikan cahaya sesuai keimanan mereka. Di antara mereka ada yang diberi cahaya yang menerangi sampai perjalanan beberapa farsakh (1 farsakh kurang lebih 8 km), ada pula yang diberikan cahaya lebih dari itu dan ada yang kurang dari itu. Di antara mereka juga ada yang cahayanya sesekali padam dan sesekali bersinar sehingga ia dapat berjalan pada satu kesempatan dan berhenti pada kesempatan yang lain, dan di antara mereka ada yang dipadamkan cahayanya secara keseluruhan, mereka inilah kaum munafik yang sejati, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman tentang mereka, “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)…dst." (Terj. Qs. Al Hadid: 13), tentang kaum mukmin, Allah Ta’ala berfirman, “(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…dst." (Terj. Qs. Al Hadid: 12) Dia juga berfirman, “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (Terj. Qs. At Tahrim: 8) (lihat Al Mishbahul Munir fii Tahdzib rafsir Ibni Katsir hal. 41)

Tentang firman Allah Ta’ala, “Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti,” ada yang berpendapat, bahwa maksudnya setiap kali mereka mendapatkan ghanimah dan kelapangan dalam Islam, maka mereka tetap berada di atasnya dan mengatakan, “Kami bersama kalian (kaum muslimin),” dan ketika mereka merasakan penderitaan dan cobaan dalam Islam, maka mereka berhenti dan mundur.

[12]  Karena mereka telah meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya. Demikianlah yang dikatakan Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq.

Dalam ayat ini, Allah menakut-nakuti orang-orang munafik dengan azab di dunia agar mereka takut sehingga berhenti dari melakukan keburukan dan berbuat nifak.

[13] Sekiranya Allah tidak memberikan tangguh kepada mereka, tentu Allah akan menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka sebagaimana Dia telah menghilangkan pendengaran dan penglihatan batin mereka (bashirah), dan Dia Mahakuasa terhadapnya kapan saja waktunya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya.

Tentang maksud firman Allah Ta’ala ini, Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah Mahakuasa jika Dia ingin menimpakan siksa atau ampunan kepada hamba-hamba-Nya.”

Pada ayat ini juga terdapat bantahan terhadap kaum Qadariyyah (yang mengingkari taqdir) yang mengatakan bahwa perbuatan mereka tidak di bawah kekuasaan Allah Ta'ala, padahal perbuatan mereka termasuk yang berada di bawah kekuasaan-Nya.

Dari beberapa ayat di atas (17-20), kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) perlunya menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan makna ke dalam akal fikiran, (2) sia-sianya usaha orang-orang yang berada di atas kebatilan dan buruknya akhir urusan mereka, (3) Al Qur’an membuat hati hidup sebagaimana bumi yang kering menjadi hidup dengan siraman hujan, (4) keburukan orang-orang munafik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 12 (Surah Al Baqarah ayat 28-29)

  Seri (12)   Ayat 28-29: Menetapkan keberadaan Allah dan kekuasaan-Nya dalam membangkitkan, bukti-bukti kekuasaan-Nya, kekuasaan-Nya da...