Selasa, 11 Agustus 2026

Seri 30 (Surah Al Baqarah ayat 135-138)

 

Seri (30)

 




Ayat 135-138: Menyebutkan bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyangka bahwa hidayah (petunjuk) terletak pada mengikuti mereka dan menerangkan, bahwa petunjuk yang sebenarnya terletak dalam mengikuti ajaran Islam.

 

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (135)  

135. [1]Dan mereka berkata, "Jadilah kamu (penganut) agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah,"Tidak, tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus (Islam)[2] dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan."

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136)  

136. [3]Katakanlah (wahai orang-orang mukmin)[4], "Kami beriman[5] kepada Allah[6] dan kepada apa yang diturunkan kepada kami[7], dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim[8], Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya[9], dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka[10]. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka[11], dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya"[12].

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)  

137. Maka jika mereka[13] telah beriman sebagaimana yang kamu imani[14], sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling[15], sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu), maka Allah akan memelihara kamu dari mereka[16], dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[17]

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (138) 

138. (Peganglah) Shibghah Allah[18], siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan (katakanlah) hanya kepada-Nya Kami menyembah[19].


[1] Muhammad bin Ishaq berkata, “Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Muhammad, telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Jubair atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Abdullah bin Shuria Al A’war pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tidak ada petunjuk melainkan pada agama yang kami peluk, maka ikutilah kami wahai Muhammad niscaya engkau akan mendapat petunjuk.” Orang-orang Nasrani juga mengatakan seperti itu, maka Allah menurunkan ayat, “Dan mereka berkata, "Jadilah kamu (penganut) agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (Muhammad bin Abi Muhammad rawi hadits ini, menurut Adz Dzahabi, seorang yang ditsiqahkan (dipercaya)).

[2] Mengikuti Nabi Ibrahim itulah seseorang akan mendapatkan petunjuk, dimana Beliau seorang yang bertauhid dan menjauhi syirik, bukan mengikuti Yahudi dan Nasrani.

Adapun arti hanif (yang lurus) di ayat ini menurut Mujahid dan Rabi’ bin Anas adalah sambil mengikuti (muttabi’an). Sedangkan menurut Abu Qilabah, bahwa hanif adalah orang yang beriman kepada semua rasul dari awal sampai yang terakhir (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam).

Dari ayat ini kita mengetahui bahwa pernyataan Ahli Kitab bahwa mereka di atas kebenaran tidaklah berguna bagi mereka karena mereka kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kitab Al Qur’an yang Beliau bawa.

[3] Ayat yang mulia ini mengandung hal-hal yang wajib kita imani. Iman adalah pembenaran dari hati kepada dasar-dasar ini, iqrar (pengakuan di lisan), dan pengamalan dengan anggota badan. Berdasarkan arti ini, maka kata iman sudah termasuk ke dalamnya Islam, demikian juga termasuk ke dalam iman semua amal saleh. Amal saleh adalah bagian dari iman dan salah satu atsar (pengaruh) di antara atsar-atsarnya. Oleh karena itu, jika disebutkan iman secara mutlak, maka hal-hal tadi termasuk di dalamnya. Demikian juga kata "Islam", jika disebutkan secara mutlak, maka masuk juga ke dalamnya iman. Namun apabila disebut Iman dan Islam secara bersamaan, maka iman adalah sesuatu yang menancap di hati berupa pembenaran, keyakinan, dan pengakuan, sedangkan Islam sebagai nama untuk amal-amal yang tampak di luar. Sama seperti ini, jika disebut iman dan amal saleh. Iman adalah sesuatu yang menancap di hati, sedangkan amal saleh adalah amalan yang tampak di luar.

[4] Maksudnya perkataan yang dibenarkan oleh hati. Inilah perkataan yang sempurna yang akan diberi pahala. Sebaliknya, jika terbatas di lisan saja tanpa masuk ke dalam hati, maka hal itu merupakan nifak dan kekufuran. Perintah untuk mengatakan hal-hal di atas adalah isyarat untuk mengi'lankan (menampakkan secara terang-terangan) Akidah Islam sekaligus mendakwahkan manusia kepadanya.

[5] Pada kata-kata ini "Kami beriman" dinisbatkan kepada umat Islam secara menyeluruh yang menunjukkan wajibnya mereka berpegang dengan agama Allah dan bersatu di atasnya serta larangan berpecah-belah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kaum mukmin itu seperti satu jasad.

[6] Kata-kata ini menunjukkan bolehnya seseorang menyebut dirinya beriman 'ala wajhit taqyid (secara tafshil, seperti, "saya beriman kepada Allah", "saya beriman kepada kitab-kitab Allah" dsb.), bahkan hal itu wajib. Berbeda jika mengatakan "saya seorang mukmin," maka harus disertakan istitsna' (kata Insya Allah) karena di dalamnya terdapat tazkiyah (anggapan suci terhadap diri) dan persaksian dirinya sebagai mukmin.

Beriman kepada Allah mencakup beriman bahwa Allah itu ada, Dia sebagai Rabbul 'alamin (Pencipta, Penguasa dan Pemberi rezeki, serta Pengatur alam semesta), Mahaesa, memiliki nama yang indah dan sifat sempurna, bersih dari sifat kekurangan dan cacat, yang satu-satunya berhak diibadahi dan tidak boleh disekutukan.

[7] Mencakup beriman kepada Al Qur'an dan As Sunnah, berdasarkan surat An Nisa': 113 yang di sana disebutkan "wa anzalallahu 'alaikal kitaaba wal hikmah" (artinya: Dan Allah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu). Oleh karena itu, dalam beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada kita mencakup beriman kepada isi Al Qur'an dan As Sunnah, seperti tentang sifat-sifat Allah, sifat-sifat rasul-Nya, tentang hari akhir, hal-hal ghaib yang telah lalu dan yang akan datang serta beriman kepada kandungan Al Qur'an dan As Sunnah berupa hukum-hukum syar'i yang berupa perintah dan larangan dan hukum-hukum jaza'i (pembalasan terhadap amal), dsb.

Tentang ayat ini Qatadah berkata, “Allah memerintahkan kaum mukmin untuk beriman kepada-Nya dan membenarkan kitab-kitab-Nya semuanya dan beriman kepada Rasul-Nya.”

Sulaiman bin Habib berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak diperintah mengamalkan apa yang ada di dalam keduanya.

Maksud perkataan Sulaiman bin Habib adalah bahwa yang kita amalkan hanyalah Al Qur’an saja.

[8] Seperti shuhuf (lembaran-lembaran berisi wahyu).

[9] Mereka adalah para nabi yang berasal dari keturunan Ya'qub (Bani Israil).

[10] Dalam beriman kepada kitab-kitab Allah, kita mengimaninya secara ijmal dan tafshil. Secara ijmal (garis besar) maksudnya kita mengimani bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menurunkan kitab-kitab atau shuhuf kepada para nabi meskipun tidak diberitahukan kepada kita namanya seperti pada ayat di atas.

Mahmud Al Mishri berkata, “Yang turun dari langit ada yang terhimpun dalam sebuah kitab, seperti suhuf Ibrahim dan kitab-kitab yang diturunkan kepada Musa, Dawud, Isa, dan Muhammad alaihimush shalatu wa salam, dan terkadang berupa wahyu yang disampaikan kepada rasul atau nabi; namun tidak berupa kitab. Misalnya wahyu yang diturunkan kepada Ismail, Ishaq, Ya’kub, dan keturunannya, demikian pula yang diwahyukan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam selain Al Qur’an (As Sunnah).” (Aqidatuth Thiflil Muslim hal. 191)

Sedangkan secara tafshil (rinci) adalah kita mengimani kitab-kitab tersebut secara rinci, yakni yang disebutkan nama kitabnya dan siapa yang menerimanya karena kemuliaan mereka sehingga disebutkan namanya dalam Al Qur'an dan karena mereka datang membawa syariat-syariat yang agung. Misalnya: Mengimani Al Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud 'alaihis salam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa 'alaihis salam, dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa 'alaihis salam.

Dari ayat ini kita juga mengetahui bahwa nikmat agama yang benar merupakan nikmat yang sangat besar karena terkait dengan bahagia atau sengsara seseorang di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak menyuruh kita mengimani apa yang diberikan kepada para nabi berupa kerajaan, harta, dsb. Akan tetapi, Dia memerintahkan kita beriman kepada apa yang diberikan kepada mereka berupa kitab-kitab dan syariat mereka. Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu lebih baik daripada harta.

Disebutkan kata "Mirr rabbihim" (dari Tuhan mereka) terdapat isyarat bahwa termasuk kesempurnaan rububiyyah (kepengurusan) Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan mengutus para rasul, dan Rububiyyah-Nya kepada hamba-hamba-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan mereka begitu saja dalam kebingungan dan kesesatan.

Apabila yang diberikan kepada para nabi itu berasal dari Tuhan mereka, maka di sana terdapat perbedaan antara para nabi dengan orang-orang yang mengaku sebagai nabi, yaitu dengan melihat apa yang mereka dakwahkan. Para rasul tidaklah mendakwahkan selain kepada kebaikan dan tidak melarang kecuali dari perbuatan buruk, masing-masing mereka saling membenarkan; tidak bertentangan karena memang sama-sama berasal dari Tuhan mereka, berbeda dengan orang yang mengaku sebagai nabi, pasti terjadi pertentangan antara berita yang mereka sampaikan, demikian juga pada perintah dan larangan sebagaimana hal itu diketahui oleh orang yang biasa mengkaji.

Singkatnya, dalam beriman kepada kitab-kitab Allah mencakup beriman bahwa kitab itu turun dari sisi Allah, mengimaninya baik secara garis besar maupun secara tafsil (rinci), membenarkan berita yang disebutkan di dalamnya, dan mengamalkan hukum yang terkandung di dalamnya selama belum dihapus. Dan kitab-kitab terdahulu telah dimansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.

[11] Maksudnya, tidak membeda-bedakan dalam beriman, yakni semuanya mereka imani tidak seperti orang-orang Yahudi yang beriman hanya sampai kepada Nabi Musa 'alaihis salam dan tidak seperti orang-orang Nasrani yang beriman hanya sampai kepada Nabi Isa 'alaihis salam. Padahal kafir kepada seorang nabi, sama saja kafir kepada semua nabi (lihat surat An Nisaa’: 150-151).

Inilah di antara kelebihan Islam dan umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, mereka beriman kepada semua kitab dan semua rasul, sedangkan selain mereka hanya beriman kepada sebagian kitab dan sebagian rasul (seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani) yang sebenarnya sama saja tidak beriman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul.

[12] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan beberapa hal yang wajib diimani, baik secara umum maupun khusus, sedangkan ucapan tidak berhenti sampai di situ, bahkan membutuhkan kerja nyata atau amal, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk menambahkan "dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya", yakni tunduk kepada keagungan-Nya dan patuh beribadah kepada-Nya baik zhahir maupun batin sambil mengikhlaskan diri hanya kepada-Nya.

Ayat di atas meskipun ringkas, namun sebenarnya mencakup banyak hal, di antaranya:

-     Tauhid yang tiga; tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma' wash shifat.

-     Beriman kepada semua Rasul.

-     Beriman kepada semua kitab.

-     Disebutkan sebagian para rasul setelah menyebutkan beriman kepada para rasul secara umum menunjukkan keutamaan mereka di atas yang lain.

-     Menjelaskan tentang hakikat iman yang menghendaki adanya pembenaran di hati, lisan dan anggota badan serta berbuat ikhlas lillah (karena Allah) dalam semua itu.

-     Menjelaskan tentang ucapan yang diajarkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya.

-     Menunjukkan rahmat (kasih sayang) Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan ihsan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberikan nikmat agama yang menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Maka Mahasuci Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menjadikan kitab-Nya sebagai penjelas segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Beberapa hadits yang berkaitan dengan ayat di atas

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Dahulu orang-orang Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum muslimin, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا{ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا } الْآيَةَ

“Janganlah kamu membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka (jika yang mereka sampaikan mengandung kemungkinan benar atau salah). Tetapi katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami...dst.”

Imam Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam paling sering membaca ayat, “Aaamannaa billahi wamaa unzila ilainaa.” (Al Baqarah: 136) dan ayat, “Aamannaa billahi wasyhad biannaa muslimuun.” (Ali Imran: 52) di dua rakaat sebelum shalat Subuh.

[13] Yakni orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab maupun selain mereka.

[14] Yakni dengan beriman kepada semua kitab dan semua rasul, termasuk beriman kepada Al Qur'an dan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta tunduk patuh kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Seperti inilah akidah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum, mereka mengimani semua itu, dan jika kita memiliki akidah yang sama seperti mereka, tentu kita mendapatkan petunjuk.

Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun dalam masalah akidah, maka tidak diambil dariku, demikian pula dari orang yang lebih senior daripadaku, bahkan diambil dari Allah, Rasul-Nya dan kesepakatan generasi pertama umat ini." (Majmu Fatawa)

Shalih Al Fauzan berkata, "Barang siapa yang ingin keselamatan untuk dirinya, ingin amalnya diterima, ingin menjadi muslim sejati, maka hendaknya ia memperhatikan masalah akidah, yaitu mengenal akidah yang benar, hal yang berlawanan dengannya, hal yang membatalkan dan hal yang menguranginya, sehingga dia dapat membangun amalnya di atas itu." (Al Muntaqa min Fatawa)

[15] Dari kebenaran kepada kebatilan setelah hujjah tegak atas mereka.

[16] Yakni akan menolongmu dan memenangkanmu atas mereka.

Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Ziyad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Abi Nu’aim, ia berkata, “Mushaf Utsman bin Affan dikirimkan kepada sebagian khalifah untuk diperiksa.” Ziyad berkata, “Aku bertanya kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang benar-benar mengatakan bahwa mushafnya berada di pangkuannya ketika ia terbunuh, lalu darah itu menetes pada ayat, “Fa sayakfiikahumullah wahuwas samii’ul ‘aliim.”(artinya: maka Allah akan memelihara kamu dari mereka, dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.) Nafi’ berkata, “Aku melihat dengan mata kepalaku darah yang menetes pada ayat ini dan sudah lama (darah itu).”

Abu Qilabah berkata, "Aku termasuk rombongan orang yang berada di Syam, lalu aku mendengar seorang berkata, "Celakalah diriku karena api neraka." Lalu aku berdiri mendatanginya, dan ternyata orang itu terputus dua tangan dan dua kakinya dari pinggangnya, kedua matanya buta, dan dalam keadaan menelungkupkan wajahnya, lalu aku bertanya kepadanya tentang keadaannya, ia menjawab, "Aku termasuk orang yang masuk mendatangi rumah Utsman. Ketika aku mendekatinya, maka istrinya berteriak, lalu aku menamparnya. Kemudian Utsman berkata, "Ada apa kamu, semoga Allah memotong kedua tanganmu, kedua kakimu, membuat matamu buta, dan memasukkan dirimu ke neraka." Lalu aku menjadi merinding dan keluar melarikan diri, sehingga aku mendapatkan musibah seperti yang engkau lihat, dan tidak ada yang masih tersisa dari doanya selain neraka." Maka aku berkata kepadanya, "Jauhlah dirimu."

Yazid bin Habib memberitahukan, bahwa kebanyakan orang-orang yang datang untuk membunuh Utsman bin Affan mendapat musibah kegilaan.

[17] Orang yang beriman seperti yang diimani kaum mukmin adalah orang-orang yang mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang mengarah kepada surga. Oleh karena itu, tidak ada jalan untuk memperoleh petunjuk itu kecuali dengan beriman seperti di atas (ayat 136), tidak seperti yang dinyatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa untuk memperoleh petunjuk harus mengikuti agama Yahudi atau Nasrani. Padahal yang disebut dengan "petunjuk" adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Kebalikannya adalah tersesat baik dengan tidak mengetahui yang hak maupun dengan tidak mengamalkannya setelah mengetahuinya. Keadaan seperti inilah, yakni berpaling dari petunjuk itu yang mengakibatkan mereka berada dalam syiqaq (permusuhan), dan biasanya jika sudah terjadi permusuhan, maka orang yang bermusuhan itu akan berupaya sekuat tenaga mengerahkan kemampuannya untuk menyakiti musuhnya, dan yang mereka musuhi dalam hal ini adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjanjikan akan menjaga Beliau dari gangguan mereka; karena Dia mendengar semua pembicaraan dan Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, Dia mengetahui yang ghaib dan yang tampak, yang zhahir maupun yang tersembunyi. Jika demikian, maka cukuplah Allah sebagai penjaga Rasul-Nya dari gangguan musuhnya.

Dalam ayat ini juga terdapat dalil perintah mengikuti akidah para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena generasi yang pertama yang tertuju ayat ini adalah para sahabat radhiyallahu anhum. Hal itu karena akidah mereka shahihah (benar), sedangkan akidah setelah mereka banyak yang menyimpang, di antara mereka ada yang menolak takdir seperti kaum Qadariyyah, ada melampaui batas dalam taqdir seperti kaum Jabriyyah, ada yang menolak sifat Allah seperti kaum Jahmiyyah, ada yang membatasi sifat Allah seperti kaum Asya’irah, ada yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk, ada yang mengatakan Al Qur’an makhluk, ada yang menolak azab kubur, ada yang mendahulukan akal di atas wahyu, dan akidah-akidah menyimpang lainnya. Maka pelajarilah akidah generasi salaf seperti yang telah ditulis oleh para ulama dari zaman ke zaman.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga memenuhi janji-Nya, Dia menjaga Rasul-Nya, dan Rasul-Nya berhasil menyampaikan risalahnya semua tanpa ada yang dikurangi sedikit pun. Di dalam ayat ini pun terdapat mukjizat Al Qur'an, dimana Al Qur'an sudah mengabarkan sebelum terjadinya sesuatu dan kenyataannya sesuai dengan yang dikabarkan itu.

[18] Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah berarti celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan, bisa juga diartikan fitrah atau agama Allah, yakni "Peganglah agama Allah, dimana Dia menciptakan kalian di atasnya."

Agama disebut shibghah karena tampak pengamalannya bagi seorang muslim sebagaimana tampak bekas celupan pada pakaian.

Memegang agama Allah ini menghendaki untuk mengamalkan ajaran Islam baik amalan tersebut terkait dengan zhahir (laihiriah) maupun batin serta memegang akidah Islam di setiap waktu sehingga hal itu menjadi shibghah dan sifat yang melekat pada diri seseorang. Jika sudah melekat, tentu kita akan senantiasa tunduk kepada perintah-Nya dengan sikap rela, cinta, dan sebagai pilihan bukan karena terpaksa. Pengamalan ajaran Islam pun menjadi tabiat dirinya seperti celupan yang merubah warna pakaian sebelumnya. Dirinya akan memiliki akhlak mulia, amalan yang indah, dan mendahulukan perkara utama. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman dengan takjub yang membuat orang-orang yang berakal terpesona, "Siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?" Yakni tidak ada yang dapat merubah orang lain sehingga menjadi indah dipandang selain syari'at Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Untuk mengetahui kehebatan shibghah Allah, maka perhatikanlah seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan imannya yang benar, tentu akan membekas dalam dirinya rasa tunduk baik dari hati maupun anggota badannya kepada Allah, ia senantiasa memiliki sifat mulia, seperti jujur lisannya, banyak kebaikannya, sedikit bicara, banyak berbuat, sedikit sekali tergelincir, tidak berlebihan dalam sesuatu selain dalam hal yang memberinya manfaat seperti ibadah, berbakti kepada orang tua, dan menyambung tali silaturrahim, sopan, sabar, memiliki rasa syukur yang tinggi, tidak lekas marah, memenuhi janji, menjaga dirinya dari yang haram, tidak suka melaknat, memaki, tidak mengadu domba serta ghibah (menggunjing orang), tidak tergesa-gesa, tidak dendam, tidak bakhil dan dengki, menampakkan wajah yang senang dan berseri-seri, cinta karena Allah dan benci pun karena-Nya, ridha karena Allah serta marah pun karena-Nya. Kemudian bandingkan dengan seorang yang jauh dari syariat Allah; akhlaknya buruk seperti suka berdusta, khianat, suka menipu, buruk ucapan dan tindakannya, tidak ikhlas kepada Allah dan tidak suka berbuat ihsan kepada orang lain.

[19] Ayat ini menerangkan tentang bagaimana memperoleh shibghah ini, yaitu dengan melaksanakan dua asas; ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam). Mengapa diambil kesimpulan demikian? Hal itu, karena ibadah adalah istilah untuk semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya berupa ucapan dan amalan yang tampak maupun tersembunyi, dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali dengan mengikuti contoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedangkan arti ikhlas adalah tujuan seorang hamba dalam melakukan semua itu untuk mencari keridhaan Allah. dan Inilah ibadah.

Pada ayat tersebut ada penggunaan isim fa'il (pelaku), yaitu 'aabiduun yang menunjukkan tetapnya mereka di atas ibadah tersebut, di atas sifat itu, dan hal itu sudah menjadi shibghah (hal yang melekat) pada diri mereka.

Dari ayat 135-138 kita dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) tidak ada petunjuk, kebahagiaan, dan kesempurnaan kecuali dalam Islam, (2) kafir kepada seorang rasul sama saja kafir kepada semua rasul, (3) orang-orang Yahudi dan Nasrani senantiasa memusuhi Islam dan kaum muslimin, namun Allah akan melindungi mereka ketika mereka istiqamah di atas Islam, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, adab, hukum, maupun muamalahnya, (4) wajib bagi orang yang masuk Islam mandi, karena ini termasuk celupan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...