Seri (30)
Ayat
135-138: Menyebutkan bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang
menyangka bahwa hidayah (petunjuk) terletak pada mengikuti mereka dan
menerangkan, bahwa petunjuk yang sebenarnya terletak dalam mengikuti ajaran
Islam.
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا
قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (135)
135. [1]Dan
mereka berkata, "Jadilah kamu (penganut) agama Yahudi atau Nasrani,
niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah,"Tidak, tetapi (kami mengikuti)
agama Ibrahim yang lurus (Islam)[2]
dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan."
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى
إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ
مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ
أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136)
136. [3]Katakanlah
(wahai orang-orang mukmin)[4],
"Kami beriman[5]
kepada Allah[6]
dan kepada apa yang diturunkan kepada kami[7],
dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim[8],
Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya[9],
dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada
nabi-nabi dari Tuhan mereka[10].
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka[11],
dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya"[12].
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ
تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ (137)
137. Maka jika mereka[13] telah
beriman sebagaimana yang kamu imani[14],
sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling[15], sesungguhnya
mereka berada dalam permusuhan (denganmu), maka Allah akan memelihara kamu dari
mereka[16],
dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[17]
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ
عَابِدُونَ (138)
[1] Muhammad bin Ishaq berkata, “Telah menceritakan
kepadaku Muhammad bin Abi Muhammad, telah menceritakan kepadaku Sa’id bin
Jubair atau Ikrimah dari
[2] Mengikuti Nabi Ibrahim itulah seseorang akan
mendapatkan petunjuk, dimana Beliau seorang yang bertauhid dan menjauhi syirik,
bukan mengikuti Yahudi dan Nasrani.
Adapun arti hanif (yang lurus) di ayat ini
menurut Mujahid dan Rabi’ bin Anas adalah sambil mengikuti (muttabi’an).
Sedangkan menurut Abu Qilabah, bahwa hanif adalah orang yang beriman kepada
semua rasul dari awal sampai yang terakhir (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi
wa sallam).
Dari ayat ini kita mengetahui bahwa
pernyataan Ahli Kitab bahwa mereka di atas kebenaran tidaklah berguna bagi
mereka karena mereka kafir kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
dan kitab Al Qur’an yang Beliau bawa.
[3] Ayat yang mulia ini mengandung hal-hal yang wajib kita
imani. Iman adalah pembenaran dari hati kepada dasar-dasar ini, iqrar
(pengakuan di lisan), dan pengamalan dengan anggota badan. Berdasarkan arti
ini, maka kata iman sudah termasuk ke dalamnya Islam, demikian juga termasuk ke
dalam iman semua amal saleh. Amal saleh adalah bagian dari iman dan salah satu
atsar (pengaruh) di antara atsar-atsarnya. Oleh karena itu, jika disebutkan
iman secara mutlak, maka hal-hal tadi termasuk di dalamnya. Demikian juga kata
"Islam", jika disebutkan secara mutlak, maka masuk juga ke dalamnya
iman. Namun apabila disebut Iman dan Islam secara bersamaan, maka iman adalah
sesuatu yang menancap di hati berupa pembenaran, keyakinan, dan pengakuan, sedangkan Islam sebagai nama untuk
amal-amal yang tampak di luar. Sama seperti ini, jika disebut iman dan amal saleh.
Iman adalah sesuatu yang menancap di hati, sedangkan amal saleh adalah amalan
yang tampak di luar.
[4] Maksudnya perkataan yang dibenarkan oleh hati. Inilah
perkataan yang sempurna yang akan diberi pahala. Sebaliknya, jika terbatas di
lisan saja tanpa masuk ke dalam hati, maka hal itu merupakan nifak dan
kekufuran. Perintah untuk mengatakan hal-hal di atas adalah isyarat untuk
mengi'lankan (menampakkan secara terang-terangan) Akidah Islam sekaligus
mendakwahkan manusia kepadanya.
[5] Pada kata-kata ini "Kami beriman"
dinisbatkan kepada umat Islam secara menyeluruh yang menunjukkan wajibnya
mereka berpegang dengan agama Allah dan bersatu di atasnya serta larangan
berpecah-belah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa kaum mukmin itu seperti satu
jasad.
[6] Kata-kata ini menunjukkan bolehnya seseorang menyebut
dirinya beriman 'ala wajhit taqyid (secara tafshil, seperti, "saya beriman
kepada Allah", "saya beriman kepada kitab-kitab Allah" dsb.),
bahkan hal itu wajib. Berbeda jika mengatakan "saya seorang mukmin,"
maka harus disertakan istitsna' (kata Insya Allah) karena di dalamnya terdapat
tazkiyah (anggapan suci terhadap diri) dan persaksian dirinya sebagai mukmin.
Beriman kepada Allah mencakup beriman bahwa
Allah itu ada, Dia sebagai Rabbul 'alamin (Pencipta, Penguasa dan Pemberi
rezeki, serta Pengatur alam semesta), Mahaesa, memiliki nama yang indah dan sifat
sempurna, bersih dari sifat kekurangan dan cacat, yang satu-satunya berhak
diibadahi dan tidak boleh disekutukan.
[7] Mencakup beriman kepada Al Qur'an dan As Sunnah,
berdasarkan
Tentang ayat ini Qatadah berkata, “Allah
memerintahkan kaum mukmin untuk beriman kepada-Nya dan membenarkan
kitab-kitab-Nya semuanya dan beriman kepada Rasul-Nya.”
Sulaiman bin Habib berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil
dan tidak diperintah mengamalkan apa yang ada di dalam keduanya.”
Maksud perkataan Sulaiman bin
Habib adalah bahwa yang kita amalkan hanyalah Al Qur’an saja.
[8] Seperti shuhuf (lembaran-lembaran berisi wahyu).
[9] Mereka adalah para nabi yang berasal dari keturunan
Ya'qub (Bani Israil).
[10] Dalam beriman kepada kitab-kitab Allah, kita
mengimaninya secara ijmal dan tafshil. Secara ijmal (garis besar) maksudnya
kita mengimani bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menurunkan kitab-kitab
atau shuhuf kepada para nabi meskipun tidak diberitahukan kepada kita namanya
seperti pada ayat di atas.
Mahmud Al Mishri berkata, “Yang turun dari
langit ada yang terhimpun dalam sebuah kitab, seperti suhuf Ibrahim dan
kitab-kitab yang diturunkan kepada Musa, Dawud, Isa, dan Muhammad alaihimush
shalatu wa salam, dan terkadang berupa wahyu yang disampaikan kepada rasul atau
nabi; namun tidak berupa kitab. Misalnya wahyu yang diturunkan kepada Ismail,
Ishaq, Ya’kub, dan keturunannya, demikian pula yang diwahyukan kepada Nabi kita
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam selain Al Qur’an (As Sunnah).” (Aqidatuth
Thiflil Muslim hal. 191)
Sedangkan secara tafshil (rinci) adalah kita
mengimani kitab-kitab tersebut secara rinci, yakni yang disebutkan nama
kitabnya dan siapa yang menerimanya karena kemuliaan mereka sehingga disebutkan
namanya dalam Al Qur'an dan karena mereka datang membawa syariat-syariat yang
agung. Misalnya: Mengimani Al Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud 'alaihis
salam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa 'alaihis salam, dan Injil yang
diturunkan kepada Nabi Isa 'alaihis salam.
Dari ayat ini kita juga mengetahui bahwa
nikmat agama yang benar merupakan nikmat yang sangat besar karena terkait
dengan bahagia atau sengsara seseorang di dunia dan akhirat. Oleh karena itu,
Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak menyuruh kita mengimani apa yang diberikan
kepada para nabi berupa kerajaan, harta, dsb. Akan tetapi, Dia memerintahkan
kita beriman kepada apa yang diberikan kepada mereka berupa kitab-kitab dan
syariat mereka. Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu lebih baik daripada harta.
Disebutkan kata "Mirr rabbihim"
(dari Tuhan mereka) terdapat isyarat bahwa termasuk kesempurnaan rububiyyah
(kepengurusan) Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah dengan menurunkan kepada
mereka kitab-kitab dan mengutus para rasul, dan Rububiyyah-Nya kepada
hamba-hamba-Nya menghendaki untuk tidak membiarkan mereka begitu saja dalam
kebingungan dan kesesatan.
Apabila yang diberikan kepada para nabi itu
berasal dari Tuhan mereka, maka di
Singkatnya, dalam beriman kepada kitab-kitab
Allah mencakup beriman bahwa kitab itu turun dari sisi Allah, mengimaninya baik
secara garis besar maupun secara tafsil (rinci), membenarkan berita yang
disebutkan di dalamnya, dan mengamalkan hukum yang terkandung di dalamnya selama belum dihapus. Dan kitab-kitab terdahulu telah
dimansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang
diamalkan hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.
[11] Maksudnya, tidak membeda-bedakan dalam beriman, yakni
semuanya mereka imani tidak seperti orang-orang Yahudi yang beriman hanya
sampai kepada Nabi Musa 'alaihis salam dan tidak seperti orang-orang Nasrani
yang beriman hanya sampai kepada Nabi Isa 'alaihis salam. Padahal kafir kepada
seorang nabi, sama saja kafir kepada semua nabi (lihat
Inilah di
antara kelebihan Islam dan umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam,
mereka beriman kepada semua kitab dan semua rasul, sedangkan selain mereka
hanya beriman kepada sebagian kitab dan sebagian rasul (seperti orang-orang
Yahudi dan Nasrani) yang sebenarnya sama saja tidak beriman kepada kitab-kitab
dan rasul-rasul.
[12] Setelah Allah Subhaanahu
wa Ta'aala menyebutkan beberapa hal yang wajib diimani, baik secara umum maupun
khusus, sedangkan ucapan tidak berhenti sampai di situ, bahkan membutuhkan
kerja nyata atau amal, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan untuk
menambahkan "dan Kami hanya
tunduk patuh kepada-Nya", yakni tunduk kepada keagungan-Nya dan patuh
beribadah kepada-Nya baik zhahir maupun batin sambil mengikhlaskan diri hanya
kepada-Nya.
Ayat di atas meskipun
ringkas, namun sebenarnya mencakup banyak hal, di antaranya:
- Tauhid yang tiga; tauhid
rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma' wash shifat.
- Beriman kepada semua Rasul.
- Beriman kepada semua kitab.
- Disebutkan sebagian para rasul
setelah menyebutkan beriman kepada para rasul secara umum menunjukkan keutamaan
mereka di atas yang lain.
- Menjelaskan tentang hakikat iman
yang menghendaki adanya pembenaran di hati, lisan dan anggota badan serta
berbuat ikhlas lillah (karena Allah) dalam semua itu.
- Menjelaskan tentang ucapan yang
diajarkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya.
- Menunjukkan rahmat (kasih sayang)
Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan ihsan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan
memberikan nikmat agama yang menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
Maka Mahasuci Allah
Subhaanahu wa Ta'aala yang menjadikan kitab-Nya sebagai penjelas segala
sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Beberapa hadits yang berkaitan dengan
ayat di atas
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu ia berkata, “Dahulu orang-orang Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa
Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum muslimin, maka Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا{ آمَنَّا
بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا } الْآيَةَ
“Janganlah
kamu membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka (jika yang
mereka sampaikan mengandung kemungkinan benar atau salah). Tetapi katakanlah,
“Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami...dst.”
Imam Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i meriwayatkan
dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam paling
sering membaca ayat, “Aaamannaa billahi wamaa unzila ilainaa.” (Al
Baqarah: 136) dan ayat, “Aamannaa billahi wasyhad biannaa muslimuun.”
(Ali Imran: 52) di dua rakaat sebelum shalat Subuh.
[13] Yakni orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab
maupun selain mereka.
[14] Yakni dengan beriman kepada semua kitab dan semua
rasul, termasuk beriman kepada Al Qur'an dan kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam serta tunduk patuh kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Seperti inilah akidah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya
radhiyallahu anhum, mereka mengimani semua itu, dan jika kita memiliki akidah
yang sama seperti mereka, tentu kita mendapatkan petunjuk.
Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun dalam
masalah akidah, maka tidak diambil dariku, demikian pula dari orang yang lebih
senior daripadaku, bahkan diambil dari Allah, Rasul-Nya dan kesepakatan
generasi pertama umat ini." (Majmu Fatawa)
Shalih Al Fauzan berkata, "Barang siapa
yang ingin keselamatan untuk dirinya, ingin amalnya diterima, ingin menjadi
muslim sejati, maka hendaknya ia memperhatikan masalah akidah, yaitu mengenal
akidah yang benar, hal yang berlawanan dengannya, hal yang membatalkan dan hal
yang menguranginya, sehingga dia dapat membangun amalnya di atas itu." (Al
Muntaqa min Fatawa)
[15] Dari kebenaran kepada kebatilan setelah hujjah tegak
atas mereka.
[16] Yakni akan menolongmu dan memenangkanmu atas mereka.
Ibnu
Abi Hatim mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Ziyad bin Yunus, telah
menceritakan kepada kami Nafi’ bin
Abu Qilabah
berkata, "Aku termasuk rombongan orang yang berada di Syam, lalu aku
mendengar seorang berkata, "Celakalah diriku karena api neraka." Lalu
aku berdiri mendatanginya, dan ternyata orang itu terputus dua tangan dan dua
kakinya dari pinggangnya, kedua matanya buta, dan dalam keadaan menelungkupkan
wajahnya, lalu aku bertanya kepadanya tentang keadaannya, ia menjawab,
"Aku termasuk orang yang masuk mendatangi rumah Utsman. Ketika aku
mendekatinya, maka istrinya berteriak, lalu aku menamparnya. Kemudian Utsman
berkata, "Ada apa kamu, semoga Allah memotong kedua tanganmu, kedua
kakimu, membuat matamu buta, dan memasukkan dirimu ke neraka." Lalu
aku menjadi merinding dan keluar melarikan diri, sehingga aku mendapatkan
musibah seperti yang engkau lihat, dan tidak ada yang masih tersisa dari doanya
selain neraka." Maka aku berkata kepadanya, "Jauhlah dirimu."
Yazid
bin Habib memberitahukan, bahwa kebanyakan orang-orang yang datang untuk
membunuh Utsman bin Affan mendapat musibah kegilaan.
[17] Orang yang beriman seperti yang diimani kaum mukmin
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang mengarah
kepada surga. Oleh karena itu, tidak ada jalan untuk memperoleh petunjuk itu
kecuali dengan beriman seperti di atas (ayat 136), tidak seperti yang
dinyatakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa untuk memperoleh petunjuk
harus mengikuti agama Yahudi atau Nasrani. Padahal yang disebut dengan
"petunjuk" adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.
Kebalikannya adalah tersesat baik dengan tidak mengetahui yang hak maupun
dengan tidak mengamalkannya setelah mengetahuinya. Keadaan seperti inilah,
yakni berpaling dari petunjuk itu yang mengakibatkan mereka berada dalam syiqaq
(permusuhan), dan biasanya jika sudah terjadi permusuhan, maka orang yang
bermusuhan itu akan berupaya sekuat tenaga mengerahkan kemampuannya untuk
menyakiti musuhnya, dan yang mereka musuhi dalam hal ini adalah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menjanjikan akan menjaga Beliau dari gangguan mereka; karena Dia
mendengar semua pembicaraan dan Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka
dan di belakang mereka, Dia mengetahui yang ghaib dan yang tampak, yang zhahir
maupun yang tersembunyi. Jika demikian, maka cukuplah Allah sebagai penjaga
Rasul-Nya dari gangguan musuhnya.
Dalam ayat ini
juga terdapat dalil perintah mengikuti akidah para sahabat Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, karena generasi yang pertama yang tertuju ayat ini adalah
para sahabat radhiyallahu anhum. Hal itu karena akidah mereka shahihah (benar),
sedangkan akidah setelah mereka banyak yang menyimpang, di antara mereka ada
yang menolak takdir seperti kaum Qadariyyah, ada melampaui batas dalam taqdir
seperti kaum Jabriyyah, ada yang menolak sifat Allah seperti kaum Jahmiyyah,
ada yang membatasi sifat Allah seperti kaum Asya’irah, ada yang menyerupakan
sifat Allah dengan sifat makhluk, ada yang mengatakan Al Qur’an makhluk, ada
yang menolak azab kubur, ada yang mendahulukan akal di atas wahyu, dan
akidah-akidah menyimpang lainnya. Maka pelajarilah akidah generasi salaf
seperti yang telah ditulis oleh para ulama dari zaman ke zaman.
Allah
Subhaanahu wa Ta'aala juga memenuhi janji-Nya, Dia menjaga Rasul-Nya, dan
Rasul-Nya berhasil menyampaikan risalahnya semua tanpa ada yang dikurangi
sedikit pun. Di dalam ayat ini pun terdapat mukjizat Al Qur'an, dimana Al
Qur'an sudah mengabarkan sebelum terjadinya sesuatu dan kenyataannya sesuai
dengan yang dikabarkan itu.
[18] Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah berarti celupan
Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan,
bisa juga diartikan fitrah atau agama Allah, yakni "Peganglah agama
Allah, dimana Dia menciptakan kalian di atasnya."
Agama disebut shibghah karena tampak
pengamalannya bagi seorang muslim sebagaimana tampak bekas celupan pada
pakaian.
Memegang agama Allah ini menghendaki untuk
mengamalkan ajaran Islam baik amalan tersebut terkait dengan zhahir (laihiriah)
maupun batin serta memegang akidah Islam di setiap waktu sehingga hal itu
menjadi shibghah dan sifat yang melekat pada diri seseorang. Jika sudah
melekat, tentu kita akan senantiasa tunduk kepada perintah-Nya dengan sikap
rela, cinta, dan sebagai pilihan bukan karena terpaksa. Pengamalan ajaran Islam
pun menjadi tabiat dirinya seperti celupan yang merubah warna pakaian
sebelumnya. Dirinya akan memiliki akhlak mulia, amalan yang indah, dan
mendahulukan perkara utama. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala
berfirman dengan takjub yang membuat orang-orang yang berakal terpesona, "Siapakah
yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?" Yakni tidak ada yang dapat merubah orang lain sehingga menjadi
indah dipandang selain syari'at Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Untuk mengetahui
kehebatan shibghah Allah, maka perhatikanlah seorang hamba yang beriman kepada
Allah dengan imannya yang benar, tentu akan membekas dalam dirinya rasa tunduk
baik dari hati maupun anggota badannya kepada Allah, ia senantiasa memiliki
sifat mulia, seperti jujur lisannya, banyak kebaikannya, sedikit bicara, banyak
berbuat, sedikit sekali tergelincir, tidak berlebihan dalam sesuatu selain
dalam hal yang memberinya manfaat seperti ibadah, berbakti kepada orang tua,
dan menyambung tali silaturrahim, sopan, sabar, memiliki rasa syukur yang
tinggi, tidak lekas marah, memenuhi janji, menjaga dirinya dari yang haram,
tidak suka melaknat, memaki, tidak mengadu domba serta ghibah (menggunjing
orang), tidak tergesa-gesa, tidak dendam, tidak bakhil dan dengki, menampakkan
wajah yang senang dan berseri-seri, cinta karena Allah dan benci pun
karena-Nya, ridha karena Allah serta marah pun karena-Nya. Kemudian bandingkan
dengan seorang yang jauh dari syariat Allah; akhlaknya buruk seperti suka
berdusta, khianat, suka menipu, buruk ucapan dan tindakannya, tidak ikhlas
kepada Allah dan tidak suka berbuat ihsan kepada orang lain.
[19] Ayat ini menerangkan tentang bagaimana memperoleh
shibghah ini, yaitu dengan melaksanakan dua asas; ikhlas dan mutaba'ah
(mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam). Mengapa diambil
kesimpulan demikian? Hal itu, karena ibadah adalah istilah untuk semua perkara
yang dicintai Allah dan diridhai-Nya berupa ucapan dan amalan yang tampak
maupun tersembunyi, dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali dengan mengikuti
contoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedangkan arti ikhlas adalah
tujuan seorang hamba dalam melakukan semua itu untuk mencari keridhaan Allah.
dan Inilah ibadah.
Pada ayat tersebut ada penggunaan isim fa'il
(pelaku), yaitu 'aabiduun yang menunjukkan tetapnya mereka di atas
ibadah tersebut, di atas sifat itu, dan hal itu sudah menjadi shibghah (hal
yang melekat) pada diri mereka.
Dari ayat 135-138 kita
dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) tidak ada petunjuk,
kebahagiaan, dan kesempurnaan kecuali dalam Islam, (2) kafir kepada seorang
rasul sama saja kafir kepada semua rasul, (3) orang-orang Yahudi dan Nasrani
senantiasa memusuhi Islam dan kaum muslimin, namun Allah akan melindungi mereka
ketika mereka istiqamah di atas Islam, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, adab,
hukum, maupun muamalahnya, (4) wajib bagi orang yang masuk Islam mandi, karena
ini termasuk celupan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar