Seri (29)
Ayat
130-134: Menyebutkan celaan keras terhadap orang-orang yang menyimpang dari
ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, penekanan untuk mengikutinya dan ajakan
agar menjadikannya sebagai teladan, serta menerangkan tentang agama Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam.
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا
مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ
لَمِنَ الصَّالِحِينَ (130)
130. [1]Dan
tidak ada yang membenci agama Ibrahim (Islam)[2],
melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri[3]. Sungguh,
Kami telah memilihnya[4] di
dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh[5].
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(131)
131. [6]Ketika
Tuhannya berfirman kepadanya, "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab,
"Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."[7]
وَوَصَّى بِهَا
إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ
فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132)
132. Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu[8]
kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub[9].
(Ibrahim berkata), "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih
agama ini[10]
untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim[11]".
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ
لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ
إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
(133)
133. [12]Apakah
kamu hadir ketika Ya'qub hendak dijemput oleh maut[13],
ketika dia berkata kepada anak-anaknya[14],
"Apa yang kamu sembah sepeninggalku?"[15] Mereka
menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu
Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya"[16].
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ
وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (134)
[1] Setelah Allah menyebutkan keadaan Nabi Ibrahim
'alaihis salam yang sungguh mulia dan menyebutkan tentang sifat-sifatnya yang
sempurna, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa tidak ada yang membenci
ajaran Nabi Ibrahim kecuali orang yang dungu dan jahil (bodoh).
Abul ‘Aliyah dan Qatadah berkata, ”Ayat ini
turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang membuat jalan hidup yang baru
yang bukan dari sisi Allah serta menyelisihi ajaran Nabi Ibrahim dalam hal-hal
yang mereka buat itu.”
[2] Yakni meninggalkan agamanya dan syariatnya yang isinya
mentauhidkan Allah dan meniadakan sesembahan selain Allah. Dalam tafsir Al
Khazin pada tafsir ayat ini disebutkan, “Dalam ayat ini terdapat sindiran
kepada orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum musyrik bangsa Arab, karena orang-orang
Yahudi berbangga diri karena nasabnya bersambung kepada Nabi Ibrahim; dimana
mereka adalah dari Bani (keturunan) Israil, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim,
sedangkan orang-orang Arab berbangga diri karena mereka keturunan Nabi Isma’il
bin Ibrahim. Jika demikian, maka Ibrahim sesungguhnya yang meminta diutusnya
Rasul ini (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) di akhir zaman. Oleh
karena itu, barang siapa yang tidak suka beriman kepada Rasul ini yang
merupakan doa Nabi Ibrahim, maka sesungguhnya ia telah membenci agama Nabi Ibrahim.”
[3] Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah menzalimi
dirinya dengan memperbodohnya dan mengurus dirinya secara tidak baik karena
meninggalkan kebenaran beralih kepada kesesatan, yaitu menyelisihi jalan orang
yang telah dipilih di dunia kepada petunjuk dan kebenaran dari sejak mudanya
sampai diangkat menjadi kekasih-Nya, dan dia (Nabi Ibrahim) di akhirat termasuk
orang-orang saleh dan bahagia. Oleh karena itu, barang siapa yang
meninggalkannya, meninggalkan jalan hidup dan agamanya dan mengikuti jalan-jalan
kesesatan, maka kebodohan mana yang lebih besar daripada ini? Atau kezaliman
apa yang lebih besar daripada ini? Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya syirk adalah kezaliman yang besar.” (Terj. Qs. Luqman: 13).
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 109)
[4] Di
antaranya menjadi imam, nabi dan rasul, banyak keturunannya yang menjadi nabi,
diberi gelar khalilullah (kekasih Allah).
[5] Orang-orang yang saleh di akhirat mendapatkan derajat
yang tinggi. Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta'ala menempatkan Beliau di
langit ketujuh.
[6] Sebab Ibrahim dipilih oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala
adalah karena sikapnya yang segera tunduk dan patuh tanpa ragu-ragu.
[7] Yakni ketundukan dengan sikap ikhlas,
mentauhidkan-Nya, mencintai, dan kembali kepada-Nya.
[8] Yakni sikap tunduk dan patuh kepada Allah, atau
ucapannya “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta
alam."
[9] Yakni Nabi Ya’qub juga berpesan demikian. Sebagian
kaum salaf membaca kata “Ya’qub” dengan fat-hah “Ya’quba”, sehingga maksudnya
bahwa Nabi Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya dan kepada cucunya,
yaitu Ya’qub bin Ishaq, yang ikut hadir pula. Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa
yang zhahir (tampak) dan Allah yang lebih tahu adalah bahwa Ishaq telah
kelahiran anaknya yaitu Ya’qub di masa Nabi Ibrahim dan Sarah. Hal ini
ditunjukkan pula oleh firman Allah Ta’ala, ”Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim)
lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masingnya Kami
jadikan orang-orang yang saleh.” (Terj. Qs. Al Anbiya’: 72)
[10] Yakni agama Islam sebagai rahmat dan ihsan-Nya kepada
kita. Dari ayat ini kita mengetahui bahwa agama para nabi semuanya adalah Islam
meskipun syariat mereka berbeda-beda. Hal itu, karena Islam
jika diartikan secara umum adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan
menjauhi sesembahan selain Allah sesuai syari’at rasul yang diutus. Oleh
karena itulah, agama para nabi adalah Islam. Orang-orang yang mengikuti rasul
di zaman rasul tersebut diutus adalah orang Islam (muslim). Orang-orang Yahudi
adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihis salaam diutus dan orang-orang Nasrani
adalah muslim di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam diutus, adapun setelah
diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang muslim adalah
orang yang mengikuti (memeluk) agama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sedangkan yang tidak mau memeluk agama Beliau adalah orang-orang kafir. Oleh
karena itu, agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Ya'qub adalah Islam, bukan agama
Yahudi atau Nasrani.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
الْأَنْبِيَاء إِخْوَة مِنْ عَلَّات ، وَأُمَّهَاتهمْ
شَتَّى ، وَدِينهمْ وَاحِدٌ
“Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu
mereka berbeda, dan agama mereka satu.” (Hr. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu
Dawud).
[11] Orang yang hidup di atas sesuatu, biasanya meninggal
di atasnya, dan jika meninggal di atasnya, maka ia akan dibangkitkan di atas
itu pula. Nabi Ibrahim dan Ya'qub 'alaihimas salam mewasiatkan kepada
anak-anaknya agar mereka tetap hidup di atas Islam dan meninggal di atas Islam
agar nanti dibangkitkan di atasnya pula.
[12] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang wasiat
Nabi Ibrahim alaihis salam kepada anak-anaknya untuk tetap di atas Islam, maka
pada ayat di atas Dia menyebutkan tentang Nabi Ya’qub alaihis salam yang sama
berwasiat kepada anak-anaknya agar tetap di atas tauhid dan Islam.
Demikian pula ketika orang-orang Yahudi
menyangka bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'qub 'alaihimas salam berada di atas
agama mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingkari mereka dengan
firman-Nya di atas.
[13] Saat telah tiba tanda-tanda akan wafatnya.
[14] Dengan maksud menguji mereka dan agar hatinya
tenteram.
Dari ayat ini kita dapat mengambil
pelajaran, bahwa hendaknya para orang tua berpesan kepada anak-anaknya agar
menjaga agama Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya; bukan hanya memperhatikan
masalah dunianya saja. Dan agar anak-anaknya dapat menjaga agama Islam dan
mengamalkannya, maka dibutuhkan pendidikan agama kepada mereka. Ayat ini juga
menunjukkan agar orang tua memperhatikan masalah akidah dan tauhid anak.
[15] Alangkah bedanya pesan dan pertanyaan para nabi kepada
anak-anaknya di akhir hayat mereka dengan pesan dan pertanyaan kita kepada
anak-anak kita di akhir hayat kita, pesan dan pertanyaan para nabi adalah,
مَا تَعْبُدُوْنَ
مِنْ بَعْدِيْ؟
“Apa yang
kalian sembah setelahku nanti?”
Yakni untuk memastikan mereka di atas tauhid
dan hanya menyembah Allah, akan tetapi pesan dan pertanyaan kita kepada
anak-anak kita adalah,
مَا
تَأْكُلُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ؟
“Apa yang kalian
akan makan setelahku nanti?”
Perhatian
para nabi adalah agama, sedangkan perhatian kita adalah dunia.
[16] Pada kata-kata mereka ini terdapat penggabungan antara
tauhid dan amal. Tauhid diambil dari kata-kata mereka "Kami akan
menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq,
(yaitu) Tuhan yang Mahaesa",
sedangkan amal, diambil dari kata-kata mereka, "Kami
hanya tunduk patuh kepada-Nya".
Inilah arti Islam secara istilah, yakni menyerahkan diri kepada Allah dengan
mentauhidkan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya dengan taat, serta berlepas diri dari
syirik dan pelakunya.
Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran
bahwa disyariatkan berwasiat kepada keturunan kita untuk mengikuti petunjuk.
Faedah:
Sebagian ulama beralasan dengan ayat ini,
bahwa kakek sama seperti ayah sehingga memahjub (menghalangi) saudara dari
mendapatkan warisan, karena kakek dikatakan “ab” (bapak) pula. Pendapat ini
dipegang oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Aisyah, Al Hasan Al Bashri, Thawus dan
‘Atha’. Adapun Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad dalam riwayat yang masyhur
darinya, bahwa kakek bermuqasamah (berbagi) dengan saudara sebagaimana
dinukilkan dari Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan jamaah dari
kalangan ulama salaf dan khalaf. Lihat pula pembahasan Fara’idh di tafsir
[17] Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa maksudnya masing-masing
orang akan dibalas sesuai amalnya dan seseorang tidaklah dihukum karena dosa
orang lain. Iman dan ketakwaan seseorang juga tidak bermanfaat bagi orang lain.
Oleh karena itu, sibuknya mereka terhadap umat yang telah lalu, pengakuan
mereka bahwa mereka di atas agama umat yang lalu tersebut dan ridha dengan
ucapan semata dianggap kosong tidak berarti apa-apa, bahkan yang wajib mereka
lakukan adalah memperhatikan diri mereka apakah layak untuk selamat atau tidak?
(Lihat Taisirul Karimir Rahman hal. 67).
Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah
bahwa orang-orang yang terdahulu yang menjadi nenek moyangmu dari kalangan para
nabi dan orang-orang saleh, ketika kamu menasabkan diri kepada mereka tidaklah
bermanfaat bagimu jika kamu tidak mengerjakan kebaikan yang manfaatnya
kembalinya kepada kamu, karena untuk mereka amal yang mereka kerjakan dan untuk
kamu amal yang kamu kerjakan, dan kamu tidaklah ditanya tentang apa yang mereka
kerjakan. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits,
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ
بِهِ نَسَبُهُ
“Barang
siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidaklah mempercepatnya.” (Hr.Muslim)
Dari ayat 130-134 di atas
kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) tidak ada yang membenci
Islam atau mencari agama selainnya selain orang yang dungu, (2) Islam adalah
agama yang harus dianut manusia semuanya, selain Islam adalah agama yang batil,
(3) anjuran bagi orang yang sakit berpesan kepada anak-anak dan semua
keluarganya agar mereka tetap di atas Islam sampai meninggal dunia, (4)
kedustaan orang-orang Yahudi, (5) hendaknya seseorang tidak berbangga dengan
kemuliaan nenek moyangnya, tetapi hendaknya ia perhatikan dirinya dengan
memperbaikinya, dan (6) Sunnatullah (ketetapan Allah) yang berlaku pada makhluk-Nya,
bahwa seseorang tidakah dibalas kecuali sesuai amalnya, dan ia tidak ditanya
tentang amal orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar