Minggu, 09 Agustus 2026

Seri 29 (Surah Al Baqarah ayat 130-134)

 

Seri (29)

 




Ayat 130-134: Menyebutkan celaan keras terhadap orang-orang yang menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, penekanan untuk mengikutinya dan ajakan agar menjadikannya sebagai teladan, serta menerangkan tentang agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

 

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (130) 

130. [1]Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim (Islam)[2], melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri[3]. Sungguh, Kami telah memilihnya[4] di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh[5].

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (131) 

131. [6]Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab, "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."[7]

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132)  

132. Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu[8] kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub[9]. (Ibrahim berkata), "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini[10] untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim[11]".

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133) 

133.  [12]Apakah kamu hadir ketika Ya'qub hendak dijemput oleh maut[13], ketika dia berkata kepada anak-anaknya[14], "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?"[15] Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya"[16].

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (134)  

134. Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan[17].


[1] Setelah Allah menyebutkan keadaan Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang sungguh mulia dan menyebutkan tentang sifat-sifatnya yang sempurna, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa tidak ada yang membenci ajaran Nabi Ibrahim kecuali orang yang dungu dan jahil (bodoh).

Abul ‘Aliyah dan Qatadah berkata, ”Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang membuat jalan hidup yang baru yang bukan dari sisi Allah serta menyelisihi ajaran Nabi Ibrahim dalam hal-hal yang mereka buat itu.”

[2] Yakni meninggalkan agamanya dan syariatnya yang isinya mentauhidkan Allah dan meniadakan sesembahan selain Allah. Dalam tafsir Al Khazin pada tafsir ayat ini disebutkan, “Dalam ayat ini terdapat sindiran kepada orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum musyrik bangsa Arab, karena orang-orang Yahudi berbangga diri karena nasabnya bersambung kepada Nabi Ibrahim; dimana mereka adalah dari Bani (keturunan) Israil, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, sedangkan orang-orang Arab berbangga diri karena mereka keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim. Jika demikian, maka Ibrahim sesungguhnya yang meminta diutusnya Rasul ini (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) di akhir zaman. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak suka beriman kepada Rasul ini yang merupakan doa Nabi Ibrahim, maka sesungguhnya ia telah membenci agama Nabi Ibrahim.”

[3] Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah menzalimi dirinya dengan memperbodohnya dan mengurus dirinya secara tidak baik karena meninggalkan kebenaran beralih kepada kesesatan, yaitu menyelisihi jalan orang yang telah dipilih di dunia kepada petunjuk dan kebenaran dari sejak mudanya sampai diangkat menjadi kekasih-Nya, dan dia (Nabi Ibrahim) di akhirat termasuk orang-orang saleh dan bahagia. Oleh karena itu, barang siapa yang meninggalkannya, meninggalkan jalan hidup dan agamanya dan mengikuti jalan-jalan kesesatan, maka kebodohan mana yang lebih besar daripada ini? Atau kezaliman apa yang lebih besar daripada ini? Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya syirk adalah kezaliman yang besar.” (Terj. Qs. Luqman: 13). (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 109)

[4] Di antaranya menjadi imam, nabi dan rasul, banyak keturunannya yang menjadi nabi, diberi gelar khalilullah (kekasih Allah).

[5] Orang-orang yang saleh di akhirat mendapatkan derajat yang tinggi. Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta'ala menempatkan Beliau di langit ketujuh.

[6] Sebab Ibrahim dipilih oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah karena sikapnya yang segera tunduk dan patuh tanpa ragu-ragu.

[7] Yakni ketundukan dengan sikap ikhlas, mentauhidkan-Nya, mencintai, dan kembali kepada-Nya.

[8] Yakni sikap tunduk dan patuh kepada Allah, atau ucapannya “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam."

[9] Yakni Nabi Ya’qub juga berpesan demikian. Sebagian kaum salaf membaca kata “Ya’qub” dengan fat-hah “Ya’quba”, sehingga maksudnya bahwa Nabi Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya dan kepada cucunya, yaitu Ya’qub bin Ishaq, yang ikut hadir pula. Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa yang zhahir (tampak) dan Allah yang lebih tahu adalah bahwa Ishaq telah kelahiran anaknya yaitu Ya’qub di masa Nabi Ibrahim dan Sarah. Hal ini ditunjukkan pula oleh firman Allah Ta’ala, ”Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.” (Terj. Qs. Al Anbiya’: 72)

[10] Yakni agama Islam sebagai rahmat dan ihsan-Nya kepada kita. Dari ayat ini kita mengetahui bahwa agama para nabi semuanya adalah Islam meskipun syariat mereka berbeda-beda. Hal itu, karena Islam jika diartikan secara umum adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan menjauhi sesembahan selain Allah sesuai syari’at rasul yang diutus. Oleh karena itulah, agama para nabi adalah Islam. Orang-orang yang mengikuti rasul di zaman rasul tersebut diutus adalah orang Islam (muslim). Orang-orang Yahudi adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihis salaam diutus dan orang-orang Nasrani adalah muslim di zaman Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam diutus, adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang muslim adalah orang yang mengikuti (memeluk) agama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan yang tidak mau memeluk agama Beliau adalah orang-orang kafir. Oleh karena itu, agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Ya'qub adalah Islam, bukan agama Yahudi atau Nasrani.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْأَنْبِيَاء إِخْوَة مِنْ عَلَّات ، وَأُمَّهَاتهمْ شَتَّى ، وَدِينهمْ وَاحِدٌ

“Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu mereka berbeda, dan agama mereka satu.” (Hr. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

[11] Orang yang hidup di atas sesuatu, biasanya meninggal di atasnya, dan jika meninggal di atasnya, maka ia akan dibangkitkan di atas itu pula. Nabi Ibrahim dan Ya'qub 'alaihimas salam mewasiatkan kepada anak-anaknya agar mereka tetap hidup di atas Islam dan meninggal di atas Islam agar nanti dibangkitkan di atasnya pula.

[12] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang wasiat Nabi Ibrahim alaihis salam kepada anak-anaknya untuk tetap di atas Islam, maka pada ayat di atas Dia menyebutkan tentang Nabi Ya’qub alaihis salam yang sama berwasiat kepada anak-anaknya agar tetap di atas tauhid dan Islam.

Demikian pula ketika orang-orang Yahudi menyangka bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'qub 'alaihimas salam berada di atas agama mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingkari mereka dengan firman-Nya di atas.

[13] Saat telah tiba tanda-tanda akan wafatnya.

[14] Dengan maksud menguji mereka dan agar hatinya tenteram.

Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa hendaknya para orang tua berpesan kepada anak-anaknya agar menjaga agama Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya; bukan hanya memperhatikan masalah dunianya saja. Dan agar anak-anaknya dapat menjaga agama Islam dan mengamalkannya, maka dibutuhkan pendidikan agama kepada mereka. Ayat ini juga menunjukkan agar orang tua memperhatikan masalah akidah dan tauhid anak.

[15] Alangkah bedanya pesan dan pertanyaan para nabi kepada anak-anaknya di akhir hayat mereka dengan pesan dan pertanyaan kita kepada anak-anak kita di akhir hayat kita, pesan dan pertanyaan para nabi adalah,

مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ؟

“Apa yang kalian sembah setelahku nanti?”

Yakni untuk memastikan mereka di atas tauhid dan hanya menyembah Allah, akan tetapi pesan dan pertanyaan kita kepada anak-anak kita adalah,
مَا تَأْكُلُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ؟

“Apa yang kalian akan makan setelahku nanti?”

Perhatian para nabi adalah agama, sedangkan perhatian kita adalah dunia.

[16] Pada kata-kata mereka ini terdapat penggabungan antara tauhid dan amal. Tauhid diambil dari kata-kata mereka "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa", sedangkan amal, diambil dari kata-kata mereka, "Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". Inilah arti Islam secara istilah, yakni menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh kepada-Nya dengan taat, serta berlepas diri dari syirik dan pelakunya.

Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa disyariatkan berwasiat kepada keturunan kita untuk mengikuti petunjuk.

Faedah:

Sebagian ulama beralasan dengan ayat ini, bahwa kakek sama seperti ayah sehingga memahjub (menghalangi) saudara dari mendapatkan warisan, karena kakek dikatakan “ab” (bapak) pula. Pendapat ini dipegang oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Aisyah, Al Hasan Al Bashri, Thawus dan ‘Atha’. Adapun Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad dalam riwayat yang masyhur darinya, bahwa kakek bermuqasamah (berbagi) dengan saudara sebagaimana dinukilkan dari Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan jamaah dari kalangan ulama salaf dan khalaf. Lihat pula pembahasan Fara’idh di tafsir surat An Nisaa’: 11-12 dalam kitab ini.

[17] Syaikh As Sa’diy menjelaskan, bahwa maksudnya masing-masing orang akan dibalas sesuai amalnya dan seseorang tidaklah dihukum karena dosa orang lain. Iman dan ketakwaan seseorang juga tidak bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, sibuknya mereka terhadap umat yang telah lalu, pengakuan mereka bahwa mereka di atas agama umat yang lalu tersebut dan ridha dengan ucapan semata dianggap kosong tidak berarti apa-apa, bahkan yang wajib mereka lakukan adalah memperhatikan diri mereka apakah layak untuk selamat atau tidak? (Lihat Taisirul Karimir Rahman hal. 67).

Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah bahwa orang-orang yang terdahulu yang menjadi nenek moyangmu dari kalangan para nabi dan orang-orang saleh, ketika kamu menasabkan diri kepada mereka tidaklah bermanfaat bagimu jika kamu tidak mengerjakan kebaikan yang manfaatnya kembalinya kepada kamu, karena untuk mereka amal yang mereka kerjakan dan untuk kamu amal yang kamu kerjakan, dan kamu tidaklah ditanya tentang apa yang mereka kerjakan. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits,

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidaklah mempercepatnya.” (Hr.Muslim)

Dari ayat 130-134 di atas kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) tidak ada yang membenci Islam atau mencari agama selainnya selain orang yang dungu, (2) Islam adalah agama yang harus dianut manusia semuanya, selain Islam adalah agama yang batil, (3) anjuran bagi orang yang sakit berpesan kepada anak-anak dan semua keluarganya agar mereka tetap di atas Islam sampai meninggal dunia, (4) kedustaan orang-orang Yahudi, (5) hendaknya seseorang tidak berbangga dengan kemuliaan nenek moyangnya, tetapi hendaknya ia perhatikan dirinya dengan memperbaikinya, dan (6) Sunnatullah (ketetapan Allah) yang berlaku pada makhluk-Nya, bahwa seseorang tidakah dibalas kecuali sesuai amalnya, dan ia tidak ditanya tentang amal orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...