Seri (34)
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (148)
148. Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia
menghadap kepadanya[1].
Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan[2]. Di
mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya (pada hari
kiamat)[3].
Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
(149)
149. Dan dari mana saja kamu keluar[4], hadapkanlah
wajahmu ke arah Masjidil haram[5], sesungguhnya
ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak (benar) dari Tuhanmu[6].
Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan[7].
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ
عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي
وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (150)
150. Dan dari mana saja kamu (keluar), maka
hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram[8]. Dan
di mana saja kamu (sekalian) berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya, agar
tidak ada hujjah bagi manusia (untuk menentangmu)[9],
kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka[10]. Janganlah
kamu takut kepada mereka[11],
tetapi takutlah kepada-Ku[12],
dan agar Aku-sempurnakan nikmat-Ku kepadamu[13],
dan agar kamu mendapat petunjuk[14].
Ayat 151-153: Mengingatkan kaum mukmin
terhadap nikmat Allah yang besar kepada mereka dengan diutus-Nya rasul
terakhir, serta terdapat pengarahan untuk mereka agar menggunakan sabar dan
shalat sebagai sarana pembantu untuk mencapai tujuan.
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ
تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151)
151. [15]Sebagaimana
(Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu seorang
Rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Kami[16],
menyucikan kamu[17]
dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah[18],
serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui[19].
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)
[1] Masing-masing umat memiliki kiblat sendiri dalam
ibadahnya. Menghadap kiblat tertentu termasuk syariat yang bisa berubah
tergantung situasi dan kondisi serta zamannya, ia bisa dimasuki oleh naskh dan
mengalami perubahan dari arah tertentu kepada arah yang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa yang menjadi tujuan utama adalah menaati perintah Allah
Subhaanahu wa Ta'aala dan menjauhi larangan-Nya serta mendekatkan diri
kepada-Nya, dan inilah tanda kebahagiaan.
Al ‘Aufiy meriwayatkan dari Ibnu Abbas
tentang firman Allah Ta’ala, “Dan setiap umat
mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya,” ia berkata, “Yaitu semua pemeluk agama. Dengan kata
lain, bahwa setiap umat memiliki kiblat yang mereka ridhai, dan kiblat yang
diridhai Allah adalah kiblat yang kaum mukmin menghadap kepadanya.”
Abul ‘Aliyah berkata, “Orang Yahudi memiliki
kiblat yang ia menghadap kepadanya dan orang Nasrani memiliki kiblat yang ia
menghadap kepadanya. Allah memberikan hidayah kepadamu wahai umat (Islam)
kepada kiblat yang sesungguhnya.” Dan diriwayatkan pula dari Mujahid, ‘Atha,
Adh Dhahhak, Ar Rabii’ bin Anas, dan As Suddiy yang sama seperti itu.
Ibnu
Katsir menjelaskan, bahwa ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala, “Untuk setiap umat di antara
kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki,
niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu
terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu
apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (Terj. Qs. Al Maa’idah: 48)
[2] Perintah berlomba-lomba dalam kebaikan lebih dalam
daripada sebatas perintah mengerjakan kebaikan. Dalam perintah ini mengandung
perintah mengerjakannya, menyempurnakannya, melakukannya sebaik mungkin, dan
bersegera kepadanya. Barang siapa yang bersegera kepada kebaikan ketika di
dunia, maka dia adalah orang yang lebih dulu ke surganya. Oleh karena itu,
mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan adalah orang yang paling tinggi
derajatnya. Dan kata "kebaikan" di sini mencakup semua amalan fardhu
maupun sunah, baik berupa shalat, puasa, zakat, hajji, umrah,
jihad, manfaat bagi orang lain maupun sebatas untuk diri sendiri.
Sebagian orang bijak berkata, “Jika engkau tidak mampu berlomba dengan orang-orang saleh dalam hal kebaikan, maka berlombalah dengan orang-orang yang berdosa dalam hal istighfar (permohonan ampun) yang banyak mereka panjatkan.”
[3] Karena pendorong yang paling kuat agar seseorang dapat
bersegera kepada kebaikan dan bersemangat kepadanya adalah pahala yang
dijanjikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maka Dia berfirman seperti yang
disebutkan di atas; yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan mengumpulkan kita
semuanya di mana saja kita berada dengan kekuasaan-Nya meskipun jasad atau
badan kita telah berserakan, dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap
orang yang beramal, jika amalnya buruk, maka Dia akan membalas sesuai amal yang
dikerjakannya, dan jika baik, maka Dia akan membalas dengan berlipat ganda dan
memberikan balasan yang terbaik (surga).
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan
sanadnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
« قَالَ رَجُلٌ لَمْ
يَعْمَلْ خَيْراً قَطُّ ، فَإِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوهُ وَاذْرُوا نِصْفَهُ فِى
الْبَرِّ وَنِصْفَهُ فِى الْبَحْرِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ
لَيُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَداً مِنَ الْعَالَمِينَ ، فَأَمَرَ
اللَّهُ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَا فِيهِ ، وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيهِ
ثُمَّ قَالَ : لِمَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ : مِنْ خَشْيَتِكَ ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ ،
فَغَفَرَ لَهُ »
“Ada seorang yang belum pernah mengerjakan
kebaikan sedikit pun berpesan, apabila dia mati maka bakarlah jasadnya dan
agar dilempar separuh jasadnya (yang telah menjadi abu) di daratan, sedangkan
separuhnya lagi di laut. (Dia mengira), demi Allah, jika Allah berkuasa
menyatukan jasadnya, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah
dilakukan-Nya kepada seorang pun di alam semesta. Maka Allah memerintahkan
laut untuk mengumpulkan jasadnya yang telah berserakan di
Ayat yang mulia tersebut juga mengandung
perintah untuk segera melaksanakan kewajiban seperti shalat di awal waktu,
segera membayar hutang puasa, dan segera berhajji serta anjuran untuk
melaksanakan amalan-amalan sunah.
[4] Yakni keluar bersafar atau keperluan lainnya, kemudian
kamu hendak mendirikan shalat.
[5] Ayat ini merupakan perintah yang ketiga kalinya dari
Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk menghadap ke Masjidilharam di mana saja kita
berada.
[6] Pada ayat di atas menggunakan dua penguat, huruf
"inna" dan "lam" (sesungguhnya dan benar-benar) agar tidak
perlu lagi ragu dan agar tidak timbul perkiraan bahwa perintah menghadap ke
Ka'bah itu hanyalah karena lebih enak, bahkan ia merupakan perintah yang
sesungguhnya.
[7] Yakni bagaimana pun keadaan kita, Dia senantiasa
memperhatikan dan melihatnya. Hal ini menghendaki agar kita tetap menjaga
perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.
[8] Imam Malik berdalih
dengan ayat ini, bahwa orang yang shalat melihat ke depannya; tidak ke tempat
sujud yang merupakan madzhab Jumhur ulama (Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad). Menurut Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy, bahwa yang lebih
sesuai dengan ayat tersebut adalah bahwa seorang yang shalat pertama menghadap
ke depannya karena perintah Allah tersebut, lalu melihat ke tempat sujud.
[9] Perintah menghadap ke
kiblat adalah agar Ahli Kitab dan kaum musyrikin tidak memiliki alasan lagi
untuk menentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal itu, karena jika
tetap menghadap ke Baitul Maqdis tentu orang-orang ahli kitab akan menegakkan
hujjah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena yang disebutkan
dalam kitab-kitab mereka adalah bahwa kiblat yang tetap bagi Beliau adalah
Ka'bah Baitullah Al Haram. Sedangkan hujjah bagi orang-orang musyrikin ketika
Beliau tetap menghadap ke Baitul Maqdis adalah perkataan yang akan timbul dari
mereka, "Bagaimana Beliau berada di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihis
salam dan termasuk keturunannya, padahal Beliau tidak menghadap ke
kiblatnya?!". Dengan demikian,
setelah diadakan pemindahan kiblat, maka orang-orang Ahli Kitab dan kaum
musyrikin sudah tidak memiliki hujjah lagi untuk menentang Beliau.
[10] Yakni hanya orang-orang yang zalim saja yang coba-coba
berhujjah, namun hujjah mereka tidak bersandar selain kepada hawa nafsu
sehingga tidak perlu diladeni, karena tidak ada manfaatnya berbantah dengan
mereka.
[11] Kita tidak perlu takut kepada mereka karena hujjah
mereka batil, dan kita diperintahkan untuk takut kepada Allah Subhaanahu wa
Ta'aala saja, karena takut kepada-Nya merupakan asas semua kebaikan. Oleh
karena itu, orang yang tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla, ia tidak akan
berhenti bermaksiat dan tetap tidak mau mengikuti perintah-Nya.
Perlu diketahui, bahwa pemindahan arah
kiblat merupakan fitnah (cobaan) yang besar. Fitnah itu diangkat-angkat oleh Ahli
Kitab, kaum munafik dan kaum musyrikin, mereka banyak membicarakan masalah itu
dan menyampaikan berbagai syubhat. Oleh karena itu, pada beberapa ayat di atas,
Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkannya secara gamblang dan meyakinkan Rasul-Nya
shallallahu alaihi wa sallam serta
memperkuat kebenaran itu dengan berbagai penguat sebagaimana yang disebutkan di
beberapa ayat atas, misalnya:
- Diulangi-Nya perintah menghadap
kiblat berkali-kali.
- Perintah itu tidak hanya
ditujukan kepada Rasul saja, meskipun biasanya perintah kepada rasul sebagai
perintah kepada umatnya, tetapi diperkuat lagi dengan perintah kepada umatnya
sebagaimana firman-Nya "fa walluu wujuuhakum syathrah".
- Pada ayat di atas, Allah
Subhaanahu wa Ta'aala membantah semua alasan batil yang dilemparkan oleh mereka
yang zalim.
- Menghilangkan harapan bagi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengikuti kiblat ahli kitab.
- Penguatan dengan berita yang
disampaikan-Nya bahwa sesungguhnya hal itu benar-benar hak dari sisi Allah.
- Pemindahan kiblat tersebut
disebutkan dalam kitab-kitab mereka (ahli kitab), namun mereka
menyembunyikannya.
[12] Yakni dengan tetap menjalankan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya.
[13] Berupa penyempurnaan syariat. Dengan demikian, setiap
syariat yang ditetapkan merupakan nikmat yang besar. Dasar dari nikmat-nikmat
itu adalah memperoleh hidayah untuk mengikuti agama-Nya, setelah itu nikmat-nikmat
yang lain yang melengkapi dasar tersebut, dimulai dari sejak diutusnya Beliau
sampai wafat hingga syariat pun sempurna.
[14] Maksudnya, agar kita mengetahui yang hak dan dapat
mengamalkannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena rahmat-Nya telah memudahkan
kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab untuk memperoleh hidayah dan mengingatkan
mereka untuk menempuhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga menjelaskan hidayah
itu sejelas-jelasnya, sampai-sampai ditetapkan untuk yang hak itu ada para
penentangnya agar yang hak itu semakin jelas dan tampak serta yang batil
semakin jelas kebatilannya. Hal itu, karena jika tidak ada kebatilan sebagai
lawan yang hak tentu kebenaran itu akan samar bagi kebanyakan orang. Dengan ada
lawannya maka segala sesuatu itu semakin jelas. Jika tidak ada malam tentu
tidak akan diketahui kelebihan siang, jika tidak ada keburukan tentu tidak akan
diketahui kelebihan yang baik, jika tidak ada kegelapan tentu tidak akan
diketahui manfaat cahaya, dan jika tidak ada kebatilan tentu kebenaran tidak akan
jelas dan tampak, maka segala puji bagi Allah terhadap semua itu.
[15] Nikmat Allah untuk menghadap ke kiblat dan
penyempurnaan syariat bukanlah hal yang baru dan bukan pertama kali, bahkan Dia
juga telah memberikan ushulun ni'am (asas nikmat) dan penyempurnanya, yaitu
dengan mengutus seorang rasul yang sudah dikenal nasabnya, kejujurannya,
amanahnya, kesempurnaan, dan sikap nush-h(tulus)nya.
[16] Ayat-ayat tersebut menerangkan mana yang hak dan mana
yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan, menerangkan tentang tauhid,
tentang kebenaran Rasul-Nya serta kewajiban beriman kepadanya, menerangkan
tentang hari Kiamat dan hal-hal ghaib serta menerangkan syariat untuk maslahat
mereka di dunia sehingga mereka memperoleh hidayah yang sempurna dan ilmu yang
yakin.
[17] Maksudnya, menyucikan akhlak dan jiwa mereka dengan
mendidiknya di atas akhlak yang mulia dan membersihkannya dari akhlak yang
tercela yang mengotori jiwa. Misalnya dengan membersihkan mereka dari syirk
kepada tauhid, dari riya' kepada ikhlas, dari dusta kepada kejujuran, dari
khianat kepada amanah, dari sombong kepada tawadhu' dan dari semua akhlak buruk
kepada akhlak yang mulia serta perbaikan-perbaikan lainnya.
Dengan sebab berkah risalah Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, maka kaum yang sebelumnya berada di atas jahiliyyah
(kebodohan), menjadi kaum yang mulia, kaum yang berilmu, kaum yang baik dan
kaum yang maju.
Ayat di atas sama seperti firman Allah
Ta’ala di surat Ali Imran: 164.
Nikmat
diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah nikmat yang paling
besar. Oleh karena itu, Allah mencela orang yang tidak mengetahui kedudukan
nikmat ini dengan firman-Nya, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah
menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?” (Terj. Qs. Ibrahim: 28)
Ibnu Abbas berkata, “Maksud nikmat Allah adalah (pengutusan) Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam.” Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajak kaum
mukmin mengakui nikmat tersebut dan menyikapinya dengan mengingat dan
mensyukuri-Nya, Dia berfirman, “Maka ingatlah
kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah
kamu ingkar kepada-Ku.”
[18] Yakni As Sunnah dan hukum-hukum syariat (fiqih). Ayat
di atas juga menjadi dasar dakwah Tasfiyah dan Tarbiyah yang dibutuhkan oleh
umat saat ini, yakni memurnikan umat Islam dari ajaran yang bukan Islam dan
mengajarkan kepada mereka ajaran Islam yang murni yang bersumber dari Al Qur’an
dan As Sunnah seperti yang dipahami oleh generasi pertama Islam (salafus
shalih). Dalam ayat ini juga terdapat dalil bahwa para nabi dan rasul diutus
Allah sebagai pendidik umat manusia.
[19] Seperti kisah para nabi dan kisah umat-umat terdahulu
dan pengetahuan lainnya, dimana mereka sebelum diutusnya Beliau dalam kesesatan
yang nyata, tidak ada ilmu apalagi amal. Oleh karena itu, ilmu maupun amal yang
diketahui oleh umat ini adalah melalui tangan dan sebab Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam. Nikmat-nikmat ini merupakan ushulun ni'am (asas
nikmat), bahkan ia merupakan nikmat terbesar yang menghendaki untuk disyukuri.
[20] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan nikmat-Nya
dengan mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan nikmat
yang besar, maka kaum muslimin diperintahkan untuk melakukan dua sikap yang
mulia, yaitu dzikir dan syukur.
[21] Dzikrullah
yang paling utama adalah jika diucapkan oleh lisan dan diresapi oleh hati,
inilah dzikr yang membuahkan ma'rifatullah (mengenal Allah), kecintaan-Nya, dan
pahala yang besar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala pada ayat ini memerintahkan kita
untuk mengingat-Nya dan Dia menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang
mengingat-Nya sebagaimana firman-Nya dalam hadits Qudsi,
يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي
وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلَإٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ أَوْ فِي
مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي شِبْرًا دَنَوْتُ مِنْكَ ذِرَاعًا وَإِنْ
دَنَوْتَ مِنِّي ذِرَاعًا دَنَوْتُ مِنْكَ بَاعًا وَإِنْ أَتَيْتَنِي تَمْشِي أَتَيْتُكَ
أُهَرْوِلُ
“Wahai anak Adam!
Jika engkau mengingat-Ku dalam dirimu, maka Aku akan mengingatmu dalam Diri-Ku.
Jika engkau mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatmu di keramaian
malaikat atau di keramaian yang lebih baik dari mereka. Jika engkau mendekat
kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadamu sehasta, dan jika engkau
mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadamu sedepa. Dan jika engkau
datang kepada-Ku sambil berjalan, maka Aku akan datang kepadamu sambil
berlari.” (Qatadah berkata, “Maka Allah ‘Azza wa Jalla lebih cepat dengan
ampunan-Nya.”Hr. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul
Jami’ no. 4337)
Dari
ayat dan hadits di atas kita mengetahui akan keutamaan dzikir, dimana di antara
balasannya adalah bahwa seorang hamba juga akan disebut oleh Allah Azza wa
Jalla di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.
Dzikr
adalah pusat syukur, oleh karena itu di ayat ini diperintahkan secara khusus
untuk berdzikr, kemudian setelahnya diperintahkan secara umum untuk bersyukur.
Mu’adz
bin Jabar radhiyallahu anhu berkata, "Tidak ada yang disesalkan oleh
penghuni surga kecuali terhadap waktu yang mereka lewati (dalam kehidupan
dunia) namun mereka tidak menyempatkan berdzikir kepada Allah di sana." (Al
Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim hal. 59)
Ibnu
Qayyim rahimahullah berkata, "Sesungguhnya rutin berdzikir, baik di jalan,
di rumah, ketika mukim maupun ketika safar, dan di beberapa tempat dapat
memperbanyak para saksi bagi seorang hamba nanti pada hari Kiamat, karena baik
tanah, rumah, gunung, dan bumi akan menjadi saksi bagi orang yang berdzikir
pada hari kiamat." (Al Wabilush Shayyib hal. 81)
Abdullah bin Amr bin Ash
radhiyallahu anhuma berkata, "Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk
berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, melainkan Allah akan mengingat mereka di
kumpulan yang lebih mulia dari itu, dan tidaklah suatu kaum terpisah dari
majelis mereka namun tidak berdzikir kepada Allah melainkan akan menjadi penyesalan
bagi mereka pada hari kiamat." (Hr. Ahmad dalam Az Zuhd. Atsar ini
asalnya ada dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam)
Faedah:
Imam Nawawi
berkata, “
Menurut Imam Bukhari, Ibnu Jarir dan
Ibnul Mundzir, hal itu adalah boleh, yakni membaca Al Qur’an bagi wanita haidh.
Bahkan Imam Bukhari menyebutkan secara mu'allaq (tanpa sanad) dari Ibrahim An
Nakha'iy bahwa tidak mengapa bagi wanita haidh membaca Al Qur'an.
Menurut Syaikh Ibnu
Utsaimin, sebaiknya wanita yang haidh tidak membaca Al Qur'an kecuali jika
dibutuhkan, misalnya ia sebagai pendidik untuk mengajarkan Al Qur'an kepada
wanita lain atau ia sedang ujian, dimana ia butuh untuk membaca Al Qur'an.
Imam Nawawi
berkata, “Dzikr itu bisa dengan hati dan lisan, dan yang paling utama adalah
dengan hati dan lisan secara bersamaan. Jika hanya salah satunya, maka dengan
hati lebih utama. Kemudian tidak patut dzikr dengan lisan bersama hati
ditinggalkan karena takut dikira riya’, bahkan ia tetap berdzikr dengan
keduanya dan mengharap keridhaan Allah dengannya. Telah kami sebutkan perkataan
dari Fudhail rahimahullah, bahwa meninggalkan amal karena karena manusia
adalah riya’. Dan sekiranya dibukakan bagi manusia pintu perhatian manusia
serta menjaga diri dari persangkaan mereka yang batil, tentu banyak pintu-pintu
kebaikan yang tertutup baginya, dan ia menyia-nyiakan sesuatu yang besar dari
perkara agama yang penting bagi dirinya dan ini bukanlah jalan orang-orang yang
‘arif.”
Beliau juga berkata, “Ketahuilah keutamaan
dzikr tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dsb. Bahkan semua
yang mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka berarti dia berdzikr kepada
Allah. Demikianlah yang dikatakan Sa’id bin Jubair radhiyallahu 'anhu dan para
ulama yang lain. ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Majlis dzikr adalah
majlis halal dan haram, majlis tentang bagaimana engkau membeli dan menjual,
shalat, puasa, menikah, mentalak, berhajji dan semisalnya.”
Keutamaan dzikir dan contoh dzikir mutlak
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ
الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang
yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti
perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (Hr. Bukhari)
Hadits
ini menunjukkan, bahwa orang yang tidak mengingat Allah dalam hidupnya, maka
hidupnya menjadi seperti orang yang mati; hidupnya tidak bermakna dan tidak
berkualitas.
Perlu
diketahui, bahwa dzikr terbagi dua: Dzikr Mutlak dan Dzikr Muqayyad. Dzikr
Mutlak adalah dzikr yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an atau hadits)
kapan dibacanya, maka bisa kapan saja Dzikr Mutlak dibaca selama tidak pada
waktu yang seharusnya dibaca dzikr muqayyad. Sedangkan Dzikr Muqayyad adalah
dzikr yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikr setelah shalat,
dzikr ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikr memakai pakaian dan
melepasnya dst.
Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan
orang adalah membaca dzikr mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah dzikr
muqayyad. Misalnya setelah shalat, kita sering mendengar mereka membaca
“Laailaaha illallah” 100 x, padahal dzikr setelah shalat termasuk dzikr
muqaayyad yang sudah diajarkan bacaan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Adapun
contoh-contoh dzikir mutlak adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ,
خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ
اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ
Dari
Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di lisan dan berat di
timbangan yaitu “Subhaanallah wa bihamdih-subhaanallahil ‘azhiim.” (Artinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya,
Mahasuci Allah Yang Maha Agung.) (Hr. Bukhari dan
Muslim)
عَنْ أَبِى
ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ أَىُّ الْكَلاَمِ أَفْضَلُ
قَالَ « مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ
وَبِحَمْدِهِ » .
Dari
Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang
kalimat yang paling utama, Beliau menjawab, “Yaitu yang Allah pilih untuk para
malaikat-Nya atau para hamba-Nya; Subhaanallahi wa bihamdih.” (Artinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya). (Hr. Muslim)
عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ
Dari
Jabir, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa
yang mengucapkan Subhaanallahil ‘azhiim wabihamdih.” (artinya: Mahasuci Allah
yang Maha Agung sambil memuji-Nya) Maka akan ditanamkan sebuah pohon kurma di
surga.” (Hr. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.” Haitsami menyebutkan dalam Al
Majma’ dan menyandarkannya kepada Al Bazzar dari hadits Abdullah bin ‘Amr,
dan ia berkata, “Isnadnya jayyid.”)
عَنْ
سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « أَحَبُّ
الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ . لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ
.
Dari
Samurah bin Jundab ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, “Kalimat yang paling dicintai Allah ada empat, yaitu: Subhaanallah,
Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar (artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi
Allah, Allah Mahabesar dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.). Tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja.” (Hr.
Muslim)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ
اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » .
Dari Abu
Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh, aku mengucapkan Subhaanallah, Al
Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar lebih aku sukai dari apa yang disinari oleh
matahari ketika terbit.” (Hr. Muslim)
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ
أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ
عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam
ketika aku diisra’kan, maka ia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku
untuk umatmu dan beritahukan kepada mereka, bahwa surga, tanahnya bagus, airnya
segar, dan ia adalah lembah-lembah, dan bahwa tanamannya adalah Subhaanallah,
wal hamdulillah, walaailaahaillallah wallahu akbar.” (Hr. Tirmidzi, dan
dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’)
Dan
dzikir mutlak lainnya yang disebutkan dalam As Sunnah. Sebagian ulama
berpendapat, bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca Al Qur’an.
[22] Yakni atas nikmat-nikmat Allah yang diberikan dan
dihindarkan-Nya dari berbagai musibah. Syukur itu bisa dengan hati, yaitu
dengan mengakuinya, bisa dengan lisan yaitu dengan memuji-Nya dan dengan
anggota badan yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya
serta menggunakan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya untuk ketaatan kepada-Nya
bukan untuk kemaksiatan kepada-Nya.
Disebutkan perintah bersyukur setelah
nikmat-nikmat agama berupa ilmu, penyucian jiwa dan taufiq untuk beramal adalah
untuk menerangkan bahwa nikmat-nikmat agama merupakan nikmat yang paling besar,
bahkan ia merupakan nikmat yang hakiki yang akan kekal ketika semuanya sirna,
dan sepatutnya bagi mereka yang diberi taufiq mencari ilmu dan mengamalkannya
bersyukur kepada Allah terhadap nikmat tersebut agar Allah menambahkan
karunia-Nya (lihat surat Ibrahim: 7) dan agar mereka dijauhkan dari sifat ujub.
Termasuk sikap syukur juga adalah apa yang
disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut,
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ
نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas
nikmat-Nya yang tampak kepada hamba-Nya.” (Hr. Tirmidzi dan Hakim dari Abdullah
bin ‘Amr, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no.
1887).
[23] Ingkar atau kufur yang dimaksud di sini adalah ingkar
kepada nikmat dan tidak mensyukurinya. Bisa juga makna kufur di sini adalah
umum, yang paling parahnya adalah kufur kepada Allah kemudian maksiat yang
berada di bawah syirk.
[24] Dari ayat 148-152 kita dapat
menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) berpaling dari perdebatan dengan
orang yang keras kepala lagi menentang, dan beralih kepada ketaatan sambil
berlomba-lomba di dalamnya, dimana hal ini lebih bermanfaat daripada meneruskan
perdebatan dengan orang-orang yang tidak bisa diharap lagi kebaikannya, (2)
wajibnya menghadap kiblat dalam shalat, baik ketika safar maupun mukim,
hanyasaja bagi musafir boleh melakukan shalat sunah ke arah mana saja
kendaraannya menghadap, (3) haramnya takut kepada manusia dan wajibnya takut
kepada Allah Azza wa Jalla, (4) wajib bersyukur kepada Allah atas
nikmat-nikmat-Nya yang tampak maupun yang tersembunyi, (5) wajibnya menuntut
ilmu agama agar seseorang dapat beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan benar,
sehingga jiwanya pun menjadi suci, (6) wajibnya mengingat Allah dan mensyukuri
nikmat-Nya, dan (7) haramnya melupakan Allah dan kufur kepada nikmat-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar