Minggu, 23 Agustus 2026

Seri 34 (Surah Al Baqarah ayat 148-152)

 

Seri (34)

 




وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (148)  

148. Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya[1]. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan[2]. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya (pada hari kiamat)[3]. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (149) 

149. Dan dari mana saja kamu keluar[4], hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram[5], sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak (benar) dari Tuhanmu[6]. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan[7].

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (150)  

150. Dan dari mana saja kamu (keluar), maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram[8]. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia (untuk menentangmu)[9], kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka[10]. Janganlah kamu takut kepada mereka[11], tetapi takutlah kepada-Ku[12], dan agar Aku-sempurnakan nikmat-Ku kepadamu[13], dan agar kamu mendapat petunjuk[14].

 

 Ayat 151-153: Mengingatkan kaum mukmin terhadap nikmat Allah yang besar kepada mereka dengan diutus-Nya rasul terakhir, serta terdapat pengarahan untuk mereka agar menggunakan sabar dan shalat sebagai sarana pembantu untuk mencapai tujuan.

 

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151)  

151. [15]Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Kami[16], menyucikan kamu[17] dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah[18], serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui[19].

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (152)  

152. [20]Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu[21]. Bersyukurlah kepada-Ku[22], dan janganlah kamu ingkar[23] kepada-Ku[24].


[1] Masing-masing umat memiliki kiblat sendiri dalam ibadahnya. Menghadap kiblat tertentu termasuk syariat yang bisa berubah tergantung situasi dan kondisi serta zamannya, ia bisa dimasuki oleh naskh dan mengalami perubahan dari arah tertentu kepada arah yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi tujuan utama adalah menaati perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan menjauhi larangan-Nya serta mendekatkan diri kepada-Nya, dan inilah tanda kebahagiaan.

Al ‘Aufiy meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya,” ia berkata, “Yaitu semua pemeluk agama. Dengan kata lain, bahwa setiap umat memiliki kiblat yang mereka ridhai, dan kiblat yang diridhai Allah adalah kiblat yang kaum mukmin menghadap kepadanya.”

Abul ‘Aliyah berkata, “Orang Yahudi memiliki kiblat yang ia menghadap kepadanya dan orang Nasrani memiliki kiblat yang ia menghadap kepadanya. Allah memberikan hidayah kepadamu wahai umat (Islam) kepada kiblat yang sesungguhnya.” Dan diriwayatkan pula dari Mujahid, ‘Atha, Adh Dhahhak, Ar Rabii’ bin Anas, dan As Suddiy yang sama seperti itu.

Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ayat ini serupa dengan firman Allah Ta’ala, “Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (Terj. Qs. Al Maa’idah: 48)

[2] Perintah berlomba-lomba dalam kebaikan lebih dalam daripada sebatas perintah mengerjakan kebaikan. Dalam perintah ini mengandung perintah mengerjakannya, menyempurnakannya, melakukannya sebaik mungkin, dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang bersegera kepada kebaikan ketika di dunia, maka dia adalah orang yang lebih dulu ke surganya. Oleh karena itu, mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan adalah orang yang paling tinggi derajatnya. Dan kata "kebaikan" di sini mencakup semua amalan fardhu maupun sunah, baik berupa shalat, puasa, zakat, hajji, umrah, jihad, manfaat bagi orang lain maupun sebatas untuk diri sendiri.

Sebagian orang bijak berkata, “Jika engkau tidak mampu berlomba dengan orang-orang saleh dalam hal kebaikan, maka berlombalah dengan orang-orang yang berdosa dalam hal istighfar (permohonan ampun) yang banyak mereka panjatkan.”

[3] Karena pendorong yang paling kuat agar seseorang dapat bersegera kepada kebaikan dan bersemangat kepadanya adalah pahala yang dijanjikan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maka Dia berfirman seperti yang disebutkan di atas; yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan mengumpulkan kita semuanya di mana saja kita berada dengan kekuasaan-Nya meskipun jasad atau badan kita telah berserakan, dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang yang beramal, jika amalnya buruk, maka Dia akan membalas sesuai amal yang dikerjakannya, dan jika baik, maka Dia akan membalas dengan berlipat ganda dan memberikan balasan yang terbaik (surga).

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَلْ خَيْراً قَطُّ ، فَإِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوهُ وَاذْرُوا نِصْفَهُ فِى الْبَرِّ وَنِصْفَهُ فِى الْبَحْرِ فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَداً مِنَ الْعَالَمِينَ ، فَأَمَرَ اللَّهُ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَا فِيهِ ، وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيهِ ثُمَّ قَالَ : لِمَ فَعَلْتَ ؟ قَالَ : مِنْ خَشْيَتِكَ ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ ، فَغَفَرَ لَهُ »

“Ada seorang yang belum pernah mengerjakan kebaikan sedikit pun berpesan, apabila dia mati maka bakarlah jasadnya dan agar dilempar separuh jasadnya (yang telah menjadi abu) di daratan, sedangkan separuhnya lagi di laut. (Dia mengira), demi Allah, jika Allah berkuasa menyatukan jasadnya, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah dilakukan-Nya kepada seorang pun di alam semesta. Maka Allah memerintahkan laut untuk mengumpulkan jasadnya yang telah berserakan di sana, dan memerintahkan daratan agar mengumpulkan jasadnya yang telah berserakan di sana. Selanjutnya Allah berfirman, “Mengapa engkau melakukan hal itu?” Ia menjawab, “Karena takut kepada-Mu. Sedangkan Engkau lebih tahu.” Maka Allah mengampuninya.”

Ayat yang mulia tersebut juga mengandung perintah untuk segera melaksanakan kewajiban seperti shalat di awal waktu, segera membayar hutang puasa, dan segera berhajji serta anjuran untuk melaksanakan amalan-amalan sunah.

[4] Yakni keluar bersafar atau keperluan lainnya, kemudian kamu hendak mendirikan shalat.

[5] Ayat ini merupakan perintah yang ketiga kalinya dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk menghadap ke Masjidilharam di mana saja kita berada.

[6] Pada ayat di atas menggunakan dua penguat, huruf "inna" dan "lam" (sesungguhnya dan benar-benar) agar tidak perlu lagi ragu dan agar tidak timbul perkiraan bahwa perintah menghadap ke Ka'bah itu hanyalah karena lebih enak, bahkan ia merupakan perintah yang sesungguhnya.

[7] Yakni bagaimana pun keadaan kita, Dia senantiasa memperhatikan dan melihatnya. Hal ini menghendaki agar kita tetap menjaga perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.

[8]  Imam Malik berdalih dengan ayat ini, bahwa orang yang shalat melihat ke depannya; tidak ke tempat sujud yang merupakan madzhab Jumhur ulama (Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad). Menurut Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy, bahwa yang lebih sesuai dengan ayat tersebut adalah bahwa seorang yang shalat pertama menghadap ke depannya karena perintah Allah tersebut, lalu melihat ke tempat sujud.

[9] Perintah menghadap ke kiblat adalah agar Ahli Kitab dan kaum musyrikin tidak memiliki alasan lagi untuk menentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal itu, karena jika tetap menghadap ke Baitul Maqdis tentu orang-orang ahli kitab akan menegakkan hujjah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka adalah bahwa kiblat yang tetap bagi Beliau adalah Ka'bah Baitullah Al Haram. Sedangkan hujjah bagi orang-orang musyrikin ketika Beliau tetap menghadap ke Baitul Maqdis adalah perkataan yang akan timbul dari mereka, "Bagaimana Beliau berada di atas agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan termasuk keturunannya, padahal Beliau tidak menghadap ke kiblatnya?!". Dengan demikian, setelah diadakan pemindahan kiblat, maka orang-orang Ahli Kitab dan kaum musyrikin sudah tidak memiliki hujjah lagi untuk menentang Beliau.

[10] Yakni hanya orang-orang yang zalim saja yang coba-coba berhujjah, namun hujjah mereka tidak bersandar selain kepada hawa nafsu sehingga tidak perlu diladeni, karena tidak ada manfaatnya berbantah dengan mereka.

[11] Kita tidak perlu takut kepada mereka karena hujjah mereka batil, dan kita diperintahkan untuk takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja, karena takut kepada-Nya merupakan asas semua kebaikan. Oleh karena itu, orang yang tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla, ia tidak akan berhenti bermaksiat dan tetap tidak mau mengikuti perintah-Nya.

Perlu diketahui, bahwa pemindahan arah kiblat merupakan fitnah (cobaan) yang besar. Fitnah itu diangkat-angkat oleh Ahli Kitab, kaum munafik dan kaum musyrikin, mereka banyak membicarakan masalah itu dan menyampaikan berbagai syubhat. Oleh karena itu, pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkannya secara gamblang dan meyakinkan Rasul-Nya shallallahu  alaihi wa sallam serta memperkuat kebenaran itu dengan berbagai penguat sebagaimana yang disebutkan di beberapa ayat atas, misalnya:

-     Diulangi-Nya perintah menghadap kiblat berkali-kali.

-     Perintah itu tidak hanya ditujukan kepada Rasul saja, meskipun biasanya perintah kepada rasul sebagai perintah kepada umatnya, tetapi diperkuat lagi dengan perintah kepada umatnya sebagaimana firman-Nya "fa walluu wujuuhakum syathrah".

-     Pada ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah semua alasan batil yang dilemparkan oleh mereka yang zalim.

-     Menghilangkan harapan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengikuti kiblat ahli kitab.

-     Penguatan dengan berita yang disampaikan-Nya bahwa sesungguhnya hal itu benar-benar hak dari sisi Allah.

-     Pemindahan kiblat tersebut disebutkan dalam kitab-kitab mereka (ahli kitab), namun mereka menyembunyikannya.

[12] Yakni dengan tetap menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

[13] Berupa penyempurnaan syariat. Dengan demikian, setiap syariat yang ditetapkan merupakan nikmat yang besar. Dasar dari nikmat-nikmat itu adalah memperoleh hidayah untuk mengikuti agama-Nya, setelah itu nikmat-nikmat yang lain yang melengkapi dasar tersebut, dimulai dari sejak diutusnya Beliau sampai wafat hingga syariat pun sempurna.

[14] Maksudnya, agar kita mengetahui yang hak dan dapat mengamalkannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena rahmat-Nya telah memudahkan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab untuk memperoleh hidayah dan mengingatkan mereka untuk menempuhnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga menjelaskan hidayah itu sejelas-jelasnya, sampai-sampai ditetapkan untuk yang hak itu ada para penentangnya agar yang hak itu semakin jelas dan tampak serta yang batil semakin jelas kebatilannya. Hal itu, karena jika tidak ada kebatilan sebagai lawan yang hak tentu kebenaran itu akan samar bagi kebanyakan orang. Dengan ada lawannya maka segala sesuatu itu semakin jelas. Jika tidak ada malam tentu tidak akan diketahui kelebihan siang, jika tidak ada keburukan tentu tidak akan diketahui kelebihan yang baik, jika tidak ada kegelapan tentu tidak akan diketahui manfaat cahaya, dan jika tidak ada kebatilan tentu kebenaran tidak akan jelas dan tampak, maka segala puji bagi Allah terhadap semua itu.

[15] Nikmat Allah untuk menghadap ke kiblat dan penyempurnaan syariat bukanlah hal yang baru dan bukan pertama kali, bahkan Dia juga telah memberikan ushulun ni'am (asas nikmat) dan penyempurnanya, yaitu dengan mengutus seorang rasul yang sudah dikenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, kesempurnaan, dan sikap nush-h(tulus)nya.

[16] Ayat-ayat tersebut menerangkan mana yang hak dan mana yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan, menerangkan tentang tauhid, tentang kebenaran Rasul-Nya serta kewajiban beriman kepadanya, menerangkan tentang hari Kiamat dan hal-hal ghaib serta menerangkan syariat untuk maslahat mereka di dunia sehingga mereka memperoleh hidayah yang sempurna dan ilmu yang yakin.

[17] Maksudnya, menyucikan akhlak dan jiwa mereka dengan mendidiknya di atas akhlak yang mulia dan membersihkannya dari akhlak yang tercela yang mengotori jiwa. Misalnya dengan membersihkan mereka dari syirk kepada tauhid, dari riya' kepada ikhlas, dari dusta kepada kejujuran, dari khianat kepada amanah, dari sombong kepada tawadhu' dan dari semua akhlak buruk kepada akhlak yang mulia serta perbaikan-perbaikan lainnya.

Dengan sebab berkah risalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kaum yang sebelumnya berada di atas jahiliyyah (kebodohan), menjadi kaum yang mulia, kaum yang berilmu, kaum yang baik dan kaum yang maju.

Ayat di atas sama seperti firman Allah Ta’ala di surat Ali Imran: 164.

Nikmat diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah nikmat yang paling besar. Oleh karena itu, Allah mencela orang yang tidak mengetahui kedudukan nikmat ini dengan firman-Nya, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?” (Terj. Qs. Ibrahim: 28) Ibnu Abbas berkata, “Maksud nikmat Allah adalah (pengutusan) Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.” Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajak kaum mukmin mengakui nikmat tersebut dan menyikapinya dengan mengingat dan mensyukuri-Nya, Dia berfirman, “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

[18] Yakni As Sunnah dan hukum-hukum syariat (fiqih). Ayat di atas juga menjadi dasar dakwah Tasfiyah dan Tarbiyah yang dibutuhkan oleh umat saat ini, yakni memurnikan umat Islam dari ajaran yang bukan Islam dan mengajarkan kepada mereka ajaran Islam yang murni yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah seperti yang dipahami oleh generasi pertama Islam (salafus shalih). Dalam ayat ini juga terdapat dalil bahwa para nabi dan rasul diutus Allah sebagai pendidik umat manusia.

[19] Seperti kisah para nabi dan kisah umat-umat terdahulu dan pengetahuan lainnya, dimana mereka sebelum diutusnya Beliau dalam kesesatan yang nyata, tidak ada ilmu apalagi amal. Oleh karena itu, ilmu maupun amal yang diketahui oleh umat ini adalah melalui tangan dan sebab Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Nikmat-nikmat ini merupakan ushulun ni'am (asas nikmat), bahkan ia merupakan nikmat terbesar yang menghendaki untuk disyukuri.

[20] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan nikmat-Nya dengan mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan nikmat yang besar, maka kaum muslimin diperintahkan untuk melakukan dua sikap yang mulia, yaitu dzikir dan syukur.

[21] Dzikrullah yang paling utama adalah jika diucapkan oleh lisan dan diresapi oleh hati, inilah dzikr yang membuahkan ma'rifatullah (mengenal Allah), kecintaan-Nya, dan pahala yang besar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala pada ayat ini memerintahkan kita untuk mengingat-Nya dan Dia menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang mengingat-Nya sebagaimana firman-Nya dalam hadits Qudsi,

يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلَإٍ مِنْ الْمَلَائِكَةِ أَوْ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي شِبْرًا دَنَوْتُ مِنْكَ ذِرَاعًا وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي ذِرَاعًا دَنَوْتُ مِنْكَ بَاعًا وَإِنْ أَتَيْتَنِي تَمْشِي أَتَيْتُكَ أُهَرْوِلُ

“Wahai anak Adam! Jika engkau mengingat-Ku dalam dirimu, maka Aku akan mengingatmu dalam Diri-Ku. Jika engkau mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatmu di keramaian malaikat atau di keramaian yang lebih baik dari mereka. Jika engkau mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadamu sehasta, dan jika engkau mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadamu sedepa. Dan jika engkau datang kepada-Ku sambil berjalan, maka Aku akan datang kepadamu sambil berlari.” (Qatadah berkata, “Maka Allah ‘Azza wa Jalla lebih cepat dengan ampunan-Nya.”Hr. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4337)

Dari ayat dan hadits di atas kita mengetahui akan keutamaan dzikir, dimana di antara balasannya adalah bahwa seorang hamba juga akan disebut oleh Allah Azza wa Jalla di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.

Dzikr adalah pusat syukur, oleh karena itu di ayat ini diperintahkan secara khusus untuk berdzikr, kemudian setelahnya diperintahkan secara umum untuk bersyukur.

Mu’adz bin Jabar radhiyallahu anhu berkata, "Tidak ada yang disesalkan oleh penghuni surga kecuali terhadap waktu yang mereka lewati (dalam kehidupan dunia) namun mereka tidak menyempatkan berdzikir kepada Allah di sana." (Al Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim hal. 59)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, "Sesungguhnya rutin berdzikir, baik di jalan, di rumah, ketika mukim maupun ketika safar, dan di beberapa tempat dapat memperbanyak para saksi bagi seorang hamba nanti pada hari Kiamat, karena baik tanah, rumah, gunung, dan bumi akan menjadi saksi bagi orang yang berdzikir pada hari kiamat." (Al Wabilush Shayyib hal. 81)

Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma berkata, "Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, melainkan Allah akan mengingat mereka di kumpulan yang lebih mulia dari itu, dan tidaklah suatu kaum terpisah dari majelis mereka namun tidak berdzikir kepada Allah melainkan akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat." (Hr. Ahmad dalam Az Zuhd. Atsar ini asalnya ada dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam)

Faedah:

Imam Nawawi berkata, “Para ulama sepakat bolehnya berdzikr dengan hati dan lisan bagi orang yang berhadats, junub, wanita haidh dan nifas. Dan hal ini berlaku pada tasbih, tahlil (ucapan Laailaahaillallah), tahmid, takbir, bershalawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berdoa dan lain-lain. Akan tetapi, membaca Al Qur’an, maka tidak boleh bagi orang yang junub, haidh dan nifas, baik membaca sedikit maupun banyak atau separuh ayat, namun boleh bagi mereka melantunkan Al Qur’an dengan hati tanpa dilafazkan, demikian pula melihat ke mushaf, serta membacanya dalam hati.”

Menurut Imam Bukhari, Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir, hal itu adalah boleh, yakni membaca Al Qur’an bagi wanita haidh. Bahkan Imam Bukhari menyebutkan secara mu'allaq (tanpa sanad) dari Ibrahim An Nakha'iy bahwa tidak mengapa bagi wanita haidh membaca Al Qur'an.

Menurut Syaikh Ibnu Utsaimin, sebaiknya wanita yang haidh tidak membaca Al Qur'an kecuali jika dibutuhkan, misalnya ia sebagai pendidik untuk mengajarkan Al Qur'an kepada wanita lain atau ia sedang ujian, dimana ia butuh untuk membaca Al Qur'an.

Imam Nawawi berkata, “Dzikr itu bisa dengan hati dan lisan, dan yang paling utama adalah dengan hati dan lisan secara bersamaan. Jika hanya salah satunya, maka dengan hati lebih utama. Kemudian tidak patut dzikr dengan lisan bersama hati ditinggalkan karena takut dikira riya’, bahkan ia tetap berdzikr dengan keduanya dan mengharap keridhaan Allah dengannya. Telah kami sebutkan perkataan dari Fudhail rahimahullah, bahwa meninggalkan amal karena karena manusia adalah riya’. Dan sekiranya dibukakan bagi manusia pintu perhatian manusia serta menjaga diri dari persangkaan mereka yang batil, tentu banyak pintu-pintu kebaikan yang tertutup baginya, dan ia menyia-nyiakan sesuatu yang besar dari perkara agama yang penting bagi dirinya dan ini bukanlah jalan orang-orang yang ‘arif.”

Beliau juga berkata, “Ketahuilah keutamaan dzikr tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dsb. Bahkan semua yang mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka berarti dia berdzikr kepada Allah. Demikianlah yang dikatakan Sa’id bin Jubair radhiyallahu 'anhu dan para ulama yang lain. ‘Atha’ rahimahullah berkata, “Majlis dzikr adalah majlis halal dan haram, majlis tentang bagaimana engkau membeli dan menjual, shalat, puasa, menikah, mentalak, berhajji dan semisalnya.”

Keutamaan dzikir dan contoh dzikir mutlak

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (Hr. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan, bahwa orang yang tidak mengingat Allah dalam hidupnya, maka hidupnya menjadi seperti orang yang mati; hidupnya tidak bermakna dan tidak berkualitas.

Perlu diketahui, bahwa dzikr terbagi dua: Dzikr Mutlak dan Dzikr Muqayyad. Dzikr Mutlak adalah dzikr yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an atau hadits) kapan dibacanya, maka bisa kapan saja Dzikr Mutlak dibaca selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikr muqayyad. Sedangkan Dzikr Muqayyad adalah dzikr yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikr setelah shalat, dzikr ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikr memakai pakaian dan melepasnya dst.

Termasuk kekeliruan yang sering dilakukan orang adalah membaca dzikr mutlak pada waktu yang seharusnya dibaca adalah dzikr muqayyad. Misalnya setelah shalat, kita sering mendengar mereka membaca “Laailaaha illallah” 100 x, padahal dzikr setelah shalat termasuk dzikr muqaayyad yang sudah diajarkan bacaan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun contoh-contoh dzikir mutlak adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r  كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di lisan dan berat di timbangan yaitu “Subhaanallah wa bihamdih-subhaanallahil ‘azhiim.” (Artinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung.) (Hr. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ أَىُّ الْكَلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ « مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ » . 

Dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kalimat yang paling utama, Beliau menjawab, “Yaitu yang Allah pilih untuk para malaikat-Nya atau para hamba-Nya; Subhaanallahi wa bihamdih.” (Artinya: Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya). (Hr. Muslim)

عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

Dari Jabir, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan Subhaanallahil ‘azhiim wabihamdih.” (artinya: Mahasuci Allah yang Maha Agung sambil memuji-Nya) Maka akan ditanamkan sebuah pohon kurma di surga.” (Hr. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.” Haitsami menyebutkan dalam Al Majma’ dan menyandarkannya kepada Al Bazzar dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan ia berkata, “Isnadnya jayyid.”)

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ . لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ .

Dari Samurah bin Jundab ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat yang paling dicintai Allah ada empat, yaitu: Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar  (artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.). Tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja.” (Hr. Muslim)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » . 

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengucapkan Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar lebih aku sukai dari apa yang disinari oleh matahari ketika terbit.” (Hr. Muslim)

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra’kan, maka ia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku untuk umatmu dan beritahukan kepada mereka, bahwa surga, tanahnya bagus, airnya segar, dan ia adalah lembah-lembah, dan bahwa tanamannya adalah Subhaanallah, wal hamdulillah, walaailaahaillallah wallahu akbar.” (Hr. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’)

Dan dzikir mutlak lainnya yang disebutkan dalam As Sunnah. Sebagian ulama berpendapat, bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca Al Qur’an.

[22] Yakni atas nikmat-nikmat Allah yang diberikan dan dihindarkan-Nya dari berbagai musibah. Syukur itu bisa dengan hati, yaitu dengan mengakuinya, bisa dengan lisan yaitu dengan memuji-Nya dan dengan anggota badan yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta menggunakan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya untuk ketaatan kepada-Nya bukan untuk kemaksiatan kepada-Nya.

Disebutkan perintah bersyukur setelah nikmat-nikmat agama berupa ilmu, penyucian jiwa dan taufiq untuk beramal adalah untuk menerangkan bahwa nikmat-nikmat agama merupakan nikmat yang paling besar, bahkan ia merupakan nikmat yang hakiki yang akan kekal ketika semuanya sirna, dan sepatutnya bagi mereka yang diberi taufiq mencari ilmu dan mengamalkannya bersyukur kepada Allah terhadap nikmat tersebut agar Allah menambahkan karunia-Nya (lihat surat Ibrahim: 7) dan agar mereka dijauhkan dari sifat ujub.

Termasuk sikap syukur juga adalah apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya yang tampak kepada hamba-Nya.” (Hr. Tirmidzi dan Hakim dari Abdullah bin ‘Amr, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1887).

[23] Ingkar atau kufur yang dimaksud di sini adalah ingkar kepada nikmat dan tidak mensyukurinya. Bisa juga makna kufur di sini adalah umum, yang paling parahnya adalah kufur kepada Allah kemudian maksiat yang berada di bawah syirk.

[24] Dari ayat 148-152 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) berpaling dari perdebatan dengan orang yang keras kepala lagi menentang, dan beralih kepada ketaatan sambil berlomba-lomba di dalamnya, dimana hal ini lebih bermanfaat daripada meneruskan perdebatan dengan orang-orang yang tidak bisa diharap lagi kebaikannya, (2) wajibnya menghadap kiblat dalam shalat, baik ketika safar maupun mukim, hanyasaja bagi musafir boleh melakukan shalat sunah ke arah mana saja kendaraannya menghadap, (3) haramnya takut kepada manusia dan wajibnya takut kepada Allah Azza wa Jalla, (4) wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang tampak maupun yang tersembunyi, (5) wajibnya menuntut ilmu agama agar seseorang dapat beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan benar, sehingga jiwanya pun menjadi suci, (6) wajibnya mengingat Allah dan mensyukuri nikmat-Nya, dan (7) haramnya melupakan Allah dan kufur kepada nikmat-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...