Jumat, 21 Agustus 2026

Seri 33 (Surah Al Baqarah ayat 144-147)

 

Seri (33)




 

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144)  

144. [1]Sungguh Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit[2], maka akan Kami palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai[3]. Hadapkanlah wajahmu[4] ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu[5]. Sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka[6]. Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan[7].

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)  

145. [8]Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab  (Yahudi dan Nasrani) semua ayat (keterangan dan bukti), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu[9], dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka[10]. Sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain[11]. Sesungguhnya jika kamu[12] mengikuti keinginan mereka[13] setelah sampai ilmu kepadamu[14], niscaya kamu termasuk orang-orang yang zalim.

 

 Ayat 146-150: Informasi tentang Ahli Kitab, bagaimana mereka sampai menyembunyikan kebenaran dan menyelisihi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sikap menentang dan sombong, dan dalam beberapa ayat ini terdapat dalil wajibnya menghadap ke Ka’bah dalam shalat.

 

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (146)  

146. Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri[15]. Sesungguhnya sebagian mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran[16], padahal mereka mengetahui(nya).

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (147) 

147. [17]Kebenaran itu dari Tuhanmu[18], sebab itu janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu[19].


[1] Imam Bukhari meriwayatkan dari Barraa' bin 'Azib, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap ke Baitulmaqdis selama 16 bulan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ingin sekali menghadap ke Ka'bah, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Qad naraa taqalluba wajhika fis samaa'", maka Beliau menghadap ke Ka'bah, lalu orang-orang yang kurang akal, yakni orang-orang Yahudi berkata, "Apa yang memalingkan mereka dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?" Kemudian Allah menurunkan ayat, "Qulliillahil masyriqu wal maghribu, yahdii mayyasyaa'u ilaa shiraathim mustaqiim" (artinya: Katakanlah, “Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus"), lalu ada seorang yang shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian setelah shalat pergi dan melewati orang-orang Anshar yang sedang shalat Ashar menghadap ke Baitulmaqdis, lalu bersaksi bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bahwa Beliau menghadap ke Ka'bah, maka orang-orang pun berputar menghadap ke Ka'bah.

Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Perintah Al Qur’an yang pertama kali dimansukh adalah tentang masalah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, dimana mayoritas penduduknya adalah orang-orang Yahudi, maka Allah memerintahkan kepada Beliau untuk menghadap Baitulmaqdis, sehingga orang-orang Yahudi merasa senang kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepadanya selama beberapa bulan, sedangkan Beliau lebih suka menghadap kiblat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Oleh karena itu, Beliau selalu berdoa kepada Allah dan menengadahkan pandangannya ke langit, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Sungguh Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit,” sampai firman-Nya, “Maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya.” Maka orang-orang Yahudi menjadi curiga dan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?"  Katakanlah, "Milik Allah-lah timur dan barat;”

[2] Maksudnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sering melihat ke langit berdoa dan menunggu dengan harap turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah Ka'bah.

[3] Kata-kata ini menunjukkan keutamaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala segera mengabulkan apa yang Beliau inginkan.

[4] Yakni badanmu, karena arti wajh adalah bagian depan badan dari atas sampai bawah.

[5] Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa menghadap kiblat merupakan syarat shalat, dan jika seseorang tidak bisa menghadap langsung ke rumah itu, maka dengan menghadap ke arahnya.

Hakim meriwayatkan dari Ali bin Thalib radhiyallahu 'anhu tentang firman Allah Ta’ala, “Wa haitsu maa kuntum fawalluu wujuuhakum syathrah,” (artinya: Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu) ia berkata, “Ke arahnya.” (Hakim berkata, “Shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkan.”). Pendapat ini dipegang juga oleh Abul ‘Aliyah, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, Ar Rabii’ bin Anas dan lainnya.

Ibnu Katsir menyatakan, Allah Ta’ala memerintahkan menghadap ke ka’bah dari arah mana saja di bumi, baik timur maupun barat, utara maupun selatan. Tidak dikecualikan dari hal ini kecuali shalat sunah ketika safar, maka ia melakukannya dengan menghadap ke arah (hewan kendaraannya) menghadap, namun hatinya tetap tertuju ke ka’bah. Demikian pula dalam kondisi perang berkecamuk, maka ia shalat dalam keadaan apa pun. Demikian juga orang yang tidak mengetahui arah kiblat, maka ia shalat berdasarkan ijtihadnya meskipun sebenarnya keliru, karena Allah Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 114)

[6] Yakni disebutkan dalam kitab-kitab mereka. Mereka tahu, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghadapkan kamu ke arahnya, tetapi mereka menyembunyikannya karena hasad, kufur, dan sikap keras mereka. Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan firman-Nya, “Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

[7] Dalam firman-Nya ini terdapat ancaman terhadap mereka yang protes dan hiburan bagi kaum mukmin.

[8] Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena tingginya harapan Beliau agar orang lain mendapatkan hidayah telah mencurahkan segala tenaga dan fikiran mencari cara agar mereka memperoleh hidayah. Beliau berlemah lembut dalam berdakwah dan bersedih ketika orang yang didakwahinya itu tidak mau mengikuti. Di antara kaum kafir banyak yang tetap keras tidak mau mengikuti bahkan bersikap sombong terhadap Beliau, mereka ini orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka kafir kepada Beliau bukan karena kebodohan tetapi karena yakin terhadap kebenarannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa meskipun bukti dan dalil dibawakan Beliau kepada mereka, niscaya mereka tetap tidak mau mengikuti. Mereka tidak mau mengikuti karena keadaan mereka yang mu'anidun, yakni mengetahui yang hak, tetapi malah meninggalkannya, padahal ayat dan dalil hanyalah akan bermanfaat bagi mereka yang mencari yang hak namun masih samar, kepadanyalah bukti dan dalil diperlukan. Adapun orang yang bersikeras untuk tidak mau mengikuti kebenaran, maka tidak perlu mencari-cari terus jalan keluarnya. Dari sini kita mengetahui, apabila kita telah menerangkan kebenaran dengan dalil-dalilnya yang yakin kepada orang lain, ternyata ia menolak, maka kita tidak mesti membawakan lagi bukti-bukti lagi, karena tidak ada ujung-ujungnya.

[9] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala di surat Yunus: 96-97.

[10] Firman-Nya ini merupakan informasi dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala tentang keadaan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam yang memiliki sikap yang teguh pendirian, selalu mengikuti perintah Allah, tunduk dan taat kepada-Nya serta berusaha mencari keridhaan-Nya, dan bahwa Beliau tidak akan mengikuti keinginan mereka dalam setiap keadaan. Oleh karena itu, menghadapnya Beliau ke Baitulmaqdis sebelumnya bukanlah karena ia merupakan kiblat orang-orang Yahudi, akan tetapi karena perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[11] Maksudnya, di samping hal tersebut, mereka juga saling berselisih, masing-masing mereka tidak mengikuti kiblat yang lain.

[12] Termasuk juga kepada umat Beliau. Ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang lebih mengutamakan keridhaan manusia daripada keridhaan Allah, demikian pula ancaman bagi orang-orang yang menyelisihi kebenaran yang telah diketahuinya mengikuti hawa nafsunya.

[13] Di ayat ini menggunakan kata "ahwaa'ahum" (keinginan mereka) tidak menggunakan kata "diinahum" (agama mereka) karena apa yang mereka pegang selama ini hanyalah semata-mata hawa nafsu, bahkan mereka meyakini apa yang mereka pegang selama ini bukanlah agama. Oleh karena itu, orang yang meninggalkan agama yang benar, maka sebenarnya orang itu hanyalah mengikuti hawa nafsu belaka, meskipun mereka menamainya sebagai agama.

[14] Maksudnya, setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui bahwa dirinya di atas yang hak, sedangkan mereka di atas yang batil.

Dalam ayat ini terdapat peringatan agar tidak mengikuti keinginan Ahli Kitab, karena mereka telah berpaling dari kebenaran setelah mengetahuinya.

[15] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengabarkan bahwa Ahli Kitab telah yakin dan mengetahui bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang rasul, dan apa yang Beliau bawa adalah hak (benar). Mereka meyakininya sebagaimana mereka meyakini anak-anak mereka sendiri dan mereka bisa membedakannya dengan yang lain. Oleh karena itu, pengetahuan mereka telah sampai kepada tingkatan yakin yang tidak dimasuki keraguan, akan tetapi kebanyakan mereka kafir kepada Beliau, menyembunyikan persaksian tersebut padahal mereka mengetahuinya. Dalam ayat di atas juga terdapat hiburan bagi Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin serta mengingatkan mereka agar berhati-hati terhadap tindakan jahat orang-orang Ahli Kitab dan syubhat mereka.

Imam Al Qurthubi berkata, “Dan diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata kepada Abdullah bin Salam, “Apakah kamu mengetahui Muhammad (sebagai Rasul) sebagaimana kamu mengetahui anakmu?” Ia menjawab, “Ya, bahkan lebih dari itu. Telah turun malaikat yang dipercaya dari langit (Jibril ‘alaihis salam) kepada manusia yang dipercaya di bumi (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) dengan sifatnya, maka aku mengetahuinya, tetapi aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada urusannya.”

Demikian pula dalam kisah Salman Al Farisi yang berpindah dari negeri yang satu ke negeri yang lain di masa ia masih Nasrani, lalu pendeta yang terakhir ia datangi menyampaikan akan munculnya nabi terakhir yang muncul di negeri Arab.

Dalam kisah Abu Sufyan saat ia diminta datang menemui raja Heraclius di negeri Syam, lalu Heraclius berkata, ”Aku tahu bahwa akan muncul nabi, namun aku tidak mengira kalau ia muncul di tengah-tengah kalian.”

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, maka pemimpin Yahudi bernama Huyay bin Akhthab bersama saudaranya pergi mendatanginya, dan saat mereka berdua pulang maka Shafiyyah mendengar percakapan mereka berdua tentang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu pamannya berkata kepada ayahnya (Huyay), “Apakah orang itu yang dimaksud (dalam kitab Taurat)?” Ia (Huyay) menjawab, “Ya, demi Allah.” Saudaranya berkata lagi, “Apakah engkau menetapkan dan mengenalinya.” Ia menjawab, “Ya.” Saudaranya berkata lagi, “Apa sikapmu?” Huyay menjawab, “Tetap memusuhinya selama-lamanya.”

Dalam kisah raja Najasyi saat ia didatangi Amr bin Aash agar raja Najasyi mengembalikan kaum muhajirin kepada mereka, maka raja Najasyi berkata -setelah menyimak pemaparan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari kalangan kaum muslimin yang berhijrah, “Aku mengetahui dia (Muhammad) adalah Rasulullah dan bahwa dia adalah orang yang disebutkan dalam Injil.” (As Sirah An Nabawiyyah lish Shaffil Awwal Ats Tsanawi, hal. 31 kementrian Pendidikan Yaman)

Semua kisah di atas merupakan bukti bahwa Ahli Kitab mengetahui bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam  adalah utusan Allah.

[16] Yaitu yang ada dalam kitab mereka tentang sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[17] Ibnu Katsir menjelaskan, selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala meneguhkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin dan memberitahukan, bahwa apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kebenaran yang tidak ada keraguan dan syak padanya. Termasuk di antara kebenaran yang tidak perlu diragukan lagi adalah menghadap ke ka’bah setelah menghadap Baitulmaqdis.

[18] Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap golongan yang beranggapan bahwa kebenaran agama adalah relative; oleh karena itu, menurut mereka pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Bahkan seorang muslim harus yakin, bahwa hanya agama Islam saja yang benar selainnya batil, karena agama Islam dari Allah Azza wa Jalla, dan yang datang dari-Nya adalah hak (benar).

Faedah:

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Saya menasihati kalian agar tidak mengaitkan kebenaran dengan figur atau tokoh yang ada. Hal itu:

Pertama, karena mereka yang masih hidup terkadang jatuh dalam kesesatan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu pernah berkata, “Barang siapa yang mengikuti, maka ikutilah orang-orang telah wafat (dan jelas di atas kebenaran), karena orang yang hidup tidak aman dari fitnah.” Jika kebenaran dinisbatkan kepada sosok atau figur, maka bisa jadi orang itu terpedaya oleh dirinya, wal iyadz billah serta menempuh jalan yang tidak benar. Dengan demikian, figur itu tidak aman dari ketergelinciran dan fitnah, kita meminta kepada Allah agar Dia meneguhkan hati kami dan kalian.

Kedua, figur tersebut akan wafat, karena tidak ada di antara kita yang hidup kekal selamanya. Allah Ta’ala berfirman, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? (Terj. Qs. Al Anbiya: 34)

Ketiga, terkadang seseorang terpedaya ketika orang-orang memuliakannya dan menghormatinya, serta mengelilinginya, bahkan bisa jadi ia merasa dirinya ma’shum (bersih dari dosa) dan menganggap demikian pada dirinya, serta menganggap bahwa semua tindakannya adalah benar, demikian juga menganggap bahwa semua tindakan yang dilakukannya itulah syariat.

Tidak diragukan lagi, bahwa hal ini dapat menyebabkan sosok atau figur itu binasa. Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang memuji orang lain di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda kepadanya, “Kasihanilah dirimu, kamu saja telah memotong lehernya.”  (Hr. Bukhari dan Muslim) (Liqaa’at Al Bab Al Maftuh no. 47).

[19] Yakni jangan sampai masih menancap di hati keraguan meskipun sedikit.

Dan agar seseorang lebih yakin lagi hendaknya memikirkan isinya, karena dengan memikirkan isinya dapat menghilangkan keraguan dan memperoleh keyakinan.

Dari ayat 144-147 kita dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) wajibnya menghadap kiblat dalam shalat, (2) kekafiran sebagian besar Ahli Kitab adalah di atas dasar ilmu karena lebih mengutamakan dunia, (3) haramnya kaum muslim mengikuti Ahli Kitab dalam bid’ah yang mereka ada-adakan, (4) Para alim Ahli Kitab yang sezaman dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang nabi dan penutup para nabi, bahkan sebagaimana mereka mengenali anak mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak mau beriman karena mengutamakan kesenangan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...