Seri (33)
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ
قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا
كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ
أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
(144)
144. [1]Sungguh
Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit[2], maka
akan Kami palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai[3]. Hadapkanlah
wajahmu[4] ke
arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah
itu[5].
Sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan
kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka[6].
Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan[7].
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا
قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ
بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ
إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)
145. [8]Dan
sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al Kitab (Yahudi dan Nasrani) semua ayat (keterangan
dan bukti), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu[9],
dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka[10]. Sebagian
mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain[11].
Sesungguhnya jika kamu[12]
mengikuti keinginan mereka[13]
setelah sampai ilmu kepadamu[14], niscaya
kamu termasuk orang-orang yang zalim.
Ayat 146-150: Informasi tentang Ahli Kitab,
bagaimana mereka sampai menyembunyikan kebenaran dan menyelisihi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dengan sikap menentang dan sombong, dan dalam beberapa ayat
ini terdapat dalil wajibnya menghadap ke Ka’bah dalam shalat.
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ
وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (146)
146. Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab
(Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka
sendiri[15].
Sesungguhnya sebagian mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran[16], padahal
mereka mengetahui(nya).
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (147)
[1] Imam Bukhari meriwayatkan dari Barraa' bin 'Azib, ia
berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap ke
Baitulmaqdis selama 16 bulan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ingin
sekali menghadap ke Ka'bah, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Qad
naraa taqalluba wajhika fis samaa'", maka Beliau menghadap ke Ka'bah,
lalu orang-orang yang kurang akal, yakni orang-orang Yahudi berkata, "Apa
yang memalingkan mereka dari kiblat (Baitul Maqdis)
yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?" Kemudian
Allah menurunkan ayat, "Qulliillahil masyriqu wal maghribu, yahdii
mayyasyaa'u ilaa shiraathim mustaqiim" (artinya: Katakanlah, “Milik
Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki
ke jalan yang lurus"), lalu ada seorang yang shalat bersama Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian setelah shalat pergi dan melewati
orang-orang Anshar yang sedang shalat Ashar menghadap ke Baitulmaqdis, lalu
bersaksi bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan bahwa Beliau menghadap ke Ka'bah, maka orang-orang pun berputar menghadap
ke Ka'bah.
Ali
bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Perintah Al Qur’an yang
pertama kali dimansukh adalah tentang masalah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, dimana mayoritas
penduduknya adalah orang-orang Yahudi, maka Allah memerintahkan kepada Beliau
untuk menghadap Baitulmaqdis, sehingga orang-orang Yahudi merasa senang
kepadanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepadanya selama
beberapa bulan, sedangkan Beliau lebih suka menghadap kiblat Nabi Ibrahim
‘alaihis salam. Oleh karena itu, Beliau selalu berdoa kepada Allah dan
menengadahkan pandangannya ke langit, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Sungguh
Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit,” sampai
firman-Nya, “Maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya.” Maka orang-orang
Yahudi menjadi curiga dan berkata, “Apakah yang
memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka
berkiblat kepadanya?" Katakanlah,
"Milik Allah-lah timur dan barat;”
[2] Maksudnya,
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sering melihat ke langit berdoa dan
menunggu dengan harap turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke
Baitullah Ka'bah.
[3] Kata-kata ini menunjukkan keutamaan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala segera
mengabulkan apa yang Beliau inginkan.
[4] Yakni badanmu, karena arti wajh adalah bagian depan
badan dari atas sampai bawah.
[5] Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa menghadap kiblat
merupakan syarat shalat, dan jika seseorang tidak bisa menghadap langsung ke
rumah itu, maka dengan menghadap ke arahnya.
Hakim meriwayatkan dari Ali bin Thalib radhiyallahu
'anhu tentang firman Allah Ta’ala, “Wa haitsu maa kuntum fawalluu wujuuhakum
syathrah,” (artinya: Dan di mana saja kamu berada,
hadapkanlah wajahmu ke arah itu) ia berkata, “Ke arahnya.” (Hakim berkata,
“Shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkan.”).
Pendapat ini dipegang juga oleh Abul ‘Aliyah, Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin
Jubair, Qatadah, Ar Rabii’ bin Anas dan lainnya.
Ibnu
Katsir menyatakan, Allah Ta’ala memerintahkan menghadap ke ka’bah dari arah
mana saja di bumi, baik timur maupun barat, utara maupun selatan. Tidak
dikecualikan dari hal ini kecuali shalat sunah ketika safar, maka ia
melakukannya dengan menghadap ke arah (hewan kendaraannya) menghadap, namun
hatinya tetap tertuju ke ka’bah. Demikian pula dalam kondisi perang berkecamuk,
maka ia shalat dalam keadaan apa pun. Demikian juga orang yang tidak mengetahui
arah kiblat, maka ia shalat berdasarkan ijtihadnya meskipun sebenarnya keliru,
karena Allah Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya.”
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 114)
[6] Yakni disebutkan dalam kitab-kitab mereka. Mereka
tahu, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghadapkan kamu ke arahnya,
tetapi mereka menyembunyikannya karena hasad, kufur, dan sikap keras mereka.
Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan firman-Nya, “Allah
sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
[7] Dalam firman-Nya ini terdapat ancaman terhadap mereka
yang protes dan hiburan bagi kaum mukmin.
[8] Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena tingginya
harapan Beliau agar orang lain mendapatkan hidayah telah mencurahkan segala
tenaga dan fikiran mencari cara agar mereka memperoleh hidayah. Beliau berlemah
lembut dalam berdakwah dan bersedih ketika orang yang didakwahinya itu tidak
mau mengikuti. Di antara kaum kafir banyak yang tetap keras tidak mau mengikuti
bahkan bersikap sombong terhadap Beliau, mereka ini orang-orang Yahudi dan
Nasrani, mereka kafir kepada Beliau bukan karena kebodohan tetapi karena yakin
terhadap kebenarannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan bahwa
meskipun bukti dan dalil dibawakan Beliau kepada mereka, niscaya mereka tetap
tidak mau mengikuti. Mereka tidak mau mengikuti karena keadaan mereka yang
mu'anidun, yakni mengetahui yang hak, tetapi malah meninggalkannya, padahal
ayat dan dalil hanyalah akan bermanfaat bagi mereka yang mencari yang hak namun
masih samar, kepadanyalah bukti dan dalil diperlukan. Adapun orang yang
bersikeras untuk tidak mau mengikuti kebenaran, maka tidak perlu mencari-cari
terus jalan keluarnya. Dari sini kita mengetahui, apabila kita telah
menerangkan kebenaran dengan dalil-dalilnya yang yakin kepada orang lain,
ternyata ia menolak, maka kita tidak mesti membawakan lagi bukti-bukti lagi,
karena tidak ada ujung-ujungnya.
[9] Ayat ini sama seperti firman Allah Ta’ala di surat
Yunus: 96-97.
[10] Firman-Nya ini merupakan informasi dari Allah Subhaanahu
wa Ta'aala tentang keadaan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam yang memiliki
sikap yang teguh pendirian, selalu mengikuti perintah Allah, tunduk dan taat
kepada-Nya serta berusaha mencari keridhaan-Nya, dan bahwa Beliau tidak akan
mengikuti keinginan mereka dalam setiap keadaan. Oleh karena itu, menghadapnya
Beliau ke Baitulmaqdis sebelumnya bukanlah karena ia merupakan kiblat orang-orang
Yahudi, akan tetapi karena perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
[11] Maksudnya, di samping hal tersebut, mereka juga saling
berselisih, masing-masing mereka tidak mengikuti kiblat yang lain.
[12] Termasuk juga kepada umat Beliau. Ayat ini merupakan
ancaman bagi orang-orang yang lebih mengutamakan keridhaan manusia daripada
keridhaan Allah, demikian pula ancaman bagi orang-orang yang menyelisihi
kebenaran yang telah diketahuinya mengikuti hawa nafsunya.
[13] Di ayat ini menggunakan kata "ahwaa'ahum"
(keinginan mereka) tidak menggunakan kata "diinahum" (agama mereka)
karena apa yang mereka pegang selama ini hanyalah semata-mata hawa nafsu,
bahkan mereka meyakini apa yang mereka pegang selama ini bukanlah agama. Oleh
karena itu, orang yang meninggalkan agama yang benar, maka sebenarnya orang itu
hanyalah mengikuti hawa nafsu belaka, meskipun mereka menamainya sebagai agama.
[14] Maksudnya, setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi
wa sallam mengetahui bahwa dirinya di atas yang hak, sedangkan mereka di atas
yang batil.
Dalam ayat ini terdapat peringatan agar
tidak mengikuti keinginan Ahli Kitab, karena mereka telah berpaling dari
kebenaran setelah mengetahuinya.
[15] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengabarkan bahwa Ahli Kitab
telah yakin dan mengetahui bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah
seorang rasul, dan apa yang Beliau bawa adalah hak (benar). Mereka meyakininya
sebagaimana mereka meyakini anak-anak mereka sendiri dan mereka bisa
membedakannya dengan yang lain. Oleh karena itu, pengetahuan mereka telah
sampai kepada tingkatan yakin yang tidak dimasuki keraguan, akan tetapi
kebanyakan mereka kafir kepada Beliau, menyembunyikan persaksian tersebut
padahal mereka mengetahuinya. Dalam ayat di atas juga terdapat hiburan bagi Rasul
shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin serta mengingatkan mereka agar
berhati-hati terhadap tindakan jahat orang-orang Ahli Kitab dan syubhat mereka.
Imam Al
Qurthubi berkata, “Dan diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata kepada Abdullah
bin Salam, “Apakah kamu mengetahui Muhammad (sebagai Rasul) sebagaimana kamu
mengetahui anakmu?” Ia menjawab, “Ya, bahkan lebih dari itu. Telah turun
malaikat yang dipercaya dari langit (Jibril ‘alaihis salam) kepada manusia yang
dipercaya di bumi (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) dengan sifatnya,
maka aku mengetahuinya, tetapi aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada
urusannya.”
Demikian
pula dalam kisah Salman Al Farisi yang berpindah dari negeri yang satu ke
negeri yang lain di masa ia masih Nasrani, lalu pendeta yang terakhir ia
datangi menyampaikan akan munculnya nabi terakhir yang muncul di negeri Arab.
Dalam kisah
Abu Sufyan saat ia diminta datang menemui raja Heraclius di negeri Syam, lalu
Heraclius berkata, ”Aku tahu bahwa akan muncul nabi, namun aku tidak mengira
kalau ia muncul di tengah-tengah kalian.”
Ketika Nabi
shallallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, maka pemimpin Yahudi bernama
Huyay bin Akhthab bersama saudaranya pergi mendatanginya, dan saat mereka
berdua pulang maka Shafiyyah mendengar percakapan mereka berdua tentang Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, lalu pamannya berkata kepada ayahnya
(Huyay), “Apakah orang itu yang dimaksud (dalam kitab Taurat)?” Ia (Huyay)
menjawab, “Ya, demi Allah.” Saudaranya berkata lagi, “Apakah engkau menetapkan
dan mengenalinya.” Ia menjawab, “Ya.” Saudaranya berkata lagi, “Apa sikapmu?”
Huyay menjawab, “Tetap memusuhinya selama-lamanya.”
Dalam kisah
raja Najasyi saat ia didatangi Amr bin Aash agar raja Najasyi mengembalikan
kaum muhajirin kepada mereka, maka raja Najasyi berkata -setelah menyimak
pemaparan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari kalangan kaum
muslimin yang berhijrah, “Aku mengetahui dia (Muhammad) adalah Rasulullah dan
bahwa dia adalah orang yang disebutkan dalam Injil.” (As Sirah An Nabawiyyah
lish Shaffil Awwal Ats Tsanawi, hal. 31 kementrian Pendidikan Yaman)
Semua kisah
di atas merupakan bukti bahwa Ahli Kitab mengetahui bahwa Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam adalah utusan Allah.
[16] Yaitu yang ada dalam kitab mereka tentang sifat Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[17] Ibnu Katsir menjelaskan, selanjutnya Allah Subhaanahu
wa Ta'aala meneguhkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukmin
dan memberitahukan, bahwa apa yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah kebenaran yang tidak ada keraguan dan syak padanya. Termasuk di
antara kebenaran yang tidak perlu diragukan lagi adalah menghadap ke ka’bah
setelah menghadap Baitulmaqdis.
[18] Dalam ayat
ini terdapat bantahan terhadap golongan yang beranggapan bahwa kebenaran agama adalah relative; oleh karena itu,
menurut mereka pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja
yang benar sedangkan agama yang lain salah. Bahkan seorang muslim harus yakin,
bahwa hanya agama Islam saja yang benar selainnya batil, karena agama Islam
dari Allah Azza wa Jalla, dan yang datang dari-Nya adalah hak (benar).
Faedah:
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata, “Saya menasihati kalian agar tidak mengaitkan kebenaran dengan figur
atau tokoh yang ada. Hal itu:
Pertama, karena mereka yang masih hidup terkadang
jatuh dalam kesesatan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu pernah berkata, “Barang
siapa yang mengikuti, maka ikutilah orang-orang telah wafat (dan jelas di atas
kebenaran), karena orang yang hidup tidak aman dari fitnah.” Jika kebenaran
dinisbatkan kepada sosok atau figur, maka bisa jadi orang itu terpedaya oleh
dirinya, wal iyadz billah serta menempuh jalan yang tidak benar. Dengan
demikian, figur itu tidak aman dari ketergelinciran dan fitnah, kita meminta
kepada Allah agar Dia meneguhkan hati kami dan kalian.
Kedua, figur
tersebut akan wafat, karena tidak ada di antara kita yang hidup kekal
selamanya. Allah Ta’ala berfirman, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi
seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jika kamu mati, apakah mereka
akan kekal? (Terj. Qs. Al Anbiya: 34)
Ketiga, terkadang seseorang terpedaya
ketika orang-orang memuliakannya dan menghormatinya, serta mengelilinginya,
bahkan bisa jadi ia merasa dirinya ma’shum (bersih dari dosa) dan menganggap
demikian pada dirinya, serta menganggap bahwa semua tindakannya adalah benar,
demikian juga menganggap bahwa semua tindakan yang dilakukannya itulah syariat.
Tidak diragukan lagi, bahwa hal ini
dapat menyebabkan sosok atau figur itu binasa. Oleh karena itu, ketika ada
seseorang yang memuji orang lain di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
maka Beliau bersabda kepadanya, “Kasihanilah dirimu, kamu saja telah memotong
lehernya.” (Hr. Bukhari dan Muslim) (Liqaa’at
Al Bab Al Maftuh no. 47).
[19] Yakni jangan sampai masih menancap di hati keraguan
meskipun sedikit.
Dan agar seseorang lebih yakin lagi
hendaknya memikirkan isinya, karena dengan memikirkan isinya dapat
menghilangkan keraguan dan memperoleh keyakinan.
Dari ayat 144-147 kita
dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) wajibnya menghadap kiblat
dalam shalat, (2) kekafiran sebagian besar Ahli Kitab adalah di atas dasar ilmu
karena lebih mengutamakan dunia, (3) haramnya kaum muslim mengikuti Ahli Kitab
dalam bid’ah yang mereka ada-adakan, (4) Para alim Ahli Kitab yang sezaman
dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengetahui bahwa Muhammad adalah
seorang nabi dan penutup para nabi, bahkan sebagaimana mereka mengenali anak
mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak mau beriman karena mengutamakan
kesenangan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar