Kamis, 18 Juni 2026

Seri 14 (Surah Al Baqarah ayat 34-39)

 

Seri (14)

 



Ayat 34-39: Menerangkan kisah sujudnya para malaikat kepada Adam ‘alaihis salam dan sikap Iblis terhadapnya, ujian kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan penjelasan bahwa petunjuk Allah adalah jalan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

 

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34) 

34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah[1] kamu kepada Adam!"[2] Maka mereka pun sujud kecuali Iblis[3]. Ia menolak dan menyombongkan diri[4], dan ia termasuk golongan yang kafir[5].

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (35)  

35. Dan Kami berfirman, "Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga[6], dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini[7], nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (36) 

36. Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga[8] sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga)[9]. Kami berfirman, "Turunlah kamu![10] sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain[11], dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan[12]."

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (37) 

37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[13] dari Tuhannya, lalu Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat[14] lagi Maha Penyayang[15].

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) 

38. Kami berfirman, "Turunlah kamu semua dari surga itu![16] Kemudian jika datang petunjuk-Ku[17] kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku[18], tidak ada kekhawatiran atas mereka[19], dan mereka tidak bersedih hati[20]."

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)  

39. [21]Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami[22], mereka itu penghuni neraka[23]. Mereka kekal di dalamnya.[24]


[1] Sebagai pemuliaan Allah kepada Adam 'alaihis salam. Sujud di sini adalah sujud penghormatan kepada Adam, bukan sebagai sujud menghambakan diri, karena sujud menghambakan diri itu hanyalah ditujukan kepada Allah Ta'ala. Sujud penghormatan ini dahulu diperbolehkan, tetapi dalam syariat kita sudah mansukh (dihapus). Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata, “Ketika Mu'adz datang dari Syam, maka ia langsung sujud kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, "Apa ini wahai Mu'adz?" Ia menjawab, "Aku datang ke Syam, maka aku temukan mereka bersujud kepada uskup dan komandan mereka, maka aku ingin melakukan hal itu terhadap dirimu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

"Jangan kamu lakukan! Sesungguhnya jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada selain Allah, tentu aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Allah yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, seorang istri belum memenuhi hak Tuhannya sampai ia memenuhi hak suaminya, dan jika suaminya meminta dirinya sedangkan ia (istrinya) di atas pelana, maka tidak boleh baginya menolaknya." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, dan dinyatakan "Hasan shahih" oleh Syaikh Al Albani).

Menurut Al Baghawi, bahwa dalam sujud tersebut (sujud penghormatan) tidak terdapat menaruh muka di atas tanah, tetapi sekedar menundukkan diri. Setelah Islam datang, maka perbuatan itu dibatalkan dengan cukup ucapan salam.

[2] Ini adalah pemuliaan yang besar dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Adam ‘alaihis salam, Dia menciptakan Adam dengan Tangan-Nya yang mulia, meniupkan ruh kepadanya, memerintahkan para malaikat untuk sujud kepadanya dan mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu atau mengajarkan ilmu kepadanya.

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah meninggikan kedudukan orang yang berilmu, dan menjadikan ilmu sebagai sebab dilebihkan antara yang satu dengan yang lain.

[3]  Dalam Mukhtashar Tafsir Al Baghawi disebutkan, bahwa nama Iblis adalah Azazil dalam bahasa Suryani, atau Harits dalam bahasa Arab, saat ia durhaka, maka nama dan bentuknya dirubah. Ada yang berpendapat, bahwa disebut Iblis karena ia telah putus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Menurut Ibnu Abbas dan mayoritas mufassir, bahwa Iblis termasuk malaikat. Namun Al Hasan berpendapat, bahwa ia termasuk jin dan bukan termasuk malaikat berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin,” (Terj. Qs. Al Kahfi: 50). Ia adalah nenek moyang jin sebagaimana Adam adalah nenek moyang manusia. Di samping itu, jin diciptakan dari api, sedangkan para malaikat diciptakan dari cahaya. Jin juga mempunyai keturunan, sedangkan para malaikat tidak mempunyai keturunan. Al Baghawi lebih menguatkan bahwa Iblis termasuk golongan malaikat karena perintah sujud tertuju kepada para malaikat. Adapun maksud firman Allah Ta’ala, “Maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin,” adalah dari golongan malaikat yang menjaga surga. Sa’id bin Jubair berpendapat, maksudnya termasuk golongan yang beramal di surga. Ada pula yang berpendapat, bahwa sekelompok malaikat ada yang diciptakan dari api yang disebut dengan jin karena tersembunyi dari pandangan mata, dan Iblis bagian dari mereka, wallahu a’lam.

Nasihat

Ibnul Qayyim berkata, "Janganlah tertipu dengan tempat yang nyaman, karena tidak ada tempat yang lebih nyaman daripada surga, sehingga Adam memperoleh apa yang ia dapatkan. Jangan pula tertipu dengan banyak ibadah, karena Iblis mendapatkan apa yang ia dapatkan sekarang setelah sebelumnya lama beribadah. Jangan tertipu dengan banyaknya ilmu, karena Bal'am bin Ba'ura mendapatkan apa yang ia dapatkan setelah sebelumnya mengenal Ismul A'zham (nama Allah yang agung). Janganlah tertipu dengan bertemu dengan orang-orang saleh dan bisa melihat mereka, karena tidak ada orang yang lebih baik daripada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, namun musuh-musuhnya dan kaum munafik tidak dapat mengambil manfaat dari  bertemu dengan Beliau." (Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim 1/510)

[4] Ayat ini menujukkan bahwa sombong adalah pokok kemaksiatan, pokok semua musibah yang menimpa manusia, dan merupakan kemaksiatan pertama yang dilakukan.

[5] Iblis enggan untuk sujud karena sombong dan dengki, sehingga ia termasuk golongan yang ingkar kepada Allah dan durhaka kepada perintah-Nya. Mayoritas mufassir berkata tentang tafsir ayat di atas, “Dalam pengetahuan Allah yang terdahulu, Iblis termasuk golongan yang kafir yang telah pasti kesengsaraan baginya.”

Qatadah berkata, “Musuh Allah yaitu Iblis dengki kepada Adam ‘alaihis salam karena kemuliaan yang Allah berikan kepadanya, ia berkata, “Aku berasal dari api, sedangkan orang ini dari tanah.” Oleh karena itu, dosa pertama adalah sombong; musuh Allah ini sombong untuk sujud kepada Adam ‘alaihis salam.”

Ibnu Katsir berkata, “Telah sah dalam hadits Shahih, yaitu (hadits):

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun seberat biji sawi."

Dan dalam diri Iblis terdapat kesombongan, kekafiran dan pembangkangan sehingga ia diusir dan dijauhkan dari rahmat dan tempat suci.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Orang yang hasad mirip dengan iblis dan sebenarnya dia memang pengikutnya, karena dia menuntut seperti yang diinginkan oleh setan berupa kerusakan pada diri manusia dan hilangnya nikmat Allah dari mereka, sebagaimana iblis hasad kepada Adam karena kemuliaan dan keutamaannya, dan tidak mau sujud kepadanya karena dengki. Dengan demikian, orang yang hasad sebenarnya adalah tentara Iblis." (Bada'iul Fawaid 2/234)

Faedah:

Ada seorang yang berkata, "Sesungguhnya sebab aku rutin melakukan shalat selama bertahun-tahun adalah karena aku mendengar seorang yang saleh berkata kepada orang yang tidak mau menjalankan shalat, "Wahai Fulan! Musibah yang menimpamu ini lebih besar daripada musibah yang menimpa iblis. Hal itu karena iblis menolak bersujud kepada Adam, sedangkan engkau menolak sujud kepada Allah Rabbul alamin." (Telegram Jawahir Min Aqwalis Salaf).

Dari ayat 34 di atas kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) mengingatkan karunia Allah berupa perintah yang di dalamnya terdapat dorongan untuk mensyukuri nikmat itu, (2) peringatan terhadap sifat sombong dan hasad yang menyebabkan Iblis dilaknat dan berputus asa, serta yang menyebabkan orang-orang Yahudi enggan masuk Islam, (3) permusuhan Iblis kepada manusia, (4) Iblis adalah musuh manusia, (5) menerangkan, bahwa maksiat itu terkadang berupa kekufuran atau yang mengantarkan kepada kekufuran.

[6] Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa susunan ayat menunjukkan bahwa Hawa’ diciptakan sebelum Adam masuk ke surga, dan hal itu ditegaskan pula oleh Muhammad bin Ishaq, ia berkata, “Ketika Allah telah mencela Iblis, maka Allah menghadap kepada Adam dan Dia telah mengajarkan kepadanya nama-nama semuanya, Dia berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu…dst. Sampai ayat, “Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Ia (Muhammad bin Ishaq) berkata, “Selanjutnya Adam dijadikan mengantuk berdasarkan keterangan yang kami dapatkan dari Ahli Kitab dari pemegang Kitab Taurat serta dari kalangan Ahli Ilmu dari Ibnu Abbas dan lainnya, lalu Allah mengambil salah satu tulang rusuknya sebelah kiri dan menggantinya dengan daging, sedangkan Adam dalam keadaan tidur; tidak bangun dari tidurnya, sehingga Allah menciptakan dari tulang rusuknya istrinya yaitu Hawa’, lalu dibentuk-Nya menjadi wanita agar Adam merasa tenteram dengannya. Setelah Dia menghilangkan kantuknya dan Adam bangun dari tidurnya, Adam melihat Hawa di sebelahnya, lalu ia berkata –berdasarkan keterangan mereka, wallahu a’lam-, “Dagingku, darahku, dan istriku.” Maka Adam pun merasa tenteram dengannya. Setelah Allah memberikan pasangan kepadanya dan menjadikan dirinya tenteram, Dia berfirman secara langsung, Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 53)

Dalam ayat ini terdapat isyarat, bahwa kampung halaman manusia yang hakiki adalah surga, tempat tinggal nenek moyang mereka yang pertama, dan bahwa bumi yang kita tempati adalah tempat perantauan kita, maka usahakan kita dapat pulang kampung ke sana, dan tidak ada cara agar dapat kembali ke sana kecuali dengan mengikuti petunjuk Allah yang ada dalam kitab-Nya dan dalam sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

[7] Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan namanya, sebab Al Quran dan As Sunnah tidak menerangkannya. Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari rahimahullah berkata, “Yang benar dalam hal ini adalah mengatakan, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla melarang Adam dan istrinya memakan pohon tertentu di antara pohon-pohon surga tidak semuanya, lalu keduanya makan daripadanya, namun tidak ada pengetahuan bagi kita tentang pohon tersebut secara pastinya, karena Allah tidak mengadakan kepada hamba-hamba-Nya dalil terhadap hal itu, baik dalam Al Quran maupun As Sunnah yang sahih. Memang ada yang berpendapat, bahwa pohon itu adalah pohon gandum, ada pula yang berpendapat, bahwa pohon itu adalah pohon anggur dan ada pula yang berpendapat, bahwa pohon itu adalah pohon Tin, dan bisa saja salah satunya, tetapi hal itu adalah pengetahuan yang jika diketahui tidak memberi manfaat bagi orang yang tahu, dan kalau pun tidak tahu, maka tidak merugikan orang yang tidak tahu, wallahu a’lam.” Pernyataan ini juga dikuatkan oleh Ar Raazi dan lainnya, termasuk Al Hafizh Ibnu Katsir (lihat Al Mishbahul Munir hal. 53).

Mendekati pohon itu bagi Adam dan Hawa merupakan kemaksiatan sehingga mereka akan tergolong orang-orang yang melanggar perintah Allah. Allah Ta'ala melarang memakan pohon itu sebagai ujian atau karena hikmah yang kita tidak mengetahuinya.

[8] Adam dan Hawa dengan tipu daya dan bisikan setan akhirnya memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga. Tentang bisikan setan kepada Nabi Adam 'alaihis salam disebutkan dalam surat Al A'raaf: 20-21 dan surat Thaahaa: 120.

Yang dimaksud dengan setan di ayat ini adalah iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas.

'Ashim bin Bahdalah, yakni Ibnu Abin Nujud membaca ayat “Fa azallahumaa” dengan “Fa azaalahumaa” (dipanjangkan zainya dan tidak ditasydidkan).

[9] Yaitu kenikmatan, kemewahan, dan kemuliaan hidup dalam surga. Menurut Ibnu Katsir, maksudnya pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang enak, dan peristirahatan.

Faedah:

Imam Muslim dan Nasa’i meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum'at, karena pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya."

Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Adam tidaklah tinggal di surga kecuali antara shalat Ashar sampai tenggelam matahari.” (Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat dua syaikh (Bukhari-Muslim), namun keduanya tidak menyebutkannya).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Di antara sempurnanya perbuatan ihsan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya adalah merasakan kepada mereka pahitnya keadaan yang hancur sebelum merasakan manisnya keadaan ketika kembali membaik, sebagaimana ketika Dia hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam,  Dia merasakan kepadanya pahitnya keluar dari surga dan merasakan betapa menderitanya hidup di dunia ini yang nikmatnya bercampur dengan penderitaan.

Oleh karena itu,  jika Dia menimpakan penderitaan kepada hamba-Nya yang mukmin, maka maksudnya hendak memperbaikinya. Dia tidaklah menahan nikmat itu kecuali untuk memberikan kepadanya. Dia tidaklah mengujinya kecuali untuk menjaganya. Dia tidaklah mewafatkannya kecuali untuk menghidupkannya. Dia tidaklah memperkeruh dunianya melainkan agar dirinya cinta kepada akhirat. Dan Dia tidak mengujinya dengan sikap antipati manusia kecuali untuk mengembalikan kepada-Nya.  (Mukhtashar Ash Shawa'iq Al Mursalah)

Abu Ishaq Al Huwaini berkata, "Adam alaihissalam keluar dari surga karena satu dosa, iblis pun dikekalkan di neraka karena satu dosa, apakah tidak mungkin jika engkau dihukum karena satu dosa? Maka janganlah meremehkan dosa yang kamu lakukan, dan janganlah meremehkan perbuatan baik yang engkau lakukan."

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, "Dunia adalah tempat mengkhawatirkan, bukankah diturunkannya Adam dari surga ke dunia sebagai sanksi terhadapnya? Siapa yang memuliakan dunia maka akan terhinakan, dan dunia memiliki korban-korban di setiap waktunya, maka jadilah orang yang mengobati lukanya; yang bersabar di atas pahitnya obat agar tidak lama sembuhnya penyakit." (Hilyatul Awliya karya Abu Nu'aim 2/148)

Kesamaran dan jawabannya

Jika ada yang bertanya, “Kalau memang surga yang disebutkan di ayat ini adalah surga yang di langit sebagaimana yang dikatakan jumhur ulama, lalu mengapa Iblis bisa masuk ke dalam surga itu?

Jawab: Di antara ulama berdasarkan alasan tersebut ada yang berpendapat, bahwa surga tersebut adalah surga di bumi, bukan surga di langit sebagaimana disebutkan pendapat ini secara panjang lebar oleh Ibnu Katsir di awal kitab Al Bidayah wan Nihayah dan di dalam kitabnya Qashashul Anbiya. Namun jumhur ulama berpendapat, bahwa surga tersebut adalah surga di langit, dan mereka menjawab pertanyaan di atas dengan beberapa jawaban yang di antaranya, bahwa Iblis dilarang masuk surga dalam keadaan mulia, tetapi jika dalam keadaan diam-diam dan terhina, maka tidak dihalangi. Oleh karena itu, sebagian mereka (di antara jumhur ulama) berkata, bahwa sebagaimana dalam kitab Taurat, Iblis itu masuk ke dalam mulut ular ke surga. Yang lain ada yang berpendapat, bisa saja Iblis membisikkan keduanya saat Iblis berada di luar pintu surga, atau Iblis membisikkan keduanya, ketika itu Iblis di bumi, sedangkan keduanya di langit, hal ini seperti yang disebutkan Az Zamakhsyari dan lainnya, wallahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 54)

[10]  Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Adam ‘alaihis salam diturunkan ke daerah yang bernama Dihn, yang terletak antara Mekah dan Tha’if.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri ia berkata, “Adam diturunkan di India, Hawa’ di Jeddah, Iblis di Distimisan yang terletak beberapa mil dari Basrah, sedangkan ular diturunkan di Ashbahan.”

Wallahu a’lam.

[11] Yakni Adam dan keturunannya menjadi musuh bagi Iblis dan keturunannya, dan sudah menjadi maklum bahwa seorang yang menjadi musuh akan berusaha sekuat tenaga menimpakan madharat kepada musuhnya, mendatangkan keburukan dengan berbagai cara, dan menghalanginya dari memperoleh kebaikan. Bagaimana menurut kita, tentang Iblis dan bala tentaranya yang memiliki pengalaman ratusan bahkan ribuan tahun dalam menyesatkan manusia? Maka tidak dapat lolos dari godaannya kecuali dengan pertolongan Allah dan mengikuti petunjuk-Nya.

Dalam ayat tersebut terdapat peringatan Allah Ta'ala kepada bani Adam agar waspada terhadap tipu daya setan.

[12]  Ayat ini menerangkan bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal yang selamanya dan bahwa kita hidup di dunia hanya sementara sebagai ladang beramal menuju akhirat. Demikian pula menunjukkan, bahwa bumi yang kita tempati ini sudah cukup menjadi tempat tinggal manusia selama hidup di dunia yang di sana kita dapat menikmati berbagai kenikmatan yang ada, sehingga tidak perlu berpindah ke bulan atau planet lain.

Nasihat

Syaikh Aidh Al Qarni berkata,

نَحْنُ لاَ نَمْلِكُ تَغْيِيْرَ الْمَاضِي

Kita tidak bisa merubah yang telah terjadi

وَ لاَ رَسْمَ الْمُسْتَقْبَل ..

Juga tidak bisa menggariskan masa depan

فَلِمَاذَا نَقْتُلُ أَنْفُسَنَا حَسْرَةً

Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan?

عَلَى شَيْئٍ لاَ نَسْتَطِيعُْ تَغِْييْرَهُ؟

Atas apa yang sudah tidak bisa kita rubah

الْحَيَاةُ قَصِْرَةٌ وَأَهْدَافُهَا كَثِيْرَةٌ

Hidup itu singkat sementara targetnya banyak

فَانْظُرْ اِلَى السَّحَابِ وَ لاَ تَنْظُرْ اِلَى التُّرَابِ ..

Maka, tataplah awan dan jangan melihat ke tanah

اِذَا ضَاقَتْ بِكَ الدُّرُوْبُ  فَعَلَيْكَ بِعَلاَّمِ الْغُيُوْبِ

وَ قُلِ الْحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ

Kalau merasa jalan sudah sempit, kembalilah ke Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib! Dan ucapkan alhamdulillah atas apa yang terjadi.

سَفِيْنَةُ تَايْتَنِك بَنَاهَا مِئَاتُ الْأَشْخَاصِ

Kapal Titanic dibuat oleh ratusan orang

وَسَفِيْنَةُ  نُوْحٍ  بَنَاهَا شَخْصٌ وَاحِدٌ

Sedang kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam dibuat hanya oleh satu orang

الْأُوْلَى غَرَقَتْ وَالثَّانِيَةُ حَمَلَتِ الْبَشَرِيَّةَ

Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia

اَلتَّوْفِيْقُ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Taufik hanya dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala

نَحْنُ لَسْنَا السُّكَانَ الْأَصْلِيِّيْنَ لِهَذَا الْكَوْكَبِ الْأَرْضِ !!

بَلْ نَحْنُ نَنْتَمِي إِلَى  الْجَنَّةِ

Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga

حَيْثُ كَانَ أَبُوْنَا آدَمُ يَسْكُنُ فِي الْبِدَايَةِ لَكِنَّنَا نَزَلْنَا هُنَا مُؤَقَّتاً لِكَيْ نُؤَدِّي اخْتِبَارًا قَصِيْرًا ثُمَّ نَرْجِعُ بِسُرْعَةٍ ..

Tempat, dimana nenek moyang kita, Adam, tinggal pertama kali. Kita tinggal di sini hanya untuk sementara, untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.

فَحَاوِلْ أَنْ تَعْمَلَ مَا بِوُسْعِكَ لِتَلْحَقَ بِقَافِلَةِ الصَّالِحِيْنَ

الَّتِي سَتَعُوْدُ إِلَى وَطَنِنَا الْجَمِيْلِ الْوَاسِعِ

وَ لاَ تُضَيِّعْ وَقْتَكَ فِي هَذَا الْكَوْكَبِ الصَّغِيْرِ

Maka berusahalah semampumu,

Untuk mengejar kafilah orang-orang yang saleh, yang akan kembali ke tanah air yang sangat indah dan luas.

Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini!

الْفِرَاقُ: لَيْسَ السَّفَرُ، وَلاَ فِرَاقُ الْحُبِّ، حَتَّى الْمَوْتُ لَيْسَ فِرَاقًا

سَنَجْتَمِعُ فِي الْآخِرَةِ. الْفِرَاقُ هُوَ: أَنْ يَكُوْنَ أَحَدُنَا فِي الْجَنَّةِ،

وَالْآخَرُ فِي النَّارِ جَعَلَنِي رَبَّي وَاِيَّاكُمْ مِنْ سُكَّانِ جَنَّتِهِ..

Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yang jauh,

Atau karena ditinggal orang tercinta,

Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan. Sebab, kita akan bertemu lagi di akhirat. Sesungguhnya perpisahan yang hakiki adalah jika salah seorang di antara kita di surga sedangkan yang lain di neraka. Semoga Allah menjadikan diriku dan dirimu sebagai penghuni surga-Nya, Aamin.

[13] Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Allah yang diterima oleh Adam sebagian Ahli Tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertobat, yaitu ucapan "Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa…dst (lihat Surat Al A'raaf: 23). Pendapat ini diriwayatkan dari Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’ bin Anas, Al Hasan, Qatadah, Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhi, Khalid bin Ma’dan, ‘Atha’ Al Khurasaniy, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

As Suddiy meriwayatkan dari beberapa orang yang menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya,” ia berkata: Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menciptakanku dengan Tangan-Mu?” Lalu dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam berkata, “Engkau juga telah meniupkan ruh(ciptaan)-Mu kepadaku?” Dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam berkata, “Aku juga bersin, lalu Engkau berkata, “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu), dan rahmat-Mu mendahului kemurkaan-Mu?” Dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam berkata, “Dan Engkau telah mencatat bagiku bahwa aku akan mengerjakan hal ini?” Dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku, jika aku bertobat, apakah Engkau akan mengembalikanku ke surga?” Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Ya.” (Atsar ini diriwayatkan pula oleh Al ‘Uufi, Sa’id bin Jubair, Sa’id bin Ma’bad dari Ibnu Abbas seperti ini. Hakim juga meriwayatkan dalam Mustadraknya dari hadits Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak menyebutkan.”)

[14] Tobat dari-Nya ada dua; diberi-Nya taufiq (dorongan) untuk bertobat dan diterima-Nya tobat seseorang ketika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Diberi-Nya taufiq untuk bertobat termasuk kasih sayang-Nya sebagaimana diajarkan-Nya kepada Adam kalimat untuk bertobat. Ayat ini seperti firman Allah Ta’ala, Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya…dst.” (Terj. Qs. At Taubah: 104) dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan, bahwa Dia mengampuni dosa dan menerima tobat orang yang bertobat. Hal ini termasuk kelembutan Allah kepada makhluk-Nya dan rahmat-Nya kepada mereka, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia Maha Penerima tobat lagi Maha Pengampun.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang jatuh ke dalam dosa, lalu sadar dan memohon ampunan kepada Allah, maka setelah bertobat keadaannya lebih baik daripada sebelumnya.” (Al Qaulul Mufid 3/178)

[15]  Dari ayat 35-37 di atas, kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) kemuliaan Nabi Adam alaihis salam dan keturunannya di hadapan Allah, (2) buruknya maksiat dan pengaruhnya yang dapat merubah kenikmatan menjadi hukuman, (3) permusuhan setan kepada manusia dan wajibnya manusia menyadari hal itu agar tidak terpengaruh oleh bisikannya, (4) wajibnya bertobat dari segala dosa, yaitu dengan istighfar (memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla), meninggalkannya, dan menyesal terhadap perbuatan itu, serta berniat keras untuk tidak mengulanginya lagi.

[16] Kaum Mu’tazilah menyangka bahwa surga yang Adam dan Hawa diturunkan daripadanya adalah sebuah kebun yang tinggi di bumi, ini adalah pendapat yang keliru, karena susunan Al Qur’an menunjukkan, bahwa itu adalah surga yang merupakan tempat yang penuh kenikmatan yang disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa di akhirat, wallahu a’lam.

[17] Dari rasul dan kitab yang dibawanya kepada kamu wahai jin dan manusia.

[18] Yaitu dengan beriman kepada rasul tersebut dan kitab yang dibawanya serta menjadikannya sebagai petunjuk; dengan membenarkan berita yang disampaikannya dan yang tercantum dalam kitab itu serta mengikuti perintah yang ada dan menjauhi larangannya.

[19]  Terhadap hal yang akan mereka hadapi dari perkara akhirat.

[20] Terhadap hal yang telah luput bagi mereka dari perkara dunia.

Khawatir itu terjadi karena sesuatu yang tidak disukainya bisa menimpanya di masa mendatang, sedangkan kesedihan terjadi karena sesuatu yang tidak disukai telah menimpa di masa lalu. Di dalam ayat ini, Allah Ta'ala menghilangkan kedua hal tersebut yang menunjukkan bahwa mereka akan memperoleh keamanan yang sempurna dan memperoleh kebahagiaan. Di dalam ayat lain, yaitu surat Thaahaa ayat 23 diterangkan bahwa orang yang mau mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, yakni menunjukkan bahwa ia akan memperoleh petunjuk (tidak akan tersesat) dan akan memperoleh kebahagiaan (tidak akan celaka). Dengan demikian, orang yang mau mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh kemananan, petunjuk, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat –nas'alullah an yaj'alanaa minhum-.

[21]  Setelah Allah menjanjikan keamanan dari azab bagi yang mau mengikuti petunjuk-Nya, maka Dia menyebutkan orang yang akan memperoleh azab-Nya.

[22]  Yaitu Al Qur’an.

[23]  Dalam ayat tersebut digunakan lafaz "as-haab" jamak dari kata shaahib yang artinya "kawan", yakni mereka itu kawan-kawan neraka yang selalu bersama dengannya sebagaimana bersamanya seseorang dengan kawannya. Mereka tidak akan keluar darinya dan tidak akan mati.

[24]  Ayat 38 dan 39 menunjukkan bahwa manusia dan jin terbagi dua; ada yang berbahagia dan ada yang celaka. Pada masing-masing ayat tersebut disebutkan sifat golongan yang berbahagia dan golongan yang celaka serta amalan yang menjadi sebabnya, demikian juga menunjukkan bahwa jin dan manusia sama dalam hal pahala dan siksa serta dalam hal kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Dari ayat 38-39 kita juga dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) maksiat menyebabkan kesengsaraan, (2) mengamalkan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam merupakan sebab keamanan dan kebahagiaan, sebaliknya berpaling dari keduanya merupakan sebab ketakutan dan kesengsaraan, (3) balasan terhadap kekafiran dan sikap mendustakan ayat-ayat-Nya menyebabkan pelakunya kekal di neraka, wal ‘iyadz billah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...