Seri (14)
Ayat
34-39: Menerangkan kisah sujudnya para malaikat kepada Adam ‘alaihis salam dan
sikap Iblis terhadapnya, ujian kepada Nabi Adam ‘alaihis salam, dan penjelasan
bahwa petunjuk Allah adalah jalan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ
فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34)
34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman
kepada para malaikat, "Sujudlah[1]
kamu kepada Adam!"[2]
Maka mereka pun sujud kecuali Iblis[3]. Ia
menolak dan menyombongkan diri[4],
dan ia termasuk golongan yang kafir[5].
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا
رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
(35)
35. Dan Kami berfirman, "Wahai Adam, tinggallah
engkau dan istrimu di dalam surga[6],
dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu.
(Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini[7], nanti
kamu termasuk orang-orang yang zalim.
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ
وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ
وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (36)
36. Lalu setan memperdayakan keduanya dari
surga[8] sehingga
keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga)[9].
Kami berfirman, "Turunlah kamu![10]
sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain[11],
dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang
ditentukan[12]."
فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ
التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (37)
37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[13]
dari Tuhannya, lalu Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat[14]
lagi Maha Penyayang[15].
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي
هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38)
38. Kami berfirman, "Turunlah kamu
semua dari surga itu![16] Kemudian
jika datang petunjuk-Ku[17]
kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku[18],
tidak ada kekhawatiran atas mereka[19],
dan mereka tidak bersedih hati[20]."
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)
[1] Sebagai pemuliaan Allah kepada Adam 'alaihis salam.
Sujud di sini adalah sujud penghormatan kepada Adam, bukan sebagai sujud menghambakan
diri, karena sujud menghambakan diri itu hanyalah ditujukan kepada Allah
Ta'ala. Sujud penghormatan ini dahulu diperbolehkan, tetapi dalam syariat kita
sudah mansukh (dihapus). Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa ia
berkata, “Ketika Mu'adz datang dari Syam, maka ia langsung sujud kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, "Apa ini wahai
Mu'adz?" Ia menjawab, "Aku datang ke Syam, maka aku temukan mereka
bersujud kepada uskup dan komandan mereka, maka aku ingin melakukan hal itu
terhadap dirimu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا
أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا،
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى
تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ
"Jangan kamu
lakukan! Sesungguhnya jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada
selain Allah, tentu aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.
Demi Allah yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, seorang istri belum memenuhi hak
Tuhannya sampai ia memenuhi hak suaminya, dan jika suaminya meminta dirinya
sedangkan ia (istrinya) di atas pelana, maka tidak boleh baginya
menolaknya." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, dan dinyatakan
"Hasan shahih" oleh Syaikh Al Albani).
Menurut
Al Baghawi, bahwa dalam sujud tersebut (sujud penghormatan) tidak terdapat
menaruh muka di atas tanah, tetapi sekedar menundukkan diri. Setelah Islam
datang, maka perbuatan itu dibatalkan dengan cukup ucapan salam.
[2] Ini adalah pemuliaan yang besar dari Allah Subhaanahu
wa Ta'aala kepada Adam ‘alaihis salam, Dia menciptakan Adam dengan Tangan-Nya
yang mulia, meniupkan ruh kepadanya, memerintahkan para malaikat untuk sujud
kepadanya dan mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu atau mengajarkan
ilmu kepadanya.
Dalam
ayat ini terdapat dalil bahwa Allah meninggikan kedudukan orang yang berilmu,
dan menjadikan ilmu sebagai sebab dilebihkan antara yang satu dengan yang lain.
[3] Dalam Mukhtashar Tafsir Al Baghawi
disebutkan, bahwa nama Iblis adalah Azazil dalam bahasa Suryani, atau Harits
dalam bahasa Arab, saat ia durhaka, maka nama dan bentuknya dirubah. Ada yang
berpendapat, bahwa disebut Iblis karena ia telah putus asa dari rahmat Allah
Ta’ala. Menurut Ibnu Abbas dan mayoritas mufassir, bahwa Iblis termasuk
malaikat. Namun Al Hasan berpendapat, bahwa ia termasuk jin dan bukan termasuk
malaikat berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Maka sujudlah mereka kecuali Iblis.
Dia adalah dari golongan jin,” (Terj. Qs. Al Kahfi: 50). Ia adalah
nenek moyang jin sebagaimana Adam adalah nenek moyang manusia. Di samping itu,
jin diciptakan dari api, sedangkan para malaikat diciptakan dari cahaya. Jin
juga mempunyai keturunan, sedangkan para malaikat tidak mempunyai keturunan. Al
Baghawi lebih menguatkan bahwa Iblis termasuk golongan malaikat karena perintah
sujud tertuju kepada para malaikat. Adapun maksud firman Allah Ta’ala, “Maka
sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin,” adalah dari
golongan malaikat yang menjaga surga. Sa’id bin Jubair berpendapat, maksudnya
termasuk golongan yang beramal di surga. Ada pula yang berpendapat, bahwa
sekelompok malaikat ada yang diciptakan dari api yang disebut dengan jin karena
tersembunyi dari pandangan mata, dan Iblis bagian dari mereka, wallahu a’lam.
Nasihat
Ibnul
Qayyim berkata, "Janganlah tertipu dengan tempat yang nyaman, karena tidak
ada tempat yang lebih nyaman daripada surga, sehingga Adam memperoleh apa yang
ia dapatkan. Jangan pula tertipu dengan banyak ibadah, karena Iblis mendapatkan
apa yang ia dapatkan sekarang setelah sebelumnya lama beribadah. Jangan tertipu
dengan banyaknya ilmu, karena Bal'am bin Ba'ura mendapatkan apa yang ia
dapatkan setelah sebelumnya mengenal Ismul A'zham (nama Allah yang agung).
Janganlah tertipu dengan bertemu dengan orang-orang saleh dan bisa melihat
mereka, karena tidak ada orang yang lebih baik daripada Nabi Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam, namun musuh-musuhnya dan kaum munafik tidak dapat
mengambil manfaat dari bertemu dengan
Beliau." (Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim 1/510)
[4] Ayat ini menujukkan bahwa sombong adalah pokok
kemaksiatan, pokok semua musibah yang menimpa manusia, dan merupakan
kemaksiatan pertama yang dilakukan.
[5] Iblis enggan untuk sujud karena sombong dan dengki,
sehingga ia termasuk golongan yang ingkar kepada Allah dan durhaka kepada
perintah-Nya. Mayoritas mufassir berkata tentang tafsir ayat di atas, “Dalam
pengetahuan Allah yang terdahulu, Iblis termasuk golongan yang kafir yang telah
pasti kesengsaraan baginya.”
Qatadah berkata, “Musuh Allah yaitu Iblis
dengki kepada Adam ‘alaihis salam karena kemuliaan yang Allah berikan
kepadanya, ia berkata, “Aku berasal dari api, sedangkan orang ini dari tanah.”
Oleh karena itu, dosa pertama adalah sombong; musuh Allah ini sombong untuk
sujud kepada Adam ‘alaihis salam.”
Ibnu Katsir berkata, “Telah sah dalam hadits
Shahih, yaitu (hadits):
لَا يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak
masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun seberat
biji sawi."
Dan dalam diri Iblis terdapat kesombongan,
kekafiran dan pembangkangan sehingga ia diusir dan dijauhkan dari rahmat dan
tempat suci.”
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Orang
yang hasad mirip dengan iblis dan sebenarnya dia memang pengikutnya, karena dia
menuntut seperti yang diinginkan oleh setan berupa kerusakan pada diri manusia dan
hilangnya nikmat Allah dari mereka, sebagaimana iblis hasad kepada Adam karena
kemuliaan dan keutamaannya, dan tidak mau sujud kepadanya karena dengki. Dengan
demikian, orang yang hasad sebenarnya adalah tentara Iblis." (Bada'iul
Fawaid 2/234)
Faedah:
Ada seorang yang berkata, "Sesungguhnya
sebab aku rutin melakukan shalat selama bertahun-tahun adalah karena aku
mendengar seorang yang saleh berkata kepada orang yang tidak mau menjalankan
shalat, "Wahai Fulan! Musibah yang menimpamu ini lebih besar daripada
musibah yang menimpa iblis. Hal itu karena iblis menolak bersujud kepada Adam,
sedangkan engkau menolak sujud kepada Allah Rabbul alamin." (Telegram Jawahir
Min Aqwalis Salaf).
Dari ayat 34 di atas kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) mengingatkan karunia Allah
berupa perintah yang di dalamnya terdapat dorongan untuk mensyukuri nikmat itu,
(2) peringatan terhadap sifat sombong dan hasad yang menyebabkan Iblis dilaknat
dan berputus asa, serta yang menyebabkan orang-orang Yahudi enggan masuk Islam,
(3) permusuhan Iblis kepada manusia, (4) Iblis adalah musuh manusia, (5)
menerangkan, bahwa maksiat itu terkadang berupa kekufuran atau yang mengantarkan kepada kekufuran.
[6] Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa susunan ayat
menunjukkan bahwa Hawa’ diciptakan sebelum Adam masuk ke surga, dan hal itu
ditegaskan pula oleh Muhammad bin Ishaq, ia berkata, “Ketika Allah telah
mencela Iblis, maka Allah menghadap kepada Adam dan Dia telah mengajarkan
kepadanya nama-nama semuanya, Dia berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah
kepada mereka nama-nama benda itu…dst. Sampai ayat, “Sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Ia (Muhammad bin Ishaq) berkata,
“Selanjutnya Adam dijadikan mengantuk berdasarkan keterangan yang kami dapatkan
dari Ahli Kitab dari pemegang Kitab Taurat serta dari kalangan Ahli Ilmu dari
Ibnu Abbas dan lainnya, lalu Allah mengambil salah satu tulang rusuknya sebelah
kiri dan menggantinya dengan daging, sedangkan Adam dalam keadaan tidur; tidak
bangun dari tidurnya, sehingga Allah menciptakan dari tulang rusuknya istrinya
yaitu Hawa’, lalu dibentuk-Nya menjadi wanita agar Adam merasa tenteram
dengannya. Setelah Dia menghilangkan kantuknya dan Adam bangun dari tidurnya,
Adam melihat Hawa di sebelahnya, lalu ia berkata –berdasarkan keterangan
mereka, wallahu a’lam-, “Dagingku, darahku, dan istriku.” Maka Adam pun merasa
tenteram dengannya. Setelah Allah memberikan pasangan kepadanya dan menjadikan
dirinya tenteram, Dia berfirman secara langsung, “Wahai
Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat
(berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati
pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 53)
Dalam ayat ini
terdapat isyarat, bahwa kampung halaman manusia yang hakiki adalah surga,
tempat tinggal nenek moyang mereka yang pertama, dan bahwa bumi yang kita
tempati adalah tempat perantauan kita, maka usahakan kita dapat pulang kampung
ke sana, dan tidak ada cara agar dapat kembali ke sana kecuali dengan mengikuti
petunjuk Allah yang ada dalam kitab-Nya dan dalam sunnah Rasul-Nya shallallahu
alaihi wa sallam.
[7] Pohon
yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan namanya, sebab Al Quran
dan As Sunnah tidak menerangkannya. Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari rahimahullah
berkata, “Yang benar dalam hal ini adalah mengatakan, bahwa Allah ‘Azza wa
Jalla melarang Adam dan istrinya memakan pohon tertentu di antara pohon-pohon
surga tidak semuanya, lalu keduanya makan daripadanya, namun tidak ada
pengetahuan bagi kita tentang pohon tersebut secara pastinya, karena Allah
tidak mengadakan kepada hamba-hamba-Nya dalil terhadap hal itu, baik dalam Al
Quran maupun As Sunnah yang sahih. Memang ada yang berpendapat, bahwa pohon itu
adalah pohon gandum, ada pula yang berpendapat, bahwa pohon itu adalah pohon
anggur dan ada pula yang berpendapat, bahwa pohon itu adalah pohon Tin, dan
bisa saja salah satunya, tetapi hal itu adalah pengetahuan yang jika diketahui
tidak memberi manfaat bagi orang yang tahu, dan kalau pun tidak tahu, maka tidak
merugikan orang yang tidak tahu, wallahu a’lam.” Pernyataan ini juga
dikuatkan oleh Ar Raazi dan lainnya, termasuk Al Hafizh Ibnu Katsir (lihat Al
Mishbahul Munir hal. 53).
Mendekati pohon itu bagi Adam dan Hawa
merupakan kemaksiatan sehingga mereka akan tergolong orang-orang yang melanggar
perintah Allah. Allah Ta'ala melarang memakan pohon itu sebagai ujian atau
karena hikmah yang kita tidak mengetahuinya.
[8]
Adam dan Hawa dengan tipu daya dan bisikan setan akhirnya memakan buah pohon
yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga. Tentang
bisikan setan kepada Nabi Adam 'alaihis salam disebutkan dalam surat Al A'raaf:
20-21 dan surat Thaahaa: 120.
Yang
dimaksud dengan setan di ayat ini adalah iblis yang disebut dalam surat Al
Baqarah ayat 34 di atas.
'Ashim bin Bahdalah, yakni Ibnu Abin Nujud
membaca ayat “Fa azallahumaa” dengan “Fa azaalahumaa” (dipanjangkan
zainya dan tidak ditasydidkan).
[9] Yaitu
kenikmatan, kemewahan, dan kemuliaan hidup dalam surga. Menurut Ibnu Katsir,
maksudnya pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang enak, dan
peristirahatan.
Faedah:
Imam Muslim dan Nasa’i meriwayatkan dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
خَيْرُ يَوْمٍ
طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ
أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
"Sebaik-baik
hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum'at, karena pada hari itu Adam
diciptakan. Pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula
ia dikeluarkan daripadanya."
Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia
berkata, “Adam tidaklah tinggal di surga kecuali antara shalat Ashar sampai
tenggelam matahari.” (Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat dua syaikh (Bukhari-Muslim),
namun keduanya tidak menyebutkannya).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, "Di antara sempurnanya perbuatan ihsan Allah Subhanahu wa Ta'ala
kepada hamba-hamba-Nya adalah merasakan kepada mereka pahitnya keadaan yang
hancur sebelum merasakan manisnya keadaan ketika kembali membaik, sebagaimana
ketika Dia hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam, Dia merasakan kepadanya pahitnya keluar dari
surga dan merasakan betapa menderitanya hidup di dunia ini yang nikmatnya bercampur
dengan penderitaan.
Oleh karena itu, jika Dia menimpakan penderitaan kepada
hamba-Nya yang mukmin, maka maksudnya hendak memperbaikinya. Dia tidaklah
menahan nikmat itu kecuali untuk memberikan kepadanya. Dia tidaklah mengujinya
kecuali untuk menjaganya. Dia tidaklah mewafatkannya kecuali untuk
menghidupkannya. Dia tidaklah memperkeruh dunianya melainkan agar dirinya cinta
kepada akhirat. Dan Dia tidak mengujinya dengan sikap antipati manusia kecuali
untuk mengembalikan kepada-Nya. (Mukhtashar
Ash Shawa'iq Al Mursalah)
Abu Ishaq Al Huwaini berkata, "Adam
alaihissalam keluar dari surga karena satu dosa, iblis pun dikekalkan di neraka
karena satu dosa, apakah tidak mungkin jika engkau dihukum karena satu dosa?
Maka janganlah meremehkan dosa yang kamu lakukan, dan janganlah meremehkan
perbuatan baik yang engkau lakukan."
Al Hasan Al Bashri rahimahullah
berkata, "Dunia adalah tempat mengkhawatirkan, bukankah diturunkannya Adam
dari surga ke dunia sebagai sanksi terhadapnya? Siapa yang memuliakan dunia
maka akan terhinakan, dan dunia memiliki korban-korban di setiap waktunya, maka
jadilah orang yang mengobati lukanya; yang bersabar di atas pahitnya obat agar
tidak lama sembuhnya penyakit." (Hilyatul Awliya karya Abu Nu'aim
2/148)
Kesamaran dan jawabannya
Jika ada yang bertanya, “Kalau memang surga
yang disebutkan di ayat ini adalah surga yang di langit sebagaimana yang
dikatakan jumhur ulama, lalu mengapa Iblis bisa masuk ke dalam surga itu?
Jawab: Di antara ulama berdasarkan alasan
tersebut ada yang berpendapat, bahwa surga tersebut adalah surga di bumi, bukan
surga di langit sebagaimana disebutkan pendapat ini secara panjang lebar oleh
Ibnu Katsir di awal kitab Al Bidayah wan Nihayah dan di dalam kitabnya Qashashul
Anbiya. Namun jumhur ulama berpendapat, bahwa surga tersebut adalah surga
di langit, dan mereka menjawab pertanyaan di atas dengan beberapa jawaban yang
di antaranya, bahwa Iblis dilarang masuk surga dalam keadaan mulia, tetapi jika
dalam keadaan diam-diam dan terhina, maka tidak dihalangi. Oleh karena itu,
sebagian mereka (di antara jumhur ulama) berkata, bahwa sebagaimana dalam kitab
Taurat, Iblis itu masuk ke dalam mulut ular ke surga. Yang lain ada yang
berpendapat, bisa saja Iblis membisikkan keduanya saat Iblis berada di luar
pintu surga, atau Iblis membisikkan keduanya, ketika itu Iblis di bumi,
sedangkan keduanya di langit, hal ini seperti yang disebutkan Az Zamakhsyari
dan lainnya, wallahu a’lam. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 54)
[10] Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia
berkata, “Adam ‘alaihis salam diturunkan ke daerah yang bernama Dihn, yang
terletak antara Mekah dan Tha’if.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al Hasan Al
Bashri ia berkata, “Adam diturunkan di
Wallahu a’lam.
[11] Yakni Adam dan keturunannya menjadi musuh bagi Iblis
dan keturunannya, dan sudah menjadi maklum bahwa seorang yang menjadi musuh
akan berusaha sekuat tenaga menimpakan madharat kepada musuhnya, mendatangkan
keburukan dengan berbagai cara, dan menghalanginya dari memperoleh kebaikan. Bagaimana
menurut kita, tentang Iblis dan bala tentaranya yang memiliki pengalaman
ratusan bahkan ribuan tahun dalam menyesatkan manusia? Maka tidak dapat lolos
dari godaannya kecuali dengan pertolongan Allah dan mengikuti petunjuk-Nya.
Dalam ayat tersebut terdapat peringatan
Allah Ta'ala kepada bani Adam agar waspada terhadap tipu daya setan.
[12] Ayat ini menerangkan bahwa dunia yang kita
tempati ini bukanlah tempat tinggal yang selamanya dan bahwa kita hidup di
dunia hanya sementara sebagai ladang beramal menuju akhirat. Demikian pula
menunjukkan, bahwa bumi yang kita tempati ini sudah cukup menjadi tempat
tinggal manusia selama hidup di dunia yang di sana kita dapat menikmati
berbagai kenikmatan yang ada, sehingga tidak perlu berpindah ke bulan atau
planet lain.
Nasihat
Syaikh Aidh Al Qarni berkata,
نَحْنُ لاَ نَمْلِكُ
تَغْيِيْرَ الْمَاضِي
Kita tidak bisa merubah yang telah terjadi
وَ لاَ رَسْمَ
الْمُسْتَقْبَل ..
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
فَلِمَاذَا نَقْتُلُ
أَنْفُسَنَا حَسْرَةً
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan
penyesalan?
عَلَى شَيْئٍ لاَ
نَسْتَطِيعُْ تَغِْييْرَهُ؟
Atas apa yang sudah tidak bisa kita rubah
الْحَيَاةُ قَصِْرَةٌ
وَأَهْدَافُهَا كَثِيْرَةٌ
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
فَانْظُرْ اِلَى
السَّحَابِ وَ لاَ تَنْظُرْ اِلَى التُّرَابِ ..
Maka, tataplah awan dan jangan melihat ke
tanah
اِذَا ضَاقَتْ بِكَ
الدُّرُوْبُ فَعَلَيْكَ بِعَلاَّمِ الْغُيُوْبِ
وَ قُلِ الْحَمْدُ
للهِ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ
Kalau merasa jalan sudah sempit, kembalilah
ke Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib! Dan ucapkan alhamdulillah atas apa
yang terjadi.
سَفِيْنَةُ تَايْتَنِك
بَنَاهَا مِئَاتُ الْأَشْخَاصِ
Kapal Titanic dibuat oleh ratusan orang
وَسَفِيْنَةُ
نُوْحٍ بَنَاهَا شَخْصٌ وَاحِدٌ
Sedang kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam dibuat
hanya oleh satu orang
الْأُوْلَى غَرَقَتْ
وَالثَّانِيَةُ حَمَلَتِ الْبَشَرِيَّةَ
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi
Nuh menyelamatkan umat manusia
اَلتَّوْفِيْقُ مِنَ
اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Taufik hanya dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala
نَحْنُ لَسْنَا
السُّكَانَ الْأَصْلِيِّيْنَ لِهَذَا الْكَوْكَبِ الْأَرْضِ !!
بَلْ نَحْنُ نَنْتَمِي
إِلَى الْجَنَّةِ
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita
adalah surga
حَيْثُ كَانَ
أَبُوْنَا آدَمُ يَسْكُنُ فِي الْبِدَايَةِ لَكِنَّنَا نَزَلْنَا هُنَا مُؤَقَّتاً
لِكَيْ نُؤَدِّي اخْتِبَارًا قَصِيْرًا ثُمَّ نَرْجِعُ بِسُرْعَةٍ ..
Tempat, dimana nenek moyang kita, Adam,
tinggal pertama kali. Kita tinggal di sini hanya untuk sementara, untuk
mengikuti ujian lalu segera kembali.
فَحَاوِلْ أَنْ
تَعْمَلَ مَا بِوُسْعِكَ لِتَلْحَقَ بِقَافِلَةِ الصَّالِحِيْنَ
الَّتِي سَتَعُوْدُ
إِلَى وَطَنِنَا الْجَمِيْلِ الْوَاسِعِ
وَ لاَ تُضَيِّعْ
وَقْتَكَ فِي هَذَا الْكَوْكَبِ الصَّغِيْرِ
Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah orang-orang yang saleh,
yang akan kembali ke tanah air yang sangat indah dan luas.
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil
ini!
الْفِرَاقُ: لَيْسَ
السَّفَرُ، وَلاَ فِرَاقُ الْحُبِّ، حَتَّى الْمَوْتُ لَيْسَ فِرَاقًا
سَنَجْتَمِعُ فِي
الْآخِرَةِ. الْفِرَاقُ هُوَ: أَنْ يَكُوْنَ أَحَدُنَا فِي الْجَنَّةِ،
وَالْآخَرُ فِي
النَّارِ جَعَلَنِي رَبَّي وَاِيَّاكُمْ مِنْ سُكَّانِ جَنَّتِهِ..
Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan
yang jauh,
Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan.
Sebab, kita akan bertemu lagi di akhirat. Sesungguhnya perpisahan yang hakiki
adalah jika salah seorang di antara kita di surga sedangkan yang lain di
neraka. Semoga Allah menjadikan diriku dan dirimu sebagai penghuni surga-Nya, Aamin.
[13] Tentang
beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Allah yang diterima oleh Adam sebagian Ahli
Tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertobat, yaitu ucapan "Rabbanaa
zhalamnaa anfusanaa…dst (lihat
As
Suddiy meriwayatkan dari beberapa orang yang menceritakan kepadanya dari Ibnu
Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Kemudian
Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya,” ia
berkata: Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menciptakanku
dengan Tangan-Mu?” Lalu dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam berkata, “Engkau juga
telah meniupkan ruh(ciptaan)-Mu kepadaku?” Dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam
berkata, “Aku juga bersin, lalu Engkau berkata, “Yarhamukallah (semoga Allah
merahmatimu), dan rahmat-Mu mendahului kemurkaan-Mu?” Dikatakan kepadanya,
“Ya.” Adam berkata, “Dan Engkau telah mencatat bagiku bahwa aku akan
mengerjakan hal ini?” Dikatakan kepadanya, “Ya.” Adam berkata lagi,
“Beritahukanlah kepadaku, jika aku bertobat, apakah Engkau akan mengembalikanku
ke surga?” Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Ya.” (Atsar ini diriwayatkan
pula oleh Al ‘Uufi, Sa’id bin Jubair, Sa’id bin Ma’bad dari Ibnu Abbas seperti
ini. Hakim juga meriwayatkan dalam Mustadraknya dari hadits Ibnu Jubair
dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari dan
Muslim) tidak menyebutkan.”)
[14] Tobat dari-Nya ada dua; diberi-Nya taufiq (dorongan)
untuk bertobat dan diterima-Nya tobat seseorang ketika telah terpenuhi
syarat-syaratnya. Diberi-Nya taufiq untuk bertobat termasuk kasih sayang-Nya
sebagaimana diajarkan-Nya kepada Adam kalimat untuk bertobat. Ayat ini seperti
firman Allah Ta’ala, “Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima
tobat dari hamba-hamba-Nya…dst.” (Terj. Qs. At Taubah: 104) dan ayat-ayat lainnya
yang menunjukkan, bahwa Dia mengampuni dosa dan menerima tobat orang yang
bertobat. Hal ini termasuk kelembutan Allah kepada makhluk-Nya dan rahmat-Nya
kepada mereka, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia Maha
Penerima tobat lagi Maha Pengampun.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
“Betapa banyak orang yang jatuh ke dalam dosa, lalu sadar dan memohon ampunan
kepada Allah, maka setelah bertobat keadaannya lebih baik daripada sebelumnya.”
(Al Qaulul Mufid 3/178)
[15] Dari ayat
35-37 di atas, kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) kemuliaan
Nabi Adam alaihis salam dan keturunannya di hadapan Allah, (2) buruknya maksiat
dan pengaruhnya yang dapat merubah kenikmatan menjadi hukuman, (3) permusuhan
setan kepada manusia dan wajibnya manusia menyadari hal itu agar tidak
terpengaruh oleh bisikannya, (4) wajibnya bertobat dari segala dosa, yaitu
dengan istighfar (memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla), meninggalkannya,
dan menyesal terhadap perbuatan itu, serta berniat keras untuk tidak
mengulanginya lagi.
[16] Kaum Mu’tazilah menyangka bahwa surga yang Adam dan
Hawa diturunkan daripadanya adalah sebuah kebun yang tinggi di bumi, ini adalah
pendapat yang keliru, karena susunan Al Qur’an menunjukkan, bahwa itu adalah
surga yang merupakan tempat yang penuh kenikmatan yang disiapkan untuk
orang-orang yang bertakwa di akhirat, wallahu a’lam.
[17] Dari rasul dan kitab yang dibawanya kepada kamu wahai
jin dan manusia.
[18] Yaitu dengan beriman kepada rasul tersebut dan kitab
yang dibawanya serta menjadikannya sebagai petunjuk; dengan membenarkan berita
yang disampaikannya dan yang tercantum dalam kitab itu serta mengikuti perintah
yang ada dan menjauhi larangannya.
[19] Terhadap hal yang akan mereka hadapi dari
perkara akhirat.
[20] Terhadap hal yang telah luput bagi mereka dari perkara
dunia.
Khawatir itu terjadi karena sesuatu yang
tidak disukainya bisa menimpanya di masa mendatang, sedangkan kesedihan terjadi
karena sesuatu yang tidak disukai telah menimpa di masa lalu. Di dalam ayat
ini, Allah Ta'ala menghilangkan kedua hal tersebut yang menunjukkan bahwa
mereka akan memperoleh keamanan yang sempurna dan memperoleh kebahagiaan. Di
dalam ayat lain, yaitu surat Thaahaa ayat 23 diterangkan bahwa orang yang mau
mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, yakni
menunjukkan bahwa ia akan memperoleh petunjuk (tidak akan tersesat) dan akan
memperoleh kebahagiaan (tidak akan celaka). Dengan demikian, orang yang mau
mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh kemananan, petunjuk, dan kebahagiaan
di dunia dan akhirat –nas'alullah an yaj'alanaa minhum-.
[21] Setelah Allah menjanjikan keamanan dari azab
bagi yang mau mengikuti petunjuk-Nya, maka Dia menyebutkan orang yang akan
memperoleh azab-Nya.
[22] Yaitu Al Qur’an.
[23] Dalam ayat tersebut digunakan lafaz
"as-haab" jamak dari kata shaahib yang artinya
"kawan", yakni mereka itu kawan-kawan neraka yang selalu bersama
dengannya sebagaimana bersamanya seseorang dengan kawannya. Mereka tidak akan
keluar darinya dan tidak akan mati.
[24] Ayat 38 dan 39 menunjukkan bahwa manusia dan
jin terbagi dua; ada yang berbahagia dan ada yang celaka. Pada masing-masing
ayat tersebut disebutkan sifat golongan yang berbahagia dan golongan yang
celaka serta amalan yang menjadi sebabnya, demikian juga menunjukkan bahwa jin
dan manusia sama dalam hal pahala dan siksa serta dalam hal kewajiban
menjalankan perintah dan menjauhi larangan.
Dari ayat 38-39 kita juga
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) maksiat menyebabkan
kesengsaraan, (2) mengamalkan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu
alaihi wa sallam merupakan sebab keamanan dan kebahagiaan, sebaliknya berpaling
dari keduanya merupakan sebab ketakutan dan kesengsaraan, (3) balasan terhadap
kekafiran dan sikap mendustakan ayat-ayat-Nya menyebabkan pelakunya kekal di
neraka, wal ‘iyadz billah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar