Selasa, 23 Juni 2026

Seri 16 (Surah Al Baqarah ayat 49-57)

 

Seri (16)

 


Ayat 49-57: Membicarakan secara rinci nikmat-nikmat Allah kepada Bani Israil, dimulai dari kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dan selamatnya Beliau dan Bani Israil dari Fir’aun, pemaafan dari Allah ‘Azza wa Jalla terhadap penyembahan Bani Israil kepada patung anak sapi, dihidupkan-Nya mereka setelah disambar halilintar serta diberi-Nya nikmat Al Mann & As Salwa.

 

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (49)  

49. [1]Dan (ingatlah nikmat Kami)[2] ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun[3]. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu[4]. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu[5] dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu[6]. Pada yang demikian itu terdapat cobaan[7] yang besar dari Tuhanmu[8].

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (50)  

50. Dan (ingatlah nikmat Kami), ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun sedangkan kamu menyaksikan[9].

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (51)  

51. Dan (ingatlah)[10], ketika Kami menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat, setelah) empat puluh malam[11], kemudian kamu menjadikan (patung) anak sapi[12] (sebagai sembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang yang zalim[13].

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (52) 

52. Kemudian Kami memaafkan kamu setelah itu[14], agar kamu bersyukur[15].

وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (53)   

53. Dan (ingatlah nikmat Kami), ketika Kami memberikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan Furqan[16], agar kamu memperoleh petunjuk[17].

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (54) 

54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu[18]. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu[19]. Dia pun menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (55)  

55. Dan (ingatlah)[20] ketika kamu berkata, "Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu[21] sebelum kami melihat Allah dengan jelas[22], maka halilintar menyambarmu[23], sedang kamu menyaksikan"[24].

ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (56) 

56. Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati[25], agar kamu bersyukur.

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57)  

57. Dan Kami menaungi kamu dengan awan[26], dan Kami menurunkan kepadamu "mann" dan "salwa"[27]. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu[28]. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri[29].


[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada Bani Israil secara garis besar di ayat 47, maka di ayat ini dan setelahnya Allah merincikan nikmat-nikmat itu.

[2] Ayat ini dan setelahnya menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada bani Israil.

[3]  Fir'aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir pada masa lalu, sebagaimana Kaisar gelar bagi raja-raja Romawi, Kisra gelar bagi raja-raja Persia, Tubba’ gelar bagi raja-raja Yaman, dan Najasyi gelar bagi raja Habasyah. Menurut sejarah, Fir'aun pada masa Nabi Musa 'alaihis salam adalah Menepthan (1232-1224 SM) atau Walid bin Muh’ab bin Rayyan.

[4] Menurut Al Baghawi, bahwa Fir’aun menjadikan Bani Israil sebagai para pelayan. Di antara mereka ada yang ditugaskan membuat bangunan, ada pula yang ditugaskan bercocok tanam dan menggarap tanah, dan ada pula yang melayaninya. Jika di antara mereka ada yang tidak mendapatkan tugas, maka dia berkewajiban membayarkan pajak kepada Fir’aun. Bisa juga maksud firman Allah Ta’ala “Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu,” berupa menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya sebagaimana pada lanjutan ayatnya.

[5] Ibnu Katsir berkata, “Hal itu karena Fir’aun -semoga Allah melaknatnya- bermimpi dengan mimpi yang membuatnya takut; ia bermimpi melihat sebuah api yang keluar dari Baitul Maqdis, lalu masuk menimpa rumah orang-orang Qibthi di negeri Mesir selain rumah-rumah orang Bani Israil, dimana maksudnya adalah bahwa hancurnya kerajaannya nanti oleh salah seorang dari Bani Israil. Ada pula yang berkata, “Bahkan teman-teman bicara Fir’aun di malam hari berbicara di dekatnya bahwa Bani Israil sedang mengharapkan adanya seorang dari kalangan mereka yang tampil, dimana ia memiliki kekuasaan dan kedudukan, maka ketika itu Fir’aun la’natullah ‘alaih memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil dan agar anak-anak perempuannya dibiarkan, serta memerintahkan agar orang-orang Bani Israil dipekerjakan dengan pekerjaan berat dan hina.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 59-60)

[6] Untuk dijadikan pelayan dan pekerja keras.

[7]  Di antara ulama ada yang menafsirkan kata "balaa" dengan ihsan atau nikmat, sehingga maksud "wa fii dzaalikum" (pada yang demikian itu) kembalinya bukan kepada siksaan yang ditimpakan Fir'aun, tetapi kepada "penyelamatan Allah kepada mereka dari cengkeraman Fir'aun," yakni diselamatkannya kamu dari cengkeraman Fir'aun adalah nikmat yang besar dari Tuhanmu.

[8] Oleh karena itu, diselamatkan-Nya mereka dari cengkeraman Fir'aun merupakan nikmat yang besar, yang mengharuskan disyukuri sepanjang masa oleh mereka dan oleh generasi setelah mereka. Di antara tanda bersyukur adalah dengan mengikuti seruan-Nya; beriman kepada kitab-Nya yaitu Al Qur'an dan beriman kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[9] Sewaktu Nabi Musa alaihis salam membawa Bani Israil keluar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir'aun, mereka harus melalui laut merah sebelah Utara. Maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa sehingga terbelahlah laut itu menjadi dua belas bagian dan terbentanglah jalan raya di hadapan mereka, dan Musa bersama kaumnya melalui jalan itu dengan selamat sampai ke seberang. Sedangkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka, sedangkan Bani Israil menyaksikan peristiwa tenggelamnya Fir'aun, sehingga hati mereka lega. Ini semua merupakan nikmat Allah kepada mereka yang patut mereka syukuri.

Faedah:

Peristiwa penenggelaman Fir’aun dan penyelamatan Bani Israil terjadi pada hari Asyura (10 Muharram),  hal ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَ قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ قَالَ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ قَالَ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصَوْمِهِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, Beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, lalu Beliau bertanya, "Hari apa ini, sehingga kalian berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang baik. Hari ketika Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka,” lalu Musa berpuasa padanya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun berpuasa (pada hari tersebut) dan memerintahkan (para sahabat) untuk berpuasa." (Hr. Ahmad. Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

[10] Maksudnya menurut Ibnu Katsir adalah, “Dan ingatlah nikmat-Ku kepadamu ketika Aku memaafkan kamu saat kamu menyembah patung anak sapi setelah Musa pergi untuk (bermunajat) pada waktu yang ditentukan Tuhannya menjelang habis waktu perjanjian, yaitu 40 hari sebagaimana yang disebutkan di surat Al A’raaf dalam firman-Nya, “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) setelah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi),…dst.” (Al A’raaf: 142). Ada yang mengatakan, bahwa bulan itu adalah bulan Dzulqa’dah secara penuh dan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah, dan hal itu terjadi setelah mereka lolos dari Fir’aun dan selamat dari (tenggelam di) lautan.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 61).

[11]  Suatu tenggang waktu yang dijanjikan Allah untuk menerima petunjuk (Taurat), tetapi umat Nabi Musa 'alaihis salam tidak sabar menunggunya, sehingga mereka menyembah patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri.

Ayat ini menunjukkan, bahwa kitab Taurat diturunkan setelah mereka diselamatkan dari Fir’aun dan bala tentaranya.

[12] Patung anak sapi itu dibuat mereka dari emas untuk disembah.

Oleh karena membuat patung menjadi sarana disembahnya patung tersebut, maka Islam melarang membuat patung, memajangnya, menjual-belikannya, dan menyimpannya di rumah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الخَمْرِ، وَالمَيْتَةِ وَالخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ»

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan jual-beli arak, bangkai, babi, dan patung.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Bahkan pembuatnya akan mendapatkan siksaan pedih pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ المُصَوِّرُونَ»

“Sesungguhnya orang yang paling pedih azabnya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah para pelukis (makhluk bernyawa).” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Dan malaikat rahmat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat patung. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ الصُّورَةُ

“Para malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar (makhluk bernyawa).”

[13] Karena menyembah selain Allah. Syirik disebut zalim karena di dalamnya terdapat pengarahan ibadah bukan kepada yang berhak diibadahi.

[14] Ayat ini menunjukkan hilm (santun) Allah Azza wa Jalla; Dia tidak langsung memberikan hukuman, demikian pula menunjukkan luasnya rahmat-Nya meskipun dosa-dosa manusia begitu banyak.

[15]  Yakni terhadap nikmat-nikmat Allah Ta’ala kepadamu. Syukur adalah melakukan ketaatan dengan semua anggota badan, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Al Hasan berkata, “Syukur nikmat adalah dengan menyebut dan mengingatnya.”

Syukur juga adalah mengakui nikmat Allah dengan hatinya bahwa nikmat itu berasal dari-Nya, memuji Allah terhadapnya dengan lisannya dan menyebut nama-Nya, dan mengarahkan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala bukan untuk kemaksiatan serta menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sedangkan kufur adalah kebalikan dari itu.

[16]  Keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, dan antara petunjuk dan kesesatan, serta antara yang halal dan yang haram.  Kata furqan (yang membedakan antara yang hak dan yang batil) ini kembalinya kepada kitab Taurat. Diberikan-Nya kitab Taurat kepada mereka juga setelah mereka lolos dari Fir’aun dan selamat dari tenggelam di lautan sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala di surat Al Qashash: 43.

[17]  Dari ayat 49-53 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) mengingat nikmat dapat membantu untuk mensyukurinya, dan syukur adalah tujuan dari mengingat nikmat, (2) Allah Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya karena hikmah-hikmah yang dalam. Oleh karena itu, tidak boleh protes kepada-Nya, (3) syirik merupakan kezaliman, karena di dalamnya terdapat penempatan ibadah bukan pada tempatnya, (4) pengutusan para rasul dan penurunan kitab dan hikmah sebagai petunjuk bagi manusia agar mereka dapat mengenal Rabb mereka dan mengetahui cara mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

[18] Membunuh dirimu’ ada yang mengartikan, bahwa orang-orang yang tidak menyembah patung anak sapi itu membunuh orang yang menyembahnya. Ada yang mengartikan, bahwa orang yang menyembah patung anak sapi itu saling bunuh-membunuh, dan ada juga yang mengartikan, bahwa mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertobat.

Nasa’i, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya tobat mereka adalah masing-masing dari mereka melakukan pembunuhan kepada orang yang mereka jumpai baik bapak maupun anak, lalu ia bunuh dengan pedang dan tidak peduli siapa yang terbunuh di tempat itu, maka mereka yang tersembunyi dosanya bagi Musa dan Harun pun bertobat, yang Allah mengetahui tentang dosa mereka, mereka mengakuinya dan melakukan hal yang diperintahkan, maka Allah mengampuni orang yang membunuh dan orang yang dibunuh.”

Qatadah berkata, "Allah memerintahkan kaum (Musa) dengan perintah yang keras, maka mereka bangkit saling berhadapan dengan pisau, lalu sebagian mereka membunuh yang lain, sehingga Allah menyampaikan kepada mereka hukuman-Nya, lalu jatuhlah pisau-pisau dari tangan mereka, dan Allah menghentikan pembunuhan. Maka Dia memberikan tobat kepada yang masih hidup dan memberikan pahala syahid kepada yang terbunuh."

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Musa berkata kepada kaumnya, “Karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia pun menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." Ibnu Abbas berkata, “Musa memerintahkan kaumnya karena perintah Tuhannya ‘Azza wa Jalla agar mereka membunuh diri mereka. Ibnu Abbas melanjutkan, “Musa memberitahukan hal itu kepada orang-orang yang menyembah patung anak sapi, maka mereka pun duduk, lalu orang yang tidak menyembah patung itu berdiri dan mengambil pisau masing-masing dan dipegang oleh tangan mereka, kemudian mereka ditimpa oleh kegelapan yang dahsyat, lalu sebagian mereka saling bunuh-membunuh, maka hilanglah kegelapan dari mereka dengan keadaan 70.000 orang dari mereka terbunuh; setiap yang terbunuh dari mereka diterima tobatnya dan yang masih hidup diterima pula tobatnya.”

[19]  Daripada kekal di neraka selama-lamanya karena perbuatan syirk.

[20] Maksudnya menurut Ibnu Katsir adalah, “Dan ingatlah nikmat-Ku kepadamu ketika Aku membangkitkan kamu setelah kamu dimatikan ketika kamu meminta untuk melihat-Ku secara nyata dan dengan mata kepala, dimana hal itu tidak sanggup dilakukan olehmu dan oleh orang-orang sepertimu," sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Juraij.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 61)

[21] Mereka tidak percaya bahwa perkataan yang disampaikan Musa dari Allah adalah firman Allah Ta'ala.

[22] Maksudnya, melihat Allah dengan mata kepala.

[23]  Yang menjadikan mereka mati atau pingsan disebabkan dosa mereka itu dan lancangnya mereka terhadap Allah Ta'ala, karena permintaan semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan (kesombongan) mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai hukuman dari Allah Azza wa Jalla.

Tentang firman Allah Ta’ala, “Maka halilintar menyambarmu,” As Suddiy berkata, “Maka mereka mati, lalu Musa berdiri menangis dan berdoa kepada Allah sambil berkata, “Ya Rabbi, apa yang akan aku katakan kepada Bani Israil jika aku datang kepada mereka, sedangkan orang-orang pilihan mereka telah binasa. Kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?” Maka Allah mewahyukan kepada Musa, bahwa mereka yang berjumlah tujuh puluh orang itu termasuk orang-orang yang menyembah patung anak sapi, kemudian Allah menghidupkan mereka, lalu mereka pun bangkit, dan ada seorang yang tetap hidup, ia melihat satu sama lain bagaimana mereka hidup (kembali), As Suddiy berkata, “Itulah maksud firman Allah Ta’ala, “Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.

Ar Rabii’ bin Anas berkata, “Matinya mereka adalah sebagai hukuman bagi mereka, lalu mereka dibangkitkan setelah mati agar mereka menyempurnakan ajal mereka.” Hal ini juga dikatakan oleh Qatadah.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dalam menafsirkan ayat di atas berkata, “Nabi Musa ketika pulang dari sisi Tuhannya dengan membawa lauh (kepingan batu atau kayu) yang di sana ia tulis Taurat, ia mendapatkan kaumnya menyembah patung anak sapi, maka Nabi Musa memerintahkan mereka membunuh diri mereka sendiri dan mereka pun melakukannya, lalu Allah menerima tobat mereka, Musa pun berkata, “Sesungguhnya lauh-lauh ini terdapat kitab Allah, di dalamnya terdapat perintah yang Dia perintahkan kepada kamu dan larangan-Nya yang Dia larang kepada kamu.” Mereka pun berkata, “Siapakah yang mau percaya kepada ucapanmu? Demi Allah, kami tidak akan memegangnya sampai kami melihat Allah dengan jelas, yaitu sampai Allah muncul ke hadapan kami dan berfirman, “Ini adalah kitab-Ku, maka peganglah ia. Mengapa Dia tidak berbicara kepada kami sebagaimana Dia berbicara kepadamu wahai Musa?” Lalu Abdurrahman bin Zaid membaca firman Allah, “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”Ia melanjutkan, maka datanglah kemurkaan dari Allah, mereka pun disambar halilintar setelah bertobat sehingga mereka semua mati.” Ia melanjutkan lagi, “Kemudian Allah menghidupkan mereka setelah mereka mati,” lalu ia (Abdurrahman bin Zaid) membacakan firman Allah Ta’ala, Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati.” Lalu Musa berkata kepada mereka, “Ambillah kitab Allah.” Mereka menjawab, “Tidak.” Musa berkata lagi, “Musibah apa yang menimpamu?” Mereka menjawab, “Kami tertimpa musibah, yaitu kami mati kemudian kami dihidupkan.” Musa berkata lagi, “Peganglah kitab Allah.” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Allah mengirimkan para malaikat-Nya lalu mengangkat gunung ke atas mereka.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 62)

[24] Kejadian itu disaksikan oleh mereka, dimana masing-masing mereka melihat kepada kawannya yang terkena sambaran itu. Tentang firman Allah Ta’ala, “Sedang kamu menyaksikan," Urwah bin Ruwaim berkata, “Sebagian mereka disambar halilintar, sedangkan sebagian lagi melihat. Kemudian mereka yang mati itu dibangkitkan, lalu yang masih hidup itu disambar halilintar.”

[25] Yang dimaksud dengan mati di sini menurut sebagian mufassirin adalah mati yang sebenarnya akibat sambaran halilintar, sedangkan yang lain menafsirkan dengan pingsan. Namun yang rajih insya Allah, bahwa mati di sini adalah mati yang sesungguhnya. Qatadah rahimahullah berkata, “Allah menghidupkan mereka untuk menyempurnakan ajal dan rezekinya, kalau sekiranya mereka mati karena sudah tiba ajalnya tentu mereka tidak akan dibangkitkan sampai hari Kiamat.”

[26] Awan disebut ghamaam karena ia menutupi langit. Awan tersebut adalah awan putih. Bani Israil bernaung di bawah awan itu ketika mereka tersesat di padang sahara agar tidak terkena panas terik matahari.

[27] Di antara sekian banyak nikmat Allah kepada mereka adalah mereka dinaungi awan di waktu berjalan di bawah panas terik matahari dan padang pasir yang luas, bahkan memperoleh rezeki berupa mann dan salwa. Manna adalah makanan manis dan lengket seperti madu. Salwa adalah burung sebangsa puyuh. Ada juga yang mengartikan bahwa "Mann" adalah setiap rezeki yang baik yang diperoleh tanpa susah payah. Tetapi sayang sekali, nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada mereka bukan mereka syukuri, bahkan mereka kufuri, mereka banyak melakukan dosa sehingga hati mereka mengeras seperti batu.

Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Kami menurunkan kepadamu "mann," Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Al Mann turun kepada mereka melalui pepohonan, lalu mereka pergi mendatanginya dan memakannya sesuai yang mereka kehendaki.” Menurut Qatadah, Al Mann turun kepada mereka di tempat kediaman mereka seperti turunnya salju, ia lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu, ia turun kepada mereka dari terbit fajar sampai terbit matahari, dimana salah seorang dari mereka mengambil seukuran yang cukup untuk hari itu, jika kelebihan, maka akan rusak dan tidak ada sisanya, sehingga pada hari keenamnya karena hari Jum’atnya, ia ambil seukuran yang cukup untuk hari keenam dan ketujuhnya, karena hari itu (Sabtu) adalah hari raya, ia tidak perlu mencari lagi untuk penghidupannya dan tidak lagi mencarinya karena sesuatu, dan hal ini terjadi di daratan.”

Ibnu Katsir berkata, “Al Mann yang masyhur adalah jika dimakan secara terpisah, maka menjadi sebuah makanan dan sesuatu yang manis, jika dicampur dengan air, maka menjadi munuman yang baik, dan jika dicampur dengan yang lain, maka menjadi makanan yang lain, akan tetapi bukan itu satu-satunya maksudnya di ayat ini. Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ

“Cendawan termasuk Al Mann, airnya mengandung obat bagi penyakit mata."

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, dan diriwayatkan oleh Jamaah Ahli Hadits dalam kitab-kitab mereka selain Abu Dawud, Tirmidzi berkata, “Hasan shahih.”

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْعَجْوَةُ مِنْ الْجَنَّةِ وَفِيهَا شِفَاءٌ مِنْ السُّمِّ وَالْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ

"Kurma 'Ajwah berasal dari surga, di dalamnya mengandung kesembuhan terhadap racun. Al Kam`ah (cendawan) termasuk Al Mann, airnya adalah kesembuhan bagi penyakit mata." (Tirmidzi meriwayatkan secara sendiri) (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 62).

Hadits di atas, yakni kurma ‘Ajwah berasal dari surga, dinyatakan “Hasan shahih,” oleh Syaikh Al Albani dalam Al Misykaat (4235/tahqiq ke-2).

Adapun Salwa, maka Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Salwa adalah burung yang mirip burung puyuh, dimana mereka memakannya. As Suddiy meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat, bahwa Salwa adalah burung yang mirip burung puyuh. Hal ini juga dikatakan oleh Mujahid, Asy Sya’biy, Adh Dhahhak, Al Hasan, Ikrimah dan Ar Rabii’ bin Anas rahimahumullah. ‘Ikrimah juga berkata, “Adapun Salwa, maka ia adalah burung yang berada di surga, ia lebih besar dari burung pipit atau seperti itu.” Qatadah berkata, “Salwa adalah jenis burung yang agak kemerah-merahan, digiring oleh angin selatan, ketika itu seseorang menyembelih sesuai ukuran yang cukup untuk hari itu, jika kelebihan maka akan rusak dan tidak tersisa padanya, sehingga pada hari keenamnya untuk hari Jum’at, maka seseorang mengambil yang sesuai kebutuhan pada hari keenam dan ketujuhnya, karena hari itu adalah hari ibadah, dimana seseorang pada hari itu tidak bekerja dan tidak mencari sesuatu.”

[28] Perintah di ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah perintah yang menunjukkan mubah, petunjuk, dan nikmat.

[29] Ketika mereka melanggar ajaran agama dan mengkufuri nikmat, sebenarnya mereka tidak menzalimi Allah, bahkan mereka menzalimi diri mereka sendiri, karena kezaliman yang mereka lakukan kembalinya kepada mereka juga.

Ibnu Katsir berkata, “Demikianlah perbuatan mereka ini, padahal mereka menyaksikan bukti-bukti yang jelas, mukjizat yang jelas, dan hal-hal yang di luar kebiasaan.”

Ibnu Katsir juga berkata, “Dari sini diketahui dengan jelas keutamaan para sahabat Nabi Muhammad radhiyallahu 'anhum di atas para sahabat nabi-nabi yang lain dalam hal kesabaran, keteguhan, dan keadaan mereka yang tidak menyakiti, di samping mereka tetap bersama Beliau dalam safar dan perangnya, seperti pada perang Tabuk di musim panas dan penuh kesulitan, mereka juga tidak meminta sesuatu yang luar biasa serta meminta mengadakan sesuatu, padahal yang demikian itu mudah bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, hanya ketika mereka sangat lapar, maka mereka terpaksa meminta Beliau membanyakkan makanan mereka, lalu mereka kumpulkan apa yang ada pada mereka, maka hasilnya sama dengan tingginya seekor kambing yang singgah beristirahat, lalu Beliau berdoa kepada Allah untuknya dan memerintahkan mereka untuk mengisi setiap wadah yang mereka bawa. Demikian pula ketika mereka butuh air, maka Beliau meminta kepada Allah Ta’ala, lalu datanglah kepada mereka gumpalan awan dan menghujani mereka, mereka pun minum darinya dan memberi minum unta mereka serta mengisi wadah-wadah mereka, lalu mereka melihat keadaan hujan itu ternyata tidak melebihi pasukan kaum muslimin yang bermarkas. Inilah yang sempurna dalam mengikuti yaitu berjalan bersama takdir Allah dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 63)

Dari ayat 54-57 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) beribadah kepada selain Allah merupakan bentuk riddah (murtad) dan syirik. Oleh karenanya, Allah memerintahkan Bani Israil yang tidak menyembah patung anak sapi membunuh orang yang menyembahnya dari kalangan Bani Israil, karena ia seperti orang yang murtad, sedangkan orang yang murtad dibunuh berdasarkan hadits shahih, “Man baddala dinahu faqtuluh” (artinya: barang siapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah), (2) disyariatkan membunuh orang yang murtad, akan tetapi setelah menyuruhnya bertaubat, (3) tujuan hidup di dunia adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan hanya menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya, (4) yang halal adalah apa saja yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa saja yang Allah haramkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...