Seri (16)
Ayat
49-57: Membicarakan secara rinci nikmat-nikmat Allah kepada Bani Israil,
dimulai dari kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dan selamatnya Beliau dan Bani
Israil dari Fir’aun, pemaafan dari Allah ‘Azza wa Jalla terhadap penyembahan
Bani Israil kepada patung anak sapi, dihidupkan-Nya mereka setelah disambar
halilintar serta diberi-Nya nikmat Al Mann & As Salwa.
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ
سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ
بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (49)
49. [1]Dan
(ingatlah nikmat Kami)[2]
ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun[3]. Mereka
menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu[4]. Mereka
menyembelih anak-anak laki-lakimu[5]
dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu[6]. Pada
yang demikian itu terdapat cobaan[7] yang
besar dari Tuhanmu[8].
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ
وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (50)
50. Dan (ingatlah nikmat Kami), ketika Kami
membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami
tenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun sedangkan kamu menyaksikan[9].
وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ
مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (51)
51. Dan (ingatlah)[10],
ketika Kami menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat, setelah) empat puluh
malam[11],
kemudian kamu menjadikan (patung) anak sapi[12] (sebagai
sembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang yang zalim[13].
ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(52)
52. Kemudian Kami memaafkan kamu setelah
itu[14], agar
kamu bersyukur[15].
وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
(53)
53. Dan (ingatlah nikmat Kami), ketika Kami
memberikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan Furqan[16],
agar kamu memperoleh petunjuk[17].
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ
بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ
خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
(54)
54. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata
kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu
sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan), karena itu
bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu[18]. Itu
lebih baik bagimu di sisi Penciptamu[19]. Dia
pun menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha
Penyayang."
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ
جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (55)
55. Dan (ingatlah)[20]
ketika kamu berkata, "Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu[21]
sebelum kami melihat Allah dengan jelas[22], maka
halilintar menyambarmu[23],
sedang kamu menyaksikan"[24].
ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(56)
56. Setelah itu Kami bangkitkan kamu setelah
kamu mati[25],
agar kamu bersyukur.
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ
وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ
كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57)
[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan
nikmat-nikmat-Nya kepada Bani Israil secara garis besar di ayat 47, maka di
ayat ini dan setelahnya Allah merincikan nikmat-nikmat itu.
[2] Ayat ini dan setelahnya menyebutkan nikmat-nikmat
Allah yang diberikan kepada bani Israil.
[3] Fir'aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir pada
masa lalu, sebagaimana Kaisar gelar bagi raja-raja Romawi, Kisra gelar bagi
raja-raja
[4] Menurut Al Baghawi, bahwa Fir’aun menjadikan Bani
Israil sebagai para pelayan. Di antara mereka ada yang ditugaskan membuat
bangunan, ada pula yang ditugaskan bercocok tanam dan menggarap tanah, dan ada
pula yang melayaninya. Jika di antara mereka ada yang tidak mendapatkan tugas,
maka dia berkewajiban membayarkan pajak kepada Fir’aun. Bisa juga maksud firman
Allah Ta’ala “Mereka menimpakan siksaan yang sangat
berat kepadamu,” berupa menyembelih
anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya sebagaimana pada
lanjutan ayatnya.
[5] Ibnu Katsir berkata, “Hal itu karena Fir’aun -semoga
Allah melaknatnya- bermimpi dengan mimpi yang membuatnya takut; ia bermimpi
melihat sebuah api yang keluar dari Baitul Maqdis, lalu masuk menimpa rumah orang-orang
Qibthi di negeri Mesir selain rumah-rumah orang Bani Israil, dimana maksudnya
adalah bahwa hancurnya kerajaannya nanti oleh salah seorang dari Bani Israil.
Ada pula yang berkata, “Bahkan teman-teman bicara Fir’aun di malam hari
berbicara di dekatnya bahwa Bani Israil sedang mengharapkan adanya seorang dari
kalangan mereka yang tampil, dimana ia memiliki kekuasaan dan kedudukan, maka
ketika itu Fir’aun la’natullah ‘alaih memerintahkan untuk membunuh
setiap anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil dan agar anak-anak
perempuannya dibiarkan, serta memerintahkan agar orang-orang Bani Israil
dipekerjakan dengan pekerjaan berat dan hina.” (Lihat Al Mishbahul Munir
hal. 59-60)
[6] Untuk dijadikan pelayan dan pekerja keras.
[7] Di antara ulama ada yang menafsirkan kata
"balaa" dengan ihsan atau nikmat, sehingga maksud "wa fii
dzaalikum" (pada yang demikian itu) kembalinya bukan kepada siksaan yang
ditimpakan Fir'aun, tetapi kepada "penyelamatan Allah kepada mereka dari
cengkeraman Fir'aun," yakni diselamatkannya kamu dari cengkeraman Fir'aun
adalah nikmat yang besar dari Tuhanmu.
[8] Oleh karena itu, diselamatkan-Nya mereka dari
cengkeraman Fir'aun merupakan nikmat yang besar, yang mengharuskan disyukuri
sepanjang masa oleh mereka dan oleh generasi setelah mereka. Di antara tanda
bersyukur adalah dengan mengikuti seruan-Nya; beriman kepada kitab-Nya yaitu Al
Qur'an dan beriman kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam.
[9] Sewaktu
Nabi Musa alaihis salam membawa Bani Israil keluar dari negeri Mesir menuju
Palestina dan dikejar oleh Fir'aun, mereka harus melalui laut merah sebelah
Utara. Maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa memukul laut itu dengan
tongkatnya. Perintah itu dilaksanakan oleh Musa sehingga terbelahlah laut itu menjadi
dua belas bagian dan terbentanglah jalan raya di hadapan mereka, dan Musa bersama
kaumnya melalui jalan itu dengan selamat sampai ke seberang. Sedangkan Fir'aun
dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada
di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah
mereka, sedangkan Bani Israil menyaksikan
peristiwa tenggelamnya Fir'aun, sehingga hati mereka lega. Ini semua merupakan
nikmat Allah kepada mereka yang patut mereka syukuri.
Faedah:
Peristiwa penenggelaman Fir’aun dan
penyelamatan Bani Israil terjadi pada hari Asyura (10 Muharram), hal ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad dari
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ia berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ يَصُومُونَ
يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَ قَالُوا هَذَا
يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ
قَالَ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ قَالَ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصَوْمِهِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
tiba di Madinah, Beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, lalu Beliau
bertanya, "Hari apa ini, sehingga kalian berpuasa?" Mereka menjawab,
"Ini hari yang baik. Hari ketika Allah menyelamatkan bani Israil dari
musuh mereka,” lalu Musa berpuasa padanya." Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun berpuasa (pada hari tersebut)
dan memerintahkan (para sahabat) untuk berpuasa." (Hr. Ahmad. Ibnu Katsir
berkata, “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Ibnu
Majah).
[10] Maksudnya menurut Ibnu Katsir adalah, “Dan ingatlah
nikmat-Ku kepadamu ketika Aku memaafkan kamu saat kamu menyembah patung anak
sapi setelah Musa pergi untuk (bermunajat) pada waktu yang ditentukan Tuhannya
menjelang habis waktu perjanjian, yaitu 40 hari sebagaimana yang disebutkan di
surat Al A’raaf dalam firman-Nya, “Dan telah Kami janjikan kepada Musa
(memberikan Taurat) setelah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami
sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi),…dst.” (Al A’raaf:
142).
[11] Suatu tenggang waktu yang dijanjikan Allah
untuk menerima petunjuk (Taurat), tetapi umat Nabi Musa 'alaihis salam tidak
sabar menunggunya, sehingga mereka menyembah patung anak sapi yang dibuat oleh
Samiri.
Ayat ini menunjukkan, bahwa kitab Taurat
diturunkan setelah mereka diselamatkan dari Fir’aun dan bala tentaranya.
[12] Patung
anak sapi itu dibuat mereka dari emas untuk disembah.
Oleh
karena membuat patung menjadi sarana disembahnya patung tersebut, maka Islam
melarang membuat patung, memajangnya, menjual-belikannya, dan menyimpannya di
rumah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,
«إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
حَرَّمَ بَيْعَ الخَمْرِ، وَالمَيْتَةِ وَالخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ»
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya
shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan jual-beli arak, bangkai, babi, dan
patung.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Bahkan pembuatnya akan mendapatkan siksaan
pedih pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
«إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا
عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ المُصَوِّرُونَ»
“Sesungguhnya
orang yang paling pedih azabnya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah para
pelukis (makhluk bernyawa).” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Dan malaikat rahmat tidak akan masuk ke
rumah yang terdapat patung. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ
الصُّورَةُ
“Para malaikat tidak akan masuk rumah yang
di dalamnya terdapat gambar (makhluk bernyawa).”
[13] Karena menyembah selain Allah. Syirik disebut zalim
karena di dalamnya terdapat pengarahan ibadah bukan kepada yang berhak
diibadahi.
[14] Ayat
ini menunjukkan hilm (santun) Allah Azza wa Jalla; Dia tidak langsung
memberikan hukuman, demikian pula menunjukkan luasnya rahmat-Nya meskipun
dosa-dosa manusia begitu banyak.
[15] Yakni terhadap nikmat-nikmat Allah Ta’ala
kepadamu. Syukur adalah melakukan ketaatan dengan semua anggota badan, baik
secara sembunyi maupun terang-terangan. Al Hasan
berkata, “Syukur nikmat adalah dengan menyebut dan mengingatnya.”
Syukur juga adalah mengakui nikmat Allah dengan
hatinya bahwa nikmat itu berasal dari-Nya, memuji Allah
terhadapnya dengan lisannya dan menyebut nama-Nya,
dan mengarahkan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala bukan untuk
kemaksiatan serta menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sedangkan
kufur adalah kebalikan dari itu.
[16] Keterangan yang
membedakan antara yang benar dan yang salah, dan antara petunjuk dan kesesatan,
serta antara yang halal dan yang haram.
Kata furqan (yang membedakan antara yang hak dan yang batil) ini
kembalinya kepada kitab Taurat. Diberikan-Nya kitab Taurat kepada mereka juga
setelah mereka lolos dari Fir’aun dan selamat dari tenggelam di lautan sebagaimana
ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala di
[17] Dari
ayat 49-53 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) mengingat
nikmat dapat membantu untuk mensyukurinya, dan syukur adalah tujuan dari
mengingat nikmat, (2) Allah Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya karena hikmah-hikmah
yang dalam. Oleh karena itu, tidak boleh protes kepada-Nya, (3) syirik
merupakan kezaliman, karena di dalamnya terdapat penempatan ibadah bukan pada
tempatnya, (4) pengutusan para rasul dan penurunan kitab dan hikmah sebagai
petunjuk bagi manusia agar mereka dapat mengenal Rabb mereka dan mengetahui
cara mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan di
dunia dan akhirat.
[18] ‘Membunuh
dirimu’ ada yang mengartikan, bahwa orang-orang yang tidak menyembah patung
anak sapi itu membunuh orang yang menyembahnya.
Nasa’i, Ibnu
Jarir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Allah
Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya tobat mereka adalah masing-masing dari mereka
melakukan pembunuhan kepada orang yang mereka jumpai baik bapak maupun anak,
lalu ia bunuh dengan pedang dan tidak peduli siapa yang terbunuh di tempat itu,” maka mereka yang tersembunyi
dosanya bagi Musa dan Harun pun bertobat, yang Allah mengetahui tentang dosa
mereka, mereka mengakuinya dan melakukan hal yang diperintahkan, maka Allah
mengampuni orang yang membunuh dan orang yang dibunuh.”
Qatadah berkata,
"Allah memerintahkan kaum (Musa) dengan perintah yang keras, maka mereka
bangkit saling berhadapan dengan pisau, lalu sebagian mereka membunuh yang
lain, sehingga Allah menyampaikan kepada mereka hukuman-Nya, lalu jatuhlah
pisau-pisau dari tangan mereka, dan Allah menghentikan pembunuhan. Maka Dia
memberikan tobat kepada yang masih hidup dan memberikan pahala syahid kepada
yang terbunuh."
Ibnu Jarir meriwayatkan
dari Ibnu Abbas ia berkata, “Musa berkata kepada kaumnya, “Karena
itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di
sisi Penciptamu. Dia pun menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima
tobat lagi Maha Penyayang." Ibnu Abbas
berkata, “Musa memerintahkan kaumnya karena perintah Tuhannya ‘Azza wa Jalla
agar mereka membunuh diri mereka. Ibnu Abbas melanjutkan, “Musa memberitahukan
hal itu kepada orang-orang yang menyembah patung anak sapi, maka mereka pun
duduk, lalu orang yang tidak menyembah patung itu berdiri dan mengambil pisau
masing-masing dan dipegang oleh tangan mereka, kemudian mereka ditimpa oleh kegelapan
yang dahsyat, lalu sebagian mereka saling bunuh-membunuh, maka hilanglah
kegelapan dari mereka dengan keadaan 70.000 orang dari mereka terbunuh; setiap
yang terbunuh dari mereka diterima tobatnya dan yang masih hidup diterima pula
tobatnya.”
[19] Daripada kekal di neraka selama-lamanya karena
perbuatan syirk.
[20] Maksudnya menurut Ibnu Katsir adalah, “Dan ingatlah
nikmat-Ku kepadamu ketika Aku membangkitkan kamu setelah kamu dimatikan ketika
kamu meminta untuk melihat-Ku secara nyata dan dengan mata kepala, dimana hal
itu tidak sanggup dilakukan olehmu dan oleh orang-orang sepertimu," sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Juraij.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 61)
[21] Mereka tidak percaya bahwa perkataan yang disampaikan
Musa dari Allah adalah firman Allah Ta'ala.
[22] Maksudnya,
melihat Allah dengan mata kepala.
[23] Yang menjadikan mereka mati atau pingsan
disebabkan dosa mereka itu dan lancangnya mereka terhadap Allah Ta'ala, karena
permintaan semacam ini menunjukkan keingkaran dan ketakaburan (kesombongan)
mereka, sebab itu mereka disambar halilintar sebagai hukuman dari Allah Azza wa
Jalla.
Tentang firman
Allah Ta’ala, “Maka halilintar menyambarmu,”
As Suddiy berkata, “Maka mereka mati, lalu Musa berdiri menangis dan berdoa
kepada Allah sambil berkata, “Ya Rabbi, apa yang akan aku katakan kepada Bani
Israil jika aku datang kepada mereka, sedangkan orang-orang pilihan mereka
telah binasa. Kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau
membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena
perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami?” Maka Allah mewahyukan
kepada Musa, bahwa mereka yang berjumlah tujuh puluh orang itu termasuk orang-orang
yang menyembah patung anak sapi, kemudian Allah menghidupkan mereka, lalu
mereka pun bangkit, dan ada seorang yang tetap hidup, ia melihat satu sama lain
bagaimana mereka hidup (kembali), As Suddiy berkata, “Itulah maksud firman
Allah Ta’ala, “Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah
kamu mati, supaya kamu bersyukur.”
Ar Rabii’ bin
Anas berkata, “Matinya mereka adalah sebagai hukuman bagi mereka, lalu mereka
dibangkitkan setelah mati agar mereka menyempurnakan ajal mereka.” Hal ini juga
dikatakan oleh Qatadah.
Abdurrahman bin
Zaid bin Aslam dalam menafsirkan ayat di atas berkata, “Nabi Musa ketika pulang
dari sisi Tuhannya dengan membawa lauh (kepingan batu atau kayu) yang di sana
ia tulis Taurat, ia mendapatkan kaumnya menyembah patung anak sapi, maka Nabi
Musa memerintahkan mereka membunuh diri mereka sendiri dan mereka pun
melakukannya, lalu Allah menerima tobat mereka, Musa pun berkata, “Sesungguhnya
lauh-lauh ini terdapat kitab Allah, di dalamnya terdapat perintah yang Dia
perintahkan kepada kamu dan larangan-Nya yang Dia larang kepada kamu.” Mereka
pun berkata, “Siapakah yang mau percaya kepada ucapanmu? Demi Allah, kami tidak
akan memegangnya sampai kami melihat Allah dengan jelas, yaitu sampai Allah
muncul ke hadapan kami dan berfirman, “Ini adalah kitab-Ku, maka peganglah ia.
Mengapa Dia tidak berbicara kepada kami sebagaimana Dia berbicara kepadamu
wahai Musa?” Lalu Abdurrahman bin Zaid membaca firman Allah, “Kami
tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”Ia
melanjutkan, maka datanglah kemurkaan dari Allah, mereka pun disambar
halilintar setelah bertobat sehingga mereka semua mati.” Ia melanjutkan lagi,
“Kemudian Allah menghidupkan mereka setelah mereka mati,” lalu ia (Abdurrahman
bin Zaid) membacakan firman Allah Ta’ala, “Setelah
itu Kami bangkitkan kamu setelah kamu mati.” Lalu
Musa berkata kepada mereka, “Ambillah kitab Allah.” Mereka menjawab, “Tidak.”
Musa berkata lagi, “Musibah apa yang menimpamu?” Mereka menjawab, “Kami
tertimpa musibah, yaitu kami mati kemudian kami dihidupkan.” Musa berkata lagi,
“Peganglah kitab Allah.” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka Allah mengirimkan para
malaikat-Nya lalu mengangkat gunung ke atas mereka.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 62)
[24] Kejadian itu disaksikan oleh mereka, dimana
masing-masing mereka melihat kepada kawannya yang terkena sambaran itu. Tentang firman Allah
Ta’ala, “Sedang kamu menyaksikan,"
Urwah bin Ruwaim berkata, “Sebagian
mereka disambar halilintar, sedangkan sebagian lagi melihat. Kemudian mereka
yang mati itu dibangkitkan, lalu yang masih hidup itu disambar halilintar.”
[25] Yang
dimaksud dengan mati di sini menurut sebagian mufassirin adalah mati yang
sebenarnya akibat sambaran halilintar, sedangkan yang lain menafsirkan dengan
pingsan. Namun yang rajih insya Allah, bahwa mati di sini adalah mati yang
sesungguhnya. Qatadah rahimahullah berkata, “Allah menghidupkan mereka
untuk menyempurnakan ajal dan rezekinya, kalau sekiranya mereka mati karena
sudah tiba ajalnya tentu mereka tidak akan dibangkitkan sampai hari Kiamat.”
[26] Awan disebut ghamaam karena ia menutupi langit. Awan
tersebut adalah awan putih. Bani Israil bernaung di bawah awan itu ketika
mereka tersesat di
[27] Di
antara sekian banyak nikmat Allah kepada mereka adalah mereka dinaungi awan di
waktu berjalan di bawah panas terik matahari dan
Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan
Kami menurunkan kepadamu "mann," Ali bin
Abi Thalhah meriwayatkan dari
Ibnu
Katsir berkata, “Al Mann yang masyhur adalah jika dimakan secara terpisah, maka
menjadi sebuah makanan dan sesuatu yang manis, jika dicampur dengan air, maka
menjadi munuman yang baik, dan jika dicampur dengan yang lain, maka menjadi
makanan yang lain, akan tetapi bukan itu satu-satunya maksudnya di ayat ini.
Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhari dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu 'anhu
ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
الْكَمْأَةُ
مِنْ الْمَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ
“Cendawan
termasuk Al Mann, airnya mengandung obat bagi penyakit mata."
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam
Ahmad, dan diriwayatkan oleh Jamaah Ahli Hadits dalam kitab-kitab mereka selain
Abu Dawud, Tirmidzi berkata, “Hasan shahih.”
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
الْعَجْوَةُ مِنْ
الْجَنَّةِ وَفِيهَا شِفَاءٌ مِنْ السُّمِّ وَالْكَمْأَةُ مِنْ الْمَنِّ
وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ
"Kurma
'Ajwah berasal dari surga, di dalamnya mengandung kesembuhan terhadap racun. Al
Kam`ah (cendawan) termasuk Al Mann, airnya adalah kesembuhan bagi penyakit mata."
(Tirmidzi meriwayatkan secara sendiri) (Lihat Al Mishbahul Munir hal.
62).
Hadits di atas, yakni kurma ‘Ajwah berasal
dari surga, dinyatakan “Hasan shahih,” oleh Syaikh Al Albani dalam Al
Misykaat (4235/tahqiq ke-2).
Adapun Salwa, maka Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan
dari Ibnu Abbas, bahwa Salwa adalah burung yang mirip burung puyuh, dimana
mereka memakannya. As Suddiy meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan
beberapa orang sahabat, bahwa Salwa adalah burung yang mirip burung puyuh. Hal
ini juga dikatakan oleh Mujahid, Asy Sya’biy, Adh Dhahhak, Al Hasan, Ikrimah
dan Ar Rabii’ bin Anas rahimahumullah. ‘Ikrimah juga berkata, “Adapun Salwa,
maka ia adalah burung yang berada di surga, ia lebih besar dari burung pipit
atau seperti itu.” Qatadah berkata, “Salwa adalah jenis burung yang agak
kemerah-merahan, digiring oleh angin selatan, ketika itu seseorang menyembelih
sesuai ukuran yang cukup untuk hari itu, jika kelebihan maka akan rusak dan
tidak tersisa padanya, sehingga pada hari keenamnya untuk hari Jum’at, maka
seseorang mengambil yang sesuai kebutuhan pada hari keenam dan ketujuhnya,
karena hari itu adalah hari ibadah, dimana seseorang pada hari itu tidak bekerja
dan tidak mencari sesuatu.”
[28] Perintah di ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah
perintah yang menunjukkan mubah, petunjuk, dan nikmat.
[29] Ketika mereka melanggar ajaran agama dan mengkufuri
nikmat, sebenarnya mereka tidak menzalimi Allah, bahkan mereka menzalimi diri
mereka sendiri, karena kezaliman yang mereka lakukan kembalinya kepada mereka
juga.
Ibnu Katsir berkata, “Demikianlah perbuatan
mereka ini, padahal mereka menyaksikan bukti-bukti yang jelas, mukjizat yang
jelas, dan hal-hal yang di luar kebiasaan.”
Ibnu Katsir juga berkata, “Dari sini
diketahui dengan jelas keutamaan para sahabat Nabi Muhammad radhiyallahu 'anhum
di atas para sahabat nabi-nabi yang lain dalam hal kesabaran, keteguhan, dan
keadaan mereka yang tidak menyakiti, di samping mereka tetap bersama Beliau
dalam safar dan perangnya, seperti pada perang Tabuk di musim panas dan penuh
kesulitan, mereka juga tidak meminta sesuatu yang luar biasa serta meminta
mengadakan sesuatu, padahal yang demikian itu mudah bagi Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, hanya ketika mereka sangat lapar, maka mereka terpaksa
meminta Beliau membanyakkan makanan mereka, lalu mereka kumpulkan apa yang ada
pada mereka, maka hasilnya sama dengan tingginya seekor kambing yang singgah
beristirahat, lalu Beliau berdoa kepada Allah untuknya dan memerintahkan mereka
untuk mengisi setiap wadah yang mereka bawa. Demikian pula ketika mereka butuh
air, maka Beliau meminta kepada Allah Ta’ala, lalu datanglah kepada mereka
gumpalan awan dan menghujani mereka, mereka pun minum darinya dan memberi minum
unta mereka serta mengisi wadah-wadah mereka, lalu mereka melihat keadaan hujan
itu ternyata tidak melebihi pasukan kaum muslimin yang bermarkas. Inilah yang
sempurna dalam mengikuti yaitu berjalan bersama takdir Allah dan mengikuti Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 63)
Dari ayat 54-57 kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) beribadah kepada selain Allah
merupakan bentuk riddah (murtad) dan syirik. Oleh karenanya, Allah
memerintahkan Bani Israil yang tidak menyembah patung anak sapi membunuh orang
yang menyembahnya dari kalangan Bani Israil, karena ia seperti orang yang
murtad, sedangkan orang yang murtad dibunuh berdasarkan hadits shahih, “Man
baddala dinahu faqtuluh” (artinya: barang siapa yang menukar agamanya, maka
bunuhlah), (2) disyariatkan membunuh orang yang murtad, akan tetapi setelah
menyuruhnya bertaubat, (3) tujuan hidup di dunia adalah bersyukur kepada Allah
Ta’ala dengan hanya menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya, (4) yang halal
adalah apa saja yang Allah halalkan, dan yang haram adalah apa saja yang Allah
haramkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar