Seri (19)
Ayat
67-74: Menerangkan kisah penyembelihan sapi betina, perdebatan orang-orang
Yahudi terhadap Nabi mereka di samping banyak mendesak dan bersikap keras
kepala, serta membuka kedok orang-orang Yahudi yang buruk dan kerasnya hati
mereka.
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ
أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ
أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (67)
67. Dan (ingatlah)[1],
ketika Musa berkata kepada kaumnya[2]:
"Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi betina.[3]"
Mereka bertanya[4]:
"Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai ejekan?" Dia (Musa)
menjawab, "Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang
yang bodoh[5]".
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ
يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا
مَا تُؤْمَرُونَ (68)
68. Mereka berkata, "Mohonkanlah
kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina)
itu." Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman, bahwa sapi betina
itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan
antara itu[6].
Maka kerjakanlah[7]
apa yang diperintahkan kepadamu".
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ
يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ
(69)
69. Mereka berkata[8]:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menjelaskan kepada kami
apa warnanya". Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa (sapi)
itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang
yang memandangnya[9]."
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ
تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ (70)
70. Mereka berkata, "Mohonkanlah
kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada Kami tentang (sapi betina)
itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami dan sesungguhnya kami
insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."
قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ
وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ
فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ (71)
71. Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah
berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk
membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman[10], sehat,
dan tanpa belang." Mereka berkata, "Sekarang barulah engkau
menerangkan (hal) yang sebenarnya." Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris
mereka tidak melaksanakan perintah itu[11].
وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ
مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (72)
72. Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang[12],
lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu
sembunyikan[13].
فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى
وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (73)
73. Lalu Kami berfirman, "Pukullah (mayat)
itu dengan bagian anggota sapi itu!"[14]
Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati[15],
dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ
أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ
وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا
يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74)
[1] Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat di atas adalah, “Dan
ingatlah wahai Bani Israil nikmat-Ku kepadamu berupa peristiwa yang luar biasa
dalam masalah sapi betina, penjelasan siapa yang membunuh yang menjadi
penyebabnya, bagaimana Allah menghidupkan orang yang terbunuh, dan penegasannya
tentang siapa yang membunuhnya di antara mereka.” (Lihat Al Mishbahul Munir
hal. 69)
Menurut
Abu Bakar Al Jazairiy, “Dan sampaikanlah wahai Rasul Kami aib lainnya nenek
moyang orang-orang Yahudi yang mereka banggakan, yaitu buruknya perilaku mereka
terhadap Nabi mereka sebagai celaan bagi mereka agar mereka sadar dari
kesesatannya, lalu mau beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa berupa
petunjuk dan agama yang benar.”
[2] Yakni ketika di antara mereka ada yang
membunuh seseorang, lalu mereka saling tuduh-menuduh dalam hal itu. Kemudian mereka
membawa persoalan itu kepada Musa 'alaihis salam, maka Allah menyuruh mereka menyembelih seekor sapi betina agar
orang yang terbunuh itu dapat hidup kembali dan menerangkan siapa yang
membunuhnya setelah dipukul dengan bagian dari tubuh sapi itu sebagaimana diterangkan
dalam ayat 73 dan 74. Mudah sekali
perintah itu, yaitu hanya menyembelih seekor sapi betina, dan seharusnya mereka
langsung mengerjakannya, tetapi mereka banyak bertanya dan menyusahkan diri seperti
yang disebutkan pada ayat di atas sehingga mereka semakin kesusahan dan keberatan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ،
فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ
وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
"Apa
yang aku larang, hendaklah kalian menjauhinya dan apa yang aku perintahkan maka
lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian
adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap
nabi-nabi mereka. (Hr. Bukhari dan
Muslim)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ubaidah As
Salmaniy ia berkata, “Ada seorang laki-laki di antara Bani Israil yang mandul
tidak punya anak, dan ia memiliki harta yang banyak. Ketika itu putera
saudaranya (keponakannya) yang menjadi ahli warisnya, lalu ia membunuhnya dan
membawa mayatnya di malam hari kemudian ia letakkan di depan pintu rumah salah
seorang di antara mereka (Bani Israil). Pada pagi harinya, ia menuduh orang itu
(yang mayatnya di depan pintunya) sehingga mereka pun mengangkat senjata dan
satu sama lain saling berperang, lalu orang yang berpengalaman dan bijak di
antara mereka berkata, “Mengapa kalian saling bunuh-membunuh padahal Rasul
Allah ada di tengah-tengah kalian?” Maka mereka pun mendatangi Nabi Musa
‘alaihis salam dan menyampaikan hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam berkata, “Sesungguhnya
Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi betina. " Mereka bertanya,
"Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai ejekan?" Dia (Musa)
menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang
yang bodoh.” Perawi (periwayat kisah ini) berkata, “Kalau saja mereka tidak
bertanya lagi, tentu sapi yang mudah didapat pun sudah cukup bagi mereka, akan
tetapi mereka menyusahkan diri, sehingga mereka pun dipersusah, hingga akhirnya
mereka memperoleh sapi yang diperintahkan untuk disembelih, mereka menemukannya
ada pada seorang yang tidak punya sapi selain sapinya itu, ia berkata, “Demi
Allah, saya tidak mau kurang dari sejumlah emas yang memenuhi kulitnya.”
Akhirnya mereka membelinya dengan emas sepenuh kulitnya, mereka pun
menyembelihnya dan memukul mayat itu dengan sebagian anggota badannya, lalu
mayat itu bangun, maka mereka pun bertanya, “Siapa yang membunuhmu?” Ia
menjawab, “Orang ini.” Menunjuk kepada keponakannya, lalu ia lunglai dan mati,
maka ia tidak diberikan sedikit pun dari hartanya. Setelah itu pembunuh tidak
mendapatkan warisan lagi.” (Ibnu Jarir juga meriwayatkan kisah ini hampir sama
seperti itu, wallahu a’lam).
Oleh
karena itu, dalam ilmu waris Islam (Faraidh) pembunuh tidak mewarisi orang yang
dibunuhnya.
[3] Di antara hikmah
Allah menyuruh menyembelih sapi ialah agar hilang rasa penghormatan mereka
terhadap sapi yang pernah mereka sembah.
[4] Dengan nada sombong dan menunjukkan
kejahilannya.
[5] Yakni mana mungkin Nabi Musa 'alaihis salam
memerintahkan sesuatu yang tidak ada faedahnya, karena hanya orang bodoh yang
berkata-kata tanpa faedah, yang mengerjakan perbuatan yang tidak patut
dikerjakan, dan berbuat tanpa ilmu. Di samping itu, orang yang berakal
menganggap bahwa termasuk aib jika sampai mengejek antara sesama meskipun ia
diberikan kelebihan, karena kelebihan yang diberikan kepadanya menghendaki
untuk bersyukur kepada Allah dan berkasih sayang antara sesama hamba Allah.
Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, "Kejahilan itu ada dua macam;
1. Tidak
mengetahui kebenaran yang bermanfaat, atau
2. Tidak
mengamalkan konsekuensinya.
Keduanya
merupakan kejahilan baik secara bahasa, uruf (kebiasaan yang berlaku), syara,
maupun hakikat.
Nabi Musa
alaihis salam berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari termasuk
orang-orang yang jahil."
Yakni ketika
kaumnya berkata kepadanya, "Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai
bahan ejekan," yakni termasuk orang-orang yang diolok-olok." (Madarijus
Salikin 1/467)
[6] Kondisi ini adalah kondisi ketika hewan itu sedang
kuat dan menarik perhatian.
[7] Yakni kerjakan langsung apa yang diperintahkan
dan jangan banyak bertanya.
[8] Mereka terus bertanya tentang sapi betina itu,
sehingga yang sebelumnya mudah menjadi susah, bahkan hampir saja mereka tidak
mengerjakannya.
[9] Menurut As Suddiy, maksudnya adalah menakjubkan orang-orang
yang memandangnya. Hal ini dikatakan pula oleh Abul ‘Aliyah, Qatadah, dan Ar
Rabii’ bin Anas. Wahb bin Munabbih berkata, “Jika engkau melihat kulitnya,
niscaya akan terbayang olehmu bahwa sinar matahari yang berserakan keluar dari
kulitnya.”
[10] Sehingga sapi itu sangat dimuliakan dan indah.
[11] Karena
sapi sesuai syarat yang disebutkan itu sukar diperoleh, hampir saja mereka
tidak dapat menemukannya. Demikianlah, ketika mereka memperberat diri dengan
banyak bertanya, maka Allah memberatkan mereka.
Dari ayat 67 sd. 71 kita dapat menarik
banyak pelajaran, di antaranya: (1) sikap Bani Israil yang jahil dan akhlak
mereka yang buruk agar dijauhi kaum muslimin, (2) haramnya protes terhadap
syariat dan wajibnya tunduk terhadap perintah syariat meskipun belum mengetahui
faedah dan hikmahnya, (3) anjuran melakukan yang mudah dan makruhnya
menyusahkan diri, (4) manfaat mengucapkan “insya Allah”, karena jika sekiranya
mereka tidak mengucapkan kalimat itu, tentu mereka tidak akan ditunjuki
memperoleh sapi betina itu, (5) hendaknya dijauhi ucapan yang memberikan kesan
cacat atau kurang sempurnanya para nabi, seperti ucapan mereka, “Sekarang
barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya,”
karena hal itu menunjukkan bahwa hanya pada saat itu Nabi mereka membawa
sesuatu yang benar, (6) tercelanya sikap membebani
diri dengan bertanya sesuatu secara mendetail yang akhirnya akan memberatkan
dirinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
« إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِى
الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَىْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى
الْمُسْلِمِينَ فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ » .
“Sesungguhnya
orang muslim yang paling besar dosanya bagi kaum muslimin adalah orang yang
bertanya tentang sesuatu yang (sebelumnya) tidak diharamkan bagi kaum muslimin,
lalu menjadi haram karena pertanyaan itu.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
[12] Karena ingin segera mendapatkan warisan.
[13] Menurut Mujahid, maksudnya yang tidak kalian ketahui.
[14] Lalu Allah menghidupkan mayat itu, maka mayat itu
memberitahukan siapa pembunuhnya.
Faedah: Tidak disebutkan anggota badan yang mana dari sapi itu, kalau
sekiranya ada faedahnya bagi kita dalam urusan dunia dan akhirat, tentu Allah Subhaanahu
wa Ta'aala memberitahukannya kepada kita, tetapi Dia menyamarkannya dan tidak
ada riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang
anggota badan yang mana dari sapi itu (lihat Al Mishbahul Munir hal.
70).
[15] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala
mengingatkan tentang kekuasaan-Nya dalam menghidupkan orang-orang yang telah
mati, menjadikannya sebagai hujjah terhadap adanya kebangkitan dan alam akhirat
serta menjadikan hal itu sebagai penyelesai masalah yang mereka perselisihkan.
Disebutkan beberapa bukti tentang adanya
kebangkitan di beberapa tempat dalam Al Qur’an, seperti di
[16] Setelah dikaruniakan berbagai macam nikmat dan
diperlihatkan banyak ayat-ayat-Nya.
[17] Mereka tidak dapat mengambil pelajaran
daripadanya, bahkan hati mereka menjadi keras seperti batu atau lebih keras
lagi sehingga sulit ditembus oleh kebaikan dan oleh nasehat, dan tidak lunak di
hadapan ayat-ayat Allah yang begitu jelas. Ya, hati mereka lebih keras daripada
batu, padahal di antara batu itu ada yang memancarkan air, ada yang terbelah,
bahkan ada yang meluncur dari tempat yang tinggi karena takut kepada Allah
Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang
kaum mukmin agar tidak seperti mereka, Dia berfirman, “Belumkah datang waktunya
bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian
berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Terj. QS. Al Hadiid: 16)
Al ‘Aufiy meriwayatkan dari
Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Maka setelah berlalu
waktu yang panjang jadilah hati-hati Bani Israil sebagai hati yang keras dan
jauh dari nasihat setelah mereka menyaksikan ayat-ayat dan mukjizat, dimana
hati tersebut saking kerasnya seperti batu yang tidak dapat dilunakkan atau
lebih keras daripada batu, padahal di
antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya.
Ia juga berkata,
“Sebagian ulama menduga, bahwa ayat ini termasuk ke dalam Bab majaz, yaitu
menyandarkan khusyu’ kepada batu sebagaimana makna menyandarkan kehendak kepada
dinding pada firman-Nya, “(Kemudian
keduanya mendapatkan dalam negeri itu) dinding rumah yang mau roboh.”
(Al Kahfi: 77), namun Ar Raziy, Al Qurthubi dan ulama lainnya berpendapat,
bahwa takwil seperti ini tidak perlu, karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menciptakan watak ini dalam diri batu, sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya
Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka
semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan
mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia
itu sangat zalim dan sangat bodoh, (Terj. Qs. Al Ahzaab: 72)
Langit yang
tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.
(Terj. Qs. Al Israa’: 44)
Tumbuh-tumbuhan
dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (Terj.
Qs. Ar Rahmaan: 6)
Dan apakah
mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang
bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri…dst.
(Terj. Qs. An Nahl: 48)
Keduanya (langit
dan bumi) menjawab, "Kami datang dengan suka hati.”
(Terj. Qs.Fushshilat: 11)
Kalau sekiranya
Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung. (Terj.
Qs. Al Hasyr: 21)
Dan mereka
berkata kepada kulit mereka, "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap
kami?" Kulit mereka menjawab, "Allah yang menjadikan kami pandai
berkata.” (Terj. Qs. Fushshilat:
21)
Di dalam hadits
shahih disebutkan,
هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
“Gunung ini (Uhud) mencintai kita dan kita mencintainya.”
Demikian juga
kisah merintih dan menangisnya batang pohon kurma yang haditsnya mutawatir, dan
hadits dalam Shahih Muslim yang berbunyi,
إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ
كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ
“Sesungguhnya saya benar-benar mengetahui sebuah batu di
Mekah yang pernah memberi salam kepadaku sebelum saya diutus. Sesungguhnya saya
sekarang benar-benar masih tahu tempatnya.”
Demikian juga
tentang sifat hajar aswad, bahwa ia akan bersaksi pada hari Kiamat membela
orang yang mengusapnya dengan hak, dan riwayat-riwayat yang semakna dengan itu.
(LIhat Al Mishbahul Munir hal. 71)
Nasihat:
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Betapa sering dibacakan kepada
kita ayat-ayat Al Qur’an, tetapi hati kita seperti batu atau lebih keras lagi.”
(Latha’iful Ma’arif, 174)
Amalmu akan dicatat, ucapanmu akan dihisab, engkau juga akan dituntut,
sedangkan dirimu masih memiliki dosa-dosa yang engkau belum sempat bertaubat
daripadanya, padahal matahari kehidupan sudah bersiap-siap tenggelam, maka jika
engkau tidak sadar juga, berarti alangkah kerasnya hatimu!
[18] Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, "Hati ketika lalai dari Dzikrullah (mengingat Allah) membuatnya
menjadi keras. Tetapi ketika seseorang
mengingat Allah Ta'ala, maka kerasnya hati itu menjadi luluh sebagaimana timah
menjadi luluh di dalam api. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat membuat hati
yang keras menjadi lunak seperti halnya mengingat Azza wa Jalla. " (Al
Wabilush Shayyib hal. 146)
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Di
antara sebab kerasnya hati adalah banyak tertawa. Dalam Sunan Tirmidzi dari
Nabi shallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda,
لَا
تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ
"Janganlah banyak tertawa, karena
banyak tertawa mematikan hati." (Hr. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
Penyebab keras hati lainnya adalah
terus-menerus berbuat dosa dan maksiat, cinta dunia, berpaling dari Al Qur’an
dan dari mentadabburinya, berteman dengan orang-orang buruk, dan menjauhi
majlis ilmu.
[19] Di akhir ayat ini, Allah mengancam mereka dengan
ancaman yang keras, yakni bahwa Dia tidak lalai terhadap apa yang mereka
kerjakan, bahkan mengetahuinya baik yang kecil maupun yang besar dan nanti Dia
akan memberikan pembalasan terhadapnya.
Dari ayat 72-74 kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya sebagaimana yang dijelaskan Syaikh
Abu Bakar Al Jazairiy adalah: (1) kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam, karena Beliau menyampaikan beberapa kisah yang
dialami nenek moyang Bani Israil terdahulu, (2) menguak jati diri orang-orang
Yahudi, dimana mereka saling mewarisi dalam sikap bodoh, makar, dan melakukan
tipu daya, (3) orang-orang Yahudi termasuk orang-orang yang paling keras
hatinya, bahkan sampai hari ini juga demikian, (4) tanda celaka seseorang
adalah kerasnya hati, dan (5) sebagian hati manusia ada yang hatinya lebih
keras daripada batu, sehingga tidak tersentuh oleh nasihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar