Rabu, 01 Juli 2026

Seri 19 (surah Al Baqarah ayat 67-74)

 

Seri (19)



 


Ayat 67-74: Menerangkan kisah penyembelihan sapi betina, perdebatan orang-orang Yahudi terhadap Nabi mereka di samping banyak mendesak dan bersikap keras kepala, serta membuka kedok orang-orang Yahudi yang buruk dan kerasnya hati mereka.

 

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (67) 

67. Dan (ingatlah)[1], ketika Musa berkata kepada kaumnya[2]: "Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi betina.[3]" Mereka bertanya[4]: "Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai ejekan?" Dia (Musa) menjawab, "Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh[5]".

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (68) 

68. Mereka berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu." Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman, bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu[6]. Maka kerjakanlah[7] apa yang diperintahkan kepadamu".

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ (69)  

69. Mereka berkata[8]: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya[9]."

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ (70)  

70. Mereka berkata, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada Kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."

قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ (71)  

71. Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman[10], sehat, dan tanpa belang." Mereka berkata, "Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya." Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan perintah itu[11].

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (72) 

72. Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang[12], lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan[13].

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (73) 

73. Lalu Kami berfirman, "Pukullah (mayat) itu dengan bagian anggota sapi itu!"[14] Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati[15], dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74) 

74. Kemudian setelah itu[16] hatimu menjadi keras seperti batu[17], bahkan lebih keras lagi[18]. Padahal di antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan[19].


[1] Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat di atas adalah, “Dan ingatlah wahai Bani Israil nikmat-Ku kepadamu berupa peristiwa yang luar biasa dalam masalah sapi betina, penjelasan siapa yang membunuh yang menjadi penyebabnya, bagaimana Allah menghidupkan orang yang terbunuh, dan penegasannya tentang siapa yang membunuhnya di antara mereka.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 69)

Menurut Abu Bakar Al Jazairiy, “Dan sampaikanlah wahai Rasul Kami aib lainnya nenek moyang orang-orang Yahudi yang mereka banggakan, yaitu buruknya perilaku mereka terhadap Nabi mereka sebagai celaan bagi mereka agar mereka sadar dari kesesatannya, lalu mau beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa berupa petunjuk dan agama yang benar.”

[2]  Yakni ketika di antara mereka ada yang membunuh seseorang, lalu mereka saling tuduh-menuduh dalam hal itu. Kemudian mereka membawa persoalan itu kepada Musa 'alaihis salam, maka Allah menyuruh mereka menyembelih seekor sapi betina agar orang yang terbunuh itu dapat hidup kembali dan menerangkan siapa yang membunuhnya setelah dipukul dengan bagian dari tubuh sapi itu sebagaimana diterangkan dalam ayat 73 dan 74. Mudah sekali perintah itu, yaitu hanya menyembelih seekor sapi betina, dan seharusnya mereka langsung mengerjakannya, tetapi mereka banyak bertanya dan menyusahkan diri seperti yang disebutkan pada ayat di atas sehingga mereka semakin kesusahan dan keberatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

"Apa yang aku larang, hendaklah kalian menjauhinya dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.  (Hr. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ubaidah As Salmaniy ia berkata, “Ada seorang laki-laki di antara Bani Israil yang mandul tidak punya anak, dan ia memiliki harta yang banyak. Ketika itu putera saudaranya (keponakannya) yang menjadi ahli warisnya, lalu ia membunuhnya dan membawa mayatnya di malam hari kemudian ia letakkan di depan pintu rumah salah seorang di antara mereka (Bani Israil). Pada pagi harinya, ia menuduh orang itu (yang mayatnya di depan pintunya) sehingga mereka pun mengangkat senjata dan satu sama lain saling berperang, lalu orang yang berpengalaman dan bijak di antara mereka berkata, “Mengapa kalian saling bunuh-membunuh padahal Rasul Allah ada di tengah-tengah kalian?” Maka mereka pun mendatangi Nabi Musa ‘alaihis salam dan menyampaikan hal itu, Nabi Musa ‘alaihis salam berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi betina. " Mereka bertanya, "Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai ejekan?" Dia (Musa) menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” Perawi (periwayat kisah ini) berkata, “Kalau saja mereka tidak bertanya lagi, tentu sapi yang mudah didapat pun sudah cukup bagi mereka, akan tetapi mereka menyusahkan diri, sehingga mereka pun dipersusah, hingga akhirnya mereka memperoleh sapi yang diperintahkan untuk disembelih, mereka menemukannya ada pada seorang yang tidak punya sapi selain sapinya itu, ia berkata, “Demi Allah, saya tidak mau kurang dari sejumlah emas yang memenuhi kulitnya.” Akhirnya mereka membelinya dengan emas sepenuh kulitnya, mereka pun menyembelihnya dan memukul mayat itu dengan sebagian anggota badannya, lalu mayat itu bangun, maka mereka pun bertanya, “Siapa yang membunuhmu?” Ia menjawab, “Orang ini.” Menunjuk kepada keponakannya, lalu ia lunglai dan mati, maka ia tidak diberikan sedikit pun dari hartanya. Setelah itu pembunuh tidak mendapatkan warisan lagi.” (Ibnu Jarir juga meriwayatkan kisah ini hampir sama seperti itu, wallahu a’lam).

Oleh karena itu, dalam ilmu waris Islam (Faraidh) pembunuh tidak mewarisi orang yang dibunuhnya.

[3] Di antara hikmah Allah menyuruh menyembelih sapi ialah agar hilang rasa penghormatan mereka terhadap sapi yang pernah mereka sembah.

[4]  Dengan nada sombong dan menunjukkan kejahilannya.

[5]  Yakni mana mungkin Nabi Musa 'alaihis salam memerintahkan sesuatu yang tidak ada faedahnya, karena hanya orang bodoh yang berkata-kata tanpa faedah, yang mengerjakan perbuatan yang tidak patut dikerjakan, dan berbuat tanpa ilmu. Di samping itu, orang yang berakal menganggap bahwa termasuk aib jika sampai mengejek antara sesama meskipun ia diberikan kelebihan, karena kelebihan yang diberikan kepadanya menghendaki untuk bersyukur kepada Allah dan berkasih sayang antara sesama hamba Allah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Kejahilan itu ada dua macam;

1. Tidak mengetahui kebenaran yang bermanfaat, atau

2. Tidak mengamalkan konsekuensinya.

Keduanya merupakan kejahilan baik secara bahasa, uruf (kebiasaan yang berlaku), syara, maupun hakikat.

Nabi Musa alaihis salam berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari termasuk orang-orang yang jahil."

Yakni ketika kaumnya berkata kepadanya, "Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai bahan ejekan," yakni termasuk orang-orang yang diolok-olok." (Madarijus Salikin 1/467)

[6] Kondisi ini adalah kondisi ketika hewan itu sedang kuat dan menarik perhatian.

[7]  Yakni kerjakan langsung apa yang diperintahkan dan jangan banyak bertanya.

[8] Mereka terus bertanya tentang sapi betina itu, sehingga yang sebelumnya mudah menjadi susah, bahkan hampir saja mereka tidak mengerjakannya.

[9] Menurut As Suddiy, maksudnya adalah menakjubkan orang-orang yang memandangnya. Hal ini dikatakan pula oleh Abul ‘Aliyah, Qatadah, dan Ar Rabii’ bin Anas. Wahb bin Munabbih berkata, “Jika engkau melihat kulitnya, niscaya akan terbayang olehmu bahwa sinar matahari yang berserakan keluar dari kulitnya.”

[10] Sehingga sapi itu sangat dimuliakan dan indah.

[11] Karena sapi sesuai syarat yang disebutkan itu sukar diperoleh, hampir saja mereka tidak dapat menemukannya. Demikianlah, ketika mereka memperberat diri dengan banyak bertanya, maka Allah memberatkan mereka.

Dari ayat 67 sd. 71 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) sikap Bani Israil yang jahil dan akhlak mereka yang buruk agar dijauhi kaum muslimin, (2) haramnya protes terhadap syariat dan wajibnya tunduk terhadap perintah syariat meskipun belum mengetahui faedah dan hikmahnya, (3) anjuran melakukan yang mudah dan makruhnya menyusahkan diri, (4) manfaat mengucapkan “insya Allah”, karena jika sekiranya mereka tidak mengucapkan kalimat itu, tentu mereka tidak akan ditunjuki memperoleh sapi betina itu, (5) hendaknya dijauhi ucapan yang memberikan kesan cacat atau kurang sempurnanya para nabi, seperti ucapan mereka, “Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya, karena hal itu menunjukkan bahwa hanya pada saat itu Nabi mereka membawa sesuatu yang benar, (6) tercelanya sikap membebani diri dengan bertanya sesuatu secara mendetail yang akhirnya akan memberatkan dirinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

« إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِى الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَىْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ » .  

Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya bagi kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang (sebelumnya) tidak diharamkan bagi kaum muslimin, lalu menjadi haram karena pertanyaan itu. (Hr. Bukhari dan Muslim)

[12] Karena ingin segera mendapatkan warisan.

[13] Menurut Mujahid, maksudnya yang tidak kalian ketahui.

[14] Lalu Allah menghidupkan mayat itu, maka mayat itu memberitahukan siapa pembunuhnya.

Faedah: Tidak disebutkan anggota badan yang mana dari sapi itu, kalau sekiranya ada faedahnya bagi kita dalam urusan dunia dan akhirat, tentu Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukannya kepada kita, tetapi Dia menyamarkannya dan tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang anggota badan yang mana dari sapi itu (lihat Al Mishbahul Munir hal. 70).

[15] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan tentang kekuasaan-Nya dalam menghidupkan orang-orang yang telah mati, menjadikannya sebagai hujjah terhadap adanya kebangkitan dan alam akhirat serta menjadikan hal itu sebagai penyelesai masalah yang mereka perselisihkan.

Disebutkan beberapa bukti tentang adanya kebangkitan di beberapa tempat dalam Al Qur’an, seperti di surat Al Baqarah: 56, 243, 259, 260, surat Al A’raaf: 57, dan ayat-ayat lainnya.

[16] Setelah dikaruniakan berbagai macam nikmat dan diperlihatkan banyak ayat-ayat-Nya.

[17]  Mereka tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya, bahkan hati mereka menjadi keras seperti batu atau lebih keras lagi sehingga sulit ditembus oleh kebaikan dan oleh nasehat, dan tidak lunak di hadapan ayat-ayat Allah yang begitu jelas. Ya, hati mereka lebih keras daripada batu, padahal di antara batu itu ada yang memancarkan air, ada yang terbelah, bahkan ada yang meluncur dari tempat yang tinggi karena takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang kaum mukmin agar tidak seperti mereka, Dia berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Terj. QS. Al Hadiid: 16)

Al ‘Aufiy meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika orang yang dibunuh itu dipukulkan dengan salah satu anggota badan sapi, maka ia duduk dalam keadaan hidup seperti semula, lalu ditanyakan kepadanya, “Siapa yang membunuhmu?” Ia menjawab, “Anak-anak saudaraku, mereka telah membunuhku,” maka ia pun mati kembali, lalu anak-anak saudaranya berkata ketika Allah mencabut nyawanya lagi, “Demi Allah, kami tidak membunuhnya.” Mereka mendustakan kebenaran setelah mereka menyaksikannya, maka Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras,” maksudnya anak-anak saudara si terbunuh itu.”

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Maka setelah berlalu waktu yang panjang jadilah hati-hati Bani Israil sebagai hati yang keras dan jauh dari nasihat setelah mereka menyaksikan ayat-ayat dan mukjizat, dimana hati tersebut saking kerasnya seperti batu yang tidak dapat dilunakkan atau lebih keras daripada batu, padahal di antara batu-batu itu ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya meskipun tidak mengalir, dan di antaranya ada pula yang jatuh dari atas gunung karena takut kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa benda mati pun mempunyai perasaan mengenai hal tersebut sesuai dengan keadaannya.”

Ia juga berkata, “Sebagian ulama menduga, bahwa ayat ini termasuk ke dalam Bab majaz, yaitu menyandarkan khusyu’ kepada batu sebagaimana makna menyandarkan kehendak kepada dinding pada  firman-Nya, “(Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu) dinding rumah yang mau roboh.” (Al Kahfi: 77), namun Ar Raziy, Al Qurthubi dan ulama lainnya berpendapat, bahwa takwil seperti ini tidak perlu, karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menciptakan watak ini dalam diri batu, sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh, (Terj. Qs. Al Ahzaab: 72)

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. (Terj. Qs. Al Israa’: 44)

Tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (Terj. Qs. Ar Rahmaan: 6)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri…dst. (Terj. Qs. An Nahl: 48)

Keduanya (langit dan bumi) menjawab, "Kami datang dengan suka hati.” (Terj. Qs.Fushshilat: 11)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung. (Terj. Qs. Al Hasyr: 21)

Dan mereka berkata kepada kulit mereka, "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab, "Allah yang menjadikan kami pandai berkata.” (Terj. Qs. Fushshilat: 21)

Di dalam hadits shahih disebutkan,

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

Gunung ini (Uhud) mencintai kita dan kita mencintainya.

Demikian juga kisah merintih dan menangisnya batang pohon kurma yang haditsnya mutawatir, dan hadits dalam Shahih Muslim yang berbunyi,

إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ

Sesungguhnya saya benar-benar mengetahui sebuah batu di Mekah yang pernah memberi salam kepadaku sebelum saya diutus. Sesungguhnya saya sekarang benar-benar masih tahu tempatnya.

Demikian juga tentang sifat hajar aswad, bahwa ia akan bersaksi pada hari Kiamat membela orang yang mengusapnya dengan hak, dan riwayat-riwayat yang semakna dengan itu. (LIhat Al Mishbahul Munir hal. 71)

Nasihat:

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Betapa sering dibacakan kepada kita ayat-ayat Al Qur’an, tetapi hati kita seperti batu atau lebih keras lagi.” (Latha’iful Ma’arif, 174)

Amalmu akan dicatat, ucapanmu akan dihisab, engkau juga akan dituntut, sedangkan dirimu masih memiliki dosa-dosa yang engkau belum sempat bertaubat daripadanya, padahal matahari kehidupan sudah bersiap-siap tenggelam, maka jika engkau tidak sadar juga, berarti alangkah kerasnya hatimu!

[18] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Hati ketika lalai dari Dzikrullah (mengingat Allah) membuatnya menjadi keras. Tetapi ketika seseorang mengingat Allah Ta'ala, maka kerasnya hati itu menjadi luluh sebagaimana timah menjadi luluh di dalam api. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat membuat hati yang keras menjadi lunak seperti halnya mengingat Azza wa Jalla. " (Al Wabilush Shayyib hal. 146)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Di antara sebab kerasnya hati adalah banyak tertawa. Dalam Sunan Tirmidzi dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, Beliau bersabda,

لَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

"Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati." (Hr. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

Penyebab keras hati lainnya adalah terus-menerus berbuat dosa dan maksiat, cinta dunia, berpaling dari Al Qur’an dan dari mentadabburinya, berteman dengan orang-orang buruk, dan menjauhi majlis ilmu.

[19] Di akhir ayat ini, Allah mengancam mereka dengan ancaman yang keras, yakni bahwa Dia tidak lalai terhadap apa yang mereka kerjakan, bahkan mengetahuinya baik yang kecil maupun yang besar dan nanti Dia akan memberikan pembalasan terhadapnya.

Dari ayat 72-74 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Abu Bakar Al Jazairiy adalah: (1) kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, karena Beliau menyampaikan beberapa kisah yang dialami nenek moyang Bani Israil terdahulu, (2) menguak jati diri orang-orang Yahudi, dimana mereka saling mewarisi dalam sikap bodoh, makar, dan melakukan tipu daya, (3) orang-orang Yahudi termasuk orang-orang yang paling keras hatinya, bahkan sampai hari ini juga demikian, (4) tanda celaka seseorang adalah kerasnya hati, dan (5) sebagian hati manusia ada yang hatinya lebih keras daripada batu, sehingga tidak tersentuh oleh nasihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...