Seri (20)
Ayat
75-79: Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman yang tertuju kepada kaum mukmin,
dimana kandungannya adalah, apakah kamu
wahai kaum mukmin mengharapkan orang-orang Yahudi masuk Islam padahal mereka
telah mengetahui kebenaran, lalu merubahnya dan menyembunyikannya, di samping
hati mereka yang keras seperti batu. Demikian pula diterangkan sebagian
keburukan orang-orang Yahudi dan kesesatan mereka.
أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ
كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ
مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75)
75. [1]Maka apakah
kamu (wahai kaum muslim) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan
segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah
memahaminya, padahal mereka mengetahui? [2].
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ
إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ
بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (76)
76. Dan apabila mereka[3]
berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah
beriman," Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya,
"Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang
telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat mengalahkan hujjahmu di
hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?"[4]
أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ
(77)
77. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah
mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?[5]
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ
وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (78)
78. Dan di antara mereka ada yang buta
huruf[6],
tidak memahami Al Kitab (Taurat)[7],
kecuali berangan-angan[8]
dan mereka hanya menduga-duga[9].
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ
هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا
كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79)
79. [10]Maka
celakalah[11]
orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri[12], kemudian
berkata, "Ini dari Allah"[13],
(dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah[14].
Maka celakalah mereka[15], karena
tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat[16].
Ayat 80-82: Membatalkan sangkaan orang-orang
Yahudi, bahwa mereka tidak terkena siksa neraka kecuali beberapa hari saja dan
bahwa mereka tidak kekal di sana, selanjutnya menerangkan bahwa orang yang
beriman dan beramal saleh itulah orang-orang yang masuk surga dan kekal di
dalamnya.
وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ
أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ
عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80)
80. Dan mereka berkata, "Neraka tidak
akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja[17]."
Katakanlah, "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah[18],
sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang
Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?"[19]
بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ
أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81)
81. Bukan demikian! Barang siapa berbuat
keburukan[20],
dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka
kekal di dalamnya[21].
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82)
82. [22]Dan
orang-orang yang beriman[23]
serta beramal saleh[24],
mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.[25]
Ayat
83-86: menerangkan janji yang Allah ambil dari Bani Israil dan bagaimana mereka
mengingkari janjinya sehingga mendapatkan kemurkaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Demikian pula menyebutkan kejahatan orang-orang Yahudi dan kerusakan yang
mereka lakukan di bumi; mereka telah mengingkari perjanjian, menghalalkan
memakan harta manusia secara batil serta berbuat aniaya terhadap
saudara-saudara mereka seagama sehingga mereka mendapatkan laknat.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا
اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ
إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (83)
83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil
janji dari Bani Israil[26], "Janganlah
kamu menyembah selain Allah[27],
dan berbuat kebaikanlah kepada kedua orang tua[28],
kerabat, anak-anak yatim[29],
dan orang-orang miskin[30],
serta bertutur katalah yang baik kepada manusia[31],
dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat."[32] Tetapi
kemudian kamu berpaling (mengingkari janji), kecuali sebagian kecil di antara
kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ
أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (84)
84. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil
janji kamu, "Janganlah kamu menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan
mengusir dirimu (saudaramu sebangsa)[33] dari
kampung halamanmu." Kemudian kamu berikrar dan bersaksi (terhadap janji
itu).
ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا
مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ
يَأْتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ
بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ
إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ
الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85)
85. [34]Kemudian
kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan di
antara kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka[35] dalam
kejahatan dan permusuhan. Tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan[36],
kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang juga mengusir mereka. Apakah kamu
beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat)[37]
dan ingkar kepada sebagian yang lain?[38] Maka
tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu
selain kenistaan dalam kehidupan dunia[39],
dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang paling berat. Allah
tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan[40].
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ فَلَا
يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (86)
[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan
keburukan orang-orang Yahudi di masa lalu seperti menyembah patung anak sapi,
melanggar perjanjian, meminta untuk melihat Allah secara terang-terangan, maka
di ayat ini Allah menyebutkan keburukan orang-orang Yahudi di zaman Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
[2] Baik dengan menafsirkannya dengan tafsir yang tidak
benar setelah mengetahui makna yang sesungguhnya maupun dengan merubah
lafaz-lafaznya, padahal mereka mengetahui bahwa mereka telah merubah firman
Allah dengan sengaja dan berdusta. Terutama sekali yang mereka rubah adalah
mengenai sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang ada dalam
Taurat. Mereka yang melakukan hal ini adalah para ulamanya.
Ibnu
Wahb meriwayatkan dari Ibnu Zaid tentang firman Allah Ta’ala, “Mereka
mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya,”
ia berkata, “Kitab Taurat yang Allah turunkan kepada mereka, mereka ubah;
mereka jadikan yang halalnya menjadi haram dan yang haram menjadi halal, yang
hak menjadi batil dan yang batil menjadi hak. Ketika orang yang berada di pihak
yang benar datang kepada mereka dengan membawa suap, maka mereka keluarkan
kitab Allah kepadanya, tetapi apabila orang yang berada di pihak yang batil
datang kepada mereka dengan membawa suap, maka mereka keluarkan kitab (yang
telah mereka ubah), sehingga dia berada di pihak yang benar, dan apabila datang
kepada mereka seseorang yang bertanya kepada mereka tentang sesuatu yang tidak
terkait dengan perkara yang hak, tanpa suap dan tanpa lainnya, maka mereka
menyuruh perkara yang hak (benar) kepada orang itu. Maka Allah Subhaanahu wa
Ta'aala berfirman kepada mereka, “Mengapa kamu
suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri
(kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah
kamu berpikir?” (Terj. Qs. Al Baqarah: 44)
[3] Yakni kaum munafik dari kalangan Ahlul Kitab.
[4] Sebagian
Bani Israil yang mengaku beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam itu pernah bercerita kepada orang-orang Islam, bahwa dalam Taurat memang
disebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka
golongan lain menegur mereka dengan mengatakan, "Mengapa kamu ceritakan
hal itu kepada orang-orang Islam sehingga hujjah mereka bertambah kuat?"
Mereka takut hal itu menjadi bumerang bagi mereka.
Muhammad
bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Ibbas tentang firman Allah Ta’ala, “Dan
apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata,
"Kami telah beriman," ia berkata, “Maksudnya
kawanmu Muhammad adalah utusan Allah, tetapi hanya diutus kepadamu saja.” Tetapi
apabila mereka kembali kepada sesamanya, mereka berkata, "Janganlah kamu
menceritakan hal itu kepada orang-orang Arab, karena kamu dahulu pernah memohon
kemenangan melawan mereka dengan keberadaannya (Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam), ternyata ia muncul dari kalangan mereka, maka Allah menurunkan ayat, “Dan
apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata,
"Kami telah beriman," Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka
bertanya, "Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin)
apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat mengalahkan
hujjahmu di hadapan Tuhanmu?” yaitu pengakuan kamu bahwa ia seorang nabi, padahal kamu tahu bahwa Dia telah
mengambil perjanjian dari kamu untuk mengikutinya, sedangkan Dia telah
memberitahukan kepada mereka, bahwa ia adalah seorang nabi yang kita
tunggu-tunggu dan kita temukan dalam kitab kita. Oleh karena itu, ingkarilah
dan jangan mengakuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Tidakkah mereka mengetahui
bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka
nyatakan?” (Terj. Qs. Al Baqarah: 77)
Al
Hasan Al Bashri berkata, “Orang-orang Yahudi ini apabila berjumpa dengan orang-orang
yang beriman berkata, “Kami telah beriman,” tetapi apabila mereka kembali
kepada sesamanya, sebagian mereka berkata, “Janganlah kamu menceritakan kepada
kawan-kawan Muhammad perkara yang Allah terangkan kepadamu yang ada di kitabmu
sehingga mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Tuhanmu dan mengalahkan
kamu.”
[5] Mereka mengira bahwa kemunafikan yang mereka
sembunyikan dan pembicaraan rahasia antara sesama mereka tidak ada yang
mengetahui, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membatalkan sangkaan tersebut
dengan firman-Nya di atas.
Tentang ayat di atas, “Tidakkah
mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa
yang mereka nyatakan?” Abul ‘Aliyah berkata, “Maksudnya
yang mereka sembunyikan berupa kekafiran kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam dan pendustaan mereka kepadanya, padahal nama Beliau mereka
temukan tertulis (dalam kitab) di sisi mereka.” Hal ini juga sama dikatakan
oleh Qatadah.
Al
Hasan berkata, “Yang mereka sembunyikan adalah ketika mereka telah pergi dari
para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kembali kepada
sesamanya, maka mereka saling melarang satu sama lain agar jangan ada yang
memberitahukan kepada para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
apa yang telah diterangkan Allah dalam kitab mereka karena khawatir para
sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengalahkan hujjah mereka
di hadapan Tuhannya dengan keterangan yang ada dalam kitab mereka.”
Sedangkan
maksud ayat, “Apa yang mereka nyatakan,” adalah ketika mereka berkata
kepada para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, “Kami telah
beriman.” Inilah yang dikatakan Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’, dan Qatadah.
[6] Ummiy artinya yang tidak bisa menulis sebagaimana yang
dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’, Qatadah, Ibrahim An Nakha’i dan
lainnya.
Oleh
karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam disebut ‘Ummiy’ karena
keadaannya yang tidak bisa menulis (lihat Qs. Al ‘Ankabut: 48). Di dalam hadits
riwayat Bukhari disebutkan,
إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا
وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ
“Sesungguhnya kami umat yang
ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung, bulan ini begini dan begitu.”
Maksudnya terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari. Maksud hadits ini adalah
bahwa dalam melakukan ibadah, kami tidak membutuhkan tulisan dan perhitungan.
Hikmah
diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan ummiy adalah
untuk menolak anggapan, bahwa Beliau mengetahui peristiwa terdahulu karena
mempelajari kitab-kitab Ahli Kitab, padahal pengetahuan hal itu, Beliau terima
dari sisi Allah Azza wa Jalla.
[7] Maksudnya, tidak mengetahui isi di dalamnya.
[8] Menurut Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Adh
Dhahhak, bahwa maksudnya, hanya ucapan-ucapan yang mereka katakan secara dusta.
Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya hanya angan-angan yang mereka
harapkan. Menurut Mujahid, maksudnya bahwa orang-orang yang ummi yang
disebutkan Allah Ta’ala itu tidak dapat memahami kitab yang Allah turunkan
kepada Nabi Musa sedikit pun, mereka hanyalah menerka-nerka kedustaan dan
kebatilan secara dusta dan palsu. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 72).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah
mencela orang-orang yang merubah perkataan dari tempatnya, dan hal ini mencakup
pula kepada orang-orang yang menafsirkan Al Qur'an dan As Sunnah kepada bid'ah
yang batil. Demikian pula Allah mencela orang-orang yang tidak mengetahui isi
kitab selain angan-angan, mencakup pula kepada orang yang tidak mau
mentadabburi Al Qur'an dan tidak mengetahui selain membaca
huruf-hurufnya." (Dar'u Ta'arudhil Aql 1/77)
[9] Alhasil, kebanyakan
bangsa Yahudi itu buta huruf, dan tidak mengetahui isi Taurat selain dari
dongeng-dongeng yang diceritakan pendeta-pendeta mereka.
Ayat di atas menyebutkan keadaan orang-orang Yahudi, baik pendetanya maupun
kalangan awamnya. Para ulamanya berpegang dengan kesesatan, sedangkan kalangan
awamnya hanya mengikuti tanpa ilmu, sehingga sangat sulit sekali diharapkan
untuk beriman.
Dari ayat 75-78 kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya adalah: (1) manusia yang paling
jauh dari menerima kebenaran dan tunduk kepadanya adalah orang-orang Yahudi,
(2) Buruknya mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya, dan bahwa hal itu
merupakan sifat orang-orang Yahudi, (3) Buruknya keadaan ketika tidak mengenal
Allah, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya, (4) Tidak semua orang yang membaca
kitab memahami makna dan kandungannya, apalagi memahami hikmah dan rahasianya,
(5) tercelanya sikap taqlid buta (ikut-ikutan) tanpa mengetahui dasarnya.
[10] Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma berkata, "Ayat
ini turun berkenaan dengan Ahli Kitab."
[11] Wail (celakalah) artinya kebinasaan dan kehancuran.
Kata ini ditujukan kepada orang yang telah jatuh ke dalam kebinasaan atau azab.
Menurut
Abu ‘Iyadh, bahwa ‘wail’ adalah nanah yang ada di dasar neraka Jahannam.
Menurut
Atha bin Yasar, ‘wail’ adalah lembah di neraka Jahannam yang sekiranya gunung
dijalankan ke dalamnya langsung mencair.
[12] Yakni merubah isi Taurat sesuai yang mereka inginkan.
[13] Padahal berbeda dengan Taurat yang diturunkan
kepada Nabi Musa 'alaihis salam. Mereka melakukan hal itu hanya karena ingin
mendapatkan keuntungan dunia.
Faedah (catatan):
Ibnu Abbas berkata, “Wahai kaum muslimin,
bagaimana kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, padahal kitab
Allah yang Dia turunkan kepada Nabi-Nya adalah berita Allah yang paling baru,
kalian membacanya dengan segar dan tidak tercampuri. Allah Ta’ala juga telah
memberitahukan kepada kamu, bahwa Ahli Kitab telah merobah kitab Allah, mereka
tulis kitab dengan tangan mereka dan berkata, “Ini dari sisi Allah,” untuk
mendapatkan keuntungan yang sedikit. Tidakkah ilmu yang datang kepadamu
melarangmu untuk bertanya kepada mereka. Demi Allah, kami tidak melihat salah
seorang di antara mereka yang bertanya kepadamu tentang kitab yang diturunkan
kepadamu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)
[14] Al Hasan bin Abul Hasan Al Bashri berkata, “Harga yang
sedikit adalah dunia dengan segala isinya.”
[15] Yakni celakalah mereka karena yang mereka tulis dengan
tangan mereka berupa kedustaan dan kebohongan, dan celakalah mereka karena yang
mereka makan berupa makanan haram sebagaimana dikatakan Adh Dhahhak dari Ibnu
Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman-Nya ini, “Maka celakalah mereka,”
maka azab akan ditimpakan kepada mereka karena yang mereka tulis dengan tangan
mereka berupa kedustaan itu. Sedangkan firman-Nya, “Dan
celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat,” ia
berkata, “Karena apa yang mereka makan dari orang-orang rendah dan lainnya.”
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 73).
[16] Pada ayat tersebut Allah mengancam beberapa kali
kepada ulama su’ (jahat) yahudi, karena mereka menyamarkan urusan agama mereka
kepada orang-orang awam; tidak menunjukkan yang benar bahkan sebaliknya yakni menyembunyikannya
dan menampakkan yang batil sebagai sebuah kebenaran ditambah lagi dengan suka
memakan harta yang haram, suka menerima risywah (sogok), dsb. Lebih dari itu,
mereka berani merusak agama hanya karena ingin memperoleh harta dan keuntungan
dunia yang sangat rendah. Di zaman sekarang, contoh orang-orang yang mengikuti
jejak mereka adalah orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal), karena harta yang
ditawarkan kepada mereka, mereka berani mengacak-acak agama –wal 'iyaadz
billah-. Syaikhul Islam menafsirkan ayat 75 sampai 79, sbb:
"Sesungguhnya Allah mencela
orang-orang yang mengubah firman Allah dari tempat-tempatnya. Termasuk ke
dalamnya orang-orang yang mentakwil Al Qur'an dan As Sunnah mengikuti apa yang
dipegangnya berupa kebid'ahan-kebid'ahan batil. Demikian juga mencela
orang-orang yang tidak mengetahui Al Kitab selain angan-angan dusta. Termasuk
ke dalamnya orang-orang yang meninggalkan tadabbur Al Qur'an dan tidak
mengetahui selain bacaan hurufnya saja, dan termasuk orang-orang yang menulis
kitab dengan tangannya yang menyalahi kitab Allah untuk memperoleh dunia, lalu
ia berkata, "Ini dari sisi Allah" adalah orang yang berkata,
"Inilah syari'at dan agama, inilah makna dari Al Qur'an dan As Sunnah,
inilah yang dimengerti oleh kaum salaf dan para imam, inilah prinsip-prinsip
agama yang wajib diyakini setiap orang dan sebagiannya." Demikian juga
termasuk ke dalamnya orang-orang yang menyembunyikan Al Qur'an dan As Sunnah
(yang diketahuinya) agar orang yang menyelisihinya tidak dapat berhujjah
dengannya dalam kebenaran yang diucapkannya." (Lihat Tafsir Taisirul Karimir Rahman oleh
Syaikh As Sa’di hal. 56 cet. Mu’assasah Ar Risalah).
[17] Al ‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman
Allah Ta’ala, “Dan mereka berkata, "Neraka tidak
akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja,”
ia berkata, “Orang-orang Yahudi berkata, “Kami tidak akan disentuh oleh neraka
kecuali empat puluh malam saja.”
Dalam sebuah
hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ أُهْدِيَتْ
لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْمَعُوا إِلَيَّ مَنْ كَانَ هَا
هُنَا مِنْ يَهُودَ فَجُمِعُوا لَهُ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ
فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ قَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَبُوكُمْ قَالُوا فُلَانٌ فَقَالَ
كَذَبْتُمْ بَلْ أَبُوكُمْ فُلَانٌ قَالُوا صَدَقْتَ قَالَ فَهَلْ أَنْتُمْ
صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا
الْقَاسِمِ وَإِنْ كَذَبْنَا عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَهُ فِي أَبِينَا
فَقَالَ لَهُمْ مَنْ أَهْلُ النَّارِ قَالُوا نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا ثُمَّ
تَخْلُفُونَا فِيهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
اخْسَئُوا فِيهَا وَاللَّهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا ثُمَّ قَالَ هَلْ
أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا
أَبَا الْقَاسِمِ قَالَ هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سُمًّا قَالُوا
نَعَمْ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ قَالُوا أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا
نَسْتَرِيحُ وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ
Dari
Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata, "Ketika Khaibar ditaklukan,
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah seekor kambing yang di dalamnya
ditaruh racun. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kumpulkan
di hadapanku orang-orang yang ada di sini dari kalangan Yahudi.” Maka mereka
berkumpul di hadapan Beliau lalu Beliau berkata, "Aku bertanya satu hal
kepada kalian, apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah?"
Mereka menjawab, "Ya." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya
kepada mereka, "Siapa orang tua kalian.” Mereka menjawab, "Si fulan."
Beliau bersabda, "Kalian berdusta. Yang sebenarnya orang tua kalian adalah
si fulan.” Mereka berkata, "Anda benar." Lalu Beliau bertanya lagi,
"Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku
tanyakan?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Abu Al Qasim. Seandainya kami
berdusta, Anda pasti mengetahui kedustaan kami sebagaimana Anda mengetahui
orang tua kami." Beliau bertanya, "Siapakah yang menjadi penduduk
neraka?" Mereka menjawab, "Kami akan berada di dalamnya sebentar lalu
kalian (kaum Muslimin) akan menggantikan kami di dalamnya.” Nabi shallallahu
'alaihi wasallam berkata, "Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya. Demi
Allah, sungguh kami tidak akan menggantikan kalian ke dalamnya selama-lamanya.”
Kemudian Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian akan membenarkan aku tentang
suatu masalah yang akan aku tanyakan?" Mereka menjawab, "Ya, wahai
Abu Al Qasim.” Beliau bertanya, "Apakah kalian telah memasukkan racun ke
dalam kambing ini?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi,
"Apa yang mendorong kalian berbuat begitu?" Mereka menjawab,
"Kami hanya ingin menguji. Seandainya anda berdusta (mengaku sebagai Nabi)
kami dapat beristirahat dari anda. Dan seandainya anda benar seorang Nabi maka
racun itu tidak akan dapat mendatangkan bahaya buat anda.” (Hr. Bukhari, Ahmad,
Nasa’i dalam Al Kubraa dan Ibnu Mardawaih).
Catatan:
Penggunaan
kata “ma’dudah” dalam bahasa Arab setelah kata ayyaaman (bentuk
jama dari kata yaum) boleh ma’dudah dan boleh ma’dudat,
akan tetapi kata ma’dudah biasanya digunakan untuk jumlah yang banyak,
sedangkan ma’dudaat untuk jumlah yang sedikit seperti pada surat Al Baqarah
ayat 203, tetapi bisa juga untuk jumlah yang banyak seperti pada surat Al
Baqarah ayat 184, dan kedua-duanya adalah boleh sebagaimana diterangkan oleh
Ahli Bahasa Arab, yaitu Az Zujaj.
[18] Bahwa kamu tidak tinggal di neraka kecuali hanya
beberapa hari saja. Ada pula yang menafsirkan, sudahkah kamu mengambil
perjanjian dari Allah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat
kepada-Nya, karena perjanjian inilah yang dapat menyelamatkan seseorang dari
neraka.
[19] Setelah sebelumnya Allah Azza wa Jalla menyebutkan
perbuatan-perbuatan mereka yang buruk, kemudian Allah menerangkan bahwa mereka
masih saja menganggap bersih diri mereka, bersaksi bahwa mereka akan selamat
dari azab Allah dan bahwa mereka tidak tersentuh oleh neraka selain hanya
beberapa hari saja. Dengan demikian, mereka menggabungkan antara perbuatan dosa
dan rasa aman, keburukan apa lagi yang lebih besar daripada ini?! Terhadap
sangkaan mereka ini, Allah membantah dengan firman-Nya di atas dan ayat
setelahnya. Allah menerangkan bahwa kebenaran dakwaan mereka itu tergantung dua
hal yang tidak ada lagi ketiganya: pertama, apakah mereka sudah menerima
janji dari Allah. Kedua, atau mereka mengatakan tentang Allah sesuatu
yang mereka tidak ketahui. Untuk yang pertama jelas tidak. Hal ini dapat
diketahui dari keadaan mereka yang tidak mengambil janji dari Allah karena
mereka mendustakan para nabi bahkan sebagian di antaranya mereka bunuh, mereka
sering melakukan pelanggaran, membatalkan perjanjian dan lain-lain. Oleh karena
itu, yang benar adalah yang kedua, yakni mereka mengatakan tentang Allah
sesuatu yang mereka tidak ketahui, padahal mengatakan tentang Allah sesuatu
yang tidak diketahui termasuk dosa yang sangat besar.
[20] Keburukan di sini adalah syirik atau kufur
akbar, berdasarkan lanjutan ayatnya, yaitu "wa ahaathat bihi
khathii'atuh" (dan dosanya telah menenggelamkannya), karena selain syirik atau kufur akbar tidak membuat
seseorang tenggelam dalam dosa. Oleh karena itu, Abu Hurairah, Abu Wa’il,
‘Atha’ dan Al Hasan berkata tentang firman-Nya ini, “Dan
dosanya telah menenggelamkannya,” yakni syiriknya
telah menenggelamkannya.
[21] Dari ayat
79-81 dapat ditarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) peringatan keras
terhadap fatwa sesat yang di dalamnya terdapat sikap menghalalkan apa yang
Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau menyembunyikan
kebenaran untuk memperoleh kesenangan dunia atau kedudukan di sisi penguasa,
(2) tidak bergunanya kedudukan dan nasab di akhirat, dan bahwa yang bermanfaat
bagi seseorang di akhirat adalah iman dan amal saleh, (3) syirik dan kufur
akbar membuat seseorang kekal di neraka, adapun dosa-dosa di bawah syirik di
bawah kehendak Allah; bisa saja Allah mengampuninya dan bisa saja Dia
menyiksanya, lihat surah An Nisaa: 48, (4) peringatan terhadap bahaya dosa,
baik yang kecil maupun yang besar, dan dorongan untuk menghapuskannya dengan taubat
dan beramal saleh sebelum dosa-dosa itu mengepung seseorang sehingga
menghalanginya dari bertaubat, wal ‘iyadz billah.
[22] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan
tentang penghuni neraka dan azab yang akan mereka dapatkan, maka Dia
menyebutkan tentang orang-orang yang beriman dan kenikmatan yang akan mereka
dapatkan di surga.
[23] Kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab, nabi
dan rasul, hari akhir, dan qadar Allah yang baik atau yang buruk.
[24] Amal tidak bisa dikatakan saleh kecuali dengan dua
syarat: pertama, diniatkan ikhlas karena Allah, kedua, sesuai
sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
[25] Kesimpulan
dari ayat 81 dan 82 adalah bahwa orang yang beruntung mendapatkan surga dan
selamat dari neraka adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Sebaliknya, orang yang rugi dan masuk ke dalam neraka adalah orang-orang yang
kafir dan musyrik kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Ayat ini sama seperti di
[26] Janji ini diadakan karena mereka (Bani Israil) sering
bermaksiat, maka Allah mengambil perjanjian yang kokoh dari mereka.
[27] Inilah hak Allah yang wajib dipenuhi hamba; ia
merupakan hak paling agung dan paling tinggi.
[28] Berbuat baik kepada mereka mencakup berbuat
baik dengan perkataan dan perbuatan. Perintah berbuat baik kepada mereka
menunjukkan larangan berbuat buruk (isaa'ah) dan larangan tidak berbuat ihsan.
Perlu diketahui, bahwa berbakti kepada kedua
orang tua adalah amal yang paling utama dan paling dicintai Allah setelah
shalat pada waktunya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu
berikut:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ
الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ
قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Aku
pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amal apa yang
paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada
waktunya." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau
menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." 'Abdullah
bertanya lagi, "Kemudian apa kagi?" Beliau menjawab, "Jihad fi
sabilillah." (Hr. Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadits lain, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ
أُمُّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ
“Kepada ibumu, ibumu, dan ibumu,
kemudian bapakmu, lalu yang terdekat dan yang terdekat.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud,
Tirmidzi dan Hakim dari Mu’awiyah bin Habdah, dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari Abu Hurairah).
Maksud hadits ini adalah dahulukanlah ibu
dalam berbakti. Hal itu, karena ia yang telah menanggung penderitaan dan
kelelahan dalam mengurus anak, dari mulai mengandung, melahirkan, menyapih, dan
mengurusnya hingga besar.
[29] Anak yatim adalah anak yang ditinggal wafat oleh
bapaknya, sedangkan usia mereka belum mencapai masa baligh.
[30] Yaitu mereka yang tidak mendapatkan sesuatu yang dapat
digunakan untuk menafkahi diri dan keluarga mereka.
[31] Dalam perjanjian ini, Allah memerintahkan
mereka untuk bertutur kata yang baik kepada semua manusia. Termasuk bertutur
kata yang baik adalah beramar ma'ruf dan bernahi munkar, mengajarkan ilmu
agama, menyebarkan salam, senyum, memaafkan, dan perkataan baik lainnya. Sungguh
tepat sekali, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan manusia bertutur kata
yang baik setelah Dia memerintahkan mereka berlaku ihsan dalam perbuatan,
karena di
Dalam perintah bertutur kata yang baik
kepada semua manusia terdapat perintah berbuat ihsan secara umum, karena dengan
perbuatan dan harta terkadang di antara manusia ada yang tidak bisa
melakukannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan minimal dengan
perkataan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan manusia agar
ucapan dan tindakannya bersih dari perkara keji, kotor, mencaci maki, dan
bermusuhan. Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ
لَا اْلبَذِيِّ
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, orang
yang suka melaknat, orang yang berkata
kasar dan orang yang berkata kotor.” (Hr. Tirmidzi: 1977, Bukhari
dalam Al Adab al-Mufrad: 312, Ahmad: I/ 404-405 dan Hakim. Syaikh Al
Albani berkata, "Shahih.").
Ucapan yang baik memiliki pengaruh yang
besar, yaitu menghilangkan kebencian dan hasad dari orang lain, serta dapat
mewujudkan tujuan.
Faedah:
Kisah kaum
Salaf
Disebutkan, bahwa Abdullah bin Najih dalam kurun waktu 30
tahun, tidak pernah berbicara dengan kalimat yang menyakiti temannya. (As
Siyar 6/125)
Al Maimuni
berkata, "Sering sekali ketika aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam
Ahmad bin Hanbal) tentang suatu hal, ia
selalu menjawab, "Labbaik. (Ya, siap)." (As Siyar 1/218)
Dari Hammad ia
berkata, "Aku belum pernah melihat seorang yang paling sering tersenyum di
hadapan kawan-kawannya seperti Ayyub As Sikhtiyani." (As Siyar
5/17)
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, "Agama ini seluruhnya akhlak yang terpuji (baik kepada Allah, manusia,
maupun lainnya). Barang siapa yang mengalahkanmu dalam akhlaknya, maka berarti ia telah mengalahkanmu dalam
urusan agama.” (Madarijus Salikin 2/294)
[32] Syari'at yang disebutkan
pada ayat di atas adalah termasuk Ushuluddin (prinsip-prinsip agama) yang
diperintahkan Allah Azza wa Jalla dalam semua syari'at, karena di dalamnya
terdapat maslahat yang banyak di setiap waktu dan tempat, sehingga bagaimana
pun juga, syariat ini tidak akan mansukh (dihapus). Syariat yang disebutkan
dalam ayat ini juga berlaku untuk umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam, lihat juga tentang Ushuluddin lainnya di surat An Nisaa’: 36, Al
An'aam: 151-153, dan Al Israa': 23-39.
[33] Kata-kata "dirimu" untuk menguatkan larangan
membunuh dan mengusir antara sesama mereka.
[34] Ayat
ini berkenaan dengan orang-orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah.
Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, sedangkan Yahudi Bani Nadhir
bersekutu dengan orang-orang Khazraj. Antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum
Islam biasa terjadi peperangan. Ketika orang-orang Yahudi menempati Madinah, dimana
mereka terdiri dari tiga suku, yaitu: Bani Quraizhah, Bani Nadhir dan Bani
Qainuqa'. Masing-masing mereka bersekutu dengan suku Aus atau Khazraj. Ketika
suku Aus dan Khazraj berperang, maka para sekutunya yang terdiri dari
orang-orang Yahudi ikut berperang. Bani Quraizhah membantu suku Aus dan Bani
Nadhir membantu suku Khazraj. Sampai antara kedua suku Yahudi itu pun terjadi
peperangan dan tawan-menawan, karena membantu sekutunya. Tetapi ketika ada
orang-orang Yahudi yang tertawan, maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk
menebusnya karena mengamalkan salah satu hukum di Taurat, meskipun awalnya
mereka saling berperang.
Di dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas
bahwa amal bagian dari iman, dan iman itu menghendaki untuk mengerjakan
perintah dan menjauhi larangan. Demikian juga terdapat perintah mengamalkan
ajaran Islam secara kaffah (keseluruhan).
[35] Padahal mereka sama-sama sebangsa.
[36] Yakni jika ada yang tertawan.
[37] Sebagian hukum Taurat, yaitu menebus tawanan.
[38] Yaitu hukum di Taurat yang melarang pembunuhan dan
pengusiran.
[39] Hal itu pun terjadi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala
memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
sehingga di antara mereka ada yang terbunuh, ada yang tertawan, dan ada yang
terusir.
[40] Dalam
pernyataan ini, "Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan," terdapat ancaman agar mereka berhenti
dari melakukan tindakan itu, yaitu melanggar perjanjian, beriman kepada
sebagian ajaran al kitab dan kafir kepada sebagian yang lain, dimana jika
mereka tidak mau berhenti, maka Dia akan memberikan balasan yang buruk untuk
mereka di dunia dan di akhirat karena Dia memperhatikan apa yang mereka
kerjakan.
[41] Yakni mengedepankan dunia dan hawa nafsu di
atas akhirat atau membeli dunia dengan mengorbankan akhirat. Inilah sebab
mereka melakukan perbuatan-perbuatan terlarang itu sehingga mereka memperoleh
kenistaan dan kehinaan serta azab pada hari kiamat.
[42] Dari ayat
82-86 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) disyariatkan
mengingatkan manusia dengan sesuatu yang menjadi sebab mereka memperoleh
hidayah, (2) wajibnya beribadah dan hanya menyembah Allah saja, (3) wajibnya
berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang-orang miskin, (4)
wajibnya bergaul terhadap orang lain dengan adab dan akhlak yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar