Senin, 06 Juli 2026

Seri 20 (Surah Al Baqarah ayat 75-86)

 

Seri (20)

 




Ayat 75-79: Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman yang tertuju kepada kaum mukmin, dimana kandungannya adalah,  apakah kamu wahai kaum mukmin mengharapkan orang-orang Yahudi masuk Islam padahal mereka telah mengetahui kebenaran, lalu merubahnya dan menyembunyikannya, di samping hati mereka yang keras seperti batu. Demikian pula diterangkan sebagian keburukan orang-orang Yahudi dan kesesatan mereka.

 

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75)  

75. [1]Maka apakah kamu (wahai kaum muslim) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui? [2].

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (76)  

76. Dan apabila mereka[3] berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman," Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, "Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?"[4]

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (77) 

77. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?[5]

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (78) 

78. Dan di antara mereka ada yang buta huruf[6], tidak memahami Al Kitab (Taurat)[7], kecuali berangan-angan[8] dan mereka hanya menduga-duga[9].

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79) 

79. [10]Maka celakalah[11] orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri[12], kemudian berkata, "Ini dari Allah"[13], (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah[14]. Maka celakalah mereka[15], karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat[16].

 

 Ayat 80-82: Membatalkan sangkaan orang-orang Yahudi, bahwa mereka tidak terkena siksa neraka kecuali beberapa hari saja dan bahwa mereka tidak kekal di sana, selanjutnya menerangkan bahwa orang yang beriman dan beramal saleh itulah orang-orang yang masuk surga dan kekal di dalamnya.

 

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80) 

80. Dan mereka berkata, "Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja[17]." Katakanlah, "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah[18], sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?"[19]

بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (81) 

81. Bukan demikian! Barang siapa berbuat keburukan[20], dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya[21].

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (82) 

82. [22]Dan orang-orang yang beriman[23] serta beramal saleh[24], mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.[25]

 

Ayat 83-86: menerangkan janji yang Allah ambil dari Bani Israil dan bagaimana mereka mengingkari janjinya sehingga mendapatkan kemurkaan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula menyebutkan kejahatan orang-orang Yahudi dan kerusakan yang mereka lakukan di bumi; mereka telah mengingkari perjanjian, menghalalkan memakan harta manusia secara batil serta berbuat aniaya terhadap saudara-saudara mereka seagama sehingga mereka mendapatkan laknat.

 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ (83) 

83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil[26], "Janganlah kamu menyembah selain Allah[27], dan berbuat kebaikanlah kepada kedua orang tua[28], kerabat, anak-anak yatim[29], dan orang-orang miskin[30], serta bertutur katalah yang baik kepada manusia[31], dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat."[32] Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari janji), kecuali sebagian kecil di antara kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (84) 

84. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, "Janganlah kamu menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa)[33] dari kampung halamanmu." Kemudian kamu berikrar dan bersaksi (terhadap janji itu).

ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85)

85. [34]Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan di antara kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka[35] dalam kejahatan dan permusuhan. Tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan[36], kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang juga mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat)[37] dan ingkar kepada sebagian yang lain?[38] Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia[39], dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang paling berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan[40].

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (86) 

86. Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat[41]. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong[42].


[1]  Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan keburukan orang-orang Yahudi di masa lalu seperti menyembah patung anak sapi, melanggar perjanjian, meminta untuk melihat Allah secara terang-terangan, maka di ayat ini Allah menyebutkan keburukan orang-orang Yahudi di zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

[2] Baik dengan menafsirkannya dengan tafsir yang tidak benar setelah mengetahui makna yang sesungguhnya maupun dengan merubah lafaz-lafaznya, padahal mereka mengetahui bahwa mereka telah merubah firman Allah dengan sengaja dan berdusta. Terutama sekali yang mereka rubah adalah mengenai sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang ada dalam Taurat. Mereka yang melakukan hal ini adalah para ulamanya.

Ibnu Wahb meriwayatkan dari Ibnu Zaid tentang firman Allah Ta’ala, “Mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya,” ia berkata, “Kitab Taurat yang Allah turunkan kepada mereka, mereka ubah; mereka jadikan yang halalnya menjadi haram dan yang haram menjadi halal, yang hak menjadi batil dan yang batil menjadi hak. Ketika orang yang berada di pihak yang benar datang kepada mereka dengan membawa suap, maka mereka keluarkan kitab Allah kepadanya, tetapi apabila orang yang berada di pihak yang batil datang kepada mereka dengan membawa suap, maka mereka keluarkan kitab (yang telah mereka ubah), sehingga dia berada di pihak yang benar, dan apabila datang kepada mereka seseorang yang bertanya kepada mereka tentang sesuatu yang tidak terkait dengan perkara yang hak, tanpa suap dan tanpa lainnya, maka mereka menyuruh perkara yang hak (benar) kepada orang itu. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada mereka, Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Terj. Qs. Al Baqarah: 44)

[3]  Yakni kaum munafik dari kalangan Ahlul Kitab.

[4] Sebagian Bani Israil yang mengaku beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu pernah bercerita kepada orang-orang Islam, bahwa dalam Taurat memang disebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka golongan lain menegur mereka dengan mengatakan, "Mengapa kamu ceritakan hal itu kepada orang-orang Islam sehingga hujjah mereka bertambah kuat?" Mereka takut hal itu menjadi bumerang bagi mereka.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Ibbas tentang firman Allah Ta’ala, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman," ia berkata, “Maksudnya kawanmu Muhammad adalah utusan Allah, tetapi hanya diutus kepadamu saja.” Tetapi apabila mereka kembali kepada sesamanya, mereka berkata, "Janganlah kamu menceritakan hal itu kepada orang-orang Arab, karena kamu dahulu pernah memohon kemenangan melawan mereka dengan keberadaannya (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam), ternyata ia muncul dari kalangan mereka, maka Allah menurunkan ayat, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman," Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, "Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu?” yaitu pengakuan kamu bahwa ia seorang  nabi, padahal kamu tahu bahwa Dia telah mengambil perjanjian dari kamu untuk mengikutinya, sedangkan Dia telah memberitahukan kepada mereka, bahwa ia adalah seorang nabi yang kita tunggu-tunggu dan kita temukan dalam kitab kita. Oleh karena itu, ingkarilah dan jangan mengakuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?” (Terj. Qs. Al Baqarah: 77)

Al Hasan Al Bashri berkata, “Orang-orang Yahudi ini apabila berjumpa dengan orang-orang yang beriman berkata, “Kami telah beriman,” tetapi apabila mereka kembali kepada sesamanya, sebagian mereka berkata, “Janganlah kamu menceritakan kepada kawan-kawan Muhammad perkara yang Allah terangkan kepadamu yang ada di kitabmu sehingga mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Tuhanmu dan mengalahkan kamu.”

[5]  Mereka mengira bahwa kemunafikan yang mereka sembunyikan dan pembicaraan rahasia antara sesama mereka tidak ada yang mengetahui, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membatalkan sangkaan tersebut dengan firman-Nya di atas.

Tentang ayat di atas, “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?” Abul ‘Aliyah berkata, “Maksudnya yang mereka sembunyikan berupa kekafiran kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan pendustaan mereka kepadanya, padahal nama Beliau mereka temukan tertulis (dalam kitab) di sisi mereka.” Hal ini juga sama dikatakan oleh Qatadah.

Al Hasan berkata, “Yang mereka sembunyikan adalah ketika mereka telah pergi dari para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kembali kepada sesamanya, maka mereka saling melarang satu sama lain agar jangan ada yang memberitahukan kepada para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam apa yang telah diterangkan Allah dalam kitab mereka karena khawatir para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengalahkan hujjah mereka di hadapan Tuhannya dengan keterangan yang ada dalam kitab mereka.”

Sedangkan maksud ayat, “Apa yang mereka nyatakan,” adalah ketika mereka berkata kepada para sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, “Kami telah beriman.” Inilah yang dikatakan Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’, dan Qatadah.

[6] Ummiy artinya yang tidak bisa menulis sebagaimana yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’, Qatadah, Ibrahim An Nakha’i dan lainnya.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam disebut ‘Ummiy’ karena keadaannya yang tidak bisa menulis (lihat Qs. Al ‘Ankabut: 48). Di dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ

Sesungguhnya kami umat yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung, bulan ini begini dan begitu.” Maksudnya terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari. Maksud hadits ini adalah bahwa dalam melakukan ibadah, kami tidak membutuhkan tulisan dan perhitungan.

Hikmah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan ummiy adalah untuk menolak anggapan, bahwa Beliau mengetahui peristiwa terdahulu karena mempelajari kitab-kitab Ahli Kitab, padahal pengetahuan hal itu, Beliau terima dari sisi Allah Azza wa Jalla.

[7] Maksudnya, tidak mengetahui isi di dalamnya.

[8] Menurut Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Adh Dhahhak, bahwa maksudnya, hanya ucapan-ucapan yang mereka katakan secara dusta. Ada pula yang mengatakan, bahwa maksudnya hanya angan-angan yang mereka harapkan. Menurut Mujahid, maksudnya bahwa orang-orang yang ummi yang disebutkan Allah Ta’ala itu tidak dapat memahami kitab yang Allah turunkan kepada Nabi Musa sedikit pun, mereka hanyalah menerka-nerka kedustaan dan kebatilan secara dusta dan palsu. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 72).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah mencela orang-orang yang merubah perkataan dari tempatnya, dan hal ini mencakup pula kepada orang-orang yang menafsirkan Al Qur'an dan As Sunnah kepada bid'ah yang batil. Demikian pula Allah mencela orang-orang yang tidak mengetahui isi kitab selain angan-angan, mencakup pula kepada orang yang tidak mau mentadabburi Al Qur'an dan tidak mengetahui selain membaca huruf-hurufnya." (Dar'u Ta'arudhil Aql 1/77)

[9] Alhasil, kebanyakan bangsa Yahudi itu buta huruf, dan tidak mengetahui isi Taurat selain dari dongeng-dongeng yang diceritakan pendeta-pendeta mereka. Ayat di atas menyebutkan keadaan orang-orang Yahudi, baik pendetanya maupun kalangan awamnya. Para ulamanya berpegang dengan kesesatan, sedangkan kalangan awamnya hanya mengikuti tanpa ilmu, sehingga sangat sulit sekali diharapkan untuk beriman.

Dari ayat 75-78 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya adalah: (1) manusia yang paling jauh dari menerima kebenaran dan tunduk kepadanya adalah orang-orang Yahudi, (2) Buruknya mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya, dan bahwa hal itu merupakan sifat orang-orang Yahudi, (3) Buruknya keadaan ketika tidak mengenal Allah, sifat-sifat-Nya, dan nama-nama-Nya, (4) Tidak semua orang yang membaca kitab memahami makna dan kandungannya, apalagi memahami hikmah dan rahasianya, (5) tercelanya sikap taqlid buta (ikut-ikutan) tanpa mengetahui dasarnya.

[10] Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan Ahli Kitab."

[11] Wail (celakalah) artinya kebinasaan dan kehancuran. Kata ini ditujukan kepada orang yang telah jatuh ke dalam kebinasaan atau azab.

Menurut Abu ‘Iyadh, bahwa ‘wail’ adalah nanah yang ada di dasar neraka Jahannam.

Menurut Atha bin Yasar, ‘wail’ adalah lembah di neraka Jahannam yang sekiranya gunung dijalankan ke dalamnya langsung mencair.

[12] Yakni merubah isi Taurat sesuai yang mereka inginkan.

[13]  Padahal berbeda dengan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa 'alaihis salam. Mereka melakukan hal itu hanya karena ingin mendapatkan keuntungan dunia.

Faedah (catatan):

Ibnu Abbas berkata, “Wahai kaum muslimin, bagaimana kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, padahal kitab Allah yang Dia turunkan kepada Nabi-Nya adalah berita Allah yang paling baru, kalian membacanya dengan segar dan tidak tercampuri. Allah Ta’ala juga telah memberitahukan kepada kamu, bahwa Ahli Kitab telah merobah kitab Allah, mereka tulis kitab dengan tangan mereka dan berkata, “Ini dari sisi Allah,” untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit. Tidakkah ilmu yang datang kepadamu melarangmu untuk bertanya kepada mereka. Demi Allah, kami tidak melihat salah seorang di antara mereka yang bertanya kepadamu tentang kitab yang diturunkan kepadamu.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

[14] Al Hasan bin Abul Hasan Al Bashri berkata, “Harga yang sedikit adalah dunia dengan segala isinya.”

[15] Yakni celakalah mereka karena yang mereka tulis dengan tangan mereka berupa kedustaan dan kebohongan, dan celakalah mereka karena yang mereka makan berupa makanan haram sebagaimana dikatakan Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman-Nya ini, “Maka celakalah mereka,” maka azab akan ditimpakan kepada mereka karena yang mereka tulis dengan tangan mereka berupa kedustaan itu. Sedangkan firman-Nya, “Dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat,” ia berkata, “Karena apa yang mereka makan dari orang-orang rendah dan lainnya.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 73).

[16] Pada ayat tersebut Allah mengancam beberapa kali kepada ulama su’ (jahat) yahudi, karena mereka menyamarkan urusan agama mereka kepada orang-orang awam; tidak menunjukkan yang benar bahkan sebaliknya yakni menyembunyikannya dan menampakkan yang batil sebagai sebuah kebenaran ditambah lagi dengan suka memakan harta yang haram, suka menerima risywah (sogok), dsb. Lebih dari itu, mereka berani merusak agama hanya karena ingin memperoleh harta dan keuntungan dunia yang sangat rendah. Di zaman sekarang, contoh orang-orang yang mengikuti jejak mereka adalah orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal), karena harta yang ditawarkan kepada mereka, mereka berani mengacak-acak agama –wal 'iyaadz billah-. Syaikhul Islam menafsirkan ayat 75 sampai 79, sbb:

"Sesungguhnya Allah mencela orang-orang yang mengubah firman Allah dari tempat-tempatnya. Termasuk ke dalamnya orang-orang yang mentakwil Al Qur'an dan As Sunnah mengikuti apa yang dipegangnya berupa kebid'ahan-kebid'ahan batil. Demikian juga mencela orang-orang yang tidak mengetahui Al Kitab selain angan-angan dusta. Termasuk ke dalamnya orang-orang yang meninggalkan tadabbur Al Qur'an dan tidak mengetahui selain bacaan hurufnya saja, dan termasuk orang-orang yang menulis kitab dengan tangannya yang menyalahi kitab Allah untuk memperoleh dunia, lalu ia berkata, "Ini dari sisi Allah" adalah orang yang berkata, "Inilah syari'at dan agama, inilah makna dari Al Qur'an dan As Sunnah, inilah yang dimengerti oleh kaum salaf dan para imam, inilah prinsip-prinsip agama yang wajib diyakini setiap orang dan sebagiannya." Demikian juga termasuk ke dalamnya orang-orang yang menyembunyikan Al Qur'an dan As Sunnah (yang diketahuinya) agar orang yang menyelisihinya tidak dapat berhujjah dengannya dalam kebenaran yang diucapkannya." (Lihat Tafsir Taisirul Karimir Rahman oleh Syaikh As Sa’di hal. 56 cet. Mu’assasah Ar Risalah).

[17] Al ‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Dan mereka berkata, "Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja,” ia berkata, “Orang-orang Yahudi berkata, “Kami tidak akan disentuh oleh neraka kecuali empat puluh malam saja.”

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  لَمَّا فُتِحَتْ خَيْبَرُ أُهْدِيَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ فِيهَا سُمٌّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْمَعُوا إِلَيَّ مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ يَهُودَ فَجُمِعُوا لَهُ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ قَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَبُوكُمْ قَالُوا فُلَانٌ فَقَالَ كَذَبْتُمْ بَلْ أَبُوكُمْ فُلَانٌ قَالُوا صَدَقْتَ قَالَ فَهَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ وَإِنْ كَذَبْنَا عَرَفْتَ كَذِبَنَا كَمَا عَرَفْتَهُ فِي أَبِينَا فَقَالَ لَهُمْ مَنْ أَهْلُ النَّارِ قَالُوا نَكُونُ فِيهَا يَسِيرًا ثُمَّ تَخْلُفُونَا فِيهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْسَئُوا فِيهَا وَاللَّهِ لَا نَخْلُفُكُمْ فِيهَا أَبَدًا ثُمَّ قَالَ هَلْ أَنْتُمْ صَادِقِيَّ عَنْ شَيْءٍ إِنْ سَأَلْتُكُمْ عَنْهُ فَقَالُوا نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ قَالَ هَلْ جَعَلْتُمْ فِي هَذِهِ الشَّاةِ سُمًّا قَالُوا نَعَمْ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ قَالُوا أَرَدْنَا إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا نَسْتَرِيحُ وَإِنْ كُنْتَ نَبِيًّا لَمْ يَضُرَّكَ

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, ia berkata, "Ketika Khaibar ditaklukan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah seekor kambing yang di dalamnya ditaruh racun. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kumpulkan di hadapanku orang-orang yang ada di sini dari kalangan Yahudi.” Maka mereka berkumpul di hadapan Beliau lalu Beliau berkata, "Aku bertanya satu hal kepada kalian, apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah?" Mereka menjawab, "Ya." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka, "Siapa orang tua kalian.” Mereka menjawab, "Si fulan." Beliau bersabda, "Kalian berdusta. Yang sebenarnya orang tua kalian adalah si fulan.” Mereka berkata, "Anda benar." Lalu Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Abu Al Qasim. Seandainya kami berdusta, Anda pasti mengetahui kedustaan kami sebagaimana Anda mengetahui orang tua kami." Beliau bertanya, "Siapakah yang menjadi penduduk neraka?" Mereka menjawab, "Kami akan berada di dalamnya sebentar lalu kalian (kaum Muslimin) akan menggantikan kami di dalamnya.” Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya. Demi Allah, sungguh kami tidak akan menggantikan kalian ke dalamnya selama-lamanya.” Kemudian Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Abu Al Qasim.” Beliau bertanya, "Apakah kalian telah memasukkan racun ke dalam kambing ini?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi, "Apa yang mendorong kalian berbuat begitu?" Mereka menjawab, "Kami hanya ingin menguji. Seandainya anda berdusta (mengaku sebagai Nabi) kami dapat beristirahat dari anda. Dan seandainya anda benar seorang Nabi maka racun itu tidak akan dapat mendatangkan bahaya buat anda.” (Hr. Bukhari, Ahmad, Nasa’i dalam Al Kubraa dan Ibnu Mardawaih).

Catatan:

Penggunaan kata “ma’dudah” dalam bahasa Arab setelah kata ayyaaman (bentuk jama dari kata yaum) boleh ma’dudah dan boleh ma’dudat, akan tetapi kata ma’dudah biasanya digunakan untuk jumlah yang banyak, sedangkan ma’dudaat untuk jumlah yang sedikit seperti pada surat Al Baqarah ayat 203, tetapi bisa juga untuk jumlah yang banyak seperti pada surat Al Baqarah ayat 184, dan kedua-duanya adalah boleh sebagaimana diterangkan oleh Ahli Bahasa Arab, yaitu Az Zujaj.

[18] Bahwa kamu tidak tinggal di neraka kecuali hanya beberapa hari saja. Ada pula yang menafsirkan, sudahkah kamu mengambil perjanjian dari Allah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat kepada-Nya, karena perjanjian inilah yang dapat menyelamatkan seseorang dari neraka.

[19] Setelah sebelumnya Allah Azza wa Jalla menyebutkan perbuatan-perbuatan mereka yang buruk, kemudian Allah menerangkan bahwa mereka masih saja menganggap bersih diri mereka, bersaksi bahwa mereka akan selamat dari azab Allah dan bahwa mereka tidak tersentuh oleh neraka selain hanya beberapa hari saja. Dengan demikian, mereka menggabungkan antara perbuatan dosa dan rasa aman, keburukan apa lagi yang lebih besar daripada ini?! Terhadap sangkaan mereka ini, Allah membantah dengan firman-Nya di atas dan ayat setelahnya. Allah menerangkan bahwa kebenaran dakwaan mereka itu tergantung dua hal yang tidak ada lagi ketiganya: pertama, apakah mereka sudah menerima janji dari Allah. Kedua, atau mereka mengatakan tentang Allah sesuatu yang mereka tidak ketahui. Untuk yang pertama jelas tidak. Hal ini dapat diketahui dari keadaan mereka yang tidak mengambil janji dari Allah karena mereka mendustakan para nabi bahkan sebagian di antaranya mereka bunuh, mereka sering melakukan pelanggaran, membatalkan perjanjian dan lain-lain. Oleh karena itu, yang benar adalah yang kedua, yakni mereka mengatakan tentang Allah sesuatu yang mereka tidak ketahui, padahal mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak diketahui termasuk dosa yang sangat besar.

[20]  Keburukan di sini adalah syirik atau kufur akbar, berdasarkan lanjutan ayatnya, yaitu "wa ahaathat bihi khathii'atuh" (dan dosanya telah menenggelamkannya), karena selain syirik atau kufur akbar tidak membuat seseorang tenggelam dalam dosa. Oleh karena itu, Abu Hurairah, Abu Wa’il, ‘Atha’ dan Al Hasan berkata tentang firman-Nya ini, “Dan dosanya telah menenggelamkannya,” yakni syiriknya telah menenggelamkannya.

[21]  Dari ayat 79-81 dapat ditarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) peringatan keras terhadap fatwa sesat yang di dalamnya terdapat sikap menghalalkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau menyembunyikan kebenaran untuk memperoleh kesenangan dunia atau kedudukan di sisi penguasa, (2) tidak bergunanya kedudukan dan nasab di akhirat, dan bahwa yang bermanfaat bagi seseorang di akhirat adalah iman dan amal saleh, (3) syirik dan kufur akbar membuat seseorang kekal di neraka, adapun dosa-dosa di bawah syirik di bawah kehendak Allah; bisa saja Allah mengampuninya dan bisa saja Dia menyiksanya, lihat surah An Nisaa: 48, (4) peringatan terhadap bahaya dosa, baik yang kecil maupun yang besar, dan dorongan untuk menghapuskannya dengan taubat dan beramal saleh sebelum dosa-dosa itu mengepung seseorang sehingga menghalanginya dari bertaubat, wal ‘iyadz billah.

[22]  Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan tentang penghuni neraka dan azab yang akan mereka dapatkan, maka Dia menyebutkan tentang orang-orang yang beriman dan kenikmatan yang akan mereka dapatkan di surga.

[23]  Kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab, nabi dan rasul, hari akhir, dan qadar Allah yang baik atau yang buruk.

[24] Amal tidak bisa dikatakan saleh kecuali dengan dua syarat: pertama, diniatkan ikhlas karena Allah, kedua, sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[25] Kesimpulan dari ayat 81 dan 82 adalah bahwa orang yang beruntung mendapatkan surga dan selamat dari neraka adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sebaliknya, orang yang rugi dan masuk ke dalam neraka adalah orang-orang yang kafir dan musyrik kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Ayat ini sama seperti di surat An Nisaa’: 123-124.

[26] Janji ini diadakan karena mereka (Bani Israil) sering bermaksiat, maka Allah mengambil perjanjian yang kokoh dari mereka.

[27] Inilah hak Allah yang wajib dipenuhi hamba; ia merupakan hak paling agung dan paling tinggi.

[28]  Berbuat baik kepada mereka mencakup berbuat baik dengan perkataan dan perbuatan. Perintah berbuat baik kepada mereka menunjukkan larangan berbuat buruk (isaa'ah) dan larangan tidak berbuat ihsan.

Perlu diketahui, bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama dan paling dicintai Allah setelah shalat pada waktunya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berikut:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amal apa yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua." 'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa kagi?" Beliau menjawab, "Jihad fi sabilillah." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ

“Kepada ibumu, ibumu, dan ibumu, kemudian bapakmu, lalu yang terdekat dan yang terdekat.” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim dari Mu’awiyah bin Habdah, dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Maksud hadits ini adalah dahulukanlah ibu dalam berbakti. Hal itu, karena ia yang telah menanggung penderitaan dan kelelahan dalam mengurus anak, dari mulai mengandung, melahirkan, menyapih, dan mengurusnya hingga besar.

[29] Anak yatim adalah anak yang ditinggal wafat oleh bapaknya, sedangkan usia mereka belum mencapai masa baligh.

[30] Yaitu mereka yang tidak mendapatkan sesuatu yang dapat digunakan untuk menafkahi diri dan keluarga mereka.

[31]  Dalam perjanjian ini, Allah memerintahkan mereka untuk bertutur kata yang baik kepada semua manusia. Termasuk bertutur kata yang baik adalah beramar ma'ruf dan bernahi munkar, mengajarkan ilmu agama, menyebarkan salam, senyum, memaafkan, dan perkataan baik lainnya. Sungguh tepat sekali, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan manusia bertutur kata yang baik setelah Dia memerintahkan mereka berlaku ihsan dalam perbuatan, karena di sana menggabung antara berbuat ihsan dengan ucapan dan berbuat ihsan dengan perbuatan.

Dalam perintah bertutur kata yang baik kepada semua manusia terdapat perintah berbuat ihsan secara umum, karena dengan perbuatan dan harta terkadang di antara manusia ada yang tidak bisa melakukannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan minimal dengan perkataan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajarkan manusia agar ucapan dan tindakannya bersih dari perkara keji, kotor, mencaci maki, dan bermusuhan.  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ

“Orang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat, orang yang berkata kasar dan orang yang berkata kotor.” (Hr. Tirmidzi: 1977, Bukhari dalam Al Adab al-Mufrad: 312, Ahmad: I/ 404-405 dan Hakim. Syaikh Al Albani berkata, "Shahih.").

Ucapan yang baik memiliki pengaruh yang besar, yaitu menghilangkan kebencian dan hasad dari orang lain, serta dapat mewujudkan tujuan.

Faedah:

Kisah kaum Salaf

Disebutkan,  bahwa Abdullah bin Najih dalam kurun waktu 30 tahun, tidak pernah berbicara dengan kalimat yang menyakiti temannya. (As Siyar 6/125)

Al Maimuni berkata, "Sering sekali ketika aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) tentang suatu hal,  ia selalu menjawab,  "Labbaik. (Ya,  siap)." (As Siyar 1/218)

Dari Hammad ia berkata, "Aku belum pernah melihat seorang yang paling sering tersenyum di hadapan kawan-kawannya seperti Ayyub As Sikhtiyani." (As Siyar 5/17)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Agama ini seluruhnya akhlak yang terpuji (baik kepada Allah,  manusia,  maupun lainnya). Barang siapa yang mengalahkanmu dalam akhlaknya,  maka berarti ia telah mengalahkanmu dalam urusan agama.” (Madarijus Salikin 2/294)

[32] Syari'at yang disebutkan pada ayat di atas adalah termasuk Ushuluddin (prinsip-prinsip agama) yang diperintahkan Allah Azza wa Jalla dalam semua syari'at, karena di dalamnya terdapat maslahat yang banyak di setiap waktu dan tempat, sehingga bagaimana pun juga, syariat ini tidak akan mansukh (dihapus). Syariat yang disebutkan dalam ayat ini juga berlaku untuk umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lihat juga tentang Ushuluddin lainnya di surat An Nisaa’: 36, Al An'aam: 151-153, dan Al Israa': 23-39.

[33] Kata-kata "dirimu" untuk menguatkan larangan membunuh dan mengusir antara sesama mereka.

[34] Ayat ini berkenaan dengan orang-orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, sedangkan Yahudi Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. Antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam biasa terjadi peperangan. Ketika orang-orang Yahudi menempati Madinah, dimana mereka terdiri dari tiga suku, yaitu: Bani Quraizhah, Bani Nadhir dan Bani Qainuqa'. Masing-masing mereka bersekutu dengan suku Aus atau Khazraj. Ketika suku Aus dan Khazraj berperang, maka para sekutunya yang terdiri dari orang-orang Yahudi ikut berperang. Bani Quraizhah membantu suku Aus dan Bani Nadhir membantu suku Khazraj. Sampai antara kedua suku Yahudi itu pun terjadi peperangan dan tawan-menawan, karena membantu sekutunya. Tetapi ketika ada orang-orang Yahudi yang tertawan, maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya karena mengamalkan salah satu hukum di Taurat, meskipun awalnya mereka saling berperang.

Di dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas bahwa amal bagian dari iman, dan iman itu menghendaki untuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan. Demikian juga terdapat perintah mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (keseluruhan).

[35] Padahal mereka sama-sama sebangsa.

[36] Yakni jika ada yang tertawan.

[37]  Sebagian hukum Taurat, yaitu menebus tawanan.

[38] Yaitu hukum di Taurat yang melarang pembunuhan dan pengusiran.

[39] Hal itu pun terjadi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga di antara mereka ada yang terbunuh, ada yang tertawan, dan ada yang terusir.

[40] Dalam pernyataan ini, "Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan," terdapat ancaman agar mereka berhenti dari melakukan tindakan itu, yaitu melanggar perjanjian, beriman kepada sebagian ajaran al kitab dan kafir kepada sebagian yang lain, dimana jika mereka tidak mau berhenti, maka Dia akan memberikan balasan yang buruk untuk mereka di dunia dan di akhirat karena Dia memperhatikan apa yang mereka kerjakan.

[41]  Yakni mengedepankan dunia dan hawa nafsu di atas akhirat atau membeli dunia dengan mengorbankan akhirat. Inilah sebab mereka melakukan perbuatan-perbuatan terlarang itu sehingga mereka memperoleh kenistaan dan kehinaan serta azab pada hari kiamat.

[42]  Dari ayat 82-86 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) disyariatkan mengingatkan manusia dengan sesuatu yang menjadi sebab mereka memperoleh hidayah, (2) wajibnya beribadah dan hanya menyembah Allah saja, (3) wajibnya berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, dan orang-orang miskin, (4) wajibnya bergaul terhadap orang lain dengan adab dan akhlak yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...