Seri (21)
Ayat
87-88: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan Bani Israil terhadap pengutusan
Rasul-Nya dan penurunan kitab-Nya, dan bagaimana sikap mereka terhadap para
rasul dan kitab-kitab yang Allah turunkan.
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا
مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ
بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ
اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ (87)
87. [1] [2]Dan
sungguh, Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan
setelahnya dengan rasul-rasul[3],
dan Kami telah berikan kepada Isa putera Maryam bukti-bukti kebenaran
(mukjizat) serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus[4]. Mengapa
setiap rasul yang datang kepadamu membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu
inginkan[5],
kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lagi kamu
bunuh?[6]
وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا
مَا يُؤْمِنُونَ (88)
88. Dan mereka berkata, "Hati kami
tertutup."[7]
tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka
sedikit sekali mereka yang beriman.
Ayat 89-90: Menerangkan kekafiran orang-orang
Yahudi terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya karena
Beliau diutus dari bangsa Arab setelah sebelumnya mereka menunggu-nunggu
kedatangan Nabi akhir zaman untuk melawan musuh-musuh mereka, dan mereka telah
mengenal betul kerasulan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ
وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ
مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (89)
89. [8]Dan
setelah sampai kepada mereka kitab (Al Quran) dari Allah yang membenarkan apa
yang ada pada mereka[9], padahal
sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan
atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah
mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang
ingkar[10].
بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ (90)
90. Sangatlah buruk (perbuatan) mereka
menjual dirinya[11],
dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki[12]
bahwa Allah menurunkan karunia-Nya[13]
kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka
mendapat kemurkaan di atas kemurkaan[14]. Dan
kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan[15].
Ayat 91-93: Menyebutkan dustanya orang-orang
Yahudi yang mengaku beriman kepada Taurat, karena mereka telah membunuh para
nabi mereka dan menyembah patung anak sapi, dan bahwa penyembahan
yang mereka lakukan terhadap patung anak sapi merupakan tanda kecenderungan
mereka kepada benda.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ
بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا
لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ
مُؤْمِنِينَ (91)
91. Dan apabila dikatakan kepada mereka[16],
"Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka menjawab,
"Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Mereka ingkar
kepada apa yang diturunkan setelahnya (Al Qur'an)[17], padahal
(Al Quran) itu adalah (kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada
mereka[18].
Katakanlah, "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu
orang-orang yang beriman?"[19]
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ
مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (92)
92. [20]Sesungguhnya
Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat)[21],
kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)nya[22],
dan kamu menjadi orang-orang yang zalim[23].
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا
مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا
فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (93)
[1] Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
sikap Bani Israil antar sesama mereka di ayat sebelumnya, maka Dia menyebutkan
sikap mereka terhadap para nabi dan rasul alaihimush shalatu was salam.
[2] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhaanahu wa
Ta'aala menyifati Bani Israil dengan sifat melampaui batas, keras kepala, suka
menyelisihi dan sombong terhadap para nabi, dan bahwa yang mereka ikuti
hanyalah hawa nafsu mereka belaka. Allah Ta’ala menyebutkan, bahwa Dia telah
memberikan kepada Musa Al Kitab, yaitu Taurat, lalu mereka menyelewengkan dan
merubahnya, menyelisihi perintah-perintahnya dan menakwilnya (dengan takwil
yang tidak benar). Dia juga mengutus para rasul dan para nabi setelah Beliau
yang berhukum dengan syariatnya sebagaimana firman Allah Taala, “Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh
nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan
pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab
Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.“ (Terj. Qs. Al Maa’idah: 44)
Oleh karena itu, Dia berfirman, “Dan Kami
susulkan setelahnya dengan rasul-rasul.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 87) As Suddiy meriwayatkan
dari Abu Malik, bahwa maksudnya, “Kami ikutkan.” Yang lain berpendapat, “Kami
iringi.” Masing-masing pendapat itu mendekati, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul
Kami berturut-turut.” (Terj. Qs. Al Mu’minuun: 44)
Sehingga Dia mengakhiri nabi-nabi Bani Israil dengan Isa putera Maryam, lalu
Beliau datang membawa hal yang menyelisihi Taurat dalam sebagian hukum. Oleh
karenanya Allah memberikan kepadanya beberapa bukti, berupa mukjizat. Ibnu
Abbas berkata, “Seperti menghidupkan orang-orang yang telah mati, dibentuknya
burung dari tanah lalu ia meniup kepadanya, maka jadilah burung yang
sesungguhnya dengan izin Allah, menyembuhkan berbagai penyakit, pemberitaaannya
terhadap perkara-perkara gaib dan penguatan Beliau dengan Ruhul Qudus, yaitu
malaikat Jibril 'alaihissalam yang menunjukkan kebenaran apa yang Beliau bawa.”
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 76-77)
[3] Oleh karena itu, banyak sekali para nabi yang berasal
dari Bani Israil. Nabi terakhirnya dari kalangan Bani Israil adalah Nabi Isa
putera Maryam 'alahis salam.
[4] Menurut
Jumhur (mayoritas) mufassir, maksud Ruhul Qudus adalah malaikat Jibril, namun
ada yang mengatakan bahwa Ruhul Qudus adalah keimanan yang dijadikan Allah
untuk menguatkan hamba-hamba-Nya (Lihat tafsir As Sa’diy pada ayat ini).
Pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur. Pendapat ini juga dipegang oleh
Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka’ab, Isma’il bin Khalid, As Suddi, Ar
Rabii’ bin Anas, ‘Athiyyah Al ‘Aufi, dan Qatadah. Dalil yang menunjukkan
demikian adalah
Imam
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam menaruh mimbar di masjid untuk Hassan bin Tsabit, ketika itu
ia membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, perkuatlah Hassan dengan Ruhul Qudus
(malaikat Jibril) sebagaimana ia telah membela Nabi-Mu.” (Hadits ini juga diriwayatkan
oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih.”)
Sedangkan
dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ رُوْحَ اْلقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِيْ أَنَّ
نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهُا وَ تَسْتَوْعِبَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوا
اللهَ وَ أَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَ لاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدُكُمُ اسْتِبْطَاءَ الرِّزْقِ
أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ
إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya
Ruhul Qudus (malaikat Jibril) memberikan ilham ke dalam hatiku, bahwa seorang jiwa
tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan mendapatkan rezeki secara penuh.
Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencarinya, dan
janganlah keterlambatan rezeki membuat kamu mencarinya dengan bermaksiat kepada
Allah, karena sesungguhnya untuk memperoleh apa yang di sisi Allah Ta’ala tidak
bisa dicapai kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” (Hr. Abu Nu’aim dalam Al
Hilyah dari Abu Umamah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul
Jami’ no. 2085).
[5] Yakni tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka
lebih mengedepankan hawa nafsu daripada petunjuk dan lebih mengedepankan dunia
daripada akhirat.
[6] Az Zamakhsyariy sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir
berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Kamu
menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lagi kamu bunuh?”
Allah tidak mengatakan “Wa fariiqan qataltum.” (Dan sebagian lagi kamu
telah bunuh), karena maksudnya menyifati mereka terhadap perkara di masa yang
akan datang juga, dimana mereka berusaha membunuh Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dengan racun maupun dengan sihir. Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda ketika sakit yang membawa kepada wafatnya Beliau, “Makanan
(yang beracun) pada hari Khaibar masih menyerangku, dan inilah waktu
terputusnya urat nadiku.” Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini ada dalam Shahih
Bukhari dan lainnya.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 77)
[7] Kata-kata ini ditujukan mereka kepada Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana nasehat dan pelajaran yang
Beliau sampaikan tidak masuk ke dalam hati mereka. Kata-kata mereka ini dijawab
oleh Allah dengan ayat di atas, yakni sebenarnya hati mereka telah dikutuk dan
dicap seperti itu. Mereka telah dijauhkan dari rahmat Allah, oleh karenanya
tidak ada yang mereka imani kecuali sedikit, namun hal itu tidaklah bermanfaat
bagi mereka. Bisa juga maksud "fa qaliilam maa yu'minuun" adalah
bahwa sedikit sekali di antara mereka yang mau beriman, yakni kebanyakan mereka
kafir. Ayat di atas juga sama seperti di
[8] Ibnu Ishaq berkata, "Telah menceritakan kepadaku
'Ashim bin Umar bin Qatadah dari beberapa orang kaumnya, bahwa mereka berkata,
"Sesungguhnya di antara yang menyebabkan kami masuk Islam di samping
karena rahmat Allah Ta'ala dan petunjuk-Nya adalah karena kami mendengar
beberapa orang-orang Yahudi, sedangkan kami –ketika itu- sebagai orang-orang
musyrik penyembah berhala, sedangkan mereka Ahli Kitab memiliki ilmu yang tidak
kami miliki. Ketika itu, antara kami dengan mereka senantiasa ada masalah.
Ketika kami berhasil menimpakan kepada mereka apa yang tidak mereka sukai,
mereka berkata, "Sesungguhnya telah dekat waktu diutusnya nabi, dimana
kami akan membunuh kamu bersamanya dengan cara seperti yang menimpa kaum 'Aad
dan Iram." Kami sering sekali mendengar hal itu dari mereka. Ketika Allah
mengutus rasul-Nya, maka kami memenuhi seruannya yang mengajak kami kepada
Allah Ta'ala, dan kami mengetahui apa yang mereka janjikan itu, maka kami
segera mendatanginya dan beriman kepadanya, sedangkan mereka malah kafir.
Tentang kami dan mereka turunlah ayat ini." (Sirah Ibnu Hisyam,
hadits ini hasan karena Ibnu Ishaq apabila menyebutkan secara tegas
"haddatsana" (telah menceritakan kepada kami), maka haditsnya hasan
sebagaimana disebutkan oleh Al Haafzih Adz Dzahabiy dalam Al Mizan).
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari
Abul
‘Aliyah berkata, “Orang-orang Yahudi sebelumnya meminta kedatangan Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melawan kaum musyrik bangsa Arab,
mereka berkata, “Ya Allah, utuslah Nabi yang tertulis pada (kitab) di sisi kami
agar kami dapat menyiksa orang-orang musyrik dan membunuh mereka." Tetapi
ketika Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka
menyaksikan bahwa ternyata Beliau bukan dari kalangan mereka, maka mereka kafir
kepadanya karena hasad kepada orang-orang Arab, padahal mereka mengetahui bahwa
Beliau adalah utusan Allah, Allah Ta’ala berfirman, “Ternyata setelah sampai
kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat
Allah bagi orang-orang yang ingkar.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 89)
[9] Yakni
kitab Taurat, di
[10] Baik ingkar kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam maupun kepada kitab yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an).
[11] Maksudnya menurut Mujahid adalah, bahwa orang-orang
Yahudi menjual kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan (kebenaran) yang
dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang seharusnya mereka
jelaskan.
[12] Inilah yang membuat mereka menjual kebenaran dengan
kebatilan.
[13] Maksudnya,
Allah menurunkan wahyu (kenabian) kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,
dimana Beliau dari bangsa Arab, bukan dari Bani Israil.
[14] Maksudnya,
mereka mendapat kemurkaan yang berlipat-ganda yaitu kemurkaan karena tidak
beriman kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kemurkaan yang
disebabkan perbuatan mereka dahulu, yaitu membunuh nabi-nabi, mendustakannya,
merubah isi Taurat, dan sebagainya.
Menurut
Ibnu Abbas, bahwa maksudnya, mereka mendapat kemurkaan karena menyia-nyiakan
Taurat, sedangkan kitab itu ada pada mereka, dan mereka mendapat kemurkaan
karena kekafiran mereka kepada Nabi yang Allah utus kepada mereka ini (Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam).
Adapun
menurut Abul ‘Aliyah, maksudnya adalah bahwa mereka mendapatkan kemurkaan dari
Allah karena kekafiran mereka kepada Injil dan Nabi Isa, dan mereka mendapatkan
kemurkaan dari Allah karena kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam dan Al Qur’an. ‘Ikrimah dan Qatadah juga mengatakan seperti
itu. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 78)
[15] Ibnu Katsir menerangkan, bahwa karena kekafiran mereka
sebabnya adalah karena durhaka dan hasad, dimana sumbernya adalah sombong, maka
mereka dibalas dengan kehinaan dan kerendahan di dunia dan di akhirat. Hal ini sebagaimana
firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Terj. Qs. Al Mu’min: 60)
Imam Ahmad
meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
يُحْشَرُ
الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ النَّاسِ
يَعْلُوهُمْ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الصَّغَارِ حَتَّى يَدْخُلُوا سِجْنًا فِي
جَهَنَّمَ يُقَالُ لَهُ بُولَسُ فَتَعْلُوَهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ
مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ
"Orang-orang yang sombong
kelak di hari kiamat akan dibangkitkan dalam bentuk seperti semut kecil
berwujud manusia. Di hadapan mereka segala sesuatu tampak tinggi karena sangat
kecilnya mereka, hingga mereka dimasukkan ke dalam penjara neraka jahannam yang
bernama Bulas dan mereka pun dilahap api-api, mereka juga diberi minum dari
Thinatul Khabal (darah dan nanah) para penghuni neraka." (Hadits ini dihasankan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 8040).
Dari ayat 87-90 kita dapat menarik banyak pelajaran, di
antaranya: (1) nikmat Allah menghendaki untuk disyukuri, dan dosa mengharuskan
pelakunya bertaubat, (2) buruknya menolak kebenaran karena tidak sesuai hawa
nafsu, (3) kejinya melakukan pembunuhan dan mendustakan kebenaran, (4) buruknya
menyombongkan diri dalam hal ilmu dan merasa tidak butuh lagi ilmu yang lain,
(5) buruknya hasad dan bahwa akibat yang dihasilkan adalah terhalangi dari
memperoleh kebaikan, (6) waspada terhadap su’ul khatimah (akhir hayat
yang buruk), wal ‘iyadz billah
(7) menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya.
[16] Maksudnya, apabila sebagian kaum muslim berkata kepada
orang-orang Yahudi.
[17] Padahal beriman kepada apa yang diturunkan
Allah menghendaki beriman secara mutlak, baik kepada kitab yang diturunkan
kepada mereka maupun kepada selain mereka. Keimanan seperti inilah keimanan
yang bermanfaat, adapun membeda-bedakan dengan beriman kepada sebagiannya dan
ingkar kepada sebagian yang lain, maka hal ini merupakan kekafiran yang
sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Barang siapa yang diajak kepada
kebenaran dari umat ini namun dia malah mengatakan, " "Tetapi dalam
mazhab ini; begini dan begitu,"
maksudnya dia tidak mau mengikuti kebenaran itu, maka sebenarnya dalam
dirinya terdapat kemiripan dengan orang-orang yahudi, karena yang seharusnya
dilakukan ketika diajak kepada kebenaran adalah engkau mengatakan, "Kami
dengar dan kami taat," serta tidak membantahnya dengan pendapat siapapun
atau mazhab apapun." (Tafsir Al Quran Al Karim 1/298).
[18] Yakni jika mereka memang beriman kepada kitab-kitab
yang diturunkan kepada mereka, seharusnya mereka beriman juga kepada Al Qur'an
yang isinya benar dan membenarkan apa yang ada pada mereka.
Di samping itu, jika memang mereka beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan
kepada mereka, tentu mereka tidak akan membunuh nabi-nabi mereka. Menurut
sebagian ulama, maksud membenarkan apa yang ada pada mereka adalah membenarkan
dasar-dasar agama yang disebutkan dalam kitab mereka, seperti tauhid, kenabian,
kebangkitan, dan pembalasan terhadap amal di akhirat.
[19] Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Jika pengakuanmu dalam beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu adalah
benar, maka mengapa kamu membunuh para nabi yang datang kepadamu membenarkan
kitab Taurat yang ada di tanganmu, yang berhukum dengannya dan tidak
menghapusnya, padahal kamu mengetahui kebenaran mereka? Kamu membunuh mereka
karena zalim, membangkang dan sombong terhadap para utusan Allah. Oleh karena
itu, tidak ada yang kamu ikuti selain hawa nafsu, pendapat dan kemauan kamu
sendiri sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul
membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu
menyombongkan diri; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan
beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Terj. Qs. Al Baqarah: 87) (Lihat Al Mishbahul
Munir hal. 79)
[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'ala
memberikan contoh lainnya yang menunjukkan dustanya pernyataan mereka; beriman
kepada kitab yang diturunkan kepada mereka.
[21] Mukjizat itu adalah tongkat, tangan, belalang,
kutu, katak, darah, taufan (banjir besar), terbelahnya laut, dinaunginya mereka
dengan awan, diturunkan Manna dan Salwa, memancarnya air dari batu dan
mukjizat-mukjizat lainnya yang mereka saksikan yang seharusnya membuat mereka
semakin taat. Namun demikian, mereka malah senang berbuat maksiat, bahkan
sampai menyembah patung.
[22] Maksudnya
kepergian Nabi Musa 'alaihis salam ke bukit Thur yang terletak di Sinai untuk
menerima Taurat.
[23] Karena menyembah patung anak sapi, padahal mereka
mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dalam ayat
ini syirik disebut sebagai kezaliman, karena sama saja menempatkan sesuatu yang
bukan pada tempatnya atau mengarahkan ibadah kepada yang tidak berhak
diibadahi.
[24] Yakni jika mereka menolak, maka akan ditimpakan bukit
Thursina kepada mereka. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan di
antara kesalahan mereka, menyelisihinya mereka kepada perjanjian dan
berpalingnya mereka dari perjanjian itu sampai Allah mengangkat bukit ke atas
mereka, hingga akhirnya mereka mau menerima, tetapi kemudian mereka
menyelisihi.
[25] Maksudnya mendengar disertai sikap tunduk,
menerima, dan taat.
[26] Perbuatan
jahat yang mereka kerjakan adalah menyembah anak sapi, membunuh nabi-nabi, dan
melanggar janji.
[27] Dengan demikian, bagaimana mereka bisa menganggap
beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka, padahal tindakan mereka
seperti ini; melanggar janji, kafir kepada ayat-ayat Allah, membunuh nabi-nabi
dan menyembah patung anak sapi?
Dari ayat 91-93 kita dapat menarik banyak pelajaran, di
antaranya: (1) disyariatkan mencela pelaku kejahatan ketika mereka
memperlihatkannya, (2) kejahatan orang-orang Yahudi dengan membunuh para nabi
dan orang-orang yang mengadakan perbaikan, (3) wajibnya memegang syariat dengan
sungguh-sungguh, (4) beriman kepada kebenaran tidaklah memerintahkan pelakunya
kecuali perbuatan yang baik, sedangkan beriman kepada yang batil memerintahkan
pelakunya berbuat buruk, dan (5) kebiasaan orang-orang Yahudi adalah suka
melanggar perjanjian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar