Minggu, 12 Juli 2026

Seri 21 (Surah Al Baqarah ayat 87-93)

 

Seri (21)

 




Ayat 87-88: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan Bani Israil terhadap pengutusan Rasul-Nya dan penurunan kitab-Nya, dan bagaimana sikap mereka terhadap para rasul dan kitab-kitab yang Allah turunkan.

 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ (87)  

87. [1] [2]Dan sungguh, Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul[3], dan Kami telah berikan kepada Isa putera Maryam bukti-bukti kebenaran (mukjizat) serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus[4]. Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan[5], kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lagi kamu bunuh?[6]

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ (88)  

88. Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup."[7] tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.

 

 Ayat 89-90: Menerangkan kekafiran orang-orang Yahudi terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanya karena Beliau diutus dari bangsa Arab setelah sebelumnya mereka menunggu-nunggu kedatangan Nabi akhir zaman untuk melawan musuh-musuh mereka, dan mereka telah mengenal betul kerasulan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ (89)  

89. [8]Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al Quran) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[9], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar[10].

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ (90)  

90. Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya[11], dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki[12] bahwa Allah menurunkan karunia-Nya[13] kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka mendapat kemurkaan di atas kemurkaan[14]. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan[15].

 

 Ayat 91-93: Menyebutkan dustanya orang-orang Yahudi yang mengaku beriman kepada Taurat, karena mereka telah membunuh para nabi mereka dan menyembah patung anak sapi, dan bahwa penyembahan yang mereka lakukan terhadap patung anak sapi merupakan tanda kecenderungan mereka kepada benda.

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (91) 

91. Dan apabila dikatakan kepada mereka[16], "Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah," mereka menjawab, "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Mereka ingkar kepada apa yang diturunkan setelahnya (Al Qur'an)[17], padahal (Al Quran) itu adalah (kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka[18]. Katakanlah, "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?"[19]

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (92)  

92. [20]Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat)[21], kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) setelah (kepergian)nya[22], dan kamu menjadi orang-orang yang zalim[23].

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (93) 

93. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu[24] (seraya berfirman), "Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!"[25] Mereka menjawab, "Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati." Telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, "Sangat buruk[26] perbuatan yang telah diperintahkan kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman[27].


[1]  Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sikap Bani Israil antar sesama mereka di ayat sebelumnya, maka Dia menyebutkan sikap mereka terhadap para nabi dan rasul alaihimush shalatu was salam.

[2] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati Bani Israil dengan sifat melampaui batas, keras kepala, suka menyelisihi dan sombong terhadap para nabi, dan bahwa yang mereka ikuti hanyalah hawa nafsu mereka belaka. Allah Ta’ala menyebutkan, bahwa Dia telah memberikan kepada Musa Al Kitab, yaitu Taurat, lalu mereka menyelewengkan dan merubahnya, menyelisihi perintah-perintahnya dan menakwilnya (dengan takwil yang tidak benar). Dia juga mengutus para rasul dan para nabi setelah Beliau yang berhukum dengan syariatnya sebagaimana firman Allah Taala, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.“ (Terj. Qs. Al Maa’idah: 44) Oleh karena itu, Dia berfirman, “Dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 87) As Suddiy meriwayatkan dari Abu Malik, bahwa maksudnya, “Kami ikutkan.” Yang lain berpendapat, “Kami iringi.” Masing-masing pendapat itu mendekati, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut.” (Terj. Qs. Al Mu’minuun: 44) Sehingga Dia mengakhiri nabi-nabi Bani Israil dengan Isa putera Maryam, lalu Beliau datang membawa hal yang menyelisihi Taurat dalam sebagian hukum. Oleh karenanya Allah memberikan kepadanya beberapa bukti, berupa mukjizat. Ibnu Abbas berkata, “Seperti menghidupkan orang-orang yang telah mati, dibentuknya burung dari tanah lalu ia meniup kepadanya, maka jadilah burung yang sesungguhnya dengan izin Allah, menyembuhkan berbagai penyakit, pemberitaaannya terhadap perkara-perkara gaib dan penguatan Beliau dengan Ruhul Qudus, yaitu malaikat Jibril 'alaihissalam yang menunjukkan kebenaran apa yang Beliau bawa.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 76-77)

[3] Oleh karena itu, banyak sekali para nabi yang berasal dari Bani Israil. Nabi terakhirnya dari kalangan Bani Israil adalah Nabi Isa putera Maryam 'alahis salam.

[4] Menurut Jumhur (mayoritas) mufassir, maksud Ruhul Qudus adalah malaikat Jibril, namun ada yang mengatakan bahwa Ruhul Qudus adalah keimanan yang dijadikan Allah untuk menguatkan hamba-hamba-Nya (Lihat tafsir As Sa’diy pada ayat ini). Pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur. Pendapat ini juga dipegang oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka’ab, Isma’il bin Khalid, As Suddi, Ar Rabii’ bin Anas, ‘Athiyyah Al ‘Aufi, dan Qatadah. Dalil yang menunjukkan demikian adalah surat Asy Syu’ara: 193-194, dan hadits-hadits berikut:

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menaruh mimbar di masjid untuk Hassan bin Tsabit, ketika itu ia membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, perkuatlah Hassan dengan Ruhul Qudus (malaikat Jibril) sebagaimana ia telah membela Nabi-Mu.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih.”)

Sedangkan dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ رُوْحَ اْلقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِيْ أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهُا وَ تَسْتَوْعِبَ رِزْقُهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَ أَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَ لاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدُكُمُ اسْتِبْطَاءَ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) memberikan ilham ke dalam hatiku, bahwa seorang jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan mendapatkan rezeki secara penuh. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencarinya, dan janganlah keterlambatan rezeki membuat kamu mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya untuk memperoleh apa yang di sisi Allah Ta’ala tidak bisa dicapai kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” (Hr. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari Abu Umamah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2085).

[5] Yakni tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Mereka lebih mengedepankan hawa nafsu daripada petunjuk dan lebih mengedepankan dunia daripada akhirat.

[6] Az Zamakhsyariy sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian lagi kamu bunuh?” Allah tidak mengatakan “Wa fariiqan qataltum.” (Dan sebagian lagi kamu telah bunuh), karena maksudnya menyifati mereka terhadap perkara di masa yang akan datang juga, dimana mereka berusaha membunuh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan racun maupun dengan sihir. Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika sakit yang membawa kepada wafatnya Beliau, “Makanan (yang beracun) pada hari Khaibar masih menyerangku, dan inilah waktu terputusnya urat nadiku.” Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini ada dalam Shahih Bukhari dan lainnya.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 77)

[7]  Kata-kata ini ditujukan mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana nasehat dan pelajaran yang Beliau sampaikan tidak masuk ke dalam hati mereka. Kata-kata mereka ini dijawab oleh Allah dengan ayat di atas, yakni sebenarnya hati mereka telah dikutuk dan dicap seperti itu. Mereka telah dijauhkan dari rahmat Allah, oleh karenanya tidak ada yang mereka imani kecuali sedikit, namun hal itu tidaklah bermanfaat bagi mereka. Bisa juga maksud "fa qaliilam maa yu'minuun" adalah bahwa sedikit sekali di antara mereka yang mau beriman, yakni kebanyakan mereka kafir. Ayat di atas juga sama seperti di surat An Nisaa’: 155.

[8] Ibnu Ishaq berkata, "Telah menceritakan kepadaku 'Ashim bin Umar bin Qatadah dari beberapa orang kaumnya, bahwa mereka berkata, "Sesungguhnya di antara yang menyebabkan kami masuk Islam di samping karena rahmat Allah Ta'ala dan petunjuk-Nya adalah karena kami mendengar beberapa orang-orang Yahudi, sedangkan kami –ketika itu- sebagai orang-orang musyrik penyembah berhala, sedangkan mereka Ahli Kitab memiliki ilmu yang tidak kami miliki. Ketika itu, antara kami dengan mereka senantiasa ada masalah. Ketika kami berhasil menimpakan kepada mereka apa yang tidak mereka sukai, mereka berkata, "Sesungguhnya telah dekat waktu diutusnya nabi, dimana kami akan membunuh kamu bersamanya dengan cara seperti yang menimpa kaum 'Aad dan Iram." Kami sering sekali mendengar hal itu dari mereka. Ketika Allah mengutus rasul-Nya, maka kami memenuhi seruannya yang mengajak kami kepada Allah Ta'ala, dan kami mengetahui apa yang mereka janjikan itu, maka kami segera mendatanginya dan beriman kepadanya, sedangkan mereka malah kafir. Tentang kami dan mereka turunlah ayat ini." (Sirah Ibnu Hisyam, hadits ini hasan karena Ibnu Ishaq apabila menyebutkan secara tegas "haddatsana" (telah menceritakan kepada kami), maka haditsnya hasan sebagaimana disebutkan oleh Al Haafzih Adz Dzahabiy dalam Al Mizan).

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Orang-orang Yahudi sebelumnya meminta kedatangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memenangkan mereka terhadap suku Aus dan Khazraj sebelum diutusnya Beliau. Ketika Allah mengutus Beliau dari kalangan bangsa Arab, maka mereka kafir dan mengingkari apa yang mereka katakan dahulu tentang Beliau, maka Mu’adz bin Jabal dan Bisyr bin Al Barra’ bin Ma’rur saudara Bani Salamah berkata, “Wahai kaum Yahudi! Bertakwalah kepada Allah dan masuk Islamlah, karena sesungguhnya kamu sebelumnya meminta kedatangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melawan kami padahal kami sebagai orang-orang musyrik (ketika itu), dan kamu memberitahukan kami bahwa ia akan diutus, kamu juga menyifati Beliau dengan sifatnya.” Maka Salam bin Misykam saudara Bani Nadhir berkata, “Dia (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) tidaklah datang kepada kami dengan sesuatu yang kami kenali, dia bukanlah yang kami sebutkan kepada kamu.” Maka terhadap hal ini, Allah menurunkan ayat, “Dan setelah sampai kepada mereka kitab (Al Quran) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka.” (Terj. QS. Al Baqarah: 89)

Abul ‘Aliyah berkata, “Orang-orang Yahudi sebelumnya meminta kedatangan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melawan kaum musyrik bangsa Arab, mereka berkata, “Ya Allah, utuslah Nabi yang tertulis pada (kitab) di sisi kami agar kami dapat menyiksa orang-orang musyrik dan membunuh mereka." Tetapi ketika Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka menyaksikan bahwa ternyata Beliau bukan dari kalangan mereka, maka mereka kafir kepadanya karena hasad kepada orang-orang Arab, padahal mereka mengetahui bahwa Beliau adalah utusan Allah, Allah Ta’ala berfirman, “Ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 89)

[9] Yakni kitab Taurat, di sana diterangkan tentang akan datangnya seorang nabi dan disebutkan juga sifat-sifatnya.

[10]  Baik ingkar kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam maupun kepada kitab yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an).

[11] Maksudnya menurut Mujahid adalah, bahwa orang-orang Yahudi menjual kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan (kebenaran) yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang seharusnya mereka jelaskan.

[12] Inilah yang membuat mereka menjual kebenaran dengan kebatilan.

[13] Maksudnya, Allah menurunkan wahyu (kenabian) kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana Beliau dari bangsa Arab, bukan dari Bani Israil.

[14] Maksudnya, mereka mendapat kemurkaan yang berlipat-ganda yaitu kemurkaan karena tidak beriman kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kemurkaan yang disebabkan perbuatan mereka dahulu, yaitu membunuh nabi-nabi, mendustakannya, merubah isi Taurat, dan sebagainya.

Menurut Ibnu Abbas, bahwa maksudnya, mereka mendapat kemurkaan karena menyia-nyiakan Taurat, sedangkan kitab itu ada pada mereka, dan mereka mendapat kemurkaan karena kekafiran mereka kepada Nabi yang Allah utus kepada mereka ini (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam).

Adapun menurut Abul ‘Aliyah, maksudnya adalah bahwa mereka mendapatkan kemurkaan dari Allah karena kekafiran mereka kepada Injil dan Nabi Isa, dan mereka mendapatkan kemurkaan dari Allah karena kekafiran mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan Al Qur’an. ‘Ikrimah dan Qatadah juga mengatakan seperti itu. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 78)

[15] Ibnu Katsir menerangkan, bahwa karena kekafiran mereka sebabnya adalah karena durhaka dan hasad, dimana sumbernya adalah sombong, maka mereka dibalas dengan kehinaan dan kerendahan di dunia dan di akhirat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Terj. Qs. Al Mu’min: 60)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ النَّاسِ يَعْلُوهُمْ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الصَّغَارِ حَتَّى يَدْخُلُوا سِجْنًا فِي جَهَنَّمَ يُقَالُ لَهُ بُولَسُ فَتَعْلُوَهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ

"Orang-orang yang sombong kelak di hari kiamat akan dibangkitkan dalam bentuk seperti semut kecil berwujud manusia. Di hadapan mereka segala sesuatu tampak tinggi karena sangat kecilnya mereka, hingga mereka dimasukkan ke dalam penjara neraka jahannam yang bernama Bulas dan mereka pun dilahap api-api, mereka juga diberi minum dari Thinatul Khabal (darah dan nanah) para penghuni neraka." (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 8040).

Dari ayat 87-90 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) nikmat Allah menghendaki untuk disyukuri, dan dosa mengharuskan pelakunya bertaubat, (2) buruknya menolak kebenaran karena tidak sesuai hawa nafsu, (3) kejinya melakukan pembunuhan dan mendustakan kebenaran, (4) buruknya menyombongkan diri dalam hal ilmu dan merasa tidak butuh lagi ilmu yang lain, (5) buruknya hasad dan bahwa akibat yang dihasilkan adalah terhalangi dari memperoleh kebaikan, (6) waspada terhadap su’ul khatimah (akhir hayat yang buruk), wal ‘iyadz billah  (7) menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya. 

[16] Maksudnya, apabila sebagian kaum muslim berkata kepada orang-orang Yahudi.

[17]  Padahal beriman kepada apa yang diturunkan Allah menghendaki beriman secara mutlak, baik kepada kitab yang diturunkan kepada mereka maupun kepada selain mereka. Keimanan seperti inilah keimanan yang bermanfaat, adapun membeda-bedakan dengan beriman kepada sebagiannya dan ingkar kepada sebagian yang lain, maka hal ini merupakan kekafiran yang sesungguhnya sebagaimana diterangkan dalam surat An Nisa' : 150-151.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Barang siapa yang diajak kepada kebenaran dari umat ini namun dia malah mengatakan, " "Tetapi dalam mazhab ini; begini dan begitu,"  maksudnya dia tidak mau mengikuti kebenaran itu, maka sebenarnya dalam dirinya terdapat kemiripan dengan orang-orang yahudi, karena yang seharusnya dilakukan ketika diajak kepada kebenaran adalah engkau mengatakan, "Kami dengar dan kami taat," serta tidak membantahnya dengan pendapat siapapun atau mazhab apapun." (Tafsir Al Quran Al Karim 1/298).

[18] Yakni jika mereka memang beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, seharusnya mereka beriman juga kepada Al Qur'an yang isinya benar dan membenarkan apa yang ada pada mereka. Di samping itu, jika memang mereka beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan membunuh nabi-nabi mereka. Menurut sebagian ulama, maksud membenarkan apa yang ada pada mereka adalah membenarkan dasar-dasar agama yang disebutkan dalam kitab mereka, seperti tauhid, kenabian, kebangkitan, dan pembalasan terhadap amal di akhirat.

[19] Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jika pengakuanmu dalam beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu adalah benar, maka mengapa kamu membunuh para nabi yang datang kepadamu membenarkan kitab Taurat yang ada di tanganmu, yang berhukum dengannya dan tidak menghapusnya, padahal kamu mengetahui kebenaran mereka? Kamu membunuh mereka karena zalim, membangkang dan sombong terhadap para utusan Allah. Oleh karena itu, tidak ada yang kamu ikuti selain hawa nafsu, pendapat dan kemauan kamu sendiri sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (Terj. Qs. Al Baqarah: 87) (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 79)

[20]  Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'ala memberikan contoh lainnya yang menunjukkan dustanya pernyataan mereka; beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka.

[21]  Mukjizat itu adalah tongkat, tangan, belalang, kutu, katak, darah, taufan (banjir besar), terbelahnya laut, dinaunginya mereka dengan awan, diturunkan Manna dan Salwa, memancarnya air dari batu dan mukjizat-mukjizat lainnya yang mereka saksikan yang seharusnya membuat mereka semakin taat. Namun demikian, mereka malah senang berbuat maksiat, bahkan sampai menyembah patung.

[22] Maksudnya kepergian Nabi Musa 'alaihis salam ke bukit Thur yang terletak di Sinai untuk menerima Taurat.

[23] Karena menyembah patung anak sapi, padahal mereka mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dalam ayat ini syirik disebut sebagai kezaliman, karena sama saja menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya atau mengarahkan ibadah kepada yang tidak berhak diibadahi.

[24] Yakni jika mereka menolak, maka akan ditimpakan bukit Thursina kepada mereka. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan di antara kesalahan mereka, menyelisihinya mereka kepada perjanjian dan berpalingnya mereka dari perjanjian itu sampai Allah mengangkat bukit ke atas mereka, hingga akhirnya mereka mau menerima, tetapi kemudian mereka menyelisihi.

[25]  Maksudnya mendengar disertai sikap tunduk, menerima, dan taat.

[26] Perbuatan jahat yang mereka kerjakan adalah menyembah anak sapi, membunuh nabi-nabi, dan melanggar janji.

[27] Dengan demikian, bagaimana mereka bisa menganggap beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka, padahal tindakan mereka seperti ini; melanggar janji, kafir kepada ayat-ayat Allah, membunuh nabi-nabi dan menyembah patung anak sapi?

Dari ayat 91-93 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) disyariatkan mencela pelaku kejahatan ketika mereka memperlihatkannya, (2) kejahatan orang-orang Yahudi dengan membunuh para nabi dan orang-orang yang mengadakan perbaikan, (3) wajibnya memegang syariat dengan sungguh-sungguh, (4) beriman kepada kebenaran tidaklah memerintahkan pelakunya kecuali perbuatan yang baik, sedangkan beriman kepada yang batil memerintahkan pelakunya berbuat buruk, dan (5) kebiasaan orang-orang Yahudi adalah suka melanggar perjanjian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...