Seri (22)
Ayat
94-96: Ajakan kepada orang-orang Yahudi untuk melakukan mubahalah (berdoa agar
dimatikan pihak yang berdusta), menerangkan kecintaan orang-orang Yahudi kepada
kehidupan dunia dan dustanya pengakuan mereka, bahwa mereka cinta kepada
akhirat.
قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ
اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
(94)
94. Katakanlah, "Jika negeri akhirat
di sisi Allah[1],
khusus untukmu saja[2],
bukan untuk orang lain, maka mintalah[3]
kematian, jika kamu orang yang benar.
وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ
عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (95)
95. Tetapi mereka tidak akan menginginkan
kematian itu sama sekali, karena dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan
mereka[4].
Allah Maha mengetahui orang-orang yang zalim.
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ
أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ
مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (96)
96. Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan
mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak kepada
kehidupan (dunia)[5],
bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik[6]. Masing-masing
dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun[7], padahal
umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Allah Maha melihat apa
yang mereka kerjakan[8].
Ayat 97-98: Menerangkan permusuhan orang-orang
Yahudi kepada para malaikat dan para rasul, terutama sekali malaikat Jibril dan
Mikail, dan bahwa memusuhi Jibril berarti memusuhi Allah yang mengutusnya.
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ
بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
(97)
97. [9]Katakanlah,
"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah
yang telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah,
membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita
gembira bagi orang-orang yang beriman[10].
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ
وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ (98)
[1] Yakni surga.
[2] Hal ini karena anggapan bahwa mereka adalah
para wali Allah, merekalah yang akan masuk surga dan bahwa mereka tidak akan
disentuh api neraka kecuali beberapa hari saja.
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu
Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, “Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, “Katakanlah,
"Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja, bukan untuk orang
lain, maka mintalah kematian, jika kamu orang yang benar,” maksudnya
berdoalah agar dimatikan orang yang berdusta di antara kedua belah pihak, lalu
mereka menolak tawaran itu di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
[3] Maksudnya,
mintalah agar kamu dimatikan sekarang juga. ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari
‘Ikrimah, tentang firman Allah Ta’ala, “Maka mintalah
kematian, jika kamu orang yang benar,”Ibnu Abbas
berkata, “Kalau orang-orang Yahudi berharap kematian, tentu mereka akan mati.”
Ayat
di atas sama seperti firman Allah Ta’ala di
[4] Yakni perbuatan mereka. Dan perbuatan yang mereka
lakukan adalah kekafiran dan kemaksiatan, ditambah lagi karena mereka
mengetahui kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam namun malah
mendustakan. Oleh karena itu, sesuatu yang paling mereka takuti adalah
kematian.
[5] Karena mereka mengetahui akibat buruk bagi mereka dan
bahwa yang mereka dapatkan di sisi Allah adalah kerugian, karena dunia adalah
penjara orang mukmin dan surga orang kafir. Mereka ingin sekiranya mereka dapat
mundur dari akhirat dengan segenap kemampuan mereka dan karena mereka takut hal
yang menimpa mereka, bahkan mereka lebih tamak kepada kehidupan dunia daripada
orang-orang musyrik yang tidak memiliki kitab.
[6] Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang
firman Allah Ta’ala, “Bahkan (lebih tamak) dari
orang-orang musyrik,” ia berkata, “Yaitu orang-orang
‘ajam (non Arab).” Hakim juga meriwayatkannya dalam Al Mustadrak, ia berkata, “Shahih
sesuai syarat keduanya (Bukhari-Muslim), namun keduanya tidak menyebutkan.”
[7] Ada yang mengatakan ‘selama waktu yang ada dalam
kehidupan dunia’, karena bangsa Arab
menyebut kata ‘seribu’ untuk sesuatu yang paling maksimal.
[8] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan terhadap
amal yang mereka kerjakan.
[9] Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata,
أَقْبَلَتْ
يَهُودُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا
أَبَا الْقَاسِمِ إِنَّا نَسْأَلُكَ عَنْ خَمْسَةِ أَشْيَاءَ فَإِنْ أَنْبَأْتَنَا
بِهِنَّ عَرَفْنَا أَنَّكَ نَبِيٌّ وَاتَّبَعْنَاكَ فَأَخَذَ عَلَيْهِمْ مَا
أَخَذَ إِسْرَائِيلُ عَلَى بَنِيهِ إِذْ قَالُوا{ اللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ
وَكِيلٌ }قَالَ هَاتُوا قَالُوا أَخْبِرْنَا عَنْ عَلَامَةِ النَّبِيِّ قَالَ
تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ قَالُوا أَخْبِرْنَا كَيْفَ تُؤَنِّثُ
الْمَرْأَةُ وَكَيْفَ تُذْكِرُ قَالَ يَلْتَقِي الْمَاءَانِ فَإِذَا عَلَا مَاءُ
الرَّجُلِ مَاءَ الْمَرْأَةِ أَذْكَرَتْ وَإِذَا عَلَا مَاءُ الْمَرْأَةِ آنَثَتْ
قَالُوا أَخْبِرْنَا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ قَالَ كَانَ
يَشْتَكِي عِرْقَ النَّسَا فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا يُلَائِمُهُ إِلَّا أَلْبَانَ
كَذَا وَكَذَا قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد قَالَ أَبِي قَالَ بَعْضُهُمْ
يَعْنِي الْإِبِلَ فَحَرَّمَ لُحُومَهَا قَالُوا صَدَقْتَ قَالُوا أَخْبِرْنَا مَا
هَذَا الرَّعْدُ قَالَ مَلَكٌ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُوَكَّلٌ
بِالسَّحَابِ بِيَدِهِ أَوْ فِي يَدِهِ مِخْرَاقٌ مِنْ نَارٍ يَزْجُرُ بِهِ
السَّحَابَ يَسُوقُهُ حَيْثُ أَمَرَ اللَّهُ قَالُوا فَمَا هَذَا الصَّوْتُ
الَّذِي يُسْمَعُ قَالَ صَوْتُهُ قَالُوا صَدَقْتَ إِنَّمَا بَقِيَتْ وَاحِدَةٌ
وَهِيَ الَّتِي نُبَايِعُكَ إِنْ أَخْبَرْتَنَا بِهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ
نَبِيٍّ إِلَّا لَهُ مَلَكٌ يَأْتِيهِ بِالْخَبَرِ فَأَخْبِرْنَا مَنْ صَاحِبكَ
قَالَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قَالُوا جِبْرِيلُ ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ
بِالْحَرْبِ وَالْقِتَالِ وَالْعَذَابِ عَدُوُّنَا لَوْ قُلْتَ مِيكَائِيلَ الَّذِي
يَنْزِلُ بِالرَّحْمَةِ وَالنَّبَاتِ وَالْقَطْرِ لَكَانَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ{ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ } إِلَى آخِرِ الْآيَةَ
"Orang-orang
Yahudi datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata,
"Wahai Abul Qasim! Sesungguhnya kami akan bertanya kepadamu
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ فَأَتَى
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ
ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ
وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَا يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ
أَوْ إِلَى أُمِّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا قَالَ جِبْرِيلُ
قَالَ نَعَمْ قَالَ ذَاكَ عَدُوُّ الْيَهُودِ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فَقَرَأَ هَذِهِ
الْآيَةَ
{ مَنْ كَانَ عَدُوًّا
لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ }أَمَّا أَوَّلُ
أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنْ الْمَشْرِقِ إِلَى
الْمَغْرِبِ وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ
كَبِدِ حُوتٍ وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَ الْمَرْأَةِ نَزَعَ الْوَلَدَ
وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الْمَرْأَةِ نَزَعَتْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ
قَوْمٌ بُهُتٌ وَإِنَّهُمْ إِنْ يَعْلَمُوا بِإِسْلَامِي قَبْلَ أَنْ تَسْأَلَهُمْ
يَبْهَتُونِي فَجَاءَتْ الْيَهُودُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَيُّ رَجُلٍ عَبْدُ اللَّهِ فِيكُمْ قَالُوا خَيْرُنَا وَابْنُ
خَيْرِنَا وَسَيِّدُنَا وَابْنُ سَيِّدِنَا قَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَسْلَمَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ فَقَالُوا أَعَاذَهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَخَرَجَ
عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالُوا شَرُّنَا وَابْنُ شَرِّنَا وَانْتَقَصُوهُ
قَالَ فَهَذَا الَّذِي كُنْتُ أَخَافُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “'Abdullah
bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
sedangkan ia berada di sebuah tempat memetik buah. Maka ia langsung menemui Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, aku
bertanya kepadamu tentang tiga perkara yang tidak diketahui kecuali oleh
seorang Nabi; apa tanda pertama hari Kiamat, apa yang pertama kali dimakan oleh
penduduk surga, dan dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau
ibunya?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Jibril 'alaihis salam baru saja memberiku kabar." Abdullah bertanya,
“Apakah Jibril?” Beliau menjawab, “Ya.” Abdullah bin Salam berkata, "Ia
adalah malaikat yang sangat dimusuhi Yahudi." Maka Beliau membacakan ayat ini, “Barang siapa yang
menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkannya
(Al Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah,” (Qs. Al Baqarah:
97) Beliau bersabda, "Tanda hari
kiamat yang akan terjadi pertama kali adalah api yang keluar dari timur yang
akan menggiring manusia ke barat, adapun sesuatu yang pertama kali dimakan
penduduk surga adalah hati ikan paus, dan apabila air mani laki-laki dapat
mendahului sel telur wanita maka akan keluar laki-laki, dan apabila sel telur
wanita dapat mendahului air mani laki-laki maka akan keluar mengikuti wanita."
Kemudian Abdullah bin Salam berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah
Rasulullah." Kemudian dia berkata lagi, "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya orang yahudi itu adalah kaum yang pendusta, kalau mereka
mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, maka mereka pasti
akan membuat kebohongan kepadaku.” Lalu orang-orang Yahudi datang, maka Beliau
bertanya kepada mereka: "Siapakah Abdullah bin Salam menurut kalian?"
Mereka menjawab, "Dia adalah orang terbaik kami dan anak dari orang
terbaik dari kami, dia adalah tuan kami dan anak dari tuan kami." Beliau
bertanya lagi, "Bagaimana menurut kalian, kalau seandainya dia masuk
Islam?” Mereka menjawab, "Mudah-mudahan Allah melindunginya dari hal itu
(masuk Islam)." Maka Abdullah bin Salam keluar seraya mengatakan,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali
Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Lalu mereka
berkata; "Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami dan anak dari
orang yang paling jelek di antara kami. -Mereka menjelek-jelekkan Abdullah bin
Salam.- Setelah itu Abdullah bin Salam berkata, "Inilah yang aku
khawatirkan wahai Rasulullah." (Hr. Bukhari)
[10] Orang-orang Yahudi mencari-cari alasan, mereka tidak
mau beriman karena wali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
malaikat Jibril, jika sekiranya selain malaikat Jibril, tentu mereka akan
beriman. Alasan seperti ini tidak bisa diterima, karena malaikat Jibril yang
menurunkan Al Qur'an dari sisi Allah ke dalam hati Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, dia juga yang menurunkan kitab-kitab kepada para nabi
sebelumnya. Allah yang memerintahkan dan mengirimnya dengan membawa kitab itu,
tugasnya adalah sebagai utusan semata. Di samping itu, kitab yang dibawanya
membenarkan kitab-kitab sebelumnya, tidak menyalahi atau bertentangan, di
dalamnya terdapat petunjuk yang sempurna dari semua bentuk kesesatan, terdapat
kabar gembira memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang beriman.
Memusuhi Jibril yang disebutkan sifatnya itu merupakan kekafiran kepada Allah
dan ayat-ayat-Nya, demikian juga sama saja memusuhi Allah, rasul-rasul-Nya dan
malaikat-malaikat-Nya. Ia sama saja mengingkari dan memusuhi yang menurunkan
dan mengutusnya, mengingkari kitab yang dibawanya dan memusuhi orang yang
mendapatkan kitab itu.
[11] Baik dari kalangan manusia maupun dari kalangan
malaikat.
[12] Orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh
mereka, sedangkan Mikail sebagai wali mereka, maka pada ayat di atas Allah
memberitahukan bahwa barang siapa yang memusuhi salah satunya, sama saja
memusuhi yang lain. Ayat ini menunjukkan tidak boleh membeda-bedakan para
malaikat sebagaimana tidak boleh membeda-bedakan para nabi, dan bahwa barang
siapa yang memusuhi satu malaikat, maka sama saja memusuhi malaikat yang lain sebagaimana
orang yang memusuhi seorang rasul, maka sama saja memusuhi rasul yang lain.
Imam Al Qarafi Al Maliki rahimahullah
berkata, “Ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap mukallaf (akil-baligh) memuliakan
semua para nabi, demikian pula memuliakan para malaikat. Barang siapa yang
menodai kehormatan mereka, maka dia kafir baik secara sindiran maupun secara
langsung. Oleh karena itu, barang siapa yang berkata terhadap seseorang yang
keras hukumannya, “Orang ini lebih keras hatinya daripada Malik penjaga
neraka,” atau berkata terhadap seseorang yang jelek rupanya, “Orang ini lebih
jelek daripada Munkar dan Nakir,” maka dia kafir ketika maksudnya adalah
mencacatkan karena jelek dan kasarnya.” (Al Habaik fi Akbaril Mamalik,
karya As Suyuthiy, hal. 255).
[13] Ayat ini juga menunjukkan, bahwa barang siapa yang
memusuhi wali Allah, maka Allah yang akan menjadi musuh-Nya, dan jika Allah
sudah menjadi musuhnya, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana
dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا
تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي
يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا
تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ
يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
Sesungguhnya Allah berfirman, “Barang
siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya, dan
hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku
cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus
mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku mencintainya, jika
Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk
mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang
ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan. Jika ia
meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.
Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri
sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia
(khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri tidak suka menyakitinya."
(Hadits ini menurut sebagian ulama sangat gharib, kalau bukan karena kelebihan
Shahih Bukhari tentu mereka menggolongkannya ke dalam hadits-hadits munkar
Khalid bin Makhlad, karena matan ini tidak diriwayatkan kecuali dengan isnad
ini dan tidak ada yang meriwayatkannya selain Bukhari, bahkan menurut sebagian
mereka tidak ada dalam Musnad Ahmad. Namun pernyataan ini dibantah oleh Al
Hafizh dalam Fathul Bari, ia berkata, “Ia tidak berarti tidak ada di Musnad
Ahmad. Dan mengatakan secara mutlak bahwa matan ini tidak diriwayatkan kecuali
dengan isnad ini, maka tertolak, namun Syarik yang menjadi guru dari guru
Khalid terdapat perbincangan, ia adalah rawi hadits mi’raj yang menambah dan
mengurangi, memajukan dan mentakhirkan, dan ia menyendiri dalam hal ini dengan
beberapa hal yang tidak dimutabaahkan sebagaimana akan datang pembicaraan
tentangnya secara mendalam di tempatnya secara khusus, tetapi hadits ini
memiliki jalan-jalan yang lain yang jika dikumpulkan menunjukkan bahwa ia
memiliki asal.” (Lihat Fathul Bari terhadap syarah hadits ini di bab
Tawadhu’).
Dari ayat 94-98
kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) kebenaran Islam dan
kebatilan Yahudi, (2) orang mukmin yang saleh lebih mengutamakan akhirat
daripada dunia, (3) kebenaran semua berita yang disampaikan Al Qur’an, (4) permusuhan
Allah kepada orang-orang kafir. Oleh karena itu, Dia mewajibkan orang-orang
mukmin memusuhi orang-orang kafir karena Dia memusuhi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar