Selasa, 14 Juli 2026

Seri 22 (surah Al Baqarah ayat 94-98

 

Seri (22)

 




Ayat 94-96: Ajakan kepada orang-orang Yahudi untuk melakukan mubahalah (berdoa agar dimatikan pihak yang berdusta), menerangkan kecintaan orang-orang Yahudi kepada kehidupan dunia dan dustanya pengakuan mereka, bahwa mereka cinta kepada akhirat.

 

قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (94)  

94. Katakanlah, "Jika negeri akhirat di sisi Allah[1], khusus untukmu saja[2], bukan untuk orang lain, maka mintalah[3] kematian, jika kamu orang yang benar.

وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (95) 

95. Tetapi mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali, karena dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka[4]. Allah Maha mengetahui orang-orang yang zalim.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (96) 

96. Dan sungguh, engkau (Muhammad) akan mendapati mereka (orang-orang Yahudi), manusia yang paling tamak kepada kehidupan (dunia)[5], bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik[6]. Masing-masing dari mereka, ingin diberi umur seribu tahun[7], padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan[8].

 

 Ayat 97-98: Menerangkan permusuhan orang-orang Yahudi kepada para malaikat dan para rasul, terutama sekali malaikat Jibril dan Mikail, dan bahwa memusuhi Jibril berarti memusuhi Allah yang mengutusnya.

 

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) 

97. [9]Katakanlah, "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman[10].

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ (98)  

98. Barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya[11], Jibril dan Mikail[12], maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir[13].


[1] Yakni surga.

[2]  Hal ini karena anggapan bahwa mereka adalah para wali Allah, merekalah yang akan masuk surga dan bahwa mereka tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari saja.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, “Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, “Katakanlah, "Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja, bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian, jika kamu orang yang benar,” maksudnya berdoalah agar dimatikan orang yang berdusta di antara kedua belah pihak, lalu mereka menolak tawaran itu di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[3] Maksudnya, mintalah agar kamu dimatikan sekarang juga. ‘Abdurrazzaq meriwayatkan dari ‘Ikrimah, tentang firman Allah Ta’ala, “Maka mintalah kematian, jika kamu orang yang benar,”Ibnu Abbas berkata, “Kalau orang-orang Yahudi berharap kematian, tentu mereka akan mati.”

Ayat di atas sama seperti firman Allah Ta’ala di surat Al Jumu’ah ayat 6-8. Demikian pula sama seperti ajakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada utusan orang-orang Nasrani Najran setelah ditegakkan hujjah kepada mereka, maka mereka diajak bermubahalah (berdoa agar mendapat laknat bagi yang dusta), namun mereka menolaknya, lihat pula surah Ali Imran: 61. Mereka sampai berkata antara sesama mereka, “Demi Allah, jika kamu bermubahalah dengan Nabi ini, tentu matamu tidak berkedip lagi.” Ketika itulah, mereka lebih cenderung kepada perdamaian dan menyerahkan jizyah dalam keadaan hina, sehingga dipungutlah pajak dari mereka dan Beliau mengangkat Abu Ubaidah sebagai amin(sekretaris)nya.

[4] Yakni perbuatan mereka. Dan perbuatan yang mereka lakukan adalah kekafiran dan kemaksiatan, ditambah lagi karena mereka mengetahui kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam namun malah mendustakan. Oleh karena itu, sesuatu yang paling mereka takuti adalah kematian.

[5] Karena mereka mengetahui akibat buruk bagi mereka dan bahwa yang mereka dapatkan di sisi Allah adalah kerugian, karena dunia adalah penjara orang mukmin dan surga orang kafir. Mereka ingin sekiranya mereka dapat mundur dari akhirat dengan segenap kemampuan mereka dan karena mereka takut hal yang menimpa mereka, bahkan mereka lebih tamak kepada kehidupan dunia daripada orang-orang musyrik yang tidak memiliki kitab.

[6] Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik,” ia berkata, “Yaitu orang-orang ‘ajam (non Arab).” Hakim juga meriwayatkannya dalam Al Mustadrak, ia berkata, “Shahih sesuai syarat keduanya (Bukhari-Muslim), namun keduanya tidak menyebutkan.”

[7]  Ada yang mengatakan ‘selama waktu yang ada dalam kehidupan dunia’, karena bangsa Arab menyebut kata ‘seribu’ untuk sesuatu yang paling maksimal.

[8] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan terhadap amal yang mereka kerjakan.

[9] Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata,

أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا أَبَا الْقَاسِمِ إِنَّا نَسْأَلُكَ عَنْ خَمْسَةِ أَشْيَاءَ فَإِنْ أَنْبَأْتَنَا بِهِنَّ عَرَفْنَا أَنَّكَ نَبِيٌّ وَاتَّبَعْنَاكَ فَأَخَذَ عَلَيْهِمْ مَا أَخَذَ إِسْرَائِيلُ عَلَى بَنِيهِ إِذْ قَالُوا{ اللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ }قَالَ هَاتُوا قَالُوا أَخْبِرْنَا عَنْ عَلَامَةِ النَّبِيِّ قَالَ تَنَامُ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ قَالُوا أَخْبِرْنَا كَيْفَ تُؤَنِّثُ الْمَرْأَةُ وَكَيْفَ تُذْكِرُ قَالَ يَلْتَقِي الْمَاءَانِ فَإِذَا عَلَا مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَ الْمَرْأَةِ أَذْكَرَتْ وَإِذَا عَلَا مَاءُ الْمَرْأَةِ آنَثَتْ قَالُوا أَخْبِرْنَا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ قَالَ كَانَ يَشْتَكِي عِرْقَ النَّسَا فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا يُلَائِمُهُ إِلَّا أَلْبَانَ كَذَا وَكَذَا قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد قَالَ أَبِي قَالَ بَعْضُهُمْ يَعْنِي الْإِبِلَ فَحَرَّمَ لُحُومَهَا قَالُوا صَدَقْتَ قَالُوا أَخْبِرْنَا مَا هَذَا الرَّعْدُ قَالَ مَلَكٌ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ بِيَدِهِ أَوْ فِي يَدِهِ مِخْرَاقٌ مِنْ نَارٍ يَزْجُرُ بِهِ السَّحَابَ يَسُوقُهُ حَيْثُ أَمَرَ اللَّهُ قَالُوا فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي يُسْمَعُ قَالَ صَوْتُهُ قَالُوا صَدَقْتَ إِنَّمَا بَقِيَتْ وَاحِدَةٌ وَهِيَ الَّتِي نُبَايِعُكَ إِنْ أَخْبَرْتَنَا بِهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا لَهُ مَلَكٌ يَأْتِيهِ بِالْخَبَرِ فَأَخْبِرْنَا مَنْ صَاحِبكَ قَالَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قَالُوا جِبْرِيلُ ذَاكَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالْحَرْبِ وَالْقِتَالِ وَالْعَذَابِ عَدُوُّنَا لَوْ قُلْتَ مِيكَائِيلَ الَّذِي يَنْزِلُ بِالرَّحْمَةِ وَالنَّبَاتِ وَالْقَطْرِ لَكَانَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ{ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ } إِلَى آخِرِ الْآيَةَ

"Orang-orang Yahudi datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Abul Qasim! Sesungguhnya kami akan bertanya kepadamu lima perkara. Jika Engkau dapat menjawabnya, maka kami mengetahui bahwa engkau adalah seorang Nabi dan kami akan mengikutimu." Maka Beliau mengambil janji dari mereka sebagaimana Isra'il (Nabi Ya'qub) mengambil janji dari anak-anaknya ketika mereka berkata, "Allah menjadi saksi terhadap apa yang kita katakan." Beliau bersabda, "Sebutkanlah!" Mereka  berkata, "Beritahukanlah kepada kami tanda seorang nabi!" Beliau bersabda, "Kedua matanya tidur, namun hatinya tidak tidur." Mereka berkata, "Beritahukanlah kepada kami bagaimana seorang wanita bisa melahirkan anak perempuan (mirip ibunya) dan bisa melahirkan anak laki-laki (mirip ayahnya)! Beliau bersabda, "Kedua air mani menyatu, jika mani laki-laki mengalahkan mani wanita, maka lahirlah anak laki-laki. Tetapi, jika mani wanita mengalahkan mani laki-laki, maka lahirlah anak perempuan." Mereka berkata lagi, "Beritahukanlah kepada kami apa yang diharamkan Isra'il (Nabi Ya'qub) terhadap dirinya!" Beliau menjawab, "Ia (Nabi Ya'qub) merasakan penyakit 'irqun nasaa (semacam encok) dan tidak mendapatkan makanan yang cocok untuknya selain susu ini dan itu (Perawi yang bernama Abdullah berkata, " Bapakku berkata: Sebagian mereka berkata, "Maksudnya adalah unta", maka ia mengharamkan daging unta). Mereka berkata, "Engkau benar." Mereka pun bertanya lagi, "Beritahukanlah kami tentang guruh ini!" Beliau menjawab, "Salah satu di antara malaikat Allah yang diserahkan mengurus awan, di tangannya ada sabetan dari api untuk menyabet awan dan mengarahkannya ke tempat yang diperintahkan Allah." Mereka bertanya lagi, "Apa suara yang terdengar ini?" Beliau menjawab, "Suaranya." Mereka berkata, "Engkau Benar, namun tinggal satu lagi yang menjadi sebab kami akan membaiatmu jika kamu mau memberitahukannya, karena tidak ada satu pun nabi kecuali ada malaikat yang datang kepadanya membawa berita, maka beritahukanlah kepada kami, siapa kawanmu?" Beliau menjawab, "Jibril ''alaihis salam." Mereka berkata, "Jibril adalah malaikat yang turun membawa peperangan dan azab yang menjadi musuh kami. Jika engkau mengatakan "Mikail", malaikat yang menurunkan rahmat, tumbuhan dan hujan tentu (kami akan baiat engkau)." Maka Allah menurunkan ayat di atas. (Al Haitsami berkata dalam Majma'uz Zawaa'id juz 8 hal. 242, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, dan para perawi keduanya tsiqah. Abu Nu'aim juga meriwayatkan dalam Al Hilyah juz 4 hal. 305. Hadits tersebut dalam sanadnya ada Bukair bin Syihab. Al Haafizh dalam At Taqrib berkata, "Maqbul", yakni jika ada mutaba'ah (penguat dari jalan yang ssama), namun jika tidak ada maka layyin (lunak), sebagaimana diingatkan olehnya dalam mukadimahnya. Akan tetapi hadits ini memiliki jalan-jalan kepada Ibnu Abbas sebagaimana dalam tafsir Ibnu Jarir, di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad juz 1 hal. 278; dari Hasyim bin Qasim, dari Abdul Hamid dari Syahr dari Ibnu Abbas. Syahr ini adalah Syahr bin Hausyab yang diperselisihkan oleh ulama, namun yang rajih bahwa dia adalah dha'if dari sisi hafalannya, tetapi bisa dipakai dalam hal syahid dan mutaba'ah. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Thayalisi juz 2 hal. 11, Ibnu Jarir juz 1 hal. 431, Ibnu Sa'ad juz 1 Qaf 1 hal. 116 dari jalan Syahr bin Hausyab dari Ibnu Abbas. Ibnu Jarir menyebutkan adanya ijma' dari para ulama bahwa ayat di atas turun sebagai jawaban terhadap orang-orang Yahudi, ketika mereka menyatakan bahwa Jibril musuh mereka dan Mikail sebagai kawan mereka. Dengan demikian, ijma' menguatkan kedua jalan yang memiliki kelemahan tersebut.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ بِقُدُومِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهْوَ فِي أَرْضٍ يَخْتَرِفُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ فَمَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ وَمَا أَوَّلُ طَعَامِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَا يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ أَوْ إِلَى أُمِّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي بِهِنَّ جِبْرِيلُ آنِفًا قَالَ جِبْرِيلُ قَالَ نَعَمْ قَالَ ذَاكَ عَدُوُّ الْيَهُودِ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ

{ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ }أَمَّا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فَنَارٌ تَحْشُرُ النَّاسَ مِنْ الْمَشْرِقِ إِلَى الْمَغْرِبِ وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ حُوتٍ وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الرَّجُلِ مَاءَ الْمَرْأَةِ نَزَعَ الْوَلَدَ وَإِذَا سَبَقَ مَاءُ الْمَرْأَةِ نَزَعَتْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْيَهُودَ قَوْمٌ بُهُتٌ وَإِنَّهُمْ إِنْ يَعْلَمُوا بِإِسْلَامِي قَبْلَ أَنْ تَسْأَلَهُمْ يَبْهَتُونِي فَجَاءَتْ الْيَهُودُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ رَجُلٍ عَبْدُ اللَّهِ فِيكُمْ قَالُوا خَيْرُنَا وَابْنُ خَيْرِنَا وَسَيِّدُنَا وَابْنُ سَيِّدِنَا قَالَ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَسْلَمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ فَقَالُوا أَعَاذَهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَقَالُوا شَرُّنَا وَابْنُ شَرِّنَا وَانْتَقَصُوهُ قَالَ فَهَذَا الَّذِي كُنْتُ أَخَافُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “'Abdullah bin Salam mendengar kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan ia berada di sebuah tempat memetik buah. Maka ia langsung menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, aku bertanya kepadamu tentang tiga perkara yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi; apa tanda pertama hari Kiamat, apa yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga, dan dari mana seseorang dapat menyerupai bapaknya atau ibunya?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jibril 'alaihis salam baru saja memberiku kabar." Abdullah bertanya, “Apakah Jibril?” Beliau menjawab, “Ya.” Abdullah bin Salam berkata, "Ia adalah malaikat yang sangat dimusuhi Yahudi." Maka Beliau  membacakan ayat ini, “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah,” (Qs. Al Baqarah: 97) Beliau bersabda, "Tanda hari kiamat yang akan terjadi pertama kali adalah api yang keluar dari timur yang akan menggiring manusia ke barat, adapun sesuatu yang pertama kali dimakan penduduk surga adalah hati ikan paus, dan apabila air mani laki-laki dapat mendahului sel telur wanita maka akan keluar laki-laki, dan apabila sel telur wanita dapat mendahului air mani laki-laki maka akan keluar mengikuti wanita." Kemudian Abdullah bin Salam berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah." Kemudian dia berkata lagi, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang yahudi itu adalah kaum yang pendusta, kalau mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka, maka mereka pasti akan membuat kebohongan kepadaku.” Lalu orang-orang Yahudi datang, maka Beliau bertanya kepada mereka: "Siapakah Abdullah bin Salam menurut kalian?" Mereka menjawab, "Dia adalah orang terbaik kami dan anak dari orang terbaik dari kami, dia adalah tuan kami dan anak dari tuan kami." Beliau bertanya lagi, "Bagaimana menurut kalian, kalau seandainya dia masuk Islam?” Mereka menjawab, "Mudah-mudahan Allah melindunginya dari hal itu (masuk Islam)." Maka Abdullah bin Salam keluar seraya mengatakan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Lalu mereka berkata; "Dia adalah orang yang paling jelek di antara kami dan anak dari orang yang paling jelek di antara kami. -Mereka menjelek-jelekkan Abdullah bin Salam.- Setelah itu Abdullah bin Salam berkata, "Inilah yang aku khawatirkan wahai Rasulullah." (Hr. Bukhari)

[10] Orang-orang Yahudi mencari-cari alasan, mereka tidak mau beriman karena wali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah malaikat Jibril, jika sekiranya selain malaikat Jibril, tentu mereka akan beriman. Alasan seperti ini tidak bisa diterima, karena malaikat Jibril yang menurunkan Al Qur'an dari sisi Allah ke dalam hati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dia juga yang menurunkan kitab-kitab kepada para nabi sebelumnya. Allah yang memerintahkan dan mengirimnya dengan membawa kitab itu, tugasnya adalah sebagai utusan semata. Di samping itu, kitab yang dibawanya membenarkan kitab-kitab sebelumnya, tidak menyalahi atau bertentangan, di dalamnya terdapat petunjuk yang sempurna dari semua bentuk kesesatan, terdapat kabar gembira memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang beriman. Memusuhi Jibril yang disebutkan sifatnya itu merupakan kekafiran kepada Allah dan ayat-ayat-Nya, demikian juga sama saja memusuhi Allah, rasul-rasul-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Ia sama saja mengingkari dan memusuhi yang menurunkan dan mengutusnya, mengingkari kitab yang dibawanya dan memusuhi orang yang mendapatkan kitab itu.

[11] Baik dari kalangan manusia maupun dari kalangan malaikat.

[12] Orang-orang Yahudi menganggap Jibril sebagai musuh mereka, sedangkan Mikail sebagai wali mereka, maka pada ayat di atas Allah memberitahukan bahwa barang siapa yang memusuhi salah satunya, sama saja memusuhi yang lain. Ayat ini menunjukkan tidak boleh membeda-bedakan para malaikat sebagaimana tidak boleh membeda-bedakan para nabi, dan bahwa barang siapa yang memusuhi satu malaikat, maka sama saja memusuhi malaikat yang lain sebagaimana orang yang memusuhi seorang rasul, maka sama saja memusuhi rasul yang lain.

Imam Al Qarafi Al Maliki rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap mukallaf (akil-baligh) memuliakan semua para nabi, demikian pula memuliakan para malaikat. Barang siapa yang menodai kehormatan mereka, maka dia kafir baik secara sindiran maupun secara langsung. Oleh karena itu, barang siapa yang berkata terhadap seseorang yang keras hukumannya, “Orang ini lebih keras hatinya daripada Malik penjaga neraka,” atau berkata terhadap seseorang yang jelek rupanya, “Orang ini lebih jelek daripada Munkar dan Nakir,” maka dia kafir ketika maksudnya adalah mencacatkan karena jelek dan kasarnya.” (Al Habaik fi Akbaril Mamalik, karya As Suyuthiy, hal. 255).

[13] Ayat ini juga menunjukkan, bahwa barang siapa yang memusuhi wali Allah, maka Allah yang akan menjadi musuh-Nya, dan jika Allah sudah menjadi musuhnya, maka ia akan merugi di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Sesungguhnya Allah berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, maka Aku mencintainya, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan. Jika ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri tidak suka menyakitinya." (Hadits ini menurut sebagian ulama sangat gharib, kalau bukan karena kelebihan Shahih Bukhari tentu mereka menggolongkannya ke dalam hadits-hadits munkar Khalid bin Makhlad, karena matan ini tidak diriwayatkan kecuali dengan isnad ini dan tidak ada yang meriwayatkannya selain Bukhari, bahkan menurut sebagian mereka tidak ada dalam Musnad Ahmad. Namun pernyataan ini dibantah oleh Al Hafizh dalam Fathul Bari, ia berkata, “Ia tidak berarti tidak ada di Musnad Ahmad. Dan mengatakan secara mutlak bahwa matan ini tidak diriwayatkan kecuali dengan isnad ini, maka tertolak, namun Syarik yang menjadi guru dari guru Khalid terdapat perbincangan, ia adalah rawi hadits mi’raj yang menambah dan mengurangi, memajukan dan mentakhirkan, dan ia menyendiri dalam hal ini dengan beberapa hal yang tidak dimutabaahkan sebagaimana akan datang pembicaraan tentangnya secara mendalam di tempatnya secara khusus, tetapi hadits ini memiliki jalan-jalan yang lain yang jika dikumpulkan menunjukkan bahwa ia memiliki asal.” (Lihat Fathul Bari terhadap syarah hadits ini di bab Tawadhu’).

Dari ayat 94-98 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) kebenaran Islam dan kebatilan Yahudi, (2) orang mukmin yang saleh lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, (3) kebenaran semua berita yang disampaikan Al Qur’an, (4) permusuhan Allah kepada orang-orang kafir. Oleh karena itu, Dia mewajibkan orang-orang mukmin memusuhi orang-orang kafir karena Dia memusuhi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...