Jumat, 17 Juli 2026

Seri 23 (Surah Al Baqarah ayat 99-103)

 

Seri (23)




 

Ayat 99-101: Menerangkan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi adalah mengingkari janji dan mendustakan para rasul.

 

وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ (99)  

99. [1]Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad)[2], dan tidak ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik.

أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (100)  

100. Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya?[3] Bahkan sebagian besar mereka tidak beriman[4].

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101)  

101. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul (Muhammad) dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[5], sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)[6], seakan-akan mereka tidak mengetahui[7].

 

Ayat 102-103: Membicarakan tentang sihir, dan bahwa orang-orang Yahudi ketika meninggalkan agama beralih mengikuti sihir, dan menerangkan tuduhan mereka terhadap Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

 

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (102)  

102. [8]Dan mereka mengikuti apa[9] yang dibaca oleh setan-setan[10] pada masa kerajaan Sulaiman[11] (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu melakukan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir[12], tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia[13] dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat[14] di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, padahal keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir."[15] Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu sesuatu yang dapat memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya[16]. Mereka (ahli sihir) tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah[17]. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka[18]. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat[19]. Sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya[20] dengan sihir, sekiranya mereka tahu[21].

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (103)  

103. Sesungguhnya jika mereka beriman dan bertakwa[22], pahala dari Allah pasti lebih baik[23], sekiranya mereka tahu[24].


[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan permusuhan Bani Israil terhadap malaikat Jibril alaihis salam, maka Dia menyebutkan di ayat ini tentang turunnya malaikat Jibril membawa ayat atau bukti yang nyata yang menunjukkan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Ayat ini dan setelahnya masih menerangkan kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, meratanya risalah Beliau kepada semua manusia, bantahan kepada orang-orang Yahudi, serta memperlihatkan keadaan mereka yang sebenarnya berupa suka berbuat fasik dan zalim.

[2] Dimana dengan ayat-ayat tersebut orang yang mencari petunjuk akan memperolehnya, dengan ayat-ayat tersebut hujjah tegak kepada orang-orang yang tetap kafir. Karena begitu jelas dan penuh dengan kebenaran sampai-sampai tidak ada yang menolaknya kecuali orang-orang yang fasik; keluar dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong.

Ayat-ayat tersebut menurut Ibnu Katsir adalah tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan kenabian Beliau. Ayat-ayat tersebut adalah yang dikandung oleh kitab Allah berupa perkara-perkara tersembunyi tentang pengetahuan orang-orang Yahudi, yang tersembunyi dari rahasia berita mereka dan berita generasi pertama dari kalangan Bani Israil, serta berita yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh pendeta dan ulama mereka, dan apa yang dirubah oleh generasi pertama mereka dan generasi terakhir mereka, serta apa yang mereka rubah di antara hukum-hukum yang ada di Taurat, maka Allah memberitahukan dalam kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam semua itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang bersikap adil kepada dirinya dan tidak membiarkannya binasa oleh sikap hasad dan dengki, karena pada fitrah orang yang memiliki fitrah yang sehat membenarkan orang yang membawa seperti yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berupa ayat-ayat yang jelas yang telah disifatkan tanpa belajar dahulu sebelumnya dari manusia dan tanpa mengambilnya dari orang lain sebagaimana yang dikatakan Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya, “Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad).” Ia berkata, “Engkau membacakannya kepada mereka, memberitakannya kepada mereka di pagi dan sore hari serta menerangkan hal itu, sedangkan engkau di kalangan mereka adalah orang yang ummiy (buta huruf) tidak bisa membaca satu kitab pun, lalu engkau memberitahukan mereka sesuai dengan kitab yang ada di tangan mereka. Allah Ta’ala berfirman demikian agar menjadi pelajaran dan penjelasan, dan sebagai hujjah atas mereka kalau sekiranya mereka mengetahui.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 83).

[3] Dalam ayat ini terdapat kesan ta'ajjub, yakni aneh sekali dan sangat mengherankan, mereka banyak berjanji namun tidak memenuhinya; hari ini mereka berjanji, besok sudah melanggarnya.

Malik bin Ash Shaif berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, dan Beliau mengingatkan mereka terhadap perjanjian yang pernah mereka ambil serta wasiat yang dipesankan kepada mereka tentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, (lalu mereka berkata), “Demi Allah, Allah tidak berpesan apa-apa kepada kami tentang Muhammad dan Dia tidaklah mengambil perjanjian atas kami,” maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya?”.

[4] Inilah sebab mereka mengingkari janji, yakni karena tidak beriman. Tentang firman-Nya ini, “Bahkan sebagian besar mereka tidak beriman,” Al Hasan Al Bashri berkata, “Ya. Tidak ada satu pun perjanjian di bumi yang mereka adakan, kecuali mereka selalu membatalkan dan membuangnya; hari ini mereka berjanji dan besok mereka membatalkannya.”

[5] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada mereka membawa kitab yang membenarkan apa yang ada pada mereka.

[6] Mereka tinggalkan kitab Allah karena sesuai dengan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul (Muhammad) dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka.” As Suddiy berkata, “Ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada mereka, maka mereka melawan Beliau dengan Taurat, lalu mereka membenturkannya, tetapi ternyata Taurat dan Al Qur’an sejalan, maka mereka membuang kitab Taurat dan mengambil kitab Aashaf dan sihir Harut-Marut, sehingga tidak sesuai dengan Al Qur’an.”

[7] Yakni mereka seperti orang-orang yang jahil yang tidak mengetahui isi al kitab. Menurut Qatadah, maksudnya bahwa mereka mengetahui, tetapi mereka membuang ilmu mereka, menyembunyikannya dan mengingkarinya.

Dari ayat 99-101 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) kefasikan dapat membawa seseorang kepada sikap kufur, (2) orang-orang Yahudi biasa melanggar janji, sehingga janji mereka tidak dapat dipercaya selamanya, (3) Taurat adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, (4) buruknya mengingkari kebenaran setelah mengetahuinya dan dianggap seperti orang yang jahil (bodoh), (5) orang-orang Yahudi berpaling dari beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam setelah mereka mengetahui kebenaran Beliau.

[8]  Syaikh As Sa'diy menerangkan dalam kitab Tafsirnya, bahwa sudah menjadi ketentuan dan hikmah ilahiyyah, bahwa barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang memberinya manfaat dan ia bisa mengambil manfaat itu, tetapi malah meninggalkannya, maka ia diuji dengan kesibukan-kesibukan yang memadharatkan(merugikan)nya. Barang siapa yang tidak beribadah kepada Allah, maka ia ditimpa musibah dengan beribadah kepada selain-Nya, barang siapa yang meninggalkan cinta kepada Allah, takut dan berharap kepada-Nya, maka ia akan ditimpakkan musibah dengan cinta kepada selain Allah, takut dan berharap kepada selain-Nya, barang siapa yang tidak menafkahkan harta untuk ketaatan kepada Allah, maka ia akan menafkahkan hartanya karena menaati setan, barang siapa yang tidak menghinakan dirinya kepada Tuhannya, maka akan ditimpa musibah dengan menghinakan diri kepada sesama hamba, dan barang siapa yang meninggalkan kebenaran, maka ia akan ditimpa musibah dengan sesuatu yang batil. Seperti inilah keadaan orang-orang Yahudi, ketika mereka meninggalkan kitab Allah, mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan dan apa yang mereka buat berupa perkara sihir di masa kerajaan Sulaiman. Setan-setan mengeluarkan ilmu sihir dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman 'alaihis salam juga mempelajari sihir sehingga ia memperoleh kerajaan yang besar. Namun apa yang mereka katakan adalah dusta, Sulaiman tidaklah mempelajari ilmu sihir, Allah menyatakan "wa maa kafara Sulaimaan" (Sulaiman tidaklah kafir), yakni tidak mempelajari sihir.

[9]  Maksudnya kitab-kitab sihir.

[10] Setan-setan juga menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir.

[11] Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, As Suddiy berkata, “Yakni di masa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Ia juga berkata, “Dahulu setan-setan naik ke langit lalu duduk di beberapa tempat di sana untuk mencuri berita, mereka berusaha mendengar perkataan malaikat tentang apa yang akan terjadi di bumi berupa kematian, perkara gaib atau perkara lainnya, lalu mereka mendatangi para dukun dan memberitahukannya, maka para dukun menyampaikannya kepada manusia sehingga mereka mendapatkan sesuai yang mereka (para dukun) sampaikan. Ketika para dukun membuat mereka percaya, maka para dukun berdusta kepada mereka dan mencampurkan yang lain ke dalam berita yang disampaikannya; mereka menambah 70 kalimat untuk setiap kalimat, lalu orang-orang mencatat berita yang disampaikan itu dalam catatan-catatan mereka, dan ketika itu menjadi masyhur di kalangan Bani Israil bahwa jin itu mengetahui yang gaib, maka diutuslah Nabi Sulaiman ke tengah-tengah manusia, lalu Beliau mengumpulkan catatan-catatan itu dan menaruhnya ke dalam sebuah peti, kemudian ia memendamkannya di bawah kursinya, dan tidak ada satu pun dari setan yang bisa mendekati kursinya kecuali akan terbakar. Sulaiman berkata, “Aku tidak ingin mendengar ada seorang yang mengatakan bahwa setan mengetahui yang gaib kecuali akan dipenggal lehernya.” Maka ketika Nabi Sulaiman meninggal dan para ulama yang mengerti tentang perkara Nabi Sulaiman telah wafat kemudian digantikan oleh generasi yang baru, maka setan menjelma menjadi manusia lalu mendatangi sekelompok orang Bani Israil dan berkata kepada mereka, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu perbendaharaan yang kalian tidak akan memakannya selama-lamanya?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Galilah lantai di bawah kursi (Nabi Sulaiman).” Maka ia pergi bersama mereka dan memberitahukan tempatnya dan berdiri menghadapnya,” Lalu orang-orang berkata kepadanya, “Mendekatlah.” Ia menjawab, “Tidak, biarkanlah aku di sini di tengah-tengah kalian. Jika kalian tidak menemukannya, maka bunuhlah aku.” Mereka pun menggalinya dan menemukan catatan-catatan itu. Ketika mereka telah berhasil mengeluarkannya, maka setan berkata, “Sesungguhnya Sulaiman dapat mengendalikan manusia, setan dan burung karena sihir ini.” Kemudian ia pun terbang dan pergi, maka tersebarlah di kalangan mereka berita, bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang pesihir, dan Bani Israil pun mengambil catatan-catatan itu. Maka ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam datang, mereka pun mendebat Beliau dengannya. Itulah keadaan ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir,” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 83).

[12] Maksudnya, Sulaiman tidaklah kafir dan tidak mempelajari dan melakukan sihir. Ayat ini menunjukkan bahwa mempelajari dan mempraktekkan sihir merupakan perbuatan yang dapat mengkafirkan pelakunya. Al Hafiz dalam Al Fath menjelaskan, bahwa zhahir ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia dianggap kafir karena melakukan sihir.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang sihir,

« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ :« الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ »

"Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa saja itu?" Beliau menjawab, "Syirik kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari peperangan dan menuduh berzina wanita yang suci mukminah yang tidak tahu-menahu." (Hr. Bukhari-Muslim)

Syaikh Mushthofa Al Hadidi berkata, "Dahulu, di awal-awal abad ini ada seorang pesihir yang tinggal di bagian selatan Mesir. Dia biasa meminta para tokoh masyarakat melempar cincin mereka ke laut. Ketika mereka telah melakukannya, maka ia akan kembalikan cincin itu kepada mereka. Pesihir ini sering memperlihatkan berbagai keajaiban bahkan yang lebih dari itu. Saat ia wafat, maka anaknya ingin meniru ayahnya melakukan hal yang sama, maka ibunya melarangnya. Saat anaknya bertanya sebab mengapa dilarang, maka ibu ini membukakan sebuah lemari dan mengeluarkan sebuah patung dari dalamnya, lalu berkata kepada anaknya, "Sesungguhnya bapakmu biasa sujud kepada patung ini agar dibantu oleh para setan memperlihatkan berbagai keajaiban, maka janganlah kamu kafir sebagaimana bapakmu." (Al Ilaj Ar Rabbani hal. 21 dinukil dari pembahasan Hukmus Sahir wal amal bis sihr fil Fiqhil Islami karya Dr. Rajab Said Syahwan).

[13]  Karena tujuan yang diinginkan setan adalah agar manusia tersesat dan jauh dari agama, di antara caranya adalah dengan menyodorkan ilmu sihir, akhirnya banyak di kalangan orang-orang Yahudi yang mempelajarinya.

[14] Orang-orang Yahudi juga mempelajari sihir dari dua malaikat bernama Harut dan Marut di negeri Babil di Irak, padahal ia merupakan cobaan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan kedua malaikat itu tidaklah mengajarkan sihir kepada seorang pun kecuali setelah memberinya nasehat dan mengingatkannya untuk tidak mempelajari sihir serta mengatakan, "Janganlah kamu kafir" akibat mempelajari sihir dan mentaati setan. Namun mereka malah mempelajarinya. Hal ini menurut pendapat sebagian ulama. Namun yang lain berpendapat, bahwa kata ‘maa’ di ayat tersebut adalah menunjukkan naafiyah (yang artinya ‘tidak’) dan diathafkan (digandengkan) dengan firman Allah Ta’ala, “Wa maa kafara Sulaimaan” (artinya: padahal Sulaiman tidak kafir), sehingga artinya, “Tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia, dan tidak juga diturunkan kepada dua malaikat.” Hal ini, karena orang-orang Yahudi mengatakan, bahwa yang menurunkan sihir adalah malaikat Jibril dan Mikail, maka Allah dustakan mereka dengan firman-Nya ini, “Wa maa unzila ‘alal malakain.” Sedangkan firman-Nya, “Bi baabila Haaruuta wa Maaruut” (artinya: di Babil, yaitu Harut dan Marut), bahwa Harut dan Marut merupakan badal (penjelasan) dari kata setan. Ada pula yang mengatakan, bahwa Harut dan Marut merupakan badal dari kata manusia, sehingga keduanya adalah orang yang diajarkan sihir oleh setan, yang kemudian mengajarkannya kepada manusia.

Faedah:

Ada sebuah hadits yang menyebutkan kisah Harut dan Marut bersama seorang wanita bernama Zahrah, namun hadits ini tidak shahih.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Dunia lebih besar sihirnya daripada Harut dan Marut. Harut dan Marut dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, sedangkan dunia dapat memisahkan antara seorang hamba dengan Tuhannya.” (Tasliyatu Ahlil Mashaib 1/248)

[15] Dengan demikian, setan mengajarkan sihir kepada manusia dengan tujuan melakukan tadlis (penyamaran) dan penyesatan, ditambah lagi dengan penisbatannya kepada Nabi Sulaiman 'alaihis salam, padahal Beliau tidak seperti itu. Adapun malaikat, mengajarkan sihir sebagai ujian sambil memberikan nasehat. Hal ini untuk menegakkan hujjah kepada mereka. Namun, orang-orang Yahudi lebih mengutamakan ilmu sihir yang diajarkan oleh setan dan diajarkan oleh dua malaikat sebagai cobaan, mereka tinggalkan ilmu agama yang diwariskan oleh para nabi dan rasul beralih kepada ilmu yang diajarkan oleh setan. Mirip dengan apa yang mereka lakukan adalah yang dilakukan oleh orang-orang di zaman sekarang, yang meninggalkan ilmu agama; meninggalkan kitab Allah, meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beralih kepada filsafat yang diajarkan oleh orang-orang Yunani, ini pun sama termasuk bisikan setan. Oleh karena itu, Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْانِ مُشْغِلَةٌ

          إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَالْفِقْهَ فِى الدِّيْنِ

اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا

          وَمَاسِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيَاطِيْنِ

"Semua ilmu selain Al Qur'an (seperti ilmu kalam) hanyalah menyibukkan, selain hadits dan mendalami agama.

Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya kalimat "telah menyampaikan sebuah hadits kepada kami", sedangkan selain itu hanyalah bisikan setan belaka."

Kritik para ulama Islam terhadap ilmu kalam atau ilmu filsafat yang berbicara tentang ketuhanan

Imam Abu Hanifah berkata, "Aku telah menjumpai para ahli kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, tidak peduli jika mereka bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Mereka tidak memiliki sikap wara' dan tidak juga takwa."

Al Qaadhiy Abu Yusuf berkata, "Mengetahui ilmu kalam adalah suatu kebodohan dan bodoh tentang ilmu kalam adalah sebuah pengetahuan."

Imam Ahmad berkata, "Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah orang-orang zindik."

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, "Hukuman dariku untuk Ahli Kalam adalah hendaknya mereka diarak di pasar dan dipukul dengan pelepah kurma dan sandal, di samping diumumkan, "Ini adalah sanksi bagi orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam." (Syarh Ath Thahawiyyah hal. 75 cet. Al Maktab Al Islami)

Abul Hasan Al Jauzajaniy rahimahullah pernah ditanya, "Bagaimana caranya menuju Sunnah Nabi shalallahu alaihi wa salam?" Ia menjawab, "Menjauhi bid'ah, mengikuti apa yang telah disepakati oleh generasi pertama Islam dari kalangan para ulama, dan menjauhi majlis Kalam (filsafat) dan para pengikutnya." (Al I'tisham karya Asy Syathibi 1/92)

Disebutkan dalam Syarh Ath Thahawiyyah (hal. 177 cet. Wazaratusy Syu'unil Islamiyyah, KSA), bahwa Imam Al Ghazaliy rahimahullah pada akhir hidupnya bersikap diam dan merasa bingung terhadap ilmu kalam, lalu Beliau berpaling dari metode-metode itu dan mendatangi hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Beliau wafat dalam keadaan Shahih Bukhari di atas dadanya.

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar Raziy -dimana sebelumnya ia adalah seorang tokoh Ahli Kalam- berkata,

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُولِ عِقَالُ - وَغَايَةُ سَعْيِ الْعَالَمِينَ ضَلَالُ

وَأَرْوَاحُنَا فِي وَحْشَةٍ مِنْ جُسُومِنَا - وَحَاصِلُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ

وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُولَ عُمْرِنَا - سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيهِ: قِيلَ وَقَالُوا

Akhir dari mendahulukan akal adalah iqal (berputar-putar seperti ikat kepala)

Akhir dari usahanya adalah kesesatan

Ruh yang ada di jasad kami merasakan kerisauan

Hasil yang diperoleh dari dunia kami hanyalah penderitaan dan kesusahan

Kami tidak memperoleh dari penelitian kami sepanjang usia

Selain hanya mengumpulkan qiila wa qaalu (dikatakan dan katanya) 

Selanjutnya ia berkata, "Saya telah meneliti metode Ahli Kalam dan manhaj-manhaj filsafat, namun menurutku semua itu tidak menyembuhkan penyakit yang ada dan tidak memberikan kepuasan. Aku telah menyaksikan, bahwa sebaik-baik metode adalah metode Al Qur'an. Aku membaca ayat tentang menetapkan (sifat),

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

"Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas 'Arsy." (Terj. Qs. Thaahaa: 5),

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." (Terj. Qs. Fathir: 10),

dan aku membaca ayat tentang penafian,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat." (Terj. Qs. Asy Syuuraa: 11)

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

"Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (Qs. Thaahaa: 110)

Lalu ia berkata, "Barang siapa yang melakukan percobaan seperti yang aku lakukan, tentu dia akan mengetahui seperti yang aku ketahui."

Faedah:

Sebagian orang bijak berkata, "Filsafat adalah cahaya namun dibarengi api. Oleh karena itu, di dalamnya terdapat cahaya namun membakar (membahayakan) juga."

Syaikh Abdurrahman Al Wakil berkata, “Saya telah membaca ilmu filsafat, maka saya pun yakin, bahwa buku-buku ilmu Kalam (akidah yang merujuk kepada filsafat) tidak ada arahnya selain kepada perdebatan saja.

(Dari risalah Hal Tajannaita 'Alal Ghazali karya Syaikh Abdurrahman Al Wakil)

Menurut penulis -wallahu a'lam-, inilah di antara yang membedakan antara Akidah Shahihah (Akidah Ahlussunah wal Jamaah) dengan ilmu Kalam, Tashawwuf, dan lainnya, yaitu dalam Masdar Talaqqi (Sumber rujukan dalam beragama) .

- Akidah Ahlussunah wal Jamaah merujuk kepada Al Qur'an, As Sunnah, dan Ijma.

- Ilmu kalam merujuk kepada filsafat.

- Tashawwuf merujuk kepada Kasyf dan mimpi.

- Mu'tazilah merujuk kepada akal.

- Masyarakat awam merujuk kepada tradisi dan kebiasaan.

Di antara lima golongan di atas, metode atau manhaj yang benar dalam beragama adalah manhaj Ahlussunah wal Jamaah, yaitu merujuk kepada Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma, sedangkan empat golongan setelahnya adalah keliru.

Jika dasar pengambilannya sudah berbeda, maka jangan heran masalah setelahnya terjadi banyak perbedaan.

Sebagian ulama ada yang membagi ilmu kepada 5 bagian: (1) ilmu Tauhid, inilah yang menghidupkan agama, (2) ilmu menggali kandungan Al Qur’an dan As Sunnah, inilah ilmu yang memberikan gizi yang bermanfaat terhadap agama seseorang, (3) ilmu mempelajari fatwa ulama, inilah ilmu yang menjadi obat terhadap penyakit dalam beragama (syubhat), (4) ilmu sihir dan semisalnya, inilah ilmu yang meruntuhkan agama, (5) ilmu kalam, ini yang membuat agama seseorang sakit, wallahu a’lam.

Ciri ilmu yang bermanfaat sebagaimana yang diterangkan Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Fadhlu Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, adalah bahwa ilmu yang bermanfaat itu mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah, memahami kandungannya, serta memahaminya dengan memperhatikan atsar dari para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in dalam memahami makna Al Qur’an dan hadits, serta mempelajari masalah halal dan haram (fiqih), zuhud, kelembutan hati, ilmu, dan lain-lain dari mereka.

[16] Ada bermacam-macam ilmu sihir yang dikerjakan orang-orang Yahudi, sampai-sampai ada sihir yang digunakan untuk memisahkan pasangan suami-istri. Hal ini juga termasuk tindakan setan. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata, 'Aku telah melakukan ini dan itu.' Iblis menjawab, 'Kamu tidak melakukan apa pun.' Lalu yang lain datang dan berkata, 'Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.' Beliau bersabda, "Iblis mendekatinya lalu berkata, “Bagus sekali kamu."

[17] Ayat ini menunjukkan bahwa sihir itu ada hakikatnya, dan bahwa sihir itu dapat mencelakakan dengan izin Allah.

Perlu diketahui, bahwa izin terbagi dua:

Pertama, Izin Qadariy, yakni yang terkait dengan kehendak Allah di alam semesta sebagaimana pada ayat ini.

Kedua, Izin Syar'i (sesuai syariat).

Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa Izin Qadari tidak mesti dicintai oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sedangkan Izin Syar'i memang dicintai Allah.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa sebab itu betapa pun besar yang diupayakan, namun hasilnya tetap mengikuti Qadha' dan Qadar Allah.

[18] Ayat ini menunjukkan bahwa bahwa ilmu sihir adalah ilmu yang mencelakakan, tidak ada manfaat di dalamnya baik manfaat diniyyah (agama) maupun duniawiyah (dunia) tidak seperti maksiat lainnya yang terkadang ada sedikit manfaat duniawinya seperti khamr dan judi. Namun sihir penuh madharat, tidak ada manfaatnya sama sekali. Oleh karena itu, segala yang dilarang bisa isinya madhharat (bahaya) saja atau bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, sebagaimana segala yang diperintahkan, bisa isinya hanya maslahat atau kebaikannya lebih besar daripada keburukan.

[19] Setan membawakan sihir kepada orang-orang Yahudi, sehingga ilmu sihir menjadi ilmu yang diminati mereka, sampai-sampai kitab Allah ditinggalkan. Padahal mereka mengetahui barang siapa yang yang lebih memilih ilmu sihir dan meninggalkan kebenaran (ilmu agama), niscaya ia tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat.

[20] Yakni rela menjual imannya untuk memperoleh sihir dan meninggalkan mengikuti rasul-rasul-Nya beralih mempelajarinya.

[21] Yakni jika mereka memiliki ilmu (pengetahuan) yang membuahkan amal. 

[22] Termasuk juga meninggalkan sihir, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mempelajari agama serta mengamalkannya.

[23] Maksudnya, lebih baik daripada sihir dan apa yang mereka cari.

[24] Yakni sekiranya mereka mengetahui pahala dan balasan yang diperoleh bagi mereka yang beriman dan bertakwa, tentu mereka tidak akan memilih sihir.

Dari ayat 101-102 kita dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) berpaling dari Al Qur’an dan As Sunnah membuka berbagai pintu kebatilan, seperti dibuatnya undang-undang yang batil, terjadi berbagai bid’ah dalam agama, dan timbul banyak kesesatan, (2) haramnya mempelajari sihir, (3) kafirnya pelaku sihir, (4) Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kebaikan dan keburukan, tidak ada bahaya dan manfaat kecuali dengan izin-Nya, oleh karenanya seseorang harus kembali kepada Allah dalam mendatangkan manfaat dan menolak madharat (bahaya), yaitu dengan berdoa dan meminta kepada-Nya sambil merendahkan diri, dan (5) buruknya adab orang-orang Yahudi terhadap para nabi sampai menuduh Nabi Sulaiman alaihis salam sebagai pesihir,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 24 (surah Al Baqarah ayat 104-108)

  Seri (24)   Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin, menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ke...