Seri (23)
Ayat
99-101: Menerangkan bahwa kebiasaan orang-orang Yahudi adalah mengingkari janji
dan mendustakan para rasul.
وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ (99)
99. [1]Dan
sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas kepadamu
(Muhammad)[2],
dan tidak ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik.
أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بَلْ أَكْثَرُهُمْ
لَا يُؤْمِنُونَ (100)
100. Dan mengapa setiap kali mereka
mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya?[3] Bahkan
sebagian besar mereka tidak beriman[4].
وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ
نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ
كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (101)
101. Dan setelah datang kepada mereka
seorang Rasul (Muhammad) dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada
mereka[5],
sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke
belakang (punggung)[6],
seakan-akan mereka tidak mengetahui[7].
Ayat
102-103: Membicarakan tentang sihir, dan bahwa orang-orang Yahudi ketika
meninggalkan agama beralih mengikuti sihir, dan menerangkan tuduhan mereka
terhadap Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا
كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ
مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ
مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ
بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا
يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (102)
102. [8]Dan
mereka mengikuti apa[9]
yang dibaca oleh setan-setan[10]
pada masa kerajaan Sulaiman[11]
(dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu melakukan sihir), padahal Sulaiman
tidak kafir[12],
tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia[13]
dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat[14]
di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, padahal keduanya tidak mengajarkan
(sesuatu) kepada seseorang sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami
hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir."[15]
Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu sesuatu yang dapat memisahkan
antara seorang (suami) dengan istrinya[16]. Mereka
(ahli sihir) tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali
dengan izin Allah[17]. Mereka
mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka[18].
Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan
sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat[19]. Sungguh,
sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya[20] dengan
sihir, sekiranya mereka tahu[21].
وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (103)
[1] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan permusuhan
Bani Israil terhadap malaikat Jibril alaihis salam, maka Dia menyebutkan di
ayat ini tentang turunnya malaikat Jibril membawa ayat atau bukti yang nyata
yang menunjukkan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Ayat ini dan setelahnya masih menerangkan
kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam,
meratanya risalah Beliau kepada semua manusia, bantahan kepada orang-orang
Yahudi, serta memperlihatkan keadaan mereka yang sebenarnya berupa suka berbuat
fasik dan zalim.
[2] Dimana dengan ayat-ayat tersebut orang yang mencari
petunjuk akan memperolehnya, dengan ayat-ayat tersebut hujjah tegak kepada
orang-orang yang tetap kafir. Karena begitu jelas dan penuh dengan kebenaran
sampai-sampai tidak ada yang menolaknya kecuali orang-orang yang fasik; keluar
dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong.
Ayat-ayat tersebut menurut Ibnu Katsir
adalah tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan kenabian Beliau. Ayat-ayat
tersebut adalah yang dikandung oleh kitab Allah berupa perkara-perkara
tersembunyi tentang pengetahuan orang-orang Yahudi, yang tersembunyi dari
rahasia berita mereka dan berita generasi pertama dari kalangan Bani Israil,
serta berita yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui
kecuali oleh pendeta dan ulama mereka, dan apa yang dirubah oleh generasi
pertama mereka dan generasi terakhir mereka, serta apa yang mereka rubah di
antara hukum-hukum yang ada di Taurat, maka Allah memberitahukan dalam
kitab-Nya yang Dia turunkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam. Dalam semua itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang bersikap
adil kepada dirinya dan tidak membiarkannya binasa oleh sikap hasad dan dengki,
karena pada fitrah orang yang memiliki fitrah yang sehat membenarkan orang yang
membawa seperti yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berupa
ayat-ayat yang jelas yang telah disifatkan tanpa belajar dahulu sebelumnya dari
manusia dan tanpa mengambilnya dari orang lain sebagaimana yang dikatakan Adh
Dhahhak dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya, “Dan
sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas kepadamu
(Muhammad).” Ia berkata, “Engkau membacakannya kepada
mereka, memberitakannya kepada mereka di pagi dan sore hari serta menerangkan
hal itu, sedangkan engkau di kalangan mereka adalah orang yang ummiy (buta
huruf) tidak bisa membaca satu kitab pun, lalu engkau memberitahukan mereka
sesuai dengan kitab yang ada di tangan mereka. Allah Ta’ala berfirman demikian
agar menjadi pelajaran dan penjelasan, dan sebagai hujjah atas mereka kalau
sekiranya mereka mengetahui.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 83).
[3] Dalam ayat ini terdapat kesan ta'ajjub, yakni aneh
sekali dan sangat mengherankan, mereka banyak berjanji namun tidak memenuhinya;
hari ini mereka berjanji, besok sudah melanggarnya.
Malik bin Ash Shaif berkata, “Ketika Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, dan Beliau mengingatkan mereka terhadap
perjanjian yang pernah mereka ambil serta wasiat yang dipesankan kepada mereka
tentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, (lalu mereka berkata),
“Demi Allah, Allah tidak berpesan apa-apa kepada kami tentang Muhammad dan Dia
tidaklah mengambil perjanjian atas kami,” maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Dan
mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya?”.
[4] Inilah sebab mereka mengingkari janji, yakni karena
tidak beriman. Tentang firman-Nya ini, “Bahkan sebagian
besar mereka tidak beriman,” Al Hasan Al Bashri berkata, “Ya.
Tidak ada satu pun perjanjian di bumi yang mereka adakan, kecuali mereka selalu
membatalkan dan membuangnya; hari ini mereka berjanji dan besok mereka
membatalkannya.”
[5] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam datang
kepada mereka membawa kitab yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
[6] Mereka tinggalkan kitab Allah karena sesuai dengan apa
yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan
setelah datang kepada mereka seorang Rasul (Muhammad) dari sisi Allah yang
membenarkan apa yang ada pada mereka.”
As Suddiy berkata, “Ketika Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam datang kepada mereka, maka mereka melawan Beliau dengan
Taurat, lalu mereka membenturkannya, tetapi ternyata Taurat dan Al Qur’an
sejalan, maka mereka membuang kitab Taurat dan mengambil kitab Aashaf dan sihir
Harut-Marut, sehingga tidak sesuai dengan Al Qur’an.”
[7] Yakni mereka seperti orang-orang yang jahil yang tidak
mengetahui isi al kitab. Menurut Qatadah, maksudnya bahwa mereka mengetahui,
tetapi mereka membuang ilmu mereka, menyembunyikannya dan mengingkarinya.
Dari ayat 99-101 kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) kefasikan dapat membawa
seseorang kepada sikap kufur, (2) orang-orang Yahudi biasa melanggar janji,
sehingga janji mereka tidak dapat dipercaya selamanya, (3) Taurat adalah kitab
Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, (4) buruknya mengingkari
kebenaran setelah mengetahuinya dan dianggap seperti orang yang jahil (bodoh),
(5) orang-orang Yahudi berpaling dari beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam setelah mereka mengetahui kebenaran Beliau.
[8] Syaikh As Sa'diy menerangkan dalam kitab Tafsirnya,
bahwa sudah menjadi ketentuan dan hikmah ilahiyyah, bahwa barang siapa yang
meninggalkan sesuatu yang memberinya manfaat dan ia bisa mengambil manfaat itu,
tetapi malah meninggalkannya, maka ia diuji dengan kesibukan-kesibukan yang
memadharatkan(merugikan)nya. Barang siapa yang tidak beribadah kepada Allah,
maka ia ditimpa musibah dengan beribadah kepada
selain-Nya, barang siapa yang meninggalkan cinta kepada Allah, takut dan
berharap kepada-Nya, maka ia akan ditimpakkan musibah dengan cinta kepada
selain Allah, takut dan berharap kepada selain-Nya, barang siapa yang tidak menafkahkan
harta untuk ketaatan kepada Allah, maka ia akan menafkahkan hartanya karena menaati
setan, barang siapa yang tidak menghinakan dirinya kepada Tuhannya, maka akan
ditimpa musibah dengan menghinakan diri kepada sesama hamba, dan barang siapa
yang meninggalkan kebenaran, maka ia akan ditimpa musibah dengan sesuatu yang
batil. Seperti inilah keadaan orang-orang Yahudi, ketika mereka meninggalkan
kitab Allah, mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan dan apa yang
mereka buat berupa perkara sihir di masa kerajaan Sulaiman. Setan-setan
mengeluarkan ilmu sihir dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman 'alaihis salam
juga mempelajari sihir sehingga ia memperoleh kerajaan yang besar. Namun apa
yang mereka katakan adalah dusta, Sulaiman tidaklah mempelajari ilmu sihir,
Allah menyatakan "wa maa kafara Sulaimaan" (Sulaiman tidaklah
kafir), yakni tidak mempelajari sihir.
[9] Maksudnya kitab-kitab sihir.
[10] Setan-setan
juga menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan
lembaran-lembaran sihir.
[11] Tentang firman Allah Ta’ala, “Dan
mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman,” As Suddiy berkata, “Yakni di masa Nabi Sulaiman
‘alaihis salam. Ia juga berkata, “Dahulu setan-setan naik ke langit lalu duduk
di beberapa tempat di sana untuk mencuri berita, mereka berusaha mendengar
perkataan malaikat tentang apa yang akan terjadi di bumi berupa kematian,
perkara gaib atau perkara lainnya, lalu mereka mendatangi para dukun dan
memberitahukannya, maka para dukun menyampaikannya kepada manusia sehingga
mereka mendapatkan sesuai yang mereka (para dukun) sampaikan. Ketika para dukun
membuat mereka percaya, maka para dukun berdusta kepada mereka dan mencampurkan
yang lain ke dalam berita yang disampaikannya; mereka menambah 70 kalimat untuk
setiap kalimat, lalu orang-orang mencatat berita yang disampaikan itu dalam
catatan-catatan mereka, dan ketika itu menjadi masyhur di kalangan Bani Israil
bahwa jin itu mengetahui yang gaib, maka diutuslah Nabi Sulaiman ke
tengah-tengah manusia, lalu Beliau mengumpulkan catatan-catatan itu dan
menaruhnya ke dalam sebuah peti, kemudian ia memendamkannya di bawah kursinya, dan tidak ada satu pun dari setan yang bisa
mendekati kursinya kecuali akan terbakar. Sulaiman berkata, “Aku tidak ingin mendengar
ada seorang yang mengatakan bahwa setan mengetahui yang gaib kecuali akan
dipenggal lehernya.” Maka ketika Nabi Sulaiman meninggal dan para ulama yang
mengerti tentang perkara Nabi Sulaiman telah wafat kemudian digantikan oleh
generasi yang baru, maka setan menjelma menjadi manusia lalu mendatangi
sekelompok orang Bani Israil dan berkata kepada mereka, “Maukah kalian aku
tunjukkan suatu perbendaharaan yang kalian tidak akan memakannya
selama-lamanya?” Mereka menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Galilah lantai di bawah
kursi (Nabi Sulaiman).” Maka ia pergi bersama mereka dan memberitahukan
tempatnya dan berdiri menghadapnya,” Lalu orang-orang berkata kepadanya,
“Mendekatlah.” Ia menjawab, “Tidak, biarkanlah aku di sini di tengah-tengah
kalian. Jika kalian tidak menemukannya, maka bunuhlah aku.” Mereka pun
menggalinya dan menemukan catatan-catatan itu. Ketika mereka telah berhasil
mengeluarkannya, maka setan berkata, “Sesungguhnya Sulaiman dapat mengendalikan
manusia, setan dan burung karena sihir ini.” Kemudian ia pun terbang dan pergi,
maka tersebarlah di kalangan mereka berita, bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang
pesihir, dan Bani Israil pun mengambil catatan-catatan itu. Maka ketika Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam datang, mereka pun mendebat Beliau
dengannya. Itulah keadaan ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Padahal
Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir,”
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 83).
[12] Maksudnya,
Sulaiman tidaklah kafir dan tidak mempelajari dan melakukan sihir. Ayat ini
menunjukkan bahwa mempelajari dan mempraktekkan sihir merupakan perbuatan yang
dapat mengkafirkan pelakunya. Al Hafiz dalam Al Fath menjelaskan, bahwa zhahir
ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia dianggap kafir karena melakukan sihir.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda tentang sihir,
«
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا
هُنَّ ؟ قَالَ :« الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى
حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ
الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ
الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ »
"Jauhilah
tujuh dosa yang membinasakan!"
Syaikh Mushthofa Al Hadidi berkata, "Dahulu,
di awal-awal abad ini ada seorang pesihir yang tinggal di bagian selatan Mesir.
Dia biasa meminta para tokoh masyarakat melempar cincin mereka ke laut. Ketika
mereka telah melakukannya, maka ia akan kembalikan cincin itu kepada mereka.
Pesihir ini sering memperlihatkan berbagai keajaiban bahkan yang lebih dari
itu. Saat ia wafat, maka anaknya ingin meniru ayahnya melakukan hal yang sama,
maka ibunya melarangnya. Saat anaknya bertanya sebab mengapa dilarang, maka ibu
ini membukakan sebuah lemari dan mengeluarkan sebuah patung dari dalamnya, lalu
berkata kepada anaknya, "Sesungguhnya bapakmu biasa sujud kepada patung
ini agar dibantu oleh para setan memperlihatkan berbagai keajaiban, maka
janganlah kamu kafir sebagaimana bapakmu." (Al Ilaj Ar Rabbani hal.
21 dinukil dari pembahasan Hukmus Sahir wal amal bis sihr
fil Fiqhil Islami karya Dr. Rajab Said Syahwan).
[13] Karena tujuan yang diinginkan setan adalah
agar manusia tersesat dan jauh dari agama, di antara caranya adalah dengan
menyodorkan ilmu sihir, akhirnya banyak di kalangan orang-orang Yahudi yang
mempelajarinya.
[14] Orang-orang
Yahudi juga mempelajari sihir dari dua malaikat bernama Harut dan Marut di
negeri Babil di Irak, padahal ia merupakan cobaan dari Allah kepada
hamba-hamba-Nya. Bahkan kedua malaikat itu tidaklah mengajarkan sihir kepada
seorang pun kecuali setelah memberinya nasehat dan mengingatkannya untuk tidak
mempelajari sihir serta mengatakan, "Janganlah kamu kafir" akibat
mempelajari sihir dan mentaati setan. Namun mereka malah mempelajarinya. Hal
ini menurut pendapat sebagian ulama. Namun yang lain berpendapat, bahwa kata
‘maa’ di ayat tersebut adalah menunjukkan naafiyah (yang artinya ‘tidak’) dan
diathafkan (digandengkan) dengan firman Allah Ta’ala, “Wa maa kafara
Sulaimaan” (artinya: padahal Sulaiman tidak kafir),
sehingga artinya, “Tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan
sihir kepada manusia, dan tidak juga diturunkan kepada dua malaikat.” Hal
ini, karena orang-orang Yahudi mengatakan, bahwa yang menurunkan sihir adalah
malaikat Jibril dan Mikail, maka Allah dustakan mereka dengan firman-Nya ini, “Wa
maa unzila ‘alal malakain.” Sedangkan firman-Nya, “Bi baabila Haaruuta
wa Maaruut” (artinya: di Babil, yaitu Harut dan Marut), bahwa Harut dan
Marut merupakan badal (penjelasan) dari kata setan. Ada pula yang mengatakan,
bahwa Harut dan Marut merupakan badal dari kata manusia, sehingga keduanya
adalah orang yang diajarkan sihir oleh setan, yang kemudian mengajarkannya
kepada manusia.
Faedah:
Ibnul Jauzi rahimahullah
berkata, “Dunia lebih besar sihirnya daripada Harut dan Marut. Harut dan Marut
dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya, sedangkan dunia dapat
memisahkan antara seorang hamba dengan Tuhannya.” (Tasliyatu Ahlil Mashaib
1/248)
[15] Dengan demikian, setan
mengajarkan sihir kepada manusia dengan tujuan melakukan tadlis (penyamaran)
dan penyesatan, ditambah lagi dengan penisbatannya kepada Nabi Sulaiman
'alaihis salam, padahal Beliau tidak seperti itu. Adapun malaikat, mengajarkan sihir sebagai ujian
sambil memberikan nasehat. Hal ini untuk menegakkan hujjah kepada mereka.
Namun, orang-orang Yahudi lebih mengutamakan ilmu sihir yang diajarkan oleh
setan dan diajarkan oleh dua malaikat sebagai cobaan, mereka tinggalkan ilmu
agama yang diwariskan oleh para nabi dan rasul beralih kepada ilmu yang
diajarkan oleh setan. Mirip dengan apa yang mereka lakukan adalah yang
dilakukan oleh orang-orang di zaman sekarang, yang meninggalkan ilmu agama;
meninggalkan kitab Allah, meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam beralih kepada filsafat yang diajarkan oleh orang-orang Yunani, ini pun
sama termasuk bisikan setan. Oleh karena itu, Imam Syafi'i rahimahullah
berkata:
كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْانِ مُشْغِلَةٌ
إِلاَّ الْحَدِيْثَ
وَالْفِقْهَ فِى الدِّيْنِ
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا
وَمَاسِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ
الشَّيَاطِيْنِ
"Semua ilmu
selain Al Qur'an (seperti ilmu kalam) hanyalah menyibukkan, selain hadits dan
mendalami agama.
Ilmu adalah yang tercantum di
dalamnya kalimat "telah menyampaikan sebuah hadits kepada kami",
sedangkan selain itu hanyalah bisikan setan belaka."
Kritik para ulama Islam terhadap ilmu kalam atau ilmu filsafat
yang berbicara tentang ketuhanan
Imam Abu Hanifah berkata,
"Aku telah menjumpai para ahli kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar,
tidak peduli jika mereka bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah. Mereka
tidak memiliki sikap wara' dan tidak juga takwa."
Al Qaadhiy Abu Yusuf berkata,
"Mengetahui ilmu kalam adalah suatu kebodohan dan bodoh tentang ilmu kalam
adalah sebuah pengetahuan."
Imam Ahmad berkata,
"Pemilik ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya. Para ulama kalam itu adalah
orang-orang zindik."
Imam Syafi’i rahimahullah
berkata, "Hukuman dariku untuk Ahli Kalam adalah hendaknya mereka diarak
di pasar dan dipukul dengan pelepah kurma dan sandal, di samping diumumkan,
"Ini adalah sanksi bagi orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah
shalallahu alaihi wa sallam." (Syarh Ath Thahawiyyah hal. 75 cet. Al
Maktab Al Islami)
Abul Hasan Al Jauzajaniy rahimahullah
pernah ditanya, "Bagaimana caranya menuju Sunnah Nabi shalallahu alaihi wa
salam?" Ia menjawab, "Menjauhi bid'ah, mengikuti apa yang telah
disepakati oleh generasi pertama Islam dari kalangan para ulama, dan menjauhi
majlis Kalam (filsafat) dan para pengikutnya." (Al I'tisham karya
Asy Syathibi 1/92)
Disebutkan dalam Syarh Ath
Thahawiyyah (hal. 177 cet. Wazaratusy Syu'unil Islamiyyah, KSA),
bahwa Imam Al Ghazaliy rahimahullah pada akhir hidupnya bersikap diam
dan merasa bingung terhadap ilmu kalam, lalu Beliau berpaling dari
metode-metode itu dan mendatangi hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam, dan Beliau wafat dalam keadaan Shahih Bukhari di atas
dadanya.
Imam Abu Abdillah Muhammad bin
Umar Ar Raziy -dimana sebelumnya ia adalah seorang tokoh Ahli Kalam- berkata,
نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُولِ
عِقَالُ - وَغَايَةُ سَعْيِ الْعَالَمِينَ ضَلَالُ
وَأَرْوَاحُنَا فِي وَحْشَةٍ مِنْ
جُسُومِنَا - وَحَاصِلُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ
وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا
طُولَ عُمْرِنَا - سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيهِ: قِيلَ وَقَالُوا
Akhir dari mendahulukan akal
adalah iqal (berputar-putar seperti ikat kepala)
Akhir dari usahanya adalah
kesesatan
Ruh yang ada di jasad kami
merasakan kerisauan
Hasil yang diperoleh dari
dunia kami hanyalah penderitaan dan kesusahan
Kami tidak memperoleh dari
penelitian kami sepanjang usia
Selain hanya mengumpulkan
qiila wa qaalu (dikatakan dan katanya)
Selanjutnya ia berkata,
"Saya telah meneliti metode Ahli Kalam dan manhaj-manhaj filsafat, namun
menurutku semua itu tidak menyembuhkan penyakit yang ada dan tidak memberikan
kepuasan. Aku telah menyaksikan, bahwa sebaik-baik metode adalah metode Al
Qur'an. Aku membaca ayat tentang menetapkan (sifat),
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ
اسْتَوَى
"Tuhan
Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas 'Arsy." (Terj. Qs. Thaahaa: 5),
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ
الطَّيِّبُ
Kepada-Nyalah naik
perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." (Terj. Qs. Fathir: 10),
dan aku membaca ayat tentang
penafian,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
"Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan
melihat." (Terj. Qs. Asy Syuuraa: 11)
وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا
"Sedang
ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (Qs. Thaahaa: 110)
Lalu ia berkata, "Barang
siapa yang melakukan percobaan seperti yang aku lakukan, tentu dia akan
mengetahui seperti yang aku ketahui."
Faedah:
Sebagian
orang bijak berkata, "Filsafat adalah cahaya namun dibarengi api. Oleh
karena itu, di dalamnya terdapat cahaya namun membakar (membahayakan)
juga."
Syaikh Abdurrahman Al Wakil berkata, “Saya
telah membaca ilmu filsafat, maka saya pun yakin, bahwa buku-buku ilmu Kalam
(akidah yang merujuk kepada filsafat) tidak ada arahnya selain kepada
perdebatan saja.
(Dari risalah Hal Tajannaita 'Alal
Ghazali karya Syaikh Abdurrahman Al Wakil)
Menurut penulis -wallahu a'lam-, inilah di
antara yang membedakan antara Akidah Shahihah (Akidah Ahlussunah wal Jamaah)
dengan ilmu Kalam, Tashawwuf, dan lainnya, yaitu dalam Masdar Talaqqi (Sumber
rujukan dalam beragama) .
- Akidah Ahlussunah wal Jamaah merujuk
kepada Al Qur'an, As Sunnah, dan Ijma.
- Ilmu kalam merujuk kepada filsafat.
- Tashawwuf merujuk kepada Kasyf dan mimpi.
- Mu'tazilah merujuk kepada akal.
- Masyarakat awam merujuk kepada tradisi dan
kebiasaan.
Di antara lima golongan di atas, metode atau
manhaj yang benar dalam beragama adalah manhaj Ahlussunah wal Jamaah, yaitu
merujuk kepada Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma, sedangkan empat golongan
setelahnya adalah keliru.
Jika dasar pengambilannya sudah berbeda,
maka jangan heran masalah setelahnya terjadi banyak perbedaan.
Sebagian ulama
ada yang membagi ilmu kepada 5 bagian: (1) ilmu Tauhid, inilah yang
menghidupkan agama, (2) ilmu menggali kandungan Al Qur’an dan As Sunnah, inilah
ilmu yang memberikan gizi yang bermanfaat terhadap agama seseorang, (3) ilmu
mempelajari fatwa ulama, inilah ilmu yang menjadi obat terhadap penyakit dalam
beragama (syubhat), (4) ilmu sihir dan semisalnya, inilah ilmu yang meruntuhkan
agama, (5) ilmu kalam, ini yang membuat agama seseorang sakit, wallahu a’lam.
Ciri ilmu yang
bermanfaat sebagaimana yang diterangkan Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah
dalam kitabnya Fadhlu Ilmis Salaf ‘alal Khalaf, adalah bahwa ilmu yang
bermanfaat itu mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah, memahami kandungannya,
serta memahaminya dengan memperhatikan atsar dari para sahabat, tabi’in, dan
tabi’ut tabi’in dalam memahami makna Al Qur’an dan hadits, serta mempelajari
masalah halal dan haram (fiqih), zuhud, kelembutan hati, ilmu, dan lain-lain
dari mereka.
[16]
إِنَّ
إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ
فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيءُ أَحَدُهُمْ
فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ
يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ
امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ
"Sesungguhnya Iblis meletakkan
singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang
kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya.
Salah satu diantara mereka datang lalu berkata, 'Aku telah melakukan ini dan
itu.' Iblis menjawab, 'Kamu tidak melakukan apa pun.' Lalu yang lain datang dan
berkata, 'Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.'
Beliau bersabda, "Iblis mendekatinya lalu berkata, “Bagus sekali
kamu."
[17] Ayat ini menunjukkan bahwa sihir itu ada hakikatnya,
dan bahwa sihir itu dapat mencelakakan dengan izin Allah.
Perlu diketahui, bahwa izin terbagi dua:
Pertama, Izin Qadariy, yakni yang terkait dengan kehendak Allah di alam
semesta sebagaimana pada ayat ini.
Kedua, Izin Syar'i (sesuai syariat).
Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa
Izin Qadari tidak mesti dicintai oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sedangkan
Izin Syar'i memang dicintai Allah.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa sebab itu
betapa pun besar yang diupayakan, namun hasilnya tetap mengikuti Qadha' dan
Qadar Allah.
[18] Ayat ini menunjukkan bahwa bahwa ilmu sihir adalah
ilmu yang mencelakakan, tidak ada manfaat di dalamnya baik manfaat diniyyah
(agama) maupun duniawiyah (dunia) tidak seperti maksiat lainnya yang terkadang
ada sedikit manfaat duniawinya seperti khamr dan judi. Namun sihir penuh
madharat, tidak ada manfaatnya sama sekali. Oleh karena itu, segala yang
dilarang bisa isinya madhharat (bahaya) saja atau bahayanya lebih besar
daripada manfaatnya, sebagaimana segala yang diperintahkan, bisa isinya hanya
maslahat atau kebaikannya lebih besar daripada keburukan.
[19] Setan membawakan sihir kepada orang-orang Yahudi,
sehingga ilmu sihir menjadi ilmu yang diminati mereka, sampai-sampai kitab
Allah ditinggalkan. Padahal mereka mengetahui barang siapa yang yang lebih
memilih ilmu sihir dan meninggalkan kebenaran (ilmu agama), niscaya ia tidak
akan memperoleh keuntungan di akhirat.
[20] Yakni rela menjual imannya untuk memperoleh sihir dan
meninggalkan mengikuti rasul-rasul-Nya beralih mempelajarinya.
[21] Yakni jika mereka memiliki ilmu (pengetahuan) yang
membuahkan amal.
[22] Termasuk juga meninggalkan sihir, beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, dan mempelajari agama serta mengamalkannya.
[23] Maksudnya, lebih baik daripada sihir dan apa yang
mereka cari.
[24] Yakni sekiranya mereka mengetahui pahala dan balasan
yang diperoleh bagi mereka yang beriman dan bertakwa, tentu mereka tidak akan
memilih sihir.
Dari ayat 101-102 kita
dapat menarik banyak kesimpulan, di antaranya: (1) berpaling dari Al Qur’an dan
As Sunnah membuka berbagai pintu kebatilan, seperti dibuatnya undang-undang
yang batil, terjadi berbagai bid’ah dalam agama, dan timbul banyak kesesatan,
(2) haramnya mempelajari sihir, (3) kafirnya pelaku sihir, (4) Allah Subhanahu
wa Ta’ala yang menciptakan kebaikan dan keburukan, tidak ada bahaya dan manfaat
kecuali dengan izin-Nya, oleh karenanya seseorang harus kembali kepada Allah
dalam mendatangkan manfaat dan menolak madharat (bahaya), yaitu dengan berdoa
dan meminta kepada-Nya sambil merendahkan diri, dan (5) buruknya adab
orang-orang Yahudi terhadap para nabi sampai menuduh Nabi Sulaiman alaihis
salam sebagai pesihir,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar