Kamis, 30 Juli 2026

Seri 25 (Surah Al Baqarah ayat 109-113)

 

Seri (25)



 


Ayat 109-113: Larangan mengikuti jalan Ahli Kitab, penjelasan tentang angan-angan dan kedustaan mereka.

 

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (109)  

109. [1]Banyak di antara ahli kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena rasa dengki dalam diri mereka[2], setelah kebenaran jelas bagi mereka[3]. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka[4], sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[5]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (110) 

110. [6]Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat[7]. Segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, maka kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan[8].

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) 

111. [9]Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani"[10]. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah (wahai Muhammad), "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”[11]

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112) 

112. Tidak![12] Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik[13], dia mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati[14].

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (113) 

113. [15]Dan orang-orang Yahudi berkata, "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,”  orang-orang Nasrani (juga) berkata, "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan," padahal mereka membaca Al Kitab[16]. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu[17], berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan[18].


[1] Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar menghindari jalan orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, memberitahukan tentang permusuhan mereka di batin dan lahiriah mereka, dan bagaimana diri mereka penuh dengan rasa dengki kepada kaum mukmin padahal mereka mengetahui keutamaan mereka (kaum mukmin) dan mengetahui keutamaan Nabi mereka. Dia juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar memaafkan dan membiarkan mereka sampai datang keputusan Allah berupa pertolongan dan kemenangan dari-Nya, Dia juga memerintahkan mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta mendorong mereka kepadanya.”

Abusy Syaikh meriwayatkan dalam kitab Al Akhlak dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berada di atas himar (keledai), lalu Beliau bersabda kepada Sa'ad, "Tidakkah kamu mendengar Abul Habab –yakni Abdullah bin Ubay-, ia berkata begini dan begitu?" Sa'ad bin Ubadah berkata, "Maafkanlah dia dan biarkanlah", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memaafkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat biasa memaafkan Ahli Kitab dan kaum musyrik, hingga Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Fa'fuu wash-fahuu…dst."(Hadits ini para perawinya tsiqah. Ibnu Abi 'Ashim adalah seorang hafizh besar, biografinya ada dalam Tadzkiratul Huffaz juz 2 hal. 640, sedangkan selebihnya ada dalam Tahdzibut Tahdzib. Hadits tersebut dalam kitab shahih melalui jalan Syu'aib bin Abi Hamzah dengan sanad ini, akan tetapi tidak ada di sana sebab turunnya. Demikian juga seperti ini dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim seperti yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 135)

[2] Karena rasa dengki dalam diri mereka, mereka berupaya mencari cara agar dapat mengembalikan umat Islam kepada kekafiran, di antara cara mereka disebutkan di surat Ali Imran: 72-73, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kaum mukmin untuk membalas sikap ini dengan memaafkan dan membiarkan mereka sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.

[3] Yakni setelah jelas bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dimana mereka menemukan nama Beliau tertulis dalam kitab Taurat dan Injil, bahkan mereka mengenali kerasulan Beliau sebagaimana mereka mengenali anak mereka sendiri (lihat Qs. Al Baqarah: 146), namun mereka tetap saja kafir karena rasa dengki yang ada dalam diri mereka, dimana Nabi terakhir ternyata bukan dari kalangan mereka.

[4] Ayat ini sama seperti di surat Ali Imran: 186.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Usamah bin Zaid ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya memaafkan kaum musyrik dan Ahli Kitab sebagaimana yang diperintahkan Allah, dan mereka juga bersabar terhadap gangguan mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal itu menafsirkan ‘memaafkan’ yang diperintahkan Allah itu, sampai Allah mengizinkan untuk membunuh mereka, maka Allah membuat para tokoh Quraisy terbunuh.” (Ibnu Katsir berkata, “Isnad ini adalah shahih dan saya tidak melihat ada dalam kitab hadits yang enam, akan tetapi hadits ini memiliki asal dalam dua kitab shahih dari Usamah bin zaid.”).  

[5] Maksudnya, izin memerangi dan mengusir orang Yahudi. Dengan demikian, terobatilah rasa sakit di hati yang menimpa kaum mukmin selama ini.

[6]  Setelah Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum mukmin untuk memaafkan dan membiarkan orang-orang Yahudi yang di dalamnya terdapat maslahat bagi mereka, maka Dia memerintahkan perbuatan yang maslahatnya bagi kaum mukmin, yaitu mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

[7]  Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kaum mukmin agar menyibukkan diri dengan shalat, zakat, dan amal saleh lainnya serta tidak sibuk memikirkan orang-orang kafir yang berusaha mengembalikan mereka kepada kekafiran, dan bahwa makar yang dilakukan orang-orang kafir itu tidak akan berpengaruh apa-apa (lihat Qs. Ali Imran: 120) karena Allah wali (Pelindung dan Penjaga) kaum mukmin (lihat Qs. Al Baqarah: 257), dan bahwa amal saleh apa saja yang kaum mukmin kerjakan, niscaya akan mereka peroleh pahalanya di sisi Allah Azza wa Jalla (lihat pula Qs. Al Muzzammil: 20).

[8] Maksudnya, Allah Ta’ala tidak lalai terhadap amal yang dilakukan oleh seseorang dan Dia tidak akan membiarkan begitu saja amal itu, baik amal itu baik atau buruk. Sesungguhnya Dia akan membalas masing-masing orang yang beramal sesuai amalnya.

Dari ayat 109-110 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar, dan bahwa kaum muslimin berada di atas kebenaran, akan tetapi karena hasad dan permusuhan mereka membuat mereka berusaha mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya, (2) dalam kondisi dimana kaum muslimin belum siap berjihad, maka hendaknya mereka mempersiapkan diri untuknya, di antaranya dengan membina rohani dan jiwa mereka dengan akidah yang benar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mengerjakan berbagai kebaikan untuk menguatkan jiwa dan raga mereka hingga tiba waktu diizinkan bagi mereka berjihad. 

[9] Allah Ta’ala menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tertipu dengan keadaannya, dimana masing-masing mereka mengaku, bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali orang yang berada di atas agamanya, maka Allah bantah mereka dengan firman-Nya, “Itu (hanya) angan-angan mereka.” Abul ‘Aliyah berkata tentang ayat tersebut, “Yaitu angan-angan yang mereka angankan kepada Allah dengan tanpa hak.” Hal ini dikatakan pula oleh Qatadah dan Ar Rabii’ bin Anas.

[10] Orang Yahudi mengatakan, mereka saja yang akan masuk surga. Orang Nasrani berkata, mereka saja yang akan masuk surga.

[11] Yakni hujjah kamu yang membenarkan apa yang kamu dakwakan.

[12] Bahkan yang masuk surga adalah orang yang berbuat ikhlas kepada Allah dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam ucapan dan tindakannya. Barang siapa yang melakukan demikian, maka dia akan memperoleh pahala amalnya di sisi Tuhannya di akhirat, yaitu masuk ke surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Berdasarkan ayat ini, yang berhak masuk surga adalah orang yang ikhlas dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau dengan kata lain hanya orang-orang muslim.

[13] Menurut Sa’id bin Jubair adalah barang siapa yang mengikhlaskan ibadahnya (kepada Allah). Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah barang siapa yang mengikhlaskan amalnya karena Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Sedangkan firman-Nya, “Dan dia berbuat baik.” Maksudnya menurut Ibnu Katsir, mengikuti Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam di dalamnya, karena amal untuk diterimanya ada dua syarat: pertama, harus ikhlas karena Allah saja, sedangkan yang kedua harus benar sesuai syariat. Jika ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak." (Hr. Muslim)

Maka amal yang dikerjakan para rahib dan yang semisalnya, kalau pun mereka betul-betul ikhlas karena Allah, namun Allah tidak menerima amal mereka sampai mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diutus kepada mereka dan kepada manusia seluruhnya. Tentang mereka dan yang sama dengan mereka, Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Terj. Qs. Al Furqan: 23) dan firman-Nya di surat An Nuur: 39, dan Al Ghaasyiyah: 2-5. Adapun jika amalnya sesuai dengan syariat di tampilan luarnya, tetapi ia tidak mengikhlaskan amalnya karena Allah, maka amalnya juga tertolak. Seperti inilah keadaan orang-orang yang riya’ dan keadaan orang-orang munafik, lihat Qs. An Nisaa’: 142, Al Maa’un: 4-7, dan Al Kahfi: 110.

[14] Maksudnya mereka tidak merasa takut terhadap hal yang akan datang dari perkara akhirat dan tidak merasa sedih karena tidak memperoleh keuntungan-keuntungan dunia. Tentang firman-Nya ini, “Tidak ada rasa takut pada mereka,” Sa’id bin Jubair berkata, “Yaitu di akhirat.” Sedangkan firman-Nya, “Dan mereka tidak bersedih hati,” Sa’id bin Jubair berkata, “Yaitu tidak sedih terhadap kematian.”

[15] Setelah Allah Azza wa Jalla membatalkan pernyataan mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) bahwa rahmat khusus untuk mereka, dan bahwa rahmat itu untuk orang-orang muslim dan berbuat ihsan, maka Dia menyebutkan pertengkaran antar mereka.

Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan perselisihan dan pertengkaran antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Nasrani. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Muhammad dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata, “Ketika orang-orang Nasrani Najran datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka didatangi oleh orang-orang alim Yahudi, lalu mereka berselisih di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Raafi’ bin Huraimalah berkata, “Kamu tidak punya pegangan.” Ia juga kafir kepada Isa dan kitab Injil, lalu salah seorang Nasrani Najran berkata kepada orang-orang Yahudi, “Kamu juga tidak punya pegangan.” Ia juga mengingkari kenabian Musa dan kafir kepada Taurat, maka terhadap perkataan mereka itu, Allah menurunkan firman-Nya, “Dan orang-orang Yahudi berkata, "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,”  orang-orang Nasrani (juga) berkata, "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan," padahal mereka membaca Al Kitab.” Ibnu Abbas berkata, “Padahal masing-masing mereka membaca dalam kitabnya adanya pembenaran kepada apa yang mereka ingkari,“ maksudnya orang-orang Yahudi kafir kepada Isa padahal di sisi mereka ada Taurat, dan di dalamnya terdapat perjanjian yang Allah ambil melalui lisan Nabi Musa untuk membenarkan Nabi Isa, dan apa yang ada di Taurat berasal dari sisi Allah, tetapi masing-masing kafir kepada kitab yang ada pada tangannya. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 91)

[16] Padahal dalam Taurat dan Injil terdapat kewajiban beriman kepada semua nabi.

[17] Dari kalangan kaum musyrik atau bangsa Arab. Menurut ‘Athaa’, bahwa orang-orang yang tidak berilmu di ayat ini adalah umat sebelum Yahudi dan Nasrani dan sebelum diturunkan Taurat dan Injil, wallahu a’lam. Menurut Ibnu Jarir, bahwa orang-orang yang tidak berilmu di ayat ini adalah umum untuk semua kaum.

[18] Di akhirat, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan mengumpulkan mereka dan memutuskan perkara antara kedua pihak yang berselisih dengan keputusan-Nya yang adil dan bahwa tidak ada yang selamat kecuali mereka yang beriman kepada semua nabi dan rasul, mengikuti perintah Rabbnya dan menjauhi larangannya, selain itu adalah orang-orang yang binasa. Ayat ini sama seperti firman Allah di surat Al Hajj: 17 dan surat Saba’: 26.

Dari ayat 111-113 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) pembatalan terhadap pengaruhnya nisbat (hubungannya kepada siapa) dalam hal kebahagiaan dan kesengsaraan, dan bahwa kebahagiaan meraih surga hanyalah diperoleh dengan membersihkan jiwa serta mengisinya dengan iman dan amal saleh, sedangkan kesengsaraan dengan masuk ke neraka diakibatkan dari kekufuran dan dosa-dosa, (2) kafirnya orang-orang Yahudi dan Nasrani; kekafiran mereka adalah kekafiran yang sangat buruk, karena di atas ilmu, (3) Islam yang sahih tegak di atas tiga pilar, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan, dimana itu semua merupakan jalan keselamatan dari neraka serta memperoleh surga-Nya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...