Seri (25)
Ayat
109-113: Larangan mengikuti jalan Ahli Kitab, penjelasan tentang angan-angan
dan kedustaan mereka.
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ
مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ
مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (109)
109. [1]Banyak
di antara ahli kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu
kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena rasa dengki dalam diri mereka[2],
setelah kebenaran jelas bagi mereka[3].
Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka[4],
sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[5].
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ
مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
(110)
110. [6]Dirikanlah
shalat dan tunaikanlah zakat[7]. Segala
kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, maka kamu akan mendapat pahalanya
pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan[8].
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى
تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111)
111. [9]Dan
mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang
Yahudi atau Nasrani"[10]. Itu
(hanya) angan-angan mereka. Katakanlah (wahai Muhammad), "Tunjukkanlah
bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”[11]
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ
عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112)
112. Tidak![12]
Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik[13], dia
mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka
tidak bersedih hati[14].
وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى
لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ
لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (113)
[1] Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar menghindari jalan
orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab, memberitahukan tentang permusuhan
mereka di batin dan lahiriah mereka, dan bagaimana diri mereka penuh dengan
rasa dengki kepada kaum mukmin padahal mereka mengetahui keutamaan mereka (kaum
mukmin) dan mengetahui keutamaan Nabi mereka. Dia juga memerintahkan
hamba-hamba-Nya yang mukmin agar memaafkan dan membiarkan mereka sampai datang
keputusan Allah berupa pertolongan dan kemenangan dari-Nya, Dia juga
memerintahkan mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta mendorong
mereka kepadanya.”
Abusy
Syaikh meriwayatkan dalam kitab Al Akhlak dari Usamah bin Zaid, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berada di atas himar (keledai),
lalu Beliau bersabda kepada Sa'ad, "Tidakkah kamu mendengar Abul Habab
–yakni Abdullah bin Ubay-, ia berkata begini dan begitu?" Sa'ad bin Ubadah
berkata, "Maafkanlah dia dan biarkanlah", maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam memaafkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
para sahabat biasa memaafkan Ahli Kitab dan kaum musyrik, hingga Allah Azza wa
Jalla menurunkan ayat, "Fa'fuu wash-fahuu…dst."(Hadits ini
para perawinya tsiqah. Ibnu Abi 'Ashim adalah seorang hafizh besar, biografinya
ada dalam Tadzkiratul Huffaz juz 2 hal. 640, sedangkan selebihnya ada
dalam Tahdzibut Tahdzib. Hadits tersebut dalam kitab shahih melalui
jalan Syu'aib bin Abi Hamzah dengan sanad ini, akan tetapi tidak ada di
[2] Karena rasa dengki dalam diri mereka, mereka berupaya
mencari cara agar dapat mengembalikan umat Islam kepada kekafiran, di antara
cara mereka disebutkan di
[3] Yakni setelah jelas bahwa Muhammad adalah utusan
Allah, dimana mereka menemukan nama Beliau tertulis dalam kitab Taurat dan
Injil, bahkan mereka mengenali kerasulan Beliau sebagaimana mereka mengenali
anak mereka sendiri (lihat Qs. Al Baqarah: 146), namun mereka tetap saja kafir
karena rasa dengki yang ada dalam diri mereka, dimana Nabi terakhir ternyata
bukan dari kalangan mereka.
[4] Ayat ini sama seperti di
Ibnu
Abi Hatim meriwayatkan dari Usamah bin Zaid ia berkata, “Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan para sahabatnya memaafkan kaum musyrik dan Ahli Kitab sebagaimana
yang diperintahkan Allah, dan mereka juga bersabar terhadap gangguan mereka.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka maafkanlah dan biarkanlah
mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa
atas segala sesuatu.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam melakukan hal itu menafsirkan ‘memaafkan’ yang diperintahkan Allah itu,
sampai Allah mengizinkan untuk membunuh mereka, maka Allah membuat para tokoh
Quraisy terbunuh.” (Ibnu Katsir berkata, “Isnad ini adalah shahih dan saya
tidak melihat ada dalam kitab hadits yang enam, akan tetapi hadits ini memiliki
asal dalam dua kitab shahih dari Usamah bin zaid.”).
[5] Maksudnya,
izin memerangi dan mengusir orang Yahudi. Dengan demikian, terobatilah rasa
sakit di hati yang menimpa kaum mukmin selama ini.
[6] Setelah Allah Azza wa Jalla memerintahkan kaum
mukmin untuk memaafkan dan membiarkan orang-orang Yahudi yang di dalamnya
terdapat maslahat bagi mereka, maka Dia memerintahkan perbuatan yang
maslahatnya bagi kaum mukmin, yaitu mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
[7] Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala
memerintahkan kaum mukmin agar menyibukkan diri dengan shalat, zakat, dan amal
saleh lainnya serta tidak sibuk memikirkan orang-orang kafir yang berusaha
mengembalikan mereka kepada kekafiran, dan bahwa makar yang dilakukan
orang-orang kafir itu tidak akan berpengaruh apa-apa (lihat Qs. Ali Imran: 120)
karena Allah wali (Pelindung dan Penjaga) kaum mukmin (lihat Qs. Al Baqarah:
257), dan bahwa amal saleh apa saja yang kaum mukmin kerjakan, niscaya akan
mereka peroleh pahalanya di sisi Allah Azza wa Jalla (lihat pula Qs. Al
Muzzammil: 20).
[8] Maksudnya, Allah Ta’ala tidak lalai terhadap amal yang
dilakukan oleh seseorang dan Dia tidak akan membiarkan begitu saja amal itu,
baik amal itu baik atau buruk. Sesungguhnya Dia akan membalas masing-masing
orang yang beramal sesuai amalnya.
Dari ayat 109-110 kita dapat menarik banyak pelajaran, di
antaranya: (1) orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani mengetahui bahwa
Islam adalah agama yang benar, dan bahwa kaum muslimin berada di atas
kebenaran, akan tetapi karena hasad dan permusuhan mereka membuat mereka
berusaha mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya, (2) dalam kondisi dimana
kaum muslimin belum siap berjihad, maka hendaknya mereka mempersiapkan diri
untuknya, di antaranya dengan membina rohani dan jiwa mereka dengan akidah yang
benar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mengerjakan berbagai kebaikan
untuk menguatkan jiwa dan raga mereka hingga tiba waktu diizinkan bagi mereka
berjihad.
[9] Allah Ta’ala menerangkan orang-orang Yahudi dan
Nasrani yang tertipu dengan keadaannya, dimana masing-masing mereka mengaku,
bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali orang yang berada di atas agamanya,
maka Allah bantah mereka dengan firman-Nya, “Itu
(hanya) angan-angan mereka.” Abul ‘Aliyah berkata tentang ayat
tersebut, “Yaitu angan-angan yang mereka angankan kepada Allah dengan tanpa
hak.” Hal ini dikatakan pula oleh Qatadah dan Ar Rabii’ bin Anas.
[10] Orang Yahudi mengatakan, mereka saja yang akan masuk
surga. Orang Nasrani berkata, mereka saja yang akan masuk surga.
[11] Yakni hujjah kamu yang membenarkan apa yang kamu
dakwakan.
[12] Bahkan yang masuk surga adalah orang yang berbuat
ikhlas kepada Allah dan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam ucapan dan tindakannya. Barang siapa yang melakukan demikian, maka dia
akan memperoleh pahala amalnya di sisi Tuhannya di akhirat, yaitu masuk ke
surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Berdasarkan ayat ini, yang
berhak masuk surga adalah orang yang ikhlas dan mengikuti Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam atau dengan kata lain hanya orang-orang muslim.
[13] Menurut Sa’id bin Jubair adalah barang siapa yang mengikhlaskan
ibadahnya (kepada Allah). Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah barang siapa
yang mengikhlaskan amalnya karena Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya.
Sedangkan firman-Nya, “Dan dia berbuat baik.” Maksudnya menurut Ibnu
Katsir, mengikuti Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam di dalamnya, karena amal
untuk diterimanya ada dua syarat: pertama, harus ikhlas karena Allah saja,
sedangkan yang kedua harus benar sesuai syariat. Jika ikhlas namun tidak benar,
maka tidak diterima. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ
عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa mengerjakan
suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak." (Hr. Muslim)
Maka
amal yang dikerjakan para rahib dan yang semisalnya, kalau pun mereka
betul-betul ikhlas karena Allah, namun Allah tidak menerima amal mereka sampai
mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diutus kepada mereka
dan kepada manusia seluruhnya. Tentang mereka dan yang sama dengan mereka,
Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan
amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Terj. Qs. Al Furqan: 23) dan firman-Nya di
[14] Maksudnya mereka tidak merasa takut terhadap hal yang
akan datang dari perkara akhirat dan tidak merasa sedih karena tidak memperoleh
keuntungan-keuntungan dunia. Tentang firman-Nya ini, “Tidak
ada rasa takut pada mereka,” Sa’id bin Jubair berkata, “Yaitu
di akhirat.” Sedangkan firman-Nya, “Dan mereka tidak bersedih hati,”
Sa’id bin Jubair berkata, “Yaitu tidak sedih terhadap kematian.”
[15] Setelah Allah Azza wa Jalla membatalkan pernyataan
mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) bahwa rahmat khusus untuk mereka, dan
bahwa rahmat itu untuk orang-orang muslim dan berbuat ihsan, maka Dia
menyebutkan pertengkaran antar mereka.
Di
ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan perselisihan dan pertengkaran
antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Nasrani. Hal ini sebagaimana diriwayatkan
oleh Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin
Abi Muhammad dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata,
“Ketika orang-orang Nasrani Najran datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam, mereka didatangi oleh orang-orang alim Yahudi, lalu mereka
berselisih di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Raafi’ bin
Huraimalah berkata, “Kamu tidak punya pegangan.” Ia juga kafir kepada Isa dan
kitab Injil, lalu salah seorang Nasrani Najran berkata kepada orang-orang
Yahudi, “Kamu juga tidak punya pegangan.” Ia juga mengingkari kenabian Musa dan
kafir kepada Taurat, maka terhadap perkataan mereka itu, Allah menurunkan
firman-Nya, “Dan orang-orang Yahudi berkata,
"Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan,” orang-orang Nasrani (juga) berkata,
"Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan," padahal mereka
membaca Al Kitab.” Ibnu Abbas berkata, “Padahal
masing-masing mereka membaca dalam kitabnya adanya pembenaran kepada apa yang
mereka ingkari,“ maksudnya orang-orang Yahudi kafir kepada Isa padahal di sisi
mereka ada Taurat, dan di dalamnya terdapat perjanjian yang Allah ambil melalui
lisan Nabi Musa untuk membenarkan Nabi Isa, dan apa yang ada di Taurat berasal
dari sisi Allah, tetapi masing-masing kafir kepada kitab yang ada pada
tangannya. (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 91)
[16] Padahal dalam Taurat dan Injil terdapat kewajiban
beriman kepada semua nabi.
[17] Dari kalangan kaum musyrik atau bangsa Arab. Menurut
‘Athaa’, bahwa orang-orang yang tidak berilmu di ayat ini adalah umat sebelum
Yahudi dan Nasrani dan sebelum diturunkan Taurat dan Injil, wallahu a’lam.
Menurut Ibnu Jarir, bahwa orang-orang yang tidak berilmu di ayat ini adalah
umum untuk semua kaum.
[18] Di akhirat, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan
mengumpulkan mereka dan memutuskan perkara antara kedua pihak yang berselisih
dengan keputusan-Nya yang adil dan bahwa tidak ada yang selamat kecuali mereka
yang beriman kepada semua nabi dan rasul, mengikuti perintah Rabbnya dan
menjauhi larangannya, selain itu adalah orang-orang yang binasa. Ayat ini sama
seperti firman Allah di
Dari ayat 111-113 kita
dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) pembatalan terhadap
pengaruhnya nisbat (hubungannya kepada siapa) dalam hal kebahagiaan dan
kesengsaraan, dan bahwa kebahagiaan meraih surga hanyalah diperoleh dengan
membersihkan jiwa serta mengisinya dengan iman dan amal saleh, sedangkan
kesengsaraan dengan masuk ke neraka diakibatkan dari kekufuran dan dosa-dosa,
(2) kafirnya orang-orang Yahudi dan Nasrani; kekafiran mereka adalah kekafiran
yang sangat buruk, karena di atas ilmu, (3) Islam yang sahih tegak di atas tiga
pilar, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan, dimana itu semua merupakan jalan
keselamatan dari neraka serta memperoleh surga-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar