Seri (26)
Ayat
114-115: Menerangkan haramnya menodai kehormatan masjid, contoh tindakan
menghalangi orang lain beribadah, dan menerangkan bahwa menghadap kiblat adalah
salah satu syarat sahnya shalat.
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ
أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ
يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ
عَذَابٌ عَظِيمٌ (114)
114. [1]Siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya,
dan berusaha merobohkannya?[2] Mereka
itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah)[3]. Mereka
mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ
اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (115)
115. [4] [5]Dan
milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah[6].
Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui[7].
Ayat
116-119: Menyebutkan kedustaan orang-orang Ahli Kitab dan kaum musyrikin dalam
dakwaan mereka bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala punya anak; Mahasuci Dia dari
apa yang mereka sifatkan.
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (116)
116. Mereka (orang-orang kafir) berkata[8],
"Allah mempunyai anak.” Mahasuci Allah[9],
bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya[10].
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا
يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (117)
117. Allah Pencipta langit dan bumi[11]. Apabila
Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya
berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu[12].
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ
تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ
قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (118)
118. [13]Dan
orang-orang yang tidak mengetahui[14]
berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung)
berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada
kami?"[15]
Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka
itu. Hati mereka serupa[16].
Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada
orang-orang yang yakin[17].
إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَا تُسْأَلُ
عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ (119)
[1] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Setelah Allah Subhaanahu
wa Ta'aala mengarahkan celaan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Dia
mengarahkan celaan kepada kaum musyrik yang mengusir Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dan para sahabatnya dari Mekah, menghalangi mereka melakukan shalat
di Masjidilharam serta memberikan tempat kepada patung-patung dan tandingan
mereka serta perbuatan syirik mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Kenapa Allah tidak mengazab
mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan
mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak
menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka
tidak mengetahui.” (Terj. Qs. Al Anfaal: 34) Allah Ta’ala juga berfirman, “Tidaklah pantas orang-orang
musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa
mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka
kekal di dalam neraka.-- Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, serta tetap
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain
kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Terj. Qs. At Taubah: 17-18) dan firman-Nya, “Merekalah orang-orang yang
kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan
korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidak karena laki-laki
yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, bahwa
kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa
pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan
mereka). Agar Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya.
Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang
yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” (Terj. Qs. Al Fath: 25).”
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 92)
[2] Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang
melarang dzikrullah di masjid-masjid Allah, seperti melarang orang yang shalat,
orang yang membaca Al Qur'an, dan melarang orang lain menjalankan ibadah.
Terlebih ditambah dengan usaha untuk merobohkannya atau melarang kaum mukmin
masuk ke dalamnya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan kaum musyrik terhadap
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang ingin
beribadah di Masjidilharam.
Usaha merobohkannya menurut Syaikh As Sa'diy
dalam tafsirnya ada dua; Hissiy (konkret) dan
Maknawi (abstrak). Yang Hissiy misalnya
menghancurkannya, merusaknya, dan mengotorinya. Sedangkan yang Maknawi adalah
melarang orang-orang yang menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya. Ayat di atas
adalah umum mencakup kepada semua yang memiliki sifat tersebut, termasuk ke
dalamnya As-habul Fiil (para tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang
hendak menghancurkan Ka'bah), kaum Quraisy yang menghalangi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, kaum Nasrani yang
menghancurkan Baitul Maqdis dan lain-lain, maka Allah membalas mereka dengan
menghalangi mereka masuk ke dalam masjid baik secara syara' maupun taqdir
(ketentuan)-Nya kecuali dalam keadaan takut dan hina. Ketika mereka membuat
takut hamba-hamba Allah, maka Allah membuat hati mereka takut. Kaum musyrik
yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata tidak lama,
kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengizinkan Beliau menaklukkan Makkah dan
melarang kaum musyrik mendekati rumah-Nya (lihat Qs. At Taubah: 28). Sebelum
mereka adalah As-habul Fiil, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menimpakan
kehinaan kepada mereka di dunia (baca kisahnya di
Menurut Ibnu Zaid sebagaimana yang diriwayatkan
oleh Ibnu Jarir, bahwa maksud, “Dan berusaha
merobohkannya?” adalah karena mereka (kaum musyrikin
Quraisy) menghalangi orang yang hendak memakmurkannya dengan dzikrullah dan
orang yang mendatanginya untuk haji dan umrah (Rasul shallallahu 'alaihi wa
sallam dan para sahabatnya).”
Ibnu
Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa kaum Quraisy menghalangi Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam untuk shalat di dekat Ka’bah di Masjidilharam.
Jika tidak ada orang yang paling zalim
daripada orang yang menghalangi orang lain menjalankan ibadah di dalamnya dan
berusaha merobohkannya berarti tidak ada orang yang paling besar imannya
daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid-Nya baik Hissiy (seperti
membangunnya dan membersihkannya) maupun maknawi (seperti mengumandangkan azan,
mengadakan shalat berjamaah, mengadakan ta'lim, membaca Al Qur'an di sana, dan
melakukan ibadah-ibadah lainnya di sana).
[3] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan bentuk
khabar (berita), tetapi maksudnya adalah perintah, yakni jangan kamu berikan
kesempatan kepada mereka itu untuk masuk ke dalamnya ketika kamu telah berkuasa
atas mereka kecuali di bawah perjanjian hudnah (genjatan senjata) dan jizyah
(pajak). Oleh karena itulah, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menaklukkan Mekah, maka pada tahun berikutnya yaitu tahun kesembilan hijriah,
Beliau memerintahkan seseorang untuk mengumumkan di Mina, “Ingatlah! Setelah
tahun ini tidak ada orang musyrik pun yang berhaji, dan tidak ada yang
berthawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, dan barang siapa yang masih
memiliki waktu perjanjian, maka batasnya sampai habis waktunya.” Sikap
Beliau ini merupakan pembenaran dan pengamalan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang
beriman! Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka
mendekati Masjidilharam setelah tahun ini.” (Terj. Qs. At Taubah: 28)
Ada yang mengatakan, bahwa hal ini merupakan berita
gembira dari Allah kepada kaum muslimin, bahwa Dia akan memenangkan mereka
sehingga dapat menguasai Masjidilharam dan masjid-masjid lainnya, dan bahwa Dia
akan menghinakan kaum musyrikin untuk mereka sehingga tidak ada seorang pun yang
masuk ke Masjidilharam di antara mereka kecuali dalam keadaan takut, takut
ditangkap lalu dihukum atau dibunuh jika tidak masuk Islam. Allah telah
memenuhi janji ini sebagaimana sebelumnya dicegahnya kaum musyrik masuk ke
Masjidilharam, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga berwasiat agar
tidak ada dua agama di Jazirah Arab serta berwasiat agar mengeluarkan orang-orang
Yahudi dan Nasrani darinya, walillahil hamdu wal minnah. Hal ini tidak
lain untuk memuliakan kawasan Masjidilharam dan membersihkan tempat dimana
Allah mengutus Rasul-Nya kepada manusia seluruhnya sebagai pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan –semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepadanya
-. Ini merupakan penghinaan untuk mereka di dunia, karena balasan disesuaikan
dengan jenis amalan. Oleh karena mereka menghalangi kaum mukmin dari
Masjidilharam, maka mereka dihalangi darinya, dan karena mereka telah mengusir
kaum mukmin dari Mekah, maka mereka diusir darinya, dan untuk mereka di akhirat
azab yang besar karena telah merusak kehormatan Baitullah dan mengotorinya
dengan menegakkan patung-patung di sekitarnya serta berdoa kepada selain Allah
di dekatnya serta berthawaf di sana dalam keadaan telanjang, dan melakukan
perbuatan lainnya yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.
Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang
permintaan perlindungan dari kehinaan di dunia dan azab di akhirat sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dari Busr bin Arthaah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي
الْأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ
“Ya
Allah, perbaikilah kesudahan dari amalan kami dalam setiap perkara seluruhnya.
Dan peliharalah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat.”
Hadits ini adalah hasan (Lihat Al Mishbahul Munir
hal. 92-93).
[4] Imam Muslim meriwayatkan dari
[5] Menurut Ibnu Katsir, ayat ini –dan Allah yang lebih
tahu- di dalamnya terdapat hiburan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam dan para sahabatnya yang telah diusir dari Mekah dan telah berpisah
dengan masjid dan tempat shalat mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam sebelumnya melakukan shalat di Mekah menghadap ke Baitulmaqdis,
sedangkan ka’bah di dekatnya, maka ketika Beliau datang ke Madinah, Beliau
menghadap ke Baitulmaqdis hanya 16 atau 17 bulan, lalu Allah mengarahkannya ke
ka’bah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan
milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.”
Ali
bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Yang pertama kali
dinaskh dari Al Qur’an adalah tentang arah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, dimana penduduknya adalah orang-orang
Yahudi. Allah memerintahkan Beliau untuk menghadap Baitulmaqdis. Ketika itu, orang-orang
Yahudi pun bergembira. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap
kepadanya selama belasan bulan, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam lebih suka menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim, Beliau pun sering berdoa
dan memandang ke langit, maka Allah menurunkan ayat, “Sungguh Kami (sering)
melihat mukamu menengadah ke langit –sampai dengan firman-Nya- maka
palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 144-150), maka orang-orang
Yahudi pun menjadi curiga dan berkata, “Apa yang memalingkan mereka dari
kiblat yang mereka selalu menghadap ke arahnya.” Maka Allah menurunkan
ayat, “Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun
kamu menghadap di sanalah wajah Allah.”
Ikrimah meriwayatkan
dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Kemanapun kamu menghadap di
sanalah wajah Allah,” ia berkata, “Yaitu kiblat Allah, dimana saja kamu
menghadap, baik ke arah timur maupun barat.”
Mujahid berkata
tentang firman Allah Ta’ala, “Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah
Allah,” yakni di mana saja kamu berada, maka kamu memiliki kiblat yang kamu
menghadap kepadanya, yaitu ka’bah.
Dari
Ibnu Umar, bahwa ia melaksanakan shalat menghadap ke arah mana hewan
kendaraannya menghadap, ia menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam melakukan hal itu, Beliau melakukan hal itu menafsirkan ayat ini, “Kemana
pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah,” (Hadits
ini diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih
dan asalnya ada dalam dua kitab shahih dari hadits Ibnu Umar dan ‘Amir bin
Rabi’ah tanpa menyebutkan ayat tersebut).
Dalam Shahih
Bukhari dari hadits Nafi’ dari Ibnu Umar disebutkan, bahwa ia pernah
ditanya tentang sifat shalat khauf, kemudian ia menjawab, “Jika lebih menakutkan
lagi, maka shalatlah sambil berjalan kaki dan berkendaraan, baik menghadap
kiblat maupun tidak.” Nafi’ berkata, “Menurutku Ibnu Umar tidaklah menyebutkan
hal itu kecuali dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Al
Mishbahul Munir hal. 93)
[6] Timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya
adalah milik Allah, Dia-lah pemilik bumi ini. Disebutkan timur dan barat,
karena di
[7] Dari ayat 114-115 kita dapat
menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) besarnya dosa orang yang berusaha
menimpakan bahaya kepada masjid atau merusaknya, (2) wajibnya menjaga masjid
dari dimasuki orang-orang kafir kecuali jika mereka memasukinya atas izin kaum
muslimin, namun mereka harus dalam kondisi hina dan rendah, (3) sahnya shalat
sunah di atas kendaraan atau hewan tunggangan dalam safar ke mana saja
kendaraannya menghadap, (4) wajibnya menghadap kiblat kecuali jika tidak
sanggup, seperti sakit yang tidak memungkinkan baginya menghadap kiblat, dalam
kondisi menakutkan, ketika berperang atau melarikan diri, atau ketika tidak
mengetahui arah kiblat setelah mencari tahu, (5) Allah meliputi seluruh alam
baik kekuasaan-Nya maupun ilmu-Nya, tidak ada satu pun yang tersembunyi
bagi-Nya dan tidak ada yang dapat meloloskan diri dari-Nya.
[8] Mereka ini adalah orang-orang Yahudi, orang-orang
Nasrani, dan orang-orang musyrik. Meskipun mereka menisbatkan kepada Allah
Subhaanahu wa Ta'aala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, namun Allah Subhaanahu
wa Ta'aala sangat halim (sabar dan tidak langsung menghukum padahal Dia mampu)
dan mereka masih mendapatkan rezeki-Nya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu
Abbas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
قَالَ اللَّهُ
كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ
ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ
أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ
فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا
Allah Ta'ala berfirman, "Sebagian
keturunan Adam telah mengatakan kebohongan tentang Aku padahal mereka sama
sekali tidak berhak melakukan demikian. Dan mereka mencelaku, padahal mereka
tidak punya hak untuk mencelaku. Kebohongan yang mereka perbuat tentang-Ku
adalah mereka menganggap Aku tidak mampu menciptakan mereka kembali seperti
sebelumnya. Adapun celaannya kepada-Ku, yaitu mereka mengatakan bahwa Aku
mempunyai anak. Mahasuci Aku, Aku sama sekali tidak mengambil istri dan tidak
mempunyai anak.”
Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan,
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَحَدٌ أَصْبَرَ
عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِنَّهُمْ يَجْعَلُونَ لَهُ نِدًّا
وَيَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِمْ
وَيُعْطِيهِمْ
"Tidak ada siapa pun yang lebih
bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah Ta'ala, mereka membuat
tandingan untuk-Nya dan menganggap-Nya punya anak, meskipun demikian Dia masih memberi
mereka rezeki, memaafkan, dan memberi mereka."
Kata-kata, "subhaanah" di ayat
tersebut, merupakan bantahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap pernyataan
batil tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menegakkan hujjah dengan
firman-Nya setelah kata-kata "subhaanah,” (Mahasuci Dia). Ibnu Jarir
berkata, “Maksudnya adalah Mahasuci Allah dari memiliki anak, padahal Dia yang
memiliki langit dan bumi, dimana semuanya bersaksi terhadap keesaan-Nya
berdasarkan dilalahnya (yang ditunjukkan olehnya), mengakui keberhakan-Nya
untuk ditaati, dimana Dia Penciptanya, Khaliqnya dan Yang Mengadakannya tanpa
ada asal maupun contoh yang diikuti-Nya.”
[9] Yakni Mahasuci Allah dari pernyataan yang batil
tersebut. Demikian juga Mahasuci Dia dari apa yang disifatkan oleh kaum musyrikin
dan orang-orang zalim. Mahasuci Allah yang memiliki kesempurnaan secara mutlak
dari segala sisi, Dia tidak terkena aib dan kekurangan dari segala sisi.
[10] Maksudnya, semua yang ada di langit dan di bumi adalah
milik-Nya dan hamba-Nya, mereka semua tunduk kepada-Nya dan di bawah tadbir
(pengaturan)-Nya. Jika mereka semua adalah hamba-Nya dan butuh kepada-Nya
sedangkan Dia tidak butuh kepada mereka, bagaimana mungkin salah seorang di
antara mereka menjadi anaknya, padahal anak itu biasanya sejenis dengan
bapaknya, karena memang ia bagian darinya. Perhatikanlah, Allah Subhaanahu wa
Ta'aala Maha Memiliki lagi Maha Menundukkan, sedangkan mereka dimiliki dan
ditundukkan, Dia Maha Kaya, sedangkan mereka fakir, berbeda bukan! Dan sungguh
sangat berbeda. Oleh karena itu, pernyataan ini termasuk kebatilan yang paling
batil. Bantahan terhadap anggapan bahwa Tuhan punya anak juga disebutkan dalam
Tunduk atau qunut terbagi dua: Ketundukan
umum dan ketundukan khusus. Ketundukan umum maksudnya bahwa semua makhluk di
bawah tadbir (pengaturan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala seperti yang dinyatakan
dalam ayat ini dan seperti yang disebutkan di
Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid
tentang firman Allah Ta’ala, “Semua tunduk kepada-Nya.” Ia berkata,
“Semuat taat (kepada-Nya).” Ia juga berkata, ”Taatnya orang kafir adalah sujud
bayangannya sedangkan dia tidak suka.”
Tentang firman Allah Ta’ala, “Semua
tunduk kepada-Nya,” As Suddiy berkata, “Semua taat kepada-Nya pada hari
Kiamat.”
Khashiif meriwayatkan dari Mujahid tentang
firman Allah Ta’ala, “Semua tunduk kepada-Nya,” ia berkata, “Semua taat
(kepada-Nya), (ketika Dia berfirman,) “Jadilah manusia, maka jadilah manusia,”
dan ketika Dia berfirman, “Jadilah keledai, maka jadilah keledai.”
Adapun Ibnu Abbas, maka Beliau menafsirkan firman-Nya, “Semua tunduk kepada-Nya,”
dengan “semua shalat (kepada-Nya).” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim).
[11] Badii' artinya Allah Subhaanahu wa Ta'aala Pencipta
tanpa didahului contoh sebelumnya. Allah Maha Kuasa mampu menciptakan makhluk
begitu indah tanpa didahului contoh sebelumnya.
Faedah:
Bada’a artinya mengadakan sesuatu tanpa ada
contoh sebelumnya. Oleh karena itu, perbuatan yang diada-adakan dalam agama
tanpa ada contoh sebelumnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
disebut ‘Bid’ah’ sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, “Fa inna
kulla muhdatsatin bid’ah.” (artinya: Sesungguhnya setiap yang diada-adakan
adalah bid’ah). Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Bid’ah terbagi dua: Bid’ah
Syar’iyyah (secara syara'), seperi sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, “Fa inna kulla muhdatsatin bid’ah wa kulla bid’atin dhalaalah.”
(artinya: Sesungguhnya setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan
setiap bid’ah adalah sesat). (Kedua) Bid’ah Lughawiyyah (secara bahasa),
seperti ucapan Amirul mukkminin Umar bin Khaththab ketika ia mengumpulkan
kembali mereka untuk shalat tarawih dan terus-menerusnya mereka melakukannya,
“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 94-95)
Intinya, bid’ah dalam agama adalah haram,
karena akan merusak agama dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga
menyebutnya sebagai kesesatan, adapun pernyataan Umar di atas bukanlah untuk
membolehkan bid’ah, tetapi hanya menerangkan bid’ah lughawiyyah (secara
bahasa), dan karena shalat tarawih berjamaah bukanlah bid’ah secara syara,
bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mencontohkannya, namun
Beliau tinggalkan setelahnya karena khawatir hal tersebut diwajibkan.
[12] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala
menerangkan sempurnanya kekuasaan-Nya dan agungnya kerajaan-Nya, dimana apabila
Dia menetapkan suatu perkara dan hendak mewujudkannya, maka Dia hanya berkata
kepadanya, “Jadilah.” Yaitu sekali saja, maka jadilah ia, yakni terwujud sesuai
yang Dia inginkan.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 95).
Ayat yang
semakna dengan ayat ini ada di
[13] Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia
berkata, “Rafi’ bin Huraimalah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, “Wahai Muhammad, jika engkau memang seorang Rasul dari Allah sebagaimana
yang engkau katakan, maka katakanlah kepada Allah agar Dia berbicara dengan
kami sehingga kami mendengar perkataan-Nya, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan
orang-orang yang tidak mengetahui berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung)
berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada
kami?"
Abul ‘Aliyah,
Rabii’ bin Anas, Qatadah dan As Suddiy berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Dan
orang-orang yang tidak mengetahui berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung)
berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada
kami?" Ini adalah ucapan orang-orang kafir bangsa Arab. Adapun
firman-Nya, “Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti
ucapan mereka itu.” Mereka berkata, “Mereka ini adalah orang-orang Yahudi
dan Nasrani.”
Pernyataan bahwa
yang mengatakan, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami
atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?" adalah kaum
musyrik bangsa Arab diperkuat oleh firman Allah Ta’ala di
[14] Baik dari kalangan Ahli Kitab maupun selain mereka.
[15] Tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda sesuai yang
mereka inginkan berdasarkan akal mereka yang tidak sehat dan pandangan mereka
yang dangkal yang membuat mereka berani berbicara seperti itu kepada Allah Al
Khaliq dan bersikap sombong kepada rasul-rasul-Nya, seperti permintaan mereka agar
dapat melihat Allah (lihat Qs. Al Baqarah: 55), permintaan agar Nabi Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam menurunkan kitab langsung dari langit (lihat Qs. An
Nisaa': 153), dan seperti yang disebutkan dalam surat Al Israa': 90-95. Seperti
inilah kebiasaan mereka terhadap rasul-rasul, meminta ayat-ayat yang
memberatkan diri mereka, bukan ayat-ayat untuk memperoleh bimbingan, karena
memang niat mereka bukan mencari yang hak (kebenaran), padahal para rasul telah
datang membawakan ayat-ayat yang biasanya dengan ayat tersebut manusia mau
beriman. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Sesungguhnya
telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin."
Orang-orang yang yakin telah mengetahui dari
ayat-ayat Allah dan buktinya yang begitu jelas sesuatu yang membuat mereka
yakin dan hilang keraguan dan kebimbangan.
[16] Yakni ucapan tersebut tidaklah muncul kecuali karena
kesamaan hati dalam kekafiran dan kesesatan.
Ayat ini menunjukkan bahwa kekafiran adalah
satu agama meskipun berbeda orang-orangnya dan tempatnya, mereka sama dalam
kekafiran dan berkata terhadap Allah tanpa ilmu.
[17] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, sungguh
Kami telah menjelaskan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran para rasul dengan
penjelasan yang tidak membutuhkan permintaan dan tambahan yang lain bagi orang
yang yakin, percaya, dan mengikuti para rasul serta memahami apa yang mereka
bawa dari Allah Tabaaraka wa Ta'aala. Adapun orang yang telah dikunci Allah
hati dan pendengarannya serta diadakan tutupan pada penglihatannya, maka mereka
itulah yang difirmankan Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti
terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman--Meskipun datang kepada
mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (Terj. QS. Yunus: 96-97)
(Lihat Al Mishbahul Munir hal. 95).
[18] Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan sikap
orang-orang yang mengingkari dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
maka Dia mengarahkan firman-Nya kepada Beliau untuk menghibur dan menguatkan
Beliau.
[19] Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan
kebenaran kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kebenaran apa
yang Beliau bawa berupa Al Qur'an dan As Sunnah. Kebenaran Beliau didukung oleh
banyak dalil, baik dalil sam'i (naqli) seperti pada ayat ini, maupun dalil
'aqli (akal). Dalil 'aqlinya di antaranya adalah sbb.:
Pertama, keadaan penduduk bumi sebelum Beliau diutus berada dalam kegelapan
dan jauh dari akhlak mulia sehingga disebut sebagai zaman jahiliyyah
(kebodohan). Manusia tidak berpikir lagi tentang apa yang disembahnya; pantas
atau tidak untuk disembah seperti patung, api, salib, dsb. Kita pun mengetahui
bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menciptakan makhluk-Nya dengan
membiarkan mereka begitu saja, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha
Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Hikmah dan
rahmat-Nya menghendaki untuk mengutus kepada mereka yang berada dalam kegelapan
ini seorang rasul yang menyuruh mereka menyembah kepada yang pantas disembah,
yaitu Pencipta mereka (Allah) dan mengembalikan mereka kepada jati diri mereka
yang sesungguhnya (memanusiakan manusia) sebagai hamba Allah bukan hamba
makhluk, membebaskan mereka dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan
kepada Allah, mengfungsikan kembali akal mereka yang selama ini tertahan
geraknya, menjalin hubungan baik antara sesama mereka yang sebelumnya
bermusuh-musuhan dan menyatukan mereka di atas tauhid, di atas beribadah kepada
Allah dan di atas kebaikan sehingga hidup mereka diberkahi, makmur, dan penuh
kedamaian. Allah berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Terj. Qs. Al A'raaf: 96)
Kedua, barang siapa yang mengetahui keadaan Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam sebelum diutus, akhlaknya yang mulia dan pribadinya yang
agung, pasti akan mengetahui bahwa akhlak tersebut adalah akhlak para nabi dan
rasul. Hal ini pun sama menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah Nabi dan Rasul.
Ketiga, barang siapa yang mengetahui apa yang Beliau bawa, baik Al Qur'an
maupun As Sunnah yang isinya mengandung berita yang benar, perintah-perintah
yang baik (seperti berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim,
berkata jujur, menepati janji, dsb.), larangan mengerjakan perbuatan buruk (seperti
larangan meminum khamr, judi, mengadu domba dsb.), belum lagi mukjizat yang
diberikan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti akan membenarkan
kenabian dan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali orang yang
zalim dan sombong saja padahal hati mereka mengakui, sebagaimana firman Allah
Ta’ala, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan,
padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (Terj. Qs. An Naml: 14)
[20] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus
dengan membawa agama yang benar (Islam) yang diperkuat dengan hujjah dan
mukjizat. Beliau diperintahkan menyampaikan agama ini dengan memberikan berita
gembira kepada kaum mukmin kebaikan yang akan mereka peroleh di dunia dan
akhirat, dan menakuti mereka yang menolak padahal sudah jelas kebenarannya
dengan azab Allah. Tugas Beliau hanya menyampaikan, adapun hisabnya diserahkan
kepada Allah. Beliau tidaklah diminta pertanggungjawaban terhadap kekafiran
mereka.
Ayat ini semakna dengan firman Allah Ta’ala
di
Sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam dalam kitab Taurat
عَنْ عَطَاءِ بْنِ
يَسَارٍ قَالَ لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي فَقُلْتُ
أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
التَّوْرَاةِ فَقَالَ أَجَلْ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ
بِصِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ
شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا } وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ وَأَنْتَ عَبْدِي
وَرَسُولِي سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ لَسْتَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلَا
سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ قَالَ يُونُسُ وَلَا صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا
يَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالسَّيِّئَةِ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ وَلَنْ
يَقْبِضَهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَيَفْتَحَ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَآذَانًا صُمًّا
وَقُلُوبًا غُلْفًا
Dari `Atha' bin Yasar, dia berkata, “Aku bertemu
dengan Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, lalu aku berkata kepadanya,
"Beritahukanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
yang terdapat dalam kitab Taurat." Ia berkata, "Ya, demi Allah,
sesungguhnya sifat-sifat dalam Taurat sama dengan sifat-sifatnya dalam Al
Qur'an, "Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang
Arab, kamu adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku, dan Aku menamaimu Al Mutawakkil (orang
yang bertawakkal tinggi). Engkau bukan orang yang berperangai buruk, juga bukan
berwatak keras, dan bukan sakhkhob -dengan sin- (orang yang cerewet) di
pasar." Yunus berkata; dan bukan shokhkhob -dengan shod- (orang yang berteriak)
di pasar. Dan Beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan serupa akan
tetapi beliau memaafkan dan mengampuninya, dan Dia Ta'ala tidak akan mewafatkan
Beliau sampai Beliau meluruskan agama-Nya yang bengkok, hingga manusia
mengucapkan Laailaahaillallah, sehingga dengannya beliau dapat membukakan mata
yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang lalai." (Hr. Ahmad dan
Bukhari).
[21] Dari ayat 116-119 di atas kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) haramnya menisbatkan kepada Allah sesuatu tanpa dalil wahyu, karena Dia mengingkari penisbatan anak kepada-Nya yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, (2) kesamaan hati orang-orang yang berada di atas kebatilan di setiap zaman dan setiap tempat karena mereka menyambut seruan setan, (3) tidaklah bermanfaat ayat-ayat Allah kecuali bagi mereka yang yakin karena sehatnya akal dan selamatnya hati mereka, (4) seorang mukmin hendaknya mengajak manusia kepada Allah, namun bukan wewenangnya memberi petunjuk, karena petunjuk di Tangan Allah, sedangkan dakwah dapat dilakukan manusia karena mereka dibebani melakukannya sesuai kemampuannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar