Senin, 03 Agustus 2026

Seri 26 (Surah Al Baqarah ayat 114-119)

Seri (26)

 




Ayat 114-115: Menerangkan haramnya menodai kehormatan masjid, contoh tindakan menghalangi orang lain beribadah, dan menerangkan bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya shalat.

 

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (114)  

114. [1]Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya?[2] Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah)[3]. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (115) 

115. [4] [5]Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah[6]. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui[7].

 

Ayat 116-119: Menyebutkan kedustaan orang-orang Ahli Kitab dan kaum musyrikin dalam dakwaan mereka bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala punya anak; Mahasuci Dia dari apa yang mereka sifatkan.

 

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (116)  

116. Mereka (orang-orang kafir) berkata[8], "Allah mempunyai anak.” Mahasuci Allah[9], bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya[10].

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (117)  

117. Allah Pencipta langit dan bumi[11]. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu,  Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu[12].

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (118)  

118. [13]Dan orang-orang yang tidak mengetahui[14] berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?"[15] Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa[16]. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin[17].

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ (119)  

119. [18]Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran[19], sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan[20]. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka[21].


[1] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengarahkan celaan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Dia mengarahkan celaan kepada kaum musyrik yang mengusir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya dari Mekah, menghalangi mereka melakukan shalat di Masjidilharam serta memberikan tempat kepada patung-patung dan tandingan mereka serta perbuatan syirik mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Kenapa Allah tidak mengazab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Terj. Qs. Al Anfaal: 34) Allah Ta’ala juga berfirman, “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.-- Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Terj. Qs. At Taubah: 17-18) dan firman-Nya, “Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidak karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Agar Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.” (Terj. Qs. Al Fath: 25).” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 92)

[2] Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang melarang dzikrullah di masjid-masjid Allah, seperti melarang orang yang shalat, orang yang membaca Al Qur'an, dan melarang orang lain menjalankan ibadah. Terlebih ditambah dengan usaha untuk merobohkannya atau melarang kaum mukmin masuk ke dalamnya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan kaum musyrik terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang ingin beribadah di Masjidilharam.

Usaha merobohkannya menurut Syaikh As Sa'diy dalam tafsirnya ada dua; Hissiy (konkret) dan Maknawi (abstrak). Yang Hissiy misalnya menghancurkannya, merusaknya, dan mengotorinya. Sedangkan yang Maknawi adalah melarang orang-orang yang menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya. Ayat di atas adalah umum mencakup kepada semua yang memiliki sifat tersebut, termasuk ke dalamnya As-habul Fiil (para tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka'bah), kaum Quraisy yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, kaum Nasrani yang menghancurkan Baitul Maqdis dan lain-lain, maka Allah membalas mereka dengan menghalangi mereka masuk ke dalam masjid baik secara syara' maupun taqdir (ketentuan)-Nya kecuali dalam keadaan takut dan hina. Ketika mereka membuat takut hamba-hamba Allah, maka Allah membuat hati mereka takut. Kaum musyrik yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata tidak lama, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengizinkan Beliau menaklukkan Makkah dan melarang kaum musyrik mendekati rumah-Nya (lihat Qs. At Taubah: 28). Sebelum mereka adalah As-habul Fiil, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia (baca kisahnya di surat Al Fiil), sedangkan orang-orang Nasrani yang merobohkan Baitul Maqdis akhirnya dikalahkan oleh kaum mukmin. Oleh karena itu, siapa saja yang coba-coba mengikuti jejak mereka, pasti akan memperoleh kehinaan. Ini termasuk ayat-ayat yang agung yang disampaikan Allah sebelum terjadi dan hal itu pun terjadi sesuai yang diberitakan-Nya (Lihat Taisirul Karimir Rahman cet. Muassasah Ar Risalah hal. 63).

Menurut Ibnu Zaid sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwa maksud, “Dan berusaha merobohkannya?” adalah karena mereka (kaum musyrikin Quraisy) menghalangi orang yang hendak memakmurkannya dengan dzikrullah dan orang yang mendatanginya untuk haji dan umrah (Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya).”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa kaum Quraisy menghalangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk shalat di dekat Ka’bah di Masjidilharam.

Jika tidak ada orang yang paling zalim daripada orang yang menghalangi orang lain menjalankan ibadah di dalamnya dan berusaha merobohkannya berarti tidak ada orang yang paling besar imannya daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid-Nya baik Hissiy (seperti membangunnya dan membersihkannya) maupun maknawi (seperti mengumandangkan azan, mengadakan shalat berjamaah, mengadakan ta'lim, membaca Al Qur'an di sana, dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di sana).

[3] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan bentuk khabar (berita), tetapi maksudnya adalah perintah, yakni jangan kamu berikan kesempatan kepada mereka itu untuk masuk ke dalamnya ketika kamu telah berkuasa atas mereka kecuali di bawah perjanjian hudnah (genjatan senjata) dan jizyah (pajak). Oleh karena itulah, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menaklukkan Mekah, maka pada tahun berikutnya yaitu tahun kesembilan hijriah, Beliau memerintahkan seseorang untuk mengumumkan di Mina, “Ingatlah! Setelah tahun ini tidak ada orang musyrik pun yang berhaji, dan tidak ada yang berthawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, dan barang siapa yang masih memiliki waktu perjanjian, maka batasnya sampai habis waktunya.” Sikap Beliau ini merupakan pembenaran dan pengamalan firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini.” (Terj. Qs. At Taubah: 28)

Ada yang mengatakan, bahwa hal ini merupakan berita gembira dari Allah kepada kaum muslimin, bahwa Dia akan memenangkan mereka sehingga dapat menguasai Masjidilharam dan masjid-masjid lainnya, dan bahwa Dia akan menghinakan kaum musyrikin untuk mereka sehingga tidak ada seorang pun yang masuk ke Masjidilharam di antara mereka kecuali dalam keadaan takut, takut ditangkap lalu dihukum atau dibunuh jika tidak masuk Islam. Allah telah memenuhi janji ini sebagaimana sebelumnya dicegahnya kaum musyrik masuk ke Masjidilharam, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga berwasiat agar tidak ada dua agama di Jazirah Arab serta berwasiat agar mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani darinya, walillahil hamdu wal minnah. Hal ini tidak lain untuk memuliakan kawasan Masjidilharam dan membersihkan tempat dimana Allah mengutus Rasul-Nya kepada manusia seluruhnya sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan –semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepadanya -. Ini merupakan penghinaan untuk mereka di dunia, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Oleh karena mereka menghalangi kaum mukmin dari Masjidilharam, maka mereka dihalangi darinya, dan karena mereka telah mengusir kaum mukmin dari Mekah, maka mereka diusir darinya, dan untuk mereka di akhirat azab yang besar karena telah merusak kehormatan Baitullah dan mengotorinya dengan menegakkan patung-patung di sekitarnya serta berdoa kepada selain Allah di dekatnya serta berthawaf di sana dalam keadaan telanjang, dan melakukan perbuatan lainnya yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Ada sebuah hadits yang menyebutkan tentang permintaan perlindungan dari kehinaan di dunia dan azab di akhirat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Busr bin Arthaah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ

“Ya Allah, perbaikilah kesudahan dari amalan kami dalam setiap perkara seluruhnya. Dan peliharalah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat.”

Hadits ini adalah hasan (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 92-93).

[4] Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat menghadap dari Mekah ke Madinah di atas kendaraannya, ke hadapan wajahnya menghadap. Tentang hal ini, turun ayat, Fa ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Nasa'i, Ahmad dan Ibnu Jarir. Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih.")

[5] Menurut Ibnu Katsir, ayat ini –dan Allah yang lebih tahu- di dalamnya terdapat hiburan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang telah diusir dari Mekah dan telah berpisah dengan masjid dan tempat shalat mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya melakukan shalat di Mekah menghadap ke Baitulmaqdis, sedangkan ka’bah di dekatnya, maka ketika Beliau datang ke Madinah, Beliau menghadap ke Baitulmaqdis hanya 16 atau 17 bulan, lalu Allah mengarahkannya ke ka’bah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Yang pertama kali dinaskh dari Al Qur’an adalah tentang arah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, dimana penduduknya adalah orang-orang Yahudi. Allah memerintahkan Beliau untuk menghadap Baitulmaqdis. Ketika itu, orang-orang Yahudi pun bergembira. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepadanya selama belasan bulan, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih suka menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim, Beliau pun sering berdoa dan memandang ke langit, maka Allah menurunkan ayat, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit –sampai dengan firman-Nya- maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (Terj. Qs. Al Baqarah: 144-150), maka orang-orang Yahudi pun menjadi curiga dan berkata, “Apa yang memalingkan mereka dari kiblat yang mereka selalu menghadap ke arahnya.” Maka Allah menurunkan ayat, Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.

Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala, “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah,” ia berkata, “Yaitu kiblat Allah, dimana saja kamu menghadap, baik ke arah timur maupun barat.”

Mujahid berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah,” yakni di mana saja kamu berada, maka kamu memiliki kiblat yang kamu menghadap kepadanya, yaitu ka’bah.

Ada yang berpendapat, bahwa Allah menurunkan ayat ini adalah sebelum diwajibkan menghadap ka’bah. Ibnu Jarir berkata, “Yang lain berpendapat, bahwa ayat ini diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai izin dari Allah kepada orang yang shalat sunah untuk menghadap ke mana saja ia menghadap baik ke timur maupun barat ketika dalam perjalanan, perang sedang berkobar dan ketika kondisi menakutkan.

Dari Ibnu Umar, bahwa ia melaksanakan shalat menghadap ke arah mana hewan kendaraannya menghadap, ia menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal itu, Beliau melakukan hal itu menafsirkan ayat ini, “Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah,” (Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih dan asalnya ada dalam dua kitab shahih dari hadits Ibnu Umar dan ‘Amir bin Rabi’ah tanpa menyebutkan ayat tersebut).

Dalam Shahih Bukhari dari hadits Nafi’ dari Ibnu Umar disebutkan, bahwa ia pernah ditanya tentang sifat shalat khauf, kemudian ia menjawab, “Jika lebih menakutkan lagi, maka shalatlah sambil berjalan kaki dan berkendaraan, baik menghadap kiblat maupun tidak.” Nafi’ berkata, “Menurutku Ibnu Umar tidaklah menyebutkan hal itu kecuali dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 93)

Ada pula yang berpendapat, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang tidak jelas baginya arah kiblat karena gelap atau mendung dan semisalnya, lalu ia shalat tanpa menghadap kiblat.

[6] Timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya adalah milik Allah, Dia-lah pemilik bumi ini. Disebutkan timur dan barat, karena di sana terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar, dari sana terbit dan tenggelam matahari, jika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memiliki kedua arah itu, berarti Dia memiliki semua arah. Oleh karena itu, arah mana saja seseorang menghadap dengan perintah Allah (misalnya perintah menghadap ka'bah setelah sebelumnya menghadap ke Baitul Maqdis) atau keringanan dari-Nya (seperti ketika shalat sunah di atas kendaraannya, atau ia tidak mengetahui di mana kiblat, lalu ia shalat setelah mencari-cari arah kiblat, ternyata arah kiblatnya salah atau ia shalat dalam keadaan disalib, diikat, sakit, dsb.), maka di situlah wajah Allah, yakni ia tidak keluar dari dari kerajaan Allah dan ketaatan kepada-Nya. Ayat ini menetapkan adanya wajah bagi Allah Ta'ala yang layak bagi-Nya, dan bahwa Dia memiliki wajah yang berbeda dengan wajah makhluk. Sesungguhnya Allah Mahaluas rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan mengetahui perbuatan mereka, dimana tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya.

[7] Dari ayat 114-115 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) besarnya dosa orang yang berusaha menimpakan bahaya kepada masjid atau merusaknya, (2) wajibnya menjaga masjid dari dimasuki orang-orang kafir kecuali jika mereka memasukinya atas izin kaum muslimin, namun mereka harus dalam kondisi hina dan rendah, (3) sahnya shalat sunah di atas kendaraan atau hewan tunggangan dalam safar ke mana saja kendaraannya menghadap, (4) wajibnya menghadap kiblat kecuali jika tidak sanggup, seperti sakit yang tidak memungkinkan baginya menghadap kiblat, dalam kondisi menakutkan, ketika berperang atau melarikan diri, atau ketika tidak mengetahui arah kiblat setelah mencari tahu, (5) Allah meliputi seluruh alam baik kekuasaan-Nya maupun ilmu-Nya, tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya dan tidak ada yang dapat meloloskan diri dari-Nya.

[8] Mereka ini adalah orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang musyrik. Meskipun mereka menisbatkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala sangat halim (sabar dan tidak langsung menghukum padahal Dia mampu) dan mereka masih mendapatkan rezeki-Nya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

Allah Ta'ala berfirman, "Sebagian keturunan Adam telah mengatakan kebohongan tentang Aku padahal mereka sama sekali tidak berhak melakukan demikian. Dan mereka mencelaku, padahal mereka tidak punya hak untuk mencelaku. Kebohongan yang mereka perbuat tentang-Ku adalah mereka menganggap Aku tidak mampu menciptakan mereka kembali seperti sebelumnya. Adapun celaannya kepada-Ku, yaitu mereka mengatakan bahwa Aku mempunyai anak. Mahasuci Aku, Aku sama sekali tidak mengambil istri dan tidak mempunyai anak.”

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَحَدٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِنَّهُمْ يَجْعَلُونَ لَهُ نِدًّا وَيَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِمْ وَيُعْطِيهِمْ

"Tidak ada siapa pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah Ta'ala, mereka membuat tandingan untuk-Nya dan menganggap-Nya punya anak, meskipun demikian Dia masih memberi mereka rezeki, memaafkan, dan memberi mereka."

Kata-kata, "subhaanah" di ayat tersebut, merupakan bantahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap pernyataan batil tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menegakkan hujjah dengan firman-Nya setelah kata-kata "subhaanah,” (Mahasuci Dia). Ibnu Jarir berkata, “Maksudnya adalah Mahasuci Allah dari memiliki anak, padahal Dia yang memiliki langit dan bumi, dimana semuanya bersaksi terhadap keesaan-Nya berdasarkan dilalahnya (yang ditunjukkan olehnya), mengakui keberhakan-Nya untuk ditaati, dimana Dia Penciptanya, Khaliqnya dan Yang Mengadakannya tanpa ada asal maupun contoh yang diikuti-Nya.”

[9] Yakni Mahasuci Allah dari pernyataan yang batil tersebut. Demikian juga Mahasuci Dia dari apa yang disifatkan oleh kaum musyrikin dan orang-orang zalim. Mahasuci Allah yang memiliki kesempurnaan secara mutlak dari segala sisi, Dia tidak terkena aib dan kekurangan dari segala sisi.

[10] Maksudnya, semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan hamba-Nya, mereka semua tunduk kepada-Nya dan di bawah tadbir (pengaturan)-Nya. Jika mereka semua adalah hamba-Nya dan butuh kepada-Nya sedangkan Dia tidak butuh kepada mereka, bagaimana mungkin salah seorang di antara mereka menjadi anaknya, padahal anak itu biasanya sejenis dengan bapaknya, karena memang ia bagian darinya. Perhatikanlah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Memiliki lagi Maha Menundukkan, sedangkan mereka dimiliki dan ditundukkan, Dia Maha Kaya, sedangkan mereka fakir, berbeda bukan! Dan sungguh sangat berbeda. Oleh karena itu, pernyataan ini termasuk kebatilan yang paling batil. Bantahan terhadap anggapan bahwa Tuhan punya anak juga disebutkan dalam surat Al An’aam: 101, Maryam: 88-95, Al Kahfi: 4-5, Al Furqan: 2, Ash Shaffat: 151-157 dan Al Ikhlas: 1-4.

Tunduk atau qunut terbagi dua: Ketundukan umum dan ketundukan khusus. Ketundukan umum maksudnya bahwa semua makhluk di bawah tadbir (pengaturan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala seperti yang dinyatakan dalam ayat ini dan seperti yang disebutkan di surat Ar Ra’d: 15. Sedangkan ketundukan khusus adalah ketundukan beribadah sebagaimana firman-Nya "wa quumuu lillahi qaanitiin" (dan berdirilah karena Allah dengan tunduk/khusyu') di surat Al Baqarah: 238.

Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah Ta’ala, “Semua tunduk kepada-Nya.” Ia berkata, “Semuat taat (kepada-Nya).” Ia juga berkata, ”Taatnya orang kafir adalah sujud bayangannya sedangkan dia tidak suka.”

Tentang firman Allah Ta’ala, “Semua tunduk kepada-Nya,” As Suddiy berkata, “Semua taat kepada-Nya pada hari Kiamat.”

Khashiif meriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah Ta’ala, “Semua tunduk kepada-Nya,” ia berkata, “Semua taat (kepada-Nya), (ketika Dia berfirman,) “Jadilah manusia, maka jadilah manusia,” dan ketika Dia berfirman, “Jadilah keledai, maka jadilah keledai.”

Adapun Ibnu Abbas, maka Beliau menafsirkan firman-Nya, “Semua tunduk kepada-Nya,” dengan “semua shalat (kepada-Nya).” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim).

[11] Badii' artinya Allah Subhaanahu wa Ta'aala Pencipta tanpa didahului contoh sebelumnya. Allah Maha Kuasa mampu menciptakan makhluk begitu indah tanpa didahului contoh sebelumnya.

Faedah:

Bada’a artinya mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Oleh karena itu, perbuatan yang diada-adakan dalam agama tanpa ada contoh sebelumnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam disebut ‘Bid’ah’ sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, “Fa inna kulla muhdatsatin bid’ah.” (artinya: Sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah). Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Bid’ah terbagi dua: Bid’ah Syar’iyyah (secara syara'), seperi sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Fa inna kulla muhdatsatin bid’ah wa kulla bid’atin dhalaalah.” (artinya: Sesungguhnya setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat). (Kedua) Bid’ah Lughawiyyah (secara bahasa), seperti ucapan Amirul mukkminin Umar bin Khaththab ketika ia mengumpulkan kembali mereka untuk shalat tarawih dan terus-menerusnya mereka melakukannya, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 94-95)

Intinya, bid’ah dalam agama adalah haram, karena akan merusak agama dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menyebutnya sebagai kesesatan, adapun pernyataan Umar di atas bukanlah untuk membolehkan bid’ah, tetapi hanya menerangkan bid’ah lughawiyyah (secara bahasa), dan karena shalat tarawih berjamaah bukanlah bid’ah secara syara, bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mencontohkannya, namun Beliau tinggalkan setelahnya karena khawatir hal tersebut diwajibkan.

[12] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala menerangkan sempurnanya kekuasaan-Nya dan agungnya kerajaan-Nya, dimana apabila Dia menetapkan suatu perkara dan hendak mewujudkannya, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah.” Yaitu sekali saja, maka jadilah ia, yakni terwujud sesuai yang Dia inginkan.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 95).

Ayat yang semakna dengan ayat ini ada di surat Ali Imran: 47, Yasin: 40 dan Al Qamar: 50.

[13] Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rafi’ bin Huraimalah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Wahai Muhammad, jika engkau memang seorang Rasul dari Allah sebagaimana yang engkau katakan, maka katakanlah kepada Allah agar Dia berbicara dengan kami sehingga kami mendengar perkataan-Nya, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?"

Abul ‘Aliyah, Rabii’ bin Anas, Qatadah dan As Suddiy berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?" Ini adalah ucapan orang-orang kafir bangsa Arab. Adapun firman-Nya, “Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu.” Mereka berkata, “Mereka ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.”

Pernyataan bahwa yang mengatakan, "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?" adalah kaum musyrik bangsa Arab diperkuat oleh firman Allah Ta’ala di surat Al An’aam: 124, Al Israa’: 90-93, Al Furqaan: 21, dan Al Muddaddatstsir: 52.

[14] Baik dari kalangan Ahli Kitab maupun selain mereka.

[15] Tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda sesuai yang mereka inginkan berdasarkan akal mereka yang tidak sehat dan pandangan mereka yang dangkal yang membuat mereka berani berbicara seperti itu kepada Allah Al Khaliq dan bersikap sombong kepada rasul-rasul-Nya, seperti permintaan mereka agar dapat melihat Allah (lihat Qs. Al Baqarah: 55), permintaan agar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menurunkan kitab langsung dari langit (lihat Qs. An Nisaa': 153), dan seperti yang disebutkan dalam surat Al Israa': 90-95. Seperti inilah kebiasaan mereka terhadap rasul-rasul, meminta ayat-ayat yang memberatkan diri mereka, bukan ayat-ayat untuk memperoleh bimbingan, karena memang niat mereka bukan mencari yang hak (kebenaran), padahal para rasul telah datang membawakan ayat-ayat yang biasanya dengan ayat tersebut manusia mau beriman. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin."

Orang-orang yang yakin telah mengetahui dari ayat-ayat Allah dan buktinya yang begitu jelas sesuatu yang membuat mereka yakin dan hilang keraguan dan kebimbangan.

[16] Yakni ucapan tersebut tidaklah muncul kecuali karena kesamaan hati dalam kekafiran dan kesesatan.

Ayat ini menunjukkan bahwa kekafiran adalah satu agama meskipun berbeda orang-orangnya dan tempatnya, mereka sama dalam kekafiran dan berkata terhadap Allah tanpa ilmu.

[17] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, sungguh Kami telah menjelaskan bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran para rasul dengan penjelasan yang tidak membutuhkan permintaan dan tambahan yang lain bagi orang yang yakin, percaya, dan mengikuti para rasul serta memahami apa yang mereka bawa dari Allah Tabaaraka wa Ta'aala. Adapun orang yang telah dikunci Allah hati dan pendengarannya serta diadakan tutupan pada penglihatannya, maka mereka itulah yang difirmankan Allah Ta’ala, Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman--Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (Terj. QS. Yunus: 96-97) (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 95).

[18]  Setelah Allah Azza wa Jalla menyebutkan sikap orang-orang yang mengingkari dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka Dia mengarahkan firman-Nya kepada Beliau untuk menghibur dan menguatkan Beliau.

[19] Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan kebenaran kerasulan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kebenaran apa yang Beliau bawa berupa Al Qur'an dan As Sunnah. Kebenaran Beliau didukung oleh banyak dalil, baik dalil sam'i (naqli) seperti pada ayat ini, maupun dalil 'aqli (akal). Dalil 'aqlinya di antaranya adalah sbb.:

Pertama, keadaan penduduk bumi sebelum Beliau diutus berada dalam kegelapan dan jauh dari akhlak mulia sehingga disebut sebagai zaman jahiliyyah (kebodohan). Manusia tidak berpikir lagi tentang apa yang disembahnya; pantas atau tidak untuk disembah seperti patung, api, salib, dsb. Kita pun mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menciptakan makhluk-Nya dengan membiarkan mereka begitu saja, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Hikmah dan rahmat-Nya menghendaki untuk mengutus kepada mereka yang berada dalam kegelapan ini seorang rasul yang menyuruh mereka menyembah kepada yang pantas disembah, yaitu Pencipta mereka (Allah) dan mengembalikan mereka kepada jati diri mereka yang sesungguhnya (memanusiakan manusia) sebagai hamba Allah bukan hamba makhluk, membebaskan mereka dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan kepada Allah, mengfungsikan kembali akal mereka yang selama ini tertahan geraknya, menjalin hubungan baik antara sesama mereka yang sebelumnya bermusuh-musuhan dan menyatukan mereka di atas tauhid, di atas beribadah kepada Allah dan di atas kebaikan sehingga hidup mereka diberkahi, makmur, dan penuh kedamaian. Allah berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Terj. Qs. Al A'raaf: 96)

Kedua, barang siapa yang mengetahui keadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum diutus, akhlaknya yang mulia dan pribadinya yang agung, pasti akan mengetahui bahwa akhlak tersebut adalah akhlak para nabi dan rasul. Hal ini pun sama menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul.

Ketiga, barang siapa yang mengetahui apa yang Beliau bawa, baik Al Qur'an maupun As Sunnah yang isinya mengandung berita yang benar, perintah-perintah yang baik (seperti berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, berkata jujur, menepati janji, dsb.), larangan mengerjakan perbuatan buruk (seperti larangan meminum khamr, judi, mengadu domba dsb.), belum lagi mukjizat yang diberikan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti akan membenarkan kenabian dan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali orang yang zalim dan sombong saja padahal hati mereka mengakui, sebagaimana firman Allah Ta’ala, "Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (Terj. Qs. An Naml: 14)

[20] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus dengan membawa agama yang benar (Islam) yang diperkuat dengan hujjah dan mukjizat. Beliau diperintahkan menyampaikan agama ini dengan memberikan berita gembira kepada kaum mukmin kebaikan yang akan mereka peroleh di dunia dan akhirat, dan menakuti mereka yang menolak padahal sudah jelas kebenarannya dengan azab Allah. Tugas Beliau hanya menyampaikan, adapun hisabnya diserahkan kepada Allah. Beliau tidaklah diminta pertanggungjawaban terhadap kekafiran mereka.

Ayat ini semakna dengan firman Allah Ta’ala di surat Ar Ra’d: 40 dan Al Ghaasyiyah: 21-22.

Sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kitab Taurat

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي فَقُلْتُ أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّوْرَاةِ فَقَالَ أَجَلْ وَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِصِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا } وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ وَأَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ لَسْتَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلَا سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ قَالَ يُونُسُ وَلَا صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّئَةَ بِالسَّيِّئَةِ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ وَلَنْ يَقْبِضَهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَيَفْتَحَ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَآذَانًا صُمًّا وَقُلُوبًا غُلْفًا

Dari `Atha' bin Yasar, dia berkata, “Aku bertemu dengan Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, lalu aku berkata kepadanya, "Beritahukanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang terdapat dalam kitab Taurat." Ia berkata, "Ya, demi Allah, sesungguhnya sifat-sifat dalam Taurat sama dengan sifat-sifatnya dalam Al Qur'an, "Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan pelindung bagi orang-orang Arab, kamu adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku, dan Aku menamaimu Al Mutawakkil (orang yang bertawakkal tinggi). Engkau bukan orang yang berperangai buruk, juga bukan berwatak keras, dan bukan sakhkhob -dengan sin- (orang yang cerewet) di pasar." Yunus berkata; dan bukan shokhkhob -dengan shod- (orang yang berteriak) di pasar. Dan Beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan serupa akan tetapi beliau memaafkan dan mengampuninya, dan Dia Ta'ala tidak akan mewafatkan Beliau sampai Beliau meluruskan agama-Nya yang bengkok, hingga manusia mengucapkan Laailaahaillallah, sehingga dengannya beliau dapat membukakan mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang lalai." (Hr. Ahmad dan Bukhari).

[21] Dari ayat 116-119 di atas kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) haramnya menisbatkan kepada Allah sesuatu tanpa dalil wahyu, karena Dia mengingkari penisbatan anak kepada-Nya yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, (2) kesamaan hati orang-orang yang berada di atas kebatilan di setiap zaman dan setiap tempat karena mereka menyambut seruan setan, (3) tidaklah bermanfaat ayat-ayat Allah kecuali bagi mereka yang yakin karena sehatnya akal dan selamatnya hati mereka, (4) seorang mukmin hendaknya mengajak manusia kepada Allah, namun bukan wewenangnya memberi petunjuk, karena petunjuk di Tangan Allah, sedangkan dakwah dapat dilakukan manusia karena mereka dibebani melakukannya sesuai kemampuannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...