Seri (27)
Ayat
120-123: Peringatan agar jangan mengikuti keinginan orang-orang Yahudi dan
Nasrani dan agar jangan menyerupai mereka, serta mengingatkan orang-orang
Yahudi terhadap nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, serta
memperingatkan manusia terhadap azab-Nya.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ
أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ
وَلَا نَصِيرٍ (120)
120. [1]Orang-orang
Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama
mereka[2].
Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)"[3].
dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu[4], maka
Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu[5].
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ
يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (121)
121. Orang-orang yang telah Kami berikan Al
Kitab kepadanya, mereka membacanya[6] sebagaimana
mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Barang siapa yang ingkar
kepadanya[7],
mereka itulah orang-orang yang rugi[8].
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (122)
122. Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku
yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu di atas segala
umat (pada masa itu)[9].
وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ
مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (123)
[1] Ibnu Jarir berkata, “Orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani tidak akan ridha kepadamu selama-lamanya wahai Muhammad. Oleh karena
itu, tinggalkanlah mencari keridhaan mereka dan menyamai mereka. Carilah
keridhaan Allah dalam mengajak mereka kepada kebenaran yang Allah utus kamu
dengannya.”
[2] Dalam ayat ini juga terdapat larangan menyerupai
orang-orang kafir. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sebagian
manusia ketika engkau berkata, "Ini merupakan bentuk menyerupai
orang-orang kafir," ia mengatakan, "Aku tidak bermaksud menyerupai
mereka." Kita jawab, "Menyerupai itu sudah terwujud baik engkau
bermaksud atau tidak bermaksud selama keserupaan itu terjadi, tidak ada bedanya
antara berniat menyerupai atau tidak." (At Ta'liq alal Iqtidha hal.
308)
[3] Maksudnya, agama Islam itulah agama yang benar dan
lurus serta petunjuk yang sebenarnya, sedangkan yang mereka pegang adalah hawa
nafsu belaka, sehingga Allah sebut agama mereka dengan kata ‘ahwaa’ (hawa
nafsu).
Catatan:
Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Ali
radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi disebut
‘Yahudi’ karena ucapan mereka dan ucapan Nabi Musa alaihis salam ‘Innaa
hudnaa ilaik’ (artinya: sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada-Mu)
(Qs. Al A’raaf: 156).”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud
radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami lebih tahu mengapa orang-orang Yahudi
disebut ‘Yahudi’, yaitu dari ucapan Nabi Musa alaihis salam ‘Innaa hudnaa
ilaik’. Dan mengapa orang-orang Nasrani disebut Nasrani, yaitu dari ucapan
Nabi Isa alaihis salam, “Kuunuu Anshaarallah” (artinya: Jadilah kalian
para penolong agama Allah) (Qs. Ash Shaff: 14)
Sebagian berpendapat, bahwa disebut Yahudi
dari kata ‘hawadah’ yang artinya cinta, karena mereka cinta antara
sesama mereka. Ada pula yang berpendapat, bahwa disebut Yahudi karena mereka ‘yatahawwadun’
artinya bergerak dan bergoyang, dimana mereka bergerak dan menggoyangkan badan
ketika membaca Taurat. Ada pula yang berpendapat, bahwa Yahudi adalah nisbat
kepada anak keempat Nabi Ya’qub alaihis salam, yaitu Yahudza, lalu istilah ini
dipakai untuk Mamlakah Janubiyyah (kerajaan Yahudza), dimana raja-rajanya
merupakan keturunan Yahudza. Kerajaan ini terpisah dari dari Mamlakah Israil
Asy Syamaliyyah yang terdiri dari sepuluh keturunan Bani Israil yang lain. Saat
berpecah belah keturunan itu, dan keturunan Yahudza ditawan oleh kerajaan
Babilonia, maka istilahnya pun meluas sehingga mencakup semua tawanan Bani
Israil yang berhasil bebas, lalu dipakai untuk semua orang-orang Yahudi yang berpencar
di dunia ini, wallahu a’lam.
Adapun tentang Nasrani, ada pula yang
berpendapat, bahwa Nasrani merupakan nisbat kepada suatu daerah bernama
Nashuriyyah atau Nashirah (Nazaret) di Palestina. Ada pula yang berpendapat,
disebut demikian karena mereka menolong Nabi Isa alaihis salam, wallahu a’lam.
[4] Yakni setelah kebenaran datang.
[5] Ayat ini meskipun khithab (arah pembicaraan) ditujukan
kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia umum untuk umatnya
juga. Di dalam ayat ini terdapat larangan keras mengikuti keinginan orang-orang
Yahudi dan Nasrani, bertasyabbuh (menyerupai) dengan mereka terutama dalam hal
yang menjadi ciri khas mereka.
Abdurrazzaq Afifi berkata, "Pakaian
yang dianggap menyerupai orang-orang kafir adalah yang menjadi ciri khas
mereka, yakni jika ada seorang yang melihatmu memakainya, maka ia mengira bahwa
dirimu sebagai orang kafir." (Fatawa Syaikh Abdurrazzaq Afifi)
[6] Di antara mufassirin ada yang mengartikan "yat-luunahu
haqqa tilaawatih" dengan "mengikutinya sebagaimana mestinya",
karena tilawah adalah ittibaa' (mengikuti). Oleh karenanya, maksud ayat ini
adalah mereka mengikutinya sebagaimana mestinya, mereka halalkan yang halal,
mengharamkan yang haram, mengamalkan muhkamnya (ayat yang jelas) dan mengimani
ayat yang mutasyabihatnya, tidak merobah dan mentakwilkan Kitab
sekehendak hatinya, ia mengimani isinya dan mengikutinya, termasuk beriman
kepada nabi yang diberitakan di sana,
yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka inilah Ahli Kitab
yang beriman. Mereka mengenal nikmat Allah dan mensyukurinya serta beriman
kepada semua rasul tanpa membeda-bedakan (tidak hanya beriman kepada
sebagiannya), tetapi beriman kepada semuanya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ
مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ
وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
"Demi
Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat
ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentangku, kemudian dia
meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada agama yang aku diutus
dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Hr. Muslim)
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari
Qatadah, bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani (yang beriman dan
masuk Islam). Pendapat ini dipegang oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan
diplih oleh Ibnu Jarir. Dengan demikian, ayat ini semakna dengan firman Allah
Ta’ala di
Ada pula yang menafsirkan ‘mereka
membacanya’ dengan membaca lafaznya
dengan sebenar-benarnya (yakni dengan tajwid). Tentang keutamaan membaca
lafaznya sudah disebutkan di bagian mukadimah kitab tafsir ini.
Syaikh Abdurrazzaq Al Badr berkata, "Kalau
kita berpegang dengan Al Qur'an, dekat dengannya, membacanya dengan
sebenar-benarnya, tentu kita akan menjadi orang paling bahagia." (Jami
Lil muallafat war Rasa'il 14/297)
Khabbab bin Art radhiyallahu anhu
berkata, "Dekatkanlah dirimu kepada Allah semampumu, karena tidaklah
engkau mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang paling dicintai-Nya
melebihi dengan membaca firman-Nya." (Mushannaf Ibn Abi Syaibah
10/510)
[7] Maksudnya, ingkar kepada kitab itu; dengan sikap
berbeda dengan yang disebutkan sebelumnya.
[8] Dari ayat
120-121 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) orang-orang
Yahudi dan Nasrani hanyalah ridha ketika kita mengikuti agama mereka yang
batil, maka atas dasar ini mencari keridhaan mereka adalah haram, (2) hanya
Islam agama yang benar, (3) siapa saja yang berwala (melakukan loyalitas)
kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan mengikuti kebatilan mereka, maka
ia tidak mendapatkan pertolongan Allah, dan haram membantunya, (4) jalan
hidayah adalah dengan membaca kitabullah dengan sebenarnya, yaitu dengan
mentajwidkan bacaannya, mentadabburi petunjuknya, mengimani hukumnya, mengimani
mutasyabihatnya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan
menjaga batasannya sebagaimana menjaga huruf-hurufnya.
[9] Maksudnya,
mereka dilebihkan di atas umat yang lain pada masa itu dengan banyaknya para
nabi dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitab. Tafsir ayat
ini telah disebutkan sebelumnya di ayat ke 47
[10] Maksudnya,
dosa dan pahala seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.
[11] Ayat
ini sama seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala di surat Ali Imraan: 91.
[12] Dari ayat
122-123 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajib mengingat
nikmat Allah agar dapat mendorongnya untuk bersyukur, (2) wajib menjaga diri
dari azab Allah pada hari Kiamat dengan beriman dan beramal saleh setelah
meninggalkan syirik dan kemaksiatan, (3) tidak diterimanya tebusan, dan tidak
diterimanya syafaat untuk orang yang mati di atas kemusyrikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar