Rabu, 05 Agustus 2026

Seri 27 (surah Al Baqarah ayat 120-123)

 

Seri (27)




 

Ayat 120-123: Peringatan agar jangan mengikuti keinginan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan agar jangan menyerupai mereka, serta mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, serta memperingatkan manusia terhadap azab-Nya.

 

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (120)  

120. [1]Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka[2]. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)"[3]. dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu[4], maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu[5].

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (121)  

121. Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya[6] sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Barang siapa yang ingkar kepadanya[7], mereka itulah orang-orang yang rugi[8].

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (122)  

122. Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu di atas segala umat (pada masa itu)[9].

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (123)  

123. Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan[10] orang lain sedikitpun, tebusan tidak diterima[11], bantuan tidak berguna baginya dan mereka tidak akan ditolong[12].


[1] Ibnu Jarir berkata, “Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidak akan ridha kepadamu selama-lamanya wahai Muhammad. Oleh karena itu, tinggalkanlah mencari keridhaan mereka dan menyamai mereka. Carilah keridhaan Allah dalam mengajak mereka kepada kebenaran yang Allah utus kamu dengannya.”

[2] Dalam ayat ini juga terdapat larangan menyerupai orang-orang kafir. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Sebagian manusia ketika engkau berkata, "Ini merupakan bentuk menyerupai orang-orang kafir," ia mengatakan, "Aku tidak bermaksud menyerupai mereka." Kita jawab, "Menyerupai itu sudah terwujud baik engkau bermaksud atau tidak bermaksud selama keserupaan itu terjadi, tidak ada bedanya antara berniat menyerupai atau tidak." (At Ta'liq alal Iqtidha hal. 308)

[3] Maksudnya, agama Islam itulah agama yang benar dan lurus serta petunjuk yang sebenarnya, sedangkan yang mereka pegang adalah hawa nafsu belaka, sehingga Allah sebut agama mereka dengan kata ‘ahwaa’ (hawa nafsu).

Catatan:

Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Ali radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi disebut ‘Yahudi’ karena ucapan mereka dan ucapan Nabi Musa alaihis salam ‘Innaa hudnaa ilaik’ (artinya: sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada-Mu) (Qs. Al A’raaf: 156).”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu ia berkata, “Kami lebih tahu mengapa orang-orang Yahudi disebut ‘Yahudi’, yaitu dari ucapan Nabi Musa alaihis salam ‘Innaa hudnaa ilaik’. Dan mengapa orang-orang Nasrani disebut Nasrani, yaitu dari ucapan Nabi Isa alaihis salam, “Kuunuu Anshaarallah” (artinya: Jadilah kalian para penolong agama Allah) (Qs. Ash Shaff: 14)

Sebagian berpendapat, bahwa disebut Yahudi dari kata ‘hawadah’ yang artinya cinta, karena mereka cinta antara sesama mereka. Ada pula yang berpendapat, bahwa disebut Yahudi karena mereka ‘yatahawwadun’ artinya bergerak dan bergoyang, dimana mereka bergerak dan menggoyangkan badan ketika membaca Taurat. Ada pula yang berpendapat, bahwa Yahudi adalah nisbat kepada anak keempat Nabi Ya’qub alaihis salam, yaitu Yahudza, lalu istilah ini dipakai untuk Mamlakah Janubiyyah (kerajaan Yahudza), dimana raja-rajanya merupakan keturunan Yahudza. Kerajaan ini terpisah dari dari Mamlakah Israil Asy Syamaliyyah yang terdiri dari sepuluh keturunan Bani Israil yang lain. Saat berpecah belah keturunan itu, dan keturunan Yahudza ditawan oleh kerajaan Babilonia, maka istilahnya pun meluas sehingga mencakup semua tawanan Bani Israil yang berhasil bebas, lalu dipakai untuk semua orang-orang Yahudi yang berpencar di dunia ini, wallahu a’lam.

Adapun tentang Nasrani, ada pula yang berpendapat, bahwa Nasrani merupakan nisbat kepada suatu daerah bernama Nashuriyyah atau Nashirah (Nazaret) di Palestina. Ada pula yang berpendapat, disebut demikian karena mereka menolong Nabi Isa alaihis salam, wallahu a’lam.

[4] Yakni setelah kebenaran datang.

[5] Ayat ini meskipun khithab (arah pembicaraan) ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia umum untuk umatnya juga. Di dalam ayat ini terdapat larangan keras mengikuti keinginan orang-orang Yahudi dan Nasrani, bertasyabbuh (menyerupai) dengan mereka terutama dalam hal yang menjadi ciri khas mereka.

Abdurrazzaq Afifi berkata, "Pakaian yang dianggap menyerupai orang-orang kafir adalah yang menjadi ciri khas mereka, yakni jika ada seorang yang melihatmu memakainya, maka ia mengira bahwa dirimu sebagai orang kafir." (Fatawa Syaikh Abdurrazzaq Afifi)

[6] Di antara mufassirin ada yang mengartikan "yat-luunahu haqqa tilaawatih" dengan "mengikutinya sebagaimana mestinya", karena tilawah adalah ittibaa' (mengikuti). Oleh karenanya, maksud ayat ini adalah mereka mengikutinya sebagaimana mestinya, mereka halalkan yang halal, mengharamkan yang haram, mengamalkan muhkamnya (ayat yang jelas) dan mengimani ayat yang mutasyabihatnya, tidak merobah dan mentakwilkan Kitab sekehendak hatinya, ia mengimani isinya dan mengikutinya, termasuk beriman kepada nabi yang diberitakan di sana, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka inilah Ahli Kitab yang beriman. Mereka mengenal nikmat Allah dan mensyukurinya serta beriman kepada semua rasul tanpa membeda-bedakan (tidak hanya beriman kepada sebagiannya), tetapi beriman kepada semuanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

"Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Hr. Muslim)

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Qatadah, bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani (yang beriman dan masuk Islam). Pendapat ini dipegang oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan diplih oleh Ibnu Jarir. Dengan demikian, ayat ini semakna dengan firman Allah Ta’ala di surat Al Qashash: 52-54. Menurut Qatadah, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun menurut Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, bahwa mereka adalah orang-orang yang ketika melewati ayat tentang rahmat, maka mereka memintanya kepada Allah, dan apabila mereka melewati ayat tentang azab, maka mereka meminta perlindungan darinya.

Ada pula yang menafsirkan ‘mereka membacanya’ dengan membaca lafaznya dengan sebenar-benarnya (yakni dengan tajwid). Tentang keutamaan membaca lafaznya sudah disebutkan di bagian mukadimah kitab tafsir ini.

Syaikh Abdurrazzaq Al Badr berkata, "Kalau kita berpegang dengan Al Qur'an, dekat dengannya, membacanya dengan sebenar-benarnya, tentu kita akan menjadi orang paling bahagia." (Jami Lil muallafat war Rasa'il 14/297)

Khabbab bin Art radhiyallahu anhu berkata, "Dekatkanlah dirimu kepada Allah semampumu, karena tidaklah engkau mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang paling dicintai-Nya melebihi dengan membaca firman-Nya." (Mushannaf Ibn Abi Syaibah 10/510)

[7] Maksudnya, ingkar kepada kitab itu; dengan sikap berbeda dengan yang disebutkan sebelumnya.

[8]  Dari ayat 120-121 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) orang-orang Yahudi dan Nasrani hanyalah ridha ketika kita mengikuti agama mereka yang batil, maka atas dasar ini mencari keridhaan mereka adalah haram, (2) hanya Islam agama yang benar, (3) siapa saja yang berwala (melakukan loyalitas) kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan mengikuti kebatilan mereka, maka ia tidak mendapatkan pertolongan Allah, dan haram membantunya, (4) jalan hidayah adalah dengan membaca kitabullah dengan sebenarnya, yaitu dengan mentajwidkan bacaannya, mentadabburi petunjuknya, mengimani hukumnya, mengimani mutasyabihatnya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan menjaga batasannya sebagaimana menjaga huruf-hurufnya.

[9] Maksudnya, mereka dilebihkan di atas umat yang lain pada masa itu dengan banyaknya para nabi dari kalangan mereka dan diturunkan kepada mereka kitab-kitab. Tafsir ayat ini telah disebutkan sebelumnya di ayat ke 47 surat Al Baqarah. Al Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Diulanginya ayat ini adalah untuk menguatkan dan mendorong mereka mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seorang Nabi yang ummiy yang mereka temukan sifatnya di dalam kitab mereka, baik keadaannya, namanya, perintahnya dan umatnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperingatkan mereka agar tidak menyembunyikan hal ini serta agar tidak menyembunyikan nikmat yang Allah karuniakan kepada mereka, dan Dia memerintahkan mereka agar mengingat nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada mereka baik nikmat dunia maupun agama, dan agar mereka tidak bersikap hasad terhadap keturunan paman mereka yang terdiri dari bangsa Arab, dan agar jangan sampai sikap hasad tersebut membuat mereka menyelisihi Beliau, mendustakannya dan berpaling dari mengikuti Beliau –semoga shalawat Allah dan salamnya terlimpah kepada Beliau selamanya sampai hari Kiamat-.” (Lihat Al Mishbahul Munir hal. 97).

[10] Maksudnya, dosa dan pahala seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.

[11] Ayat ini sama seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala di surat Ali Imraan: 91.

[12]  Dari ayat 122-123 kita dapat menarik banyak pelajaran, di antaranya: (1) wajib mengingat nikmat Allah agar dapat mendorongnya untuk bersyukur, (2) wajib menjaga diri dari azab Allah pada hari Kiamat dengan beriman dan beramal saleh setelah meninggalkan syirik dan kemaksiatan, (3) tidak diterimanya tebusan, dan tidak diterimanya syafaat untuk orang yang mati di atas kemusyrikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seri 38 (Surah Al Baqarah ayat 168-171)

  Seri (38)   Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengiku...